Anda di halaman 1dari 6

Jurnal THT - KL Vol.9, No.2, Mei - Agustus 2016, hlm.

50 - 55

SINUSITIS SFENOID JAMUR


(Laporan Kasus)

Indah Asmara Gustarini, Irwan Kristyono

Dep/SMF Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Bedah Kepala dan Leher
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga-RSUD Dr. Soetomo Surabaya

PENDAHULUAN penyebab nyeri sinus.11,12 Bedah Sinus Endoskopik


Sinusitis adalah peradangan pada jaringan Fungsional (BSEF) adalah teknik operasi pada sinus
yang melapisi rongga sinus baik disertai dengan paranasal dengan menggunakan endoskop yang
atau tanpa infeksi. Sinusitis dapat disebabkan oleh bertujuan menormalkan kembali ventilasi sinus dan
infeksi virus, bakteri, parasit dan jamur. Salah satu “mucociliary clearance” dalam sinus.2,3,4 Makalah
penyebab sinusitis adalah infeksi jamur. Infeksi ini melaporkan kasus sinusitis sfenoid jamur pada
jamur pada sinus paranasal jarang terjadi dan penderita wanita usia 45 tahun yang dilakukan
umumnya terjadi pada individu dengan defisiensi bedah sinus endoskopik fungsional (BSEF).
sistem imun. Insiden sinusitis jamur pada saat ini
telah meningkat pada populasi imunokompeten.1-4 LAPORAN KASUS
Insiden sinusitis jamur mempunyai Seorang wanita (Ny. N) berusia 45 tahun
angka yang bervariasi di seluruh dunia. Penelitian datang ke Unit Rawat Jalan (URJ) T.H.T.K.L.
Grigoriu et al., di Eropa mendapatkan 81 kasus Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo
infeksi yang disebabkan jamur pada 600 kasus Surabaya pada tanggal 23 September 2015.
rinosinusitis kronis maksila. Penelitian lainnya oleh Penderita dirujuk dari RSUD di Papua dengan nyeri
Chakrabarti et al., di Asia 50 kasus (42 % ) kepala hebat.
rinosinusitis disebabkan infeksi jamur. Penelitian Anamnesis didapatkan nyeri kepala sejak
See Goh et al. di Malaysia memaparkan 16 tiga bulan yang lalu. Nyeri kepala awalnya ringan
kasus infeksi jamur pada 30 penderita sinusitis dan membaik dengan pemberian obat anti nyeri
kronis maksila. Infeksi jamur sinus sfenoid lebih sejak satu tahun yang lalu. Pada tiga bulan terakhir
jarang terjadi hanya sekitar 2,5% dari seluruh keluhan nyeri kepala tidak membaik dengan
infeksi sinus, infeksi ini terjadi disebabkan oleh pemberian obat anti nyeri. Nyeri kepala disertai rasa
anatomi dan penurunan aliran udara daerah sinus mual, rasa pusing berputar, dan kepala terasa seperti
sfenoid.1,5-7 berat. Keluhan telinga, hidung, dan tenggorok tidak
Infeksi sinus sfenoid oleh jamur jarang didapatkan. Riwayat penyakit dahulu terdapat
terdiagnosis, karena mempunyai gejala yang tidak bersin setiap pagi disertai nyeri kepala. Hipertensi
khas (kadang tanpa gejala) dan mempunyai gejala dan diabetes melitus disangkal. Penderita
yang menyerupai infeksi sinusitis kronis oleh sebelumnya berkonsultasi dan mendapat terapi di
bakteri atau lainya. Gejala klinis infeksi jamur di URJ Neurologi Dr. Soetomo Surabaya, nyeri kepala
sinus sfenoid seperti sakit kepala, nyeri retro-orbital, tidak berkurang dan dilakukan computed
diplopia, dan kebutaan. Infeksi sinus oleh karena tomography scan (CT scan). Berdasarkan hasil CT
jamur dapat diklasifikasikan yaitu sinusitis jamur scan penderita didapatkan perselubungan pada
ekstramukosa (non invasif) dan invasif.8-10 sinus sfenoid kanan dan dirujuk ke poli T.H.T.K.L.
Diagnosis sinusitis sfenoid jamur RSUD Dr. Soetomo.
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan Pemeriksaan rinoskopi anterior tidak
penunjang. Terapi diberikan untuk mengurangi tampak sekret pada kavum nasi kiri dan kanan,
inflamasi pada rongga sinus, membantu drainase, kedua konka inferior dalam batas normal, tidak
dan menurunkan tekanan pada sinus sebagai didapatkan massa. CT scan sinus paranasal (21

50
Sinusitis Sfenoid (Indah Asmara Gustarini, Irwan Kristyono)

sfenoid kanan dan diputuskan untuk


diekstraksi sampai bersih (Gambar
2). Massa di dalam sinus sfenoid
kanan diambil dan dikultur untuk
pemeriksaan mikrobiologi.

Terapi pasca operasi


diberikan ceftriaxon 2 x 1 gram
intra vena, ranitidin 2 x 50
miligram intra vena, ketorolac 3 x
10 miligram intra vena, dan
metoclopramide 3 x 10 miligram
Gambar 1. CT scan kepala leher potongan aksial intra vena.
dan sagital di RSUD Dr.Soetomo Surabaya, Hari pertama pasca
tampak perselubungan di sinus sfenoid kanan. operasi didapatkan keluhan nyeri
kepala berkurang, tidak tampak
perdarahan baik dari anterior
September 2015) menunjukkan perselubungan
maupun posterior kavum nasi, tidak tampak tampon
sinus sfenoid kanan, ekspansi ke dinding antar-
yang jatuh ke orofaring, terapi medikamentosa
sfenoidal dengan diagnosis banding granuloma dan
dilanjutkan.
tumor (Gambar 1).
Hari kedua pasca operasi, keluhan nyeri
minimal dan tidak didapatkan perdarahan, terapi
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
sama seperti hari pertama. Hari ketiga dilakukan
dan penunjang, maka penderita didiagnosis sinusitis
nasoendoskopi di URJ THTKL dan evaluasi
sfenoid kanan, pasien direncanakan menjalani
sebelum penderita keluar rumah sakit.
operasi Bedah Sinus Endoskopik Fungsional
Hasil evaluasi nasoendoskopi didapatkan
(BSEF) dengan pendekatan sfenoidektomi untuk
sinus sfenoid kanan tampak debris jamur, ostium
membuka drainase dan ventilasi sinus sfenoid
sinus sfenoid tampak lebar, terdapat sedikit bekuan
kanan.
darah, lalu penderita diberikan terapi cuci hidung
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional
larutan garam fisiologis 5 x 100 cc. Penderita
(BSEF) dilakukan dengan anestesi umum di
kontrol ke poli T.H.T.K.L satu minggu setelah
Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) RSUD dr.
keluar rumah sakit.
Soetomo Surabaya pada tanggal 2 Oktober 2015.
Kontrol pertama pada tanggal 9 Oktober
Pada saat operasi didapatkan mukosa yang menutup
2015, keluhan nyeri kepala berkurang, sedikit nyeri
ostium sinus sfenoid kanan,
dilakukan konkotomi parsial pada
konka media kanan agar lapangan
operasi terlihat jelas dan
mempermudah evaluasi sinus
sfenoid kanan dengan
nasoendoskopi, membuka mukosa
yang menutupi ostium sinus
sfenoid kanan, ostium lalu
diperlebar.
Pada saat ostium sinus
sfenoid telah lebar, didapatkan Gambar 2. Gambaran tonjolan mukosa yang menutup
bentukan massa berwarna coklat, ostium sinus sfenoid kanan (A).
tebal, dan sedikit pus pada sinus Tampak massa di dalam sinus sfenoid kanan (B).

51
Jurnal THT - KL Vol.9, No.2, Mei - Agustus 2016, hlm. 50 - 55

pada bekas operasi dan penderita menyerahkan Tabel 1. Pembagian Klasifikasi Sinusitis Jamur1
hasil mikrobiologi. Hasil patologi anatomi pada
Sinusitis jamur ekstramukosa (non invasif)
pengecatan gram ditemukan bentukan kuman
batang gram negatif dan KOH positif di daerah Mikosis sinus superfisial
mukosa dengan gambaran spora dan hifa jamur. Misetoma (Fungal ball)
Pada rinoskopi anterior pada kavum nasi kanan Sinusitis alergi jamur
tampak krusta. Hasil endoskopi hidung kanan tidak Sinusitis jamur invasif
tanpak sekret pada cavum nasi kanan dan ostium
Sinusitis jamur kronis invasif (indolen)
sinus sfenoid tampak lebar tidak didapatkan sisa
Sinusitis jamur akut invasif (fulminan)
debris pada sinus sfenoid kanan. Penderita
Sinusitis jamur invasif granulomatosus
diberikan terapi cuci hidung larutan garam fisiologis
2 x 100 cc, kontrol 3 minggu.
Kontrol kedua pada tanggal 11 Oktober Sinusitis sfenoid jamur jarang ditemui,
2015, tidak didapatkan keluhan nyeri kepala dan Wyllie pada tahun 1973 melaporkan lesi pada sinus
keluhan lain. Rinoskopi anterior pada kavum nasi sfenoid sebanyak 45 pasien. Pada tahun 2000,
kanan tidak tampak sekret. Hasil endoskopi hidung Çakmak menyatakan 15 kasus yang dilaporkan lesi
tidak tampak sekret dan ostium sinus sfenoid pada sinus sfenoid dari 182 kasus. Erkan (2014)
tampak lebar, penderita menyerahkan hasil kultur menyebutkan sinusitis jamur pada sinus maksila 7
jamur dan didapatkan spesies Candida Zelanoides kasus dan pada sinus sfenoid 2 kasus. Pada tahun
pada sinus sfenoid kanan. Penderita dinyatakan 1997 Yiotakis et al., menyatakan penyakit jamur
sembuh dan kontrol jika terdapat keluhan. Pasien pada sfenoid sangat jarang. Pada makalah ini, hanya
diikuti selama 2 bulan, tidak didapatkan sakit ditemukan 1 kasus di RSUD Dr. Soetomo Surabaya
kepala. murni adanya sinusitis sfenoid jamur yang
dilaporkan.5,8 Aspergilus adalah organisme yang
PEMBAHASAN paling sering ditemukan pada infeksi jamur tipe ini.
Sinusitis adalah inflamasi pada sinus Pada penderita ini didapatkan biakan jamur Candida
paranasal yang sebabkan oleh infeksi. Jamur adalah Zelanoides dan berbeda dengan literatur yang
merupakan salah satu jenis mikroorganisme yang ditemukan.1-4
dapat menyebabkan infeksi pada sinus paranasal. Pada laporan kasus ini penderita berjenis
Infeksi jamur pada sinus paranasal diantaranya kelamin perempuan. Sebuah jurnal di Turki
adalah pemakaian obat yang tidak rasional seperti melaporkan kasus yang sama dengan penderita
penggunaan antibiotika dan steriod yang berjenis kelamin perempuan begitu juga pada
berkepanjangan, gangguan ventilasi sinus dan penelitian Deshazo et al., dan Yiotakis et al. (1997).
lingkungan yang lembab.1-3 Jenis jamur yang Al-Bhlal (1996) dan Klossek (1997) menemukan
paling sering menyebabkan sinusitis jamur satu penderita pria pada penelitian yang telah
adalah Aspergillus.9,13,14 dilakukannya. Perbandingan penderita pada kasus
Klasifikasi sinusitis jamur dibagi menjadi ini antara pria dan wanita sama menurut Shah
invasif dan non-invasif. Bola jamur dan allergic (2014), tetapi menurut Prateek (2013) perbandingan
fungal sinusitis termasuk dalam sinusitis jamur non- pria dibanding wanita adalah 2:1.4,6-7,14
invasif. Sinusitis invasif mencakup sinusitis jamur Sinusitis sfenoid jamur pada kasus ini
invasif kronis dan penyakit invasif fulminan yang penderita berusia 45 tahun, hal ini sama pada
terjadi pada pasien imunosupresi. Sinusitis jamur Yiotakis et al. (1997) yang menyatakan bahwa
invasif kronis dibagi menjadi granulomatus dan non kasus ini sering didapatkan pada pertengahan usia.
granulomatus (Tabel 1).1,12 Pada laporan kasus ini Shah (2014) menyatakan usia yang sering antara
ditemukan penderita dengan sinusitis sfenoid jamur 25-60 tahun, Klossek (1997) menyatakan 60-70
non-invasif. tahun, Prateek et al.(2013) 2-81 tahun dan Erkan
(2014) menyatakan 35-78 tahun.1,4,5,7

52
Sinusitis Sfenoid (Indah Asmara Gustarini, Irwan Kristyono)

Nyeri kepala adalah gejala yang khas Pada tahun 2000, Çakmak melaporkan
dalam sinusitis sfenoid jamur pada daerah retro- 182 kasus sinus sfenoid jamur, sebagian besar
orbital (Yiotakis et al.). Hal ini disebabkan dilakukan pembedahan melalui pendekatan trans-
persarafan dari sinus sfenoid, melalui kedua saraf septal.5 Perkembangan endoskopi secara signifikan
kranial kelima dan serat aferen melalui ganglion mengurangi waktu operasi dan meminimalisir
sphenopalatina. Diplopia adalah gejala sekunder perdarahan intraoperatif, morbiditas, dan waktu
karena kelumpuhan saraf optik. Pada penderita ini rawat inap. Pembedahan sinus sfenoid terdiri dari
didapatkan gejala nyeri kepala daerah retro-orbital bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF)
tanpa ada keluhan yang lain. Durasi gejala antara 1- pendekatan sfenoidektomi dan sfenoidektomi
35 bulan (Shah, 2014). Gejala ini sama pada semua eksternal. Pada kasus ini dilakukan pendekatan
literatur yang ditemukan. Balasubramanian (2013) endoskopik transnasal. BSEF pendekatan
menyatakan gejala sinus sfenoid karena jamur yaitu sfenoidektomi dilakukan untuk pengambilan massa
pandangan kabur, ptosis, penurunan penglihatan, pada sinus sfenoid serta memastikan ventilasi pada
dan keluar darah dari hidung bahkan sampai sinus sfenoid. BSEF merupakan tehnik terbaik
kehilangan kesadaran.10 untuk penatalaksanaan sinusitis jamur sampai
Faktor penyebab meningkatnya insiden dengan saat ini. BSEF lebih konservatif dengan
infeksi jamur yaitu tingginya penggunaan morbiditas yang rendah apabila dibandingkan
antibiotika, obat topikal hidung, penderita diabetes dengan tehnik operasi yang lain.1,2,17
melitus, penurunan sistem imun karena penggunaan Konsep dari teknik BSEF adalah didasari
radiasi atau kemoterapi, AIDS dan penggunaan pada perubahan yang reversibel pada fungsi
steroid yang berkepanjangan. Pada pasien ini tidak mukosiliar dan patologi mukosa dengan cara
didapatkan riwayat penyakit penyerta dan memperbaiki patologi penyakit sinusitis kronis di
pemakaian obat topikal. Namun pasien hanya daerah sinus sfenoid dan untuk memulihkan
mengeluhkan bersin setiap pagi disertai nyeri kepala fisiologi dari ventilasi serta drainase sinus paranasal
yang berkurang hanya dengan penggunaan obat di daerah sfenoid, karena meskipun kelainan di
analgetik.1,9 daerah sinus sfenoid sangat minimal dapat
Meskipun hampir selalu normal, mengganggu ventilasi sinus dan mucociliary
pemeriksaan endoskopi rongga hidung penting. clearance.17
Kadang adanya sekresi purulen di reses Perawatan paska operasi sangat penting,
sphenoethmoidal (Chopra, 2016). Yiotakis et al dimana pembersihan paska operasi dilakukan untuk
melaporkan 2 kasus yang mengidentifikasi dinding membersihkan sisa perdarahan, sekret, endapan
anterior sinus sfenoid yang tipis. Pada pasien ini, fibrin, krusta, dan devitalisasi tulang yang bila tidak
pemeriksaan endoskopik terdapat tonjolan mukosa dilakukan dapat menimbulkan infeksi, jaringan
di ostium sinus sfenoid kanan.1 fibrotik, sinekia, dan osteitis. Beberapa penulis
Diagnosis radiologi memainkan peran menyebutkan prosedur pembersihan pasca operasi
penting dalam mengidentifikasi daerah yang dilakukan seawal mungkin, tampon hidung dibuka
abnormal. CT scan sinus paranasal menunjukkan 3 hari setelah operasi. Setelah itu hidung
adanya ketidaknormalan pada daerah sinus dibersihkan dengan larutan salin.11
paranasal, orbital atau intrakranial. Pada pasien ini, Terapi medikamentosa paska operasi
CT scan sinus paranasal menunjukkan berupa antibiotik dapat diberikan 1 minggu atau
perselubungan sinus sfenoid kanan, ekspansi ke lebih. Pemberian steroid topikal sangat berguna,
dinding antar-sfenoidal dengan diagnosis banding diberikan 4-5 kali sehari. Talbot et al. pada
granuloma dan tumor. Yiotakis et al. melaporkan penelitiannya dengan menggunakan larutan garam
penderita sinus sfenoid jamur pada penelitianya hipertonik (NaCI 0,9 % pH 7,6) lebih dapat
jarang terjadi invasi ke tulang. Pada hasil patologi memperbaiki transportasi mukosiliar dibanding
anatomi pasien ini didapatkan bentukan spora dan penggunaan larutan garam fisiologis. Gosepath et
hifa jamur di mukosa sinus sfenoid kanan.1,2 al. melakukan penelitian tentang pengaruh larutan

53
Jurnal THT - KL Vol.9, No.2, Mei - Agustus 2016, hlm. 50 - 55

topikal antibiotik (ofloxacin), antiseptik (betadin, ini tidak menggunakan terapi amfoterisin atau
H202), dan anti jamur (amphotericin B, itrakenazol, penderita dilakukan BSEF, pemberian
itraconazole, clotrimazole) terhadap frekuensi cuci hidung larutan garam fisiologis. Pasien diikuti
denyut silia. Peningkatan konsentrasi ofloxacin selama 2 bulan dengan menanyakan keluhan utama
sampai 50% dan konsentrasi itraconazole dari seperti nyeri kepala. Paska BSEF dan terapi
0,25% menjadi 1% dapat menurunkan aktivitas tambahan, keluhan pasien berkurang dan memberi
silia. Hasil ini mengindikasikan bahwa pemakaian hasil yang baik.
obat-obat topikal antibiotik dan anti jamur
khususnya pada konsentrasi tinggi dapat merusak KESIMPULAN
fungsi pembersih mukosiliar.1,11 Telah dilaporkan kasus sinusitis sfenoid
Pada kasus aspergillosis sinus sfenoid, kanan jamur non invasif pada penderita perempuan
beberapa peneliti menggunakan amfoterisin B, dewasa dan dilakukan terapi BSEF dengan hasil
sedangkan yang lain hanya menggunakan baik.
itrakonazol.1,8 Pada penderita sinusitis sfenoid jamur

54
Sinusitis Sfenoid (Indah Asmara Gustarini, Irwan Kristyono)

DAFTAR PUSTAKA 11. Chakrabarti A, Sharma SC. Paranasal sinus


mycoses. Indian J Chest Dis Allied Sci 2000;
1. Aditya C. Sinusitis jamur. 2014. Available
42: 293-304.
from:
https://translate.google.com/translate?hl=en&s 12. Metson RB, Mardon S. Nasal irrigation: a key
l=id&u=http://dokumen.tips/documents/refera to healthier sinuses. In : Metson RB, Mardon
t-sinusitis-jamurpdf.html&prev=search S, eds. Healing your sinuses. New york : Mc
Graw-Hill; 2005. p. 65-74.
Accessed November 30, 2015.
13. Chakrabarti A, Das A, Panda NK. Overview
2. Trtz A, dagli M, Akmansu H, Han O, Arslan
of fungal rhinosinusitis. Indian journal of
B, Eryilmaz A. Isolated fungal sinusitis of the
otolaryngology and head and neck surgery
sphenoid sinus. Turk J Med Sci 2009; 39: 453-
2004; 56: 251-8.
6.
14. DeShazo RD, O’Brien M, Chapin K, Swain
3. Dhong HJ, Lanza DC. Fungal rhinosinusitis.
R. Fungal sinusitis. The new england journal
In : Kennedy DW, Bolger WE, Zinreich SJ,
of medicine 1997; 337: 254-9.
eds. Diseases of the sinuses diagnosis and
management. London : BC Decker; 2001. p. 15. Dong Hoon Lee, Tae Mi Yoon, Joon Kyoo
184-99. Lee, Young Eun Joo, Kyung Hwa Park, Sang
Chul Lim. Invasive fungal sinusitis of the
4. Al Bhlal LA. Fungal infection of the nasal
sphenoid Sinus. Clinical and experimental
cavity and paranasal sinuses review of 26
otorhinolaryngology 2014; 7: 181-7.
cases. Annals of Saudi Medicine 1996; 16:
615-21. 16. Lewis D, Busaba NY. Surgical management.
In : Brook I, ed. Sinusitis from microbiology
5. Erkan. Our approach to cases with fungus balls
to management. Washington: Taylor and
of the paranasal sinuses. J Med Updates 2014;
Francis; 2006. p. 233-66.
4: 25-8.
17. Hun Jung Dhong, Donald C. Fungal
6. DeShazo RD, O’Brien M, Chapin K, Soto-
Rhinosinusitis. In : David W, William E,
Aguilar M, Swain R, Lyons M, et al. Criteria
Zinreich J, eds. Diseases of the sinuses
for the diagnosis of sinus mycetoma. J allergy
diagnosis and management. London: B. C.
Clin Immunol 1997: 476-85.
Decker; 2001. p. 184-99.
7. Prateek S, Banerjee G, Gupta P, Singh M, Goel
MM, Verma V. Fungal rhinosinusitis: A
prospective study in a University hospital of
Uttar Pradesh. Indian J Med Microbiol 2013;
31: 266-9.
8. Yiotakis, Psarommatis, Seggas, Ferekidis,
Adamopoulos. Isolated sphenoid sinus
aspergillomas. Rhinology 1997; 35: 136-9.
9. Gondim J, Quidute AR, Maciel M, Carneiro
A, Tavares C, Fontenele E, et al. Cushing’s
disease and sphenoidal aspergilloma. Acta
radiologica 2003; 44: 685-7.
10. Zanchin G, Rossi P, Licandro AM, Fortunato
M, Maggioni F. Clusterlike headache. A Case
of Sphenoidal Aspergilloma. Headache 1995;
35: 494-7.

55