Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Defenisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti
berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit
yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan
mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan
kerapuhan tulang (Tandra, 2009).

Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992
Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai
perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya
menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang
(Suryati, 2006).

Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka,
ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko
patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu densitas
tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007).

Osteoporosis adalah penyakit tulamg sisitemik yang ditandai oleh penurunan mikroarsitektur
tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Pada tahun 2001, National Institute of
Health (NIH) mengajukan definisi baru osteoporosis sebagai penyakit tulang sistemik yang
ditandai oleh compromised bone strength sehingga tulang mudah patah ( Sudoyo, 2009 ).
Osteoporosis dibagi 2 kelompok, yaitu :

a. Osteoporosis Primer
Osteoporosis primer berhubungan dengan kelainan pada tulang, yang menyebabkan peningkatan
proses resorpsi di tulang trabekula sehingga meningkatkan resiko fraktur vertebra dan Colles.
Pada usia decade awal pasca menopause, wanita lebih sering terkena dari pada pria dengan
perbandingan 68:1 pada usia rata-rata 53-57 tahun.
b. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit atau sebab lain diluar tulang
B. Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia lanjut:
1. Determinan Massa Tulang
a. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa orang
mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada
umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia. Jacii
seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap
fraktur karena osteoporosis.
b. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetk. Bertambahnya
beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya
massa tulang. Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik
yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai
contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot
maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada otot
maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu
yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun demikian belum
diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang diperlukan dan berapa lama untuk
meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik.

c. Faktor makanan dan hormon


Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan
mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan
maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang
melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan
genetiknya.

2. Determinan penurunan Massa Tulang


a. Faktor genetik
Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat risiko fraktur dari pada
seseorang dengan tulang yang besar. Sampai saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat
dipakai sebagai ukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai
dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya. Apabila individu dengan
tulang yang besar, kemudian terjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan
dengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang lebih banyak dari
pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang sama.
b. Faktor mekanis
Faktor mekanis mungkin merupakan yang terpenting dalarn proses penurunan massa tulang
schubungan dengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi
panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada umumnya aktivitas fisis
akan menurun dengan bertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsi beban
mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.
c. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa tulang
sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium,
merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause, dengan
masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan keseimbangan
kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya
juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas, bahwa pada
wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium dengan keseimbangan
kalsium dalam tubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah.
Hasil akhir kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran
keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
d. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa tulang.
Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat
melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya protein tidak dimakan
secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor,
maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin. Sayangnya fosfor tersebut
akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung
protein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium
yang negative.

e. Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya gangguan
keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium
dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
f. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan penurunan
massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh
merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein dapat
memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
g. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan. Individu dengan
alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat
urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .
Beberapa penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:
1. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurngnya hormon estrogen (hormon utama pada
wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya gejala
timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih cepat atau
lebih lambat. Hormon estrogen produksinya menurun 2-3 tahun sebelum menopause dan terus
berlangsung 3-4 tahun setelah meopause. Hal ini berakibat menurunnya massa tulang sebanyak
1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.

2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang


berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya tulang (osteoklas)
dan pembentukan tulang baru (osteoblast). Senilis berati bahwa keadaan ini hanya terjadi pada
usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali
lebih sering wanita. Wanita sering kali menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang disebakan
oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis
dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-obatan (mislnya
kortikosteroid, barbiturat, anti kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan). Pemakaian alkohol
yang berlebihan dapat memperburuk keadaan ini.
4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.
Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang
normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya
tulang.

C. Manifestasi Klinis
Osteoporosis dimanifestasikan dengan :
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
2. Nyeri timbul mendadak.
3. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang.
4. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
5. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas.
6. Deformitas vertebra thorakalis  Penurunan tinggi badan
D. Patofisiologi
Kartilago hialin adalah jaringan elastis yang 95% terdiri dari air dan matrik ekstra selular,
5 % sel konrosit. Fungsinya sebagai penyangga juga pelumas sehingga tidak menimbulkan nyeri
pada saat pergerakan sendi.

Apabila kerusakan jaringan rawan sendi lebih cepat dari kemampuannya untuk
memperbaiki diri, maka terjadi penipisan dan kehilangan pelumas sehingga kedua tulang akan
bersentuhan. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri pada sendi lutut. Setelah terjadi kerusakan
tulang rawan, sendi dan tulang ikut berubah.

E. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran radiologik yang
khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini
akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
b. Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai densitas massa
tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density )
berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan tulang)
bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD berada diatas nilai -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:

1. Single-Photon Absortiometry (SPA)


Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah guna
menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang
mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius dan kalkaneus.
2. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber energi yang
mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan jaringan
lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang
yang mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan vetrebrata.
3. Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang secara volimetrik.
c. Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan menggunakan gelombang
suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2 sumsum
tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang trabekula dan yang
kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
e. Biopsi tulang dan Histomorfometri
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan metabolisme tulang.

f. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat dilihat
pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling
berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering
ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari
nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
g. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam
diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3 baisanya tidak
menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cm3
ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
h. Pemeriksaan Laboratorium
1. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.

2. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen
merangsang pembentukkan Ct)

3. Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.

4. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.


F. Web Of Caution

1. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang.
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal
(kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
c. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan
tubuh.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

2. Intervensi Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur, spasme otot, deformitas tulang.
Intervensi Keperawatan Rasionalisasi
1. Pantau tingkat nyeri pada 1. tulang dalam peningkatan
punggung, nyeri terlokalisasi atau jumlah trabekular, pembatasan
menyebar pada abdomen atau gerak spinal.
pinggang.

2. Ajarkan pada klien tentang 2. Alternatif lain untuk mengatasi

alternative lain untuk mengatasi nyeri, pengaturan posisi,

dan mengurangi rasa nyerinya. kompres hangat dan


sebagainya.
3. Kaji obat-obatan untuk mengatasi
3. Keyakinan klien tidak dapat
nyeri.
menoleransi obat yang adekuat
4. Rencanakan pada klien tentang
periode istirahat adekuat dengan atau tidak adekuat untuk
berbaring dalam posisi telentang mengatasi nyerinya.
selama kurang lebih 15 menit 4. Kelelahan dan keletihan dapat
menurunkan minat untuk
aktivitas sehari-hari.

b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat perubahan skeletal
(kifosis), nyeri sekunder atau fraktur baru.
Intervensi Keperawatan Rasionalisasi
1. Kaji tingkat kemampuan klien 1. Dasar untuk memberikan
yang masih ada. alternative dan latihan gerak
yang sesuai dengan

2. Rencanakan tentang pemberian kemapuannya.

program latihan: 2. Latihan akan meningkatkan


pergerakan otot dan stimulasi
 Bantu klien jika diperlukan
sirkulasi darah
latihan

 Ajarkan klien tentang aktivitas


hidup sehari hari yang dapat
dikerjakan

 Ajarkan pentingnya latihan.

3. Bantu kebutuhan untuk


beradaptasi dan melakukan
aktivitas hidup sehari hari, 3. Aktifitas hidup sehari-hari

rencana okupasi . secara mandiri


4. Dengan latihan fisik:
4. Peningkatan latihan fisik secara
adekuat:
 Masa otot lebih besar sehingga
 dorong latihan dan hindari
memberikan perlindungan pada
tekanan pada tulang seperti
osteoporosis
berjalan.
 instruksikan klien untuk latihan  Program latihan merangsang
selama kurang lebih 30menit dan pembentukan tulang
selingi dengan istirahat dengan
 Gerakan menimbulkan
berbaring selama 15 menit
kompresi vertical dan fraktur
 hindari latihan fleksi, vertebra.
membungkuk tiba– tiba,dan
penangkatan beban berat

c. Risiko cedera berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skeletal dan ketidakseimbangan
tubuh.
Intervensi Keperawatan Rasionalisasi
1. Ciptakan lingkungan yang bebas1. Menciptakan lingkungan yang
dari bahaya: aman dan mengurangi risiko

 Tempatkan klien pada tempat terjadinya kecelakaan.

tidur rendah.

 Amati lantai yang


membahayakan klien.

 Berikan penerangan yang cukup

 Tempatkan klien pada ruangan


yang tertutup dan mudah untuk
diobservasi.

 Ajarkan klien tentang pentingnya


menggunakan alat pengaman di
ruangan. 2. Ambulasi yang dilakukan

2. Berikan dukungan ambulasi tergesa-gesa dapat

sesuai dengan kebutuhan: menyebabkan mudah jatuh.


 Kaji kebutuhan untuk berjalan.

 Konsultasi dengan ahli therapist.

 Ajarkan klien untuk meminta


bantuan bila diperlukan.

 Ajarkan klien untuk berjalan dan


keluar ruangan. 3. Penarikan yang terlalu keras
3. Bantu klien untuk melakukan akan menyebabkan terjadinya
aktivitas hidup sehari-hari secara fraktur.
hati-hati. 4. Pergerakan yang cepat akan
4. Ajarkan pada klien untuk lebih memudahkan terjadinya
berhenti secara perlahan, tidak fraktur kompresi vertebra pada
naik tanggga, dan mengangkat klien osteoporosis.
beban berat. 5. Diet kalsium dibutuhkan untuk
5. Ajarkan pentingnya diet untuk mempertahankan kalsium
mencegah osteoporosis: serum, mencegah bertambahnya

 Rujuk klien pada ahli gizi kehilangan tulang. Kelebihan


kafein akan meningkatkan
 Ajarkan diet yang mengandung
kalsium dalam urine. Alcohol
banyak kalsium
akan meningkatkan asidosis
 Ajarkan klien untuk mengurangi
yang meningkatkan resorpsi
atau berhenti menggunakan rokok
tulang
atau kopi
6. Rokok dapat meningkatkan
terjadinya asidosis.
6. Ajarkan tentang efek rokok
7. Obat-obatan seperti diuretic,
terhadap pemulihan tulang
fenotiazin dapat menyebabkan
7. Observasi efek samping obat-
pusing, megantuk, dan lemah
obatan yang digunakan
yang merupakan predisposisi
klien untuk jatuh.
d. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi.

Intervensi Keperawatan Rasionalisasi


1. Kaji ulang proses penyakit dan 1. Memberikan dasar pengetahuan
harapan yang akan datang dimana klien dapat membuat
pilihan berdasarkan informasi.

2. Ajarkan pada klien tentang 2. Informasi yang diberikan akan

faktor-faktor yang mempengaruhi membuat klien lebih memahami

terjadinya osteoporosis tentang penyakitnya


3. Suplemen kalsium ssering
3. Berikan pendidikan kepada klien
mengakibatkan nyeri lambung
mengenai efek samping
dan distensi abdomen maka
penggunaan obat
klien sebaiknya mengkonsumsi
kalsium bersama makanan
untuk mengurangi terjadinya
efek samping tersebut dan
memperhatikan asupan cairan
yang memadai untuk
menurunkan resiko
pembentukan batu ginjal

G. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan


1. Penatalaksanaan Medis
A. Pengobatan
1. Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan pembentukan tulan
adalah Na-fluorida dan steroid anabolik
2. Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi tulang adalah
kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.
B. Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda, hal ini bertujuan:
1. Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
2. Mengatur makanan dan life style yg menjadi seseorang tetap bugar seperti:
a. Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
b. Latihan teratur setiap hari
c. Hindari :
1. Makanan tinggi protein
2. Minum alkohol
3. Merokok
4. Minum kopi
5. Minum antasida yang mengandung aluminium

2. Penatalaksanaan keperawatan
a. Membantu klien mengatasi nyeri.
b. Membantu klien dalam mobilitas.
c. Memberikan informasi tentang penyakit yang diderita kepada klien.
d. Memfasilitasikan klien dalam beraktivitas agar tidak terjadi cedera.

BAB III

KASUS

A. Uraian Kasus
Ny. S umur 58 tahun datang ke RSUD AA Pekanbaru dengan keluhan ngilu pada sendi yang
seringdirasakannya sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun
yang lalu, namun Ny. S tidak memperdulikannya. Ketika memeriksakan diri ke dokter Ny. S
dianjurkan untuk tes darah dan rongent kaki. Hasil rongent menunjukkan bahwa Ny. S
menderita osteoporosis diperkuat lagi dengan hasil BMD T-score -3. Klien mengalami
menopause sejak 6 tahun yang lalu. Menurut klien dirinya tidak suka minum susu sejak usia
muda dan tidak menyukai makanan laut. Klien beranggapan bahwa keluhan yang dirasakannya
karena usianya yang bertambah tua. Riwayat kesehatan sebelumnya diketahui bahwa klien tidak
pernah mengalami penyakit seperti DM dan hipertensi dan tidak pernah dirawat di RS. Pola
aktifitas diketahui klien banyak beraktifitas duduk karena dulu dirinya bekerja sebagai staf
administrasi dan tidak suka olahraga karena tidak sempat. Riwayat penggunaan KB hormonal
dengan metode pil. Pemeriksaan TB 165 cm, BB 76 kg (BB sebelumnya 78 kg).

B. Pengkajian
1. Data demografi
Nama : Ny. S
Umur : 58 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Ny. S umur 58 tahun datang dengan keluhan ngilu pada sendi yang seringdirasakannya
sejak 3 bulan yang lalu, rasa ngilu itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun yang lalu, namun
Ny. S tidak memperdulikannya.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Klien terlihat bungkuk (kifosis), penurunan berat badan, perubahan gaya berjalan.
b. Palpasi
Klien merasakan nyeri saat dilakukan palpasi pada area punggung.
4. Riwayat Psikososial
Klien cemas untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang berat.
5. Hasil pemeriksaan laboratorium
BMD T-score -3

C. Analisa Data
Data Subjektif Data Objektif Masalah
keperawatan
1.Klien mengatakan ngilu1. Klien mengalami Nyeri
di bagian sendi sejak menopause sejak 6 tahun
beberapa tahun lalu, yang lalu.
namun Ny. S tidak
mempedulikannya. 2. Riwayat penggunaan KB
Sejak kurang lebih tiga hormonal dengan metode
bulan yang lalu, ngilu di pil.
tubuhnya tak kunjung 3. Wajah klien terlihat
hilang meringis.
2.Klien mengatakan 4. Sering terlihat
banyak beraktifitas memegang area yang
duduk karena dulu sakit
dirinya bekerja sebagai
staf administrasi dan

3.Klien mengatakan tidak


suka olahraga karena
tidak sempat.

4.Klien mengatakan
terasa sakit pada sendi
ketika berjalan

5.Klien mengatakan
aktivitas sehari-hari
terhambat

6.Skala nyeri 7

1.Klien mengatakan ngilu1. Ny. S umur 58 tahun Mobilitas fisik


di bagian sendi sejak 2. Hasil rongent
beberapa tahun lalu, menunjukkan bahwa Ny.
namun Ny. S tidak S menderita osteoporosis.
mempedulikannya.
3. Hasil BMD T-score -3.
Sejak kurang lebih tiga
bulan yang lalu, ngilu di4. Hasil darah lengkap
tubuhnya tak kunjung dalam.

hilang. 5. Pemeriksaan TB 165 cm,


2.Klien mengatakan BB 76 kg.
banyak beraktifitas 6. Kifosis
duduk karena dulu
dirinya bekerja sebagai
staf administrasi dan
tidak suka olahraga
karena tidak sempat.

3.Klien mengatakan
terasa sakit pada sendi
ketika berjalan.

4.Klien mengatakan
aktivitas sehari-hari
terhambat

1.Klien mengatakan1. Klien terlihat sangat Resiko cedera


merasakan ngilu saat berhati-hati berjalan.
beraktivitas yang berat. 2. Klien terlihat kifosis (
bungkuk)
3. Hasil rongent
menunjukkan bahwa Ny.
S menderita osteoporosis
4. Hasil BMD T-score -3.

1.Klien mengatakan ngilu1. Ny. S umur 58 tahun Kurang


di bagian sendi sejak 2. Riwayat kesehatan pengetahuan
beberapa tahun lalu, sebelumnya diketahui
namun Ny. S tidak bahwa klien tidak pernah
mempedulikannya. mengalami penyakit
Sejak kurang lebih tiga seperti DM dan
bulan yang lalu, ngilu di hipertensi dan tidak
tubuhnya tak kunjung pernah dirawat di RS.
hilang 3. Riwayat penggunaan KB
2.Klien mengatakan hormonal dengan metode
dirinya tidak suka pil.
minum susu sejak usia 4. Pendidikan Terakhir
muda dan tidak Klien SMA
menyukai makanan
laut.

3.Klien beranggapan
bahwa keluhan yang
dirasakannya karena
usianya yang bertambah
tua.

4.Klien mengatakan
banyak beraktifitas
duduk karena dulu
dirinya bekerja sebagai
staf administrasi dan
tidak suka olahraga
karena tidak sempat.
D. WOC ( Web Of Caution )

E. Intervensi Keperawatan

Diagnosa Etiologi Intervensi Rasionalisasi


Keperawatan Keperawatan
Nyeri Penurunan 4. Pantau tingkat
5. tulang dalam
berhubungan massa tulang / nyeri pada peningkatan
dengan osteoporosis punggung, nyeri jumlah trabekular,
dampak terlokalisasi atau pembatasan gerak
sekunder dari menyebar pada spinal.
fraktur, Fraktur abdomen atau
spasme otot, vertebra pinggang. 6. Alternatif lain
deformitas 5. Ajarkan pada untuk mengatasi
tulang klien tentang nyeri, pengaturan
Deformitas alternative lain posisi, kompres
Vertebra untuk mengatasi hangat dan

dan mengurangi sebagainya.


rasa nyerinya. 7. Keyakinan klien
Teregangnya tidak dapat
6. Kaji obat-obatan
ligamentum menoleransi obat
untuk mengatasi
dan otot/ yang adekuat atau
nyeri.
spasme otot tidak adekuat
5. Rencanakan pada untuk mengatasi

Nyeri klien tentang nyerinya.


periode istirahat
adekuat dengan8. Kelelahan dan
berbaring dalam keletihan dapat
posisi telentang menurunkan
selama kurang minat untuk
lebih 15 menit aktivitas sehari-
hari.

Hambatan Penurunan 2. Kaji tingkat


1. Dasar untuk
mobilitas fisik massa tulang / kemampuan klien memberikan
berhubungan osteoporosis yang masih ada. alternative dan
dengan latihan gerak
disfungsi 3. Rencanakan yang sesuai
sekunder Fraktur tentang pemberian dengan
akibat vertebra program latihan: kemapuannya.
perubahan 2. Latihan akan
 Bantu klien jika
skeletal meningkatkan
diperlukan latihan
(kifosis), nyeri Deformitas pergerakan otot
sekunder atau Vertebra  Ajarkan klien dan stimulasi
fraktur baru. tentang aktivitas sirkulasi darah
hidup sehari hari

Bungkuk yang dapat


dikerjakan

 Ajarkan
Hambatan pentingnya latihan.
mobilitas fisik5. 
Bantu kebutuhan Aktifitas hidup

untuk beradaptasi sehari-hari secara


dan melakukan mandiri
aktivitas 
hidup Dengan latihan

sehari hari, fisik:


rencana okupasi .
 Masa otot lebih
6. Peningkatan
besar sehingga
latihan fisik secara
memberikan
adekuat:
perlindungan
 dorong latihan dan
pada osteoporosis
hindari tekanan

pada tulang seperti Program latihan
berjalan merangsang
pembentukan

 instruksikan klien tulang


untuk latihan
selama kurang

lebih 30menit dan Gerakan
selingi dengan menimbulkan
istirahat dengan kompresi vertical
berbaring selama dan fraktur
15 menit vertebra.
 hindari latihan
fleksi,
membungkuk
tiba– tiba,dan
penangkatan beban
berat

Risiko cedera Penurunan 2. Ciptakan


2. Menciptakan
berhubungan massa lingkungan yang lingkungan yang
dengan tulang/osteopor bebas dari bahaya: aman dan
dampak osis  Tempatkan klien mengurangi risiko
sekunder pada tempat tidur terjadinya
perubahan Resiko cedera rendah. kecelakaan.
skeletal dan
 Amati lantai yang
ketidakseimba
membahayakan
ngan tubuh.
klien.

 Berikan
penerangan yang
cukup

 Tempatkan klien
pada ruangan yang
tertutup dan
mudah 3.
untuk Ambulasi yang

diobservasi. dilakukan
tergesa-gesa
 Ajarkan klien
dapat
tentang pentingnya
menyebabkan
menggunakan alat
mudah jatuh.
pengaman di
ruangan.

3. Berikan dukungan
ambulasi sesuai
dengan kebutuhan:

 Kaji kebutuhan
untuk berjalan. 6. Penarikan yang
 Konsultasi dengan terlalu keras akan
ahli therapist. menyebabkan

 Ajarkan klien terjadinya fraktur.


untuk meminta
7. Pergerakan yang
bantuan bila cepat akan lebih
diperlukan. memudahkan

 Ajarkan klien terjadinya fraktur


untuk berjalan dan kompresi vertebra
keluar ruangan. pada klien
osteoporosis.
5. Bantu klien untuk
melakukan 8. Diet kalsium

aktivitas hidup dibutuhkan untuk


sehari-hari secara mempertahankan
hati-hati. kalsium serum,

6. Ajarkan pada mencegah


klien untuk bertambahnya
berhenti secara kehilangan
perlahan, tidak tulang. Kelebihan
naik tanggga, dan kafein akan

mengangkat beban meningkatkan


berat. kalsium dalam
urine. Alcohol
akan
8. Ajarkan
meningkatkan
pentingnya diet
asidosis yang
untuk mencegah
meningkatkan
osteoporosis:
resorpsi tulang
 Rujuk klien pada
ahli gizi
8. Rokok dapat
 Ajarkan diet yang meningkatkan
mengandung terjadinya
banyak kalsium asidosis.
 Ajarkan klien
9. Obat-obatan
untuk mengurangi seperti diuretic,
atau berhenti fenotiazin dapat
menggunakan menyebabkan
rokok atau kopi pusing,
9. Ajarkan tentang megantuk, dan
efek rokok lemah yang
terhadap merupakan
pemulihan tulang predisposisi klien
10. Observasi efek untuk jatuh.
samping obat-
obatan yang
digunakan

Kurang Postmenopause,4. Kaji ulang proses


2. Memberikan
usia lanjut
pengetahuan penyakit dan dasar
mengenai harapan yang akan pengetahuan
Penurunan
proses hormon datang dimana klien
inhibitor
osteoporosis osteoclast
dapat membuat
dan program (estrogen,
kalsitonin) 4. Ajarkan pada pilihan
terapi yang klien tentang berdasarkan
berhubungan faktor-faktor yang informasi.
Penigkatan
dengan kurang osteoclast mempengaruhi 5. Informasi yang
informasi, Penurunan terjadinya diberikan akan
salah persepsi massa osteoporosis membuat klien
ditandai tulang/osteopor lebih memahami
5. Berikan
dengan klien osis tentang
pendidikan kepada
mengatakan penyakitnya
klien mengenai
kurang Kurang 6. Suplemen
efek samping
,mengerti pengetahuan kalsium ssering
penggunaan obat
tentang mengakibatkan
penyakitnya, nyeri lambung
klien tampak dan distensi
gelisah abdomen maka
klien sebaiknya
mengkonsumsi
kalsium bersama
makanan untuk
mengurangi
terjadinya efek
samping tersebut
dan
memperhatikan
asupan cairan
yang memadai
untuk
menurunkan
resiko
pembentukan
batu ginjal
E. Implementasi

No HARI/ NO. DIAGNOSA TINDAKAN EVALUASI PARAF


TGL/JAM KEPERAWATAN

1. SENIN 1 1. 1. Pantau tingkat S :


6/3-2016 nyeri pada
punggung, nyeri
08.15 terlokalisasi atau
(PAGI) menyebar pada
abdomen atau
pinggang.
222. Ajarkan pada
klien tentang
alternative lain
untuk mengatasi
dan mengurangi
rasa nyerinya.
333. Kaji obat-obatan
untuk mengatasi
nyeri.

444.Rencanakan pada
klien tentang
periode istirahat
adekuat dengan
berbaring dalam
posisi telentang
selama kurang
lebih 15 menit
2.
2.

F. Health Education
1. Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas fisik yang teratur untuk memelihara kekuatan,
kelenturan, dan koordinasi sistem neuromuskular serta kebugaran, sehingga dapat mencegah
risiko terjatuh. Berbagai latihan yang dapat dilakukan meliputi berjalan 30 – 60 menit/hari.
2. Anjurkan pasien untuk menjaga asupan kalsium 1000 – 1500 mg/hari, baik melalui makanan
sehari-hari maupun suplementasi.
3. Hindari mengangkat barang-barang yang berat pada pasien yang sudah pasti osteoporosis.
4. Hindari berbagai hal yang dapat menyebabkan pasien terjatuh, misalnya lantai yang licin, obat-
obatan sedatif, dan obat anti hipertensi yang dapat menyebabkan hipotensi orthostatik.
5. Hindari defisiensi vitamin D, terutama pada pasien yang kurang terpajan sinar matahari atau
pasien dengan fotosensitifitas, misalnya SLE. Jika diduga ada defisiensi vitamin D, maka kadar
25(OH)D serum harus diperiksa. Bila 25(OH)D serum menurun, maka suplementasi vitamin D
400 IU/hari atau 800 IU/hari pada orangtua harus diberikan. Pada pasien dengan gagal ginjal,
suplementasi 1,25(OH)2D harus dipertimbangkan.
6. Hindari peningkatan ekskresi kalsium lewat ginjal dengan membatasi asupan nutrisi sampai
3gram/hari untuk meningkatkan reabsorpsi kalsium di tubulus ginjal. Bila ekskresi kalsium urin
> 300mg/hari, berikan diuretik tiazid dosis rendah (HCT 25 mg/hari).
7. Pada pasien yang memerlukan glukokortikoid dosis tinggi dan jangka panjang, usahakan
pemberian glukokortikoid pada dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin.
8. Pada pasien arthritis reumatiod dan arthritis inflamasi lainnya, sangat penting mengatasi
aktivitas penyakitnya, karena hal ini akan mengurangi nyeri dan penurunan densitas massa
tulang akibat arthritis inflamasi yang aktif.
9. Informasikan pemberian terapi estrogen. Pemberian estrogen oral, transdermal atau implan
kesemuanya dapat meningkatkan densitas tulang secara bermakna dan secara epidemiologik
dibuktikan bahwa terapi ini menurunkan angka kejadian patah tulang oleh karena osteoporosis
pada panggul dan tulang punggung.