Anda di halaman 1dari 4

TARA KALOR LISTRIK

Hifzul Arfana, Atikah Julia Nefab, Bayu Setiadi Putrab, Ade Chandrab

aTeknik Elektro, Rabu/Shift 2, Kamis/Shift 2, Kamis/Shift 3, Universitas Andalas


bLaboratorium Fisika Dasar, Universitas Andalas

e-mail: arfan.hifzul.2612@gmail.com
Laboratorium Fisika Dasar Unand, Kampus Limau Manis, 25163

Abstrak

Percobaan tara kalor listrik bertujuan untuk menentukan tara kalor listrik (konstanta joule).
Beberapa hukum yang mendasari tara kalor listrik, yaitu asas Black, hukum Joule, hukum
termodinamika ke-0 dan hukum termodinamika ke-1. Nilai air kalorimeter ditentukan dari
banyaknya kalor yang diterima. Nilai tara kalor listrik dipengaruhi oleh energi listrik yang
digunakan dan energi panas yang dihasilkan. Alat yang digunakan adalah kalorimeter dengan
pemanas. Percobaan dilakukan untuk menentukan nilai air kalorimeter dan konstanta joule,
dengan cara memvariasikan nilai arus dan waktu. Nilai NA yang didapat pada praktikum 229,5
kal/˚C, sedangkan nilai tara kalor listrik untuk variasi arus dan variasi waktu yang didapat pada
praktikum 0,4 J/kal dan 2,06 J/kal. Variasi arus dan waktu tidak berpengaruh terhadap nilai J
karena diimbangi oleh perubahan suhu. Berdasarkan hasil praktikum, nilai tara kalor listrik dan
nilai air kalorimeter berbeda dengan literatur yang ada.

Kata kunci : Konstanta Joule, Nilai Air Kalorimeter, Asas Black, Hukum Joule

I. Pendahuluan Dengan demikian, energi listrik yang


digunakan oleh alat sama dengan beda
Listrik merupakan salah satu bentuk energi. tegangan atau beda potensial dan kuat arus
Dalam rangkaian, energi listrik dapat selama waktu yang dibutuhkan, dimana :
diubah menjadi bentuk energi lain. Energi
W=V i t
listrik dapat diubah menjadi kalor dan
sebaliknya. Listrik dapat diubah menjadi
Ketika kumparan dialiri arus listrik, maka
kalor karena listrik merupakan konduktor
akan timbul panas pada kumparan tersebut.
yang baik.
Panas yang ditimbulkan dapat diukur
dengan menggunakan kalorimeter yang
Kita mengetahui bahwa arus listrik yang
telah diberi air sehingga panas diserap oleh
mengalir pada suatu rangkaian juga
air, tabung, serta kalorimeter.
menghasilkan panas. Pada peralatan-
peralatan yang menggunakan arus listrik
Banyak panas yang dihasilkan kalorimeter
sebagai sumber energinya, apabila di
dapat dikonversikan dengan memulai
aktifkan pada jangka waktu tertentu, maka
percobaan pada suhu di bawah suhu kamar
akan timbul panas pada bagian rangkaian
dan mengakhirinya pada suhu di atas suhu
listrik yang merupakan tempat atau pusat
kamar, dimana :
aktifitas arus listrik.
H=[Na + MC] 𝛥𝑇
Tara kalor listrik adalah perbandingan Gambar 1. Susunan peralatan menentukan
antara besar energi listrik yang digunakan konstanta joule
dengan panas yang dihasilkan, dimana: Zat yang berbeda dalam kapasitas kalor
diperlukan untuk menghasilkan suatu
𝑊
J= kenaikan temperatur. Adapun perpindahan
𝐻
suhu dapat terjadi melalui panas, proses
Teori yang mendasari tara kalor listrik elektrolisa, kemagnetan dan adanya
adalah hukum Joule dan asas Black dimana gerakan.
suatu bentuk energi dapat diubah
bentuknya menjadi energi yang lain. Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang
diserap atau diperlukan oleh satu gram zat
Hukum Joule dikembangkan oleh seorang untuk menaikkan suhu sebesar satu derajat
ilmuan Inggris yang bernama James Prescott celsius.
Joule (1818-1889), yang mengemukakan
bahwa suatu kuantitas tenaga mekanik yang Terdapat tiga jenis perpindahan kalor yaitu;
diberikan diubah menjadi kalor, maka (1) konduksi yaitu perpindahan kalor yang
kuantitas kalor yang sama selalu disertai dengan perpindahan partikel zat
dikembangkan. Oleh karena itu, kesetaraan penghantarnya, (2) konveksi yaitu
kalor dan kerja mekanis sebagai dua bentuk perpindahan kalor yang tidak disertai
tenaga yang telah diperlihatkan secara pasti. dengan perpindahan partikel zat, (3) radiasi
yaitu perpindahan kalor dalam bentuk
Prinsip kerja kalorimeter berdasarkan gelombang elektromagnetik.
pengamatan Joseph Black (1720-1799),
seorang ilmuan Inggris yang dikenal II. Metodologi Penelitian
dengan asas Black yang berbunyi, “Pada
pencampuran dua zat, banyaknya kalor 2.1. Alat dan Bahan
yang dilepas zat yang suhunya lebih tinggi
akan sama dengan banyaknya kalor yang Kalorimeter dengan pemanas digunakan
diterima oleh zat yang suhunya lebih sebagai pemanas air dengan mengalirkan
rendah”. arus pada suatu kumparan, catu daya
digunakan sebagai sumber listrik,
Nilai air kalorimeter adalah panas yang amperemeter digunakan untuk mengukur
diperlukan untuk menaikkan satu satuan arus listrik, voltmeter digunakan untuk
derajat suhu kalorimeter. Nilai kalorimeter mengukur tegangan listrik, tahanan geser
sering ditentukan dengan menggunakan digunakan sebagai tahanan beban,
asas Black, sehingga didapatkan persamaan termometer digunakan untuk mengukur
berikut: suhu, pemanas listrik digunakan sebagai
alat pemanas, bejana logam digunakan
map.Cap.( Tap – Ts ) – mad.Cad.( Ts – Tad ) sebagai wadah untuk memanaskan air.
NA= ( Ts – Tad )

2.2. Prosedur percobaan


Untuk mengukur nilai konstanta joule,
rangkaian disusun seperti gambar 1. A. Menentukan nilai air kalorimeter

Massa kalorimeter kosong dan pengaduk


ditimbang, lalu air dimasukkan kira-kira
1/4 bagian dan ditimbang kembali. Suhu
awal air dicatat. Didihkan air dalam bejana
logam dan suhunya dicatat, lalu air yang
mendidih dituangkan kira-kira 3/4 bagian.
Kemudian diaduk dengan pengaduk dan
suhu kesetimbangan dicatat. Kalorimeter
ditimbang kembali setelah tercapai
kesetimbangan. Masing-masing membesar. Jadi, nilai I berbanding lurus
penimbangan dilakukan sebanyak 3 kali. dengan nilai J.

B. Mengukur konstanta Joule Tabel 2. Nilai tara kalor listrik variasi arus
I ΔT t W H J
No
(A) (˚C) (s) (J) (kal) (J/kal)
Air kira-kira 2/3 bagian dimasukkan ke
dalam kalorimeter, suhu awal dicatat. 1. 1 1,8 120 132 579,6 0,23
Rangkaian disusun seperti gambar 1, lalu
2. 1,5 2,2 120 270 708,4 0,38
dialiri arus sebesar 1 A. Kemudian suhu
dicatat setiap 2 menit selama 30 detik. 3. 2 2,5 120 504 805 0,63
Tegangan diukur dan dicatat sewaktu
percobaan. Langkah 1 sampai 4 diulangi
untuk arus sebesar 1,5 A dan 2 A. 4. Bandingkan nilai J praktikum dengan
nilaia J literatur ( J literatur = 4,22 J/kal)
III. Hasil dan Pembahasan
Nilai J variasi waktu dan arus berbeda
3.1. Analisis hasil pengukuran dengan J literatur yang ada. Nilai J
praktikum 2,06 dan 0,4 J/kal sedangkan
1. Bagaimana NA pada praktikum nilai J literatur 4,22 J/kal.

Nilai NA dipengaruhi oleh besarnya selisih 5. Kesalahan yang terjadi


suhu setimbang dengan suhu air dingin.
Nilai NA praktikum berbeda dengan nilai Kesalahan yang terjadi dikarenakan
NA literatur, hal itu dapat diketahui dengan kurangnya ketelitian pada saat mengambil
melihat nilai Ckal. Kalorimeter berbahan dan mengolah data.
alumunium sehingga nilai Ckal sama
dengan 0,22 kal/gram˚C sedangkan hasil 3.2. Analisis nilai ralat
percobaan yang didapat 0,68 kal/gram˚C.
Dari perhitungan yang telah dilakukan, nilai
2. Bagaimana pengaruh waktu terhadap ralat pada variasi waktu dan arus lebih
nilai J besar dari 5% artinya data yang diperoleh
tidak akurat.
Dilihat dari hasil praktikum, hubungan
variasi waktu terhadap nilai J adalah Tabel 3. Ralat variasi waktu
No J J̅ (J-J)̅ (J-J)̅ 2
berbanding lurus. Namun berdasarkan
1 1,76 2,06 -0,3 0,09
teori, nilai J tetap seiring kenaikan t karena 2 1,99 2,06 -0,67 0,0049
diimbangi oleh kenaikan ΔT. 3 2,44 2,06 0,38 0,1444
∑(J − J)̅ 2= 0,2393
Tabel 1. Nilai tara kalor listrik variasi waktu
J
No
I ΔT T W H
(J/k
Ralat Mutlak (RM) yang diperoleh dari hasil
(A) (˚C) (s) (J) (kal) perhitungan sebesar 0,35 J/kal sehingga
al)
nilai Ralat Nisbi (RN) sebesar 17%.
1. 2 1,4 120 792 450,8 1,76

2. 2 1,8 220 1152 579,6 1,99 Tabel 4. Ralat variasi arus


No J J̅ (J-J)̅ (J-J)̅ 2
3. 2 2,2 360 1728 708,4 2,44 1 0,23 0,4 -0,17 0,0289
2 0,38 0,4 -0,02 0,0004
3 0,63 0,4 0,23 0,0529
3. Bagaimana pengaruh arus terhadap nilai J ∑(J − J)̅ 2= 0,0822

Berdasarkan hasil praktikum, nilai arus Ralat Mutlak (RM) yang diperoleh dari hasil
yang diperbesar membuat nilai J juga ikut perhitungan sebesar 0,2 J/kal sehingga nilai
Ralat Nisbi (RN) sebesar 50%
IV. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat


disimpulkan bahwa variasi arus dan waktu
tidak berpengaruh terhadap nilai J karena
diimbangi oleh perubahan suhu. Nilai
konstanta joule berbanding terbalik dengan
panas yang dihasilkan dan berbanding lurus
dengan listrik yang dialirkan. Nilai J
praktikum berbeda dengan nilai J literatur
sehingga data yang diperoleh tidak akurat.

V. Ucapan terima kasih

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan jurnal tentang
Tara Kalor Listrik (L4). Terima kasih kepada
kepala dan staf Laboratorium Fisika Dasar
yang mendukung proses praktikum. Terima
kasih juga kepada koordinator umum Ade
Chandra, koordinator alat Bayu Septiadi
Putra, koordinator jurusan Teknik Elektro
Mita Lerina, Nadia Yudia Putri, Wulan
Syaftira, S.Si yang telah mengkoordinir
kegiatan praktikum. Asisten pembimbing
Atikah Julia Nefa serta asisten Laboratorium
Fisika Dasar yang telah memberi bimbingan
selama pembuatan jurnal dan praktikum.
Terima kasih juga kepada rekan kelompok
yang saling bekerja sama hingga pembuatan
jurnal selesai.

Referensi

1. Halliday, David, 1985, Physic 3rd Edition,


Bandung ; Erlangga
2. Tipler, Paul A, 1998, Fisika Untuk Sains
dan Teknik, Jakarta ; Erlangga