Anda di halaman 1dari 6

PEMERNTAH KABUPATEN PESISIR SELATAN

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS ASAM KUMBANG


KECAMATAN IV NAGARI BAYANG UTARA
Jl.Pasar Baru - Asam Kumbang Kode Pos 25653

Asam Kumbang, 22 Januari 2018


Kepada Yth,
Nomor : /HC-ASKUM/I/2018 1. Penanggung Jawab UKM
Lampiran :- 2. Pengelola/Pelaksana Program
Perihal : Pertemuan Pembahasan 3. Staf Puskesmas
Penilaian Kinerja UKM Di
Tempat

Dengan hormat,
Dalam rangka peningkatan kinerja program upaya kesehatan masyarakat (UKM) maka
akan diadakan pertemuan pembahasan kinerja dan upaya perbaikan program UKM, yang akan
dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Senin/ 22 Januari 2018
Waktu : 09.00 WIB s/d Selesai
Tempat : Puskesmas Asam Kumbang

Demikian surat ini disampaikan, atas perhatian Bapak/Ibu diucapkan terima kasih.

Mengetahui,
Kepala UPTD Kesehatan
Puskesmas Asam Kumbang

dr. Al Laily Fitri


NIP. 196412311987031172
PEMERNTAH KABUPATEN PESISIR SELATAN
UPTD KESEHATAN PUSKESMAS ASAM KUMBANG
KECAMATAN IV NAGARI BAYANG UTARA
Jl.Pasar Baru - Asam Kumbang Kode Pos 25653

NOTULEN PERTEMUAN
Pimpinan Rapat : Kepala UPTD Kesehatan Puskesmas Asam Kumbang

Nama Pertemuan : Pembahasan Kinerja dan Upaya Perbaikan

Tujuan Pertemuan : Untuk membahas kinerja dan rencana perbaikan kinerja


program UKM pada tahun 2016

Jumlah Peserta :

Hari, Tanggal : Senin, 22 Januari 2018

Tempat Pelaksanaan : Puskesmas Asam Kumbang

Agenda Rapat :

a. Pembukaan
b. Sambutan
c. Pembahasan
d. Kesimpulan
e. Penutup

Hasil Pertemuan :

1. Pembukaan
Rapat dibuka oleh MC pertemuan pembahasan komitmen perbaikan kinerja.
2. Sambutan
Sambutan tentang pembahasan komitmen dan upaya perbaikan kinerja lintas program
UPTD Puskesmas Bontocani disampaikan kepala UPTD Puskesmas Bontocani.
3. Pembahasan
Pembahasan kinerja dan upaya perbaikan kegiatan program UKM dilakukan secara
langsung oleh masing-masing penanggung jawab program terhadap pelaksana.
a. Promkes, Rendahnya cakupan dalam kegiatan mendorong terbentuknya upaya
kesehatan berbasis masyarakat (UKBM)
didukung oleh lima indikator faktor penyebab yaitu dari faktor manusia, metode,
sarana, dana dan lingkungan. Penyebab-penyebab tersebut adalah kurangnya
penggerak dari tokoh masyarakat, yang seharusnya mampu membuat masyarakat
bersemangat atau sadar dalam membangun kesehatan secara mandiri. Kemudian
kurangnya konseling, informasi dan edukasi serta pendidikan dan kesadaran
masyarakat rendah, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana, perekonomian
masyarakat rendah serta tidak tersedianya anggaran dana, kemudian demografi
lingkungan diwilayah yaitu kondisi pegunungan.
b. KIA, Rendahnya cakupan pelayanan anak balita disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya dari sudut maslah manusia, metode, sarana, dan lingkungan. Hal yang
mendasari terjadinya permasalahan yaitu kurangnya jumlah tenaga kesehatan,
kemudian kurangnya pemberian konseling informasi dan edukasi pada masyarakat,
serta sarana dan prasarana fasilitas yang terdapat di Puseksmas kurang memadai dan
transportasi dari desa menuju fasilitas kesehatan tidak ada. Selain itu, wilayah
demografis yaitu pegunungan, dan akses tempuh di perjalanan kurang memadai.
c. Kesling, Rendahnya sarana pembuangan limbah dan sampah didukung oleh lima
indikator faktor penyebab yaitu dari faktor manusia, metode, sarana, dana dan
lingkungan. Penyebab-penyebab tersebut adalah kurangnya penggerak dari tokoh
masyarakat. Kemudian kurangnya konseling, informasi dan edukasi serta pendidikan
dan kesadaran masyarakat rendah, kurangnya fasilitas sarana dan prasarana
pembuangan sampah dan limbah, perekonomian masyarakat rendah serta tidak
tersedianya anggaran dana, kemudian demografi lingkungan diwilayah yaitu
pegunungan, dimana terdapat sebagian masyarakat yang masih hidup dihutan-hutan
atau kebun.
d. Gizi, Rendahnya cakupan akses pelayanan posyandu (D/S) disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu faktor manusia, metode, sarana, dana dan lingkungan. Faktor manusia
yang mempengaruhi yaitu kurangnya kader aktif dan rendahnya peran PKK, kemudian
faktor metode yaitu kurangnya konseling informasi dan edukasi serta umpan balik dari
pemerintah desa. Pada faktor sarana yaitu beberapa posyandu tidak terdapat bangunan
permanen serta kurangnya sarana
prasarana posyandu. Sedangkan faktor dana, tidak terdapatnya alokasi dana khusus
untuk posyandu. Kemudian, jarak posyandu jauh dari rumah masyarakat.
e. P2M, Rendahnya cakupan pelayanan balita pneumonia disebabkan oleh beberapa
faktor, diantaranya dari sudut maslah manusia, metode, sarana, dan lingkungan. Hal
yang mendasari terjadinya permasalahan yaitu kurangnya jumlah tenaga kesehatan,
kemudian kurangnya pemberian konseling informasi dan edukasi pada masyarakat,
serta sarana dan prasarana fasilitas yang terdapat di Puseksmas kurang memadai dan
transportasi dari desa menuju fasilitas kesehatan tidak ada. Selain itu, wilayah
demografis yaitu pegunungan, dan akses tempuh di perjalanan kurang memadai serta
suhu udara yang rendah mempengaruhi resiko balita mengalami pneumonia lebih
besar.
f. Upaya Kesehatan Pengembangan, Rendahnya cakupan pelayanan gangguan jiwa
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya dari sudut masalah manusia, metode,
sarana, dan lingkungan. Hal yang mendasari terjadinya permasalahan yaitu kurangnya
jumlah tenaga kesehatan dan perhatian dari keluarga pasien, kemudian kurangnya
pemberian konseling informasi dan edukasi pada masyarakat dan belum terdapat
sistem penanganan gangguan jiwa lebih lanjut, serta sarana dan prasarana penanganan
kasus jiwa kurang memadai. Selain itu, wilayah demografis yaitu pegunungan, dan
akses tempuh di perjalanan kurang memadai.

Sesi Diskusi :

Masukan (Usulan) serta solusi
1) Untuk program Promkes, lebih dipacu lagi masyarakat dengan meningkatkan
kesadaran tentang kesehatan sehingga muncullah kegiatan-kegiatan yang
bersumber dari masyarakat, baik itu melalui edukasi konseling atau
penyuluhan, hingga pemberian informasi dan pengetahuan melalui media-
media (leaflet, brosur, poster, dan sebagainya).
2) Program P2M dan KIA, kegiatan yang berada pada kinerja atau cakupan
paling rendah adalah Pelayanan Balita Penumonia dan Pelayanan Anak Balita,
sebenarnya bisa dikoordinir dan dilakukan secara terintegrasi dan terkoordinasi
karena sasaran
kegiatan adalah balita sakit. Kemudian, berdayakan pula bidan desa secara
maksimal dan optimal untuk menjaring balita sakit dan balita pneumonia.
3) Kesling, lakukan koordinasi dengan lintas sektor seperti Kepala Desa dan
tokoh masyarakat untuk meningkatkan sarana pembuangan sampah dan
limbah masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu berikan
penyuluhan atau konseling dan edukasi pada masyarakat mengenai sarana
pembuangan sampah dan limbah agar terbentuknya kesadaran masyarakat
untuk menjaga kesehatan lingkungan diri sendiri dan keluarga.
4) Gizi, bentuk kegiatan-kegiatan di dalam posyandu, sehingga ibu balita serta
masyarakat tidak hanya datang menimbang dan pulang. Penyuluhan yang
dilakukan ketika posyandu yang selama ini telah dilaksanakan sudah baik,
terus tingkatkan kegiatan lainnya, serta berikan inovasi pada masyarakat agar
meningkatkan cakupan ibu balita datang ke posyandu. Contohnya, demo
masak.
5) Upaya kesehatan pengembangan, berikan edukasi lebih pada masyrakat dan
keluarga pasien mengenai penanganan mandiri penderita jiwa, sehingga tidak
perlu diperlakukan secara tidak manusiawi bahkan di pasung.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pertemuan, maka terlaksananya pembahasan kinerja dan upaya
perbaikan kegiatan program UKM UPTD Kesehatan Puskesmas Bontocani.
5. Penutup
Kegiatan pembinaan ditutup oleh MC serta disimpulkan oleh pimpinan rapat pertemuan
pembinaan program UKM.

Mengetahui,
Kepala UPTD Puskesmas Bontocani Notulis,

dr. Al Laily Fitri Ratih Permata Sari


NIP. 19790611 200910 2 001

Anda mungkin juga menyukai