Anda di halaman 1dari 12

Aktualisasi Nilai-Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di Era

Global

BAB I

PENDAHULUAN

Di zaman yang sudah serba modern ini, dimana efek dari suatu proses kemajuan
kehidupan manusia yang dinamakan globalisasi bisa dirasakan di seluruh aspek-
aspek kehidupan manusia. Ekonomi, kesehatan, pendidikan, lifestyle, fashion,
transportasi, telekomunikasi, dan berita terbaru negara yang jauh dari negara
tempat kita berada pun bisa dengan sangat mudah diketahui lewat telekomunikasi
yang semakin modern dan canggih. Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa
harus bisa melindungi warga negaranya dari pengaruh globalisasi yang begitu
deras. Pemerintah pada umumnya dan warga Indonesia pada khususnya harus bisa
menentukan mana yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan tanpa harus
merusak nilai-nilai luhur sebagai warga Indonesia dan mana yang tidak. Hal
tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting karena sebagai suatu negara yang
merdeka, Indonesia sudah sepantasnya dan seharusnya mempunyai fondasi dan
rangka kenegaraan yang kuat dan mandiri. Karena apabila Indonesia belum
memiliki kedua hal tersebut, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan
kehilangan jati diri dan ciri-ciri sebagai suatu bangsa yang disebut Indonesia.
Ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila, suatu ideologi yang dihasilkan oleh
salah satu Founding Father bangsa Indonesia, Sukarno. Pancasila sejatinya
memiliki dasar-dasar konsep yang mengatur segala permasalahan baik hukum
atau non-hukum, perilaku, sampai hal-hal mendasar baik itu berkaitan dengan
kehidupan sesama warga negara atau urusan ketatanegaraan/pemerintahan.

Ancaman dari derasnya arus globalisasi terhadap suatu ideologi suatu bangsa
tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyaknya informasi yang dengan mudahnya
masuk dan diketahui oleh siapapun di dunia ini termasuk Indonesia, secara tidak
langsung akan merubah pola pikir masyarakat itu sendiri dalam berbagai aspek
kehidupan. Hal tersebut dapat menjadikan masyarakat Indonesia melupakan siapa
dirinya sesungguhnya, yaitu warga negara Indonesia yang berdasarkan kepada
Pancasila. Bisa dibayangkan apabila kita sebagai warga negara Indonesia, akan
tetapi kita tidak memiliki ciri khusus dan jati diri sebagai orang Indonesia.
Pancasila sebagai dasar negara dan ciri-ciri negara Indonesia adalah suatu patokan
serta acuan bangsa Indonesia dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan.
Seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam setiap butir Pancasila, dari sila pertama
sampai sila kelima sejatinya adalah suatu nilai luhur yang apabila
diimplementasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan akan membawa bangsa
Indonesia ini menuju negara yang maju dan sejahtera.

Sebagai contoh, apabila sila pertama berhasil diimplementasikan sepenuhnya,


dapat dipastikan sekarang ini tidak akan ada lagi intoleransi, diskriminasi, dan
pembatasan dalam beragama di Indonesia. Hal ini sesuai dengan bunyi dari sila
pertama tersebut yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini berarti bahwa kita
sebagai warga negara harus menghormati setiap agama atau kepercayaan yang ada
di Indonesia ini. Tidak membedakan setiap warga negara Indonesia sendiri atau
warga negara lain hanya karena berbeda kepercayaan, menghormati agama
apapun untuk menjalankan ibadah, dan yang terpenting adalah tidak adanya
pemaksaan untuk menganut suatu agama tertentu (Pasal 28 I, Pasal 29 ayat 2).
Namun, bagaimana aktualisasi nilai- nilai Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia
dalam era global seperti sekarang ini?
BAB II

PERMASALAHAN

Pancasila adalah dasar negara Indonesia yang semestinya dijadikan dasar dan
pandangan dalam menjalankan segala aspek dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara bagi bangsa Indonesia di setiap waktu, termasuk di era
globalisasi seperti sekarang ini.

Pancasila telah menjadi ideologi serta cita-cita Bangsa Indonesia. Tetapi


kenyataannya Pancasila masih belum diaktualisasikan dengan maksimal sebagai
dasar dan pedoman dalam kehidupan bangsa Indonesia. Padahal adanya
aktualisasi Pancasila oleh bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara dapat menjadi salah satu cara untuk menghadapi adanya
perkembangan dunia yang tidak menentu dengan kemajuan teknologi yang begitu
canggih serta adanya tantangan liberalisme-kapitalisme (era globalisasi) yang
semakin menguat. Era globalisasi yang menuntut manusia untuk selalu lebih maju
pada setiap zaman, menjadikan perkembangan demi perkembangan terkadang
jauh dari sebuah keteraturan. Banyaknya terjadi kasus pada dasarnya merupakan
tuntutan sebuah zaman yang terus berkembang. Dan seseorang ataupun
sekelompok masyarakat tidak menginginkan ketertinggalan dari masyarakat lain
apalagi negara-negara yang lebih maju. Untuk itu pancasila merupakan ideologi
terbuka yang bisa menampung perkembangan sesuai tuntutan zaman.

Bukan malah adanya era globalisasi menyebabkan kebudayaan yang ada di


Indonesia semakin luntur, dan nilai-nilai Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai
pedoman hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, aktualisasi Pancasila harus
dilaksanakan, sehingga setiap aspek dalam penyelenggaraan negara, sikap serta
tingkah laku bangsa Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara dapat sesuai
dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Permasalahan pokok dalam aktualisasi Pancasila dalam era globalisasi adalah


bagaimana wujud realisasinya itu, yaitu bagaimana nilai-nilai Pancasila yang
universal itu dijabarkan dalam bentuk-bentuk norma yang jelas dalam kaitannya
dengan tingkah-laku semua warga negara dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara serta dalam kaitannya dengan segala aspek penyelenggaraan negara.
Karena sesungguhnya nilai-nilai Pancasila jika diimplementasikan dengan sesuai
akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan besar.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sendiri memiliki arti bahwa bangsa Indonesia
harus mempercayai adanya tuhan (beragama) terlepas dari agama apa yang
diyakini. Negara menjamin kebebasan masyarakat Indonesia dalam memilih
agama serta dalam beribadah sesuai agama yang dianut. Karena memang pada
dasarnya, setiap agama tentu mengajarkan kebaikan, bukan mengajarkan
keburukan atau malah mengajarkan kebodohan yang sama sekali tidak ada
manfaatnya untuk kehidupan di dunia ini. Dengan beragama, pola perilaku dan
tatanan hidup setiap masyarakat juga lebih terjaga. Karena nilai-nilai kegamaan
yang bersumber langsung dari Tuhan sejatinya adalah suatu kebenaran yang harus
ditaati oleh setiap orang yang beragama dan dijadikan suatu ‘batas‘ dan
‘pengingat‘ saat melakukan suatu tindakan agar tidak melenceng dari norma dan
nilai kebenaran. Sehingga, masyarakat yang memiliki iman serta pondasi agama
yang kuat akan menuntunnya untuk tidak melakukan tindakan tercela. Yang
akhirnya akan menjadikan tatanan hidup masyarakat di Indonesia dapat
berlangsung dengan baik.

Namun sayangnya pengamalan nilai ini belum sepenuhnya diimplementasikan.


Dan adanya globalisasi justru membuat masyarakat menjadi individualistis dan
tidak religius. Kenyataan menunjukkan bahwa masih terjadi berbagai kasus
permasalahan mengenai pengimplementasian sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dalam pemberitaan di berbagai media akhir-akhir ini juga sering dilihatkan dan
dihadapkan kepada fakta bahwa banyak terjadi aksi-aksi anarkis yang ditujukan
kepada suatu kelompok agama tertentu yang diduga dilakukan oleh suatu ormas
keagamaan tertentu. Ini adalah adalah satu contoh dan bukti dari belum
diimplementasikannya nilai-nilai sila pertama yang menjunjung kebebasan
beragama bagi setiap warga Indonesia. Tindakan anarkis yang mengatasnamakan
suatu agama tertentu dijadikan tameng untuk melawan aparat hukum dan
mengahakimi suatu agama tertentu. Permasalahan lain mengenai
pengimplementasian sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang masih kerap terjadi di
Indonesia adalah penyerangan sekelompok agama, pendiskriminasian agama,
bahkan penyegelan tempat ibadah agama tertentu.

Permasalahan dalam implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama


ini diperparah dengan adanya globalisasi yang hari demi hari semakin tidak
terfilter antara yang baik dan yang buruk. Misalnya saja, makin banyaknya
tontonan di televisi yang mengajarkan kita kepada suatu sifat hedonisme yang
suka berfoya-foya dan berhura-hura, makin banyaknya tayangan televisi yang
mengumbar bagian tubuh wanita dengan bebasnya, makin banyaknya acara
televisi yang mengajarkan kepada suatu pola hidup yang sangat tidak sesuai
dengan kepribadian Indonesia. Baik secara langsung atau tidak langsung, efek
buruk yang dihasilkan dari contoh tersebut akan memengaruhi pola pikir
masyarakat Indonesia untuk berperilaku seperti apa yang ada di televisi tersebut.
Efek buruk dari contoh diatas terbukti dengan meningkatnya aksi seks bebas yang
dilakukan oleh para remaja dengan rentangan umur 15-23 tahun, meningkatnya
pemakai narkoba di Indonesia yang didominasi oleh para remaja, dan
meningkatnya aksi-aksi kriminalitas yang disebabkan pelaku merasa terprovokasi
oleh apa yang ia lihat di televisi.

Kemajuan teknologi sejatinya bisa memberikan kemudahan dan peningkatan mutu


kehidupan siapapun yang menggunakan kemajuan teknologi tersebut, akan tetapi
kemajuan teknologi ini pula yang bisa membawa manusia pada umumnya dan
masyarakat Indonesia pada khususnya lupa akan jati dirinya yang harus berpegang
teguh atas nilai-nilai sila pertama, yaitu sebagai mahluk yang ber-Ketuhanan
Yang Maha Esa.
BAB III

PEMBAHASAN

Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat tertutup dan kaku, tetapi bersifat
dinamis dan terbuka. Hal ini berarti ideologi Pancasila besifat aktual, dinamis,
antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman,
iptek, serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keluwesan dan
fleksibilitas serta keterbukaan yang dimiliki oleh ideologi Pancasila menjadikan
Pancasila tidak ketinggalan zaman dalam tatanan sosial, namun sifatnya yang
terbuka bukan berarti nilai-nilai dasar Pancasila dapat dirubah atau diganti dengan
nilai dasar yang lain.

Pancasila sebagai dasar filsafat negara, pandangan hidup bangsa, serta ideologi
bangsa dan negara, bukanlah hanya sekedar sebuah simbol negara, namun nilai-
nilai filosofis yang terkandung di dalamnya harus diwujudkan dan
diaktualisasikan dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara, termasuk di era globalisasi seperti sekarang ini.

Derasnya arus globalisasi telah memberi banyak perubahan dalam berbagai aspek
kehidupan di dunia. Globalisasi yang terjadi saat ini telah mencakup hampir
semua bidang kehidupan serta melanda hampir pada semua negara di dunia ini
termasuk dengan negara kita, Indonesia. Adanya globalisasi juga menjadi sebuah
tantangan baru bagi Indonesia dalam upaya implementasi nilai-nilai dasar
Pancasila di kehidupan masyarakat Indonesia. Era globalisasi ini memberi
pengaruh akan nilai-nilai budaya luar yang sangat kuat, sehingga mulai banyak
sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Globalisasi
telah membuat kepribadian, karakter, sikap, dan perilaku seseorang lebih banyak
dituntun oleh mekanisme pasar yang mengedepankan gaya hidup materialistis,
hedonis dan pragmatis. Sehingga kehidupan sehari-harinya tidak banyak yang
dilandasi dan mendapat inspirasi dari nilai-nilai Pancasila. Pancasila dalam
keseharian lebih tampak sebagai suatu simbol yang barangkali perlu dihafalkan
tetapi kurang bermakna bagi kehidupan. Kondisi itu diperparah dengan tidak
adanya bentuk sosialisasi yang sistematis, masif, dan terstruktur di tengah-tengah
masyarakat tentang Pancasila.

Permasalahan terkait aktualisasi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa yang masih
kerap terjadi di Indonesia diantaranya adalah intoleransi agama. Berbagai
tindakan tersebut adalah melakukan penyegelan, diskriminasi, pelemparan
molotov, perusakan tempat ibadah, penyerangan, serangkaian ancaman,
intimidasi, bahkan perusakan pemukiman dan pesantren. Tindakan seperti yang
telah disebutkan diatas jelas mengganggu keamanan dan kenyamanan dalam
peribadatan. Hal ini bukan tanpa alasan, agar dalam beribadah itu aman. Karena
memang beribadah itu adalah suatu bentuk komunikasi secara langsung antara
manusia dengan Tuhan, maka tidak tepat apabila proses komunikasi tersebut
diganggu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Adanya tindakan-tindakan seperti tersebut diatas menunjukan bahwa aktualisasi


nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila di era globalisasi seperti
sekarang ini masih belum maksimal. Dimana pada sila tersebut semua orang
berhak memeluk agama tanpa ada paksaan dari pihak lain, saling menghormati
dan menghargai antar umat beragama, serta menjunjung tinggi kerukunan umat
beragama. Di lingkungan masyarakat sendiri masih terlihat kurangnya pola yang
jelas dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada warga negara.

Sikap yang seharusnya diaktualisasikan oleh setiap komponen bangsa berdasarkan


sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara diantaranya adalah: percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab; toleransi (hormat menghormati) dan
bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut penganut kepercayaan yang
berbeda-beda; saling menghormati kebebasan memeluk agama dan menjalankan
ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya; serta tidak memaksakan suatu
agama dan kepercayaan kepada orang lain. Toleransi antar umat beragama sangat
penting untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika
toleransi menjadi kepribadian pada diri seluruh rakyat Indonesia maka tak akan
ada pertikaian antar umat beragama yang sering terjadi akhir-akhir ini. Memang
menjadi ironi sendiri, sebagai negara yang dikenal dengan sopan santun dan tata
krama masyarakat ketimuran, tetapi masih banyak pihak yang menyelesaikan
masalah dengan kekerasan dan anarkisme. Agama seharusnya menjadi pemersatu
rasa nasionalisme dalam diri para penganutnya, dan walaupun terdapat perbedaan,
tetapi seharusnya segala perbedaan itulah yang semakin menyatukan bangsa
Indonesia. Dan peran negara sebagai objek vital adalah dengan meminimalisir
masalah atau konflik yang terjadi, untuk bisa menciptakan kehidupan yang
nyaman, ama,n dan damai.

Hakikat Pancasila adalah bersifat universal, tetap dan tidak berubah. Nilai-nilai
tersebut perlu dijabarkan dalam setiap aspek dalam penyelenggaraan negara dan
dalam wujud norma-norma baik norma hukum, kenegaraan, maupun norma-
norma moral yang harus dilaksanakan oleh setiap warga negara Indonesia.

Langkah untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat memberikan


informasi yang seluas-luasnya kepada masyarakat guna menumbuhkan kesadaran.
Artinya upaya sosialisasi nilai-nilai Pancasila dilakukan secara terstruktur,
sitematis dan masif, tanpa ada paksaaan dan doktinasi dalam pelaksanaannya.
Bentuk sosialiasi terstruktur, sistematis dan masif ini akan meraih hasil yang
optimal jikalau ditunjang dengan komitmen dan keberpihakan media massa dalam
turut serta merevitalisasi dan implementasi nilai-nilai Pancasila. Institusi
pendidikan juga memiliki peran penting dan strategis sebagai forum untuk
mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian secara bertahap
implementasi nilai-nilai Pancasila dapat selalu dilakukan melalui dunia
pendidikan di berbagai jenjang pendidikan. Alhasil berdampak kepada masyarakat
secara keseluruhan sehingga dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu,
perilaku yang memancarkan iman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
dalam masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam agama, perilaku yang
bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, mendukung persatuan bangsa dalam
masyarakat yang majemuk, mendukung kerakyatan yang mengutamakan
kepentingan bersama diatas kepentingan perseorangan dan golongan sehingga
perbedaan pikiran, pendapat maupun kepentingan dapat diatasi dengan
musyawarah mufakat serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Cara efektif untuk menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat agar nilai-nilai


Pancasila dapat menjadi pedoman perilaku masyarakat dapat melalui berbagai
cara dan media. Adapun media yang dapat digunakan untuk menggiatkan kembali
Pancasila dalam masyarakat diantaranya melalui televisi, radio, media masa,
internet. Model yang tepat dan relevan dengan situasi dan kondisi saat ini dalam
mengaktualisasikan Pancasila adalah melalui mekanisme sosialisasi. Sosialisasi
adalah upaya memasyarakatkan sesuatu sehingga menjadi dikenal dipahami
dihayati masyarakat, tanpa adanya paksaan ataupun indoktrinasi dan intimidasi.

Pemerintah merupakan institusi yang memiliki peran utama dalam


mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Tanpa intervensi pemerintah
implementasi Pancasila akan sulit berkembang. Disamping itu kesadaran dari
segenap komponen bangsa, terutama generasi muda sebagai calon pemimpin
bangsa juga turut menentukan keberhasilan penerapan nilai-nilai Pancasila ini.
Dan sebagai warga negara yang baik, sesuatu yang seharusnya dilakukan adalah
menanamkan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dengan sebaik- baiknya. Dengan kata
lain, simbiosis mutualisme antara pemerintah dan masyarakat dalam
mengejawantahkan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlu
digencarkan.

Kunci dalam pengimplementasian Pancasila dalam kehidupan bernegara dan


berbangsa di Indonesia adalah harus adanya integrasi nilai-nilai yang ada dalam
Pancasila kedalam seluruh aspek kehidupan di masyarakat, yaitu sistem
pendidikan, sistem politik, pertahanan keamanan, sistem ekonomi, dan kehidupan
sosial berbangsa dan bernegara. Dengan terintegrasinya Pancasila, maka
transformasi menuju bangsa yang makmur, sejahtera, dan ber-Bhineka Tunggal
Ika akan lebih cepat terwujud dalam kesatuan wilayah Indonesia (Putu Aditya
Ferdian Ariawantara, 2017).
BAB IV

PENUTUP

Pancasila sebagai dasar negara dan ciri-ciri negara Indonesia adalah suatu acuan
bangsa Indonesia dalam menjalankan seluruh aspek kehidupan. Seluruh nilai-nilai
yang terkandung dalam setiap butir Pancasila, dari sila pertama sampai sila kelima
sejatinya adalah suatu nilai luhur yang apabila diimplementasikan ke dalam
seluruh aspek kehidupan akan membawa bangsa Indonesia ini menuju negara
yang maju dan sejahtera.

Namun sayangnya pengamalan nilai ini belum sepenuhnya diimplementasikan.


Adanya globalisasi menjadi sebuah tantangan baru bagi Indonesia dalam upaya
implementasi nilai-nilai dasar Pancasila di kehidupan masyarakat Indonesia. Era
globalisasi ini memberi pengaruh akan nilai-nilai budaya luar yang sangat kuat,
sehingga mulai banyak sikap dan perilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai
Pancasila. Kenyataan menunjukkan bahwa masih kerap terjadi berbagai kasus
permasalahan mengenai pengimplementasian sila Ketuhanan Yang Maha Esa di
Indonesia, diantaranya yaitu intoleransi antar umat beragama. Bentuk tindakan
yang termasuk dalam intoleransi antar umat beragama adalah penyerangan
sekelompok agama, pendiskriminasian agama, bahkan penyegelan tempat ibadah
agama tertentu.

Apabila sila pertama berhasil diimplementasikan sepenuhnya, maka tidak akan


ada lagi intoleransi, diskriminasi, dan pembatasan dalam hal beragama di
Indonesia. Hal ini sesuai dengan bunyi dari sila pertama tersebut yaitu Ketuhanan
Yang Maha Esa, sila ini berarti bahwa kita sebagai warga negara harus
menghormati setiap agama atau kepercayaan yang ada di Indonesia ini. Tidak
membedakan setiap warga negara Indonesia sendiri atau warga negara lain hanya
karena berbeda kepercayaan, menghormati agama apapun untuk menjalankan
ibadah, dan yang terpenting adalah tidak adanya pemaksaan untuk menganut
suatu agama tertentu. Dengan adanya toleransi antar umat beragama maka akan
tercipta Indonesia yang aman dan tentram.
Oleh karena itu, implementasi nilai-nilai Pancasila oleh segenap komponen
bangsa perlu digiatkan kembali di tengah-tengah masyarakat dengan cara
melakukan sosialisasi. Dengan sosialisasi, nilai-nilai Pancasila diharapkan dapat
dipahami, diserapi, dan dihayati oleh masyarakat. Sehingga, masyarakat
selanjutnya dapat memiliki moral Pancasila. Dan dari situlah aktualisasi Pancasila
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat bertumbuh. Adapun bentuk
sosialisasi yang kontekstual dalam penanaman nilai-nilai Pancasila adalah melalui
media massa terutama internet dan televisi. Mekanisme sosialisasi secara
terstuktur, sistematis, dan masif merupakan model yang baik dan relevan untuk
menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila di masyarakat. Polanya harus
mengedepankan kesadaran dan partisipasi masyarakat ketimbang paksaan atau
indoktrinasi.
DAFTAR PUSTAKA

Ariawantara, Putu Aditya Ferdian. 2016. Implementasi Pancasila dalam


Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Universitas Airlangga. Diakses dari
http://s2mkp.fisip.unair.ac.id/implementasi-Pancasila-dalam-kehidupan-
berbangsa-dan-bernegara/ pada 02 Desember 2017

Asshiddiqie, Jimly. Gagasan Negara Hukum Indonesia. Diakses dari


http://www.jimly.com/makalah/namafile/57/Konsep_Negara_Hukum_Indon
esia.pdf pada 25 Desember 2017

Hanapiah, Pipin. Aktualisasi Pancasila untuk Persatuan Bangsa. 2006. Diakses


dari
http://repository.unpad.ac.id/1698/1/aktualisasi_Pancasila_untuk_persatuan
_bangsa_all.pdf pada 02 Desember 2017.

Maftuh, Bunyamin. 2008. Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila dan N asionalisme


Melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Universitas Pendidikan Indonesia.
Diakses dari
http://103.23.244.11/Direktori/JURNAL/EDUCATIONIST/Vol._II_No._2-
Juli_2008/7_Bunyamin_Maftuh_rev.pdf pada 02 Desember 2017.

Yayasan Pelayanan Media Antiokhia (YAPAMA). “Intoleransi Agama di Paruh


2013”. Laporan Utama. Tabloid Reformata Edisi 166 Agustus 2013,
diakses pada 25 November 2017.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=359952&val=8257&title=A
KTUALISASI%20NILAI-
NILAI%20PANCASILA%20%28MENCARI%20MODEL%20PENDIDIK
AN%20PANCASILA%20DI%20PERGURUAN%20TINGGI%29 Diakses
pada 25 Desember 2017