Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

ANALISIS KUALITATIF LIPID

Nama : Eka Amelia Safitri

NIM : P1337420615026

Kelompok : 8

Asisten : Wulan Damar Sekar Utami

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMETERIAN KESEHATAN SEMARANG

2016
Lembar Pengesahan

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM MATA KULIAH BIOKIMIA


ANALISIS KUALITATIF LIPID

SENIN, 23 MEI 2016

Asisten Praktikan

WULAN DAMAR SEKAR UTAMI EKA AMELIA SAFITRI

NIM. 24020113120005 NIM. P1337420615026


ACARA II

ANALISA KUALITATIF LIPID

I. Tujuan
Mahasiswa akan mampu mengidentifikasi lemak berdasarkan sifat
fisik dan kimianya.

II. Tinjauan Pustaka


2.1 Pengertian Lipid
Lipid merupakan senyawa ester asam lemak dengan
gliserol yang terdiri atas atom karbon, hidrogen, dan oksigen. Lipid
ini merupakan senyawa organik yang tidak larut dalam air, tetapi
larut dalam pelarut organik seperti aseton, alkohol, kloroform, eter,
dan benzena. Lipid memilki peranan penting dalam tubuh, yaitu
berperan sebagai pelarut vitamin yang tidak larut air, sebagai
sumber energi yang efisien, serta sebagai sumber asam lemak
esensial. Jenis lipid yang paling banyak terdapat di alam ialah
lemak atau triasilgliserol yang bersifat hidrofobik nonpolar
(Lehninger, 2004).
Triasilgliserol yang banyak mengandung asam lemak
jenuh, bentuknya padat pada suhu ruang, dan memilki titik cair
tinggi yang disebut lemak. Triasilgliserol yang banyak
mengandung asam lemak tak jenuh, bentuknya cair pada suhu
ruang, dan memilki titik cair rendah yang disebut minyak. Suatu
lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat dalam
alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
non-polar seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter (Lehninger,
2004).
Lipid adalah senyawa yang merupakan ester dari asam
lemak dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus
lain. Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik
seperti eter, aseton, kloroform, dan benzene. Lipid tidak memiliki
rumus molekul yang sama, akan tetapi terdiri dari beberapa
golongan yang berbeda. Berdasarkan kemiripan struktur kimia
yang dimiliki, lipid dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu asam
lemak, lemak dan fosfolipid (Sumardjo, 2006).

2.2 Klasifikasi dan Penggolongan Lipid


Menurut Bintang (2010), senyawa-senyawa yang termasuk
lipid ini dapat dibagi dalam beberapa golongan.
2.2.1 Klasifikasi Lipid
Lipid diklasifikasikan dari berbagai aspek menurut
Poedjiadi (2009):
1. Berdasarkan struktur kimianya, yaitu lemak netral
(trigliserida), fosfolipida, lesitin, dan
sphyngomyeline.
2. Berdasarkan sumbernya (Bahan makanannya), yaitu
lemak nabati (berasal dari tumbuhan), dan lemak
hewani (berasal dari hewan).
3. Berdasarkan konsistensinya, yaitu lemak padat
(lemak atau gajih), dan lemak cair (minyak).
4. Berdasarkan wujudnya, yaitu lemak tak terlihat
(invisible fat), dan lemak terlihat negatif.
Lipid dibagi atas 3 golongan yaitu: Lipid sederhana
yang terdiri atas ester dari asam-asam lemak gliserol.
Ada 3 jenis lemak sederhana yaitu, lemak yang
strukturalnnya pada dalam suhu kamar, minyak yang
strukturnya cair dalam suhu kamar dan lilin atau malam
yang merupakan ester asam lemak dengan alkohol.
Lipid campuran fosfolifid ester yang mengandung asam
lemak dan yang mengandung gugus lain yang terikat
pada alkohol misalnya fosfolipida dan glikopida.
Derivat lipid adalah zat yang berasal dari hasil hidrolisis
zat-zat tersebut antara lain lemak jenuh dan tidak jenuh,
alkohol, gliserol, sterol, dan lemak aldehid (Bintang,
2010).
2.2.2 Penggolongan Lipid
Lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan
pada asam lemaknya. Adapun penggolongannya adalah
asam lemak jenuh dan tak jenuh. Lemak yang
mengandung asam-asam lemak jenuh, yaitu asam lemak
yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dalam lemak
hewani, misalnya lemak babi dan lemak sapi,
kandungan asam lemak yang mempunyai ikatan
rangkap. Jenis asam lemak ini dapat diidentifikasi
dengan reaksi adisi, dimana ikatan rangkap akan
terputus sehingga terbentuk asam lemak jenuh
(Sumardjo, 2006).
Di samping itu, berdasarkan sifat kimia yang
penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang
besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni dapat
dihidrolisis dengan basa, contohnya lemak, dan lipid
yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid
(Poedjiadi, 2009).

2.3 Sifat - Sifat Lemak


Lipid mempunyai sifat umum sebagai berikut menurut
(Poedjiadi, 2009):
a. Tidak larut dalam air
b. Larut dalam pelarut organik seperti benzena, eter,
aseton, kloroform, dan karbontetraklorida
c. Mengandung unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan
oksigen (O). Kadang-kadang juga mengandung nitrogen
(N) dan fosfor (P).
d. Bila dihidrolisis akan menghasilkan asam lemak
e. Berperan pada metabolisme tumbuhan dan hewan.

Berbeda dengan karbohidrat dan protein, lipid bukan suatu


polimer, tidak mempunyai satuan yang berulang. Pembagian
yang didasarkan atas hasil hidrolisisnya (Poedjiadi, 2009).

Adapun sifat-sifat fisika lipid adalah (Poedjiadi dan


Supriyanti, 2009):
a. Tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih
dari satu pelarut organik misalnya eter, aseton,
kloroform, benzena, yang sering juga disebut “pelarut
lemak”.
b. Ada hubungan dengan asam-asam lemak atau esternya.
c. Mempunyai kemungkinan digunakan oleh makhluk
hidup.

2.4 Identifikasi Lipid


Lipid dapat diidentifikasi dari beberapa percobaan menurut
Sumardjo (2006), antara lain
2.4.1 Kelarutan dan Terjadi Emulsi
Gugus – gugus utama lipida memiliki karakteristik
kelarutan (solubilitas) yang berbeda dan sifat yang
digunakan dalam ekstraksi dan pemisahan lemak dari
materi biologis. Emulsi adalah dispersi atau suspensi
mestabil suatu cairan lain yang kedua tidak saling
melarutkan. Supaya terbentuk emulsi yang stabila
diperlukan suatu zat pengemulsi yang disebut emulsifier
atau emulsifying agent yang berfungsi menurunkan
tegangan permukaan antara kedua fase cairan.
Cara kerja emulsifier terutama disebabkan oleh
bentuk molekunya yang dapat terikat baik pada minyak
maupaun air. Emulsifier akan membentuk lapisan
disekeliling minyak sebagai akibat menurunnya
tegangan permukaan, sehingga mengurangi
kemungkinan bersatunya butir-butir minyak satu sama
lainnya. Emulsi adalah campuran antara partikel-
partikel suatu zat cair (fase terdispersi) dengan zat cair
lainnya (fase pendispersi) dimana satu campuran yang
terdiri dari dua bahan tak dapat bercampur, dengan satu
bahan tersebar di dalam fasa yang lain, seperti air dan
minyak. Dikarenakan setiap bahan pangan memilki
karakteristik masing-masing maka setiap bahan pangan
memiliki jenis emulsi dan pengaruh jenis emulsi yang
berbeda-beda. Emulsi tersusun atas tiga komponen
utama, yaitu: pertama, fase terdispersi (zat cair yang
terbagi-bagi menjadi butiran kecil kedalam zat cair lain
(fase internal). Kedua, fase pendispersi (zat cair yang
berfungsi sebagai bahan dasar (pendukung) dari emulsi
tersebut (fase eksternal). Terakhir emulgator (zat yang
digunakan dalam kestabilan emulsi) (Fessenden, 1990).

2.4.2 Sifat Tidak Jenuh


Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui
asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak
jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi
Iod Hubl. Iod Hubl ini digunakan sebagai indikator
perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform
sama banyaknya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam
lemak ditandai dengan timbulnya warna merah asam
lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning
bening.Warna merah yang kembali pudar menandakan
bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai
hidrokarbon asam lemak. Iod Hubl berfungsi sebagai
pengadisi ikatan rangkap yang ada pada asam lemak
tidak jenuh menjadi ikatan tunggal. Asam lemak tidsk
jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus
hidrokarbonnya, sedangkan asam lemak jenuh
mempunyai ikatan tunggal hidrokarbon (Fessenden,
1990).
Trigliserida yang mengandung asam lemak yang
mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan
halogen. Pada uji ketidakjenuhan, pereaksi iod huble
akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan
rangkap pada molekulnya menjadi berikatan tunggal.
Warna merah muda yang hilang selama reaksi
menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh telah
mereduksi pereaksi iod huble (Fessenden, 1990).

2.4.3 Great Spot Test


Great spot test merupakan tes sederhana untuk lipid.
Great spot test (uji noda lemak) bertujuan untuk
mengidentifikasi senyawa pada sampel yang digunakan.
Dalam percobaan great spot test, sampel ditambahkan
dengan eter. Dimana akan memberikan hasil positif jika
ditambahkan dengan gliserol (Fessenden, 1990).
III. Metode
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Tabung Reaksi
2. Pipet Tetes
3. Rak Tabung Reaksi
4. Bunsen
5. Korek Api
6. Penjepit Kayu
3.1.2 Bahan
1. Kloroform
2. Eter
3. Air
4. Larutan 1% Na Karbonat.
5. Hubl Reagen
6. Minyak Kelapa
7. Minyak Wijen
8. Lemak Binatang
9. Bubuk Kedelai
10. Kertas
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Kelarutan dan Terjadinya Emulsi
1. Empat tabung reaksi disiapkan
2. Tabung pertama di isi 1cc (16 tetes) kloroform
3. Tabung kedua di isi 1cc (16 tetes) eter
4. Tabung ketiga di isi 1 cc (16 tetes) air
5. Tabung keempat diisi 1cc (16 tetes) Natrium
Karbonat
6. Kemudian, masing-masing tabung ditetesi satu tetes
minyak kelapa
7. Selanjutnya, mulut tabung ditutup dengan ibu jari
8. Satu persatu tabung digojok dan dibiarkan selama
lima menit
9. Diamati perubahan yang terjadi pada keempat
tabung reaksi dan dicatat dalam buku laporan
sementara.

3.2.2 Sifat Tidak Jenuh


1. 1 cc kloroform diteteskan pada tabung reaksi
2. Ditambahkan 2 tetes Hubl Reagen
3. Larutan dibagi menjadi 3 tabung reaksi
4. Tabung pertama ditambahkan minyak kelapa
5. Tabung kedua ditambahkan minyak wijen
6. Tabung ketiga ditambahkan lemak binatang
7. Dilakukan penambahan sampel tetes demi tetes
8. Hasilnya diamati dan ditulis dibuku laporan
sementara

3.2.3 Great Spot Test


1. Sampel (Bubuk kedelai) dimasukkan ke dalam
tabung reaksi
2. Ditambahkan 2 cc eter dan digojog
3. Dibiarkan sampai larutan eter keluar
4. Larutan eter dipindahkan ke porselin kering
5. Eter dibiarkan menguap
6. Setelah kering usap cawan porselin dengan kertas
biasa
7. Diamati perubahan yang terjadi
8. Hasil pengamatan ditulis dibuku laporan sementara
IV. Hasil
NO PERCOBAAN HASIL FOTO
1 Kelarutan dan Terjadinya a. Tabung I:
Emulsi warna awal
Ambil 4 tabung reaksi kuning bening
berubah
menjadi
kuning keruh.
Tabung I di isi 1cc kloroform Kloroform dan Kloroform (Dok.
Pribadi, 2016)
minyak kelapa
menjadi larut.
Hasilnya yaitu
Tabung II di isi 1cc eter positif (+).
b. Tabung II:
warna awal
putih bening
Tabung III di isi 1cc air berubah Eter (Dok. Pribadi,
2016)
menjadi keruh.
Eter dan
minyak kelapa
Tabung IV di isi 1cc Natrirum menjadi larut.
Karbonat Hasilnya yaitu
positif (+).
c. Tabung III:
Tambahkan 1 tetes minyak warna awal Natrium Karbonat
kelapa pada keempat tabung bening (Dok. Pribadi,
tersebut berubah 2016)

menjadi . Air
dan minyak
Tutup dengan ibu jari dan kelapa tidak
gojoklah tabung reaksi larut. Hasilnya
positif (+).
d. Tabung IV:
warna awal
Dibiarkan selama 5 menit putih bening
berubah
menjadi putih
keruh. Na
Amati terjadinya perubahan karbonat dan
larutan minyak kelapa
menjadi larut.
Hasilnya
positif (+).
Catat hasil pengamatan
dibuku laporan sementara
2 Sifat Tidak Jenuh a. Tabung I
1 cc kloroform warna awal
pink berubah
menjadi warna
orange pada
Tambahkan 2 tetes Hubl tetes ke-16.
Reagen Hasilnya
positif. Kloroform

b. Tabung II sebelum ditetesi

warna awal sampel (Dok.

pink berubah Pribadi, 2016)


Bagilah larutan menjadi 3 tabung
menjadi
reaksi
orange, pada
tetes ke-5.
Hasilnya
positif (+).
Tabung I ditambah minyak c. Tabung III
kelapa warna awal
Minyak Wijen
pink berubah
(Dok. Pribadi,
menjadi 2016)
orange keruh
pada tetes ke-
Tabung II ditambah minyak
5. Hasilnya
wijen
positif (+).

Tabung III ditambah lemak


binatang Lemak Binatang
(Dok. Pribadi,
2016)
Penambahan dilakukan tetes
demi tetes

Amati hasilnya dan catat dibuku


laporan sementara
3 Great Spot Test a. Pada saat
Sampel dimasukkan tabung dikocok eter
reaksi terpisah dari
sampel.
Sampel
mengendap, Bubuk Kedelai
Ditambahkan 2 cc eter dan eter berada (Dok. Pribadi,
digojog diatas, lalu eter 2016)
mulai
menguap.
b. Saat dipindah
Dibiarkan sampai larutan eter lama-kelamaan
keluar air eter
tersebut
menguap dan
hanya tersisa Bubuk Kedelai
Larutan eter dipindahkan ke sampel yang (Dok. Pribadi,

porselin 2016)
ketika diusap
berwarna
kuning yang
menunjukkan
Biarkan eter menguap minyak yang
dihasilkan.
c. Hasilnya
positif (+).
Setelah kering usap cawan
porselin dengan kertas biasa

Amati apa yang terjadi


Catat dalam buku laporan
sementara
V. Pembahasan
Praktikum Acara II Analisa Kualitatif Lipid dilaksanakan pada
tanggal 25 April 2016, pukul 10.00-12.00 WIB, di Laboratorium
Biokimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro.
Pada praktikum kedua dilakukan beberapa uji lipid yaitu kelarutan dan
terjadinya emulsi, sifat tidak jenuh, dan great spot test. Alat yang
digunakan untuk praktikum antara lain tabung reaksi, cawan porselin,
spot plate, pipet tetes, dan rak tabung reaksi. Bahan yang digunakan
untuk praktikum uji lipid antara lain kloroform, eter, air, Na Karbonat,
Hubl reagen, minyak kelapa, minyak wijen, lemak binatang zat padat
(sampel) dan kertas.
5.1 Kelarutan dan Terjadi Emulsi
Prinsip dari kelarutan dan terjadinya emulsi menurut
Poedjiadi (2009) adalah berdasarkan polaritas dari masing-masing
pelarut yang berpengaruh terhadap lemak dan minyak. Tujuan dari
uji kelarutan dan terjadi emulsi adalah untuk mengetahui adanya
kelarutan pada larutan sampel yang digunakan. Selain kelarutan,
menurut Poedjiadi (2009) juga untuk mengidentifikasi adanya
emulsi yang terjadi didalam larutan sampel yang diujikan,
Cara kerja menyediakan empat tabung reaksi, kemudian
tabung pertama di isi 1 cc kloroform, tabung kedua diisi 1 cc eter,
tabung ketiga diisi 1cc air, dan tabung keempat diisi 1cc Natrium
karbonat. Kemudian tambahkan 1 tetes minyak kelapa pada
masing-masing tabung. Satu persatu tutup mulut tabung reaksi
dengan ibu jari dan digojok. Kemudian, diamkan selama 5 menit
dan amati terjadinya perubahan pada masing-masing tabung.
Kloroform berfungsi sebagai sampel pada uji kelarutan dan
terjadinya emulsi dan bersifat nonpolar. Menurut Riawan (1990),
kloroform (CHCl3) dapat digunakan untuk pelarut lemak. Eter
berfungsi sebagai sampel dalam percobaan kelarutan dan
terjadinya emulsi dan bersifat nonpolar. Menurut Poedjiadi (2009)
eter adalah senyawa organik yang ditandai dengan atom oksigen
yang terikat pada dua gugus alkil atau aril. Air berfungsi sebagai
sampel dan pelarut dalam percobaan kelarutan dan terjadinya
emulsi dan bersifat polar. Menurut Sumardjo (2006), air berfungsi
sebagai pelarut yang bersifat polar. Natrium karbonat berfungsi
sebagai sampel dan larutan dalam percobaan kelarutan dan
terjadinya emulsi. Natrium karbonat dapat membentuk emulsi yang
stabil. Menurut Fessenden (1990), natrium karbonat berfungsi
sebagai larutan sampel dan bersifat nonpolar. Minyak kelapa
bersifat nonpolar menurut Poedjiadi (2009), berfungsi sebagai
sampel dalam percobaan kelarutan dan terjadinya emulsi .Menutup
tabung reaksi satu persatu dengan ibu jari sambil digojog menurut
Santosa (2008), berfungsi untuk meratakan minyak kelapa dengan
sampel (kloroform, ether, air, dan natrium karbonat).
Hasil dari pecobaan kelarutan dan terjadinya emulsi
didapatkan pada tabung pertama yang berisi kloroform ditetesi
dengan minyak kelapa warna awal kuning bening kemudian
berubah menjadi kuning keruh. Kloroform dan minyak kelapa
hasilnya menjadi larut. Reaksi yang terjadi positif. Menurut
Poedjiadi (2009), minyak dapat larut pada larutan kloroform
karena sifat kelarutan kedua larutan tersebut sama dengan sifat
kelarutan minyak, yakni nonpolar.
Pada tabung kedua yang berisi eter dan ditetesi minyak
kelapa mendapatkan hasil warna awal putih bening kemudian
berubah menjadi putih keruh. Eter dan minyak kelapa saling larut.
Maka hasilnya positif (+). Menurut Poedjiadi (2009), minyak dapat
larut pada larutan eter sifat kelarutan kedua larutan tersebut sama
dengan sifat kelarutan minyak, yakni nonpolar.
Pada tabung ketiga yang berisi air dan ditetesi minyak
kelapa warna awal bening dan berubah menjadi agak kuning, tidak
larut (memisah). Hal ini karena massa jenis air lebih besar dari
minyak. Hasilnya positif (+). Menurut Fessenden (1990), minyak
bersifat sebagai pelarut nonpolar sedangkan air bersifat sebagai
pelarut polar dan minyak mempunyai sifat tidak larut dalam pelarut
polar dan larut dalam pelarut nonpolar.
Pada tabung keempat yang berisi Natrium karbonat dengan
minyak kelapa mendapatkan hasil terjadi perubahan warna yang
semula bening menjadi putih keruh. Natrium karbonat dan minyak
kelapa saling larut. Hasilnya positif. Menurut Santosa (2008), pada
pencampuran antara minyak dan soda (Na2CO3), juga
menunjukkan bahwa minyak tidak larut tapi membentuk emulsi
yang stabil karena sabun dapat mengemulsikan lemak atau minyak.
Menurut Fessenden (2010), minyak dalam soda (Na2CO3) akan
membentuk emulsi yang stabil karena asam lemak yang bebas
dalam larutan lemak bereaksi dengan soda membentuk sabun.
Sabun mempunyai daya aktif permukaan, sehingga tetes-tetes
minyak tersebar seluruhnya. Itulah yang dinamakan emulsi yang
stabil. Menurut Fessenden (2010), minyak hanya dapat larut pada
pelarut eter dan kloroform, sedangkan minyak sedikit larut pada
ethanol 96%, dan tidak dapat larut pada larutan Na2CO3 0,5%.
Kelarutan dapat dilihat dari fase larutan yang terbentuk; satu fase
menunjukkan bahwa lipid larut, dan dua fase menunjukkan bahwa
lipid tidak larut, di mana fase yang di atas memiliki massa jenis
lebih kecil dari pada fase yang di bawah.
5.2 Sifat Tidak Jenuh
Prinsip dari sifat tidak jenuh menurut Bintang (2010), yaitu
untuk menentukan ikatan rangkap yang ada dalam suatu asam
lemak. Tujuan dari uji sifat tidak jenuh adalah mengidentifikasi
sifat tidak jenuh pada larutan sampel yang digunakan.
Cara kerjanya teteskan 1 cc kloroform. Kemudian
tambahkan 2 tetes Hubl Reagen, selanjutnya membagi larutan
menjadi 3 tabung reaksi, tabung pertama ditambah minyak kelapa,
tabung kedua ditambah minyak wijen, tabung ketiga ditambah
lemak binatang. Penambahannya dilakukan tetes demi tetes,
kemudian hasilnya diamati.
Penambahan kloroform berfungsi sebagai pelarut organik
yang melarutkan minyak dan lemak. Kloroform menurut
(Sumardjo, 2006), merupakan zat cair tanpa warna, dengan bau
manis, menyenangkan dan anastetik. Menurut Poedjiadi (2009),
dengan penambahan klorofrm berfungsi sebagai zat pelarut yang
dapat melarutkan sampel yang diujikan. Hubl reagen berfungsi
untuk menentukan sifat ketidakjenuhan pada asam lemak.
Penambahan Hubl Reagen menurut Bintang (2010), berfungsi
sebagai pengadisi ikatan rangkap yang ada pada asam lemak tidak
jenuh menjadi ikatan tunggal. Minyak kelapa, minyak wijen, dan
lemak binatang merupakan sampel yang digunakan pada
praktikum. Menurut pendapat Bintang (2010) jenis minyak nabati
dan hewani dapat digunakan untuk sampel dalam uji sifat tidak
jenuh, seperti minyak kelapa, minyak wijen, dan lemak binatang.
Menurut Bloor (1943), Minyak kelapa, minyak wijen, dan lemak
binatang termasuk golongan lipid sederhana.
Fungsi penambahan larutan dilakukan tetes demi tetes yaitu
untuk mengetahui reaksi terjadinya perubahan warna secara
perlahan. Menurut Bintang (2010), meneteskan larutan tetes demi
tetes berfungsi untuk mendapatkan terjadinya perubahan warna
dengan perlahan dan menentukan ditetes keberapa perubahan
warna terjadi.
Hasil dari percobaan sifat tidak jenuh menggunakan sampel
minyak kelapa mendapat hasil positif (+). Karena mengakibatkan
perubahan warna yang semula pink berubah menjadi orange.
Tabung kedua dengan penambahan minyak wijen mendapatkan
hasil positif (+), karena warna semula pink berubah menjadi
orange. Tabung ketiga dengan penambahan lemak binatang warna
semula pink berubah menjadi orange keruh mendapat hasil positif
(+). Menurut Bintang (2010), hasil positif menunjukkan bahwa
bahan yang diuji merupakan golongan lemak tak jenuh, sehingga
penambahan pereaksi Iod Hubl mengakibatkan perubahan warna
menjadi merah dan setelah didiamkan beberapa saat warna kembali
ke bentuk semula. Hasil negatif merupakan golongan lemak jenuh
yang menunjukkan adanya perubahan warna menjadi merah muda
yang bersifat tetap setelah penambahan Iod Hubl.
Hasil percobaan minyak kelapa, minyak wijen, dan lemak
binatang menghasilkan reaksi positif, sehingga tergolong ke dalam
asam lemak tidak jenuh yang memiliki ikatan rangkap. Menurut
Winarno (2002), mengatakan bahwa asam lemak jenuh tidak
memiliki ikatan rangkap atau berikatan tunggal, sedangkan asam
lemak tak jenuh memilki ikatan rangkap.
5.3 Great Spot Test
Prinsip Great Spot Test menurut Winarno (2002), adalah
untuk mengidentifikasi adanya minyak atau lemak yang terdapat
dalam sampel. Tujuan dari Great spot test untuk mengidentifikasi
adanya noda lemak pada larutan sampel yang digunakan.
Cara kerjanya bubuk kedelai dimasukkan ke dalam tabung
reaksi. Kemudian ditambahkan 2 cc eter dan digojog. Dibiarkan
sampai larutan eter keluar. Larutan eter dipindahkan ke porselin
kering. Biarkan eter menguap. Setelah kering usap cawan porselin
dengan kertas biasa.
Bubuk kedelai berfungsi sebagai sampel yang digunakan
dalam uji great spot test. Menurut Winarno (2002), bubuk kedelai
berfungsi untuk menguji adanya noda lemak/minyak yang
digunakan dalam great spot test. Bubuk kedelai merupakan salah
satu jenis golongan lemak nabati dan lemak jenuh. Eter fungsinya
pelarut nonpolar yang dapat melarutkan lemak. Menurut Winarno
(2002), eter berfungsi sebagai pelarut organik nonpolar yang yang
dapat melarutkan lemak yang juga merupakan senyawa nonpolar.
Fungsi perlakuan menggojogan 2 cc eter adalah untuk
meratakan sampel (bubuk kedelai) dengan eter. Menurut pendapat
Sumardjo (2006), menggojogan larutan lemak atau sampel yang
digunakan dalam tes noda lemak untuk meratakan larutan sampel
dengan eter agar terlihat jelas noda lemaknya saat diteteskan di
kertas buram. Mengusapkan cawan porselin dengan kertas biasa
berfungsi untuk menunjukkan noda/minyak yang dihasilkan.
Menurut pendapat Sumardjo (2006), mengatakan dengan
mengusap cawan porselin dengan kertas buram untuk
memperlihatkan adanya noda lemak atau minyak yang dihasilkan
dalam kertas tersebut.
Hasil dari percobaan Great Spot Tes adalah positif, karena
pada sampel (bubuk kedelai) yang diusapkan pada kertas biasa
terdapat perubahan warna menjadi kuning dan terdapat minyak
pada kertas (transparan). Menurut Sumardjo (2006)diberikan hasil
positif apabila uji positif yang ditandai oleh terjadinya perubahan
pada kertas saring yang menjadi transparan setelah diusapkan pada
minyak goreng yang ditambahkan dengan eter.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa pada uji Kelarutan dan Terjadinya Emulsi hasilnya
positif. Uji Sifat Tidak Jenuh hasil reaksinya positif. Uji Great Spot
Test mendapatkan hasil positif.
DAFTAR PUSTAKA
Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penenlitian. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Bloor, W. R. 1943. Biochemistry of The Fatty Acids and Their
Compounds The Lipids. Jakarta: EGC
Fessenden & Fessenden JS.1986. Kimia Organik. A H Pundjaatmaka.
Ph.D. Jakarta: Erlangga

Lehninger. 2004. Dasar-dasar Biokimia. Maggy T, penerjemah;


Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principle of Biochemistry.

Poedjiadi, Anna.2009.Dasar-DasarBiokimia.Jakarta:UI Press

Sumardjo,Damin.2006.PengantarKimia.Jakarta:BukuKedokteran EGC

Winarno FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia: Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai