Anda di halaman 1dari 14

PARADIGMA SEHAT

Pengertian Sehat
Suatu keadaan seimbang yang dinamis antar bentuk dan funsi tubuh dengan berbagai
faktor yang berusaha mempengaruhinya (Perkin 1938)
Keadaan sejahtera sempurna dari fisik, mental dan sosial yang tidak hanya terbatas
pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja (WHO 1947, UU No.9/60)
Keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala
faktor keturunan dan lingkungan yang dipunyai (WHO, 1957)
Keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa oleh ahlinya tidak mempunyai
keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda penyakit atau kelainan (White 1977)
Sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. (Undang Undang No. 23 tahun
1992)
Paradigma sehat
Paradigma sehat adalah : cara pandang atau pola pikir, atau metode pembangunan
kesehatan yang melihat masalah kesehatan saling berkait dan mempengaruhi dengan
banyak faktor yang bersifat lintas sektor, dan upaya lebih diarahkan pada peningkatan,
pemeliharaan dan perlindungan kesehatan, bukan hanya penyembuhan orang sakit
atau pemulihan kesehatan.
Secara makro : berarti pembangunan semua sektor harus memperhatikan dampaknya
di bidang kesehatan, minimal memberikan sumbangan dalam pengembangan
lingkungan dan perilaku sehat.

Secara mikro : bahwa pembangunan kesehatan harus menekankan pada upaya


promotif dan pereventif tanpa mengesampikan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Lebih dari itu paradigma sehat bagian dari pembangunan peradaban dan kemanusia
secara keseluruhan. Paradigma sehat adalah perubahan mental dan watak atau
“mendset” dalam pembangunan. Paradigma sehat dengan sebutan “ gerakan
pembangunan yang berwawasan kesehatan”. Dicanangkan oleh peresiden RI
pada tanggal, 11 Maret 1999.
Sehat adalah hak asasi manusia , artinya : ”sehat” merupakan sesuatu yang sangat
esensial dalam arti manusia yang perlu dipertahankan dan dipelihara.
Sehat merupakan suatu investasi untuk kehidupan yang peroduktif, ia bukanya sesuatu
yang kensumtif, tetapi merupakan prasyarat agar hidup kita menjadi berarti, sejahtera
dan bahagia.
Health is not everything, but without health everyting is nothing.
Sehat merupakan salah satu dari tiga faktor utama yang sangat menentukan kialutas
Sumber Daya Manusia, disamping pendidikan dan pendapatan (ekonomi), karenanya
perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya. Sementara itu kualitas SDM kita yang
diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (HDI) sangat rendah (menempati urutan
ke-109 di dunia) sehat merupakan juga karunia Tuhan yang perlu disyukuri, mensyukuri
karunia adalah dengan perkataan dan perbuatan. Bersyukur dengan perbuatan adalah
dengan memelihara dan berupaya untuk meningkatkannya.
Memelihara dan meningkatkan kesehatan adalah lebih efektif daripada mengobati
penyakit. Karena upaya peningkatan dan pencegahan perlu lebih ditekankan tanpa
mengesampingkan upaya penyembuan dan pemulihan.
Derajat kesehatan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan,
dan keturunan, faktor lingkungan dan perilaku mempunyai kontribusi sangat besar
terhadap kualitas derajat kesehatan. Dipihak lain faktor lingkungan dan perilaku terkait
dengan banyak sektor di luar kesehatan. Karenya pembunganan semua sektor perlu
memperhatikan dampaknya dibidang kesehatan.
Adanya transisi demografi dan epidemiologis tantangan global dan regional,
perkembangan iptek, tumbuhnya era desentralisasi serta maraknya demokratisasi di
segala bidang, mendorong perlunya meninjau kebijakan yang ada serta merumuskan
paradigma baru di bidang kesehatan.
Paradigama sehat adalah perubahan sikap dan atau orientasi atau ”midset” :
1. Dari pola pikir yang memandang kesehatan sebagai kebutuhan yang bersifat
pasif, menajdi sesutau yang bersifat aktif, yang mau tidak mau harus di
upayakan, karena kesehatan merupakan keperluan dan bagian Hak asasi
Manusia (HAM).
2. Kesehatan bukanya sesuatu yang konsumtif, melainkan suatu investasi. Karena
kesehatan menjamina adanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif
secara sosial dan ekonomi.
3. Semua kesehatan yang bersifat penaggulangan yang sifatnya jangka pendek, ke
depan kesehatan adalah bagian upaya pengemabangan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berjangka panjang.
4. Pelayanan kesehatan juga bukan hanya pelayanan medis yang melihat bagian-
bagian yang sakit saja, tetapi adalah pelayanan kesehatan paripurna yang
memandang manusia sebagai manusia seutuhnya.
5. Karenaya palayanan kesehatan tidak lagi terpecah-pecah (Fragmented) tetapi
manjadi terpadu (Integrated).
6. Kesehatan juga bukan hanya jasmani atau fisik, tetapi juga mencakup mental
dan sosial.
7. Bahkan fokus kesehatan bukan hanya penyakit, tetapi tergantung dari
permintaan pasar.
8. Oleh karena itu sasaran pelayanan kesehatan bukan hanya masyarakat umum,
tetapi juga masyarakat swasta
9. dan kesehatan bukan hanya menjadi urusan pemerinta, tepai juga menjadi
urusan swasta.
10. Biaya yang ditanggung pemerintah adalah bagi keperluan publik (seperti
pemberantasan penyakit menular, penyuluhan, dll. Sedangkan yang lain perlu di
tanggung bersama dengan pengguna jasa.
11. maka biaya kesehatan juga bergeser dari pembayaran setelah pelayanan
menjadi pembayaran di muka dengan model Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat (JPKM).
12. Kesehatan juga bukan hanya berfungsi sosial, tetapi juga dapat berfungsi
ekonomi.
13. Sudah barang tentu pengaturannya tidak lagi sentralistik, tetapi desentralisai.
14. Bukan lagi pengaturan dari atas (Top Down) melainkan dari bawah (Bottom Up).
15. Bukan lagi berfokratis tetapi enterpreuner
16. Dan peran serta tatai sebagai mitra.

Dasar-dasar Pembanguan Kesehatan

Landasa idiil pembangunan nasionaladalah Pancasila sedangkan landasan


konstitusional adalah Undang-Undang Dasar 1945. pembagunan kesehatan merupakan
bagian integral dari pembangunan nasional. Dalam Undang-Undang Nomor : 23 Tahun
1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari
badan,jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Sedangkan dalam konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia tahun 1948
disepakati bahwa di perolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tinggginya adalah
sesuatu hak yang fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan Ras, Agama,
Politik yang dianut dan tingkat sosial ekonominya.
Dasar-dasar pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah nilai
kebenaran dan aturan pokok sebagai landasan untuk berfikir atau bertindak dalam
pembangunan kesehatan. Dasar ini merupakan landasan dalam penyusunan visi, misi
dan startegi sebagai petunjuk pokok dalam pelaksanaan pambangunan kesehatan
secara nasional yang meliputi :
1. Perikemanusiaan
Setiap upaya kesehatan harus berlandaskan perikemanusian yang dijiwai, digerakkan
dan dikendalikan oleh keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Tenaga kesehatan perlu berbudi luhur dan memegang teguh etika profesi.
2. Pemberdayaan dan Kemandirian
Setiap orang dan juga masyarakat bersama dengan pemerintah berperan, berkewajiban
dan bertanggung jawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
peorangan, keluarga, serta lingkungan. Setiap upaya kesehatan harus mampu
membangkitkan dan mendorong peran serta masyarakat. Pembangunan kesehatan
dilaksanakan dengan dilandaskan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan
sendiri serta bersendika kepribadian bangsa.
3. Adil dan Merata
Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, tanpa memandang perbedaan
suku, golongan, agama, dan status sosial ekonominya.
4. Pengutamaan dan Manfaat
Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bermutu dan mengikuti perkembangan Ilmu
Pengetahuan Dan Teknologi (IPTEK), arus lebih mengutamakan pendekatan
pemeliharaan, peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. Selain itu upaya
kesehatan harus dilaksanakan pula secara profesional, berhasil guna dan berdayaguna
dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi daerah.
Upaya kesehatan diarakan agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Serta dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
KEBIJAKAN PEMBANGUNAN SEKTOR KESEHATAN

1. Pendahuluan

Pembangunan kesehatan merupakan bagian internal dari pembangunan nasional karena aspek
kesehatan menyentuh hampir semua aspek kehidupan manusia. Dalam penyelenggaraannya
memerlukan perubahan cara pandang (mindset) yaitu dari paradigma sakit ke paradigma sehat,
sejalan dengan visi Indonesia Sehat 2010.

Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.

Pembangunan kesehatan yang dilaksananakan secara berkesinambungan sampai dewasa ini,


telah mengalami kemajuan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan penduduk serta
berhasil meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara cukup bermakna.

Menurut data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukan angka kematian
bayi menurun dari 46 (SDKI 1997) menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003) dan
angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100000
kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Umur harapan hidup meningkat dari 65,8 tahun (Susenas
1999) menjadi 66,2 tahun (Susenas 2003). Menurut Servey Konsumsi Garam Yodium yang juga
mencakup survey status gizi, prevalasi gizi kurang (underweight) pada anak balita, telah
menurun dari 34,4 persen (1999) menjadi 25,8 persen (2002).

Namun demikian, dalam upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas,
beberapa masalah dan tantangan baru muncul sebagai akibat dari perubahan sosial ekonomi serta
perubahan lingkungan strategis, baik global, maupun nasional. Tantangan global antara lain
adalah pencapaian sasaran Millennium Development Goals (MDGs), sedangkan pada
lingkungan nasional adalah penerapan desentralisasi bidang kesehatan.
2. Permasalahan

 Disparitas status kesehatan. Meskipun secara nasional kualitas kesehatan


masyarakat telah meningkat, akan tetapi disparitas status kesehatan antara tingkat
sosial ekonomi, antar kawasan, dan antar perkotaan-perdesaan masih cukup
tinggi. Angka kematian bayi dan angka kematian balita pada golongan termiskin
hampir empat kali lebih tinggi dari golongan terkaya. Selain itu, angka kematian
bayi dan angka kematian ibu melahirkan lebih tinggi di daerah pedesaan, di
Kawasan Timur Indonesia, serta pada penduduk dengan tingkat pendidikan
rendah. Persentase anak balita yang berstatus gizi kurang dan buruk di daerah
perdesaan lebih tinggi dibandingkan daerah perkotaan.

 Beban ganda penyakit. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian
besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru, Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA), malaria, diare, dan penyakit kulit. Namun demikian,
pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti
penyakit jantung dan pembuluh darah, serta diabetes mellitus dan kanker. Selain
itu Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti Demam Berdarah
Dengue (DBD), HIV/AIDS, chikungunya, Severe Acute Respiratory Syndrom
(SARS).

Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban
ganda pada waktu yang bersamaan (double burdens).

 Kinerja pelayanan kesehatan yang rendah. Faktor utama penyebab tingginya


angka kematian bayi di Indonesia sebenarnya dapat dicegah dengan intervensi
yang dapat terjangkau dan sederhana. Oleh karena itu kinerja pelayanan kesehatan
merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan
penduduk. Masih rendahnya kinerja pelayanan kesehatan dapat dilihat dari
beberapa indikator, seperti proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan,
proporsi bayi yang mendapat imunisasi campak, dan proporsi penemuan kasus
(Case Detection Rate) tuberculosis paru.

Pada tahun 2002, cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan baru mencapai 66,7 persen, cakupan
imunisasi campak untuk anak umur 12-23 bulan baru mencapai 71,6 persen, dan proporsi
penemuan kasus penderita tuberculosis paru pada tahun 2002 baru mencapai 29 persen.

 Perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup bersih dan sehat.
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan salah satu faktor penting untuk
mendukung peningkatan status kesehatan penduduk. Perilaku masyarakat tidak
sehat dapat dilihat dari kebiasaan merokok, rendahnya pemberian Air Susu Ibu
(ASI) Eksklusif, tingginya prevalensi gizi kurang dan gizi lebih pada anak balita,
serta kecendrungan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, penderita
penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adektif (NAPZA) dan kematian
akibat kecelakaan.

 Rendahnya kondisi kesehatan lingkungan. Salah satu faktor penting lainnya


yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah kondisi
lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air bersih
dan sanitasi dasar. Pada tahun 2002, persentase rumah tangga yang mempunyai
akses terhadap air yang layak untuk dikonsumsi baru mencapai 50 persen, dan
akses rumah tangga terhadap sanitasi dasar baru mencapai 63,5 persen.
 Rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan.
Pada tahun 2002, rata-rata setiap 100000 penduduk baru dapat dilayanai oleh 3,5
Puskesmas. Selain jumlahnya yang kurang, kualitas, pemerataan dan
keterjangkauan pelayanan kesehatan di Puskesmas masih menjadi kendala . Pada
tahun 2003 terdapat 1179 Rumah Sakit (RS), terdiri dari 598 RS milik pemerintah
dan 581 RS milik swasta. Jumlah seluruh tempat tidur (TT) di RS sebanyak
127217 TT atau rata-rata 61 TT melayani 100000 penduduk. Walaupun rumah
sakit terdapat di hampir semua kabupaten/kota, namun kualitas pelayanan
sebagian besar RS pada umumnya masih di bawah standar. Perlindungan
masyarakat di bidang obat dan makanan masih rendah. Dalam era perdagangan
bebas, kondisi kesehatan masyarakat semakin rentan akibat meningkatnya
kemungkinan konsumsi obat dan makanan yang tidak memenuhi persyaratan
mutu dan keamanan.

 Terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata. Indonesia


mengalami kekurangan pada hampir semua semua jenis tenaga kesehatan yang
diperlukan. Pada tahun 2001, diperkirakan per 100000 penduduk baru dapat
dilayani dapat dilayani oleh 7,7 dokter umum, 2,7 dokter gigi, 3 dokter spesialis,
dan 8 bidan. Untuk tenaga kesehatan masyarakat, per 100000 penduduk baru
dilayani oleh 0,5 Sarjana Kesehatan Masyarakat, 1,7 apoteker, 6,6 ahli gizi, 0,1
tenaga epidemiologi dan 4,7 tenaga sanitasi (sanitarian). Keterbatasan ini
diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata.

 Rendahnya status kesehatan penduduk miskin. Angka kematian bayi pada


kelompok termiskin adalah 61 dibandingkan dengan 17 per 1000 kelahiran hidup
pada kelompok terkaya. Penyakit infeksi yang merupakan penyebab kematian
utama pada bayi dan anak balita, seperti ISPA, diare, tetanus neonatorum dan
penyulit kelahiran, lebih sering terjadi pada penduduk miskin.Penyakit lain yang
terbanyak diderita penduduk miskin adalah penyakit tuberkulosis paru, malaria
dan HIV/AIDS.
3. Isu strategis

Dengan memperhatikan perkembangan yang telah dicapai, permasalahan yang masih dihadapai,
peluang yang mungkin dapat dimanfaatkan dan ancaman bagi pembangunan kesehatan, dapat
diidentifikasikan isu strategis yang harus diatasi, yaitu :

 Kerjasama lintas sektor. Sebagian dari masalah kesehatan merupakan masalah nasional yang
tidak dapat terlepas dari berbagai kebijakan dari sektor lain, sehingga upaya pemecahannya harus
secara strategismelibatkan sektor terkait. Isu utamanya adalah upaya meningkatkan kerja sama
lintas sektor yang lebih efektif, karena kerja sama lintas sektor dalam pembangunan kesehatan
selama ini sering kurang berhasil.

Perubahan perilaku masyarakat untuk hidup sehat dan peningkatan mutu lingkungan yang sangat
berpengaruh terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat, memerlukan kerja sama yang
erat antara berbagai sektor yang terkait dengan sektor kesehatan. Demikian pula peningkatan
upaya dan manajemen pelayanan kesehatan, tidak dapat terlepas dari peran sektor-sektor yang
membidangi pembiayaan, pemerintahan dan pembanguan daerah, ketenagaan, pendidikan,
perdagangan dan sosial budaya.

 Sumber daya manusia kesehatan. Sumber daya manusia kesehatan yang bermutu harus selalu
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan berusaha untuk menguasai IPTEK
yang muktahir. Di samping itu, mutu sumber daya tenaga kesehatan ditentukan pula oleh nilai-
nilai moral yang dianut dan diterapkan dalam menjalankan tugas.

Adanya kompetisi dalam era pasar bebas sebagai akibat dari globalisasi harus diantisipasi dengan
peningkatan mutu dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan. Hal ini diperlukan tidak
saja untuk membantu peningkatan daya saing sektor lain, antara lain pengamanan komoditi
ekspor bahan makanan dan makanan jadi.
 Mutu dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan. Dipandang dari segi fisik persebaran
sarana pelayanan kesehatan baik puskesmas maupun rumah sakit serta sarana kesehatan lainya
termaksud sarana penunjang upayakesehatan telah dapat dikatakan merata diseluruh polsek
wilayah Indonesia. Namun harus diakui bahwa persebaran fisik tersebut masih belum
sepenuhnya diikuti dengan pendekatan mutu pelayanan dan keterjangkauwan ole seluruh lapisan
masyarakat.

Mutu pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi ole kualitas sarana fisik, jenis tenaga yang
tersedia, obat, alt kesehatan dan sarana penunjang lainya, proses pemberian pelayanan dan
kompensasi yang diterima serta harapan masyarakat pengguna. Di samping itu. Proses
pemberian pelayanan perlu ditingkatkan melalui peningkatan mutu dan profesonalisme sumber
daya tenaga kesahatan . Harapan masyarakatpenguna diselaraskan melalui penigkatan
pendidikan umum penyuluhan kesehatan, dan komunikasi yang baik antara pemberi pelayanan
dan masyarakat

 Pengutamaan Sumber Daya Pembiayaan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Selam ini upya kesehatan masi kurang mengutamaka/mempriotitaskan pendekatan pemeliharaan


dan peningkatan kesehatan seta pencegahan penyakit, dan kurang didukung ole sumber daya
pembiayaan yang memadai. Disadari bahwa keterbatasan dana pemerintah dan masyarakat
merupakan ancaman yang besar terhadap kelangsungan progran pemerintah serta ancaman
terhadap pencapaiyan derajat kesehatan yang optimal. Demikian demikian, maka diperlukan
upaya yang lebih intensifuntuk meningkatakan sumber daya pembiayaan dari sektor publik yang
diutamakan untuk kegiatan pemeliharan dan penigkatan kesehatan serta pencegahan penyakit,
sumber daya pembiayaan untuk upaya penyembuhan dan pemulihan perlu digali lebih banyak
dari sumber-sumber yang ada dimasyarakat dan diarahkan agar lebih rasional dan lebih berhsil
guna untuk meningkatakan kualitas pelayanaan.

Hal lain yang sangat memerlukan penanganan adalah masalah pemberdayan dan kemandirian
masyarakat dalam upaya kesehatan yang masih belum perlu seperti yang diharapkan. Kemitraan
yang setara, , terbuka dan saling menguntungkan bagi masing-masing mitra dalam upaya
kesehatan menjadi suatu yang mutlak diperlukan dalam upaya pembudayaan perilaku hidup bersi
dan sehat, penerapan kaidah hidup sehat dan promosi kesehatan

IV .TUJUAN DAN SASARAN

 Tujuan

Tujuan pembagunan kesehatan adalah menigkatakan kesadaran, kemauman dan kemampuan


hidup sehat bagi setiap orang yang yang terwujutd derajat kesehatan masyrakat yang setingi-
tinginya melalui terciptanya masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh
penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat ,memiliki kemampuan
untuk menjangkau pelayanaan kesehatan yang bermutut secara adil dan merata, serta memiliki
derajat kesehatan yang setingi-tinginya di seluruh wilayah Indonesia.

 Sasaran

Sasaran pembagunan kesehatan pada akhir tahun 2009 dalah meningkatakan derajatkesehatan
masyarakat malalui peningkatan askes masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang anatara
lain tercermin dari indikator dampak (impact) yaitu :

 Meningkatkan umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun;
 Menurunya angka kematian bayi dari 35 menjadi26 per 1.000 kelahiran hidup;
 Menurunya angka kematian ibu melahirkan dari 307 menjadi226 per 100,000 kelahiran hidup ;
dan
 Menurunya prevalensi gizi kurang pada anak balita dari 25,8 persen menjadi 20,0 persen.

V . KEBIJAKAN

Untuk mencapau sasaran tersebut, kebijakan pembagunan kesehatan


Terutama diarahkan pada :
 Penigkatan jumlah ,jaringan dan puskesmas ;
 Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan ;
 Pembagunan sistim jaminan kesehatan terutama bagi penduduk miskin ;
 Penigkatan sosialisai kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat ;
 Peningkatan pendidikan kesehatan pada masyarakat sejak usia dini;dan
 Pemertaan dan penigkatan kualitas fasilitas kesehatan dasar .

Pembangunan kesehatan memprioritaskan upaya promotif dan prefentif yang dipadukan secara
seimbang dengan upaya upaya kuratif dan rehabilitatif. Perhatian khusus diberikan kepada
pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin, daerah tertinggal dan daerah bencana dengan
memperhatikan kesetaraan jender.