Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH

“AMBANG BATAS, KLASIFIKASI, DAN BAKU RUJUKAN


ANTROPOMETRI”
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Penentuan Status Gizi

Kelas C Rabu pk. 12.30 - 14.10


Disusun oleh:
Kelompok 2

1. Ana Darmawanti 152110101001


2. Indriyani Kusmita 152110101019
3. Viula Trisna Noverica. 152110101021
4. Farahdila Kurnia D 152110101024
5. Puput Nuriy Aini 152110101031
6. Erin Arifah W 152110101048
7. Erny Lestari 152110101052
8. Cicilia Kurumalinda 152110101090
9. Maya Indriyana Dewi 152110101098
10. Putri Arintiasari 152110101110
11. Dwi Anggarini 152110101221
12. Usmiatul Hasanah 152110101238

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
berjudul “Ambang Batas, Klasifikasi, Dan Baku Rujukan Antropometri ”.
Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya komitmen dan kerjasama
yang baik diantara para pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini,
kami selaku penyusun menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
pihak-pihak berikut:
1. Dr. Farida Wahyu Ningtyias, M.Kes selaku dosen mata kuliah Penentuan Status
Gizi atas segala arahan dan dukungan yang telah diberikan untuk kelancaran
proses penyempurnaan makalah ini.
2. Rekan-rekan anggota kelompok 2 yang telah bekerja sama dalam menyusun
makalah ini serta memberikan kritik, saran dan masukan untuk penyelesaian
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Namun demikian, penulis telah berupaya
dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan
baik dan oleh karena itu, penulis dengan rendah hati menerima masukan, saran dan
usul guna penyempurnaan makalah ini.
Sebagaimana mestinya terbesit harapan yang senantiasa diangankan yaitu
mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin membaca dan
memahaminya.

Jember, 5 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i


BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................................... 2
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 2
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 3
BAB 2. PEMBAHASAN .............................................................................................. 4
2.1 Ambang Batas Antropometri.......................................................................... 4
2.2 Klasifikasi Status Gizi .................................................................................... 6
2.2.1. Konsep Status Gizi .................................................................................. 6
2.2.2. Macam Klasifikasi Status Gizi .............................................................. 19
2.3 Baku Rujukan Antropometri ............................................................................. 23
2.3.1. Definisi Baku Rujukan Antropometri ................................................... 23
2.3.2. Jenis Baku Rujukan Antropometri ........................................................ 24
BAB 3. PENUTUP ..................................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 33

1
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Antropometri merupakan salah satu metode yang dapat dipakai secara
universal, tidak mahal, dan metode yang non invasif untuk mengukur ukuran, bagian,
dan komposisi dari tubuh manusia. Antropometri berasal dari kata anthropos dan
metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah
ukuran dari tubuh. Antropometri gizi adalah pengukuran yang berhubungan dengan
berbagai macam dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi.
Umumnya, antropometri digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai
ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Antropometri dapat dibagi
menjadi dua, yaitu Antropometri Statis/structural (Pengukuran manusia pada posisi
diam, dan linier pada permukaan tubuh) dan Antropometri Dinamis/fungsional
(pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau
memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat pekerja tersebut
melaksanakan kegiatannya).
Pada dasarnya jenis pertumbuhan dibagi dua yaitu; pertumbuhan yang bersifat
linier dan pertumbuhan massa jaringan. Pertumbuhan linier menggambarkan status
gizi yang dihubungkan pada saat lampau dan pertumbuhan massa jaringan
menggambarkan status gizi yang dihubungkan pada saat sekarang atau saat
pengukuran. Contoh ukuran linier adalah panjang badan, lingkar dada, lingkar kepala.
Ukuran linier yang rendah biasanya menunjukkan keadaan gizi yang kurang akibat
kekurangan energi dan protein yang diderita waktu lampau.
Di masyarakat, metode pengukuran status gizi yang paling sering digunakan
yaitu antropometri. Indeks Antropometri yang banyak digunakan adalah tinggi badan
untuk umur (TB/U), Berat Badan untuk Umur (BB/U) dan Berat Badan untuk Tinggi
Badan (BB/TB). Penilaian status gizi menggunakan indeks antropometri meliputi
berbagai persoalan penting antara lain baku rujukan, penyajian, batas ambang (cut off
point), serta mengklasifikasihan atau mengkategorikan. Pada tahun 70-an, baku
rujukan yang banyak dipakai adalah baku rujukan Harvard. Pada awal tahun 80-an

2
baku rujukan WHO-NCHS dan pertengahan tahun tersebut baku rujuan tersebut
sudah digunakan secara luas.
Seperti diketahui penilaian status gizi dengan menggunakan baku rujukan
WHO-NCHS, prinsipnya dapat dilakukan dengan 3 cara penyajian yaitu persen
median, skor simpang baku (Z-skor), dan persentil. Di Indonesia juga sudah banyak
yang menggunakan Z-skor, tetapi masih cukup banyak yang menggunakan persen
median.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan ambang batas antropometri dalam penentuan
status gizi?
2. Apa saja klasifikasi antropometri dalam penentuan status gizi?
3. Apa yang dimaksud dengan baku rujukan antropometri dalam penentuan
status gizi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui ambang batas antropometri dalam penentuan status gizi.
2. Untuk mengetahui klasifikasi antropometri dalam penentuan status gizi.
3. Untuk mengetahui baku rujukan antropometri dalam penetuan status gizi.

3
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Ambang Batas Antropometri


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1995/Menkes/SK/XII/2010
tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak terdapat Istilah dan
pengertian sebagai berikut:
a. Umur dihitung dalam bulan penuh. Contoh : umur 2 bulan 29 hari dihitung
sebagai umur 2 bulan
b. Ukuran Panjang Badan (PB) digunakan untuk anak umur 0 sampai 24 bulan
yang diukur terlentang. Bila anak umur 0 sampai 24 bulan diukur berdiri,
maka hasil pengukurannya dikoreksi dengan menambahkan 0,7 cm.
c. Ukuran Tinggi Badan (TB) digunakan untuk anak umur di atas 24 bulan yang
diukur berdiri. Bila anak umur diatas 24 bulan diukur telentang, maka hasil
pengukurannya dikoreksi dengan mengurangi 0,7 cm.
d. Gizi Kurang dan Gizi Buruk adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
berat Badan menurut Umur (BB/U) yang merupakan padanan istilah
underweight (gizi kurang) dan severely underweight (gizi buruk)
e. Pendek dan Sangat Pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks
Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur
(TB/U) yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely
stunded (sangat pendek)
f. Kurus dan Sangat Kurus adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Berat
Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) atau Berat Badan menurut Tinggi
Badan (BB/TB) yang merupakan padanan istilah wasted (kurus) dan severely
wasted (sangat kurus).
Kategori dan ambang batas status gizi anak adalah sebagai mana terdapat
pada tabel di bawah ini:

4
Table 1. Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks

Katagori
Indeks Ambang Batas (Z-Score)
Status Gizi
Gizi Buruk < - 3 SD
Berat Badan menurut Umur -3 SD sampai dengan 2
Gizi Kurang
(BB/U) SD
Anak Unur 0 – 60 Bulan -2 SD sampai dengan 2
Gizi Baik
SD
Gizi Lebih > 2 SD
Sangat
< - 3 SD
Pendek
Panjang Badan menurut -3 SD sampai dengan 2
Pendek
Umur (PB/U) atau Tinggi SD
Badan menurut Umur
(TB/U) -2 SD sampai dengan 2
Normal
Anak Umur 0 – 60 Bulan SD

Tinggi > 2 SD
Sangat Kurus < - 3 SD
Berat Badan menurut -3 SD sampai dengan 2
Kurus
Panjang Badan (BB/PB) SD
atau Berat Badan menurut
Tinggi Badan (BB/TB) -2 SD sampai dengan 2
Normal
Anak Umur 0 – 60 Bulan SD

Gemuk > 2 SD
Sangat Kurus < - 3 SD

-3 SD sampai dengan 2
Kurus
Indeks Massa Tubuh SD
menurut Umur (IMT/U)
Anak Umur 0 – 60 Bulan -2 SD sampai dengan 2
Normal
SD

Gemuk > 2 SD

Sangat Kurus < - 3 SD


-3 SD sampai dengan 2
Kurus
SD
Indeks Massa Tubuh
-2 SD sampai dengan 1
menurut Umur (IMT/U) Normal
SD
Anak Umur 5 – 18 Tahun

5
> -1 SD sampai dengan 2
Gemuk
SD
Obesitas > 2 SD

2.2 Klasifikasi Status Gizi


2.2.1. Konsep Status Gizi
Terdapat beberapa konsep/pengertian yang harus dipahami, pengertian/konsep
ini saling berhubungan dan berkaitan satu dengan lainnya. Konsep-konsep tersebut
adalah :
1. Nutrient atau zat gizi, adalah zat yang terdapat dalam makanan dan sangat
diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme, mulai dari proses
pencernaan, penyerapan makanan dalam usus halus, transportasi oleh darah
untuk mencapai target dan menghasilkan energi, pertumbuhan tubuh,
pemeliharaan jaringan tubuh, proses biologis, penyembuhan penyakit, dan
daya tahan tubuh.
2. Nutritur/nutrition/gizi, adalah keseimbangan antara zat gizi yang masuk ke
dalam tubuh (intake) dari makanan dengan zat gizi yang dibutuhkan untuk
keperluan proses metabolisme tubuh.
3. Nutritional status (status gizi), adalah keadaan yang diakibatkan oleh
keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan zat gizi
yang diperlukan untuk metabolisme tubuh. Setiap individu membutuhkan
asupan zat gizi yang berbeda antarindividu, hal ini tergantung pada usia orang
tersebut, jenis kelamin, aktivitas tubuh dalam sehari, berat badan, dan lainnya.
4. Indikator status gizi, adalah tanda-tanda yang dapat diketahui untuk
menggambarkan status gizi seseorang. Seseorang yang menderita anemia
sebagai tanda bahwa asupan zat besi tidak sesuai dengan kebutuhannya,
individu yang gemuk sebagai tanda asupan makanan sumber energi dan
kandungan lemaknya melebihi dari kebutuhan. (Thamaria, 2017)
Dari beberapa pengertian di atas, dalam memahami status gizi tidak bisa
melupakan konsep-konsep tersebut di atas karena saling mempengaruhi. Oleh karena
itu pemahaman yang mendalam terhadap keempat konsep tersebut menjadi dasar

6
penting sebelum memulai mempelajari status gizi. Kaitan asupan zat gizi dengan
status gizi, dapat digambarkan secara sederhana seperti :

Grafik 1. Kaitan Asupan Zat Gizi dengan Status Gizi

Sumber : (Thamaria, 2017)


Status gizi seseorang tergantung dari asupan gizi dan kebutuhannya, jika
antara asupan gizi dengan kebutuhan tubuhnya seimbang, maka akan menghasilkan
status gizi baik. Kebutuhan asupan gizi setiap individu berbeda antarindividu, hal ini
tergantung pada usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan ,dan tinggi badan.
Kebutuhan protein antara anak balita tidak sama dengan kebutuhan remaja,
kebutuhan energi mahasiswa yang menjadi atlet akan jauh lebih besar daripada
mahasiswa yang bukan atlet. Kebutuhan zat besi pada wanita usia subur lebih banyak
dibandingkan kebutuhan zat besi laki-laki, karena zat besi diperlukan untuk
pembentukan darah merah (hemoglobin), karena pada wanita terjadi pengeluaran
darah melalui menstruasi secara periodik setiap bulan. (Thamaria, 2017)
Kelebihan asupan gizi dibandingkan dengan kebutuhan akan disimpan dalam
bentuk cadangan dalam tubuh. Misal seseorang yang kelebihan asupan karbohidrat
yang mengakibatkan glukosa darah meningkat, akan disimpan dalam bentuk lemak
dalam jaringan adiposa tubuh. Sebaliknya seseorang yang asupan karbohidratnya
kurang dibandingkan kebutuhan tubuhnya, maka cadangan lemak akan diproses

7
melalui proses katabolisme menjadi glukosa darah kemudian menjadi energi tubuh.
(Thamaria, 2017)
Anak yang berat badannya kurang disebabkan oleh asupan gizinya yang
kurang, hal ini mengakibatkan cadangan gizi tubuhnya dimanfaatkan untuk
kebutuhan dan aktivitas tubuh. Skema perkembangan individu yang kekurangan
asupan gizi dapat mengakibatkan status gizi kurang, dapat dilihat pada skema :

Grafik 2. Skema Perkembangan Individu

(Thamaria, 2017)
Kekurangan asupan gizi dari makanan dapat mengakibatkan penggunaan
cadangan tubuh, sehingga dapat menyebabkan kemerosotan jaringan. Kemerosotan
jaringan ini ditandai dengan penurunan berat badan atau terhambatnya pertumbuhan
tinggi badan. Pada kondisi ini sudah terjadi perubahan kimia dalam darah atau urin.
Selanjutnya akan terjadi perubahan fungsi tubuh menjadi lemah, dan mulai muncul
tanda yang khas akibat kekurangan zat gizi tertentu. Akhirnya muncul perubahan
anatomi tubuh yang merupakan tanda sangat khusus, misalnya pada anak yang
kekurangan protein, kasus yang terjadi menderita kwashiorkor. (Thamaria, 2017)

8
A. METODE ANTROPOMETRI
Antropometri berasal dari kata anthropo yang berarti manusia dan metri
adalah ukuran. Metode antropometri dapat diartikan sebagai mengukur fisik dan
bagian tubuh manusia. Jadi antropometri adalah pengukuran tubuh atau bagian
tubuh manusia. Dalam menilai status gizi dengan metode antropometri adalah
menjadikan ukuran tubuh manusia sebagai metode untuk menentukan status gizi.
Konsep dasar yang harus dipahami dalam menggunakan antropometri untuk
mengukur status gizi adalah konsep dasar pertumbuhan.
Pertumbuhan adalah terjadinya perubahan sel-sel tubuh, terdapat dalam 2
bentuk yaitu bertambahnya jumlah sel dan atau terjadinya pembelahan sel, secara
akumulasi menyebabkan terjadinya perubahan ukuran tubuh. Jadi pada dasarnya
menilai status gizi dengan metode antropometri adalah menilai pertumbuhan.
Mengapa antropometri digunakan sebagai indikator status gizi? Terdapat
beberapa alasan kenapa antropometri digunakan sebagai indikator status gizi,
yaitu:
1. Pertumbuhan seorang anak agar berlangsung baik memerlukan asupan gizi
yang seimbang antara kebutuhan gizi dengan asupan gizinya.
2. Gizi yang tidak seimbang akan mengakibatkan terjadinya gangguan
pertumbuhan, kekurangan zat gizi akan mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan, sebaliknya kelebihan asupan gizi dapat mengakibatkan
tumbuh berlebih (gemuk) dan mengakibatkan timbulnya gangguan
metabolisme tubuh.
3. Oleh karena itu antropometri sebagai variabel status pertumbuhan dapat
digunakan sebagai indikator untuk menilai status gizi.
Apakah kelebihan dan kekurangan antropometri untuk menilai status
gizi? Antropometri untuk menilai status gizi mempunyai keunggulan dan juga
kelemahan dibandingkan metode yang lain. Beberapa kelebihan dan kekurangan
antropometri digunakan sebagai penentuan status gizi tersebut adalah:
1. Kelebihan antropometri untuk menilai status gizi antara lain:

9
a. Prosedur pengukuran antropometri umumnya cukup sederhana dan
aman digunakan.
b. Untuk melakukan pengukuran antropometri relatif tidak membutuhkan
tenaga ahli, cukup dengan dilakukan pelatihan sederhana.
c. Alat untuk ukur antropometri harganya cukup murah terjangkau,
mudah dibawa dan tahan lama digunakan untuk pengukuran.
d. Ukuran antropometri hasilnya tepat dan akurat.
e. Hasil ukuran antropometri dapat mendeteksi riwayat asupan gizi yang
telah lalu.
f. Hasil antropometri dapat mengidentifikasi status gizi baik, sedang,
kurang dan buruk.
g. Ukuran antropometri dapat digunakan untuk skrining (penapisan),
sehingga dapat mendeteksi siapa yang mempunyai risiko gizi kurang
atau gizi lebih.
2. Metode antropometri untuk menilai status gizi, juga mempunyai
kekurangan di antaranya adalah:
a. Hasil ukuran antropometri tidak sensitif, karena tidak dapat
membedakan kekurangan zat gizi tertentu, terutama zat gizi mikro
misal kekurangan zink. Apakah anak yang tergolong pendek karena
kekurangan zink atau kekurangan zat gizi yang lain.
b. Faktor-faktor di luar gizi dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas
ukuran. Contohnya anak yang kurus bisa terjadi karena menderita
infeksi, sedangkan asupan gizinya normal. Atlet biasanya mempunyai
berat yang ideal, padahal asupan gizinya lebih dari umumnya.
c. Kesalahan waktu pengukuran dapat mempengaruhi hasil. Kesalahan
dapat terjadi karena prosedur ukur yang tidak tepat, perubahan hasil
ukur maupun analisis yang keliru. Sumber kesalahan bisa karena
pengukur, alat ukur, dan kesulitan mengukur.
Beberapa contoh ukuran tubuh manusia sebagai parameter antropometri
yang sering digunakan untuk menentukan status gizi misalnya berat badan, tinggi

10
badan, ukuran lingkar kepala, ukuran lingkar dada, ukuran lingkar lengan atas,
dan lainnya. Hasil ukuran anropometri tersebut kemudian dirujukkan pada
standar atau rujukan pertumbuhan manusia.
1. Berat Badan
Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air, dan mineral
yang terdapat di dalam tubuh. Berat badan merupakan komposit pengukuran
ukuran total tubuh. Beberapa alasan mengapa berat badan digunakan sebagai
parameter antropometri. Alasan tersebut di antaranya adalah perubahan berat
badan mudah terlihat dalam waktu singkat dan menggambarkan status gizi saat
ini. Pengukuran berat badan mudah dilakukan dan alat ukur untuk menimbang
berat badan mudah diperoleh. Pengukuran berat badan memerlukan alat yang
hasil ukurannya akurat. Untuk mendapatkan ukuran berat badan yang akurat,
terdapat beberapa persyaratan alat ukur berat di antaranya adalah alat ukur harus
mudah digunakan dan dibawa, mudah mendapatkannya, harga alat relatif murah
dan terjangkau, ketelitian alat ukur sebaiknya 0,1 kg (terutama alat yang
digunakan untuk memonitor pertumbuhan), skala jelas dan mudah dibaca, cukup
aman jika digunakan, serta alat selalu dikalibrasi. Beberapa jenis alat timbang
yang biasa digunakan untuk mengukur berat badan adalah dacin untuk
menimbang berat badan balita, timbangan detecto, bathroom scale (timbangan
kamar mandi), timbangan injak digital, dan timbangan berat badan lainnya.
2. Tinggi Badan atau Panjang Badan
Tinggi badan atau panjang badan menggambarkan ukuran pertumbuhan
massa tulang yang terjadi akibat dari asupan gizi. Oleh karena itu tinggi badan
digunakan sebagai parameter antropometri untuk menggambarkan pertumbuhan
linier. Pertambahan tinggi badan atau panjang terjadi dalam waktu yang lama
sehingga sering disebut akibat masalah gizi kronis. Istilah tinggi badan
digunakan untuk anak yang diukur dengan cara berdiri, sedangkan panjang badan
jika anak diukur dengan berbaring (belum bisa berdiri). Anak berumur 0–2 tahun
diukur dengan ukuran panjang badan, sedangkan anak berumur lebih dari 2 tahun
dengan menggunakan microtoise. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur

11
tinggi badan atau panjang badan harus mempunyai ketelitian 0,1 cm. Tinggi
badan dapat diukur dengan menggunakan microtoise (baca: mikrotoa). Kelebihan
alat ukur ini adalah memiliki ketelitian 0,1 cm, mudah digunakan, tidak
memerlukan tempat yang khusus, dan memiliki harga yang relatif terjangkau.
Kelemahannya adalah setiap kali akan melakukan pengukuran harus dipasang
pada dinding terlebih dahulu. Sedangkan panjang badan diukur dengan
infantometer (alat ukur panjang badan).
3. Lingkar kepala (LIKA)
Lingkar kepala dapat digunakan sebagai pengukuran ukuran pertumbuhan
lingkar kepala dan pertumbuhan otak, walaupun tidak sepenuhnya berkorelasi
dengan volume otak. Pengukuran lingkar kepala merupakan predikator terbaik
dalam melihat perkembangan syaraf anak dan pertumbuhan global otak dan
struktur internal. Menurut rujukan CDC 2000, bayi laki-laki yang baru lahir
ukuran ideal lingkar kepalanya adalah 36 cm, dan pada usia 3 bulan menjadi 41
cm. Sedangkan pada bayi perempuan ukuran ideal lingkar kepalanya adalah 35
cm, dan akan bertambah menjadi 40 cm pada usia 3 bulan. Pada usia 4-6 bulan
akan bertambah 1 cm per bulan, dan pada usia 6- 12 bulan pertambahan 0,5 cm
per bulan.
Cara mengukur lingkar kepala dilakukan dengan melingkarkan pita
pengukur melalui bagian paling menonjol di bagian kepala belakang
(protuberantia occipitalis) dan dahi (glabella). Saat pengukuran sisi pita yang
menunjukkan sentimeter berada di sisi dalam agar tidak meningkatkan
kemungkinan subjektivitas pengukur. Kemudian cocokkan terhadap standar
pertumbuhan lingkar kepala.
Dengan mengukur LiKa dapat diperoleh beberapa hal meliputi : a)
Lingkar kepala adalah standar prosedur dalam ilmu kedokteran untuk memeriksa
keadaan patologi besarnya kepala atau peningkatan ukuran kepala, misalnya pada
kasus hidrosefalus dan mikrosefalus, b) Lingkar kepala dihubungkan dengan
ukuran otak dan tulang tengkorak, c) Ukuran otak meningkat secara cepat selama
tahun pertama. d) Dalam antropometri gizi rasio lingkar kepala dan lingkar dada

12
menentukan KEP pada anak. Lingkar kepala juga digunakan sebagai informasi
tambahan dalam pengukuran umur.
4. Lingkar Dada
Penimbangan berat bayi baru lahir merupakan cara terbaik untuk deteksi
dini berat bayi lahir rendah/BBLR. Namun sebagai kendala bahwa di lapangan
tidak selalu tersedia alat timbang yang akurat, sehingga dilakukan pengukuran
Lingkar Dada (LiDa) bayi segera setelah dilahirkan. Lingkar dada tersebut dapat
dipakai sebagai pengganti penimbangan berat lahir untuk deteksi BBLR.
Pengukuran lingkar dada biasa digunakan pada anak umur 2- 3 tahun karena
pertumbuhan lingkar dada pesat sampai pada umur tersebut. Manfaat lain lingkar
kepala adalah: a) Rasio lingkar dada dan lingkar kepala dapat digunakan sebagai
indikator KEP pada balita, b) Pada umur 6 bulan lingkar dada dan lingkar kepala
sama, c) Setelah umur ini lingkar kepala tumbuh lebih lambat daripada lingkar
dada, d) Pada anak yang KEP terjadi pertumbuhan lingkar dada yang lambat
rasio lingkar dada dan lingkar kepala < 1.

13
Pentingnya Pengukuran Lingkar Dada
Angka kematian bayi berat lahir rendah (BBLR) mencerminkan derajat
kesehatan masyarakat. Bayi BBLR lebih mudah untuk menjadi sakit bahkan
meninggal dibanding dengan bayi berat lahir normal. Deteksi dini BBLR mulai
dari saat bayi dilahirkan merupakan langkah utama untuk menyelamatkan bayi
agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Penimbangan bayi baru lahir
merupakan cara terbaik untuk deteksi dini BBLR, namun keterbatasan timbangan

14
sebagai alat ukur mengukur berat yang akurat di lapangan, sehingga pengukuran
Lingkar Dada (LiDa) bayi segera setelah dilahirkan dapat dipakai sebagai
pengganti penimbangan berat lahir untuk deteksi dini BBLR. Jika batas ambang
berat bayi lahir ditentukan dengan lingkar dada, maka bayi lahir sangat rendah
jika lingkar dada dengan indikasi pada pita warna merah (<27,0 cm) setara
dengan kurang dari 2000 g, bayi lahir rendah jika berada pita warna kuning (27,0
– 29,4 cm) setara dengan 2000-2499 g. Sedangkan untuk berat bayi normal jika
pita warna Hijau (≥ 29,5 cm) setara dengan lebih dari 2500 g.
5. Lingkar Lengan Atas (LILA)
Lingkar lengan atas (LILA) merupakan gambaran keadaan jaringan otot
dan lapisan lemak bawah kulit. LILA mencerminkan tumbuh kembang jaringan
lemak dan otot yang tidak berpengaruh oleh cairan tubuh.
Ukuran LILA digunakan untuk skrining kekurangan energi kronis yang
digunakan untuk mendeteksi ibu hamil dengan risiko melahirkan BBLR.
Pengukuran LILA ditujukan untuk mengetahui apakah ibu hamil atau wanita usia
subur (WUS) menderita kurang energi kronis (KEK). Ambang batas LILA WUS
dengan risiko KEK adalah 23.5 cm. Apabila ukuran kurang dari 23.5 cm, artinya
wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat
bayi lahir rendah (BBLR).
Cara ukur pita LILA untuk mengukur lingkar lengan atas dilakukan pada
lengan kiri atau lengan yang tidak aktif. Pengukuran LILA dilakukan pada
pertengahan antara pangkal lengan atas dan ujung siku dalam ukuran cm (centi
meter). Kelebihannya mudah dilakukan dan waktunya cepat, alat sederhana,
murah dan mudah dibawa.
6. Panjang Depa
Panjang depa merupakan ukuran untuk memprediksi tinggi badan bagi
orang yang tidak bisa berdiri tegak, misal karena bungkuk atau ada kelainan
tulang pada kaki. Panjang depa relatif stabil, sekalipun pada orang yang usia
lanjut. Panjang depa dikrekomendasikan sebagai parameter prediksi tinggi badan,
tetapi tidak seluruh populasi memiliki hubungan 1:1 antara panjang depa dengan

15
tinggi badan. Pengukuran panjang depa juga relatif mudah dilakukan, alat yang
murah, prosedur pengukuran juga mudah sehingga dapat dilakukan di lapangan.
7. Tinggi Lutut
Ukuran tinggi lutut (knee height) berkorelasi dengan tinggi badan.
Pengukuran tinggi lutut bertujuan untuk mengestimasi tinggi badan klien yang
tidak dapat berdiri dengan tegak, misalnya karena kelainan tulang belakang atau
tidak dapat berdiri. Pengukuran tinggi lutut dilakukan pada klien yang sudah
dewasa. Pengukuran tinggi lutut dilakukan dengan menggunakan alat ukur
caliper (kaliper).
Pengukuran dilakukan pada lutut kiri dengan posisi lutut yang diukur
membentuk sudut sikusiku (90°). Pengukuran tinggi lutut dapat dilakukan pada
klien dengan posisi duduk atau dapat juga pada posisi tidur.
8. Tinggi Duduk
Tinggi duduk dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan, terutama
pada orang yang sudah lanjut usia. Tinggi duduk dipengaruhi oleh potongan
tulang rawan antar tulang belakang yang mengalami kemunduran, juga tulang-
tulang panjang pada tulang belakang mengalami perubahan seiring dengan
bertambahnya usia. Mengukur tinggi duduk dapat dilakukan dengan
menggunakan mikrotoise, dengan dibantu bangku khusus. Orang yang mau
diukur tinggi duduknya, duduk pada bangku, kemudian dengan menggunakan
mikrotoise dapat diketahui tinggi duduk orang tersebut.
9. Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul (Waist to Hip Ratio)
Lingkar pinggang menunjukkan simpanan lemak. Kandungan lemak yang
terdapat di sekitar perut menunjukkan adanya perubahan metabolisme dalam
tubuh. Perubahan metabolisme tersebut dapat berupa terjadinya penurunan
efektivitas insulin karena beban kerja yang terlalu berat. Peningkatan jumlah
lemak di sekitar perut juga dapat menunjukkan terjadinya peningkatan produksi
asam lemak yang bersifat radikal bebas.
Tingginya kandungan lemak di sekitar perut menggambarkan risiko
kegemukan. Ukuran lingkar pinggang akan mudah berubah tergantung

16
banyaknya kandungan lemak dalam tubuh. Sebaliknya, ukuran panggul pada
orang sehat relatif stabil. Ukuran panggul seseorang yang berusia 40 tahun akan
sama dengan ukuran panggul orang tersebut ketika berusia 22 tahun. Oleh sebab
itu, rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) atau waist to hip ratio (WHR)
dapat menggambarkan kegemukan.
Pada waktu melakukan pengukuran lingkar pinggang dan panggul, klien
menggunakan pakaian seminimal mungkin atau bahkan ditanggalkan, berdiri
tegap dengan santai pada kedua kaki dan berat badan terdistribusi normal, kedua
tangan di samping, kedua kaki rapat, serta klien sebaiknya dalam keadaan
berpuasa.

(KEPMENKES, 2010)

17
Sumber : (KEPMENKES, 2010)

18
2.2.2. Macam Klasifikasi Status Gizi

Klasifikasi Status Gizi


Sumber : Depkes RI, 2002. (RISKESDAS, 2013)
Status gizi anak balita diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi
badan (TB). Berat badan anak balita ditimbang menggunakan timbangan digital yang
memiliki presisi 0,1 kg, panjang atau tinggi badan diukur menggunakan alat ukur
panjang/tinggi dengan presisi 0,1 cm. Variabel BB dan TB/PB anak balita disajikan
dalam bentuk tiga indeks antropometri, yaitu BB/U, TB/U, dan BB/TB.
Untuk menilai status gizi anak balita, maka angka berat badan dan tinggi
badan setiap anak balita dikonversikan ke dalam nilai terstandar (Zscore)
menggunakan baku antropometri anak balita WHO 2005. Selanjutnya berdasarkan
nilai Zscore dari masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi anak balita
tersebut.
Sedangkan klasifikasi menurut Rekomendasi Lokakarya Antropometri, 1975
serta Puslitbang Gizi, 1978, dalam rekomendasi tersebut digunakan lima macam
indeks yaitu : BB/ U, TB/ U, LLA/ U, BB/ TB dan LLA/ TB. (Abunain, 1990). Dapat
dilihat pada tabel dibawah ini:

19
Table 2. Kategori Gizi

Kategori BB/U TB/U LLA/U BB/TB LLA/TB


Gizi
Baik/ 100 – 80 100 -95 100 – 85 100 – 90 100 – 85
Normal < 80 – 60 < 95 – 85 < 85 – 70 < 90 – 70 < 85 – 75
Kurang < 60 < 85 < 70 < 70 < 75
Buruk

1. Klasifikasi Gomez (1956)


Baku yang digunakan Gomez adalah baku rujukan Harvard. Indeks
yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). Sebagai baku
patokan digunakan persentil 50 (Gibson,1990). Klasifikasi Gomez dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 3. Klasifikasi Gomez

Kategori (Derajat KEP) BB/U


0 = Normal ≥ 90
1 = ringan 89 - 75
2 = Sedang 74 – 60
3 = Berat < 60

2. Klasifikasi Kualitatif menurut Wellcome Trust


Penentuan klasifikasi menurut Wellcome Trust dapat dilakukan
dengan mudah, karena tidak memerlukan pemeriksaan klinis dan/atau
laboratorium. Penetuan dapat dilakukan oleh tenaga medis setelah
diberi latihan yang cukup. Sebagai baku patokan digunakan persentil
50.(Pudjiadi, 1997). Klasifikasi Wellcome Trust dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
Table 4. Klasifikasi Kualitatif menurut Wellcome Trust

Berat badan % dari Edema


Baku Tidak ada Ada
> 60 % Gizi Kurang Kwashiorkor

20
<60% Marasmus Marasmus -
Kwashiorkor

3. Klasifikasi menurut Waterlow


Waterlow membedakan antara penyakit KEP yang terjadi akut dan
kronis. Waterlow berpendapat bahwa defisit berat badan terhadap tinggi
badan mencerminkan gangguan gizi yang akut dan menyebabkan keadaan
wasting. Defisiensi tinggi menurut umur merupakan akibat kekurangan gizi
yang berlangsung sangat lama. Akibat yang ditimbulkan adalah anak menjadi
pendek stunting untuk umurnya. Klasifikasi Waterlow dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
Table 5. Klasifikasi menurut Waterlow

Kategori Stunting (Tinggi Wasting (Berat


menurut umur) menurut tinggi)
0 >95% >90%
1 95 – 90% 90-80%
2 89 – 85 % 80-70%
3 <85% <70%

4. Klasifikasi menurut Jelliffe


Indeks yang digunakan oleh Jelliffe adalah berat badan menurut umur.
Pengkategoriannya adalah kategori I, II, III, dan IV. Klasifikasi Jelliffe dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 6. Klasifikasi menurut Jelliffe

Kategori BB/U (% baku)


KEP I 90 – 80
KEP II 80 – 70
KEP III 70 – 60
KEP IV <60

21
5. Klasifikasi Bengoa
Bengoa mengklasifikasikan KEP menjadi tiga kategori yaitu KEP I,
KEP II, KEP III. Indeks yang digunakan adalah berat badan menurut umur.
Klasifikasi Bengoa dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 7. Klasifikasi Bengoa

Kategori BB/U (% baku)


KEP I 90-76
KEP II 75-61
KEP III Semua penderita dengan edema

6. Klasifikasi menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun


1999
Dalam buku petunjuk Teknik Pemantauan Status Gizi (PSG) Anak
Balita tahun 1999, status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5 yaitu gizi lebih,
gizi baik, gizi sedang, gizi kurang dan gizi buruk. Baku rujukan yang
digunakan adalah WHO-NCHS. Klasifikasi menurut Direktorat Bina Gizi
Masyarakat Depkes RI Tahun 1999 dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Table 8. Klasifikasi menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun 1999

Kategori Cut of Points


Gizi lebih >120% Median BB/U baku WHO-NCHS,
1983
Gizi baik 80%-120% Median BB/U baku WHO-NCHS,
1983
Gizi sedang 70%-79,9% Median BB/U baku WHO-
NCHS, 1983
Gizi kurang 60%-69,9% Median BB/U baku WHO-
NCHS, 1983
Gizi buruk <60% Median BB/U baku WHO-NCHS,

22
1983

7. Klasifikasi Cara WHO


Indeks yang digunakan meliputi BB/TB, BB/U, dan TB/U. Standart
yang digunakan adalah NCHS (National Centre for Health Statistics.
Table 9. Klasifikasi Cara WHO

BB/TB BB/U TB/U Status Gizi


Normal Rendah Rendah Baik, Pernah kurang
Normal Normal Normal Baik
Normal Tinggi Tinggi Jangkung, masih baik
Rendah Rendah Tinggi Buruk
Rendah Rendah Normal Buruk, kurang
Rendah Normal Tinggi Kurang
Tinggi Tinggi Rendah Lebih, obesitas
Tinggi Tinggi Normal Lebih, tidak obesitas
Tinggi Normal Rendah Lebih, pernah kurang

2.3 Baku Rujukan Antropometri


2.3.1. Definisi Baku Rujukan Antropometri
Baku Rujukan adalah tabel yang berisi daftar normatif sebagai pembanding
dalam menilai status gizi. Baku Rujukan dibuat dengan aturan-aturan yang ketat yang
harus mewakili penduduk yang sehat yang mencapai pola pertumbuhan yang optimal.
Idealnya baku rujukan disesuaikan dengan pola pertumbuhan ras yang bersangkutan.
Akan tetapi untuk kebutuhan perbandingan, WHO menganjurkan satu Baku Rujukan
untuk dipakai pada semua negara. Agar dapat dibandingkan prevalesni status gizi,
untuk mengevaluasi kemajuan suatu negara, maka data harus dikumpulkan dengan
metode yang sama dan menggunakan Baku Rujukan yang sama.
Baku Rujukan dikeluarkan oleh badan resmi yang mengurusi masalah
kesehatan dan gizi. Untuk level dunia, tentunya WHO dan pada level negara adalah
Kementrian Kesehatan negara yang bersangkutan (Indonesia : Depkes).

23
Baku rujukan di kenal ada dua jenis yaitu: baku internasional dan baku local
atau nasional. Pendekatan mengenai penggunaan ke-2 jenis baku tersebut muncul
daei pakar di bidang gizi D. Seckler yang menunjukan adanya baku antropometri
local bagi Negara-negara berkembang. Dalam ulisannya berjudul The Small But
Healthy Hypothesis an inquiry into the meaning and measurement of maltnutrition.
Seckler menyatakan bahwa anak-anak yang menderita mild dan moderate
maltnutrition termasuk kecil tetapi sehat (small but healthy). Hanya anak bergizi
buruk dinyatakannya sebagai penderita kekurangan gizi. Oleh karena itu, setiap
Negara dianjurkan untuk membuat baku antropometri sendiri.
Di Indonesia, pada decade pertengahan 80-an juga mulai digunakan baku
rujukan antropometri Havard, baik untuk keperluan tapis gizi (screening)
pemantauan status gizi (monitoring) maupun evaluasi dan survei. Namun pada
pertengahan 80-an juga mulai digunakan baku rujukan WHO-NCHS . Sejak saat itu
Indonesia digunakan dua jenis baku rujukan Internasional.

2.3.2. Jenis Baku Rujukan Antropometri


a. Standar Lokal
Di Indonesia terdapat Kartu Menuju Sehat (KMS) yang dipakai baik untuk
penyuluhan maupun sebagai alat monitor pertumbuhan dan gizi di masyarakat
merupakan modifikasi WHO-NCHS yaitu berat badan terhadap umur anak balita,
dilengkapi dengan gambar perkembangan motorik kasar, halus dan berbahasa.
Tujuan KMS adalah sebagai alat bantu (instrumen) bagi ibu atau orang tua dan
petugas untuk memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak balita,
menentukan tindakan-tindakan pelayanan kesehatan dan gizi (Moersintowati,
2004).
Kartu ini sudah cukup lama beredar di Indonesia, akan tetapi
penggunaannya sebagai home based rcord masih perlu dipertanyakan. Pada
observasi di bangsal rawat inap anak dan unit rawat jalan RSU Dr.Soetomo
Surabaya (1997-2000), sekitar 90% ibu-ibu penderita malnutrisi menyatakan
punya KMS akan tetapi tidak dibawa, dengan alasan ada di Posyandu atau

24
tertinggal di rumah. Pada pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MBTS),
penekanan KMS dengan konseling yang baik perlu dibudayakan oleh setiap
petugas kesehatan bila menghadapi anak balita sakit.
Terdapat buku panduan penggunaan KMS bagi petugas kesehatan yang di
terbitkan oleh Depkes RI tahun 1997, alam buku tersebut disebutkan bahwa grafik
pertumbuhan KMS dibuat berdasarkan baku WHO/NCHS yang disesuaikan
dengan keadaan di Indonesia.
Kurva garis merah dibentuk dengan menghubungkan angka-angka 75%-
80% median, daerah hijau muda adalah 85-90% median, daerah hijau tua 95-
100% median yang merupakan standar WHO dengan status gizi buruk-kurang-
baik-lebih. Selain itu juga menggunakan NCHS yang direkomendasikan oleh
WHO untuk standar Internasional.
Menurut konsensus nasional tentang status gizi :
a. Gizi kurang : -1 SD
b. Gizi buruk : -2 SD
Saat ini telah dikembangkan KMS balita laki-laki dan perempuan
berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO 2005. Dimasa lalu, rujukan
tumbuhan yang dikembangan menggunakan data dari satu negara dengan
mengukur sampel anak-anak yang dianggap sehat, tanpa memperhatikan cara
hidup dan lingkungan mereka. Mengingat al tersebut WHO telah
mengembangkan standar pertumbuhan yang berasal dari sampel anak-anak dari
enam negara yaitu Brazil, Ghana, India, Norwegia, Oman dan Amerika Serikat
(WHO dan DepKes RI, 2008).
Penelitian tersebut mengikuti bayi normal dari lahir sampai usia 2 tahun,
dengan pengukuran yang sering pada minggu pertama. Kelompok anak-anak lain
umur 18-71 bulan, diukur satu kali. Data dari kedua kelompok tersebut disatukan
untuk menciptakan stanar pertumbuhan anak umur 0-5 tahun.
Disamping standar untuk pertumbuhan fisik, standar baru WHO 2005
menghasilkan 6 tahapan perkembangan motorik kasar (duduk tanpa bantuan,
merangkak, berdiri dengan bantuan, berdiri tanpa bantuan, berjalan dengan

25
bantuan, dan berjalan tanpa bantan) yang diharapkan dapat dicapai oleh anak-
anak sehat pada umur antara 4 dan 18 bulan.
Manfaat lain dari standa pertumbuhan WHO 2005 meliputi hal-hal
sebagai berikut:
a. Standar baru menetapkan bayi yang disusui sebagai model perumbuhan
dan perkembangan bayi normal. Hasilnya kebijakan kesehatan dan
dukungan publik unuk menyusui semakin diperkuat
b. Standar baru lebih dini dan sensitif untuk mengidentifikasikan anak
pendek dan anak gemuk/sangat gemuk
c. Standar baru seperti IMT sangat berguna untuk menukur kegemukan.
d. Grafik yang menunjukan pola laju pertumbuhan yang diharapkan dari
waktu ke waktu memungkinkan petugas kesehatan mengidentifikasikan
anak-anak yang beresiko menjadi kurang gizi atau gemuk secara dini,
tanpa menunggu sampai anak menderita masalah gizi.
b. Standar Internasional
1. Harvard
Sepanjang sejarah, baru 2 Baku Rujukan yang dipakai secara
international yaitu Baku Rujukan Harvard dan Baku Rujukan WHO-NCHS.
Baku Rujukan Harvard dipublikasikan tahun 1966 oleh Derrict B. Jelliffe
dalam bukunya “The Assessment of Nutritional Status of Community”. Data
baku rujukan harvard didapat dari penelitian cross sectional dalam skala kecil
dari orang kulit putih pada kelas menengah. Pada anak Amerika dari Boston
dan Lowa. Besar sampel untuk keadaan ekstrim yaitu pada 3 percentile dan 97
percentille jumlahnya kecil. Chart atau tabel dibuat pada tahun 1930 dan awal
tahun 1940 dengan data diperoleh dari Meredith untuk Lowa dan Stuart untuk
Boston. Ada yang menganggap data ini sudah ketinggalan jaman karena tahun
pembuatannya.
Data yang tersedia adalah persentil berat berat badan terhadap umur,
tinggi badan terhadap umur dan berat badan terhadap tinggi badan untuk anak
laki-laki dan perempuan baik terpisah maupun dikombinasikan, dari lahir

26
sampai usia 36 bulan; sebagai tambahan berat badan terhadap umur
berdasarkan jenis kelamin, dan tinggi badan terhadap umur untuk usia 2 tahun
sampai 18 tahun. Panjang badan diukur pada anak sampai usia 5 tahun.
Secara umum, nilai persentil 50 pada baku rujukan Harvard hampir sama
dengan nilai NCHS, meskipun rata-rata berat badan pada anak laki-laki pada
baku rujukam NCHS sedikit lebih besar.
2. WHO NCHS
Baku Rujukan dikeluarkan oleh badan resmi yang mengurusi masalah
kesehatan dan gizi. Untuk level dunia, tentunya WHO dan pada level negara
adalah Kementrian Kesehatan negara yang bersangkutan (Indonesia :
Depkes).
Baku Rujukan WHO-NCHS (National Center for Health Statistics)
yang dipublikasikan tahun 1993 di dalam suplemen WHO ”Measuring
Change of Nutritional Status”. Baku rujukan ini disusun oleh NCHS (badan
Riset Kesehatan Amerika, di bawah CDC = center for desease control)
diadoptasi oleh WHO dan menjadi WHO-NCHS. baku rujuk WHO-NCHS.
Pada tahun 1997-2003 Who melakukan Multicenter Growth Refernce Study (
MGRS) di 6 negara yaitu USA, Brazil, India, Ghana, Neorwegia, dan Oman
dengan jumlah sampel yang diambil sebanyak 8440 anak hidup di lingkungan
sehat yang memungkinkan tumbuh sesuai potensi genetic untuk
mengembangkan Standar pertumbuhan anak (WHO 2005 dalam Yuyuk :20).
Muliticentre Growth Reference Study (MGRS) telah dirancang untuk
menyediakan data yang menggambarkan anak-anak harus tumbuh, dengan
cara memasukkan kriteria tertentu (misalnya: menyusui, pemeriksaan
kesehatan, dan tidak merokok). Penelitian tersebut mengikuti bayi normal dari
lahir sampai usia 2 tahun, dengan pengukuran yang sering pada minggu
pertama. Kelompok anak-anak lain umur 18 sampai 71 bulan, diukur satu kali.
Data dari kedua kelompok umur tersebut disatukan untuk menciptakan
standar pertumbuhan anak umur 0 sampai 5 tahun.

27
Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan
dua versi yakni persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar
deviation score = z). Menurut Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara
yang populasinya relative baik (well-nourished), sebaiknya digunakan
“presentil”, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative
kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB)
sebagai persen terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).
Table 10. Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart Baku
Antropometeri WHO-NCHS

Indeks yang Batas


No Sebutan Status Gizi
dipakai Pengelompokan

1 BB/U < -3 SD Gizi buruk

- 3 s/d <-2 SD Gizi kurang

- 2 s/d +2 SD Gizi baik

> +2 SD Gizi lebih

2 TB/U < -3 SD Sangat Pendek

- 3 s/d <-2 SD Pendek

- 2 s/d +2 SD Normal

> +2 SD Tinggi

3 BB/TB < -3 SD Sangat Kurus

- 3 s/d <-2 SD Kurus

- 2 s/d +2 SD Normal

> +2 SD Gemuk

28
Table 11. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U,
BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)

Indeks yang digunakan


No Interpretasi
BB/U TB/U BB/TB

1 Rendah Rendah Normal Normal, dulu kurang gizi

Rendah Tinggi Rendah Sekarang kurang ++

Rendah Normal Rendah Sekarang kurang +

2 Normal Normal Normal Normal

Normal Tinggi Rendah Sekarang kurang

Normal Rendah Tinggi Sekarang lebih, dulu kurang

3 Tinggi Tinggi Normal Tinggi, normal

Tinggi Rendah Tinggi Obese

Tinggi Normal Tinggi Sekarang lebih, belum obese

Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :

Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Tinggi : > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh


dengan mengurangi Nilai Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median

29
Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan, hasilnya dibagi
dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan menggunakan
rumus :

Z-score = (NIS-NMBR) /
NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS oleh para pakar Gizi


dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan
berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri.Untuk memperjelas
penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut:
Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm
Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan
WHO-NCHS hanya dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak
laki-laki usia 15 tahun
Jadi untuk indeks BB/U adalah
= Z Score = ( 60 kg – 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD
= status gizi baik
Untuk IndeksTB/U adalah
= Z Score = ( 145 kg – 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD
= status gizi pendek
Untuk Indeks BB/TB adalah

= Z Score = ( 60 – 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD


= status gizi gemuk
Table 12. Weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS

Age Standard Deviations


Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
15 0 31.6 39.9 48.3 56.7 69.2 81.6 94.1
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

30
Table 13. Weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS

Stature Standard Deviations


Cm -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
145 0 24.8 28.8 32.8 36.9 43.0 49.2 55.4
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

Table 14. Stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS

Stature Standard Deviations


Yr mth -3sd -2sd -1sd Median +1sd +2sd +3sd
15 0 144.8 152.9 160.9 169.0 177.1 185.1 193.2
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Geneva 1985

31
BAB 3. PENUTUP

3.1Kesimpulan
Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering
disebut reference. Baku Rujukan adalah tabel yang berisi daftar normatif sebagai
pembanding dalam menilai status gizi. Baku Rujukan dibuat dengan aturan-aturan
yang ketat yang harus mewakili penduduk yang sehat yang mencapai pola
pertumbuhan yang optimal. Baku Rujukan dikeluarkan oleh badan resmi yang
mengurusi masalah kesehatan dan gizi. Untuk level dunia, tentunya WHO dan pada
level negara adalah Kementrian Kesehatan negara yang bersangkutan. Sepanjang
sejarah, baru 2 Baku Rujukan yang dipakai secara international yaitu Baku Rujukan
Harvard dan Baku Rujukan WHO-NCHS. Baku antropometri yang pernah digunakan
di Indonesia adalah WHO-NCHS.
Untuk menentukan klasifikasi status gizi diperlukan batasan - batasan yang
disebut dengan ambang batas. Di setiap negara, batasan ini relatif berbeda tergantung
pada kesepakatan para ahli gizi di negara tersebut serta berdasarkan hasil penelitian
empiris dan keadaan klinis.

3.2 Saran
Kita perlu mengetahui dan mengembangkan pengetahuan mengenai gizi dan
juga cara menentukan klasifikasi status gizi dengan baik. Terdapat beberapa aturan
dalam menentukan klasifikasi status gizi, yaitu harus ada ukuran baku yang
digunakan serta nilai ambang batas.

32
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu
dan Anak, Direktorat Bina Gizi.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
1995/Menkes/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status
Gizi Anak
Ali, Rahim, 2008. Penilaian Status Gizi Anak. Online [Akses 02 Maret 2018]
[https://arali2008.files.com/2008/08/penilaian-status-gizi-anak]
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-indarti-5190-3-bab2.pdf
[diakses pada tanggal 5 Maret 2018,19.33]
Kepmenkes. (2010). Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Menteri Kesehatan Ri.
Riskesdas. (2013). Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian Dna
Pengembangan Kesehatan Kemenkes Ri.
Http://Www.Depkes.Go.Id/Resources/Download/General/Hasil%20riskesdas
%202013.Pdf [diakses Pada 02 Maret 2018, 19:45]
Thamaria, N. (2017). Penilaian Status Gizi. Kepmenkes Ri Pusat Pendidikan Sumber
Daya Manusia Kesehatan . Http://Bppsdmk.Kemkes.Go.Id/Pusdiksdmk/Wp-
Content/Uploads/2017/11/Penilaian-Status-Gizi-Final-Sc.Pdf [diakses Pada
02 Maret 2018, 19:45]
http://staffnew.uny.ac.id/upload/132318122/pendidikan/STATUS+GIZI(1).pdf
[diakses pada 02 Maret 2018, 19:45]
Almatsier, Sunita. 2010. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama:
Supariasa, dkk. 2017. Penilaian Status Gizi edisi 2. Jakarta: EGC
Gibson Rosalind. S, 1990. Principle Of Nutritional Assessment. New York : Oxford
University Press
Solihin Pudjiadi. 1997. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: FK UI
Djumadias Abunain. 1990. Aplikasi Antropometri. Jakarta

33
34

Anda mungkin juga menyukai