Anda di halaman 1dari 7

Pria itu selalu saja begitu, kerjaannya begadang sampai larut dan cuma

memperbaiki barang rongsok yang bukan miliknya. Mendengar suaranya saja


sudah bikin tidak tenang banyak orang, entah bagaimana, yang jelas suaranya
cukup nyaring di dengar dari dalam rumah.

“pak sudah malam ini, cepatan masuk rumah, gak enak sama tetangga.” kata
ibuku.

Rumahku berada di pinggir jalan gang tidak terlalu lebar. Dalam rumah kami,
tidak ada tempat buat menyimpan semua barang milik ayahku, tepatnya barang
milik temannya.

Ibuku sering marah kepada ayah karena perbuatannya yang sering sekali tidak
tidur. Tak jarang juga pada pagi hari terdengar celoteh yang kurang enak untuk
didengar anak-anaknya sepertiku.

Tapi apa boleh buat, begitulah kebiasaan ayahku.

Dia memperbaiki becak motor milik teman-temannya. Bukan hanya satu-dua,


melainkan ada 3 sampai lima becak yang berserakan di depan rumah kami.

Dan kenapa aku bilang itu adalah barang rongsokan, karena beberapa hari lagi
pasti becak itu akan datang kerumah kami memohon untuk diperbaiki. Aku tidak
begitu mengerti dan memperhatikannya, cuman setiap hari aku lihat becak-
becak itu, setidaknya aku tau mana yang sudah pernah datang dan mana yang
belum.

Sering dari becak yang diperbaiki ayahku adalah becak yang sama, dan itu-itu
saja. Aku pun hafal, bahkan siapa yang datang juga aku tau dia pemilik becak
rongsok yang mana.

Kebiasaannya buruk yang sering dilakukan itu membuat tubuhnya lemah. Dia
sering sekali sakit-sakitan. Batuknya yang tak henti dalam satu dua minggu,
nafas yang sedikit ngos-ngosan, asma sih enggak, mungkin saking
kecapeannya.

Untuk menghidupi anaknya, ibuku membantu perekonomian keluarga dengan


jualan gorenang setiap harinya. Ayahku sendiri hanya tukang becak motor dan
petani kecil. Jadi setelah dia begadang atau hanya tidur dalam waktu 1-2 jam,
lalu dia pergi ke sawah dan mengurus ladangnya.Tapi bila tidak musim tanam
atau panen, maka ayahku pergi ke pankalan becak untuk mencari pelanggan.
Sayangnya tak ada pelanggan yang mau menaiki becak motor milik ayahku.
Memang aku akui dan juga ibu pun begitu, bahwa becak motor milik ayahku tak
layak ditumpangi oleh orang. Mungkin jelek dan rusaknya karena dibuat untuk
membawa kelapa kering milik bosnya untuk diantarkan ke para pelanggan
pemilik kelapa tersebut.

Iya, ayahku pengantar kelapa tua. Itu pun cuma jika setiap ada kelapa yang
datang, biasa 3 hari sekali. Dari situlah ayahku benar-benar mendapat upah
untuk menghidupi keluarga.

Lantas bagaimana dengan barang rongsok yang selalu dikerjakannya setiap


malam, yang susah payah dia bela-bela tidak tidur hanya untuk memperbaiki
barang-barang tersebut?

Kalau kalian tau, semua yang dia kerjakan untuk becak motor rongsok itu
“TIDAK di BAYAR“.
Ketika aku mendengar kabar tersebut dari ibuku, aku juga ikut jengkel, marah,
kesal apa sajalah. Kenapa coba dia rela bela-belain memperbaiki becak rongsok
milik temannya yang pada ujung-ujungnya tidak mendapat apa-apa?

Kenapa juga sih dia merelakan kesehatanya hanya untuk orang yang tidak
memikirkannya. Pernah aku menjumpai dia benar-benar sakit. Tubuhnya sangat
lemas, batuknya sudah gak karuan nada dan iramanya, menyakitkan dada orang
tersebut. Dia hanya bisa berbaring lemas untuk jangka waktu beberapa hari.

Sejenak aku berfikir, mungki dia lebih baik diberi sakit dari Sang Kuasa, dengan
begitu dia bisa istirahat. Mungkin juga dari sakit itu dia sadar, kalau yang dia
lakukan itu tidak baik untuk kesehatannya. Toh juga apa yang ia lakukan tidak
mendapat apa-apa.

Tapi pikiranku salah besar, apa yang telah terjadi kepadanya tidak membuatnya
berubah sama sekali. Saat dia sudah sedikit bugar, cuma sedikit saja, dia
melakukan aktifitas itu lagi dan lagi.

Sampai kapan dia akan melakukan hal itu? Aku kesal dengan berbuatanya, aku
bukan benci, cuma kalau melihat salah seorang yang kusayang seperti itu, lantas
aku harus bagaimana? aku juga bingung, ibu saja tidak bisa menasehatinya, apa
lagi aku?

Di suatu pagi yang seisi rumah ribut oleh ocehan ayah-ibuku, aku mendengar
ucapan mereka yang lantang dengan suara saling meninggi,
“pak bagaimana nasib anak kita, kalau bapak begini terus, penghasilan pas-
pasan dan tidak cari kerja lain. Masih saja mengurus becak orang yang tidak
mendapakan upah. Sedangkan anak kita sudah masuk kelas 3 SMA, habis ini
butuh dana banyak untuk ujianya” kata ibuku berusa halus.

“Ya udah lah, kalau sudah tidak bisa membiayai sekolah, ya gak usah sekolah”
katanya keras.

Raut muka ibuku menjadi mengkerut.

“Jangan begitulah pak, bapak yang harus bisa cari kerja lain. Tinggalin itu becak-
becak gak berguna. Paling juga di kasih 10 ribu, itu aja kalau ada yang ngasih.”
kata ibuku sedikit meninggi.

“Lah mau kerja apa, reski sudah ada yang ngatur, iya itu dapatnya.”

“Tapi tidak begitu juga pak, bapak menyiksa diri kalau setiapa malam begitu.”

“Udah lah udah, kalau mau sekolah suruh anakmu cari uang sendiri”

Mendengar kata-kata itu hatiku langsung sakit, sungguh sangat menusuk, apa
jadinya kalau aku tidak sekolah? Kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Jujur, aku
memang tidak akrab dengan ayahku. Ngobrol? itu tidak ada dalam kamus
keluargaku, lebih tepatnya aku sama ayahku.

Ketemu di jalan saja kita tidak pernah saling sapa, perhatiannya kepadaku
hampir tidak pernah ada. Sekali doang ketika ibu pergi kepasar dan saat aku
sakit gigi, dia pernah berkata :

“Sakit gigi ta, di kasih pil sana beli di toko sebelah”

Itu kata-kata yang tak pernah terlupakan dalam hidupku. Perhatiannya mungkin
terlalu mahal untuk anak-anaknya. Aku tidak tau kenapa. Mungkin sepele, tapi
buat aku itu berharga sekali.

Sampai suatu hari, dia pergi ke ladang, dan aku sekolah.

Sore hari dia baru pulang, begitu juga denganku. Tapi aku lebih dulu satu jam
dari pada dia. Ayah-ibu datang jam lima sore. Memang jika ibuku usai menjual
gorengan, jika badannya masih bisa bergerak, dia akan ikut ayahku ke ladang
dan membantunya.

Sore itu tidak ada berita buruk sedikitpun. Ayahku juga sehat pada hari itu, begitu
pula ibuku.

Pada malam harinya, aku yang pulang dari rumah temanku yang agak larut,
tepatnya jam 11 malam, aku mendapati ayahku sudah tidur. Tumben banget
kataku.

Ayahku belum sholat isa’. Lalu dari luar kamar aku dengar ibuku yang baru
selesai dari pekerjaannya, membangunkan ayah agar dia laksanakan
kewajibannya.

Aku juga saat itu masih bangun dan menonton tv, mencari-cari kantuk
dengan tiduran di kasur depan ruang keluarga.

Usai sholat, ayahku makan. Entah kenapa dia malah makan, buka langsung
beranjak tidur untuk meneruskan istirahatnya. Setelah itu aku tidak tau kabarnya,
aku sudah terlelap.

Sekitar jam satu malam, aku merasa tidak enak dengan tidurku. Aku setengah
terbangun. Lalu aku mendengar ibuku memanggil-manggil ayahku dalam
kamarnya.

Cukup lama aku mendengarnya, mungkin sekitar 15 menitan. Dan saat itu juga
ibuku menghampiriku lalu membangunkanku dan bilang :

“san.. Bapakmu gak ono ..” (ayahmu gak ada)


Aku yang sudah sadar sejak tadi langsung bangun. Melihat raut muka ibuku
yang kebingungan dan berusaha mencerna.

Aku langsung mendatangi ayahku yang terbaring di kamar.

Sekilas, aku juga tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak pernah melihat
kematian, aku takut. Melihat wajah ayahku dengan mata terbuka dan mulut
menganga. Aku peganng kakinya, dingin, dingin sekali. Aku taruh tanganku di
dadanya, mencoba merasakan denyutan jantungnya. Tapi tak ada detakan
sedikitpun, ayahku telah meninggal.
Dalam benakku, aku kebingungan, apa yang harus aku lakukan, dia sudah tidak
ada. Apa aku harus senang? mungkin dengan begitu sudah tidak ada omelan
lagi di pagi hari jika dia tidak ada. Aku harus bangga, dengan begitu tidak ada
lagi tetangga yang akan terganngu di setiap malam. Toh juga ada tidak adanya
dia, aku tak pernah bicara.

Tapi dia ayahku, ayahku satu-satunya.

Saat itu juga aku meneteskan air mata. Ibuku juga mulai menggeru-geru, kakak
ipar perempuanku juga terbangun dan menangis dengan sangatnya, saat
mengetahui ayah tidak ada.

Aku tidak punya hp, aku tidak bisa menghubungi keluarga yang lain untuk
memberitahukan kejadian ini. Ada kakakku yang tinggal beda rumah di tengah
desa, butuh waktu untuk pergi kesana.

Aku pun pergi ke rumah kakak perempuanku, dan mengabarkan kematian


ayahku. Lalu kakakku juga mengabarkan ke seluruh sodara yang ada di luar
kota.

Beginikah rasanya kehilangan seorang ayah?

Sakit, tapi dalam hidupnya juga tidak membuatku senang sama sekali. Rasa ini
bercampur aduk.

Ibuku yang paling terpukul dengan kejadian ini. Sesosok ibu yang sangat
tangguh dan penyabar pun tak kuasa bila dihadapkan dengan kematian.

3 hari 3 malam ibuku terus saja menangis. Dia masih tidak terima, tidak ada sakit
apa-apa yang menjangkitnya. Pagi juga masih bekerja di kebun, malam juga
masih makan. Secepat itukah kematian menghampiri?

Hari demi hari berlalu. Kami mengenang semua jasa yang pernah dilakukan oleh
ayakku dulu ketika masih hidup. Semua keluarga juga berkumpul di rumah ibu,
dari kakak yang pergi merantau ke Malaisya dan Surabaya.

Ibuku mencertikan semua dibalik apa yang ayahku lakukan, dia berkata :

“Ayahmu sungguh mulia, dia rela membenahi becak-becak yang rusak miliki
temannya itu bukan suatu hal yang percuma. Dia punya prinsip yang baik.
Pernah bilang sebelum kematiannya, ibu tanya kenapa terus-terusan melakukan
pekerjaan yang tidak di bayar itu. Dia berkata : ‘kalau becak-becak itu tidak
segera diperbaiki, maka mereka tidak bisa mencari uang. Sedangkan mereka
butuh uang untuk makan. Dan mereka hanya bekerja sebagai tukang becak'”

Dari situ aku baru mengerti, sungguh tulus perbuatan yang dia lakukan, Dia tau
keluarga kami dari kolongan yang tidak punya, tapi dia melihat temannya lebih
membutuhkan sehingga rela mengorbakan dirinya sendiri untuk orang lain.

Dia juga tau kalau pemilik becak-becak itu tidak akan sanggup membayar uang
sehingga tidak diperbaiki di bengkel, dari sana juga ayahku tak pernah
memberikan tarif bagi mereka.

Pernah sekali,-mungkin saking gak enaknya mereka yang terus-terusan datang


dan tak pernah memberi upah, salah satu dari mereka memberikan upah kepada
ayahku sebesar 10 ribu perak.

Bayangin, sebandingkah 10 ribu dengan kerja lembur begadang?

Aku kaget bercampur kagum, semua yang diceritakan ibuku itu nyata. Dibalik
sosok diamnya, ternyata dia sebetulnya begitu baik. Kematiannya juga tidak
dipersulit, dalam jasatnya juga terahir aku melihat ada keringat dingin yang
membasahi wajahnya.

Aku dengar-dengar dari pengajian bahwa salah satu tanda-tanda kematian


husnul khotimah adalah kematian yang tiba-tiba, keringat keluar dari tubuhnya,
dan lain sebainya. Kuharap ayahku dapat dari salah satunya.

Dari peziarah juga cukup banyak, sampai-sampai temanku bertanya “apakah


ayahmu seorang tokoh dia desa?” Tentu aku jawab tidak. Ayahku orang yang
biasa saja. Tidak terkenal dan jarang dikenal oleh orang banyak.

Satu yang dibisikan ibu ketelingaku, sebuah keikhlasan menghasilkan buah yang
tak pernah bisa dirasakan oleh orang lain. Itulah ayahku.

ohh ayah, andaikan sedikit saja kita bisa bicara, aku ingin sekali menanyakan
bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau sehat-sehat saja? sudahkah kau makan
pagi ini? Tapi waktu kini sudah memisahkan kita.

ohh ayah, mungkin jasamu tak akan bisa aku lupakan, aku hanya bisa
mengucapkan terimakasih sudah membesarkanku sampai seperti ini, aku hanya
bisa berterimakasih. Sampai jumpa ayah. Doaku selalu menyertaimu. Aku akan
berusaha menjadi anak yang sholeh, aku akan jaga ibu selalu..