Anda di halaman 1dari 13

TEORI-TEORI PERKEMBANGAN

A. PERKEMBANGAN MENURUT AHLI


Istilah perkembangan merujuk pada bagaimana orang tumbuh,
menyesuaikan diri, dan berubah sepanjang perjalanan hidupnya. Perkembangan
manusia meliputi perkembangan fisik, kognisi, pribadi, sosial dan kepercayaan.
Dapat dikatakan bahwa perkembangan adalah pertumbuhan, penyesuaian, dan
perubahan yang teratur dan berlangsung lama sepanjang perjalanan hidup.
Setidaknya ada lima jenis perkembangan manusia, diantaranya adalah teori
perkembangan kognisi dan moral Jean Piaget, teori perkembangan kognisi Lev
Vygotsky, teori perkembangan pribadi dan social Erik Erikson, dan teori
perkembangan moral Lawrence Kohlberg.

B. ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN
Salah satu persyaratan pertama pengajaran yang efektif ialah bawa guru
memahami bagaimana siswa berpikir dan bagaimana mereka memandang dunia
ini. Stategi pengajaran yang efektif harus memperhitungkan usia dan tahap-tahap
perkembangan siswa.

C. MASALAH-MASALAH PERKEMBANGAN
Permasalahan terkait dengan perkembangan psikologi manusia dibagi
menjadi dua jenis:
1. Kontroversi Alam-Pengasuhan:
Salah satu pakar psikologi perkembangan (Bee & Boyd, 2007; Berk, 2006;
Cock & Cock, 2007; Fabes & Martin, 2000) bahwa alam (nature) dan
pengasuhan (nurture) bersatu untuk mempengaruhi perkembangan, dengan faktor
biologi yang memainkan peran yang lebih kuat dalam beberapa aspek, seperti
perkembangan fisik, dan faktor lingkungan yang memainkan peran yang lebih
kuat dalam aspek lain seperti perkembangan moral.
2. Teori Berkelanjutan dan Terputus:
Teori berkelanjutan (continuos theories of development) beranggapan bahwa
perkembangan terjadi terjadi dalam langkah yang mulus karena kemmapuan

1
berkembang dan pengalaman disediakan oleh orang tua dan lingkungannya teori
ini lebih menekankan pada peran penting lingkungan. Dikatakan pula bahwa
keturunan bukan menentukan perkembangan.
Teori perkembangan terputus: teori ini berpusat pada faktor bawaan lahir
bukan pengaruh lingkungan. Kondisi lingkungan bisa jadi memberikan pengaruh
terhadap kecepatan perkembangan anak, tetapi urutan tahap perkembangan anak
pada sarnya sudah tetap.
Seiring perkembangan jaman pakar perkembangan mengakui peran faktor
bawaan lahir maupun pengalaman saat menjelaskan perilaku anak. Teori
Vygotsky sangat mengandalkan interaksi sosial dan juga tahap pertumbuhan
yang dapat diprediksi untuk menjelaskan perkembnagan.

1. Pandangan Piaget tentang Perkembangan Kognisi


Jean Piaget dalam hal ini telah mempelajari mengapa dan bagaimana
kemampuan mental berubah. Bagi Piaget perkembangan bergantung pada
manipulasi anak dan interaksi aktif dengan lingkungan. Teori perkembangan
kognisi Piaget menyatakan bahwa kecerdasan atau kemampuan kognisi seorang
anak mengalami kemajuan melalui empat tahap yang jelas. Masing-masing
tahap dicirikan oleh kemunculan kemampuan-kemampuan baru dan cara-cara
mengolah informasi.

TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT PIAGET


Menurut Piaget ada empat tahap perkembangan kognisi dan manusia
melewatinya antara lahir dan usia dewasa awal. Tahap- tahap perkembangan
Piaget meliputi tahap sesnsorimotor (lahir hingga usia 2 tahun), tahap
praoperasi (usia 2 sampai 7 tahun), Operasional konkret (7 tahun hingga 11
tahun) dan Operasional formal (usia 11 tahun hingga dewasa). Berikut ini
disajikan tabel mengenai tahapan perkembnagan kognisi menurut Piaget yang
ditunjukkan dengan pencapainnya.

2
Tahap Perkiraan Usia Pencapaian Utama
Sensorimotor Lahir hingga 2 Pembentukan konsep “ketetapan objek”
tahun dan kemajuan bertahap dari perilaku reflex
ke perilaku yang di arahkan oleh tujuan.
Praoperasional 2 hingga 7 Perkembangan kemampuan menggunakan
tahun simbol untuk melambangkan objek.
Operasional 7 hingga 11 Perbaikan kemampuan berpikir logis.
konkret tahun Kemampuan baru meliputi penggunaan
pengoperasian yang dapat dibalik.
Pemikiran tidak terpusat, dan pemecahan
masalah kurang dibatasi oleh egosentrisme.
Pada tahap ini anak-anak dapat membentuk
konsep meliputi hubungan dan pemecahan
masalah, tetapi hanya sejauh merekan
melihat objek.
Operasional 11 tahun hingga Masalah dapat dipecahkan melalui
formal dewasa penggunaan eksperimentasi sistematik.
Pada tahap ini akan muncul kemampuan
menghadapi situasi potensial.

Pandangan Terhadap Karya Piaget


Pandanga Piaget telah mendapat banyak kritik karena dianggap
mengandalkan tahap-tahap yang luas. Salah satu bidang karya Piaget yang
dikritik adalah tentang tahap. Para peneliti sekarang meragukan tahap –tahapan
perkembnagan luas yang memengaruhi semua jenis tugas kognisi, pendapat lain
beranggapan bahwa kemampuan anka berkembang dengan cara berbeda pada
tugas yang berbeda dan pengalaman dapat memengaruhi kecepatan
perkembnagan. Namun teori Piaget tetap memberikan pengaruhpada teori dan
pratik pendidikan. Berikut ini adalah implikasi pengajaran utama yang diambil
dari Piaget: fokus pada proses pemikiran siswa bukan hanya hasilnya, pengakuan
atas peran penting kegiatan pembelajaran berdasarkan keterlibatan aktif yang
diprakarsai oleh siswa, tidak menekannkan pada praktik yang ditunjukkan untuk

3
menjadikan siswa berpikir seperti orang dewasa, penerimaan atas perbedaan
kemajuan perkembangan masing-masing orang.

2. PERKEMBANGAN MENURUT VYGOTSKY


Karya Vygotsky didasarkan pada dua gagasan utama. Pertama, dia
berpendapat bahwa perkembangan intelektual dapa dipahami hanya dari sudut
kontekks historis dan budaya yang dialami anak-anak. Kedua, ia percaya bahwa
perkembangan bergantung pada sistem tanda yang ada bersama masing-masing
orang ketika mereka bertumbuh: simbol-simbol yang diciptakan budaya untuk
membantu orang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah. Misalnya
Bahasa, sistem menulis, atau sistem berhitung suatu budaya.
Berbeda dari Piaget, Vygotsky berpendapata bahwa perkembangan kognisi
sangat terkait dengan masukan dari orang lain. Namun, sama seperti Piaget
Vygotsky percaya bahawa perolehan sistem tanda terjadi berdasarkan urutaun
tahap-tahap yang sama untuk semua anak.

2.1 TERJADINYA PERKEMBANGAN


Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului
perkembangan. Bagi Vygotsky, pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda
melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain. Perkembangan
melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir
dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Kemampuan ini disebut
kemampuan diri (self-regulation). Tahap pertama pada perkembangan
pengaturan diri dan pemikiran mandiri adalah mempelajari bahwa tindakan dan
suara mempunyai makna. Tahap kedua dalam mengembangkan struktur internal
dan kemandirian melibatkan praktik. Praktik bayi memberikan isyarat yang akan
memperoleh perhatian. Pada tahap ini anak-anak akhirnya mampu mengatur diri
sendiri (self-regulating), dan sistem tanda tersebut telah diinternalisasi.

A. Percakapan Pribadi
Percakapan pribadi adalah suatu mekanisme yang ditekankan Vygotsky
untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi pengetahuan pribadi. Vygotsky

4
berpendapat bahwa anak-anak menyerap percakapan orang lain dan kemudian
menggunakan percakapan itu untuk membantu diri sendiri memecahkan masalah.
Percakapan pribadi mudah dilihat dalam anak-anak kecil yang sering berbicara
dengan diri sendiri, khususnya ketika dihadapkan pada tugas-tugas sulit (Flavell
et all., 1997). Kemudian, percakapan pribadi akhirnya tidak terdengar, tetapi
masih sangat berperan penting. Studi telah menemukan bahwa anak-anak yang
melakukan banyak penggunaan percakapan pribadi mempelajari tugas-tugas
yang rumit dengan lebih efektif daripada anak-anak lain (Emerson & Miyake,
2003; Schneider, 2002).

B. Zona Perkembangan Proksimal


Teori perkembangan Vygotsky menyiratkan bahwa perkembangan kognitif
dan kemampuan menggunakan pemikiran untuk mengendalikan tindakan-
tindakan kita sendiri pertama-tama memerlukan penguasaan sistem-sistem
komunikasi budaya dan kemudian belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk
mengatur proses pemikiran kita sendiri. Pada dasarnya teori Vygotsky
menekankan pada hakikat pembelajaran sosiaobudaya, Vygotsky percaya bahwa
pembelajaran terjadi ketika anak –anak bekerja dalam zona perkembangan
proksimal. Tugas-tugas dalam zona perkembangan proksimal adalah sesuatu
yang masih belum dapat dikerjakan seorang anak sendirian, tetapi benar-
benar dapat dikerjakan dengan bantuan teman atau orang dewasa yang lebih
kompeten.

2.2 PENERAPAN TEORI VYGOTSKY DI RUANG KELAS


Konsep Vygotsky tentang zone perkembangan proksimal didasarkan pada
gagasan bahwa perkembangan didefinisikan oleh apa yang dapat dilakuakan
seorang anak secara mandiri dan oleh apa yang dapat dilakukan anak tersebut
ketika dibantu oleh orang dewasa atau teman yang lebih kompeten (John Steiner
& Mahn, 2003). Pengetahuan tentang kedua tingkat zona Vygotsky bermanfaat
bagi guru, karena kedua tingkat ini menunjukkan di mana anak itu berada pada
masa tertentu dan juga ke mana anak itu akan pergi.

5
Guru dapat menggunakan informasi tentang kedua tingkat zona
perkembangan proksimal Vygotsky dalam mengorganisasikan kegiatan di ruang
kelas dengan cara berikut:
a) Pengajaran dapat direncanakan untuk menyediakan praktik dalam zona
perkembangan proksimal bagi masing-masing anak atau kelompok anak.
Misalnya, isyarat dan bisikan yang membantu anak selama penilaian
tersebut dapat menjadi dasar kegiatan pengajaran.
b) Kegiatan belajar dan kerja sama dapat direncanakan bersama kelompok-
kelompok anak pada tingkat yang berbeda yang dapat membantu satu
sama lain belajar.
c) Pentanggaan pada tahap ini orang dewasa tidak menyerhanakan tugas,
melainnka menyederhanakan peran belajar melalui campur tangan guru
secara bertahap

3. PANDANGAN ERIKSON TENTANG PRIBADI DAN SOSIAL


Pemahamn tentang perkembangan pribadi dan sosial ini sangant berperan
penting bagi kemampuan guru memotivasi, mengajar dan berhasil berinteraksi
dengan siswa dalam berbagai usia. Sama dengan perkembangan kognitif,
perkembangan pribadi dan sosial sering digambarkan dari sudut dan tahap-tahap.
Karya Erikson sering disebut psikososial, karena karya tersebut menceritakan
prinsip-prinsip perkembangan psikologis dan sosial.

3.1 TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL


Erikson mempunyai hipotesis bahwa orang melewati delapan psikososial
sepanjang hidup mereka. Pada masing-masing tahap terdapat krissi atau masalah-
masalah penting yang harus diatasi. Kebanyakan orang orang mengatasi masing-
masing krisis psikososial dengan memuaskan dan kemudian meninggalkannya
untuk menghadapai tantangan baru. Berikut ini disajikan tabel tentang delapan
psikososial.

6
Tahap Perkiraan Krisis Hubungan Penekanan
Usia Psikososial Penting Psikososial
I Lahir hingga Kepercayaan vs Orang yang Memperoleh,
18 bulan Ketidakpercayaa bergantung pada memberi sebagai
n ibu balasan
II 18 bulan Otonomi vs Orang yang Berpegang,
hingga 3 tahun Keraguan bergantung pada membiarkan pergi
orang tua
III 3 hingga 6 Inisiatif vs Rasa Keluarga dasar Membuat
tahun Bersalah (mengejar)
IV 6 hingga 12 Kerajinan vs Tetangga, Menyerupal
tahun Inferioritas sekolah (bermain)
V 12 hingga 18 Identitas vs Kelompok Membuat sesuatu,
tahun Kebingungan sebaya dan menyatukan segala
peran teladan sesuatu
kepemimpinan
VI Dewasa Awal Keintiman vs Mitra dalam Menjadi diri sendiri
Keterasignan persahabatan (atau tidak menjadi
seks, persaingan, seseorang)
kerja sama
VII Dewasa Daya regenersai Pembagian Memberi prhatian
Pertengahan vs Penerapan tenaga kerja dan
diri rumah tangga
Bersama
VIII Dewasa Akhir Integritas vs “Umat manusia, Menjadi seseorang,
Keputusan jenis saya” melalui masa lalu,
(individualis) menghadapi bukan
sesuatu

7
Tahap I: Kepercayaan vs Ketidakpercayaan
Pada tahap ini, pada dasarnya setiap manusia tidak dapat menghindari rasa
kepuasan dan ketidakpuasan yang dapat menimbulkan rasa kepercayaan dan
ketidakpercayaan. Akan tetapi, hal ini akan memberi kemampuan kepada
seseorang untuk dapat menyesuaikan diri dengan baik. Setiap individu harus dapat
membedakan dan mengetahui kapan harus percaya dan tidak percaya dalam
menghadapi segala tantangan dalam kehidupan ini. Nilai baik yang akan
berkembang dalam diri seorang anak tersebut adalah harapan dan keyakinan yang
sangat kuat bahwa segala sesuatu yang belum berjalan sesuai dengan harapan
masih dapat diolah dengan baik.
Tahap II: Kemandirian vs Keraguan
Pada usia 2 tahun, setiap bayi sudah dapat berjalan dan cukup belajar
bahasa untuk berkomunikasi dengan baik. Pada tahap ke-2 ini seorang anak sudah
tidak ingin bergantung sepenuhnya terhadap orang lain. Erikson percaya bahwa
pada tahap ini anak-anak memiliki keinginan ganda untuk mempertahannkan dan
menjelaskan.
Tahap III: Inisiatif vs Bersalah
Dalam tahap ini, anak akan lebih berkembang secara motorik dan
keterampilan berbahasa, sehingga akan lebih agresif dan kuat dalam mengeksplor
kemampuan baik secara sosial maupun lingkungan fisik mereka. Anak –anak
pada usia tiga tahun mempunyai rasa inisiatif yang makin besar, yang dapat
didorong oleh orang tua, yang memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti
berlalri, dan melompat.
Tahap IV: Ketekunan vs Rendah Diri
Pada tahap ini yaitu pada usia 6 hingga 12 tahun dimana anak sudah muali
mengenal duani luar, salahsatunya sekolah. Dengan masuk sekolah duni sosial
anak akan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Guru dan teman-teman
memiliki peran penting dalam perkembangan anak, sedangkan peran orang tua
akan sedikit menurun. Anak-anak akan cenderung melakukan hal-hal baru dalam
perjalanan hidupnya. Keberhasilan terjadi karena ketekunan, rasa percaya diri dan
kemampuan diri sendiri. Disisi lain, kegagalan dapat menampilkan citra diri yang
negatif, ketidakmampuan yang dapat menghalangi pembelajaran. Kegagalan tidak

8
akan terjadi, seandainya seseorang dapat mengukur ketidakmampuan standar diri
sendiri, orang tua maupun guru.
Tahap V: Identitas vs Kebingungan Peran
Pada usia remaja dalam renga ini yaitu pada usia 12 tahun sampai 18 tahun
Menurut Erikson, selama masa remaja fisiologi akna berubah secara pesat,
ditambang dnegan adanya tekanan untuk mengambil keputusan tentang
pendidikan dan karier masa depan. Sehingga perlu untuk mendefinisikan kembali
identitas psikososial yang sudah terbentuk sebelumnya. Pada tahap ini pula
mereka akan mencoba untuk mencari tahu siapa diri mereka dan akan menjadi apa
mereka selanjutnya. Hal ini merupakan hal baru bagi diri sendiri, atau “identitas
ego,” bukan dari identifikasi sebelumnya yang merupakan reassembly atau “suatu
keselarasan basic drive (ego) dengan sumbangannya (resolusi dari masalah
sebelumnya) dan peluangnya (kebutuhan, kemampuan, tujuan, dan tuntutan dari
remaja dan mendekati remaja)” (Erikson, 1980, hal 94).
Tahap VI: Keakraban vs Ketertutupan (Awal Masa Dewasa)
Jika remaja sudah mengetahui siapa mereka dan kemana mereka akan
pergi, pada tahap ini akan membagi kehidupan mereka dengan orang lain. Pada
tahap ini dituntut untuk “menghilangkan dan menemukan kepribadian dari orang
lain.” Remaja pada tahap ini sudah siap untuk membentuk sebuah hubungan
kepercayaan yang baru dan akrab dengan individu lain, seperti “pasangan dalam
persahabatan, sex, persaingan, dan kerjasama.” Hubungan ini akan meningkatkan
identitas kedua orang dalam pasangan tanpa mengganggu pertumbuhan keduanya.
Remaja yang tidak mau mencoba dan mengulang kegagalan akan menjadi lebih
tertutup.
Tahap VII: Generativitas vs Membatasi Diri (Pertengahan Masa Dewasa)
Generativitas mengacu pada “Minat dalam menetapkan dan membangun
generasi selanjutnya,” hal ini muncul melalui kehendak anak-anak.
Bagaimanapun, masalah pada tahap ini dapat diselesaikan melalui bentuk
produktivitas dan kreativitas yang lain, misalnya mengajar. Selam tahap ini
seseorang dituntut untuk terus berkembang. Jika tidak melakukannya, maka akan
“stagnasi dan pemiskinan hubungan perseorangan” berkembang, memimpin, atau
membatasi diri.

9
Tahap VIII: Integritas vs Keputus-asaan (Akhir Masa Dewasa)
Pada tahap akhir psikolgi ini, seseorang akan melihat kembali
kehidupannya dan memecahkan krisis identitas mereka. Prestasi, kegagalan, dan
pembatasan hal-hal penting dengan semangat kejujuran serta mengacu pada
kenyataan bahwa seseorang yang hidup di dunia telah memiliki tanggung jawab
masing-masing. Pada akhirnya kematian harus dihadapi dan diterima. Hal ini
dapat menimbulkan penyesalan dari seseorang tentang perilaku-perilaku yang
telah mereka lakukan dalam hidupnya dan mencari jalan keluar bagaimana untuk
memperbaikinya.
3.2 IMPLIKASI DAN KRITIK TERHADAP TEORI ERIKSON
Seperti tahap-tahap Piaget, tidak semua orang mengalami krisi-krisis
Erikson dengan kadar yang sama atau pada waktu yang sama. Rentang usia yang
disebutkan disini mungkin melambangkan waktu terbaik bagi suatu krisis untuk
diselesaikan, tetapi bukan itu satu-satunya waktu yang memungkinkan. Misalnya,
anak yang terlahir dalam keluarga berantakan yang tidak berhasil memberikannya
rasa aman yang memadai mungkin saja mengembangkan kepercayaan setelah
diadopsi atau dibawa ke lingkungan yang lebih stabil.Orang yang pengalaman
sekolah negatifnya dan memberinya rasa inferioritas,ketika dia memasuki dunia
kerja,mungkin saja dia menemukan bahwa dia dapat belajar dan bahwa dia benar-
benar mempunyai kemampuan yang bernilai, kesadaran yang pada akhirnya dapat
membantunya mengatasi krisis kemegahan versus inferioritas yang telah diatasi
orang lain pada tahun-tahun sekolah dasarnya. Teori Erikson menekankan peran
lingkungan dalam meyebabkan krisis maupun dalam menentukan cara dalam
mengatasi krisis itu. Tahap-tahap perkembangan pribadi dan social dilanjutkan
melalui interaksi terus-menerus dengan orang lain dan dengan masyarakat sebagai
keseluruhan. Selama ketiga tahap pertama, interaksi terutama berlangsung dengan
orang tua dan anggota keluarga lain, tetapi sekolah memainkan peran utama bagi
kebanyakan anak pada tahap IV (kemegahan versus inferioritas) dan tahap V
(identitas versus kebingungan peran).

10
4. TEORI PIAGET TENTANG PERKEMBANGAN MORAL
Piaget menetapkan tahap pertama dari moralitas perkembangan moral
adalah heteronom, disebut sebagai tahap “realism moral” atau “heteronom”
yang berarti tunduk pada aturan yang dipaksakan oleh orang lain atau “moralitas
kendala”. Pada periode ini, anak dihadapkan pada orang tua atau orang dewasa
yang mengatakan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Pelanggaran atas aturan yang diyakini membawa hukuman otomatis. Keadilan
adalah hal otomatis dan orang yang menyalahi aturan akan mendapat hukuman.
Hal ini menciptakan keyakinan pada anak bahwa aturan moral adalah tetap dan
tidak dapat diubah.
Tahap kedua disebut moralitas otonom atau “moralitas kerjasama”
yang disebut sebagai sosialisasi anak untuk memperluas pergaulan dan
menambah teman sebanyak-banyaknya. Dengan berinteraksi dan bekerja sama
dengan anak lain, ide anak tentang aturan moralitas mulai berubah. Aturan adalah
apa yang sekarang kita buat untuk mengatur dan oleh karena itu moralitas akan
mulai berubah. Hukuman untuk pelanggaran tidak lagi otomatis tetapi harus
diberikan dengan pertimbangan niat orang yang melampaui batas dan keadaan
khusus.
Ketika orang mengembangkan kemampuan kognitifnya, pemahaman
mereka tentang masalah-masalah moral juga menjadi makin canggih. Anak-anak
yang masih muda lebih bersikap kaku dalam pandangan mereka tentang yang
benar dan salah daripada yang cenderung disikapi anak-anak yang lebih tua dan
dewasa.
Moralitas Heteronom (Lebih Muda) Moralitas Otonom (Lebih Tua)
Didasarkan pada hubungan paksaan; Didasarkan pada hubungan kerja sama
misalnya, penerimaan lengkap oleh dan pengakuan bersama terhadap
anak terhadap ketentuan-ketentuan kesetaraan di antara individu-individu
orang dewasa. yang otonom, sebagaimana dalam
hubungan antara orang-orang yang
sejajar
Tercermin dalam sikap realisme Tercermin dalam sikap moral rasional:
moral: aturan di pandang sebagai aturan dilihat sebagai produk

11
kentuan yang fleksibel, asal dan kesepakatan bersama, terbuka pada
wewenangnya dari luar, tidak terbuka negosiasi ulang, diterima sah oleh
kepada negosiasi dan benar hanya penerimaan pribadi dan persetujuan
berarti ketaatan harfiah terhadap orang bersama, dan benar berartibertindak
dewasa dan aturan sesuai dengan ketentuan kerjasama dan
sikap saling menghormati.
Kejahatan di nilai dari sudut bentuk Kejahatan dipandang sebagai sesuatu
dan konsekuensi tindakan yang yang terkait dengan maksud pelakunya;
obyektif; keadilan disamakan dengan keadilan didefinisikan sebagai
isi keputusan orang dewasa; hukuman perlakuan yang sama atau kesediaan
sewenang-wenang dan kejam dilihat yang mempertimbangkan kebutuhan
sebagai sesuatu yang adil. individu; keadilan hukuman
didefinisikan oleh kepantasannya pada
pelanggaran.
Hukuman dilihat sebagai konsekuensi Hukuman dilihat sebagai sesuatu yang
otomatis pelanggaran, dan keadilan di pengaruhi maksud manusia
dilihat sebagai sesuatu yang melekat.

5. TAHAP-TAHAP PENALARAN MORAL MENURUT KOHLBERG


Teori tahap Kohlberg (1963-1969) tentang penalaran moral adalah
penjabaran dan berbaikan terhadap teori Piaget. Kohlberg mempelajari
bagaimana anak-anak (dan orang dewasa) bernalar tentang aturan yang mengatur
perilaku mereka dalam situasi tertentu. Berikut adalah tahap-tahap penalaran
moral menurut Kohlberg:
Tahap Tahap Conventional Tahap Postconventional
Preconventional
Aturan yang Individu mengadopsi Orang-orang mendefinisikan
ditetapkan oleh orang aturan, dan kadang- nilai-nilai dalam hal prinsip-
lain. kadang akan prinsip etika yang telah
Tahap 1: Orientasi menomorduakan mereka pilih untuk diikuti.
hukuman dan kebutuhan sendiri untuk Tahap 5: Orientasi prinsip
kepatuhan. orang-orang dari universal etika. Apa yang

12
Konsekuensi fisik dari kelompok. Harapan benar ditentukan oleh
tindakan menentukan keluarga, kelompok, atau keputusan suara batin,
kebaikan atau bangsa dipandang lebih sesuai dengan prinsip-
keburukan berharga dibanding diri prinsip etika yang dipilih
Tahap 2: Orientasi sendiri, terlepas dari sendiri. Prinsip-prinsip ini
relativis instrumen apa akibat yang segera dan bersifat abstrak dan etis
yang benar adalah apa nyata. (seperti aturan emas), resep
pun untuk memuaskan Tahap 3: “Good Boy- moral yang tidak spesifik
kebutuhannya sendiri Good Girl” orientasi. (seperti sepuluh perintah).
dan kadang-kadang Perilaku yang baik adalah Tahap 6: Orientasi kontrak
kebutuhan orang lain. apa pun yang sosial. Apa yang benar
Unsur-unsur keadilan menyenangkan atau didefinisikan dalam hal hak-
dan timbal balik juga membantu orang lain dan hak individu dan umum
hadir, tetapi mereka disetujui oleh mereka. dalam hal standar yang telah
sebagian besar Suatu perilaku disepakati oleh seluruh
menafsirkan dalam mendapatkan persetujuan masyarakat, berbeda dengan
bentuk “kamu garuk untuk menjadi “baik”. tahap 4, hukum tidak
punggungku, aku akan Tahap 4: Orientasi “beku”-mereka dapat diubah
menggaruk “hukum dan ketertiban” untuk kebaikan masyarakat.
punggungmu”. benar adalah melakukan
tugas seseorang,
menunjukkan rasa hormat
terhadap otoritas, dan
menjaga tatanan sosial
yang diberikan untuk
kepentingan diri sendiri.

13