Anda di halaman 1dari 8

MODUL PEMBIDAIAN

OLEH:
KELOMPOK II

1. A.A. ISTRI RATIH PADMAYUNI NIM. C2117004


2. I MADE MASTRAWAN NIM. C2117005
3. NI MADE WULAN SARI NIM. C2117008
4. IDA AYU GD LAKSEMI DEWI NIM. C2117014
5. I NYOMAN PANDE SUYASA NIM. C2117015
6. I GEDE YANTA ARIMBAWA NIM. C2117039

STIKES BINA USADA BALI


PROGRAM ALIH JENJANG PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN 2018
MODUL PEMBIDAIAN

PENGERTIAN

Pembidaian adalah tindakan memfiksasi/ mengimobilisasi bagian tubuh yang mengalami


cedera, dengan menggunakan benda yang bersifat kaku maupun fleksibel sebagai fiksator/
imobilisator.

TUJUAN

Adapun tujuan dari pembidaian adalah sebagai berikut:

1. Mencegah gerakan bagian yang sakit sehingga mengurangi nyeri dan mencegah kerusakan
lebih lanjut
2. Mempertahankan posisi yang nyaman
3. Mempermudah transportasi korban
4. Mengistirahatkan bagian tubuh yang cedera
5. Mempercepat penyembuhan

SYARAT PEMBIDAIAN

Berikut persyaratan pembidaian, yaitu:

1. Bahan/ alat terbuat dari bahan murah, mudah didapat


2. Bentuk rata-rata sesuaikan dengan kebutuhan anggota tubuh yang akan dispalk papan lurus/
sesuai anatomi organ
3. Papan lurus, ringan tetapi kuat, empuk (bagian yang menempel dikulit)
4. Ditopang alas bidai dari bahan lunak dari murah atau pabrikan dikombinasikan dengan
bebat/balutan

PRINSIP PEMBIDAIAN

Beberapa prinsip pembidaian antara lain:

1. Waktu pemasangan dapat mempertahankan, memfiksasi 2 sendi stabil diantara yang


dislokasi/ fraktur
2. Bidai dapat dimodifikasi menurut kondisi dengan 1-3 bilah bahan pada bagian inferior,
superior, maupun lateral
3. Alat bantu atau bantalan lunak menempel pada kulit atau tonjolan tulang
4. Penggunaan bebat pembalutan tidak kencang dan tidak kendor dapat terkontrol pulsasi dan
peredaran darah balik
5. Rasa nyaman dan aman saat pergerakan sensasi motorik dapat dirasakan oleh korban

JENIS PEMBIDAIAN

1. Pembidaian adalah sebagai tindakan pertolongan sementara :

 Dilakukan di tempat kejadian,cedera sebelum penderita dibawa ke rumah sakit


 Bahan untuk bidai bersifat sederhana tetapi memenuhi persyarat an bidai
 Bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri dan menghindarkan kerusakan yang
lebih berat
 Bisa dilakukan oleh siapapun yang sudah mengetahui prinsip dan teknik dasar
pembidaian

2. Pembidaian sebagai tindakan pertolongan definitif :

 Dilakukan di fasilitas layanan kesehatan (klinik atau rumah sakit)


 Pembidaian dilakukan untuk proses penyembuhan fraktur/dislokasi
 Menggunakan alat dan bahan khusus sesuai standar pelayanan (gips, dll)
 Harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih

MACAM-MACAM JENIS BIDAI

1. Bidai keras
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat dan
ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam keadaan
darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.
2. Bidai traksi (Thomas splint)
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya dipergunakan oleh
tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha
3. Bidai improvisasi
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang.
Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan improvisasi si
penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.
4. Penyangga / Gendongan
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain segitiga) dan
memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan pergerakan daerah
cedera.
Contoh : gendongan lengan.

INDIKASI PEMBIDAIAN

Pembidaian sebaiknya dilakukan jika didapatkan :

1. Adanya fraktur, baik terbuka maupun tertutup


2. Adanya kecurigaan terjadinya pergeseran sendi
3. Dislokasi persendian

Kecurigaan adanya fraktur bisa dimunculkan jika pada salah satu bagian tubuh ditemukan :

1. Pasien merasakan tulangnya terasa patah atau mendengar bunyi “krek”


2. Ekstremitas yang cedera lebih pendek dari yang sehat, atau mengalami angulasi abnormal
3. Pasien tidak mampu menggerakkan ekstremitas yang cedera
4. Posisi ekstremitas yang abnormal
5. Memar,bengkak,nyeri sumbu
6. Perubahan bentuk(deformitas)
7. Nyeri gerak aktif dan pasif
8. Pasien merasakan sensasi seperti jeruji ketika menggerakkan ekstremitas yang mengalami
cedera (Krepitasi)
9. Fungsiolesa
10. Perdarahan bisa ada atau tidak
11. Hilangnya denyut nadi atau rasa raba pada distal lokasi cedera
12. Kram otot (Sprain)di sekitar lokasi cedera
13. Jika mengalami keraguan apakah terjadi fraktur atau tidak, maka perlakukanlah pasien
seperti mengalami fraktur.

KONTRA INDIKASI PEMBIDAIAN

Pembidaian baru boleh dilaksanakan jika kondisi saluran napas, pernapasan dan sirkulasi
penderita sudah distabilisasi. Jika terdapat gangguan sirkulasi dan/atau gangguan persarafan yang
berat pada distal daerah fraktur, jika ada resiko memperlambat sampainya penderita ke rumah sakit,
sebaiknya pembidaian tidak perlu dilakukan.
KOMPLIKASI PEMBIDAIAN

Jika dilakukan tidak sesuai dengan standar tindakan, beberapa hal berikut bisa ditimbulkan
oleh tindakan pembidaian :

1. Cedera pembuluh darah, saraf atau jaringan lain di sekitar fraktur oleh ujung
fragmen fraktur, jika dilakukan upaya meluruskan atau manipulasi lainnya pada
bagian tubuh yang mengalami fraktur saat memasang bidai.
2. Gangguan sirkulasi atau saraf akibat pembidaian yang terlalu ketat
3. Keterlambatan transport penderita ke rumah sakit, jika penderita menunggu terlalu
lama selama proses pembidaian

CONTOH PEMBIDAIAN/ SPALK

Bidai patah lengan atas Bidai patah lengan bawah

Bidai patah tungkai bawah Bidai patah tulang belakang


Bidai patah jari tangan

Bidai tungkai bawah dengan bantal Bidai patah tulang paha

DATA EMPIRIS MENGENAI PEMBIDAIAN

PROSEDUR PEMBIDAIAN

Persiapan alat :

1. Bidai sesuai dengan kebutuhan (panjang dan jumlah)


2. Kassa gulung
3. Gunting
4. Kassa steril (bila perlu)
5. Plester
6. Hand schoen

Pelaksanaan :

1. Cuci tangan dan pakai hand schone


2. Dekatkan alat-alat didekat pasien
3. Berikan penjelasan kepada pasien tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan
4. Bagian ekstremitas yang cidera harus tampak seluruhnya, pakaian harus dilepas kalau perlu
digunting
5. Periksa nadi, fungsi sensorik dan motorik ekstremitas bagian distaldari tempat cidera
sebelum pemasangan bidai
6. Jika nadi tidak ada, coba luruskan dengan tarikan secukupnya, tetapi bila terasa ada tahanan
jangan diteruskan, pasang bidai dalam posisi tersebut dengan melewati 2 sendi
7. Bila curiga adanya dislokasi pasang bantal atas bawah, jangan coba diluruskan
8. Bila ada patah tulang terbuka, tutup bagian tulang yang keluar dengan kapas steril dan
jangan memasukkan tulang yang keluar ke dalam lagi, kemudian baru dipasang bidai dengan
melewati 2 sendi
9. Periksa nadi, fungsi sensori dan motorik ekstremitas bagian distal dari tempat cidera setelah
pemasangan bidai
10. Bereskan alat-alat dan rapikan pasien
11. Lepas hand schone dan cuci tangan
DAFTAR PUSTAKA

Hardisman. 2014. Gawat adrurat medis praktis. Yogyakarta : Gosyen publishing

Krisanty, P. 2009. Asuhan keperawatan Gawat Darurat. Jakarta : TIM

Puji Triono . Jurnal Informatika Vol. 9, No. 2, Juli 2015, Aplikasi Pengolahan Citra Untuk Mendeteksi
Fraktur Tulang Dengan Metode Deteksi Tepi Canny.

Ramsi, 2013. Pertolongan Pertama. Jakarta : Erlangga

Tim Bantuan Medis Panaca, 2013. Basic Life Support. Jakarta : EGC

https://www.scribd.com/document/342460524/SOP-Pembidaian

Anda mungkin juga menyukai