Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PUPUK NPK DAN PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP

PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis gueneensis jacq)


DI PRE NURSERY

PROPOSAL
Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Pertanian Pada Sekolah Tinggi Ilmu
Pertanian Labuhan batu Universitas Labuhanbatu

Nama : MUHAMMAD SUWONDO


NPM : 14.021.00.125
Prodi : AGROTEKNOLOGI

YAYASAN UNIVERSITAS LABUHANBATU SEKOLAH TINGGI ILMU


PERTANIAN LABUAHANBATU
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL : PENGARUH PUPUK NPK DAN PUPUK ORGANIK CAIR
TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis gueneensis
jacq) DI PRE NURSERY.

NAMA : MUHAMMAD SUWONDO

NPM : 14.021.00.125

Rantauprapat, Februari 2018

Menyetujui

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

(Dede Suhendra SP,MP) (Badrul Ainy Dalimunthe SP,Msi)


NIDN : 01-3003-9201 NIDN : 01-1801-7684

Mengetahui
Ketua Program Studi Agroteknologi LabuhanBatu

(Yusmaidar Sepriani,SPd, Msi)


NIDN : 01-1211-7802

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan
karunia yang telah diberikan, sehingga proposal penelitian skripsi yang berjudul
“Pengaruh pupuk NPK dan Pupuk Organik Cair Terhadap Pertumbuhan Bibit
Kelapa Sawit (Elaeis gueneensis jacq) Di Prenursery” ini bisa terselesaikan
dengan baik.

Adapun maksud dan tujuan diajukannya proposal penelitian skripsi ini


adalah untuk untuk menguji Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit(Elaeis
Guineensis jacq) terhadap pemberian NPK (Mutiara) dan pupuk organik cair
(Bio-Tren Sawit) di Pre Nursery dan ada tidaknya interaksi antara kedua fakor
yang diberikan.

Proposal penelitian skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada
berbagai pihak yang telah membantu penulis, diantaranya:

1. Ibuk Yusmaidar Sepriani SPd.MSi Selakun Ketua Program Studi Agroteknologi


Labuhan Batu.
2. Bapak Dede Suhendra SP,MP Dan Ibuk Badrul Ainy Dalimunthe SP,MSi selaku
dosen pembimbing I dan II.
3. Kedua orangtua, sahabat, dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa penulis
sebutkan satu persatu.

Diharapkan, proposal ini bisa bermanfaat untuk semua pihak. Selain itu, kritik dan
saran yang membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca sekalian agar
proposal ini bisa lebih baik lagi

Rantauprapat, Februari 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .....................................................................................1
1.2. Rumusan masalah .................................................................................4
1.3. Tujuan penelitian ..................................................................................4
1.4 Hipotesis Penelitian ..............................................................................4
1.5 Kegunaan Penelitian .............................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................


2.1. Sistematika dan Botani Tanaman Kelapa Sawit...................................7
2.2. Teknik Pembibitan Kelapa Sawit.........................................................8
2.3 Pupuk Npk (Mutiara).............................................................................8
2.4. Pupuk Organik Cair (Bio Trent Sawit)...............................................10
2.5. Pembibitan Awal (Pre Nursery)..........................................................12

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Tempat dan waktu Penelitian .............................................................13
3.2. Bahan Dan Alat Penelitian..................................................................13
3.3. Metode Penelitian................................................................................13
3.4. Metode Analisis..................................................................................15

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN


4.1 Persiapan Lahan...................................................................................16
4.2 Pembuatan Naungan............................................................................16
4.3 Pengisinan Polibag...............................................................................16
4.4 Penanaman Kecambah.........................................................................17
4.5 Pemeliharaan Tanaman........................................................................18
4.6 Pemberian Perlakuan...........................................................................18

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................22

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) merupakan tumbuhan tropis yang

diperkirakan berasal dari Nigeria (Afrika Barat) karena pertama kali ditemukan

dihutan belantara negara tersebut. Kelapa sawit pertama kali masuk ke Indonesia

pada tahun 1848,dibawah dari Mauritius dan Amsterdam oleh seorang warga

Belanda.Bibit kelapa sawit yang berasal dari kedua tempat tersebut masing-

masing berjumlah dua batang dan pada tahun itu juga ditanam dikebun raya

Bogor.Hingga saat ini,dua dari empat pohon tersebut masih hidup dan diyakini

sebagai nenek moyang kelapa sawit yang ada di Asia Tenggara (Departemen

Pertanian, 2012).

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi pertanian terpenting bagi

Indonesia, baik dilihat dari devisa yang dihasilkan maupun bagi pemenuhan akan

kebutuhan minyak nabati di dalam Negeri.Sasaran utama yang harus dicapai

dalam mengusahakan perkebunan kelapa sawit adalah memperoleh produksi

maksimal dan kualitas minyak yang baik dengan biaya yang efisien. Untuk

mencapai sasaran tersebut diperlukan standart kegiatan teknis budidaya yang baik,

salah satunya adalah pembibitan kelapa sawit (Hadi,2004).

Luas kebun kelapa sawit Indonesia sebesar 10,9 juta hektare. Riau,

Sumatera Utara, dan Kalimantan merupakan provinsi dengan lahan sawit terluas.

1
Sekitar 51,6% dari 10,9 juta hektar lahan sawit di Indonesia dimiliki oleh

perusahaan perkebunan swasta (besar), dan 41.5% dimiliki oleh perkebunan

rakyat (Departemen Pertanian,2014). Produktivitas CPO perkebunan rakyat dan

BUMN menunjukkan tren penurunan dari tahun 2009-2014, sementara

perusahaan perkebunan swasta justru meningkat. Produktivitas CPO perkebunan

rakyat juga 20% lebih rendah dibandingkan perusahaan swasta.Produktivitas CPO

rakyat pada tahun 2014 hanya sebesar 2,3 ton/ha, atau 20% di bawah

produktivitas CPO perusahaan perkebunan swasta. Dengan asumsi harga CPO

sebesar US$ 550/ton, peningkatan produktivitas CPO rakyat dari 2,3 ton/ha

menjadi 2,9 ton/ha akan memberikan tambahan kesejahteraan sebesar US$ 1

milyar kepada seluruh petani. Pengembangan kelapa sawit baik oleh perusahaan

negara atau swasta dan juga per orangan sangat membantu perekonomian

masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan. Namun di sisi lain pengembangan

kelapa sawit banyak mengorbankan lahan-lahan produktif untuk tanaman pangan,

palawija dan hortikultura atau yang lebih ekstrem lagi adalah merubah lahan-

lahan basah berupa sawah menjadi lahan sawit. Sehingga akhirnya sebagian besar

lahan produktif tersebut telah berubah menjadi perkebunan. Kondisi demikian

mulai dirasakan oleh pemerintah dan petani kecil. Oleh karena itu pemerintah

mulai mengarahkan pengembangan sawit ke lahan-lahan sub optimal dan marjinal

dengan mengeluarkan peraturan yang membatasi pengembangan tanaman

sawit pada lahan-lahan produktif (Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen

Petanian RI, 2012).Selama pertumbuhannya kelapa sawit memerlukan unsur hara

yang diserap dari dalam tanah, jika tanah tidak menyediakan unsur hara yang

cukup mendukung pertumbuhan optimal, maka harus dilakukan pemupukan.

2
Ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman merupakan salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi. Suatu tanaman dapat

tumbuh dengan optimal bila dosis pupuk yang diberikan tepat. Melalui

pemupukan diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah antara lain mengganti

unsur hara yang hilang. Pemberian pupuk NPK merupakan usaha untuk

meningkatkan produksi tanaman (Risza,1995).

Bibit berkualitas baik merupakan modal utama yang menentukan masa

depan perkebunan.Produktivitas yang tinggi hanya dapat diperoleh jika tanaman

berasal dari bibit unggul.Lingkungan hanya menciptakan kondisi agar tanaman

tumbuh optimal sesuai karakter genetiknya .sedangkan teknik budi daya hanya

memacu agar tanaman berproduksi secara maksimal sesuai potensi yan

dimilikinya.Dengan demikian,Sebaik apapun kondisi lingkungan dan teknik

budaya yang diterapkan ,jika bibit yang ditanam berasal dari varietas yang

buruk,maka produksi tinggi yang diharapkan tidak akan pernah didapat (Hadi,

2004).

Bibit kelapa sawit Pre Nursery tidak akan memberikan hasil maksimal

manakala unsur hara yang diperlukan tidak cukup tersedia. Pemupukan dapat

meningkatkan kualitas bibit kelapa sawit .Pupuk merupakan kunci dari kesuburan

tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis

diserap tanaman(Hadi, 2004).

Npk M utiara adalah pupuk majemuk yang terdiri dari unsur hara makro

yaitu nitrogen (N),phosphor (P),kalium (K).pupuk ini berguna untuk merangsang

pertumbuhan bibit.

3
Sedangkan pupuk Organik cair adalah pupuk organik yang mengandung unsur

mikro dan senyawa organic dalam dosis yang tepat untuk meningkatkan kesehatan

tanaman.

1.1 Perumusan masalah

Dari uraian diatas maka belum diketahui Respon pertumbuhan bibit

kelapa sawit(Elaeis guineensis jacq)terhadap pemberian NPK (Mutiara) dan

pupuk organik cair (Bio-Trent sawit) di Pre Nursey sehingga perlu dijawab

melalui sebuah penelitian.

1.2 Hipotetis

1. Ada pengaruh Dosis NPK terhadap pertumbuhan Bibit Kelapa

Sawit di pembibitan awal.

2. Ada pengaruh Pupuk Organik Cair ( POC ) terhadap pertumbuhan

bibit Kelapa Sawit di pembibitan Awal.

1.3 Tujuan penelitian

Untuk menguji Respon pertumbuhan bibit kelapa sawit(Elaeis

Guineensis jacq)terhadap pemberian NPK (Mutiara) dan pupuk organik cair

(Bio-Tren Sawit) di Pre Nursery dan ada tidaknya interaksi antara kedua fakor

yang diberikan.

1.4 Kegunaan penelitian

1. Untuk mendapatkan data tentang pemupukan di pembibitan Kelapa

Sawit pada pembibitan awal.

4
2. Sebagai sumber informasi penulis tentang pertumbuhan Bibit Kelapa

Sawit di pembibitan awal.

3. Sumber data untuk penulisan Skripsi.

5
BABII

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistematika dan Botani Kelapa sawit


Klasifikasi botani Kelapa Sawit adalah sebagai berikut :

Divisio : Tracheophyta

Subdivisio : Pteropsida

Kelas : Angiospermae

Subkelas : monocotiledonae

Ordo : Cocoideae

Familia : Palmae

Genus : Elaeis

Spesies : Elaeis guinensis

Varietas : D × P Simalungun

Sebagaimana tanaman tingkat tinggi lainnya,pohon kelapa sawit terdiri

dari bagian vegetatif dan bagian generatif.

2.1.1.Bagian Vegetatif

Akar sebagai tanaman monokotil,kelapa sawit memiliki akar serabut yang

terdiri dari akar utama, akar sekunder,akar tersier ,dan akar rambut (Hadi,2004)

.Pohon kelapa sawit tumbuh tegak lurus tidak bercabang. Diameter batang kelapa

sawit adalah 35-60 cm. Setiap tahun,batang kelapa sawit bertambah panjang 35-

45 cm.semakin lambat pertambahan panjang batang kelapa sawit,semakin

baik.Hal ini akan memudahkan perawatan,terutama untuk memanen buah dan

6
memperpanjang masa produktifnya.Berikut adalah contoh perhitungan tinggi

tanaman kelapa sawit yang umur produktifnya telah mencapai 25 tahun.Panjang

awal 0,5 meter merupakan tinggi tanaman kelapa sawit pada umur 3 tahun ( Saat

berbuah untuk pertama kali ).Pertambahan normal panjang batang (40cm/ tahun )

terjadi jika kelapa sawit sudah berumur tiga tahun (Hadi,2004).Sebagaimana daun

kelapa biasa, daun kelapa sawit bersirip genap dengan tulang-tulang daun

sejajar.Daun kelapa sawit kering mudah hancur sehingga lidihnya tidak dapat

dijadikan sapu.dalam 1 tahun,produksi pelepah setiap pohon adalah sekitar 27

pelepah. Jumlah pelepah yang dihasilkan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor ,

antara lain : Varietas dan kualitas pertumbuhan, Jenis tanah, Iklim (distribusi

curah hujan dan intensitas sinar matahari), Perlakuan budidaya Pemupukan .

2.1.2. Bagian generatif

Jika pertumbuhannya normal, Kelapa sawit akan berbunga untuk pertama

kali pada umur 14 bulan, namun bunga tersebut belum akan menjadi buah karena

masih dalam tahap belajar berbunga. Pada tanaman kelapa sawit, letak bunga

jantan dan bunga betinah terpisah , masing-masing tersusun pada tandan yang

berbeda tetapi masih dalam satu pohon.Oleh karena itu kelapa sawit disebut

tanaman berumah satu atau monoceous. Namun demikian , terkadang dalam satu

tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina.Bunga ini disebut

hermaprodit.Tanaman kelapa sawit mulai berbunga pada umur lebih kurang dua

tahun. Pembungaan kelapa sawit termasuk monoccious, artinya bunga jantan dan

bunga betina terdapat pada satu pohon tetapi tidak pada satu tandan yang sama.

Namun kadang-kadang dijumpai juga dalam satu tandan terdapat bunga jantan

7
dan betina yang disebut dengan bunga banci (Hermaprodit).Tanaman kelapa sawit

dapat menyerbuk secara silang dan juga menyerbuk sendiri (Risza,1995).

Hasil utama perkebunan kelapa sawit adalah buah kelapa sawit.selanjutnya

buah kelapa sawit diproses (ekstrasi) dipabrik penggilingan (mill) sehingga

menghasilkan ekstrak,berupa minyak kelapa sawit mentah atau CPO (Crude Palm

Oil ) dan minyak inti sawit KPO (Kernel Palm Oil ). Proses pembentukan buah

dari penyerbukan sampai buah matang membutuhkan waktu lebih kurang 6 bulan.

Tanaman kelapa sawit normal yang telah berbuah dapat menghasilkan lebih

kurang 12 sampai 22 tandan. Berat buah tanaman kelapa sawit yang baru berbuah

berkisar antara 3 sampai 6 kg per tandan dan pada tanaman tua, berat buah dapat

mencapai 25 sampai 35 kg per tandan. Dalam satu tandan dewasa, jumlah buah

dapat mencapai antara 1.600 sampai 2.000 buah (Fauziet al. 2004).

2.2. Teknik Pembibitan Kelapa Sawit

2.2.1 Pemilihan Benih Kelapa Sawit

Benih yang digunakan untuk membuat bibit kelapa sawit sebaiknya

berasal dari indukan yang berkualitas bagus. Benih bisa didapatkan dari

perusahaan-perusahaan yang memproduksi benih kelapa sawit seperti Pusat

Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, PT London Sumatera (Lonsum), PT

Tunggal Yunus Estate, PT Socfin, PT Bina Sawit Makmur, dan PT Dami Mas

Sejahtera. Secara garis besar, benih-benih yang diperoleh dari para produsen ini

mempunyai kualitas yang tinggi karena terbuat dari persilangan indukan Deli

Dura dan Pisifera yang jelas. Selain itu, benih-benih yang dilepas ke pasaran juga

8
umumnya sudah mengalami tahap introduksi secara berulang-ulang untuk

menjamin mutu benih (Hadi,2004).

2.2.2 Pengecambahan Benih

Proses pengecambahan benih bertujuan untuk menumbuhkan kecambah

berupa tunas dan akar muda pada benih kelapa sawit. Ada banyak sekali metode

yang dapat dilakukan.Salah satunya yaitu dengan melepaskan tangkai buah kelapa

sawit dari spikelet-nya.Waktu yang ideal untuk mengeram tandan buah ini selama

tiga hari di mana sesekali disiram dengan air untuk menjaga tingkat

kelembabannya. Lalu buah kelapa sawit dipisahkan dari tandannya, dan diperam

lagi selama tiga hari (Sunarko,2009) .

Pemisahan daging buah dari biji kelapa sawit bisa dilakukan memakai

mesin khusus agar lebih efektif. Kemudian biji-biji ini dicuci bersih dan direndam

di larutan Dithane M-45 0,2% selama tiga menit. Berikutnya keringkan biji-biji

kelapa sawit ini serta lakukan penyeleksian untuk memilih biji yang berwujud

seragam.Sebelum dikecambahkan, biji-biji sawit berkualitas baik yang telah

terkumpul ini lantas disimpan di ruangan tertutup yang memiliki suhu 27C

dengan tingkat kelembaban 60-70 persen ( Fauzi et al. 2004 ).

Treatmen sebelum proses pengecambahan juga bisa dilakukan dengan

merendam biji kelapa sawit di dalam air selama 6-7 hari dengan penggantian air

secara teratur. Setelah itu biji-biji ini direndam di larutan Dithane M-45 0,2%

selama dua menit. Terakhir biji-biji kelapa sawit diangin-anginkan supaya kering(

Hadi,2004 ).

9
Proses pengecambahan dilakukan dengan memasukkan biji kelapa sawit

ke dalam kaleng pengecambahan lalu meletakkannya di ruangan bersuhu 39C

dengan tingkat kelembaban 60-70 persen. Proses ini biasanya berlangsung selama

60 hari, di mana setiap 7 hari sekali biji diangin-anginkan selama tiga menit (

Hadi,2004 ).

Setelah itu, benih direndam kembali di air selama beberapa saat agar

mengandung air dengan kadar antara 20-30 persen kemudian diangin-anginkan.

Selanjutnya biji direndam lagi di dalam larutan Dithane M-45 0,2% selama lebih

kurang dua menit lalu tempatkan di ruangan bersuhu 27C. Biji-biji kelapa sawit

akan berkecambah dengan sendirinya setelah melewati 10 hari. Biji yang telah

berkecambah sebaiknya lekas digunakan sebagai benih kelapa sawit. Benih yang

sudah berusia lebih dari 30 hari sebaiknya tidak digunakan karena kualitasnya

telah menurun drastis (Sunarko,2009).

2.2.3 Proses Pembibitan Kelapa Sawit

Pembibitan dalam kelapa sawit memiliki dua tahap (Double Stage),

pembibitan dua tahap ini yaitu Pre Nursery dan Main Nursery yang dimana

nantinya akan menghasilkan pembibitan yang maksimal karena proses pembibitan

yang terawat membuat bibit akan tumbuh baik.

2.3. Pupuk NPK ( Mutiara )

Adalah pupuk majemuk yang terdiri dari unsur hara makro yaitu nitrogen
(N),phosphor (P),kalium (K),Sulfur (S).pupuk ini berguna untuk meransang
pertumbuhan bibit.

10
Persentase kandungan pupuk NPK Mutiara

Nitrogen (N) : 16%

Phospor (P) : 16%

Kalium (K) : 16%

Magnesium (MgO) : 0,5%

Kalsium (CaO) : 6%

Kadar Air Maksimal : 2%

Sifat pupuk Mutiara :

pupuk Mutiara berbentuk butiran berwarna kebiru-biruan , bersifat

higroskopis sehingga mudah larut dalam air, mudah diserap tanaman, memiliki

kandungan unsur hara yang lengkap.Manfaat dan fungsi NPKsangat lengkap bagi

tanaman. Pemberian pupuk NPK Mutiara sama artinya dengan memberikan pupuk

Urea, TSP, dan KCl secara bersama-sama sehingga manfaat dan fungsi yang

sangat banyak. Beberapa manfaat dan fungsi pupuk NPK Mutiara antara lain:

 Meningkatkan produktivitas tanaman.


 Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap seranagan hama, penyakit,
dan kekeringan.
 Daun menjadi lebih hijau dan segar sehinggaa fotosintesis berjalan
optimal.
 Merangsang pertumbuhan akar baru dan memacu tumbuhnya sistem
perakaran yang baik
 Memacu pembentukan bunga dan mempercepat panen.
 Menguatkan tumbuh tegak batang sehingga dapat mengurangi risiko
tanaman rebah.
 Memacu pertumbuhan ukuran buah, umbi, dan biji-bijian

11
 Meningkatkan ketahanan hasil panen selama kegiatan pengangkutan
dan penyimpanan.
 Mengoptimalkan proses pembentukan gula dan pati.

Pemupukan di Pre Nursery Menggunakan pupuk Majemuk 2,5 g/ air,


Pemberian pupuk dilakukan 1 × 2 minggu (Agri,2004).

2.4 Pupuk Organik Cair ( Bio-Trent Sawit )

Biotrent adalah salah satu pupuk sawit organik cair terbaik dengan

menggunakan teknologi mikroba penyedia unsur hara merupakan kombinasi

beragam jenis mikroba unggul Rhizobium Sp, Azotobacter Sp, Bakteri Pelarut

Phosphat, Lactobacilius Sp, Yeast dan beragam jenis lainnya sengat diperlukan

tanaman sawit untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan menyiapkan hara

dalam bentuk yang tepat bagi tanaman dan produk ini telah diformulasikan secara

khusus untuk perkebunan sawit.

Keunggulan Mengunakan Bio-Trent Sawit :

 Penyedia hara secara alami

 Menghemat 50 % dosis pupuk kimia

 Dekomposer bahan-bahan organik

 Mempercepat penyerapan hara

 Biotrent telah terdaftar di Depertemen Pertanian: L 053/HAYATI/PPI/IX/2006.

 Pengendali bakteri pathogen.

12
Dosis pemupukan :

Umur Tanaman Bio-Trent/ Semester Pupuk Kimia

Nursery 5 cc / pohon 3 x sebelum ditanam ½ dosis standar

http://www.agricoputra.com/2014/09/pelopor-pupuk-sawit-cair-hayati-

organik.html

Kandungan dalam Biotrent :

 Azotobacter sp
 Lactobacillus sp
 Bakteri pelarut fosfat
 Actinomycetes sp
 Rhizobium sp
 Citrobacter sp
 Acetobacter sp
 Vitamin B1 & C
 NPK (N 0,22 %; P 37 %; K 0,20 %)
 Mg 0,01 %
 Cl 0,03 %
 SO4 0,13 %
 Fe 39,03 ppm
 Cu 1,10 ppm
 Zn 3,81 ppm
 Al < 0,4 ppm
 Ca 0,11 %

13
 Berbagai mikroorganisme diatas bekerja secara sinergis untuk
menyediakan unsur hara, seperti Nitrogen, Fosfat, dan Kalium.

2.5.Pembibitan awal (Pre Nursery)

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Pre Nursery merupakan tahap

pertama dari dua tahap pembibitan pada budidaya kelapa sawit.Di pembibitan

inilah umur tanaman yang dibudidaya dan dipelihara berumur 0-3 bulan dengan

pengamatan yang sangat ekstra (Hadi,2004).

Tanah yang digunakan untuk media adalah tanah mineral lapisan atas (top

soil) dan tidak bercampur dengan batu kerikil. Tekstur tanah sebaiknya lempung

berliat dan mempunyai sifat drainase yang baik. Topsoil diayak dengan ayakan 1

cm untuk memisahkan bongkah-bongkah tanah dan sisa-sisa akar/kerikil. Pada

pembitan awal/Pre Nursery di Perkebunan harus memenuhi kriteria berikut ini

yaitu membangun bedengan,membangun gudang,memasang sistem instalasi air,

mengisi polibag dengan tanah dan menyusun di bedengan,menanam kecambah

serta perawatan yang maksimum (Agri,2004).

14
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Jl.Cikampak Asahan Kecamatan Torgamba

Kabupaten Labuhan Batu Selatan berada pada ketinggian ± 0-700 m diatas

permukaan laut. Kegiatan ini akan di laksanakan dari bulan Mei sampai dengan

Agustus 2017.

3.2. Bahan Dan Alat Penelitian

3.2.1. Bahan Yang Digunakan

Kecambah kelapa sawit jenis DxP yang diperoleh dari PPKS Medan,

polibag berkapasitas 1 kg ,tali plastik,potongan-potongan bambu, tanah topsoil,

air, pupuk NPK Mutiara, Pupuk Organik Cair Bio-Trent Sawit. Insektisida yang di

gunakan adalah Santador 25 EC dengan bahan aktif Lamda Sihalothrin, dan

Santador ini berbentuk cair. Fungisida yang digunakan adalah Dithane M-45

dengan bahan aktif Mankozeb, fungisida ini berbentuk tepung.

3.2.2. Alat yang Digunakan

Cangkul, garu, babat, gembor, sprayer, meteran, rol, kertas dan alat

tulis,timbangan digital.

3.3. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK).

Faktorial yang terdiri dari 2 faktor perlakuan sebagai berikut:

1. Faktor Dosis Pupuk NPK Mutiara terdiri dari 3 taraf yaitu:

15
P1= 0,00 g / bibit ( Kontrol )

P2= 0,15 g / bibit

P3= 0,30 g / bibit

2. Faktor Dosis Pupuk Organik Cair Bio-Trent Sawit terdiri dari 4 taraf yaitu:

S0= 0 cc (Kontrol )

S1= 1cc / bibit

S2= 2cc / bibit

S3=3cc/ bibit

Sehingga diperoleh perlakuan kombinasi 3 x 4 = 12

P1S0 P1S1 P1S2 P1S3

P2S0 P2S1 P2S2 P2S3

P3S0 P3S1 P3S2 P3S3

Jumlah ulangan =3blok

Jumlah tanaman per plot = 5 tanaman

Jumlah plot per blok = 12 plot

Jumlah keseluruhan plot =36 plot

Jumlah sampel per plot = 3 tanaman

Jumlah tanaman keseluruhan = 180 tanaman

Ukuran plot = 50 x 50 cm

Jarak antar ulangan / blok = 50 cm

Jarak tanaman pada plot = 20 cm x 20 cm

Jumlah sampel keseluruhan = 108 tanaman

Ukuran polibag = 14 cm x 22 cm

16
3.4. Metode Analisis

Metode analisis data dengan menggunakan metode analisis RAK Faktorial

dengan Model Linear sebagai berikut:

Yijk = µ + ρi +αj + βk + (αβ)jk + Ɛijk

Dimana:

Yijk = hasil pengamatan dari faktor I dan taraf ke-i dan faktor II pada

taraf ke-j dala ulangan ke-k.

µ = Efek nilai tengah

ρi = Efek dari blok ke-i

αj = Efek dari faktor I pada taraf ke-j

βk = Efek dari aktor II pada taraf ke-k

(αβ)jk = Efek interaksi dari faktor I taraf ke-j dan faktor II taraf ke-k

Ɛijk = Efek eror dari faktor I pada taraf ke-j dan faktor II pada taraf

ke-k serta ulangan ke-i.

Jika perlakuan berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji beda

berdasarkan uji jarak ganda Duncan dan analisis regressi.

17
BAB IV

RENCANA PELAKSANAAN PENELITIAN

4.1. Persiapan Lahan

Lahan pembibitan dibersihkan dari rerumputan dan sisa-sisa akar kayu

kemudian diratakan dengan dengan cangkul maupun garu membentuk bedengan

yang rata dan datar.

4.2.Pembuatan Naungan

Biasanya kecambah yang baru di tanam masih peka terhadap pukulan air

hujan yang deras dan penyinaran matahari terik. Oleh kaena itu pembuatan

naungan sangat di perlukan, yang tujuannya untuk mengurangi penguapan

(transpirasi) yang berlebihan dari permukaan tanaman serta mencegah kerusakan

oleh karena pukulan air hujan yang deras.

Naungan untuk tempat pembibitan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis jacq)

pada penelitian ini dibuat dari tiang bambu dan beratap waring (plastik khusus

naungan pembibitan) dan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) yang

sebelumnya sudah di semprot dengan pestisida.Ketinggian sisi Timur 2 m dan sisi

Barat 1,8 m dari permukaan tanah agar kegiatan lebih bebas bergegak dan tidak

terlalu lembab.

4.3. Pengisian Polibag

Tanah untuk pengisian polibag adalah tanah lapisan atas (top soil) yang

diambil dari sekitar areal penelitian. Tanah diayak untuk membersihkannya dari

batu-batuan dan kotoran lain. Setelah dibersihkan tanah diisikan ke polibag

hingga hampir penuh atau sekitar 5 cm dari permukaan polibag.

18
Setelah polibag selesai diisi kemudian dipindahkan ke lapangan yaitu ke

plot- plot penelitiansebanyak 5 polibag per plot.

4.4. Penanaman Kecambah

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah kecambah

kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq) yang telah muncul plumula dan radikulanya.

Sebelum kecambah ditanam terlebih dahulu dibuat lobang pada media di polibag,

kemudian kecambah dimasukkan ke dalam lobang tanam.Setelah kecambah

ditanam kemudian disiram untuk menjaga kelembaban tanah.

4.5.Pemeliharaan tanaman

4.5.1. Penyiraman

Penyiraman dilakukan pagi dan sore hari atau tergantung cuaca yaitu bila

hujan turun maka penyiraman tanaman ditiadakan.

4.5.2. Penyiangan

Penyiangan dilakukan untuk membersihkan areal dari tumbuhan

pengganggu baik dalam polibeg maupun disekitar areal penelitian dengan cara

manual.

4.5.3. Pengendalian Hama dan penyakit

Untuk menjaga tanaman agar tidak rusak diserang hama maupun penyakit,

dilakukan pengendalian dengan insektisida (Sevin) dan fungisida (Manzate 82 wp

). Interval dan dosis insektisida 30 cc dilarutkan dengan air 15 liter dan fungisida

dengan dosis 30 g dilarutkan dengan air 15 liter. penyemprotan pestisida

dilakukan dengan menyesuaikan kondisi serangan hamaatau penyakit pada bibit.

19
4.6.Pemberian Perlakuan

4.6.1. Pemberian Pupuk NPK

Pupuk NPK dengan sumber NPK Mutiara diberikan pada saat tanaman

berumur 4 minggu setelah tanam(MST) sesuai dengan perlakuan yang sudah di

terapkan,pemberian pupuk dilakukan 2 minggu sekali.

4.6.2 Pemberian pupuk organik cair

Pemberian pupuk Organik Cair dengan sumber Bio-Trent Sawit diberikan

pada saat tanaman berumur 4 minggu setelah tanam (MST) sesuai dengan

perlakuan yang sudah di terapkan,pemberian pupuk dilakukan 2 minggu sekali.

4.6.3.Pengamatan

Pengamatan dilakukan terhadap tanaman sampel sebanyak tiga tanaman

yang ditentukan secara acak dan pada sampel terpilih di tandai dengan ajir

bernomor untuk menghindari kesalahan pada waktu pengukuran. Pengamatan

dilakukan terhadap :

1. Tinggi Tanaman (cm)

Tinggi tanaman diukur mulai dari permukaan tanah hingga bagian

tanaman yang tertinggi dengan menggunakan rol dan untuk menghindari salah

pengukuran pada ajir dibuat tanda batas pengukuran awal dari permukaan tanah

yang menjadi standard pengukuran berikutnya.Pengamatan dilakukan dengan

interval sekali dua minggu.

2. Jumlah Daun (helai)

Penghitungan jumlah daun dilakukan dengan cara menghitung daun yang

telah membuka.

20
3. Diameter Batang (mm)

Pengukuran diameter batang dilakukan dengan menggunakan schlifer, dari

dua arah yang berlawanan dan hasilnya dirata ratakan. Pengamatan dilakukan

sekali dua minggu.

4. Panjang Daun (cm)

Panjang daun diukur dengan menggunakan rol mulai dari pangkal daun

hingga ujung daun dan di ukur pada saat terahir pengukuran.

5 .Lebar Daun (cm)

Lebar daun diukur dengan menggunakan rol pada bagian yang

telebar.Pengukuran total luas daun dilakukan pada akhir penelitian yaitu setelah

bibit berumur 12 MST. Panjang daun diukur dari pangkal sampai ujung daun dan

lebar daun diukur pada bagian tengah daun yang terlebar. Pengukuran dilakukan

dengan menggunakan penggaris atau meteran.

6. Luas daun (cm )

Pengukuran total luas daun dilakukan pada akhir penelitian ( minggu ke –

12 ) dengan menggunakan cara manual yaitu dengan mengalikan panjang dan

lebar daun, kemudian dikalikan dengan konstanta luas daun kelapa sawit yaitu

0,57. Luas seluruh daun dari satu bibit kemudian di totalkan sehingga di peroleh

total luas daun yang dimaksud di dalam pengamatan terakhir.Luas daun dapat

dihitung dengan menggunakan rumus A = P x L x K, dimana : A = Luas daun

(cm2), P = Panjang daun (cm), L = Lebar daun (cm), dan K = Konstanta = 0.57

(daun belum membelah/lanset pada tahap pre nursery). Dihitung luas setiap daun

dari satu tanaman kemudian ditotalkan seluruhnya.

21
DAFTAR PUSTAKA

Agri,2004.Program pemupukan untuk pembibitan kelapa sawit. SOP Asian Agri.

Agricoputra.2017.Biotrent.[http://BiotrentSawit.com.htm]Diakses pada tanggal 20


Januari 2018.

Departemenpertanian.2012.KelapaSawit.[http:/www.deptan.go.id/infoeksekutif/
BUN-asem-2012/Areal-Kelapa Sawit.pdf. Diakses pada tanggal 07
Februarai 2018.
Direktorat Jenderal Perkebunan Departemen Petanian RI, 2012. Laporan Tahunan
Sektor Perkebunan Nasional.Kementrian Pertanian
RI.Jakarta.http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/bun/BUN-asem- 2012
KelapaSawit.pdf.Diakses Tanggal 06 Februari 2018.

Fauzi,Y,Y.E. Widyastuti, I. Satyawibawa dan R. Hartono. 2002. Budidaya


Pemanfaatan dan Analisa Usaha dan Pemasaran Kelapa Sawit. Jakarta:
PenebarSwadaya.

Hadi,2004. kelapa sawit.teknik berkebun.Jakarta:penerbit ADICITA


KARYANUSA.
Mitalom. 2015. Pupuk NPK Mutiara.[http://mitalom.com/pupuk-mutiara-fungsi
dan-manfaatnya-bagi-tanaman/ ] Diakses pada tanggal 08 Februari 2018.

Sukarman.2012.Pembibitan [Teknikpembibitan Kelapa Sawit.blogspot.co.id]


Diakses pada tanggal 09 Februari 2018
Risza,S., 1995. Kelapa Sawit, Upaya Peningkatan Produktifitas,
Kanisius,Yogyakarta.

Sunarko, 2009. Budidaya dan Pengolahan Kebun Kelapa Sawit Dengan Sistem
Kemitraan. Jakarta. Agromedia Pustaka

World Wild Fund (WWF) Indonesia. 2013. Luas Kebun Kelapa Sawit Mencapai
135 Juta Hektar.http://www.tempo.co/read/news/2013/12/05/090534988/
Luas-Kebun-Sawit-Mencapai-135-Juta-Hektare Diakses pada tanggal 10
Februari 2018.

22