Anda di halaman 1dari 2

Pada sekitar 1938, Dr.

Moewardi walaupun di tengah kesibukannya sebagai dokter yang


melayani pasien-pasiennya, tetap aktif di kepanduan. Dia bahkan termasuk pimpinan sejumlah
organisasi kepanduan yang memutuskan untuk menyelenggarakan All Indonesian Jambore.
Belakangan nama yang berbahasa asing diganti dengan Bahasa Indonesia dan disebut
Perkemahan Kepandoean Indonesia Oemoem disingkat Perkino.

Di tengah Perang Dunia II yang mulai meletus, Perkino pertama masih bisa diselenggarakan di
Gampingan, Yogyakarta, pada 1941. Hebatnya lagi, meski Jepang sudah menguasai Indonesia,
namum Perkino II tetap berlangsung sukses selama sepuluh hari dari 2 sampai 12 Februari 1943
di Jakarta. Adalah Dr. Moewardi sendiri yang langsung memimpin Perkino II.

Sayangnya, setelah itu Balatentara Dai Nippon melarang kegiatan kepanduan di Tanah Air. Di
samping tetap menjalankan profesi sebagai dokter, Dr. Moewardi kemudian membentuk Barisan
Pelopor dan selanjutnya Barisan Banteng. Banyak di antara anggotanya adalah para Pandu yang
pernah dibinanya, sehingga tidak menyulitkan mereka untuk melatih baris-berbaris dan
kedisplinan serta keterampilan lain yang diperlukan. Mereka sudah mendapat pendidikan itu
sewaktu masih aktif di gerakan kepanduan.

Atas jasa-jasanya dalam kepanduan itulah, patung Dr. Moewardi yang cukup besar didirikan di
depan Bumi Perkemahan Pramuka di kawasan Jurug, Solo, pada November 1988. Bahkan kini
sejumlah kalangan mengusulkan pula agar Dr. Moewardi dapat diberi gelar Bapak Pandu
Indonesia.

Di lingkungan Gerakan Pramuka sendiri telah ada Bapak Pramuka Indonesia. Gelar yang
disematkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX melalui Keputusan Musyawarah Nasional
Gerakan Pramuka di Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste), pada 1988. Sri Sultan
Hamengku Buwono IX memang sangat besar jasanya pada pembentukan Gerakan Pramuka,
bahkan dialah yang menerima Panji Gerakan Pramuka pertama kalinya dari tangan Presiden
Soekarno pada 14 Agustus 1961.

Jadi, ada yang mengusulkan agar generasi muda, khususnya dari kalangan kepramukan, tidak
lupa sejarah gerakan pendidikan non-formal itu, mungkin tidak salah bila Dr. Moewardi
dijadikan Bapak Pandu Indonesia bersanding dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai
Bapak Pramuka Indonesia. Sehingga terlihat kesinambungan sejarah dari masa kepanduan
sebelum 1961 ke masa kepramukaan setelah 1961.

Persoalannya, ada juga menganggap Pandu itu ya Pramuka, dan Pramuka itu ya Pandu. Cukup
satu saja yang diberi sebutan Bapak Pramuka atau Bapak Pandu Indonesia. Karena Sri Sultan
Hamengku Buwono IX sudah lebih dulu diberi gelar itu, maka cukup satu saja.

Walaupun demikian, tentu saja kita –terutama para Pramuka– tak boleh melupakan jasa-jasa Dr.
Moewardi dalam mengembangkan gerakan pendidikan kepanduan. Kalau pun tak disebut
sebagai Bapak Pandu Indonesia agar tidak membuat orang bingung kenapa ada Bapak Pandu dan
ada Bapak Pramuka, seyogyanya nama Dr. Moewardi tetap ditulis dengan 'tinta emas' dalam
sejarah gerakan pendidikan kepanduan di Tanah Air.
Nama Dr. Moewardi memang sejak lama telah diabadikan sebagai nama salah satu bangunan di
Taman Rekreasi Wiladatika, kompleks pendidikan dan rekreasi Gerakan Pramuka di Cibubur,
Jakarta Timur. Namun rasanya pantas pula bila pimpinan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
memberikan penghargaan tertinggi Gerakan Pramuka, Lencana Tunas Kencana.