Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA KAPAL


OSILOSKOP

Oleh :
Kelompok 11

1. Ni Luh Triska Adelia (04211640000012)


2. Afanda Dwi Ragil Risnavian (04211640000023)
3. Muchammad Rifki Abdillah (04211640000069)
4. Rendy Vredi Ristanto (04211640000070)
5. Evan Harley Anaktototy (04211540007001)

LABORATORIUM LISTRIK KAPAL DAN OTOMATISASI


DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM ELEKTRONIKA KAPAL
OSILOSKOP

Dengan ini kami telah menyelesaikan praktikum


OSILOSKOP
pada rangkaian praktikum Elektronika Kapal

09 Oktober 2017

Mengetahui / Menyetujui
Grader Praktikum Osiloskop

Grader 1 Grader 2 Grader 3

Nano Prabowo Yose Gregory Tarigan Fatiya Indriana Sarasvati


NRP : 04211440000060 NRP : 04211440000041 NRP : 04211440000111

LABORATORIUM LISTRIK KAPAL DAN OTOMATISASI


DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN
FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017
ABSTRAK

Osiloskop biasanya digunakan untuk mengamati bentuk gelombang yang tepat dari
sinyal listrik.Selain amplitudo sinyal, osiloskop dapat menunjukkan distorsi, waktu antara
dua peristiwa (seperti lebar pulsa, periode, atau waktu naik) dan waktu relatif dari dua sinyal
terkait.Semua alat ukur elektronik bekerja berdasarkan sampel data, semakin tinggi sampel
data, semakin akurat peralatan elektronik tersebut.Osiloskop, pada umumnya juga
mempunyai sampel data yang sangat tinggi, oleh karena itu osiloskop merupakan alat ukur
elektronik yang mahal. Jika sebuah osiloskop mempunyai sampel rate 10 Ks/s (10 kilo
sample/second = 10.000 data per detik), maka alat ini akan melakukan pembacaan sebanyak
10.000 kali dalam sedetik. Jika yang diukur adalah sebuah gelombang dengan frekuensi
2500 Hz, maka setiap sampel akan memuat data 1/4 dari sebuah gelombang penuh yang
kemudian akan ditampilkan dalam layar dengan grafik skala XY. Contoh pada percobaan 1,
dari tabel pengamatan telah di tentukan frekuensi = 3000Hz, tegangan output = 4v dan dari
osiloskop telah diatur voltage scala = 3,2 div, amplitudo = 1,1 div.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Elektronika merupakan ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan
dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik. Banyak peralatan saat ini
yang memanfaatkan ilmu elektronika karena dianggap dapat membantu pekerjaan sehari – hari
dan mengatasi masalah yang belum bisa teratasi. Hal lain yang menjadi kelebihan alat elektronik
yaitu penggunaannya pada alat ukur. Alat ukur konvensional seperti penggaris, micrometer
sekrup, dan lain sebagainya hanya dapat mengukur benda yang bersifat nyata. Ketika mengukur
hal yang tidak nyata seperti amplitudo, frekuensi, panjang gelombang listrik, alat ukur
konvensional tidak akan bisa mengatasi masalah tersebut. Maka hal ini mendasari para ilmuan
membuat alat ukur elektronik untuk mengukur hal – hal yang bersifat tidak nyata.
Osiloskop adalah alat yang dapat memetakan sinyal listrik.Dengan mengunakan osiloskop
kita dapat mengetahui besaran – besaran pada signal listrik seperti tegangan, frekuensi, periode
dan bentuk sinyal dari objek yang diukur.Dengan menggunakan osiloskop lebih memudahkan
kita dalam mengukur banyak besaran semuanya.
Osiloskop banyak digunakan pada industri-industri seperti penelitian, sains, engineering,
medical dan telekomunikasi. Oleh karena osiloskop sangat penting untuk diketahui dan dipelajari,
terutama untuk mahasiswa dalam bidang kelistrikan, maka pada kesempatan ini membuat
laporan mengenai osiloskop beserta penjelasan dan prinsip kerja dari osiloskop.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara kerja osiloskop?
2. Bagaimana cara mengukur frekuensi dan amplitudo gelombang?
3. Bagaimana perbandingan bentuk gelombang ketika skala perhitungan divariasikan?

1.3 Tujuan Praktikum


Praktikum osiloskop ini bertujuan agar dapat mengetahui cara kerja osiloskop dan dapat
mengetahui perbandingan gelombang baik perbedaan frekuensi, amplitudo maupun perbedaan
bentuk gelombang.
1. Mengetahui cara kerja osiloskop
2. Mengetahui cara mengukur nilai frekuensi dan amplitudo gelombang
3. Mengetahui perbandingan bentuk gelombang ketika skala perhitungan divariasikan

1.4 Manfaat Praktikum


Manfaat dari paktikum osiloskop ini antara lain:
1. Mengetahui cara mengukur gelombang frekuensi dan amplitudo pada osiloskop
2. Mengetahui perbandingan bentuk gelombang
3. Mengetahui perbandingan bentuk gelombang ketika skala perhitungan divariasikan
BAB II
DASAR TEORI
2.1. Pengertian Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk
sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode. Peranti
pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode. Sorotan elektron
membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan sorotan bergerak
berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat
dipelajari.
Kebanyakan Osiloskop juga dilengkapi dengan alat pengukuran yang dapat mengukur
Frekuensi, Amplitudo dan karakteristik gelombang sinyal listrik. Secara umum, Osiloskop dapat
mengukur karakteristik yang berbasis Waktu (Time) dan juga karakteristik yang berbasis tegangan
(Voltage).

Osiloskop diklasifikasikan menjadi dua, yaitu osiloskop analog dan osiloskop digital.
2.1.1 Osiloskop Analog.
Osiloskop analog menggunakan tegangan yang diukur untuk menggerakkan berkas electron
dalam tabung sesuai bentuk gambar yang diukur. Pada layar osiloskop langsung ditampilkan
bentuk gelombang tersebut. Osiloskop tipe waktu nyata analog (ART) menggambar bentuk-
bentuk gelombang listrik dengan melalui gerakan pancaran elektron (electron beam) dalam
sebuah tabung sinar katoda (CRT -cathode ray tube) dari kiri ke kanan.

Gambar 2.1 Osiloskop Analog


Sumber : https://ae01.alicdn.com

2.1.2 Osiloskop Digital

Osiloskop digital mencuplik bentuk gelombang yang diukur dan dengan menggunakan ADC
(Analog to Digital Converter) untuk mengubah besaran tegangan yang dicuplik menjadi
besaran digital.

Dalam osiloskop digital, gelombang yang akan ditampilkan lebih dulu disampling (dicuplik)
dan didigitalisasikan. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan ini bersama sama
dengan skala waktu gelombangnya di memori. Pada prinsipnya, osiloskop digital hanya
mencuplik dan menyimpan demikian banyak nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang
proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan.
Gambar 2.2 Osiloskop Digital

Sumber : http://3.bp.blogspot.com

2.2 Bagian-bagian Osiloskop


2.2.1. Bagian Utama pada Osiloskop
Osiloskop terdiri dari dua bagian utama, yaitu Display dan Panel Control. Display menyerupai layar
tampilan pada layar televisi, layar ini merupakan bagian depan dari suatu tabung panjang yang
disebut tabung sinar katoda. Display pada osiloskop berfungsi sebagai tempat tampilan sinyal uji.
Pada display osiloskop terdapat garis-garis melintang secara vertikal dan horizontal yang
membentuk kotak-kotak yang disebut dengan div. Sumbu Y (vertikal) mempresentasikan tegangan
(V) dan sumbu X (horizontal) mempresentasikan besaran waktu (t). Sedangkan panel kontrol berisi
tombol-tombol yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar.

Gambar 2.3 Gambar Osiloskop


Sumber : Modul Praktikum Osiloskop 2017
No Bagian – Bagian Osiloskop Fungsi
1 Tombol Power ON/OFF Tombol Power ON/OFF berfungsi untuk menghidupkan dan
mematikan osiloskop
2 Intensity Intensity digunakan untuk mengatur kecerahan tampilan
bentuk gelombang agar mudah dilihat
3 Focus Focus digunakan untuk mengatur penampilan bentuk
gelombang sehingga tidak kabur
4 Vertical Mode
5 Inv (Invert) Saat tombol Inv ditekan, sinyal input yang bersangkutan
akan dibalikan.
6 XY Pada fungsi XY ini digunakan, input saluran 1 akan menjadi
axis X dan input saluran 2 akan menjadi axis Y.
7 Triggering Mode
8 Triggering Source Sumber pengukuran data pada osiloskop yang didapat dari
channel1, channel2, line, atau sumber dari rangkaian di luar
osiloskop (EXT)
9 Level Trigger Level digunakan untuk mengatur gambar yang
diperoleh menjadi diam atau tidak bergerak.
10 Slope
11 Vertical Position Posistion yang digunakan untuk mengatur posisi gelombang
secara vertikal (masing-masing saluran/channel memiliki
pengatur position)
12 Vertical Variable Fungsi vertical variable pada osiloskop adalah untuk
mengatur kepekaan (sensitivitas) arah vertikal pada saluran
atau channel yang bersangkutan. Putaran maksimum
variable adalah cal yang berfungsi untuk melakukan
kalibrasi tegangan 1 volt tepat pada 1cm di layar osiloskop.
13 Volt/Div Volt/Div digunakan untuk memilih besarnya tegangan per
sentimeter (volt/div) pada layar osiloskop. Umumnya,
osiloskop memiliki dua saluran (dual channel) dengan dua
sakelar volt/div. Biasanya tersedia pilihan 0,01 v/div hingga
20 v/div.
14 Sakelar AC – DC – GND Pilihan AC digunakan untuk mengukur sinyal AC, sinyal
input yang mengandung DC akan ditahan/diblokir oleh
sebuah kapasitor. Sedangkan pada pilihan posisi DC maka
input terminal akan terhubung langsung dengan penguat
yang ada di dalam osiloskop dan seluruh sinyal input akan
ditampilkan pada layar osiloskop. Jika tombol GND
diaktifkan, maka terminal input akan terbuka, input yang
bersumber dari penguatan internal osiloskop akan
ditanahkan (grounded).
15 Horizontal Position Untuk penyetelan tampilan kiri-kanan gelombang pada layar
display.
16 Horizontal Variable Fungsi variable pada bagian horizontal adalah untuk
mengatur kepekaan (sensitivitas) Time/Div.
17 Sweep Time/Div Sweep Time/Div digunakan untuk memilih skala besaran
waktu dari suatu periode atau per satu kotak cm pada layar
osiloskop.
18 X 10 MAG Untuk pembesaran (magnification) frekuensi hingga 10 kali
lipat.
19 CAL (Time/Div) CAL berfungsi untuk kalibrasi Time/Div
20 Input Channel Sebagai vertical input untuk saluran/channel 1 dan 2
21 Konektor Ground Tempat untuk memasang kabel yang dihubungkan ke
ground (tanah) untuk keselamatan pengguna osiloskop.
22 EXT Trigger Trigger yang dikendalikan dari rangkaian di luar osiloskop.
23 Layar Display Layar yang menampilkan gelombang yang terbentuk dan
digunakan untuk membaca dan mengukur gelombang yang
dihasilkan dari percobaan.

2.2.2. Tampilan pada Layar Osiloskop


 Layar Osiloskop
 Trace, garis yang digambar oleh Osiloskop yang mewakili sinyal
 Garis Grid Horizontal
 Garis Grid Vertical
 Garis Tengah Horizontal dan Vertika

2.3 Prinsip Kerja Osiloskop


Prinsip kerja osiloskop yaitu menggunakan layar katoda. Dalam osiloskop terdapat tabung
panjang yang disebut dengan tabung sinar katode atau Cathode Ray Tube (CRT). Secara prinsip
kerjanya ada dua tipe osiloskop, yakni tipe analog/ART (Analog Real Time) dan tipe
digital/DSO (Digital Storage Osciloscope). Pada praktikum osiloskop yang digunakan adalah
osiloskop analog. Berikut adalah gambar prinsip kerja osiloskop :
Gambar 2.6. Prinsip Kerja Osiloskop
(Sumber : www.explainthatstuff.com)

2.3.1 Prinsip Kerja Osiloskop Analog


1. Pada saat osiloskop dihubungkan dengan sirkuit uji, sinyal tegangan bergerak melalui
probe ke sistem vertikal.
2. Attenuator akan memperkecil sinyal masukan yang bergantung pada pengaturan skala
vertikal (volts/div) sedangkan amplifier akan memperkuat sinyal masukan.
3. Sinyal tersebut akan bergerak melalui keping pembelok vertikal, mengakibatkan titik
cahaya bergerak (berkas elektron yang menumbuk fosfor akan menghasilkan pendaran
cahaya). Tegangan positif akan menyebabkan titik tersebut naik sedangkan tegangan
negatif akan menyebabkan titik tersebut turun.
4. Sinyal akan bergerak juga ke bagian sistem trigger untuk memulai sapuan horizontal
(horizontal sweep). Sapuan horizontal ini menyebabkan titik cahaya bergerak melintasi
layar.
5. Secara bersamaan kerja sistem penyapu horizontal dan sistem vertikal akan menghasilkan
pemetaan sinyal pada layar.

2.3.2 Prinsip Kerja Osiloskop Digital


1. Gelombang yang akan ditampilkan disampling dan didigitalisasikan terlebih dahulu.
2. Osiloskop kemudian menyimpan nilai-nilai tegangan ini bersama sama dengan skala
waktu gelombangnya di memori.
3. Pada prinsipnya, osiloskop digital hanya mencuplik dan menyimpan demikian banyak
nilai dan kemudian berhenti. Ia mengulang proses ini lagi dan lagi sampai dihentikan.
Beberapa DSO memungkinkan untuk memilih jumlah cuplikan yang disimpan dalam
memori per akuisisi (pengambilan) gelombang yang akan diukur.
4. DSO melakukan dalam satu event pemicuan secara rutin mengukur dan menyimpan sinyal
masukan, mengalirkan nilainya melalui memori (dengan cara pertama yang disimpan,
maka yang pertama pula akan dikeluarkan) sambil menanti picu terjadi.
5. Sekali osiloskop ini mengenali event picu yang didefinisikan oleh penggunanya, osiloskop
mengambil sejumlah cuplikan yang kemudian mengirimkan informasi gelombangnya ke
layar, karena kerja pemicuan yang demikian ini sehingga dapat menyimpan informasi
yang diperoleh sebelum picu (pretrigger).

2.4 Fungsi Osiloskop


Osiloskop berfungsi untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah
terhadap waktu yang ditampilkan pada layar, untuk melihat bentuk sinyal yang sedang
diamati. Dengan osiloskop maka kita dapat mengetahui berapa frekuensi, periode dan
tegangan dari sinyal, juga bisa mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal
keluaran. Ada beberapa kegunaan osiloskop lainnya, yaitu :
 Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya terhadap waktu.
 Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi.
 Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah rangakaian listrik.
 Membedakan arus AC dengan arus DC.
 Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu.
Osiloskop terdiri dari dua bagian utama yaitu display dan panel kontrol. Display
menyerupai tampilan layar televisi hanya saja tidak berwarna warni dan berfungsi sebagai
tempat sinyal uji ditampilkan. Pada layar ini terdapat garis-garis melintang secara vertikal
dan horizontal yang membentuk kotak-kotak dan disebut div. Arah horizontal mewakili
sumbu waktu dan garis vertikal mewakili tegangan. Panel kontrol berisi tombol-tombol
yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar.
Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua kanal yang bisa digunakan untuk melihat
dua sinyal yang berlainan, sebagai contoh kanal satu untuk melihat sinyal masukan dan
kanal dua untuk melihat sinyal keluaran.
Ada beberapa jenis tegangan gelombang yang akan diperlihatkan pada layar monitor
osiloskop, yaitu:
 Gelombang sinusoida
 Gelombang gigi gergaji
 Gelombang segitiga
 Gelombang segitiga
Secara umum osiloskop hanya untuk circuit osilator (VCO) di semua perangkat yg
menggunakan rangkaian VCO. Walau sudah berpengalaman dalam hal menggunakan
osiloskop, kita harus mempelajari tombol instruksi dari pabrik yg mengeluarkan alat itu.
2.5 Definisi dan Fungsi Function Generator
Generator fungsi (function generator) juga memiliki pengertian sebuah alat ukur yang
menghasilkan, atau membangkitkan, dan memberikan suatu pilihan beberapa bentuk
gelombang yang frekuensi-frekuensinya diatur sepanjang rangkuman (range) yang lebar.
Bentuk-bentuk yang lazim digunakan adalah sinusoida, segitiga, persegi, dan gigi gergaji.
Frekuensi bentuk-bentuk gelombang ini dapat bisa diatur dari satu hertz sampai beberapa ratus
kilokertz (kHz) bahkan sampai megahertz (MHz).

Gambar 2.7. Function Generator

Generator fungsi merupakan peralatan atau software uji coba elektronik yang
digunakan untuk menciptakan gelombang listrik. Gelombang ini bisa berulang-ulang atau
satu kali yang dalam kasus ini semacam sumber pemicu diperlukan, secara internal
ataupun eksternal. Pada function generator terdapat beberapa bagian, diantaranya sebagai
berikut :
1. Saklar daya, yaitu untuk menyalakan generator sinyal, menyambungkan generator
sinyal ke tegangan jala-jala, lalu menekan saklar daya.
2. Pengatur frekuensi, untuk mengatur frekuensi keluaran dalam range frekuensi yang
telah dipilih.
3. Indikator frekuensi, untuk menunjukkan nilai frekuensi sekarang.
4. Amplitude output, dengan memutar searah jarum jam untuk mendapatkan tegangan
output yang maksimal, dan kebalikannya.
5. Selektor fungsi, dengan menekan salah satu dari ketiga tombol ini untuk memilih
bentuk gelombang output yang diinginkan.
6. Terminal output, yaitu terminal yang mengelurakan sinyal output utama.
7. Selektor frekuensi, dengan menekan tombol yang relevan untuk memilih range
frekuensi yang dibutuhkan.
2.6. Aplikasi Osiloskop di Darat (Land use)
Fungsi Gambar Keterangan
Dalam keidupan sehari – hari osiloskop
sangat berguna untuk melihat bentuk
isyarat elektronika. Misalnya, pada alat
Pendeteksi
elektronik yaitu komputer yang
Kerusakan
menghasilkan isyarat berbeda dengan
Komputer
isyarat listrik yang dihasilkan pada
osiloskop, maka dapat dipastikan adanya
kerusakan pada komputer tersebut.
Elektrokardiogram (ECG) merupakan
suatu prosedur diagnostik untuk
memeriksa ada tidaknya komplikasi atau
Pengukur kelainan dengan aktifitas kelistrikan
Detak jantung. ECG akan menterjemahkan
Jantung aktifitas kelistrikan jantung kedalam jejak
baris yang dapat digunakan oleh dokter
untuk mendeteksi abnormalitas detak dan
ritme jantung
Kita bisa menggunakan mikrofon (jenis
transducer yang mengubah energi suara
Mempelajari menjadi sinyal listrik) untuk mempelajari
Gelombang sinyal suara dengan memasangnya ke
Suara Osiloskop.

2.7. Aplikasi Osiloskop di Laut (Marine Use)


Fungsi Gambar Keterangan
Karena komponen listrik di kapal
merupakan hal yang penting dan tidak
diperbolehkan adanya gangguan listrik
Pendeteksi
yang fatal ketika kapal berlayar, maka
Kerusakan
sangat di anjurkan untuk melakukan
Komponen
pengecekan secara berkala. Pengecekan
Listrik Kapal
tersebut dapat menggunakan osiloskop
untuk mengetahui adanya perbedaan
isyarat yang dihasilkan suatu komponen
dengan isyarat yang dibaca pada
osiloskop.
Alat BDI ini berfungsi sebagai indikator
visual dari suara yang dihasilkan oleh
gelombang kapal selam. Alat ini didesain
Bearing
oleh Havard Underwater Sound
Deviation
Laboratory (HUSL) dan menjadi
Indicator
perlengkapan standar angkatan laut (Carl:
(BDI)
1946). Inti dari rangkainnya adalah
sensor gelombang laut yang hasilnya di
visualisasikan oleh Osiloskop.
Fungsi Osiloskop pada sistem sonar
adalah untuk memvisualisasikan
gelombang, sehingga waktu yang
Sound
dibutuhkan gelombang ultrasonik untuk
Navigation
menghantam suatu benda lalu kembali
And Ranging
dapat diukur, dimana hasil dari waktu
(SONAR)
jeda ini dapat digunkan untuk
memperkirakan jarak suatu benda dari
pemancar gelombang ultrasonik.
BAB III
DATA PRAKTIKUM
3.1 Peralatan dan Fungsi

3.1.1. Osiloskop
Fungsi : Memproyeksikan bentuk sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari.

Gambar 3.1.1 Osiloskop


(Sumber : Data Pribadi Praktikum)

3.1.2. Function Generator


Fungsi : Memproduksi suatu sinyal yang diinginkan bedasarkan frekuensi, bentuk sinyal,
dan amplitude yang spesifik.

Gambar 3.1.2 Function Generator


(Sumber : Data Pribadi Praktikum)
3.1.3. Kabel
Fungsi : Sebagai penghubung antara Osiloskop dengan Function Generator.

Gambar 3.1.3 Kabel


(Sumber : Data Pribadi Praktikum)

3.2 Langkah Kerja


1. Hubungkan Osiloskop dengan Function Generator menggunakan kabel.
2. Nyalakan Osiloskop dan Function Generator.
3. Atur frekuensi, tegangan output, sweep time, voltage scale, dan bentuk gelombang
sesuai tabel.
4. Catat hasil pengamatan pada tabel.
5. Ambil gambar tampilan pada osiloskop dengan kamera.

3.3 Tabel Pengamatan

3.3.1 Percobaan I : Perubahan Frekuensi


Voltage Scale : 2 V / div
Sweep Time : 100 µs

Tegangan
Frekuensi Periode Amplitudo Gambar
No output
(Hz) (div) (div)
(v)

1 3000 4 3,2 1,1


2 4000 4 2,4 1,1

3 5000 4 2,0 1,1

4 6000 4 0,8 1,1

5 7000 4 0,6 1,1

3.3.2 Percobaan II : Perubahan Amplitudo


Voltage Scale : 2 V / div
Sweep Time : 100 µs

Frekuensi
Tegangan Periode Amplitudo Gambar
No
Output (div) (div)
(Hz)
(v)
1 4000 2 2,4 0,4

2 4000 4 2,4 1,0

3 4000 6 2,4 1,4

4 4000 8 2,4 2,0

5 4000 10 2,4 2,4

3.3.3 Percobaan III : Perubahan Sensitivitas Tegangan


Tegangan Output : 4 V
Frekuensi : 4 kHz

Sweep
Voltage Periode Amplitudo Gambar
No Time
Scale (div) (div)
(µs)
1 100 5 2,4 0,3

2 100 2 2,4 1,0

3 100 1 2,4 2,0

4 100 0,5 2,4 4,0

5 100 0,2 2,4 10


3.3.4 Percobaan IV : Perubahan Sweep Time
Tegangan Output : 4 V
Frekuensi : 2 kHz

Sweep Voltage Periode Amplitudo Gambar


No
Time Scale (div) (div)
(µs)

1 100 2 4,6 1

2 200 2 2,2 1

3 500 2 1 1

4 1000 2 0,5 1

5 2000 2 0,2 1
3.3.5 Percobaan V : Perubahan Bentuk Gelombang
Voltage Scale : 2 V / div
Sweep Time : 100 µs

Bentuk
Frekuensi Periode Amplitudo Gambar
No Tegangan gelombang
(Hz) (div) (div)
Output

1 3000 4 Sinusoid 3,2 1,0

2 3000 6 Sinusoid 3,2 2,6

3 4000 6 Sinusoid 2,4 1,5

4 4000 4 Sinusoid 2,4 1,0

5 4000 4 Square 2,4 1,0

6 4000 6 Square 2,4 1,5


7 000 6 Square 3,2 1,5

8 3000 4 Square 3,2 1,0

9 3000 4 Triangular 3,2 1,0

10 3000 6 Triangular 3,2 1,6

11 4000 6 Triangular 2,4 1,5

12 4000 4 Triangular 2,4 1,0


BAB IV
ANALISA DATA

IV.1Perhitungan
IV.1.1Rumus
Dalam percobaan praktikum osiloskop didapat data periode dan amplitudo dengan
satuan div. Berada pada layar osiloskop besarnya 1 kotak adalah 1 x 1 cm. Dimana
bagian horizontal besarnya sama dengan skala sweep time dan vertikal sama dengan
voltage scale.

div
div

Berikut adalah rumus – rumus perhitungan yang digunakan pada praktikum Osiloskop :
 Periode
𝑇[𝑠] = 𝑠𝑤𝑒𝑒𝑝 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑠/𝑑𝑖𝑣] × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑣𝑖𝑠𝑖 ℎ𝑜𝑟𝑖𝑧𝑜𝑛𝑡𝑎𝑙 [𝑑𝑖𝑣]

 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] =
𝑇[𝑠]
 Tegangan
𝑉[𝑉] = 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣] × ( 2 × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑖𝑣𝑖𝑠𝑖 𝑣𝑒𝑟𝑡𝑖𝑘𝑎𝑙 [𝑑𝑖𝑣] )
 Amplitudo
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
𝐴= [𝑑𝑖𝑣]
2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
4.1.1. Hasil Perhitungan
Percobaan 1 : Perubahan Frekuensi
Contoh perhitungan menggunakan data 1 sebagai berikut :
 T = Sweep time scale [s/div] × jumlah divisi horizontal [div]
= (100x10-6) x 3.2
= 0.00032 s
1
 f =
T
1
=
0.00032
= 3125 Hz
 V = voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal [div] )
= 2 x (1x2)
=4V
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
 A = 2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
4
= 2×2

= 1 div

Hasil Perhitungan Percobaan 1 :

Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No Frekuens Teganga Period Amplitud Frekuens Teganga Amplitud
Periode
i n e o i n o
Hz V div div S Hz V div
0.0003
3000 4 3.2 1.1
1 2 3125 4.4 1.1
0.0002
4000 4 2.4 1.1
2 4 4166.667 4.4 1.1
3 5000 4 2 1.1 0.0002 5000 4.4 1.1
0.0000
6000 4 0.8 1.1
4 8 12500 4.4 1.1
0.0000
7000 4 0.6 1.1
5 6 16666.67 4.4 1.1

Percobaan 2 : Perubahan Amplitudo


Contoh perhitungan menggunakan data 1 sebagai berikut :
 T = Sweep time scale [s/div] × jumlah divisi horizontal [div]
= (100x10-6) x 2.4 cm
= 0.00024 s
1
 f =
T
1
=
0.00024
= 4166.67 Hz
 V = Voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal [div] )
= 2 x (0.4x2)
= 1.6 V
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
 A = 2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
2
=
2×2

= 0.5 div

Hasil Perhitungan Percobaan 2 :

Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No Frekuens Teganga Period Amplitud Frekuens Teganga Amplitud
Periode
i n e o i n o
Hz V div div S Hz V div
0.0002
4000 2 2.4 0.4
1 4 4166.667 1.6 0.4
0.0002
4000 4 2.4 1
2 4 4166.667 4 1
0.0002
4000 6 2.4 1.4
3 4 4166.667 5.6 1.4
0.0002
4000 8 2.4 2
4 4 4166.667 8 2
0.0002
4000 10 2.4 2.4
5 4 4166.667 9.6 2.4

Percobaan 3 : Perubahan Sensitivitas Tegangan


Contoh perhitungan menggunakan data 1 sebagai berikut :
 T = Sweep time scale [s/div] × jumlah divisi horizontal [div]
= (100x10-6) x 2.4 cm
= 0.00024 s
1
 f =
T
1
=
0.00024
= 4166.67 Hz
 V = Voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal [div] )
= 5 x (0.4x2)
=4V
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
 A = 2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
4
= 2×5

= 0.4 div

Hasil Perhitungan Percobaan 3 :

Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No Sweep Voltage
Periode Amplitudo Periode Frekuensi Tegangan Amplitudo
Time scale
μs V Div Div S Hz V div
1 100 5 2.4 0.3 0.00024 4166.667 3 0.3
2 100 2 2.4 1 0.00024 4166.667 4 1
3 100 1 2.4 2 0.00024 4166.667 4 2
4 100 0.5 2.4 4 0.00024 4166.667 4 4
5 100 0.2 2.4 10 0.00024 4166.667 4 10

Percobaan 4 : Perubahan Sweep Time


Contoh perhitungan menggunakan data 1 sebagai berikut :
 T = Sweep time scale [s/div] × jumlah divisi horizontal [div]
= (100x10-6) x 4.8 cm
= 0.00048 s
1
 f =
T
1
=
0.00048
= 2083.33 Hz
 V = Voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal [div] )
= 2 x (1x2)
=4V
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
 A =
2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
4
=
2×2

= 1 div

Hasil Perhitungan Percobaan 4 :

Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No Sweep Voltage
Periode Amplitudo Periode Frekuensi Tegangan Amplitudo
Time scale
μs V Div Div S Hz V div
1 100 2 4.6 1 0.00046 2173.913 4 1
2 200 2 2.2 1 0.00044 2272.727 4 1
3 500 2 1 1 0.0005 2000 4 1
4 1000 2 0.5 1 0.0005 2000 4 1
5 2000 2 0.2 1 0.0004 2500 4 1

Percobaan 5 : Perubahan Bentuk Gelombang


Contoh perhitungan menggunakan data 1 sebagai berikut :
 T = Time/Div x sapuan horisontal per siklus
= (100x10-6) x 3.2
= 0.00032 s
1
 f =
T
1
=
0.00032
= 3125 Hz
 V = Voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal [div] )
= 2 x (1x2)
=4V
𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 [𝑉]
 A = 2 × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 [𝑉/𝑑𝑖𝑣]
4
= 2×2

= 1 div

Hasil Perhitungan Percobaan 5 :

Hasil Pengamatan Hasil Perhitungan


No Frekuen Tegang Perio Amplitu Period Frekuen Tegang Amplitu
Gelomba
si an de do e si an do
ng
Hz V div Div s Hz V div
0 3000 4 Sinusoid 3.2 1 0.0003 3125 4 1
2
0.0003
3000 6 Sinusoid 3.2 2.6
1 2 3125 10.4 2.6
0.0002 4166.66
4000 6 Sinusoid 2.4 1.5
2 4 7 6 1.5
0.0002 4166.66
4000 4 Sinusoid 2.4 1
3 4 7 4 1
0.0002 4166.66
4000 4 Square 2.4 1
4 4 7 4 1
0.0002 4166.66
4000 6 Square 2.4 1.5
5 4 7 6 1.5
0.0003
0 6 Square 3.2 1.5
6 2 3125 6 1.5
0.0003
3000 4 Square 3.2 1
7 2 3125 4 1
Triangula 0.0003
3000 4 3.2 1
8 r 2 3125 4 1
Triangula 0.0003
3000 6 3.2 1.6
9 r 2 3125 6.4 1.6
Triangula 0.0002 4166.66
4000 6 2.4 1.5
10 r 4 7 6 1.5
Triangula 0.0002 4166.66
4000 4 2.4 1
11 r 4 7 4 1

4.2. Analisa Grafik


A. Percobaan 1 : Perubahan Frekuensi
a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode

Frekuensi Vs Periode
8000

7000

6000
Frekuensi (Hz)

Pengamatan
5000
Hitungan
4000

3000

2000
0 0.0001 0.0002 0.0003 0.0004
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai frekuensi ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai periode yang didapat. Semakin kecil periode
maka frekuensi akan semakin besar. Hal ini sudah sesuai rumus f = 1/T tetapi pada grafik
menunjukkan perbedaan nilai frekuensi diakibatkan kurang teliti saat pengamatan.
b. Perbandingan Frekuensi Pengamatan Dengan Frekuensi Hitungan

Frekuensi Pengamatan Vs Frekuensi Hitungan


8000

7000

6000
Frekuensi (Hz)

Pengamatan
5000
Hitungan
4000

3000

2000
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai frekuensi ketika perhitungan berbanding lurus
dengan nilai frekuensi ketika pengamatan. Hal ini sudah sesuai tetapi frekuensi perhitungan
memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan frekuensi pengamatan, perbedaan nilai tersebut
dapat disebabkan karena kurang ketelitian ketika melakukan pengamatan.

c. Perbandingan Tegangan Pengamatan Dengan Tegangan Hitungan

Tegangan Pengamatan Vs Tegangan Hitungan


5

4
Tegangan (Volt)

3
Pengamatan

2 Hitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai tegangan perhitungan dan
nilai tegangan ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini sudah
sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

d. Perbandingan Amplitudo Pengamatan Dengan Amplitudo Hitungan


5
Amplitudo Pengamatan Vs
Amplitudo Hitungan
Amplitudo (div) 4

3
Pengamatan

2 Hitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai amplitudo perhitungan dan
nilai amplitudo ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini sudah
sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

e. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

5
Periode Pengamatan Vs Periode
Hitungan
4
Periode (div)

3
Pengamatan

2 Hitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai hubungan antara nilai periode pengamatan
dan nilai periode perhitungan memiliki nilai yang sama dan sama – sama mengalami
penurunan (berbanding terbalik) terhadap urutan percobaan. Hal ini sudah sesuai dan tidak
ada kesalahan pengamatan.

B. Percobaan 2 : Perubahan Amplitudo


a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode
Frekuensi Vs Periode
4500
4400
4300
4200
Frekuensi (Hz)

4100
Pengamatan
4000
3900 Hitungan
3800
3700
3600
3500
0 0.00005 0.0001 0.00015 0.0002 0.00025 0.0003
Periode (sekon)

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan frekuensi dengan periode saat
pengamatan maupun saat perhitungan tetap pada satu titik. Ini disebabkan karena pada
percobaan 2 frekuensi merupakan variabel tetap sehingga periode juga bernilai tetap. Hal ini
sudah sesuai tetapi pada grafik menunjukkan perbedaan nilai frekuensi diakibatkan kurang
teliti saat pengamatan.

b. Perbandingan Frekuensi Pengamatan Dengan Frekuensi Hitungan

Frekuensi Pengamatan Vs Frekuensi Hitungan


4200

4160

4120
Frekuensi (Hz)

Pengamatan
4080
Hitungan
4040

4000

3960
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara frekuensi perhitungan dan
frekuensi ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini sudah sesuai
tetapi nilai frekuensi ketika perhitungan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan ketika
pengamatan. Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan karena kurang ketelitian ketika
melakukan pengamatan.
c. Perbandingan Tegangan Pengamatan Dengan Tegangan Hitungan

Perbandingan Tegangan Masuk dan


12
Tegangan Hitung
10
Tegangan (volt)

8
Pengamatan
6 Hitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke-

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai tegangan ketika perhitungan berbanding lurus
dengan nilai tegangan ketika pengamatan. Hal ini sudah sesuai tetapi tegangan pengamatan
memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan tegangan perhitungan pada percobaan ke-1.
Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan karena kurang ketelitian ketika melakukan
pengamatan.
d. Perbandingan Amplitudo Pengamatan Dengan Amplitudo Hitungan

Perbandingan Amplitudo Masuk dan


3
Amplitudo Hitungan
2.5
Amplitudo (div)

2
Pengamatan
1.5
Hitungan
1

0.5

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke-

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai amplitudo ketika perhitungan berbanding
lurus dengan nilai amplitudo ketika pengamatan. Hal ini sudah sesuai tetapi amplitudo
hitungan memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan amplitudo pengamatan pada percobaan
ke-1. Perbedaan nilai tersebut dapat disebabkan karena kurang ketelitian ketika melakukan
pengamatan.
e. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan

Perbandingan Periode Pengamatan


3
dengan Periode Hitungan
2.5
Periode (div)

2
Pengamatan
1.5
Hitungan

0.5

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke-

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai periode perhitungan dan
nilai periode ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini sudah sesuai
dan tidak ada kesalahan pengamatan.

C. Percobaan 3 : Perubahan Sensitivitas Tegangan


a. Perbandingan Voltage Scale dengan Amplitudo

Perbandingan Voltage Scale dan


6
Panjang Amplitudo
5
Amplitudo (div)

4
3
A (cm)
2
1
0
0 1 2 3 4 5 6
Volatage Scale

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai amplitudo ketika perhitungan berbanding
lurus dengan nilai amplitudo ketika pengamatan. Amplitudo perhitungan mengalami
kenaikan di setiap percobaan dan memiliki nilai sama dengan amplitudo pengamatan. Hal
ini sudah sesuai dan tidak ada kesalahan pengamatan.

b. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan


5
Periode Pengamatan Vs Periode
Hitungan
Periode (div) 4

3
Pengamatan

2 Perhitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai periode perhitungan dan
nilai periode ketika pengamatan memiliki nilai yang sama dan konstan. Hal ini sudah sesuai
dan tidak ada kesalahan pengamatan.

D. Percobaan 4 : Perubahan Sweep Time


a. Perbandingan Periode Dengan Sweep Time

5
Periode Vs Sweep Time

4
Periode (div)

3
Pengamatan

2 Perhitungan

0
0 500 1000 1500 2000 2500
Sweep Time (micro sec)

Pada grafik diatas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara nilai sweep time dengan nilai
periode yaitu berbanding terbalik. Semakin besar nilai sweep time maka akan didapat nilai
periode semakin kecil. Hal ini sudah sesuai dan tidak ada kesalahan dalam pengamatan.

b. Perbandingan Periode Pengamatan Dengan Periode Hitungan


5
Periode Pengamatan Vs Periode
Hitungan
Periode (div) 4

3
Pengamatan

2 Perhitungan

0
0 1 2 3 4 5 6
Percobaan ke -

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa hubungan antara nilai periode pengamatan dan
nilai periode perhitungan memiliki nilai yang sama dan sama – sama membentuk grafik
turun. Hal ini sudah sesuai dikarenakan nilai sweep time pada percobaan divariasikan naik
dan tidak ada kesalahan pengamatan.

E. Percobaan 5 : Perubahan Bentuk Gelombang


a. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Sinusoidal

Perbandingan Frekuensi dengan


periode
6000
Frekuensi

4000

2000

0
0.00032 0.00032 0.00024 0.00024
Periode

pengamatan hitungan

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan rumus f
= 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini sudah sesuai tetapi
grafik menunjukkan nilai hitungan lebih besar dari pengamatan yang diakibatkan kurang
teliti saat pengamatan.

b. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Square


Perbandingan Frekuensi dengan
periode
6000
Frekuensi
4000

2000

0
0.00024 0.00024 0.00032 0.00032
Periode

pengamatan hitungan

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan rumus f
= 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini sudah sesuai tetapi
grafik menunjukkan nilai hitungan lebih besar dari pengamatan yang diakibatkan kurang
teliti saat pengamatan.
c. Perbandingan Frekuensi Dengan Periode Gelombang Triangular

Perbandingan Frekuensi dengan


periode
6000
Frekuensi

4000

2000

0
0.00032 0.00032 0.00024 0.00024
Periode

pengamatan hitungan

Pada grafik diatas dapat diketahui bahwa nilai periode ketika pengamatan maupun
perhitungan berbanding terbalik dengan nilai frekuensi yang didapat sesuai dengan rumus f
= 1/T. Semakin besar periode maka frekuensi akan semakin kecil. Hal ini sudah sesuai tetapi
grafik menunjukkan nilai hitungan lebih besar dari pengamatan yang diakibatkan kurang
teliti saat pengamatan.

Perbandingan Tegangan dengan Amplitudo

 sinusodia
Perbandingan Tegangan dengan
Amplitudo
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2 3 4

pengamatan hitungan square

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin besar tegangan akanmenyebabkan
amplitude semakin besar. Hal ini sebanding dengan rumus tengangan yaitu V=Ax2.

 square

Perbandingan Tegangan dengan


Amplitudo
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2 3 4

pengamatan hitungan square

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin besar tegangan akanmenyebabkan
amplitude semakin besar. Hal ini sebanding dengan rumus tengangan yaitu V=Ax2.

 triangular
Perbandingan Tegangan dengan
Amplitudo
7
6
5
4
3
2
1
0
1 2 3 4

pengamatan hitungan square

Pada grafik diatas dapat dilihat bahwa semakin besar tegangan akanmenyebabkan
amplitude semakin besar. Hal ini sebanding dengan rumus tengangan yaitu V=Ax2.

4.3.Perbandingan Bentuk Gelombang

Gambar 4.2. Bentuk Gelombang


(sumber : www.wikipedia.com)

4.3.1. Gelombang Sinusoidal


Gelombang sinusioda merupakan gelombang dasar yang salah satunya dihasilkan
dari putaran generator. Disebut gelombang sinus karena berbentuk grafik persamaan
sinusoida. Sumber suara atau bunyi dari alam jika dikonversi ke sinyal listrik dan dilihat
dengan osiloskop juga berbentuk gelombang sinus.
Gambar 4.3. Gelombang Hasil Pemrosesan Penguat
(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.4. Proses Digital to Analog Converter


(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.5. Gelombang Sinusoidal Hasil Praktikum

4.3.2. Gelombang Square


Square wave atau gelombang kotak banyak dikenal dalam sistem digital. Sinyal atau
gelombang jenis ini dapat dikonversi ke bentuk sinus dengan mengguakan sistem ADC
(Analog to Digital Converter).
Sistem-sistem audio dewasa ini sudah banyak yang menerapkan pengolah digital.
Sinyal aduio berupa sinyal sinus dirubah ke dalam bentuk gelombang kotak kemudian
dikuantisasi kemudian dirubah ke dalam data stream atau urutan data yang selanjutnya
menjadi data digital. Data tersebut selanjutnya diolah dalam pengolah digital. Keluaran
pengolah digital selanjutnya dirubah lagi ke dalam bentuk sinyal sinusoida untuk
dikuatkan dan digunakan untuk menggerakkan speaker.
Gambar 4.6. Proses Analog to Digital Converter
(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)

Gambar 4.7. Gelombang Square Hasil Praktikum

4.3.3. Gelombang Triangular


Sawtooth Wave adalah gelombang gigi gergaji atau triangular. Gelombang ini dapat
dihasilkan dari gelombang sinusoida dengan rangkaian khusus. Pada sistem audio sinyal
ini jarang digunakan. Penggunaan gelombang ini biasanya pada bagian penguat vertikal
dari system penerima televisi hitam-putih maupun televisi berwarna.

Gambar 4.8. Penguat integrator menghasilkan sinyal segitiga


(Sumber: http://edywijaya29.blogspot.co.id/)
Gambar 4.9. Gelombang Triangular
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk
sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar
katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar
katode. Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop
menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini
menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.

Kebanyakan Osiloskop juga dilengkapi dengan alat pengukuran yang dapat mengukur
Frekuensi, Amplitudo dan karakteristik gelombang sinyal listrik. Secara umum,
Osiloskop dapat mengukur karakteristik yang berbasis Waktu (Time) dan juga
karakteristik yang berbasis tegangan (Voltage).

5.2 Dari perhitungan yang dilakukan, didapatkan bahwa :

5.2.1 Frekuensi
1
𝑓[𝐻𝑧] = 𝑇[𝑠] , semakin besar periode, maka semakin kecil pula output frekuensinya
dapat dilihat dari rumus tersebut

5.2.2 Amplitudo
ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 [𝑐𝑚]
𝐴= × 𝑣𝑜𝑙𝑡𝑎𝑔𝑒 𝑠𝑐𝑎𝑙𝑒 , semakin besar voltage maka semakin
1 [𝑐𝑚]
besar pula output amplitudonya

5.2.3 Tegangan
Pengukuran hasil tegangan, V = Voltage scale [V/div] × ( 2 × jumlah divisi vertikal
[div] ), semakin besar amplitudo yg di hasilkan maka tegangan yang didapat semakin
besar pula

5.3 Ada beberapa jenis tegangan gelombang yang akan diperlihatkan pada layar monitor
osiloskop, yaitu:
5.3.1 Gelombang sinusoida
5.3.2 Gelombang square
5.3.3 Gelombang triangular