Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Veteriner Desember 2012 Vol. 13 No.

4: 353-357

Pneumonia Verminosa pada Kucing Lokal


yang Terinfeksi oleh Aelurotsrongylus sp
(VERMINOUS PNEUMONIA IN DOMESTIC CAT
INFECTED BY AELUROSTRONGYLUS SP)

Ida Bagus Oka Winaya1, I Ketut Berata1,


I Made Kardena1, Ida Bagus Made Oka2

Laboratorium Patologi.
1
2
Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan,
Universitas Udayana Jln Sudirman Denpasar Bali
Telepon/Fax: 0361 (223791). Email: okawinaya@gmail.com.

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan patologik paru kucing lokal yang terinfeksi
Aelurostrongylys sp. Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran hewan Universitas Udayana Denpasar
menerima 15 sampel kucing lokal sepanjang tahun 2010. Sepuluh ekor diantaranya menunjukkan adanya
gejala klinis bersin-bersin dan lima ekor lainnya menunjukkan gejala klinis berupa rhinitis serosa dan
bersin-bersin. Pada pemeriksaan patologi anatomi terlihat adanya perubahan yang signifikan pada organ
paru dengan tanda hyperemia pada lobus caudalis disertai efusi cairan pada pleura. Pemeriksaan
histopatologi, jaringan paru difiksasi dalam netral bufer formalin 10 %, diproses dan diwarnai dengan
hematoksilin dan eosin (HE). Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan adanya potongan melintang cacing
Aelurostrongylus Sp pada beberapa lumen alveoli. Septa alveoli terlihat menebal di dalamnya ditemukan
eritrosit, plasma, sel radang netrofil dan proliferasi makrofag alveoler. Efusi plasma pada pleura ditandai
dengan adanya akumulasi materi berwarna eosinofilik. Kejadian pneumonia verminosa pada kucing
lokal yang diinfeksi oleh cacing paru Aelurostrongylus sp infeksinya bersifat akut.

Kata kunci: Aelurostrngylus sp, pneumonia interstiatialis, efusi pleura.

ABSTRACT

The aim of the study was to evaluate the pulmo pathological changes of domestic cat infected by
Aelurostrongylus sp. A total of 15 cats were examined at Faculty of Veterinery Medicine, Udayana University
during 2010. Ten out of 15 cats showed sneezing, whereas the remains showed serous rhinitis and sneezing.
Macroscopic and microscopic changes were observed mainly on pulmo samples. Hyperemias on caudalis
lobes and pleura effusion were found in the pulmo. The pulmo tissue was fixed on 10 % neutral buffer
formalin and stained with haematoxilin-eosin (HE) for histopathological examination. Aelurostrongylus sp
was present in the alveoli lumen of the lung samples. Meanwhile, the alveoli septa of the lung were
observed thicker and infiltrated with neutrophils, plasma exudates and erythrocytes. Pleural effusion was
mainly consisted of eosinophilic substances. It is concluded that verminous pneumonia in domestic cat
infected with Aelurostrongylus sp was an acute infection.

Keywords : Aelurostrngylus sp, lung, interstitialis pneumonia,

PENDAHULUAN hatkan gejala klinis. Aelurostrongy-losis juga


diketahui dapat menyebabkan pneumonia
Aelurostrongylosis adalah suatu penyakit verminosa pada kucing.
pernafasan yang menyerang kucing, disebabkan Cacing paru A abstrusus adalah anggota
oleh Aelurostrongylus abstrusus. A abstrusus dari famili metastrongylidae. Cacing nematoda
adalah parasit yang umum ditemukan pada ini menjadi fokus perhatian dari para peneliti
kucing dan tersebar di seluruh dunia. Estimasi belakangan ini karena beberapa kasus baru
prevalensinya berkisar 1,1 - 22,2 % (Grabarevic mulai muncul di negara Eropa dan menyebar
et al., 1999). Meskipun relatif tinggi ditemukan ke daerah sekitarnya yang sebelumnya tidak
menginfeski kucing, namun jarang memperli- termasuk zona endemik (Traversa et al., 2010).

353
Winaya et al Jurnal Veteriner

Terkait dengan kejadian di Eropa, Infeksi A menggunakan metode pemeriksaan Baermann


abstrusus juga untuk pertamakalinya namun metode ini memiliki keterbatasan
ditemukan pada kucing lokal di Bali. seperti; perlu waktu panjang sekitar 12-48 jam,
A abstrusus adalah nematoda yang sangat negatif palsu pada periode infeksi prepaten dan
kecil, betina dewasa lebar 50 – 80 µm dan larva yang tidak selalu keluar bersama feses
panjang 9 – 10 mm sedangkan jantan dewasa (Traversa dan Guglielmini, 2008). Mengatasi
panjang 4 – 7,5 mm (Hungerford, 1990). Habitat adanya hambatan diagnosis secara konvensional
cacing dewasa pada daerah bronkiolus dan lumen maka dapat dilakukan melalui pemeriksaan
alveoli. Telur yang dikeluarkan cacing betina molekul ribosomal DNA cacing A abstrusus
menetas menjadi Larva -1 (L1) dan bermigrasi dengan teknik nested PCR. Menggunakan
menuju saluran pernafasan bagian atas, larva teknik PCR ini sensitivitas diagnosis sekitar
akan tertelan masuk saluran cerna dan keluar 97% dan spesifisitasnya 100% (Traversa et al.,
bersama feses. Larva -1 kemudian ditelan oleh 2008 ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
sejenis siput (inang antara), Di dalam siput, mengetahui perubahan patologik paru kucing
Larva -1 berubah menjadi Larva -3 (L3). Larva lokal yang terinfeksi Aelurostrongylys sp.
-3 kemudian dimakan oleh burung atau rodensia
yang bertindak sebagai inang paratenik. Kucing
menjadi terinfeksi setelah memakan host METODE PENELITIAN
paratenik. Setelah terinfeksi, Larva -3
melakukan penetrasi menuju mukosa Lima belas ekor kucing lokal Bali berasal
gastrointestinal dan melalui pembuluh darah dari Kota Denpasar diperiksa di Laboratorium
meunju ke paru-paru, selanjutnya berkembang Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
menjadi cacing dewasa. Setelah periode prepaten Universitas Udayana Denpasar pada tahun
selama empat sampai enam minggu, Larva -1 2010. Seluruh kucing yang diperiksa umurnya
dikeluarkan bersama feses. Periode paten di bawah satu tahun.
berlangsung selama 4 bulan bahkan dapat Kucing lokal Bali yang menunjukkan
berlangsung satu atau dua tahun. Larva -1 yang gejala klinis rhinitis serosa dan dispnoea
keluar bersama feses tidak terjadi secara terus dieutanasi menggunakan garam inggris jenuh
menerus (King, 2004, Pennisi et al., 1994). (MgS04) sebanyak 7 ml yang disuntikkan secara
Penyakit pada kucing yang terkait secara intrakardial, kemudian dinekropsi. Setelah
klinis dengan infeksi A abstrusus disebabkan pengamatan situs viscerum, dilakukan
karena telur dan larva menimbulkan kerusakan pengambilan terhadap organ yang menujukkan
pada parenkim paru, menginduksi gangguan kelainan. Organ trakea, paru, otak, limpa, usus
patologis seperti pernafasan abdominal, batuk dan ginjal disimpan dalam pot yang
berat dan kronis, bersin-bersin, leleran mengandung netral buffer formalin 10% .
mukopurulen, dispnoea dan hidrothoraks. Sampel jaringan paru dan organ lain yang
Penyakit dapat bersifat fatal karena kegagalan menunjukkan adanya perubahan dipotong kecil-
respirasi (Ribeiro dan Lina, 2001). kecil (1x1x1 cm) dan didehidrasi di dalam
Deteksi in vivo A abstrusus berdasarkan larutan alkohol.dengan konsentrasi bertingkat,
dapat dideteksinya L1 dalam feses atau melalui mulai dari konsentrasi 70%, 95% dan absolut,
pemeriksaan lendir trakea. Kalau pemeriksaan dijernihkan dalam larutan xylol, dilanjutkan
feses dan lendir trakea negatif, metode dengan infiltrasi menggunakan parafin cair dan
Computed Tomography scan (CT scan) sangat diembedding dalam blok parafin. Blok paraffin
membantu membedakan Aelurostrongylosis kemudian dipotong dengan ketebalan 5 mikron
dengan penyakit pernafasan lainnya dengan untuk diwarnai menggunakan zat warna
klinis sama. Computed Tomography scan hematoksilin dan eosin (HE) (Kiernan, 1990).
adalah proses penggunaan komputer untuk Diagnosis pneumonia pada kucing lokal
memperoleh gambar tiga dimensional dari yang disebabkan oleh parasit karena adanya
ribuan gambar x-ray dua dimensional. Gambar temuan potongan melintang cacing
ini sangat berguna dalam mendiagnosa berbagai Aelurostrongylus sp pada lumen alveoli,
penyakit (Payo-puente et al.,2005). Meskipun pembengkakan pembuluh darah, penebalan
Gold standard diagnosis Aelurostrongylosis septa alveoli dan infiltrasi sel radang.

354
Jurnal Veteriner Desember 2012 Vol. 13 No. 4: 353-357

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala klinis yang terlihat pada kucing


penderita Aelurostrngylosis sangat tergantung
Lima belas ekor kucing lokal Bali yang pada jumlah cacing yang ditemukan pada
diperiksa dengan gejala klinis rhinitis serosa dan jaringan paru, umur, respons imun pada hewan
dispnoea menunjukkan perubahan patologi terinfeksi dan adanya infeksi lain yang
anatomi yang signifikan pada organ paru berupa menyertainya (Grandi et al, 2005).
adanya lesi hyperemia pada lobus caudalis dan Pemeriksaan pada organ paru (Gambar 1
diafragmatikus. Perubahan lain seperti adanya dan 2) ditemukan adanya infeksi oleh cacing
efusi pada pleura juga dapat ditemukan. Dua nematoda. Perubahan yang ditimbulkan akibat
ekor kucing lokal (13,3%) pada pemeriksaan adanya cacing di dalam lumen alveoli berupa
secara mikroskopik ditemukan adanya potongan penebalan pada septa, perdarahan, akumulasi
melintang cacing Aelurostrongylus sp di dalam plasma, efusi pada pleura, proliferasi makrofag
lumen alveoli. Respons peradangan akibat alveolar dan infiltrasi oleh sel netrofil. Adanya
adanya cacing juga ditemukan berupa penebalan perdarahan, akumulasi plasma, efusi pada
pada septa alveoli, kerusakan pada dinding pleura dan infiltrasi netrofil berhubungan
alveoli, akumulasi eritrosit dan plasma, infiltarsi dengan infeksi oleh Aelurostrongylus abstrusus.
netrofil dan proliferasi makrofag alveolar. Temuan seperti ini pernah dilaporkan oleh
Adanya akumulasi materi yang beraspek Headley (2005) yang mengatakan infeksi awal
eosinofilik pada pleura juga dapat ditemukan oleh cacing Aelurostrongylus abstrusus pada
pada kasus ini. organ paru didominasi oleh respons vaskuler dan
Kisaran kejadian Aelurostrongylosis pada infiltrasi sel netrofil.
kucing lokal Bali dengan prevalensi 13,3% Sel radang netrofil dan makrofag memegang
mendekati temuan yang dilaporkan oleh Payo- peranan penting pada pertahanan inang
Puenteet al., (2008) bahwa prevalensi kejadian (Djaldetti et al., 2002). Sel-sel tersebut dapat
Aelurostrongylsis pada kucing liar di Portugal memproduksi dalam jumlah besar molekul yang
utara adalah 14,7%. Adanya kucing lokal Bali bersifat sangat toksik seperti reaktif oksigen
yang positif terinfeksi oleh A abstrusus spesies (ROS) meliputi radikal superoksida (02),
dimungkinkan karena memakan inang antara hidrogen superoksida (H202) dan radikal hidroksil
atau inang paratenik secara terus menerus. (OH) dan reaktif nitrogen spesies (RNS)
Ohlweiler et al., (2010) melaporkan moluska (Rollnghoff dan Diefenbach, 2000). Senyawa ROS
dari jenis Achatina fulika bertindak sebagai dan RNS mampu mendegradasi banyak
inang antara di daerah Sao Paulo Brazil, biomolekul termasuk DNA, karbohidrat dan
semetara di Indonesia moluska yang berperan protein. Pada sisi yang lain ROS dan RNS dapat
menjadi inang antara belum ada yang juga merusak asam lemak pada membran lipid
melaporkan sampai saat ini. yang menyebabkan terjadinya lipid peroksidasi

Gambar 1. Fotomikrograf infeksi Aelurostro- Gambar 2. Fotomikrograf penebalan septa alveoli


ngylus sp pada jaringan paru. Potongan oleh Aelurostrongylus sp (tanda panah), bar =
melintang cacing paru (tanda panah), bar = 100 30 µm

355
Winaya et al Jurnal Veteriner

dan disorganisasi fungsi dan struktur sel DAFTAR PUSTAKA


(Halliwell et al., 1992).
Lesi hiperemia pada organ paru yang positif Cheville NF. 1999. Introduction to Veterinary
terinfeksi A abstrosus disebabkan oleh adanya Pathology. Iowa State University Press.
reaksi peradangan akut akibat adanya parasit USA. pp 19-21.
pada jaringan paru. Adanya antigen asing yang Djaldetti M., Salman H, Bergman M. 2002.
masuk ke dalam tubuh, direspons oleh Phagocitosis - the Mighty of the Silent
timbulnya respons imun yang bersifat non Worriors. Microsc Res Tech 57: 421 – 431.
spesifik. Respon imun non spesifik berupa reaksi Grandi G, Calvi LE, Venco L, Paratisi C, Genci
peradangan. Timbulnya reaksi peradangan D, Genechi C, Memmi D, Kramer, L H.
dimaksudkan untuk mengeliminasi dan untuk 2005. Aelurostrongylus abstrusus (cat
memperbaiki jaringan yang rusak akibat infeksi lungworm) Infection in Five Cats from
oleh antigen asing (Slauson dan Cooper, 2002). Italy. Vet Parasitol 134: 177 – 182.
Peradangan merupakan respons vaskuler yang Grabarevic Z, Curic Z, Tustonja A, Artukovic
salah satunya ditandai oleh adanya pelebaran B, Simec Z, Ramadan K, Zivicnjak T (1999).
pembuluh darah (vasodilatasi). Banyaknya Incidence and Regional Distribution of Lung
kapiler pada parenkim paru mengalami Worms Aelurostrongylus Abstrusus in Cat
pelebaran mengakibatkan warna organ paru in Croatia. Veterinary Archives 69 : 279 -
terlihat merah (Cheville, 1999). Pembesaran 287.
pada organ paru dapat terjadi akibat adanya Halliwell B, Gutteride J M., Cross, C E. 1992.
perembesan eritrosit dan plasma ke dalam septa Free Radical, Antioxidant and Human
dan lumen alveoli. Bahkan tekanan pada lumen disease : Where are we now ?. J Laboratory
alveoli dapat terjadi seiring dengan Clin Med 119: 598 -620.
bertambahnya volume plasma yang Headley SA. 2005. Aelurostrongylus abstrusus
berakumulasi di dalam ruang pleura (Mc Gavin Induced Pneumonia in Cat: Pathological
et al., 2001).
and Epidemiological Finding of 38 cases
(1987 – 1996). Ciencias Agrarias Londrina
26 (3) : 373 -380.
SIMPULAN
Hungerford TG. 1990. Gastrointestinal and
Respiratory Tract Parasit of Cat. In
Pneumonia verminosa pada kucing lokal
Hungerford TG (ed), Diseases of Livestock.
yang diinfeksi oleh cacing paru Aelurostrongylus
9th Ed. Sydney, McGraw-Hill. pp. 1488 –
sp infeksinya bersifat akut.
1495.
Kiernan JA. 1990. Histological and Histo-
chemical Method : Theory and Practice. 2nd
SARAN
Ed. Oxford England, Pergamon Press. Pp
Untuk menghindari kucing terinfeksi 90 -103.
cacing paru Aelurostrongylus Sp hindari kontak King LG. 2004. Textbook of Respiratory Disease
dengan inang antara maupun inang paratenik in Dogs and Cats. Missouri USA, St Louis.
dengan cara menempatkannya dalam kandang pp 551-559.
khusus untuk kucing. Pemberian obat McGavin MD, Carlton, W, Zachary JF. 2001.
fenbendazole, ivermectin atau levamisole dapat Thomson’s Special Veterinary Pathology.
dilakukan apabila diketahui kucing pernah Missouri, USA. Mosby Inc. pp 95 – 117.
memangsa inang antara atau paratenik. Ohlweiler FP, Guimares MCA, Takeshima FY,
Eduardo J M. 2010. Current Distribution of
Achatina fulica in The State of Sao Paulo
UCAPAN TERIMAKASIH Including records of Aelurostrongylus
abstrusus (nematoda) Larva infestation. Rev
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Inst Med Trop 52 (4): 211 – 214.
mahasiswa koasistensi pendidikan profesi dokter Payo-Puente P, Diez A, Gonzalo-Orden JM,
hewan (PPDH) periode tahun 2010 dan teknisi Notomi MK, Rodrigues-Altonaga JA, Rojo-
laboratorium patologi Fakultas Kedokteran Vasques FA, Orden MA. 2005. Computed
Hewan Universitas Udayana Denpasar Bali Tomography in Cats Infected by
yang membantu selama pelaksanaan nekropsi Aelurostrongylus abstrusus: 2 Clinic Cases.
sampai proses pembuatan preparat histopatologi. Intern J Appl Res Vet Med 3 (4) : 339-343.

356
Jurnal Veteriner Desember 2012 Vol. 13 No. 4: 353-357

Payo-Puente P, Botelho, Dinis M, Uruena C, Slauson DO, Cooper BJ. 2002. Mechanisms of
Gonzalo-Orden JM, Rojo-Vasquese, F A. Disease. A Textbook of Comparative General
2008. Prevalence Study of the Lungworm Pathology. Third Edition. Missouri USA
Aelurostrngylosis abstrusus in Stray Cats :Mosby. P 140 – 155.
of Portugal. J Feline Med Surg 10(3): 242- Traversa D, Cesare A, Conboy G. 2010. Canine
6. and Feline Cardiopulmonary Parasitic
Pennisi MG, Niutta PP, Glannetto S. 1994. Nematodes in Europe: Emerging and
Parasitos Pulmonares en el Gato Underestimated 3 : 62.
(Aelurostrongylus abstrusus). Revue The Traversa D, Guglielmini C. 2008. Feline
Medicina Veterinere 11: 568-572. Aelurostrongylosis and Canine
Ribeiro VM, Lina WS. 2001. Larval Production Angiostrongylosis: a Challenging Diagnosis
of Cat and Re-infectedwith Aelurostrngylus for Two Emerging Verminous Pneumonia
abstrusus (Nematoda: Protostrongylidae). Infectious. Vet Parasitol 157: 163 – 174.
Rev Med Vet 152: 815-820. Traversa D, Iorio R, Otranto D. 2008. Diganostic
Rollinghoff BC., and Diefenbach. 2000. A and Clinical Implication of a Nested PCR
Reactive oxygen and Reactive Oxygen Specific for Ribosomal DNA of the Feline
Intermediate in Innate and Spesific Lungworm Aelurostrongylus abstrusus. J
Immunity. Curr O Pin Immunol 12: 64 – Clin Microbiol 45: 1811 – 1817.
67.

357

Anda mungkin juga menyukai