Anda di halaman 1dari 12

INTERPRETASI DAN ANALISIS GEOKIMIA GAS SERTA PENGARUH INJEKSI

TERHADAP SUMUR PRODUKSI LAPANGAN PANAS BUMI “RM”, JAWA BARAT


SELAMA TAHUN 2001-2005

Dhea Rizky Nurhadi

Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran, Jl. Raya Bandung-Sumedang

Km 21 Jatinangor, Sumedang

ABSTRAK

Lapangan “RM” merupakan salah satu lapangan produksi panas bumi milik PT Pertamina
Geothermal Energy dan lapangan dominasi uap terbesar yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa
Barat. Proses-proses pengembangan lapangan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan
terhadap sistem panas bumi. Oleh karena itu penting halnya untuk melakukan proses pemantauan
geokimia dan efek injeksi untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi. Perubahan yang
umumnya terjadi pada lapangan produksi adalah penurunan temperatur dan tekanan bawah permukaan.
Data yang digunakan adalah data gas berupa NCGs (Non-Condensable Gases) yang dapat digunakan
dalam pemantauan temperatur bawah permukaan, jenis gas panas bumi serta perubahan level
pendidihan, sedangkan pemantauan efek injeksi dapat digunakan data kandungan Boron pada contoh
TFS (Total Flow Steam), flow rate injeksi dan flow rate produksi. Proses pemantauan dilakukan pada
tahun 2001 sampai 2005 terhadap 29 sumur produksi dan enam sumur injeksi. Tipe gas panas bumi
dianalisis berdasarkan hasil plotting data NCGS terhadap ternary H2-H2S-CH4. Perhitungan temperatur
reservoir menggunakan gothermomter D’Amore and Panichi dan H2S/H2. Pemantauan terhadap tingkat
pendidihan dengan cara menganalisis nilai rasio CO2/H2S. Iinterpretasi terhadap pengaruh injeksi
antara lain dengan menganalisis pola kandungan Boron, pola rate produksi, kandungan NCGs dan
temperatur. Faktor yang juga harus diperhatikan adalah kedalaman feed zone, jarak antar sumur dan
rate injeksi. Kemudian hasil analisis tersebut dapat memberikan gambaran mengenai efektivitas injeksi
serta hubungan dengan penurunan rate produksi, temperatur dan tekanan yang terjadi di daerah ini.

Kata Kunci: Lapangan RM, Geokimia Gas, Pengaruh Injeksi, Temperatur, Kandungan Boron, NCGs,
Rate Produksi, Penurunan

ABSTRACT

Field “RM” is one of geothermal production field belongs to PT Pertamina Geothermal Energy
and it known as the largest vapor dominated field which located in Bandung regency, West Java.
Development processes has consequences in changes to the geothermal system of this field. It is therefore
critical that processes of geochemistry and injection effect monitoring to find out how big the changes
have happening. The changes commonly occur in production field are declining temperatur and pressure.
NCGs (Non-Condensable Gases) data are used for monitoring subsurface temperatur, type of geothermal
gases and the change in boiling level. Boron content in TFS (Total Flow Steam) sample, injection and
production flow rate are used for monitoring of injection effects processes. Monitoring process was done
on 2001 until 2005 to 29 production wells and six injection wells. Based on plotting to H2-H2S-CH4
ternary geothermal gas type can be analyzed. Temperatur of reservoir can be estimated by D’Amore and
Panichi and H2S /H2 geothermometer. Monitoring to the value CO2/H2S ratio shows the boiling level of
well productions. Interpretation to the injection effect can be done by analyzing Boron content trend,
production rate trend, NCGs content and temperatur. Other factors that also should be concerned are
feed zone depth, distance among wells, and injection rate. The result of analyzing can describe injection
effectiveness and the relation to the declining of temperatur, pressure, and production rate which
happening in this area.

Keywords: Field RM, Gas Chemistry, Injection Effect, Temperatur, Boron Content, NCGs, Production
Rate, Declining

PENDAHULUAN produksi serta hal-hal yang merugikan dapat


dihindari. Peneliti melakukan penelitian ini yang
Indonesia secara geologi terletak di zona
bertujuan untuk menginterpretasikan tipe gas
tumbukan yang mengakibatkan banyak terdapat
panas bumi; memperkirakan temperatur
proses vulkanisme. Salah satu sumber daya alam
reservoir; menganalisis akibat injeksi,
yang dapat dimanfaatkan dari kondisi tersebut
menganalisis penurunan temperatur dan tekanan
adalah panas bumi. Indonesia diperkirakan
serta menganalisis kondisi geologi.
memiliki 40% dari jumlah potensi panas bumi di
dunia dan pengembangan energi terbarukan ini Gas panas bumi berasal dari sumber-
dapat menjadi energi alternatif selain migas dan sumber magmatik, kerak dan meteorik yang
batubara yang secara realita cadangannya saat mengalami perubahan akibat proses-proses
ini semakin menipis. geothermal seperti boiling, mixing dan
kondensasi.Analisis terhadap data geokimia gas
Lapangan panas bumi “RM” merupakan
sangat penting, khususnya pada lapangan
salah satu lapangan produksi milik PT Pertamina
“vapour dominated”. Gas-gas yang ikut bersama
Geothermal Energy yang terletak di kabupaten
uap kemudian keluar sebagai discharge pada
Bandung, Jawa Barat. Lapangan ini merupakan
manisfestasi ataupun sumur antara lain: CO2,
salah satu lapangan panas bumi dominasi uap
H2S, NH3, H2, CH4 dll. Gas-gas tersebut
terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu
umumnya dikenal atau mewakili “NCGS atau
pengontrolan terhadap kualitas produksi harus
Non-Condensable Gas Steam”.
dilakukan, salah satunya dengan pemantauan
terhadap geokimia gas dan efek injeksi. Ternary H2-H2S-CH4 (Gambar 1)
Pemantauan terhadap data geokimia dan membagi tipe gas berdasarkan origin-nya yang
pengaruh injeksi pada lapangan produksi panas terbagi dalam tiga jenis, yakni: Super magmatik
bumi sangat penting untuk mengontrol kondisi gas, Quenching gas, dan Gas from pH neutral
bawah permukaan sehingga penurunan kualitas brine.
H2 Super Critical
reservoir untuk dibuat berdasarkan konsentrasi
Magmatic Gas
CO2-H2S-H2-CH4 pada manisfestasi.
90%

80%

70%

60%

50%
Geothermometer CO2-H2S-H2-CH4 (D’Amore and
40% Panichi 1980, dalam Nicholson 1993)
30%

20%
Gas-gas akan lebih larut terhadap uap
10% daripada terhadap fluida asalnya. Setelah
H2S/10 5CH4
Gas from
boiling, komposisi gas relatif berkurang
Quenching gas
Neutral pH Brine
terhadap fluida asal pada likuid residual,
Gambar 1 Diagram H2-H2S-CH4 yang menunjukan meskipun porsi seluruh gas (khususnya gas yang
tipe gas panas bumi
lebih larut CO2, H2S, NH3) akan tetap bertahan
Super magmatik gas merupakan gas di fasa likuid. Saat temperatur tercapai, setiap
berasal langsung dari sumber magma dengan gas memiliki koefisien distribusi massa yang
kandungan unsur-unsur magmatik seperti H2, berbeda, rasio gas pada uap akan berbeda dari
SO2 dan HCl yang tinggi. Quenching gas adalah fluida asalnya. Rasio (gas yang kurang larut/gas
gas yang dihasilkan dari proses pendinginan gas- lebih larut) akan meningkat pada uap saat
gas magmatic, sedangkan gas yang berasal dari proporsi gas yang kurang larut meningkat akan
brine ber-pH netral adalah gas-gas yang telah masuk ke dalam fasa uap. Konsentrasi gas pada
terpengaruhi oleh air meteorik. Pada dasarnya uap akan menurun saat semakin banyak uap
gas panas bumi berasal dari gas-gas magmatik terbentuk, dan rasio gas kurang larut/gas lebih
sebagai sumber utama. Namun dalam larut akan menurun (contohnya CO2/H2S)
perjalanannya gas-gas tersebut mengalami sebagaimana proporsi gas lebih larut relatif
proses-proses yang dapat merubah sifat meningkat terhadap gas yang kurang larut.
kimianya. Contohnya gas yang berasal dari brine Steam yang berasal dari aliran air panas akan
netral, awalnya berasal dari gas-gas magmatik menunjukan perubahan kimia berdasarkan jarak
yang mengalami pendinginan akibat penurunan yang ditempuh dari sumber. Karakteristik uap
temperatur, kemudian dilanjutkan oleh proses yang terbentuk di akhir proses terhadap uap
netralisasi yang dipengaruhi oleh air meteorik. yang yag terbentuk di awal proses, antara lain:

D’Amore Panichi (1980) mengajukan • Konsentrasi gas lebih rendah


sebuah geothermometer empirical untuk
• Rasio CO2/H2S lebih rendah
menyelesaikan masalah dari rasio gas/air yang
• Rasio CO2/NH3 lebih rendah
tidak diketahui, mengestimasi temperatur
• Rasio H2S/NH3 lebih rendah
• Rasio CO2/H2 lebih tinggi Flow Steam) dari 28 sumur produksi pada tahun
2001-2005. Data tersebut digunakan untuk
Boron terlarut dalam steam condensate
menginterpretasi tipe gas panas bumi
atau air yang terpanasi dekat permukaan (near-
menggunakan ternary NH3-H2-H2S,
surface heated water). Boron akan lepas dari
memperkirakan temperatur bawah permukaan
fasa uap seiring meningkatnya migrasi vertikal
menggunakan geotermometer D’Amore dan
dan menunjukan konsentrasi tertinggi pada zona
Panichi serta geotermometer H2S/H2;
up flow. Trend Boron pada uap mewakili lebih
menginterpretasi perubahan tingkat pendidihan
banyak kondesat yang diinjeksikan ke reservoir
dan menganalisis serta menginterpretasi proses
terdidihkan secara aktif serta meningkatkan
dan pengaruh injeksi.
jumlah kondesat injeksi yang membawa uap.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
Uap ini mengandung jumlah Boron yang
menginterpretasi geokimia gas serta
meningkat sebagai steam hasil re-injeksi yang
menganalisis proses injeksi sumur-sumur
dikondensasikan dan bersama dengan itu Boron
produksi lapangan panas bumi “RM” pada tahun
di daur ulang (re-cycled). Peningkatan pola
2001-2005.
konsentrasi Boron dalam steam yang dihasilkan
diasumsikan sebagai hasil dari pengontrolan dan
re-injeksi penanaman kondensat ke reservoir HASIL PENELITIAN
yang efisien dalam menjaga produktifitas steam
Secara garis besar, hasil penelitian dibagi
serta mempertahankan tekanan dan temperatur
menjadi tiga bagian yakni interpretasi geokimia
reservoir dalam keadaan boiling aktif juga
gas, interpretasi pengaruh injeksi serta analisis
diharapkan dapat mencegah peningkatan
geologi.
superheat.
1. Interpretasi Geokimia Gas

METODE PENELITIAN Interpretasi geokimia gas dilakukan dengan


menggunakan data NCGS dari 28 sumur
Objek yang akan diamati dalam penelitian
produksi. Interpretasi yang dilakukan antara lain
ini adalah sumur-sumur produksi dan injeksi di
tipe gas panas bumi, temperatur reservoir dan
lapangan panasbumi “RM” berupa contoh
perubahan tingkat pendidihan.
kondensat atau air dan gas.
Data yang digunakan merupakan data a. Tipe Gas Panas Bumi
sekunder berupa nilai kandungan gas dan unsur-
Data NCGS yang digunakan hanya
unsur lain yang terkandung dalam contoh NCGS
kandungan relatif methan (CH4), hydrogen (H2),
(Non-Condensable Gas Steam) dan TFS (Total
dan hydrogen sulfida (H2S) yang kemudian
dilakukan plotting terhadap diagram NH3-H2- H2S/H2 didapatkan temperatur reservoir tahun
H2S.. Hasilnya sebagian besar sumur produksi 2001-2005 berkisar 215°-275°
275° C.
C
menunjukkan bahwa
hwa gas di lapangan “RM”
c. Rasio CO2/H2S
berasal dari pH neutral brine (Gambar
ambar 2)
2).
Dalam periode 2001 sampai 2005,
perubahan yang terjadi pada sumur-sumur
sumur
produksi relatif sangat kecil atau dalam keadaan
stabil. Berdasarkan peta yang ditampilkan,
sebagian besar sumur produksi pada keadaan
boiling aktif rasio CO2/H2S rendah (lihat
Gambar 3).
). Pada aktivitas pemantauan, kondisi
seperti ini menandai bahwa sumur-sumur
sumur
tersebut dalam kondisi yang baik dan bersifat
aktif karena proses pembentukan steam masih
Gambar 2 Peta tipe gas lapangan panas bumi “RM” berlangsung dan penurunan tingkat pendidihan
berdasarkan hasil plotting terhadap diagram H2S-
CH4-H2 cenderung rendah. Hanya SMR 12 dan 14
(bagian selatan) yang memiliki rasio CO2/H2S
Gas yang berasal dari pH neutral brine
yang lebih tinggi, hal ini dapat diasumsikan
mengindikasikan telah terjadi proses
bahwa kedua sumur tersebut mengalami boiling
pendinginan terhadap gas magmatik kemudian
pada temperatur yang lebih rendah sehingga
berlanjut dengan proses netralisasi akibat
kandungan gas dalam uap cenderung rendah.
masuknya fluida reservoir
ir ke dalam sistem lalu
air tersebut terpanasi oleh gas magmatik ((steam Berdasarkan Gambar
ambar 3 juga dapat
heated water). Masuknya brine atau recharge diperkirakan bahwa lapangan “RM” merupakan
alami ke dalam sistem disebabkan oleh struktur
struktur- daerah yang permeable yang ditandai oleh
struktur yang berkembang di daerah ini
ini. rendahnya rasio CO2/H2S kecuali bagian barat
dan tenggara yang cenderung kurang permeable.
b. Temperatur Reservoir
Zona ini cenderung memiliki temperatur yang
Berdasarkan hasil perhitungan relatif lebih tinggi karena
karen gas-gas yang
geothermometer D’Amore and Panichi maka dikeluarkan berasal langsung dari reservoir.
didapatkan temperatur reservoir tahun 2001
2001- Asumsi mengenai zona permeable ini juga harus
2005 berkisar 160°-330° C,, sedangkan diperkuat oleh data lain seperti data geofisika
berdasarkan perhitungan geothermometer dan geologi.
diperkirakan menujukkan efek yang positif
terhadap proses re-injeksi, baik dalam
mempertahankan kondisi bawah permukaan
maupun dalam produksi uap.

Tahun 2001, sumur produksi memiliki


temperatur yang paling tinggi pada periode
2001-2005, hal ini dapat dihubungkan dengan
sejarah injeksi, yakni hanya satu dari enam
sumur injeksi yang beroperasi sebelum tahun
2001. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab
kenaikan temperatur reservoir karena kurangnya
fluida yang masuk ke reservoir sehingga
kondisinya menjadi kering (dry).

b. Analisis Pengaruh Proses Injeksi


Gambar 3 Peta rasio CO2/H2S sumur produksi
lapangan panas bumi “RM” tahun 2001 sampai
Terhadap Sumur Produksi
2005
Data yang dianalisis untuk melihat kondisi
2. Interpretasi Proses Injeksi
sumur yang diinjeksi antara adalah trend flow
Beberapa parameter yang perlu diperhatikan rate produksi dan trend kandungan Boron.
dalam interpretasi dan pemantaun injeksi antara Dalam menganalisis pengaruh injeksi, hal-hal
lain rate produksi, rate injeksi, kandungan yang perlu diperhatikan antara lain analisis
Boron dan NCGs, temperatur, penurunan kondisi sumur produksi, analisis hubungan rate
terhadap temperatur dan rate produksi, jarak injeksi terhadap penurunan temperatur sumur
antara sumur produksi dan sumur injeksi, serta produksi yang diinjeksi, serta analisis efektivitas
kedalaman feed zone sumur produksi dan sumur injeksi berdasarkan posisi kedalaman feed zone
injeksi. serta jarak antara sumur produksi dan sumur
injeksi.
a. Analisis Hubungan Injeksi Terhadap
Boron, NCGs, Flow Rate Produksi dan Penentuan sumur yang diinjeksi berdasarkan
Temperatur
hasil analisis tracer yang telah dilakukan
Sumur produksi yang berada di bagian Barat
perusahaan untuk mengetahui arah aliran injeksi.
Laut memiliki kandungan Boron yang tinggi,
Sumur injeksi A mengaliri sumur produksi 1, 2,
NCGS yang rendah, flow rate tinggi dan rasio
3, 4, 22 dan 23. Sumur injeksi B mengaliri
CO2/H2S yang rendah, artinya daerah ini
sumur produksi yang berada di luar daerah
penelitian. Sumur injeksi C mengaliri SMR 23 seluruh sumur produksi alirannya, setelah injeksi
dan 27. Sumur injeksi D mengaliri SMR 23 dan dihentikan temperatur sumur produksi sekitar
25. Sumur injeksi E mengaliri SMR 16, 19, 21 cenderung lebih stabil.
dan 24 sedangkan sumur injeksi F mengaliri
Dalam menentukan tingkat efektifitas proses
SMR 8, 9, 12 dan 14.
injeksi dapat dilakukan dengan membandingkan
Penurunan temperatur merupakan hal yang kandungan Boron, flow rate sumur produksi dan
cukup normal terjadi, namun besarnya level sumur injeksi. Proses injeksi dikatakan berhasil
penurunan tersebut tetap harus diawasi karena atau efektif jika sumur injeksi dengan rate yang
sangat berhubungan dengan produktivitas rendah dapat meningkatkan kandungan Boron
sumur. Salah satu penyebab terjadinya dan decline yang terjadi relatif rendah pada
penurunan ini adalah proses injeksi. sumur produksi. Posisi feed zone setiap sumur
sangat penting, baik jarak antar sumur maupun
Injeksi Sumur A pada tahun 2001
kedalamannya. Penulis membagi kedalaman
mengakibatkan penurunan temperatur pada
feed zone sumur menjadi dua, yakni feed zone
seluruh sumur alirannya kecuali SMR 4,
dalam (lebih dari 1000 m) dan feed zone dangkal
sedangkan injeksi tahun 2003-2005
(kurang dari 1000 m). Sumur injeksi dengan
mengakibatkan penurunan pada seluruh sumur
feed zone dangkal yakni SMR E dan D,
alirannya kecuali SMR 22. Penurunan yang
sedangkan SMR A, C dan F memiliki feed zone
cukup signifikan terjadi pada SMR 22 akibat
dalam. Hasilnya, sumur E memiliki tingkat
injeksi tahun 2001. Namun tahun-tahun
efektifitas 100%, sedangkan sumur C, D, dan F
berikutnya SMR 22 memiliki temperatur yang
hanya 50% yakni 1 dari 2 sumur produksi pada
stabil bahkan cenderung meningkat. Hal ini
kondisi yang tidak baik. Dua dari enam sumur
menunjukkan kontrol injeksi SMR A dan SMR
produksi aliran SMR A berada pada kondisi
C berakibat lebih positif terhadap SMR 22.
yang tidak baik.
Untuk SMR 27, akibat injeksi tahun 2001 dan
2004 menyebabkan penurunan temperatur. Dari hasil ini diketahui bahwa sumur injeksi
Injeksi SMR D pada tahun 2003 mengakibatkan yang paling baik dalam melakukan tugasnya
penurunan temperatur untuk SMR 23 dan 25 atau paling efektif adalah SMR E dengan tingkat
sedangakan injeksi tahun 2004 hanya keberhasilan 100%. Sumur ini memiliki feed
berpengaruh positif untuk SMR 25. Injeksi SMR zone yang relatif dangkal serta sejajar dengan
E merupakan yang terbaik karena temperatur sumur-sumur produksi alirannya dan jarak
sumur produksi alirannya relatif stabil. Injeksi antara sumur yang bervariasi antara 400-1000
sumur F hanya dilakukan pada tahun 2001 yang meter. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun
mengakibatkan penurunan temperatur pada dengan feed zone yang cenderung dangkal,
fluida injeksi masih dapat terpanasi dengan baik yang mengandung Boron, sedangkan sumur
dan menghasilkan uap serta meminimalisasi yang tidak diinjeksi hanya disokong oleh Boron
terjadinya penurunan rate produksi yang tinggi. dari alam. Sumur yang diinjeksi mengalami
Hal ini dapat disebabkan oleh sumber panas penurunan rate produksi yang lebih tinggi yakni
yang cenderung dangkal pula ataupun kondisi 0.2-10%/thn sedangkan sumur yang tidak
batuan yang relatif permeable dan porous akibat diinjeksi mengalami penurunan sekitar 0.3-
intensitas rekahan yang tinggi. 0.7%/thn. Namun ada empat sumur yang tidak
diinjeksi mengalami penurunan yang cukup
Injeksi yang dilakukan pada sumur lain tidak
tinggi pula, hal ini dikarenakan kurangnya fluida
sepenuhnya memberikan hasilnya yang baik,
yang masuk ke reservoir.
selalu ada sumur produksi yang menunjukkan
kondisi yang kurang baik. SMR A memiliki dua c. Penurunan Temperatur dan Tekanan
sumur produksi yang tidak baik sehingga Terhadap Keadaan Inisial
keberhasilan injeksinya hanya 66% dengan
Tekanan inisial sumur-sumur produksi
penurunan produksi rata-rata 4.7%/tahun,
berkisar 37-28 bar. Setelah proses produksi dan
sedangkan keberhasilan injeksi SMR C, D dan F
injeksi berlangsung penurunan tekanan pun
hanya 50%, artinya setengah sumur alirannya
terjadi pada setiap sumur produksi menjadi 33-
berada pada kondisi yang kurang baik Maka
17 bar, dengan penurunan tertinggi terjadi pada
kontrol injeksi terhadap sumur-sumur injeksi
sumur 2, 7, 10 dan `7 yakni berkisar 12-18 bar,
inilah yang harus diperbaiki agar hasil yang
sedangkan sumur dengan penurunan tekanan
lebih baik dapat dicapai.
tertinggi yakni sumur 26, 24, 27, 21 dan 14
Setelah dilakukan perbandingan kondisi yakni kurang dari 4 bar. Penurunan tekanan
antara sumur yang diinjeksi dan sumur yang umumnya terjadi karena penurunan water level
tidak diinjeksi hasilnya, temperatur keduanya akibat kurangnya fluida di dalam reservoir.
tidak jauh berbeda, perbedaan yang signifikan Untuk SMR 7, SMR 10 dan SMR 17 penurunan
terlihat pada kandungan Boron dan penurunan tekanan dapat diakibatkan recharge alami
rate produksi. Sumur yang diinjeksi memiliki cenderung rendah ditambah dengan tidak
kandungan Boron yang lebih tinggi, yakni dilakukannya injeksi pada sumur-sumur ini.
sekitar 0.1-4 mmol sedangkan sumur yang tidak
Temperatur inisial sumur-sumur produksi
diinjeksi berkisar 0.1-1.16 mmol. Hal ini
berkisar 247-227° C dan temperatur akhir hasil
dikarenakan kandungan Boron yang terdapat
pengukuran berkisar 210-236° C. Sumur-sumur
pada sumur yang diinjeksi disokong oleh proses
produksi dengan decline tinggi yakni lebih dari
injeksi itu sendiri. Fluida injeksi yang
20° C dari temperatur initial diantaranya adalah
terpanaskan dengan baik kemudian menjadi uap
SMR 2, SMR 7, SMR 9, SMR 10 dan SMR 17, yang masuk ke dalam SMR 9 tidak terpanasi
sedangkan sumur-sumur dengan decline dengan baik sehingga cooling terjadi. SMR 7
terendah yakni kurang dari 3° C adalah SMR 28 dan 10 walaupun dengan kondisi yang sangat
berbeda namun dapat diperkirakan kekurangan
Sumur-sumur dengan decline terendah pada
fluida di reservoir sehingga penurunan yang
umumnya berada di bagian barat lapangan
tinggi pun terjadi. Debit produksi sumur-sumur
“RM”, daerah ini merupakan daerah yang tidak
dengan penurunan tertinggi cenderung rendah
dialiri atau tidak dipengaruhi oleh proses injeksi
atau kecil, dapat diasumsikan bahwa potensial
serta sumur-sumur ini pula memiliki potensial
panas sumur-sumur tersebut rendah sehingga
uap yang relatif rendah sehingga lebih sering
ketika injeksi dilakukan, panas yang mengalir
berada pada kondisi bleeding oleh sebab itu
tidak mampu dipertahankan. Sumur-sumur ini
decline yang terjadi relatif lebih rendah. Sumur
juga diperkirakan menerima fluida yang lebih
produksi di bagian utara juga mengalami
besar daripada kemampuan dalam menerima
penurunan temperatur dan tekanan yang rendah.
injeksi.
Daerah tersebut merupakan aliran utama sumur
injeksi E. Hal ini membuktikan bahwa kontrol 3. Analisis Geologi
injeksi yang baik akan mampu mempertahankan
Berdasarkan peta geologi regional daerah
kondisi bawah permukaan.
penelitian, struktur dominan yang berkembang
Sumur 2, 7, 9, 10 dan 17 merupakan sumur adalah struktur rim, patahan berarah barat laut-
yang mengalami penurunan temperatur dan tenggara dan patahan berarah barat daya-
tekanan tertinggi. Sumur 2 dan 17 berada di tenggara. Pada daerah penelitian struktur
bagian timur lapangan, sumur 2 dialiri oleh patahan atau sesar sangat mendominasi sehingga
injeksi SMR A sedangkan SMR 17 merupakan mempengaruhi kondisi batuan di bawah
salah satu sumur terdekat dari sumur injeksi A permukaan. Struktur ini juga berperan juga
namun bukan merupakan aliran utamanya, sebagai permeability barrier atau bidang yang
sehingga dapat diperkirakan penurunan yang kedap air yang membatasi daerah yang
terjadi pada kedua sumur produksi tersebut permeabel. Daerah dengan intensitas struktur
dipengaruhi oleh injeksi SMR A. SMR 9 yang tinggi cenderung memiliki batuan yang
merupakan sumur produksi yang diinjeksi SMR lebih porous. Selain keberadaan struktur, kontak
F, sumur produksi ini berdekatan dengan SMR 8 antar formasi dan ketidakselarasan secara lateral
yang kondisinya jauh lebih baik, feed zone SMR juga berperan penting terhadap kondisi
8 lebih dalam dari pada SMR 9, hal ini dapat reservoir.
diasumsikan sebagai salah satu penyebab
terjadinya penurunan yang terjadi. Fluida injeksi
Pipeline 02 yang terletak di bagian Utara reservoir 2001-2005 berdasarkan geotermometer

lapangan, berdasarkan Peta geologi regional D’Amore and Panichi berkisar antara 160°-330°
diperkirakan terletak pada kontak antara Formasi C sedangkan berdasarkan geothermometer
Kuarter Andesit Pasir Jawa (Qvpjw) dan Kuarter H2S/H2 berkisar antara 215°-270° C. Sebagian
Basaltik Andesit Gunung Cakra (Qvck) serta besar sumur produksi memiliki rasio CO2/H2S
dibatasi oleh sesar yang berarah Barat Laut- yang rendah artinya sumur pada kondisi boiling
Tenggara yang diperkirakan juga berpotongn aktif karena proses pembentukan uap masih
dengan struktur berarah Barat Daya-Timur Laut. berlangsung.
Maka dapat diperkirakan bahwa batuan bagian
Respon sumur produksi terhadap rate
tersebut lebih permeable dan dengan kondisi
injeksi cenderung bervariasi untuk masing-
tersebut batuan cenderung lebih konduktif atau
masing sumur. Beberapa sumur bahkan lebih
mengalirkan panas dengan baik sehingga fluida
reaktif terhadap debit injeksi yang tinggi.
yang masuk dapat terpanasi dengan baik. Hal ini
dibuktikan dengan kondisi sumur-sumur Injeksi yang dilakukan terhadap sumur
produksi yang baik. Struktur berarah Barat Laut- injeksi E merupakan yang paling sukses atau
Tenggara ini juga berperan terhadap kondisi memberikan pengaruh paling positif. Hal ini
reservoir sumur-sumur Pipeline 01 di bagian ditandai oleh respon sumur produksi alirannya
timur. Kondisi sumur-sumur yang dipengaruhi yang menunjukkan peningkatan dan tingginya
oleh struktur ini antara lain temperatur insial kandungan Boron serta penurunan flow rate
berkisar 230°-245° C dan rate produksi yang produksi serta temperatur yang cenderung
rata-rata lebih tinggi daripada rate produksi rendah. Feed zone SMR E dengan sumur-sumur
sumur-sumur produksi lain serta kandungan produksinya cenderung sejajar dan dangkal,
Boron yang tinggi, khususnya di bagian Utara. dapat diperkirakan bahwa sumber panas di
daerah tersebut cenderung dekat dengan
Untuk sumur-sumur yang berada di bagian
permukaan atau intensitas struktur daerah
tengah lapangan lebih dikontrol oleh setting rim
tersebut cenderung lebih besar sehingga
structure yang stepnya memisahkan bagian
batuannya lebih permeable dan porous
tengah lapangan dengan bagian barat. Selain
akibatnya panas lebih cepat mengalir dan
dipengaruhi oleh struktur rim, bagian tengah
memanaskan fluida injeksi.
lapangan juga dipengaruhi oleh keberadaan
struktur berarah Barat Daya-Timur Laut. Perbedaan yang cukup mencolok antara
sumur produksi yang diinjeksi dengan sumur
KESIMPULAN
produksi yang tidak diinjeksi, diantaranya
Tipe gas panas bumi lapangan “RM” adalah gas yang kandungan Boron pada sumur yang diinjeksi
berasal dari brine dengan pH netral. Temperaratur
lebih tinggi sedangkan penurunan rate DAFTAR PUSTAKA
produksinya cenderung lebih rendah. Hal ini
Nicholson, K., 1993, Geothermal Fluids
diperkirakan dipengaruhi oleh proses injeksi Chemistry & Exploration Technique
yang membantu dalam memproduksi dan Springer Verlag, Inc. Berlin. page 1-115
menjaga debit uap sumur produksi. Bogie, I and B. G. Lovelock. The Recognition of
Quenched Magmatic Gases in Fumaroles
Penurunan temperatur dan tekanan dari as Geothermal Exploration Tool. Page 73-
79
keadaan initial terjadi pada hampir seluruh
sumur produksi. Sumur SMR 2, SMR 9, SMR H. Abu Dawud; R. Roberts; S. Arias; M.
Purwantoko, and M. Philip. 2010. The role
10 dan SMR 17 merupakan sumur-sumur of Boron Cycling and Superheat
dengan penurunan tertinggi. Terjadinya Monitoring for Field Production and
Injection Strategies at The Darajat
penurunan yang tinggi pada dasarnya Geothermal Field, Garut, Indonesia,
diakibatkan oleh proses produksi yang sudah World Geothermal Congress Paper, Bali,
Indonesia, April 25-29, 2010
berlangsung sangat lama serta injeksi yang
M.R. Purwantoko; M. Philip and H Abu Dawud.
kurang tepat, contohnya terjadi pada SMR 2 dan 2010. Review of Baseline Geothecnical
9. SMR 10 dan 17 mengalami penurunan yang Model and Impact of Production at
Darajat Geothermal Field, Indonesia,
tinggi akibat kurangnya fluida atau recharge World Geothermal Congress Paper, Bali,
yang masuk ke reservoir. Indonesia, April 25-29, 2010

Powell, T. 2000. A Review of Exploration Gas


Struktur dominan yang berkembang adalah Geothermometry, 25th Workshop on
struktur rim, patahan berarah barat laut-tenggara Geothermal Reservoir Engineering,
Stanford University, Stanford, California,
dan patahan berarah barat daya-tenggara. Selain SGP-TR-165
struktur, kontak antar formasi dan
Powell, Tim and W. Cumming. 2010.
ketidakselarasan secara lateral juga berperan Spreaadsheets for Geothermal Water and
Gas Chemistry, 35th Workshop on
penting terhadap kondisi reservoir. Daerah
Geothermal Reservoir Engineering,
bagian Utara dikontrol oleh kontak antara Stanford University, , Stanford,
California, SGP-TR-188, February 1-3,
Formasi Kuarter Andesit Pasir Jawa (Qvpjw)
2010
dan Kuarter Basaltik Andesit Gunung Cakra
(Qvck) serta sesar berarah Barat Laut-Tenggara
yang berpotongn dengan struktur berarah Barat
Daya-Timur Laut. Struktur berarah Barat Laut-
Tenggara ini juga mengontrol kondisi reservoir
dibagian timur. Bagian tengah lapangan lebih
dikontrol oleh setting rim structure.