Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN MINI PROJECT

PENINGKATAN CAPAIAN TES IVA DENGAN METODE IVA


KELILING DI WILAYAH PUSKESMAS KELURAHAN PADEMANGAN
BARAT I RW 01
JAKARTA UTARA TAHUN 2017

Pembimbing:
dr. Tjhin Fariana

Disusun oleh:
dr. Desi Megafini

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


PUSKESMAS KELURAHAN PADEMANGAN BARAT I
PERIODE SEPTEMBER – JANUARI (2017/2018)
BERITA ACARA PRESENTASI MINI PROJECT
DOKTER INTERNSIP PUSKESMAS KELURAHAN PADEMANGAN
BARAT I PERIODE SEPTEMBER – JANUARI (2017/2018)

TANGGAL:
No. Nama Peserta Judul Tanda Tangan
Presentasi
1. dr. Desi Megafini PENINGKATAN CAPAIAN
TES IVA DENGAN
METODE IVA KELILING
DI WILAYAH PUSKESMAS
KELURAHAN
PADEMANGAN BARAT I
RW 01
JAKARTA UTARA TAHUN
2017

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya
Mengetahui,
Dokter Pembimbing

dr. Tjhin Fariana


196605172007012026/168415
DAFTAR HADIR PRESENTASI MINI PROJECT
DOKTER INTERNSIP PUSKESMAS KELURAHAN PADEMANGAN
BARAT I PERIODE SEPTEMBER – JANUARI (2017/2018)

TANGGAL:
No. Nama Peserta Internsip Tanda Tangan

Mengetahui,
Dokter Pembimbing

dr. Tjhin Fariana


196605172007012026/16841
5
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.


Segala pujipenulis panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat nikmat dan karunia yang diberikan penulis dapat menyelesaikan
Tugas Mini Project untuk program Dokter Internship yang berjudul “Peningkatan
Capaian Tes IVA dengan Metode IVA Keliling di Wilayah Puskesmas Kelurahan
Pademangan Barat I RW 01 Jakarta Utara Tahun 2017”.
Keberhasilan penulis dalam penulisan makalah mini project iini tentunya
tidak lepas dari berbagai pihak yang sangat membantu. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada dr. Tjhin serta seluruh
petugas kesehatan di Puskesmas Pademangan Barat I yang telah memberikan
bimbingan kepada penulis dalam terselesaikannya penyusunan makalah
miniproject ini.
Penulis menyadari bahwa makalah mini project ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dari semua pihak dan semoga Tugas mini project ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan pihak lain.

Jakarta, Desember 2017

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.I Latar Belakang
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang
tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang
menempel pada puncak vagina. Kanker serviks biasanya menyerang wanita
[4]
berusia 35-55 tahun. Karsinoma serviks biasanya timbul pada zona
transisional yang terletak antara epitel sel skuamosa dan epitel sel kolumnar.
Penyebab Kanker serviks adalah virus HPV (Human Papiloma Virus) yang
dapat menular melalui hubungan seksual. Beberapa kondisi lain seperti
perilaku seksual, kontrasepsi, atau merokok akan mempromosi terjadinya
kanker serviks. (masjoer, 2005).
Diseluruh dunia, penyakit ini merupakan jenis kanker ke dua
terbanyak yang diderita perempuan setelah kanker payudara namun menjadi
penyebab pertama kematian perempuan akibat kanker. Angka kejadian
mencapai hampir 20 juta penderita per tahun dan 90% diantaranya terjadi di
negara berkembang seperti Asia selatan, Asia tenggara, Amerika bagian tengah
dan selatan serta Afrika timur. (Kepmenkes, 2010). Di Indonesia Angka
kejadian kanker serviks terus meningkat setiap tahunnya dengan peningkatan
±15.000 kasus, dan 7493 diantaranya berakhir dengan kematian sebab hampir
70% kasus baru ditemukan sudah dalam keadaan stadium lanjut. Tingginya
kejadian kanker serviks di Indonesia tersebut merupakan angka kejadian
kanker serviks tertinggi di dunia (Canavan,2002)
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013,
prevalensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk.
Prevalensi kanker tertinggi terdapat di DI Yogyakarta (4,1‰), diikuti Jawa
Tengah (2,1‰), Bali (2‰) serta di peringkat ke 4 diduduki oleh Bengkulu, dan
DKI Jakarta masing-masing 1,9 per mil. (RISKESDAS, 2013)
Selain karena tingginya angka kematian dan penularan kanker serviks,
penting untuk diperhatikan bahwa hingga saat ini pilihan terapi masih terbatas
pada operasi, radiasi dan kemoterapi, atau kombinasi dari beberapa modalitas
terapi ini. Namun, tentu saja terapi ini masih berupa “simptomatis” karena
masih belum menyentuh dasar penyebab kanker yaitu adanya perubahan
perilaku sel. Terapi yang lebih mendasar atau imunoterapi masih dalam tahap
penelitian. Hal terpenting menghadapi penderita kanker serviks adalah
menegakkan diagnosis sedini mungkin dan memberikan terapi yang efektif
sekaligus prediksi prognosisnya.
Kanker serviks dapat dicegah dan diobati jika ditemukan/dideteksi
pada stadium dini. WHO merekomendasikan seluruh wanita yang aktif
berhubungan seks untuk melakukan deteksi dini karena kunci keberhasilan
program pengendalian kanker adalah pada penapisan yang efektif dan
penanganaan sedini mungkin. Metode skrining deteksi dini kanker serviks
dapat dilakukan melalui Tes Pap smear dan inspeksi visual dengan asam asetat
(IVA).
Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
mendukung dan telah berupaya meningkatkan cakupan IVA, upaya tersebut
diantaranya adalah melaksanakan sosialisasi IVA melalui penyuluhan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan puskesmas, pelatihan pemeriksaan IVA bagi
tenaga puskesmas, disediakannya fasilitas untuk pemeriksaan IVA,
pemeriksaan IVA gratis, namun upaya-upaya tersebut belum optimal.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cici Swi Swastika,
Rekomendasi utama untuk meningkatkan cakupan IVA adalah dengan
melakukan kegiatan promosi yang meningkatkan kebutuhan dan keinginan
periksa IVA yaitu dengan cara menggabungk antara kegiatan pemberian
informasi atau penyuluhan dengan pemeriksaan IVA, dua kegiatan tersebut
dilakukan pada waktudan tempat yang sama.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan penulis diatas, maka
penulis berkeinginan untuk melakukan penelusuran mengenai faktor yang
mempengaruhi tingkat cakupan IVA serta tindak lanjut dari angka capaian
tersebut.
I.3 Tujuan Penelitian
I.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis faktor-faktor yang
menyebabkan rendahnya cakupan tes IVA, menentukan dan merumuskan
alternatif pemecahan masalah dan prioritas pemecahan masalah yang
sesuai dengan penyebab masalah, serta kegiatan yang dapat dilakukan
untuk pemecahan masalah tersebut di Puskesmas Pademangan Barat I RW
01. Mengetahui dan mengidentifikasi perbandingan cakupan tes IVA
setelah dilakukannya kegiatan yang dijalankan sebagai alternatif pemercah
masalah.
I.3.2 Tujuan Khusus
a. Menentukan faktor – faktor yang menyebabkan rendahnya cakupan
tes IVA di lingkungan Puskesmas Pademangan Barat I RW 01.
b. Memberikan alternatif pemecahan masalah yang menyebabkan
rendahnya cakupan tes IVA di Puskesmas Pademangan Barat I RW
01.
c. Menentukan prioritas pemecahan masalah yang menyebabkan
rendahnya cakupan tes IVA di Puskesmas Pademangan Barat I RW
01.
d. Menyusun dan melaksanakan kegiatan sebagai alternatid
pemecahan masalah.
e. Mengidentifikasi perbandingan cakupan tes IVA setelah
dilakukannya kegiatan yang dijalankan sebagai alternatif pemecah
masalah.
I.4 Manfaat Penelitian
I.4.1 Bagi Penulis
a. Melatih kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan
masyarakat
b. Melatih kemampuan pennulis dan melaksanakan pemeriksaan IVA
dan menginterpretasikan hasilnya.
c. Melatih kemampuan penulis untuk menganalisis dan menentukan
pemecahan masalah terhadap penyebab masalah.
I.4.2 Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi Puskesmas
apakah metode tes IVA keliling adalah metode yang baik untuk
meningkatkan derajat kesehatan di lingkungan puskesmas serta
meningkatkan cakupan tes IVA.
I.4.3 Bagi Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat lebih memahami penyakit kanker
serviks, pencegahannya serta melakukan deteksi dini dengan melakukan
tes IVA.
BAB II
PROFIL PUSKESMAS

2.1 GAMBARAN UMUM PUSKESMAS KELURAHAN PADEMANGAN


BARAT I
Jumlah penduduk di wilayah Kelurahan Pademangan Barat I pada
tahun 2016 adalah sebanyak 25.626 jiwa. Terdiri dari 12.786 laki-laki dan
12.840 perempuan.
2.1.1. Wilayah Kerja
Di wilayah Kelurahan Pademangan Barat I pada RW 06 tahun
2017 adalah sebanyak 4.419 jiwa
2.1.2. Profil Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat I
Rincian luas wilayah RT, RW dan kepadatan penduduk di Kelurahan
Pademangan Barat I tampak pada tabel berikut ini :
Tabel 1.Jumlah Penduduk, RW dan RT di wilayah Puskesmas Kelurahan
Pademangan Barat I tahun 2017. Sumber data dari Kantor Kelurahan
Pademangan Maret 2017.

Kelurahan Jumlah
Jumlah Penduduk
Pademangan Barat I RT

RW 001 13 3.140 jiwa


RW 002 11 3.037 jiwa
RW 003 12 3.229 jiwa
RW 004 14 4.226 jiwa
RW 006 14 4.419 jiwa
RW 009 10 2.294 jiwa
RW 014 15 5.281 jiwa
JUMLAH 89 25.626 jiwa

Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat I yang berlokasi di Jl.


Ampera Besar No.11 RT 002 / RW 006, Kelurahan Pademangan Barat.
Puskesmas Pademangan Barat I adalah puskesmas tingkat kelurahan di
wilayah Kecamatan Pademangan yang membawahi 7 RW yang berada
diwilayah Kelurahan Pademangan Barat.
Pelayanan Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat I dimulai dari
jam 07.30 s/d jam 16.00 dan di hari Sabtu pelayanan dimulai jam 07.30 s/d
jam 13.00. Pasien yang dilayani di Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat
I, antara lain: Pasien Umum, Pasien KIS (Kartu Indonesia Sehat), Pasien
BPJS dan Pasien Askes.
Dari tahun ke tahun pelayanan puskesmas-puskesmas di wilayah
Kecamatan Pademangan semakin baik apalagi didukung oleh sarana,
prasarana dan pelayanan dibidang manajemen yang semakin memadai.
Perbaikan sarana, prasarana, dan manajemen tersebut ditunjukkan dengan
bangunan dan peralatan kesehatan puskesmas yang semakin memenuhi
syarat serta SDM yang berkualitas.
Tabel 2. Data Kepegawaian Puskesmas Kelurahan Pademangan Barat I
Tahun 2017

NON
PNS TOTAL
PNS
Dokter Spesialis - - -
Dokter Umum 1 1 2
Dokter Gigi - 1 1
Perawat 1 2 3
Perawat Gigi - 1 1
Bidan 1 2 3
Farmasi - - -
Asisten Farmasi - 1 1
Kesmas - - -
Kesling - - -
Gizi - - -
Keterapian Fisik - - -
Keteknisan Medis - - -
Analis Kesehatan - - -
Fisiografis - - -
Sanitarian - - -
Tenaga Non Kesehatan
:
Staff Tata Usaha - 2 2
Satpam - 2 2
Juru Masak - - -
Juru Cuci - - -
OB - 1 1
Jumlah Total 3 13 16

Tingkat Pendidikan Penduduk di Kelurahan Pademangan Barat I


berdasarkan data dinas kependudukan dan catatan sipil adalah sebagai
berikut.
Tabel 3. Jumlah Penduduk menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin di Puskesmas
Pademangan Barat I berdasarkan Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.
Jenis Kelamin
Pendidikan Laki- Jumlah
Perempuan
laki
Jumlah Penduduk 3.485 8.680 12.165
Jumlah Kepala Keluarga 2.670 577 3.247
Pendidikan Tertinggi 144 98 242
a. Tidak Sekolah - - 0
b. Tidak Tamat SD 93 158 251
c. Tamat SD 882 399 1281
d. Tamat SLP 882 399 1281
e. Tamat SLA 488 985 1473
f. Tamat Akademi/PT 144 98 242
Drop Out - - 0
a. Tidak Sekolah - - 0
b. Dari SD - - 0
c. Dari SLP - - 0
d. Dari SLA - - 0
e. Dari Akademi/PT - - 0
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Kanker Serviks


Kanker leher rahim (serviks) atau karsinoma serviks uterus merupakan kanker
pembunuh wanita nomor dua di dunia setelah kanker payudara. Di Indonesia, kanker leher
rahim bahkan menduduki peringkat pertama. Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium
lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat.
Kanker serviks uterus adalah keganasan yang paling sering ditemukan dikalangan
wanita. Penyakit ini merupakan proses perubahan dari suatu epithelium yang normal sampai
menjadi Ca invasive yang memberikan gejala dan merupakan proses yang perlahan-lahan dan
mengambil waktu bertahun-tahun.
Serviks atau leher rahim/mulut rahim merupakan bagian ujung bawah rahim yang
menonjol ke liang sanggama (vagina). Kanker serviks berkembang secara bertahap, tetapi
progresif. Proses terjadinya kanker ini dimulai dengan sel yang mengalami mutasi lalu
berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia.
Dimulai dari displasia ringan, displasia sedang, displasia berat, dan akhirnya menjadi
karsinoma in-situ (KIS), kemudian berkembang lagi menjadi karsinoma invasif. Tingkat
displasia dan KIS dikenal juga sebagai tingkat pra-kanker. Dari displasia menjadi karsinoma
in-situ diperlukan waktu 1-7 tahun, sedangkan karsinoma in-situ menjadi karsinoma invasif
berkisar 3-20 tahun.
Kanker ini 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) onkogenik, yang
menyerang leher rahim. Berawal terjadi pada leher rahim, apabila telah memasuki tahap
lanjut, kanker ini bisa menyebar ke organ-organ lain di seluruh tubuh penderita.

3.2 Klasifikasi Kanker Serviks


Ada beberapa klasifikasi tapi yang paling banyak penganutnya adalah yang dibuat oleh
IFGO (International Federation of Ginekoloi and Obstetrics) yaitu sebagai berikut :
Stage 0 : Casrsinoma insitu = Ca intraepithelial = Ca preinvasif.
Stage 1 : Ca terbatas pada cerviks.
Stage 1 a : Disertai invasi daro stoma (preclinical-Ca) yang hanya diketahui secara
histology.
Stage 1 b : Semua kasus-kasus lainnya dari stage 1.
Stage 2 : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai ke panggul,telah
mengenai dinding vagina tapi tidak melebihi 2/3 bagian proximal.
Stage 3 : Sudah sampai dinding panggung dan sepertiga bagian bawah vagina
Stage 4 : Sudah mengenai organ-organ yang lain

3.3 Gejala Klinis Kanker Serviks


Tidak khas pada stadium dini. Sering hanya sebagai fluos dengan sedikit darah,
pendarahan pastkoital atau perdarahan pervagina yang disangka sebagai perpanjangan waktu
haid. Pada stadium lanjut baru terlihat tanda-tanda yang lebih khas, baik berupa perdarahan
yang hebat (terutama dalam bentuk eksofitik), fluor albus yang berbau dan rasa sakit yang
sangat hebat.
Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun,
kadang bisa ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini
makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi
perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat
bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul.
Bila nyeri terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis.
Selain itu, bisa juga timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.
7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki,
timbul iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum),
terbentuknya fistel vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat
metastasis jauh.

3.4 Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Serviks


Etiologi dan faktor resiko yang dapat menyebabkan kanker serviks yaitu :
1. Etiologi
HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak. Sebagai
tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab juga. Wanita perokok
mengandung konsentrat nikotin dan kotinin didalam serviks mereka yang merusak sel.
Laki-laki perokok juga terdapat konsetrat bahan ini pada sekret genitalnya, dan dapat
memenuhi servik selama intercourse. Defisiensi beberapa nutrisional dapat juga
menyebabkan servikal displasia. National Cancer Institute merekomendasikan bahwa
wanita sebaiknya mengkonsumsi lima kali buah-buahan segar dan sayuran setiap hari.
Jika anda tidak dapat melakukan ini, pertimbangkan konsumsi multivitamin dengan
antioksidan seperti vitamin E atau beta karoten setiap hari.
2. Faktor Resiko
a. Pola hubungan seksual
Studi epidemiologi mengungkapkan bahwa resiko terjangkit kanker serviks
meningkat seiring meningkatnya jumlah pasangan.aktifitas seksual yang dimulai
pada usia dini, yaitu kurang dari 20 tahun,juga dapat dijadkan sebagai faktr resko
terjadinya kanke servks. Hal ini diuga ada hubungannya dengan belum matannya
derah transformas pada sia tesebut bila serin terekspos. Frekuensi hubungna seksual
juga berpengaruh pada lebi tingginya resiko pada usia tersebut, yeyapitidak pada
kelompok usia lebih tua. (Schiffman,1996).
b. Paritas
Kanker serviks sering dijumpai pada wanita yan sering melahirkan. Semakin
sering melahirkan,maka semain besar resiko terjamgkit kanker serviks. Pemelitian di
Amerika Latin menunjukkan hubungan antara resiko dengan multiparitas setelah
dikontrol dengan infeksi HPV.
c. Merokok
Beberapa peneitian menunukan hubungan yang kuat antara merokok dengan
kanker serviks, bahkan setelah dikontrol dengan variabel konfounding sepert pola
hubungna seksual. Penemuan lain mempekhatkan ditemkanna nikotin paa cairan
serviks wanita perokok bahan ini bersifata sebaai kokassnoen dan bersama-sma
dengan kasinoge yan elah ada selanjutnya mendoron pertumbuhan ke arah kanker.
d. Kontrasepsi oral
Penelitian secara perspektif yang dilakukan oleh Vessey dkk tahun 1983
(Schiffman,1996) mendapatkan bahwa peningkatan insiden kanker serviks
dipengaruhi oleh lama pemakaian kontrasepsi oral. Penelitian tersebut juga
mendapatkan bahwa semua kejadian kanker serviks invasive terdapat pada pengguna
kontrasepsi oral. Penelitian lain mendapatkan bahwa insiden kanker setelah 10 tahun
pemakaian 4 kali lebih tinggi daripada bukan pengguna kontrasepsi oral. Namun
penelitian serupa yang dilakukan oleh peritz dkk menyimpulkan bahwa aktifitas
seksual merupakan confounding yang erat kaitannya dengan hal tersebut.
WHO mereview berbagai peneltian yang menghubungkan penggunaan
kontrasepsi oral dengan risko terjadinya kanker serviks, menyimpulkan bahwa sulit
untuk menginterpretasikan hubungan tersebut mengingat bahwa lama penggunaan
kontraseps oral berinteraksi dengan factor lain khususnya pola kebiasaan seksual
dalam mempengaruhi resiko kanker serviks. Selain itu, adanya kemungkinan bahwa
wanita yang menggunakan kontrasepsi oral lain lebih sering melakukan pemeriksaan
smera serviks,sehingga displasia dan karsinoma in situ nampak lebih frekuen pada
kelompok tersebut. Diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan asosiasi
antara lama penggunaan kontrasepsi oral dengan resiko kanker serviks karena
adanya bias dan faktor confounding.
e. Defisiensi gizi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi tertentu seperti
betakaroten dan vitamin A serta asam folat, berhubungna dengan peningkatan resiko
terhadap displasia ringan dan sedang.. Namun sampasaat ini tdak ada indikasi bahwa
perbaikan defisensi gizi tersebut akan enurunkan resiko.
f. Sosial ekonomi
Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan hubungan yang kuat antara
kejadian kanker serviks dengan tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini juga
diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada
wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan rendah. Faktor defisiensi nutrisi,
multilaritas dan kebersihan genitalia juga dduga berhubungan dengan masalah
tersebut.
g. Pasangan seksual
Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks mulai menjadi bahan
yang menarik untuk diteliti. Penggunaan kondom yang frekuen ternyata memberi
resiko yang rendah terhadap terjadinya kanker serviks. Rendahnya kebersihan
genetalia yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi pembahasan panjang
terhadap kejadian kanker serviks. Jumlah pasangan ganda selain istri juga
merupakan factor resiko yang lain.

3.5 Epidemiologi Kanker Serviks


Epidemiologi kanker serviks di Indonesia akan dibahas berdasarkan distribusi
demografi berdasarkan umur dan tempat, yaitu:
1. Distribusi Menurut Umur
Proses terjadinya kanker leher rahim dimulai dari sel yang mengalami mutasi lalu
berkembang menjadi sel displastik sehingga terjadi kelainan epitel yang disebut displasia.
Dimulai dari displasia ringan, sedang, displasia berat dan akhirnya menjadi Karsinoma In-
Situ (KIS), kemudian berkembang menjadi karsinoma invasif. Tingkat displasia dan
karsinoma in-situ dikenal juga sebagai tingkatan pra-kanker. Klasifikasi terbaru
menggunakan nama Neoplasma Intraepitel Serviks (NIS). NIS 1 untuk displasia ringan,
NIS 2 untuk displasia sedang dan NIS 3 untuk displasia berat dan karsinoma in-situ.
Menurut Snyder (1976), NIS umumnya ditemukan pada usia muda setelah
hubungan seks pertama terjadi. Selang waktu antara hubungan seks pertama dengan
ditemukan NIS adalah 2-33 tahun. Untuk jarak hubungan seks pertama dengan NIS 1
selang waktu rata-rata adalah 12,2 tahun, NIS 1 dengan NIS 2 rata-rata13,9 tahun dan NIS
2 samppai NIS 3 rata-rata 11,7 tahun. Sedanhkan menurut Cuppleson LW dan Brown B
(1975) menyebutkan bahwa NIS akan berkembang sesuai dengan pertambahan usia,
sehingga NIS pada usia lebih dari 50 tahun sudah sedikit dan kanker infiltratif meningkat
2 kali.
Dari laporan FIGO (Internasional Federation Of Gynecology and Obstetrics) tahun
1988, kelompok umur 30-39 tahun dan kelompok umur 60-69 tahun terlihat sama
banyaknya. Secara umum, stadium IA lebih sering ditemukan pada kelompok umur 30-39
tahun, sedangkan untuk stadium IB dan II sering ditemukan pada kelompok umur 40-49
tahun, stadium III dan IV sering ditemukan pada kelompok umur 60-69 tahun.
Inseden kanker leher larim (Age Standarized Cancer Incidence Rate / ASR)
penduduk Kota Semarang, tercatat pada tahun 1980-1981 menunjukkan ASR 27,9 dan
data tahun 1985-1989 ASR 24,4. Dibandingakan dengan berbagai daerah diluar negeri
angka ini sedikit berbeda, seperti di Thailand (Chiang Mai) dilaporkan ASR tahun 1983-
1987 adalah 33,2 dan di Korea Selatan 13,2 tahun 1982-1983. India menunjukkan angka
lebih tinggi yaitu 41,7 tahun 1982.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RSCM Jakarta tahun 1997-1998 ditmukan
bahwa stadium IB-IIB sering terdapat pada kelompok umur 35-44 tahun, sedangkan
stadium IIIB sering didapatkan pada kelompok umur 45-54 tahun. Penelitian yang
dilakukan oleh Litaay, dkk dibeberapa Rumah Sakit di Ujung Pandang (1994-1999)
ditemukan bahwa penderita kanker rahim yang terbanyak berada pada kelompok umur 46-
50 tahun yaitu 17,4%.

2. Distribusi Menurut Tempat


Frekwensi kanker rahim terbanyak dijumpai pada negara-negara berkembang seperti
Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, Vietnam dan Filipina. Di Amerika Latin dan
Afrika Selatan frekwensi kanker rahim juga merupakan penyakit keganasan terbanyak dari
semua penyakit keganasan yang ada lainnya.
Penelitian yang dilakukan oleh American Cancer Society (2000) membuktikan
bahwa kanker rahim lebih sering terjadi pada kelompok wanita minoritas seperti imigran
Vietnam, Afrika dan wanita India. Hal ini berkaitan dengan anggapan mereka bahwa
wanita yang tidak melakukan gonta-ganti pasangan (promikuitas) tidak perlu melakukan
Pap smear.
Menurut perkiraan Departemen Kesehatan tahun 1988-1994 insidens kanker leher
rahim mencapai 100/100.000 penduduk pertahun, sedangkan proporsi kanker leher rahim
dari semua jenis kanker dibeberapa bagian patologi anatomi pada tahun 2000, seperti
Surabaya ditemukan sebesar 24,3%, Yogyakarta 25,7%, Bandung sebesar 25,1%,
Surakarta sebesar 28,2% dan Medan sebesar 16,9%.

3.6 Patologi Kanker Serviks


Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ektoserviks (portio)
dan endoserviks kanalis serviks yang disebut skuamo kolumnar junction (SCJ). Pada wanita
muda SCJ terletak diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35 tahun, didalam kanalis serviks.
Tumor sendiri dapat tumbuh secara:
1. Eksofitik. Mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai massa proliferatif yang
mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
2. Endofitik. Mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan cenderung infitratif
membentuk ulkus
3. Ulseratif. Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan pelvis dengan
melibatkan fornices vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks normal secara alami
mengalami metaplasi/erosi akibat saling desak kedua jenis epitel yang melapisinya.
Dengan masuknya mutagen, portio yang erosif (metaplasia skuamos) yang semula faali
berubah menjadi patologik (diplatik-diskariotik) melalui tingkatan NIS-I, II, III dan KIS
untuk akhirnya menjadi karsinoma invasive. Sekali menjadi mikroinvasive, proses
keganasan akan berjalan terus.

Gambar 1. Lokasi Kanker Leher Rahim

Gambar 2. Progresivitas Kanker Serviks

Gambar 3. Perbandingan Gambaran Serviks yang Normal dan Abnorma


3.7 Penyebaran Kanker Serviks
Pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :
a) ke arah fornices dan dinding vagina
b) ke arah korpus uterus
c) ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal
dan kandung kemih.
Melalui pembuluh getah bening dalam parametrium kanan dan kiri sel tumor dapat
menyebar ke kelenjar iliak luar dan kelenjar iliak dalam (hipogastrika). Penyebaran melalui
pembuluh darah (bloodborne metastasis) tidak lazim. Karsinoma serviks umumnya terbatas
pada daerah panggul saja. Tergantung dari kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan
berkembang menjadi mikro invasif dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman
invasi <1mm dan sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah. Jika sel
tumor sudah terdapat >1mm dari membrana basalis, atau <1mm tetapi sudah tampak dalam
pembuluh limfa atau darah, maka prosesnya sudah invasif.
Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma serviks, akan tetapi secara klinis belum
tampak sebagai karsinoma. Tumor yang demikian disebut sebagai ganas praklinik (tingkat
IB-occult). Sesudah tumor menjadi invasif, penyebaran secara limfogen melalui kelenjar
limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornices vagina, korpus uterus,
rektum, dan kandung kemih, yang pada tingkat akhir (terminal stage) dapat menimbulkan
fistula rektum atau kandung kemih. Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju
kelenjar limfa regional melalui ligamentum latum, kelenjar-kelenjar iliak, obturator,
hipogastrika, prasakral, praaorta, dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus
limfatikus di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru-paru, hati , ginjal, tulang dan
otak.
Biasanya penderita sudah meninggal lebih dahulu disebabkan karena perdarahan-
perdarahan yang eksesif dan gagal ginjal menahun akibat uremia oleh karena obstruksi ureter
di tempat ureter masuk ke dalam kandung kencing.
Penyebaran karsinoma serviks terjadi melalui 3 jalan yaitu perkontinuitatum ke dalam
vagina, septum rektovaginal dan dasar kandung kemih. Penyebaran secara limfogen terjadi
terutama paraservikal dalam parametrium dan stasiun-stasiun kelenjar di pelvis minor, baru
kemudian mengenai kelenjar para aortae terkena dan baru terjadi penyebaran hematogen
(hepar, tulang).
Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah:
1. fornices dan dinding vagina
2. korpus uteri
3. parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi septum rektovagina dan
kandung kemih.
Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar kelenjar limfe regional
melalui ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika, parasakral, paraaorta, dan
seterusnya ke trunkus limfatik di kanan dan vena subklvia di kiri mencapai paru, hati, ginjal,
tulang serta otak.

3.8 Diagnosis Kanker Serviks


Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut. Yang
menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks,
dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi prakanker serviks.
Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertai dengan kemampuan dalam
penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan angka kematian akibat kanker serviks.
1. Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau busuk
akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan timbul
akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin sering terjadi diluar
senggama.
3. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.

Komponen utama yang saling mendukung dalam menegakkan diagnosa kanker serviks
adalah:
1. Pap Smear
Tingkat Keberhasilan Papsmear dalam mendeteksi dini kanker rahim yaitu 65-95
%. Pap Smear hanya bisa dilakukan oleh ahli patologi atau si-toteknisi yang mampu
melihat sel-sel kanker lewat mikroskop setelah objek glass berisi sel- sel epitel leher
rehim dikirim ke laboratorium oleh yang memeriksa baik dokter, bidan maupun tenaga
yang sudah terlatih.
Pap Smear dilakukan sekali setahun. Bila tiga kali hasil pemeriksaan normal,
pemeriksaan dapat dijarangkan, misalnya setiap dua tahun. Pada perempuan kelompok
risiko tinggi, pemeriksaan harus dilakukan sekali setahun atau sesuai petunjuk dokter
(Smart, 2010). Pap Smear dapat dilakukan setiap saat, kecuali pada masa haid. Dua hari
sebelum pemeriksaan Pap Smear sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan yang
dimasukan ke dalam vagina serta diketahui oleh suami.
Waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil dari dilakukannya metode
papsmear berkisar antara 4 hari sampai 2 minggu tergantung jarak tempat dilakukannya
pemeriksaan papsmear dan dari laboratorium pemeriksaan specimen lendir mulut rahim.
Untuk mengetahui apakah hasilnya positif atau negatif maka diperlukan tenaga khusus
laboratorium yang dapat membaca hasil mikroskop. Jadi selama rentan waktu itulah
wanita pasangan usia subur mengalami kecemasan terhadap hasil dari pemeriksaan pap
smear.
Pemeriksaan pap smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan
pelacak adanya perubahan sel kearah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker
dapat terdeteksi serta pengobatannya menjadi lebih murah dan mudah. Pap smear
mampu mendeteksi lesi precursor pada stadium awal sehingga lesi dapat ditemukan saat
terapi masih mungkin bersifat kuratif.

Gambar 4. Pemeriksaan Pap Smear


Gambar 5. Pemeriksaan Pap Smear untuk Deteksi Dini Kanker Leher Rahim
2. Kolposkopi.
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkop, yaitu suatu alat
seperti mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya di dalamnya. Pemeriksaan
kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila ditemukan pap smear yang abnormal.
Pemeriksaan dengan kolposkopi, merupakan pemeriksaan dengan pembesaran, melihat
kelainan epitel serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan
kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi pemeriksaan meliputi vulva dan
vagina. Tujuan pemeriksaan kolposkopi bukan untuk membuat diagnosa histologik,
tetapi untuk menentukan kapan dan dimana biopsi harus dilakukan.
Gambar 6. Colposcopy Untuk Mengambil Jaringan yang Abnormal

3. Biopsi
Biopsi dilakukan di daerah abnormal di bagian yang telah dilakukan kolposkopi.
Jika kanalis servikalis sulit dinilai, sampel diambil secara konisasi.

Gambar 7. Biopsi Kerucut pada Serviks (Leher Rahim)

4. Tes IVA
Tes IVA merupakan salah satu pemeriksaan awal yang paling mudah dilakukan
untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan secara visual dengan
menggunakan asam asetat yang dioleskan di mulut rahim. hasil pemeriksaan IVA
langsung dapat diketahui setelah mulut rahim dioleskan asam asetat. Teknik pemeriksaan
IVA lebih lanjut akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya.

3.9 Tes IVA

3.9.1 Tahapan pemeriksaan IVA


Deteksi dini kanker leher rahim dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah
dilatih dengan pemeriksaan leher rahim secara visual menggunakan asam asetat yang sudah
di encerkan, berarti melihat leher rahim dengan mata telanjang untuk mendeteksi
abnormalitas setelah pengolesan asam asetat 3-5%. Daerah yang tidak normal akan berubah
warna dengan batas yang tegas menjadi putih (acetowhite), yang mengindikasikan bahwa
leher rahim mungkin memiliki lesi prakanker .
3.9.2 Keunggulan Test IVA
Keunggulan tes IVA antara lain :
1. Hasil segera diketahui saat itu juga
2. Efektif karena tidak membutuhkan banyak waktu dalam pemeriksaan
3. aman karena pemeriksaan IVA tidak memiliki efek samping bagi ibu yang
memeriksa
4. praktis
5. Teknik pemeriksaan sederhana, karena hanya memerlukan alat-alat kesehatan
yang sederhana
6. dapat dilakukan dimana saja
7. bahan dan alat yang sederhana, murah, dan mudah didapat
8. Sensivitas dan spesifikasitas cukup tinggi
9. Dapat dilakukan oleh semua tenaga medis terlatih

3.9.3 Sasaran pemeriksaan IVA


Pemeriksaan IVA pada WUS yaitu wanita yang berusia antara 15 sampai 49 tahun.
wanita yang sudah pernah melakukan senggama atau sudah menikah juga menjadi sasaran
pemeriksaan IVA.
Penderita kanker serviks berumur antara 30 – 60 tahun, terbanyak antara 45 – 50 tahun,
frekuensinya masih meningkat sampai kira – kira golongan umur 60 tahun dan selanjutnya
frekuensi ini menurun kembali. Hal tersebut menjadikan alasan WUS menjadi sasaran deteksi
dini kanker serviks.

3.9.4 Waktu pelaksanaan pemeriksaan IVA


Untuk masyarakat luas, diprogramkan pemeriksaannya 1 kali dalam 1 tahun, kecuali
ada kecurigaan lain. Pemeriksaan IVA dapat dilakukan setiap saat, tidak dalam kedaan haid,
dua hari sebelum pemeriksaan IVA sebaiknya tidak menggunakan obat-obatan yang
dimasukan ke dalam vagina serta diketahui oleh suami.
Waktu yang diperlukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan dari metode IVA adalah
1-5 menit. Setelah adanya perubahan warna putih dari mulut rahim maka ada kecurigaan
terdapat sel-sel yang memicu kanker rahim. Hasil dari pemeriksaan IVA dapat dibaca oleh

3.9.5 Alat dan Bahan untuk pemeriksaan IVA


Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan IVA yaitu :
1. Spekulum
2. Lampu
3. Larutan asam asetat 3-5%. Dapat juga digunakan asam cuka 25% yang dijual di
pasar kemudian diencerkan menjadi 5% dengan perbandingan 1:4 (1 bagian asam
cuka dicampur dengan 4 bagian air). Jika akan menggunakan asam asetat 3%, asam
cuka 25 % diencerkan dengan air dengan perbandingkan 1:7 (1 bagian asam cuka
dicampur 7 bagian air). Buat asam asetat sesuai keperluan. Asam asetat jangan
disimpan untuk beberapa hari.
4. Kapas lidi
5. Sarung tangan
6. Larutan klorin untuk dekontaminasi peralatan

3.9.6 Metode Pemeriksaan


Metode pemeriksaan IVA yaitu :
1. Memastikan identitas , memeriksa status dan kelengkapan informed consent klien
2. Klien diminta untuk menanggalkan pakaiannya dari pinggang hingga lutut dan
menggunakan kain yang sudah disediakan
3. Klien diposisikan dalam posisi litotomi
4. Tutup area pinggang hingga lutut klien dengan kain
5. Pemeriksa menggunakan sarung tangan
6. Bersihkan genitalia eksterna dengan air DTT
7. Masukkan spekulum dan tampakkan serviks hingga jelas terlihat
8. Bersihkan serviks dari cairan , darah, dan sekret dengan kapas lidi bersih
9. Periksa serviks sesuai langkah-langkah berikut :
a. Terdapat kecurigaan kanker atau tidak :
i. Jika ya, klien dirujuk , pemeriksaan IVA tidak dilanjutkan
ii. Jika pemeriksa adalah dokter ahli obstetri dan ginekologi , lakukan
biopsi
iii. Jika tidak dicurigai kanker, identifikasi Sambungan Skuamo
kolumnar (SSK)
b. Identifikasi Sambungan Skuamo Kolumnar (SSK)
i. Jika SSK tidak tampak , maka : dilakukan pemeriksaan mata
telanjang tanpa asam asetat, lalu beri kesimpulan sementara, misalnya
hasil negatif namun SSK tidak tampak. Klien disarankan untuk
melakukan pemeriksaan selanjutnya lebih cepat atau pap smear
maksimal 6 bulan lagi.
ii. Jika SSK tampak, lakukan IVA dengan mengoleskan kapas lidi yang
sudah dicelupkan ke dalam asam asetat 3-5% ke seluruh permukaan
serviks
c. Tunggu hasil IVA selama 1 menit, perhatikan apakah ada bercak putih
(acetowhite epithelium) atau tidak
i. Jika tidak (IVA negatif), jelaskan kepada klien kapan harus kembali
untuk mengulangi pemeriksan IVA
ii. Jika ada (IVA positif) , tentukan metode tata laksana yang akan
dilakukan
10. Keluarkan spekulum
11. Buang sarung tangan , kapas, dan bahan sekali pakai lainnya ke dalam container
(tempat sampah) yang tahan bocor, sedangkan untuk alat-alat yang dapat digunakan
kembali, rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit untuk dekontaminasi.
12. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien, kapan harus melakukan pemeriksaan lagi,
serta rencana tata laksana jika diperlukan.

3.9.7 Penatalaksanaan IVA Positif


Bila ditemukan IVA Positif, dilakukan krioterapi, elektrokauterisasi atau eksisi
LEEP/LLETZ.
1. Krioterapi dilakukan oleh dokter umum, dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau
konsultan onkologi ginekologi
2. Elektrokauterisasi, LEEP/LLETZ dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan
ginekologi atau konsultan onkologi ginekologi.

3.9.8 Penatalaksanaan pasien yang dicurigai kanker


Bila ditemukan pasien yang dicurigai kanker serviks dilakukan biopsi. Jika
pemeriksaan patologi anatomi mengkonfirmasi terdapatnya kanker serviks maka dirujuk
maka dirujuk ke konsultan onkologi ginekologi untuk penatalaksanaan.

Gambar 7. Penatalaksanaan hasil pemeriksaan IVA positif


KLASIFIKASI IVA TEMUAN KLINIS
Hasil tes positif Plak putih yang tebal atau epitel acetowhite
Hasil tes negative Permukaan polos dan halus, berwarna merah
jambu;ektropion,polip,servisitis,inflamasi,kista
nabotian
Kanker Masa mirip kembang kola tau ulkus

3.9.9 Pengobatan untuk Kanker Serviks


Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran
tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil
lagi.
1. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar), seluruh
kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun melalui LEEP.
Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak. Karena kanker bisa
kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan Pap smear setiap 3
bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika penderita tidak
memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani histerektomi. Pada kanker
invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya (prosedur ini
disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda, ovarium
(indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
2. Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih
terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk
merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi,
yaitu :
 Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan
sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
 Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan
langsung ke dalam serviks.
Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah sakit.
Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah :
 Iritasi rektum dan vagina
 Kerusakan kandung kemih dan rektum
 Ovarium berhenti berfungsi.

3. Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani
kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Obat
anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut. Kemoterapi
diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi dengan periode
pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan, begitu seterusnya.
4. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh
dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke
bagian tubuh lainnya. Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa
dikombinasikan dengan kemoterapi.

3.9.10 Pencegahan dan Penanganan Kanker Serviks


Pengendalian kinder serviks dengan pencegahan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
pencegahan prmer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier Strategi kesehatan
masyarakat dalam mencegah kematian karena kanker serviks antara lain adalah dengan
pencegahan primer dan pencegaan sekunder.

1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan kegiatan uang dapat dilakukan oleh setiap orang
untuk menghindari diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kanker
serviks. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menekankan perilaku hdup sehat untuk
mengurangi atau menghindari faktor resiko seperti kawin muda, pasangan seksual
ganda dan lain-lain. Selain itu juga pencegahan primer dapat dilakukan dengan imuisasi
HPV pada kelompok masyarakat
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder kanker serviks dilakukan dengan deteksi dini dan skrining
kanker serviks yang bertujuan untuk menemukan kasus-kasus kanker serviks secara
dibni sehingga kemungkinan penyembuhan dapat ditingkatkan. Perkembangan kanker
serviks memerlukan waktu yang lama. Dari prainvasif ke invasive memerlukan waktu
sekitar 10 tahun atau lebih. Pemeriksaan sitologi merupakan metode sederhana dan
sensitive untuk mwndeteksi karsinoa pra invasive. Bila diobati dengan baik, karsinoma
pra invasive mempunyai tingkat penyembuhan mendekati 100%. Diagnosa kasus pada
fase invasive hanya memiliki tingkat ketahanan sekitar 35%. Program skrining dengan
pemeriksaan sitologi dikenal dengan Pap mear test dan telah dilakukan di Negara-
negara maju. Pencegahan dengan pap smear terbukimampu menurunkan tingkat
kematian akibat kanker serviks 50-60% dalamkurun waktu 20 tahun (WHO,1986).
Selain itu, terdapat juga tiga tingkatan pencegahan dan penanganan kanker
serviks, yaitu :
1. Pencegahan Tingkat Pertama
a. Promosi Kesehatan Masyarakat, misalnya Kampanye kesadaran masyarakat
b. Program pendidikan kesehatan masyarakat
c. Promosi kesehatan
2. Pencegahan khusus, misalnya :
a. Interfensi sumber keterpaparan
b. Kemopreventif
3. Pencegahan Tingkat Kedua
a. Diagnosis dini, misalnya screening
b. Pengobatan, misalnya Kemoterapi, Bedah
4. Pencegahan Tingkat Ketiga
Rehabilitasi, misalnya perawatan rumah sedangkan penanganan kanker
umumnya ialah secara pendekatan multidiscipline. Hasil pengobatan radioterapi dan
operasi radikal kurang lebih sama, meskipun sebenarnya sukar untuk dibandingkan
karena umumnya yang dioperasi penderita yang masih muda dan umumnya baik.

Beberapa cara praktis yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1. Pola makan sehat, yang kaya dengan sayuran, buah dan sereal untuk merangsang sistem
kekebalan tubuh. Misalnya mengkonsumsi berbagai karotena, vitamin A, C, dan E, dan
asam folat dapat mengurangi risiko terkena kanker leher rahim.
2. Hindari merokok. Banyak bukti menunjukkan penggunaan tembakau dapat
meningkatkan risiko terkena kanker serviks.
3. Hindari seks sebelum menikah atau di usia sangat muda atau belasan tahun.
4. Hindari berhubungan seks selama masa haid terbukti efektif untuk mencegah dan
menghambat terbentuknya dan berkembangnya kanker serviks.
5. Hindari berhubungan seks dengan banyak partner.
6. Secara rutin menjalani tes Pap smear secara teratur. Saat ini tes Pap smear bahkan
sudah bisa dilakukan di tingkat Puskesmas dengan harga terjangkau.
7. Alternatif tes Pap smear yaitu tes IVA dengan biaya yang lebih murah dari Pap smear.
Tujuannya untuk deteksi dini terhadap infeksi HPV.
8. Pemberian vaksin atau vaksinasi HPV untuk mencegah terinfeksi HPV.
9. Melakukan pembersihan organ intim atau dikenal dengan istilah vagina toilet. Ini dapat
dilakukan sendiri atau dapat juga dengan bantuan dokter ahli. Tujuannya untuk
membersihkan organ intim wanita dari kotoran dan penyakit.
BAB IV
TEMUAN MASALAH
IV.1 Temuan Masalah

Target PKC Cakupan Pencapaian


Kegiatan
Indikator Kerja Pademanga Hasil
Pokok n 2017 % <100% >100%
kegiatan

Cakupan Tes IVA


Tes IVA pada wanita usia 30- 30% 70 % %
50 tahun

Hasil cakupan penemuan suspek TB paru di Puskesmas Grabag I Kabupaten Magelang :


Besar sasaran = 10.7 x jumlah wanita usia 30 – 50tahun kelurahan PB
1000

= 10.7 x 31.397

1000

= 336

Sasaran Bulan Berjalan = n/12 x Besar sasaran 1 tahun

= 9/12 x 336

= 252

Dalam perhitungan hasil pencapaian cakupan Tes IVA, maka perlu ditentukan
terlebih dahulu persentase cakupannya dengan rumus :

Cakupan % = Hasil Kegiatan x 100 %

Sasaran Bulan Berjalan

= Hasil Kegiatan ( Januari - September 2017 ) x 100 %

Sasaran Bulan Berjalan


= 70 x 100 %

252

= 27,7%

 Hasil kegiatan : Jumlah wanita usia 30 -50 tahun di wilayah kerja Puskesmas
Pademangan Barat I yang melakukan Tes IVA

 Sasaran : Jumlah perkiraan wanitausia 30-50 tahun di wilayah kerja Puskesmas


Pademangan Barat I yang melakukan Tes IVA (10,7/1000 x jumlah penduduk)

Kemudian setelah didapatkan cakupan (%) dihitung persentase pencapaian indikator


kinerja tersebut dengan menggunakan rumus:

Pencapaian = Cakupan (%) x 100%

Target

= 27,7 x 100%

30%

= 0,066%

Dari hasil perhitungan pencapaian program Tes IVA cakupan Tes IVA periode Januari -
September 2017 didapatkan hasil sebesar 18,36%. Hasil tersebut belum memenuhi target
Puskesmas Kecamatan Pademangan sebesar 30%. Kurangnya pencapaian tersebut merupakan
suatu masalah yang harus dicari penyebab dan upaya penyelesaiannya.
BAB V
METODOLOGI PENELITIAN

V.1 Batasan Judul


Penulis memilih judul “Peningkatan Pencapaian Tes IVA dengan Metode IVA
Keliling di Puskesmas Pademangan Barat I RW 01 Jakarta Utara Tahun 2017”
Penulisan tugas mandiri ini dilakukan untuk menganalisis faktor – faktor yang menyebabkan
rendahnya cakupan Tes IVA, menentukan alternatif pemecahan masalah dan prioritas
pemecahan masalah serta merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang menjadi prioritas
alternatif pemecahan masalah. Cakupan Tes IVA yang dianalisis selama 9 bulan, yaitu bulan
Januari sampai September 2017, sesuai dengan hasil cakupan bulan berjalan SPM, dimana
pencapaian cakupan Tes IVA yang diraih Puskesmas Pademangan Barat I masih di bawah
target pencapaian yang ditetapkan Puskesmas Kecamatan Pademangan.
V.2. Definisi Operasional
1. Tes IVA merupakan salah satu pemeriksaan awal yang paling mudah dilakukan
untuk mendeteksi kanker serviks. Pemeriksaan ini dilakukan secara visual dengan
menggunakan asam asetat yang dioleskan di mulut rahim. hasil pemeriksaan IVA
langsung dapat diketahui setelah mulut rahim dioleskan asam asetat
2. Cakupan Tes IVA adalah batasan suatu masalah yang didapat dengan angka
persentase perhitungan jumlah seluruh pasien yang telah melakukan Tes IVA di
pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I (hasil kegiatan) dibagi dengan
sasaran (sasaran bulan berjalan Januari – September 2017) dengan target pencapaian
> 30%.
V.3. Metodologi Penelitian
V.3.1. Ruang Lingkup Penelitian
a. Lokasi
Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I, Kelurahan Pademangan
Barat, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. DKI Jakarta
b. Waktu
7 - 14 November 2017
c. Sasaran
Koordinator Program KIA Puskesmas Pademangan Barat I, wanita yang
melakukan Tes IVA di Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I.
d. Metode
Wawancara, pengisian kuesioner

V.3.2 Jenis Data


Jenis data yang diambil adalah data primer dan data sekunder .
Data primer didapatkan dengan :
1. Wawancara kepada koordinator Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat
I mengenai SOP Tes IVA, Fasilitas Tes IVA dan cakupan Tes IVA
2. Wawancara kepada wanita yang melakukan Tes IVA di pelayanan KIA
Puskesmas Pademangan Barat I mengenai pengetahuan tentang IVA dan
faktor yang mendukung atau menghambat untuk melakukan Tes IVA.
3. Pengisian kuesioner oleh wanita yang melakukan Tes IVA di Pelayanan KIA
Puskesmas Pademanngan Barat I selama 7 – 14 November 2017
Data sekunder diperoleh dari laporan koordinator Pelayanan KIA Puskesmas
Pademangan Barat I mengenai cakupan dan pencapaian Tes IVA. Data yang diperoleh
dianalisis melalui pendekatan sistem, baik input, proses, dengan tujuan mengetahui
permasalahan secara menyeluruh. Data kemudian diolah untuk mengidentifikasi
permasalahan.lalu dilakukan analisis masalah dengan mencari kemungkinan penyebab
melalui pendekatan sistem dengan diagram fishbone. Kemudian dilakukan konfirmasi
penyebab yang paling mungkin ke koordinator Pelayanan KIA.Kemudian menentukan
prioritas alternatif pemecahan masalah secara sistematis yang paling mungkin dilaksanakan
dengan menggunakan kriteria matriks.Setelah itu, merealisakikan hasil dari prioritas alternatif
pemecahan masalah. Lalu menganalisis keberhasilan dari pelaksanaan pemecahan masalah
terhadap cakupan Tes IVA.

V.3.3.Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi


Kriteria Inklusi adalah koordinator Pelayanan KIA, wanita usia 30 – 50 tahun yang
melakukan Tes IVA di Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I, wanita usia 30-
50 tahun yang melakukan Tes IVA keliling di RW 01.
Faktor Eksklusi adalah wanita yang sedang masa nifas, wanita yang sedang dalam
periode menstruasi, ibu hamil, ibu pasca melahirkan kurang dari 4 bulan dan
berhubungan seksual < 24 jam sebelum Tes IVA.
BAB VI
ANALISA MASALAH
VI.1 Hasil Survei
Jenis data yang diambil adalah data primer dan data sekunder, data primer didapatkan
dari wawancara dengan koordinator Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I,
wawancara dan pengisian kuesioner dengan wanita yang melakukan Tes IVA di Pelayanan
KIA Puskesmas Pademangan Barat I selama tanggal 7 – 14 November 2017. Data sekunder
diperoleh dari laporan koordinator Pelayanan Pelayanan Tes IVA Puskesmas Pademangan
Barat I mengenai hasil cakupan dan pencapaian Tes IVA di Pelayanan KIA Puskesmas
Pademangan Barat I.
Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan digambarkan melalui tabel, diantaranya
tabel hasil wawancara koordinator pelayanan KIA, tabel kuesioner dan hasil wawancara
dengan wanita yang melakukan Tes IVA di Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan Barat I
selama tangga 7 – 14 November 2017.

VI.1.1 Hasil Wawancara dengan Koordinator Pelayanan KIA Puskesmas Pademangan


Barat I
No. Pertanyaan Jawaban
1 Apakah ada pelatihan untuk pemeriksaan
IVA bagi petugas kesehatan di PKL PB
I?
2 Apakah terdapat anggaran khusus yang
disediakan untuk melaksana pemeriksaan
IVA di PKL PB I?
3 Apakah di PKL PB I sudah terdapat SOP
untuk pemeriksaan IVA?
4 Apakah kader di masing-masing RW di
wilayah kerja PKL PB I disosialisakan
mengenai adanya jadwal Tes IVA di
PKL PB I?
5 Apakah fasilitas untuk melaksanakan
pemeriksaan IVA sudah cukup
memadai?
6 Apakah warga tahu mengenai adanya
jadwal tes IVA di Pelayanan KIA PKL
PB I?
7 Menurut anda, darimanakah warga dapat
mengetahui penjadwalan tes IVA?
Apakah membaca jadwal yang sudah di
pampang di kasir? Atau bertanya
langsung ke petugas kesehatan?
8 Apakah ada pencatatan atau rekapan
mengenai tes IVA yang sudah dilakukan
di PKL PB I?
9 Jika terdapat pasien dengan hasil IVA
positif atau kearah keganasan, apakah
dilakukan follow up ulang?
10 Menurut anda, apakah yang
menyebabkan cakupan IVA PKLPB I
belum memenuhi target?

VI.1.2 Hasil pengisian kuesioner oleh wanita yang melakukan Tes IVA Pelayanan KIA
Puskesmas Pademangan Barat I selama tangga 7-14 November 2017
Kuesioner mengenai pengetahuan
Nama Pasien Skor pengisian kuesioner
Ny. R 15
Ny. S 20
Ny. H 16
Ny. D 13
Ny. F 26
Ny. A 10
Ny. S 26
Ny. M 17
Ny.T 10
Ny. D 28
Ny. N 17
Ny. M 27
Ny. E 21
Ny. S 12
Ny. U 27
Ny.R 26
Ny.W 11

BAB VII