Anda di halaman 1dari 102

www.scribd.

com/madromi

KUNCI ESOTERIS
I
Prinsip Universal
KUNCI ESOTERIS I
Prinsip Universal

Penulis : Dante R Kosasih


Proof : Dunia Desain
Layout : Dunia Desain
Cover : Dunia Desain

Diterbitkan melalui:

Diandra Kreatif
Anggota IKAPI (062/ DIY/ 08)
Jl Kenanga 164, Sambilegi Baru Kidul, Maguwoharjo,
Depok, Sleman, Yogyakarta.
Email: diandracreative@gmail.com
Telpon: 0274 4332233, 485222 (fax)
www.diandracreative.com
Instagram: diandraredaksi @diadracreative
Twitter: @bikinbuku
Facebook: www.facebook.com/diandracreativeredaksi

Cetakan 1, Februari 2018


Yogyakarta, Diandra Kreatif 2017
14,8 x 21 cm, viii + 93 Hlm
ISBN:

Hak Cipta dilindungi Undang-undang


All right reserved

Isi di luar tanggung jawab percetakan


KUNCI ESOTERIS

Prinsip Universal

Ditulis oleh :

Dante R Kosasih

untuk kalangan sendiri dan tidak diperjual belikan


Kunci Esoteris I

PENDAHULUAN

Buku ini merupakan yang pertama dari ketiga seri yang


disusun, dituliskan dan dipersembahkan dengan tulus dan penuh
rasa syukur bagi mereka para pencari kebenaran dalam titian
perjalanan spiritual yang sejati. Sesuai dengan judulnya, buku
ini akan membahas pemahaman spiritual inti atau esoteris yang
mungkin tidak diketahui dan dipahami oleh kebanyakan orang.
Adapun penyusunan materi buku diambil dari beberapa
nara sumber luar biasa yang juga turut memberikan inspirasi
dan mendorong penulis untuk mengumpulkan, menyusun dan
menyajikan kekayaan kebijaksanaan esoteris dalam tata bahasa
yang mudah dipahami dan penjelasan yang sesederhana mungkin.
Ditekankan di sini bahwa dalam pengungkapan pemahaman yang
akan dijabarkan dalam ketiga seri buku ini, penulis tidak pernah
sekalipun mencoba untuk mengarang, mengurangi atau melebih-
lebihkan fakta yang didapat. Namun, untuk tujuan memudahkan,
beberapa pemahaman akan disederhanakan penulisannya agar
lebih mudah dimengerti, berikut juga alur penyajiannya akan
diberikan secara berurutan. Dengan demikian penulis berharap
gambaran dari pemahaman yang utuh akan didapat secara lengkap
pada saat ketiga jilid buku ini selesai dibaca.
Tidak mudah memang merangkum semua ajaran dasar
esoteris dalam ketiga jilid buku yang relatif tipis, terlebih dalam
hal pengumpulan materi yang terkait dengan berbagai sumber,

v
Dante R Kosasih

berikut juga kendala volume bahan yang bertumpuk dan rumitnya


gagasan yang hendak disampaikan, hingga akhirnya penulis
memutuskan untuk menyajikannya dalam bentuk seri.
Buku ini ditulis dengan tujuan untuk berbagi dan mem-
perkaya wawasan pengetahuan sisi ‘dalam’ dari para pencari
dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai
instrumen yang menimbulkan konflik dan perdebatan. Semua
sudah pernah dituliskan, semua sudah pernah dikatakan, semua
sudah pernah dijabarkan, tidak ada hal yang benar-benar baru di
Semesta Raya ini, semua hanyalah pengulangan dan penegasan
dari masa-masa sebelumnya. Isinya selalu sama, dalam penyajian
bentuk dan warna yang mungkin terlihat berbeda. Semoga kita
semua dapat selalu menemukan ketunggalan itu dalam tampilan
yang penuh dengan kebhinekaan.

Dante R Kosasih

vi
Kunci Esoteris I

“Dipersembahkan untuk istriku yang juga seorang sahabat terdekat,


kekasih dan kembaran tercinta, Vannie Ivonne Sutrisna, yang selalu
menjadi inspirasi dan mercu suar di dalam suka duka kehidupan.
Semoga sinarmu yang cemerlang tidak akan pernah padam dan dapat
menjadi lentera mercu suar dalam kegelapan”

vii
Dante R Kosasih

DAFTAR ISI

1. Awal Mula............................................................................1
2. 7 susunan badan manusia..................................................25
3. Susunan Cakra....................................................................52
4. Proses kematian dan kelahiran kembali..............................61

viii
Kunci Esoteris I

BAB I

AWAL MULA

Prolog :

“Dimanakah adanya gerangan Para Pembangun, anak-anak dari


fajar Manvantara yang berkilau-kilauan?... Dalam Kegelapan yang tak
terjamah dari perwujudan mereka yang tertinggi. Para pencipta dari
bentuk yang berakar dari yang tak berbentuk - Akar dari semesta, para
Dewa dan malaikat tertinggi telah beristirahat dalam “Bliss” ( kedamaian
& kebahagiaan tertinggi ) - HPB - The Secret Doctrine

“Dimanakah keheningan itu? Dimanakah telinga untuk


menginderakannya? Tidak. Tidak terdapat kesunyian ataupun suara ;
terkecuali tarikan nafas abadi yang tiada henti....” - HPB - The Secret
Doctrine

“Sang waktu belum lagi menyambar; sinarnya belum juga


dikilatkan ke dalam Benih; Semesta belum juga mengembung.” - HPB
The Secret Doctrine

Pemahaman esoteris tertua dari peradaban manusia saat ini


yang masih dapat dilacak lewat ceceran tulisan kuno, diperoleh
dari sebuah kitab rahasia yang konon usianya lebih tua dari

1
Dante R Kosasih

Veda sekalipun. Kitab tua ini, tidak dapat dimusnahkan oleh api
dan dihancurkan oleh air, bahkan debu zamanpun tidak dapat
menyentuhnya. Kitab tertua ini dituliskan dalam bahasa Senzar,
bahasa sacerdontal yang diturunkan dari mulut ke mulut bagi
golongan terinisiasi tertinggi yang sifatnya sangat rahasia (esoteris).
Jejak dari bahasa yang sangat purba ini masih dapat ditemukan
tercecer di beberapa kitab tertua yang dimiliki oleh peradaban
manusia modern saat ini, salah satunya adalah kitab Deva-Bhasya
yang sampai hari ini masih memiliki banyak inskripsi atau tulisan
yang tidak dapat diterjemahkan atau dipecahkan, juga dalam jejak
kitab peradaban tertua berikutnya yaitu Neter Khari dari bangsa
Mesir, dimana tulisan dalam Kitab ini memiliki kesamaan yang tak
terbantahkan dengan aksara tertua yang ada yaitu ‘Devanagari’,
bahasa misterius ini juga dapat ditemukan di coretan artefak
daun-daun lontar sangat tua yang diambil dari pohon kumbum
di dataran Tibet, dimana dari lontar-lontar ini kemudian banyak
muncul dan dituliskan pemahaman-pemahaman ajaran kearifan
esoteris dari tradisi Budhist Tibet, yang salah satunya adalah
kitab besar ‘Kalacakra Tantra’ (dimana sebagian isi tulisan bagian
‘dalamnya’ telah hilang tidak berbekas).
Di suatu masa yang sangat misterius, di awal fajar
kebangkitan peradaban ras manusia yang sebelumnya, dulunya
hanya terdapat satu bahasa universal yang berlaku dan dipahami
oleh semua yang ada di muka bumi ini. Bahasa Senzar yang lebih
tua dari purba ini, dikatakan memiliki tujuh dialek dan hal ini
sebenarnya juga secara gamblang dituliskan dalam Alkitab, yang
merupakan sebuah Kumpulan kitab yang masih tergolong sangat
muda apabila dibandingkan dengan kitab-kitab lain yang telah
disebutkan sebelumnya di atas tadi.

2
Kunci Esoteris I

Dari Kejadian 11 ayat 1

“Disebutkan pada awalnya seluruh bumi punya satu


bahasa dan logat bahasa. Para manusia pergi ke daerah timur
dan menemukan tanah di Sinear, dan tinggal di sana. Kemudian,
dibuatlah batu bata dan gala-gala dari tanah liat...”

Keterangan mengenai bahasa universal ini juga banyak


dituliskan dan diceritakan kembali di berbagai legenda dunia
peradaban manusia saat ini, seperti misalnya Legenda Kuno
Yunani, yang mengisahkan bahwa dulunya semua manusia
berada di bawah pemerintahan langsung dari para ‘dewa’ dan
hanya memiliki satu bahasa. Hal serupa juga diulangi kembali oleh
peradaban Kaska, yang merupakan salah satu suku indian tertua
di benua amerika utara, ketika menceritakan kembali kisah-kisah
legendanya, sang pembaca cerita selalu mengawali narasinya
dengan kata-kata “Sebelum banjir besar, semua orang hidup di
satu wilayah dan hanya berbicara dengan satu bahasa”. Legenda
dari suku Amazonas di Brazil juga mengisahkan bahwa dahulu
hanya ada satu suku bangsa manusia dan mereka memiliki bahasa
yang sama hingga dimakannya telur dari burung hummingbird,
yang menyebabkan perpecahan di antara mereka dan kemudian
berpisah meninggalkan tempat asalnya dan menyebar ke seluruh
dunia. Demikian juga dengan apa yang diyakini oleh suku Bantu
dari wilayah Afrika Timur, yang juga banyak memiliki kisah
turun temurun kalau pada awalnya semua manusia memiliki
bahasa yang sama. Juga beberapa kelompok orang yang tinggal
di kawasan Polinesia, yang terpisah sangat jauh dari tempat yang
sebelumnya, juga meyakini hal yang sama bahwa dulunya hanya
ada satu bahasa.

3
Dante R Kosasih

Di sini kita dapat melihat bahwa ide yang menyebutkan


bahwa manusia dulunya merupakan satu bangsa yang hanya
memiliki satu bahasa tunggal yang berlaku secara universal,
ternyata tidak hanya diyakini oleh satu kelompok atau satu ras
bangsa saja, namun dari seluruh pelosok dunia ini, dari timur
sampai ke barat, dari utara hingga selatan, selalu saja terdapat
kisah-kisah tua atau legenda dengan unsur yang sama. Hal ini
dapat kita pahami sebagai suatu kebenaran universal yang tidak
dapat dipungkiri lagi, kalau memang benar adanya bahwa di awal
peradaban manusia, semua orang memiliki bahasa sama yang
berlaku secara universal.
Dalam bukunya yang berjudul The Secret Doctrine atau
Doktrin Rahasia, Madame Blavastky menuliskan kalau isi dari
Kitab Purba atau primordial ini, didiktekan langsung oleh tiga
makhluk asing misterius pada golongan para Sage (atau orang-
orang suci) dari ras Atlantis, yang kemudian mewariskannya pada
cikal bakal keturunannya, yaitu bangsa Toltec, sebelum akhirnya
diadaptasi kembali oleh peradaban bangsa Aria saat ini, yang
kemudian tentu saja menjadi sangat esoteris atau rahasia dengan
peristiwa tenggelamnya benua Atlantis pada waktu itu. Pecahan-
pecahan ajaran turun temurun purba ini kemudian tercecer dan
terbawa ke tujuh pelosok peradaban dunia yang lebih ‘baru’,
dimana hingga hari ini, warisannya masih dapat diamati terkubur
di sela-sela bayangan aksara Devanagari yang misterius hingga
diadaptasikan kembali dalam susunan bahasa-bahasa peradaban
yang lebih ‘baru’ seperti aksara latin, sansekerta dan pali. Dari
Satu induk bahasa, menjadi berbagai pecahan dan variasi bahasa
yang sebenarnya juga masih berhubungan antara satu dengan
yang lainnya. Oleh karena hubungan yang luar biasa ini, sering
kali terdapat kosakata yang secara mengejutkan masih memiliki

4
Kunci Esoteris I

artian yang sama, dalam bahasa bangsa-bangsa yang terpisah jarak


ribuan kilometer.
Bahasa Senzar ini, adalah sebuah bahasa purba yang sifatnya
lebih ke piktograf atau kumpulan ‘aksara simbolis’ ketimbang
fonetik atau sistem bahasa tulisan yang mengedepankan sistem suara dan
lafal. Bahasa simbol ini salah satunya dapat kita jumpai di sistem
penulisan karakter bahasa cina dan Hirograf mesir kuno. Bahasa
Piktograf merupakan jenis bahasa yang ideografis, yang lebih
condong memiliki artian kata ketimbang suara, dan merupakan
ekspresi langsung dari sesuatu hal yang ingin disampaikan. Besar
kemungkinannya, bahasa Sacerdontal ini merupakan hasil tulisan
dari sinyal-sinyal yang ditirukan oleh para Sage peradaban lalu,
dari hasil inter-komunikasinya dengan tiga makhluk misterius
tadi.
Adapun yang pertama kali terpampang dalam kitab tertua
yang tanpa nama ini, adalah gambar sebagai berikut :

Keempat diagram atau simbol di atas tadi, merupakan


pemahaman tertua yang masih dapat kita warisi saat ini, dimana
keempat simbol di atas berhubungan langsung dengan hikayat
asal muasal alam semesta dan juga meliputi peradaban manusia,
dari yang pernah ada, hingga saat ini.
Sebelum kita melangkah lebih lanjut mengenai arti dari
keempat simbol di atas tadi, ada baiknya apabila kita menyamakan
persepsi mengenai pemahaman waktu secara ‘linear’ dan

5
Dante R Kosasih

Pemahaman yang ‘non-linear’.


Di bawah ini merupakan diagram pemahaman khalayak
umum mengenai waktu :

Pemahaman waktu yang primitif ini adalah apa yang diyakini


oleh sebagian besar manusia atau golongan umum saat ini. Mereka
menghubungkan waktu dengan sebuah analogi anak panah yang
melesat di ‘depan’. Dalam anggapan ini, waktu akan terbagi
menjadi tiga titik, yaitu : 1. Masa lalu yang berada di ekor anak
panah, 2. Masa sekarang yang berada di tengah dari anak panah
waktu dan 3. Masa depan yang tentu saja berada di kepala dari
anak panah itu sendiri. Seiring dengan pemahaman ini, mereka
juga kemudian meyakini kalau peradaban di bumi ini, akan secara
otomatis berjalan mengikuti kaidah alur waktu yang ‘linear’ ini.
Peradaban dimulai dari titik yang terbelakang dan dilanjutkan
dengan titik yang berada di tengah dan akan menuju ke titik yang
terdepan.
Namun, golongan yang lebih esoteris akan melihat waktu
seperti ini :

6
Kunci Esoteris I

Artinya :
Tidak ada masa lalu,
tidak ada depan, yang ada
hanya saat ini. Dimensi wak-
tu berbentuk sphere atau ling-
karan ini juga menyiratkan
secara eksplisit bahwa titik-
titik peradaban yang mung-
kin pernah muncul sebelum-
nya dan sedang berkembang
pada saat ini, sama sekali tidak mewakili tingkat kemajuan dari
peradaban lain yang mungkin muncul setelah atau sebelumnya
(diilustrasikan dengan titik-titik merah di sisi terluar lingkaran),
karena sifatnya yang bulat atau seimbang dan tidak memiliki kai-
dah “urutan”.
Dimana apabila kita melihat waktu sebagai garis linear
seperti yang ada pada diagram pemahaman waktu yang “primitif”
sebelumnya, maka secara otomatis peradaban yang berada di
‘masa lalu’ merupakan peradaban yang tidak lebih tinggi dari
peradaban yang ada di ‘masa sekarang’, dan peradaban ‘masa
sekarang’ tentu saja tidak akan lebih tinggi dari peradaban di
‘masa depan’. Pemahaman ini menghubungkan perjalanan waktu
dengan sebuah teori yang juga sangat purba (yang belakangan
ini diklaim secara sepihak sebagai kemajuan Science), yaitu teori
evolusi. Dalam pemahaman garis waktu linear, maka evolusi
dikaitkan dengan gerakan ‘panah waktu’ yang selalu bergerak ke
‘depan’, meninggalkan bagian yang kurang berkembang di bagian
belakang dan yang paling berkembang di kepala panahnya.

7
Dante R Kosasih

Menurut hipotesa dari Science saat ini, diyakini kalau Planet


Bumi atau Gaia selesai terbentuk sekitar 4.54 miliar tahun yang
lalu, kehidupan kompleks belum berkembang hingga 3.5 miliar
tahun yang lalu. Dan menurut Science, spesies manusia saat ini
atau Homo Sapiens baru mulai muncul sekitar 790 ribu tahun yang
lalu dan baru mulai berkembang pesat di sekitar 11 ribu tahun
yang lalu. Anggapan ini mungkin benar apabila kita melihatnya
dari sudut pandang munculnya spesies ‘modern’ yang diberi
label sebagai ‘homo sapiens’ ini, namun sayangnya sejarah tidak
berjalan sesederhana itu.
Di sepanjang perjalanan kehidupan Gaia atau Bumi dari
semenjak kemunculannya miliaran tahun yang lalu, pada dasarnya
sudah banyak sekali ras dan peradaban yang pernah muncul
dan hancur di atas bumi ini dan ras kita saat ini, Homo Sapiens
bukannya satu-satunya peradaban besar yang pernah ada dan
mendominasi dunia.
Planet Bumi seperti halnya planet-planet lain yang tersebar
di tata surya ini bahkan di kumpulan galaksi dan semesta raya,
akan mengalami banyak perubahan secara geologis dalam rentang
waktu tertentu, gerakan tektonis ini berlangsung selama ber-aeon-
aeon lamanya, miliaran tahun, hingga saat ini, gerakan tektonis ini
masih juga berjalan dengan sangat lambat. Gerakan alamiah bumi
ini mengakibatkan timbul tenggelamnya pulau-pulau lama dan
baru, munculnya daerah pesisir dan melahirkan puncak-puncak

8
Kunci Esoteris I

gunung tinggi baru yang menjulang tinggi menembus langit.


Selama miliaran tahun, wajah bumi senantiasa mengalami banyak
perubahan besar dan kecil, hal ini membawa akibat langsung atas
semua bentuk kehidupan yang tinggal di atas permukaannya. Benua
baru lahir, benua lama tenggelam, ribuan spesies lama musnah
dan digantikan oleh jutaan spesies yang baru, dan seterusnya.
Dunia selalu berada dalam keselarasan dengan hukum alam yang
berlaku universal di semua sudut semesta alam, yaitu Pergerakan
yang perpetual. Di mana ada daya kehidupan atau prana, di sana
akan timbul pergerakan dan di mana ada pergerakan, di sana
secara otomatis proses evolusi akan terjadi dengan sendirinya.
Demikian juga yang terjadi dengan planet Bumi. Semuanya berada
dalam gerakan yang abadi, yang mungkin tidak tertangkap oleh
mata fisik kita yang sangat terbatas ini, namun pergerakan itu
tetap merupakan sebuah keniscayaan, tidak ada satu hal pun yang
diam, semuanya bergerak, semuanya berevolusi.
Permukaan planet bumi yang anda lihat saat ini, yang
mungkin anda kenali dengan fitur-fitur khususnya, yang mungkin
menandai tempat-tempat atau garis-garis batas antara negara,
tidaklah merupakan suatu hal yang abadi. Ratusan hingga jutaan
tahun dari sekarang, permukaan planet bumi akan mengalami
perubahan, di tempat yang mungkin dulunya adalah gurun pasir
yang tandus, jutaan tahun dari sekarang, mungkin akan berubah
menjadi gugusan pulau-pulau tropis. Beberapa gunung yang
menjulang tinggi saat ini, suatu hari mungkin akan menjadi ngarai
dan lembah-lembah yang sangat dalam. Beberapa benua akan
tenggelam dan beberapa benua yang sebelumnya berada di bawah
permukaan laut, akan muncul kembali ke permukaan, menandai
lahirnya dataran baru, kawasan baru, tanah baru. Hal ini bukanlah
merupakan suatu hal yang luar biasa, dan tentu saja merupakan

9
Dante R Kosasih

hal yang pasti akan terjadi dan memang sudah pernah terjadi di
masa era peradaban manusia di masa sebelumnya.
Adapun detail mengenai kisah-kisah peradaban ‘manusia’
yang sebelumnya akan dituliskan secara lebih lengkap pada seri
kedua dari buku ini dan oleh karena itu tidak akan kita bahas lebih
lanjut di sini.
Kembali lagi, semuanya dimulai dari kehadiran simbol
lingkaran, seperti yang ada di bawah ini.

FASE PERTAMA
Lingkaran Kosong

Ini adalah apa yang dinamakan dengan telur dunia atau


mundane egg, atau telur semesta yang mungkin dituliskan dalam
berbagai istilah di berbagai literasi esoteris kuno, dengan esensi
yang sama. Lingkaran mewakili sebuah kondisi yang kosong,
sebuah kondisi yang penuh dengan kegelapan. Perlu diketahui,
kegelapan yang dituliskan di sini bukanlah mewakili kata ‘gelap’
sebagai lawan dari kata ‘terang’.
Kegelapan yang dimaksudkan di sini adalah sama seperti
apa yang dituliskan dalam kitab Kejadian, alkitab, yang selama ini
dipahami secara kurang tepat oleh sebagian besar dari pemeluk
agama Nasrani.
Musa, sebagai penulis langsung dari kitab kejadian, berikut

10
Kunci Esoteris I

juga keempat kitab besar yang mengikutinya di dalam perjanjian


lama Alkitab, memulai kisah awal penciptaan dengan penggunaan
kata-kata ‘kegelapan’, 1. Pada mulanya, Allah menciptakan langit
dan bumi, 2. Bumi belum berbentuk dan kosong dan kegelapan
ada di atas permukaan air yang dalam; dan ROH Allah bergerak
ke sana kemari di atas permukaan air.
Berikut ini juga beberapa referensi yang diambil dari Veda
atas asal muasal dari semuanya “Pada mulanya sama sekali
tiada apapun. Tiada surga, tiada bumi dan atmosfer” - Taittiriya
Brahmana 2.2.9.1
“Seluruh semesta termasuk bulan, matahari, galaksi dan
planet-planet ada di dalam telur. Telur ini dikelilingi oleh sepuluh
kualitas dari luar.” -Vayu Purana 4.72-73
“Di akhir dari ribuan tahun, Telur itu dibagi dua oleh Vayu.”
-Vayu Purana 24.73 “Dari telur emas, alam material diciptakan.”
-Manusmrti 1.13
Mitos dari Quiches, suku Indian di Amerika Selatan, bisa
ditemukan di Popol Vuh. Suku Quiches percaya bahwa pada
mulanya adalah air dan ular berbulu.
“Kala-Hamsa (angsa hitam), berenang mendekati bunga
Lotus, dan mengapung di atas permukaan air yang hidup, Roh
Tuhan mengapung di atas permukaan air... “ diambil dari Vishu
Purana.
Beberapa cuplikan tulisan kitab-kitab besar di atas, apabila
kita jeli melihat, pada dasarnya memiliki kesamaan antara satu
dengan yang lainnya. Semuanya berbicara mengenai “air, kegelapan
(hitam) dan telur”.
Semua ekspresi ini merupakan turunan dari simbol lingkaran
tadi. Simbol lingkaran ini adalah menyimbolkan telur semesta
yang masih kosong namun penuh. Kekosongan di dalam lingkaran

11
Dante R Kosasih

itu, dikaitkan dengan kata gelap, kegelapan, air. Gelap dan kegelapan
di sini bukanlah antonim atau lawan kata dari ‘cahaya’. Kata gelap
dan kegelapan di dalam lingkaran atau telur tadi mewakili sebuah
misteri yang tidak tertembus dari potensialitas, semua hal yang
belum mewujud, semua hal yang belum termanifestasi, di mana
semua ‘dzat’ ini, berada dalam ke-tunggal-an yang absolut. Tidak
ada perbedaan, tidak terdapat ini dan itu, semuanya satu, dalam
satu ‘kegelapan’ atau semua ke-potensialitas-annya yang melampaui
semua pemahaman makhluk yang terbatas.
“Lautan kegelapan” ini dalam tradisi esoterik tertua dunia
peradaban manusia yang lebih baru, yaitu veda, seringkali
disebut sebagai Mulaprakriti, atau ‘zat’ mula-mula, yang tunggal,
tidak memiliki atribut, tidak terbayangkan, tidak dapat dicerna,
melampaui semuanya, tidak berakar, tanpa akhir dan awal, tidak
terbatas, abadi, tidak mengenal perubahan dan merupakan sebuah
sinonim dengan ‘Parabrahman-nya’ Shankaryacharya, Ain-soph-
nya Kabalah dan juga apa yang disebut sebagai Nirguna Brahman
dalam kitab Vishishtadvaita. Madam Blavastky seringkali
menuliskan hal ini (yang juga bukanlah hal) sebagai ‘ruang abstrak’
yang meliputi semuanya.
Sakyamuni, yang selama ini dikenal luas tidak mendukung
teori keabadian dalam notasi atmannya seperti apa yang dipahami
oleh golongan eksoteris atau ‘luar’ , ternyata juga pernah membahas
mengenai substansi primordial ini, seperti yang ditulis dalam :
Sutta Pitaka, Udana VIII : 3.
“Ketahuilah para Bhikkhu,
bahwa ada sesuatu Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak.
Apabila tidak ada Yang tidak dilahirkan,
Yang tidak menjelma, Yang tidak diciptakan, Yang mutlak,

12
Kunci Esoteris I

maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,


penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi, karena ada Yang tidak dilahirkan.
Yang tidak menjelma, Yang tidak tercipta, Yang mutlak,
maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”.
Inilah pemahaman esoteris dari simbol-simbol yang tertulis
di kitab-kitab besar dunia, yang selama ini sering kali disalah
artikan atau di pahami secara tidak tepat dan menjadi rujukan dari
suatu pemahaman eksoteris atau luar atau umum yang sifatnya
lebih primitif, seperti pandangan kalau Roh sosok Tuhan benar-
benar melayang di atas permukaan air secara harfiah (logikanya,
kalau sosok ‘Tuhan’ ini belum menciptakan apapun juga, lantas
darimana ‘air’ itu ada? apakah air dan kegelapan telah ada
sebelum Tuhan menciptakan segala sesuatu?), juga kegelapan
yang dimaknai sebagai sebuah kondisi tertentu karena ketiadaan
cahaya atau ke-absen-an cahaya, bahkan beberapa orang melihat
gambaran Kala-hamsa sebagai salah satu bentuk manifestasi dari
dewa Vishnu itu sendiri.

FASE KEDUA
Lingkaran dengan satu titik di tengah

Titik di tengah lingkaran yang muncul atas dorongan


kehendak dari yang ‘tidak diketahui’ ini mewakili timbulnya

13
Dante R Kosasih

sebuah kesadaran. Sebuah kesadaran, tidak lebih dan tidak kurang.


Kesadaran awal ini tidak perlu diantropomorsikan menjadi suatu
figur atau sosok Deva atau Tuhan, namun apabila memang
harus diwakilkan ke dalam sebuah bentuk supaya lebih dapat
dimengerti, titik kesadaran yang muncul dari kedalaman lautan
gelap potensialitas itu dapat kita hubungkan dengan pemahaman
Ilahiah yang berbentuk, seperti Allah, Yahwe, Brahma, Aditi dan
lain-lain. Semua label-label ‘nama’ fana ini tak lain adalah bentuk
‘pemadatan’ dari kesadaran Ilahiah yang sengaja dibuat demikian
agar lebih mudah dipahami oleh golongan manusia kebanyakan
dalam pengertian spiritual yang sifatnya eksoterik (luar).
Ini adalah fase atau tahap ‘kedua’ yang mengikuti simbol
lingkaran kosong di awal tadi. Di tahap ini, muncul sebuah titik di
tengah-tengah lingkaran atau telur semesta. Ini berkaitan dengan
sebuah filosofi penciptaan, seperti yang didiktekan oleh ketiga
makhluk asing pada sekumpulan Sage di awal fajar peradaban
Atlantis, jutaan tahun yang silam.
Pada tahapan ini, titik di tengah merupakan manifestasi
pertama dari salah satu aspek potensialitas yang ada (kegelapan
itu) sebagai kehendak atau sir dalam bahasa jawa.
Munculnya aspek ‘kehendak’ ini juga menandakan kalau
lautan air potensialitas yang gelap itu tadi (karena ke-misterius-
annya), kini sudah mengalami proses diferensiasi atau proses
pembagian pertamanya. Dari kegelapan itu (ke-potensialitas-
an) kini muncul sebuah kehendak sebagai sebuah potensi. Dari
kepotensialitasan menjadi sebuah potensi, dari yang belum ada
atau chaos, mewujud menjadi ada.
Secara Esoteris, inilah yang dinamakan sebagai ‘Roh’ atau
Soul atau Purusha dalam filosofi hindu dan Logos dalam Theosophy.
Aspek Ilahiah pertama yang muncul dari kegelapan atau chaos

14
Kunci Esoteris I

(kekacauan) itu tadi, adalah Aspek Kehendak Ilahi. Kehendak


untuk apa? kehendak untuk bermanifestasi. Kehendak untuk
mengalami. Kehendak untuk menjadi ada.
Di dalam Buddhisme Vajrayana yang sangat esoteris, inilah
yang disebut sebagai istilah “Adi Buddha” atau dang-po’i sangs-
rgyas, dan Vajradhara dalam Tibetan Buddhist yang artinya adalah
Buddha Purba, yang tidak mengacu pada seseorang atau individu
tertentu, namun lebih pada kesadaran purba pertama. Adi adalah
yang pertama, aspek potensialitas atau kegelapan yang pertama
bermanifestasi sebagai ‘kehendak’ atau will (bahasa Inggris)
atau sir (bahasa jawa) di tataran alamnya sendiri yang kemudian
dipahami sebagai tataran alam Adi.
Aspek kehendak ini tidak memiliki sifat feminim atau
maskulin, terbebas dari semua bentuk dan berada dalam tataran
alamnya sendiri, yaitu tataran alam Adi, yang tidak terbatas,
omnipotent dan murni. Ini adalah sebuah kondisi pertama dari
manifestasi prima atau awal yang sangat purba dan secara esoteris
sering kali dikatakan sebagai ibu-bapa dari semua kehidupan
di alam semesta. Ini adalah sebuah diferensiasi pertama yang
sifatnya periodikal dan karena telah termanifestasi dalam bentuk
kesadaran, maka ia pun kini menjadi sesuatu yang sifatnya tidak
abadi, walaupun tetap saja merupakan sebuah puncak kesadaran
prima yang melampaui segalanya, sangat tinggi dan omnipotent.
Munculnya kesadaran ini mewakili apa yang disebutkan
di kitab-kitab kuno bangsa aria sebagai periode ‘siang’ hari dari
sang ‘brahma’. Secara esoteris, terdapat dua tarikan nafas besar
dari Sang “brahma”, yaitu masa dimana Nafas Sang ‘Brahma’
dihembuskan ‘keluar’, yang dikenal sebagai periode “siang” atau
manifestasi atau ‘kreasi’ yang akan melahirkan alam semesta yang
berbentuk dengan semua makhluk yang ada di dalamnya, dan

15
Dante R Kosasih

masa yang dikenal sebagai periode ‘malam’ dari Sang ‘Brahma’


dimana dalam fase ini, tarikan nafas ditarik kembali ke ‘dalam’,
menandakan berakhirnya semua kehidupan alam semesta yang
termanifestasi dan kembalinya semua hal yang ada dan pernah
ada serta mungkin juga yang akan ada, kembali ke dalam pelukan
‘lautan gelap yang tak berdasar’ itu tadi. Peristiwa ini dikenal
dengan berbagai istilah, namun istilah yang umum dan mungkin
dapat dipahami oleh sebagian besar orang adalah ‘Maha Pralaya’
atau ‘kiamat besar’.
Pada Periode Maha Pralaya ini, semua yang berbentuk dan
memiliki bentuk, yang sifatnya tentu saja fana dan terbatas, akan
ditarik kembali hingga ke titik awal di dalam bulatan telur dunia
atau semesta, yang sama persis kejadiannya ketika periode awal
mulanya dulu, ketika titik yang sama baru muncul di tengah
lingkaran untuk melahirkan berbagai bentukan atau manifestasi
di awal periode “siang” dari sang ‘Brahma”. Bahkan, akan tiba
saatnya nanti bagi kesadaran awal yang omnipoten itu tadi, yang
mewakili aspek-aspek dari semua Keilahian yang ‘berbentuk’ atau
Saguna Brahman, akan juga masuk kembali terserap ke dalam
lautan Nirguna yang misterius dan tak terjangkau dasarnya itu.
Inilah yang dimaksudkan tadi bahwa meskipun titik
kesadaran awal itu sifatnya omnipoten, tinggi dan tak terbatas,
namun tetap tidak abadi atau relatif fana, walau memang berada
dalam rentang ‘usia’ yang tak terbatas bagi semua batasan usia
makhluk-makhluk lain yang ada di ‘bawah’-nya.

16
Kunci Esoteris I

FASE KETIGA
Lingkaran yang terbagi menjadi dua.

Ketika titik kesadaran awal tadi berubah menjadi garis yang


memisahkan ruang abstrak dalam telur dunia, kesadaran yang
awalnya tidak memiliki sifat apapun dan tunggal, kini kembali
mengalami fase diferensiasi kedua, yang sering kali disebut dengan
istilah ‘shabavat’ dalam buddhisme esoteris. Dalam tahapan ini,
sebuah kondisi baru muncul yang akan mendorong timbulnya
keberadaan. Diagram di atas tadi mewakili bentuk feminim dari
alam, yang sering kali juga disebut sebagai Bunda Semesta, dimana
daripadanya semua fenomena bentukan atau manifestasi akan
terlahirkan.
Perlu dipahami di sini, pemahaman esoteris tidak pernah
mengimplikasikan sebuah kreasi atau penciptaan, pemahaman
esoteris memahami bahwa sejatinya tidak ada sosok pencipta dan
yang diciptakan, tidak ada yang di ‘luar’ dan yang ‘di dalam’, tidak
ada perbedaan antara ‘Dia’ dan ’kita’, karena esensinya bukanlah
mengarah pada sebuah sosok yang aditi atau sosok ’ilahiah’ yang
diantromorfosikan seperti apa yang lazimnya dipahami oleh
golongan yang lebih eksoteris. Dalam pemahaman esoteris, tidak
ada penciptaan, non kreasi, yang ada hanyalah pengembangan
kesadaran.
“Jadilah terang...” kata-kata sosok Tuhan di dalam Alkitab ini

17
Dante R Kosasih

sebenarnya memiliki artian yang lebih esoteris ketimbang ucapan


dari sesuatu yang diantromorfosikan sebagai Allah atau Tuhan.
Secara esoteris, tulisan “Jadilah terang” ini mengandung artian
dimulainya kemunculan dari keberadaan, sebuah manifestasi.
Sebuah manifestasi dari ‘kehendak’ Ilahiah itu tadi, yang
mengejawantah menjadi sebuah keberadaan yang digambarkan
dalam simbol Bunda Semesta di atas itu tadi.
Bunda Semesta yang digambarkan dalam lingkaran yang
terbagi dua tadi, bukanlah gambaran langsung sebuah sosok dewi
tertentu yang akan mencipta, namun lebih pada sebuah tahapan
kesadaran alam, dimana pada saat ini, kesadaran alam itu telah
‘terbelah’ menjadi dua, yaitu : Roh dan Materi. Dalam Tradisi
Esoteris bangsa Aria, Roh biasa disebut sebagai Purusha dan Materi
disebut sebagai Prakriti, pemahaman yang sama juga dikenal
dalam aliran Samkya yang sangat detail mengamati pembagian
atau diferensiasi.
Sebagai cikal bakal dari semua keberadaan di alam semesta
yang terlihat atau yang termanifestasi, Bunda Semesta mutlak
memiliki dua aspek gabungan ini, yaitu aspek Roh dan aspek
Materi. Kesadaran memerlukan kedua aspek ini untuk menjadi
‘ada’ dan mewujud. Tanpa Roh, semuanya tidak akan dapat
benar-benar ‘hidup’ dan sebaliknya, tanpa Materi, maka tidak
akan ada wahana atau kendaraan untuk mengekspresikan dan
mempersepsikan kehadiran sebuah ‘keberadaan’, dari sebuah
‘ke-’ada’an’. Bunda Semesta merupakan wadah kesadaran untuk
‘melahirkan’ atau memberi jalan bagi munculnya alam semesta
yang termanifetasi.
“Ibu-Bapa merenda sebuah jaring dimana bagian atasnya
diikatkan pada Roh - Cahaya dari kegelapan yang tunggal - dan
pada bagian bawahnya diperuntukkan bagi ujung yang dipenuhi

18
Kunci Esoteris I

bayangan, Materi dan jaring ini adalah Semesta Raya yang direnda
dari dua substansi yang dijadikan satu, yakni Svabhavat” Stanza
3-10, SD karangan HPB

“Dan apakah orang-orang... tidak mengetahui bahwasanya


langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu,
kemudian Kami pisahkan antara keduanya…” (Q.S. Al Anbiya [21]
:30).

FASE KEEMPAT
Munculnya garis vertikal dari atas ke bawah membelah lingkaran
dan kembali ke atas

Semua hal yang bermanifestasi atau menjadi ada dalam


bentuknya yang paling kasar saat ini, yaitu bentuk fisik, tidak
dapat serta merta berfenomena dalam bentuknya saat ini. Semua
hal tetap harus bekerja sesuai dengan kaidah alam. Semenjak fase
Svabhavat itu terjadi atau pemisahan kesadaran menjadi Roh dan
Materi atau Purusha dan Prakriti, maka perjalanan sucinya ke
“bawah” harus segera dimulai.

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi


untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu
dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala

19
Dante R Kosasih

sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)

Menurut kitab yang lebih esoteris, yaitu Purana,


Pancabuddhindria dan Pancakarmendria, yang disebut pula
Dasendria (sepuluh indra) mulai terbentuk secara perlahan
semenjak fase shabhavat, hingga ber-aeon-aeon kemudian
akan membentuk Pancatanmatra (benih semesta fisik) dan
Pancamahabhuta (benih semesta yang lebih halus). Diceritakan
kemudian, bagaimana benih dari semesta fisik akan memberikan
kelahiran bagi elemen-elemen yang dibutuhkan untuk lahirnya
alam jasmaniah atau ‘semesta yang kelihatan’ dan benih semesta
yang lebih halus pada gilirannya nanti akan menyusun ketujuh
alam yang ada di atas atau alam ‘Svaha’ dan ketujuh alam yang
ada di bawah atau ‘Bhur’.
“Pencelupan” keberadaan dari tataran dunia atas, tempat
asalnya semua kesadaran yang termanifestasi, berjalan sangat
lambat dan rumit. Berbagai elemen semesta masih berada dalam
kondisi awal, sebuah kondisi yang dormant atau statis, semua
unsurnya tidak berdaya, belum sepenuhnya berfungsi dan
membutuhkan banyak campur tangan berbagai makhluk-makhluk
mulia dan perkasa yang secara esoteris dikatakan bahwa mereka
ini konon ‘didatangkan’ dari kalpa yang sebelumnya, gabungan
kesadaran agung kolektif ini dengan tanpa henti mengalirkan
vibrasi demi vibrasi, mengatur dan membentuk semua jenis
elemental di tataran alam-alam yang lebih halus, agar nantinya
dapat turut mempersiapkan jalur-jalur medan evolusi perjalanan
suci, bagi benih-benih keberadaan dari tataran alam yang lebih
tinggi dan halus lagi, yang sering kali di istilahkan dengan istilah
“Anupadaka”, dimana dari sini Bunda Semesta memercikkan
percikan-percikan Api Ilahiah, Putra-Putra Api yang esensinya

20
Kunci Esoteris I

satu namun juga yang tak terhitung jumlahnya dan ‘mencelupkan’


semuanya ke dalam lapisan demi lapisan alam yang memiliki
berbagai jenis kepadatan dan sifat, dari yang paling halus atau arupa
(tanpa bentuk) hingga akhirnya setelah berulang kali melewati
siklus demi siklus evolusi atau pembangkitan kesadaran, “Para
Putra Api” tadi akan dapat sepenuhnya memadat dan berfungsi
penuh kesadarannya di era peradaban ras bangsa keempat Bumi
ini, yaitu bangsa Atlantis.
Di Era ini, ’manusia’ dikatakan telah sepenuhnya jatuh ke
dalam alam materi, yang ditandai dengan pemisahan jenis kelamin,
dari ketunggalan, menjadi laki-laki dan wanita. Pada fase ini, yang
perjalanannya telah memakan waktu ber-aeon-aeon (satuan waktu
yang mewakili rentang pemahaman yang lebih lama dari abad),
kesadaran sepenuhnya telah mencapai dasar dari kolam alam
materi, sebuah kejatuhan yang sempurna dalam pelukan alam
fisik, alam keberadaan dengan fenomena bentukan yang heterogen,
hal ini diwakilkan dengan simbol lingkaran dengan garis vertikal
yang membelah di tengahnya, dari atas hingga mencapai titik yang
paling bawah.
Perjalanan Ziarah suci ini tidak berakhir di dasar kolam
materi dari alam semesta yang kelihatan. Titik kesadaran yang
terendah ini, yang begitu kental terbungkus oleh materi dan begitu
erat terikat oleh jerat Maya, akan mulai tergugah. Menyadari
esensi alam fisik yang sifatnya tidak memuaskan, tidak abadi dan
selalu berubah-ubah, maka kesadaran yang sebelumnya terpancar
‘keluar’, mulai memiliki kerinduan untuk kembali pada hal-
hal yang sifatnya lebih ‘nyata’. Dari titik kuliminasi terendah ini
kemudian akan muncul perjalanan ziarah kedua, yaitu perjalanan
kembali ke ‘atas’, menuju ke rumahnya yang sejati, menuju ke
Diri yang sebenarnya, yang abadi. Kerinduan-kerinduan bathin

21
Dante R Kosasih

untuk kembali mengarahkan ‘matanya’ ke sisi dalam, ke sisi yang


lebih spiritual ini melahirkan bibit-bibit spiritual dan daya-daya
transformasi untuk kembali menuju ke sebuah keniscayaan yang
lebih hakikat.
Dari bentukannya yang sangat halus di tataran dunia
tertinggi, perlahan tercelup ke dalam lautan manifestasi, dari satu
alam ke alam yang lain, dari satu fenomena bentukan ke bentukan
yang lain, hingga mencapai titik terendahnya yang paling kasar
atau padat, kini kesadaran akan kembali menjalani proses panjang
untuk kembali menjadi halus, menjadi tiada atau manunggaling
atau moksha. Inilah yang secara esoteris dipahami sebagai hukum
Evolusi. Sebuah evolusi jiwa, dari yang belum menyadari dirinya,
menjadi sadar bahwa dirinya bukanlah materi, hingga kesadaran
materi itu kemudian kembali padam (dalam Buddhisme dikenal
sebagai Nirvana, yaitu padamnya diri) atau manunggaling dengan
kesadaran semesta.
Tentu saja hukum evolusi tidak dapat berfungsi dengan baik
apabila tidak terdapat kaidah lain yang mengikutinya.
Tiga Kaidah Hukum alam yang saling berhubungan dalam
pemahaman esoteris adalah :
1. Evolusi
2. Reinkarnasi
3. Karma

Hukum evolusi dan reinkarnasi merupakan dua fakta


yang tidak terbantahkan yang saling berkorespondensi di alam
semesta ini. Reinkarnasi adalah sebuah medan atau instrumen
bagi kesadaran untuk ber-evolusi. Perjalanan jiwa yang
berkesinambungan, dieskpresikan di dalam rangkaian demi
rangkaian menitisnya kembali jiwa ke dalam dunia materi atau ber-

22
Kunci Esoteris I

re-inkarnasi. Tanpa daya untuk berevolusi, maka reinkarnasi tak


lebih dari sekadar pengulangan cerita, tidak ada nilai filosofi dan
spiritual apapun di dalamnya. Semua yang kita alami tidak akan
menghasilkan kemajuan apapun, semua hanya sebuah mekanisme
yang tidak berkesadaran, tidak ada makna yang tersirat di balik
semua peristiwa dan kejadian, tidak ada nilai yang dapat dipetik,
tidak ada kemajuan, semuanya tidak bermakna, hanya merupakan
serentetan peristiwa acak yang sama sekali tidak bernilai. Kesadaran
akan diam di tempat dan tidak ada kemajuan apapun yang terjadi.
Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan hukum lain dalam semesta
raya, yaitu gerakan yang abadi, semuanya berubah, tidak ada yang
statis. Demikian juga dengan kesadaran. Kesadaran hadir dalam
keberadaan untuk mengalami, untuk menyelami dan sekaligus
untuk mengamati. Oleh karena itu, kehidupan yang bergerak dan
penuh perubahan ini tidak dapat dipungkiri lagi adalah cerminan
langsung dari daya untuk berevolusi itu tadi.
Sebaliknya, tanpa reinkarnasi, evolusi jiwa juga tidak akan
mungkin dapat terjadi, karena satu masa kehidupan tentu saja
sangat tidak mencukupi untuk memfasilitasi berbagai perubahan
tingkat kesadaran yang biasanya terjadi dengan sangat lambat atau
memakan waktu yang sangat lama. Apalah artinya hidup selama
70 tahun bagi seseorang untuk mengalami sebuah peningkatan
kesadaran dalam diri, kalau itu terlalu singkat, bagaimana dengan
mereka yang hanya sempat menjalani kehidupan selama 10 tahun
saja, atau bahkan beberapa hari saja? apakah kesadaran akan
dapat sepenuhnya kembali menyadari esensi dirinya yang sangat
esoteris? apakah secepat itu semuanya dapat menjadi ‘murni’
kembali ? Perjalanan spiritual merupakan sebuah ziarah suci yang
tidak dapat diwakilkan atau digendong oleh orang lain, kita yang
memulai, maka kita yang akan menyelesaikannya. Tidak ada

23
Dante R Kosasih

sosok-sosok, baik guru, nabi, malaikat bahkan dewa sekalipun


yang dapat menyelesaikannya bagi kita. Di titik terendah alam
materi ini, di dasar kolam materi yang terpadat ini, semuanya
berjalan sendiri-sendiri.
Hukum lain yang selalu ‘menarik’ kita kembali ke medan
kehidupan dunia fisik ini adalah hukum karma. Hukum karma
sejatinya bukanlah mekanisme mengenai apa yang benar dan
apa yang salah, hukum karma adalah sebuah instrumen dari
keberadaan untuk berevolusi, sebagaimana halnya dengan
reinkarnasi. Hukum karma adalah serangkaian pembelajaran
yang nantinya akan menimbulkan banyak kualitas-kualitas
Ilahiah dalam diri seseorang. Rangkaian pembelajaran ini harus
diselesaikan dengan sempurna, selama masih ada bagian yang
tidak seimbang, maka pembelajaran itu akan diberikan lagi, dan
lagi, mungkin dalam bentuk yang berbeda, namun esensinya tetap
sama. Karma membuat segalanya kembali menjadi murni, karma
adalah penindas juga penebus kita. Tanpa adanya hukum karma,
tidaklah memungkinkan bagi kesadaran untuk dapat ‘ditarik’
kembali atau bereinkarnasi ke dalam medan kehidupan untuk
berevolusi. Tanpa Karma, tidak akan timbul daya untuk berevolusi.
Sekarang kita semua menyadari benar secara esoteris, hubungan
yang berkesinambungan antara Evolusi, Reinkarnasi dan Karma.
Ketiganya merupakan sebuah kesatuan kaidah universal
yang tidak terpisahkan, sebuah trinitas, segitiga keberadaan.

24
Kunci Esoteris I

BAB II

TUJUH SUSUNAN BADAN MANUSIA

Badan fisik kita merupakan sebuah wahana, sebuah alat


atau kendaraan. Satu hal yang perlu diluruskan di sini, bahwa
sejatinya kita bukanlah badan fisik yang memiliki jiwa, seperti
mungkin apa yang diyakini oleh sebagian besar golongan profane
atau kalangan duniawi, pandangan yang lebih benar adalah
bahwa setiap dari kita merupakan satu unit jiwa yang memiliki
seperangkat tubuh atau lapisan yang mungkin sekilas terlihat
memiliki tingkatan densitas dan sifat alami yang berbeda-beda,
namun sejatinya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan
dan saling membutuhkan. Kesadaran tidak dapat berfungsi tanpa
materi, kesadaran membutuhkan sebuah wahana agar dapat
mengekspresikan dirinya dengan baik.
Semua fenomena yang bermanifestasi ke dalam alam semesta
yang kelihatan ini atau alam yang mewujud ini merupakan bentuk
representasi terkasar atau terendah dari manifestasi-manifestasi
lebih halus yang tidak dapat terdeteksi oleh indera-indera terestial.
Apa yang ada, selalu tidak seperti yang terlihat. Apa yang kita
namakan dengan badan fisik dengan semua hal yang terkandung
di dalamnya, sejatinya hanya merupakan sisi bagian terluar dari
lapisan-lapisan lain yang tersembunyi atau yang tidak kasat mata.
Satu hal yang kita harus pahami ketika berhubungan dengan

25
Dante R Kosasih

pemahaman yang lengkap mengenai alam semesta raya atau the


universe, terlebih dahulu kita harus memahami kalau semua hal
yang ada, pada dasarnya memiliki dua sifat yang tidak dapat
dipisahkan :
1. Diferensiasi.
2. Hierarki (tingkatan).

Seperti apa yang telah kita bahas bersama di bab sebelumnya,


semenjak kesadaran mulai terdiferensiasi di alam Adi sebagai
sebuah kehendak atau Sir (dalam bahasa jawa), maka secara
otomatis, semua tahapan lain yang mengikuti setelahnya, seperti
diferensasi-diferensasi selanjutnya, yang dimulai dengan tahapan
‘Svabhavat’ atau pemisahan yang lebih lanjut antara Roh (Purusha)
- Materi (Prakriti), tidak berhenti pada tahapan ini dan terus
berlanjut hingga ke dalam dimensi alam-alam yang lebih rendah,
dimana kemudian diferensiasi demi diferensiasi memberikan jalan
bagi munculnya aneka ragam variasi bentuk keberadaan yang tak
terhitung jumlahnya dan semakin ke ‘bawah’, maka diferensiasi
materi ini akan menjadi semakin beragam hingga tidak dapat
dibayangkan lagi kombinasi dan variasinya. Alam Semesta Raya ini
memiliki variasi dalam kombinasinya yang tidak terhingga. Tanpa
diferensiasi, tidak akan terdapat kemajemukan, ketunggalan tidak
dapat mengalami semua pengalaman yang dibutuhkan untuk
mencapai kembali sebuah kehomogenan yang absolut. Kaidah
hukum diferensiasi ini merupakan hal yang sangat penting dan
vital bagi munculnya beraneka kemungkinan untuk berevolusi di
medan kehidupan yang telah dipersiapkan olehnya.
Hal lain yang mengikuti kaidah diferensiasi adalah kaidah
hukum hierarki, dimana lapisan demi lapisan, tahapan demi
tahapan, yang dimulai dari terbentuknya lapisan-lapisan alam

26
Kunci Esoteris I

yang memisahkan berbagai kerajaan elemental alam, dimulai


dari yang terhalus hingga yang paling kasar, kemudian tataran
alam yang mulai terdegradasi ini mulai ’diisi’ dan ‘dihidupi’ oleh
berbagai variasi tahapan kesadaran yang disesuaikan dengan
wadahnya masing-masing. Timbullah hierarki keberadaan. Di
mulai dari keberadaan yang paling tinggi dan mulia, seperti para
Dhyani Chohan yang telah arupa atau tanpa bentuk (Ahi - atau nafas
kebijaksanaan semesta) hingga ke tujuh pilar energi primordial yang
dipersonfikasikan dengan tujuh barisan archangel atau Malaikat-
Malaikat Besar Agung dalam agama-agama Samawi, para Planetary
Spirits (Jiwa-Jiwa Planet), Para Manu atau pemimpin bangsa/ras,
para Adepta atau para Master, golongan manusia, roh-roh alam,
binatang, tumbuhan, mineral dan kerajaan para elemental.
Energi kehidupan yang mengalir deras dari titik kesadaran
kehendak di tataran alam tertinggi, yaitu Alam Adi, daya yang luar
biasa besar ini dicurahkan turun lewat saluran-salurannya, yaitu
kumpulan hierarki ‘agen-agen’ utama, besar dan kecil, mengalir
masuk ke dalam semesta yang termanifestasi. Bisa dikatakan kalau
hierarki ini juga berfungsi sebagai penurun ‘voltase tegangan’
daya vital kehidupan yang begitu luar biasa besar dari alam Adi,
curahan ini pertama-tama diserap penuh oleh kesadaran Logos
(trimukti/tritunggal), kemudian diteruskan ke tujuh saluran
purba dalam bentuk personafikasi tujuh Archangel atau Malaikat
Agung utama, dimana daya ini diserap oleh mereka, hingga
kemudian di turunkan lagi ke hierarki agen-agen keberadaan di
bawahnya, diserap kembali, diturunkan kembali, diserap kembali,
hingga sampai ke objek-objek celestial besar seperti matahari,
bulan, bintang, planet-planet, hingga kemudian pada gilirannya
nanti akan mencapai keberadaan makhluk-makhluk di tataran
alam yang paling rendah, seperti manusia, roh-roh alam, hewan,

27
Dante R Kosasih

tumbuhan, mineral dan kerajaan-kerajaan elemental. Tanpa


adanya keberadaan dari hierarki agen-agen semesta yang sanggup
menampung dan mengalirkan daya luar biasa dahsyat itu secara
estafet atau bergiliran turun temurun, tentunya akan menimbulkan
bencana besar bagi bentuk-bentuk keberadaan yang lebih rendah.
Apa yang sekiranya bakal terjadi? tentu saja keberadaan ini tidak
akan dapat terjadi, daya kehidupan yang sedemikian dahsyat
itu tadi akan malah menjadi sebuah instrumen kehancuran total,
sebuah maha pralaya, yang akan mencerai beraikan medan evolusi
berikut semua makhluk yang ada di dalamnya. Seperti halnya
tegangan listrik yang sangat tinggi, tidak akan dapat langsung
masuk ke televisi atau telepon genggam kita tanpa disesuaikan
terlebih dahulu dari sumbernya, apa yang ada di atas, adalah
cerminan dari semua fenomena yang dapat kita amati di bawah.
Inilah yang dinamakan dengan kaidah hirarki dalam pemahaman
spiritual yang esoterik. Semua mendapatkan tempatnya masing-
masing dalam tangga keberadaan alam semesta, selalu ada yang
lebih tinggi dan lebih rendah, selalu ada yang lebih besar dan kecil,
selalu ada yang lebih luas dan lebih sempit, karena memang itu
semua adalah bagian dan cerminan langsung dari keberadaan
alam semesta, sebagai medan evolusi kesadaran. Hal ini adalah
sebuah keniscayaan.

28
Kunci Esoteris I

Terdapat tujuh lapisan alam, yang tentu saja berkorespondensi


dengan tujuh lapisan badan yang dimiliki oleh setiap manusia,
Ketujuh lapisan itu adalah :

Nama Lapisan Alam Lapisan Badan Manusia


ADI (tataran alam tertinggi/Ilahiah)
Anupadaka Monad
Atma
Budhi Kausal (Self)
Manas
Manas rendah Badan Mental
Astral Badan Astral
Etherik Lapisan Etheris
Fisik Badan Fisik

Dalam kesempatan kali ini, kita tidak membahas mengenai


susunan alam-alam yang ada secara lebih detail, hal ini dikarenakan
oleh keterbatasan waktu dan ruang lingkup pembahasan buku ini.
Di masa yang akan datang, penulis buku mengharapkan untuk
dapat menuliskan dengan lengkap dan komprehensif mengenai
susunan ketujuh alam yang ada, para penghuninya dan berikut
sifat-sifat yang ada di dalamnya.
Pada kesempatan kali ini, penulis akan lebih memfokuskan
pembahasan pada ketujuh lapisan badan manusia yang sifatnya
lebih esoteris atau pemahaman yang terbatas.
Kalangan Profane (duniawi) mungkin hanya mengenal
pembagian struktur konstitusi badan manusia yang sangat
umum dan tidak rinci, seperti badan, jiwa dan roh. Kebanyakan
dari mereka ini malah menghubungkan jiwa dengan kondisi

29
Dante R Kosasih

psikologi fisik. Pemahaman ini tidak dapat dibilang salah seratus


persen, namun dapat dikatakan kurang tepat dan detail. Penulis
tidak menyalahkan kaum profane yang memang tidak pernah
mendapatkan pemahaman esoteris mengenai susunan atau
konstitusi badan mereka sendiri, dan informasi terbaik yang mereka
dapatkan selama ini, sepertinya juga diperoleh secara samar-samar
dari konsep-konsep eksoteris (luar) seperti tafsir kitab suci agama,
khotbah minggu pagi dan lain-lain.
Ketujuh konstitusi badan manusia ini sebenarnya bukanlah
sebuah pemahaman yang baru atau pemahaman ‘new age’, namun
telah sangat lama ada, semenjak era zaman yang mungkin juga
telah mendahului zaman peradaban bangsa manusia pada saat ini.
Pemahaman ini telah didiktekan langsung oleh ketiga makhluk
misterius pada golongan yang terinisiasi pada era awal peradaban
Atlantis yang lalu dan pengetahuan rahasia ini diturunkan turun
temurun hingga kemudian masih bisa ditemukan tercecer pada
salah satu kitab tertua dari zaman kita yang masih tersisa dewasa
ini, yaitu Taittiriya Upanishad.
Di bawah ini adalah tujuh konstitusi badan manusia dalam
pemahaman Esoteris :

1. Badan Fisik
Lapisan terluar dari kesadaran adalah apa yang biasa kita
sebut sebagai badan fisik. Badan fisik yang sangat kasat mata ini,
dapat dengan mudah terlihat, diamati dan dirasakan dengan indera-
indera terluar kita. Badan fisik dengan kelima indera kasarnya
berkorelasi langsung dengan habitat keberadaan fisik yang ada di
sekelilingnya. Lapisan kulit terluar dari kesadaran individual yang
sangat padat ini, memiliki sifat yang sangat terbatas, berubah-ubah
dan fana atau tidak abadi. Dalam pemahaman esoteris, kita tidak

30
Kunci Esoteris I

pernah mengidentifikasikan diri dengan badan fisik ini. Badan


fisik hanyalah sebuah wahana atau kendaraan dari kesadaran kita
yang sejati. Badan fisik merupakan sebuah instrumen kesadaran
agar dapat ‘mengada’ atau menjadi ada dalam semesta materi ini.
Badan ini, dengan semua indera dan organnya, secara esoteris
tak lebih dipahami sebagai wadah untuk berevolusi. Badan fisik
memiliki trinitasnya sendiri, atau tritunggalnya sendiri, yaitu
badan fisik, badan astral dan badan mental rendah (konkret), dalam
ilmu esoteris tritunggal yang lebih rendah ini dikenal dengan istilah
Personalitas. Personalitas merupakan diri yang tidak abadi, rentan
dan terbatas. Dalam rangkaian perjalanan reinkarnasi, kita akan
memperoleh beraneka macam varian personalitas, berikut dengan
semua lakon atau peran yang harus dijalani. Setiap personalitas
yang telah ditinggalkan lewat kematian, akan dilahirkan lagi dalam
bentuknya yang berbeda di kehidupan yang berikutnya. Laksana
pakaian yang dipakai dan ditanggalkan kembali, begitulah siklus
kehidupan reinkarnasi kita dengan berbagai diri personalitas yang
beraneka ragam.

2. Lapisan Etherik
Lapisan ini adalah lapisan daya prana atau daya vital
kehidupan yang membungkus badan fisik kita. Letaknya sekitar
10-15 cm dari kulit badan terluar kita. Lapisan halus ini sebenarnya
masih dapat dikatakan sebagai hal yang sifatnya fisik, namun
karena tersusun oleh elemen-elemen yang sifatnya lebih halus
dari gas, atau yang biasa dikenali dengan sebutan Zat Ether atau
Etherik, maka diperlukan pelatihan tertentu sebelum mata fisik
kita dapat melihatnya. Tidak memerlukan kemampuan bathin
apapun untuk dapat melihat dan merasakannya, karena hal yang
sifatnya fisik, tentu saja berkorelasi dengan indera-indera fisik.

31
Dante R Kosasih

Bahkan, selubung etherik ini juga dapat dilihat dengan bantuan


teknologi terbaru yang dikenal dengan metode fotografi Kirlian.
Lapisan fisik terhalus yang kasat mata ini juga merupakan medan
emanasi zat buangan dari proses pengolahan daya prana tubuh
fisik yang disekresikan lewat pori-pori kulit di seluruh badan fisik
yang biasa dikenal dengan sebutan ‘aura’. Warna-warna yang
terlihat lewat mata fisik yang terlatih berikut juga melalui metode
fotografi Kirlian ini, sebenarnya hanyalah merupakan hasil radiasi
dari pengolahan daya prana badan fisik yang berkorelasi dengan
kesehatan dan hal-hal fisik, namun apa yang terlihat sering kali
dipahami secara kurang tepat sebagai radiasi atau pancaran dari
badan-badan lain yang lebih halus seperti badan astral dan mental.
Radiasi dari badan-badan lebih halus yang sifatnya non-fisik,
pastinya tidak akan dapat dideteksi oleh instrumen-instrumen dan
indera-indera fisik. Hal-hal yang sifatnya non fisik secara kaidah
hanya dapat dirasakan oleh instrumen atau indera yang tentu saja
sifatnya juga non fisik. Inilah sebabnya, diperlukan pemahaman
esoterik dalam menyikapi fenomena-fenomena yang terjadi di
sekitar kita, agar tidak kemudian melahirkan konsep-konsep
setengah matang yang sifatnya psudo.
Lapisan Etheric ini juga menjadi tempat bercokolnya
manifestasi titik-titik pusat energi dalam badan fisik yang biasa
disebut sebagai titik-titik Cakra. Anda tidak akan menemukan
titik-titik cakra ini terkubur dalam organ bagian dalam anda,
namun sentra-sentra energi ini dapat ditemukan di lapisan etherik
badan fisik kita. Perlu diingat di sini, kalau yang dapat teramati
dari lapisan etheris adalah bagian terluar dari sistem cakra yang
berakar di lapisan badan-badan yang lebih halus lainnya, seperti
badan astral dan badan mental. Titik-titik cakra ini masih bisa
diamati dengan instrumen-instrumen fisik seperti lewat metode

32
Kunci Esoteris I

fotografi kirlian ataupun di rasakan dengan indera-indera


sentuhan. Adapun titik-titik cakra ini merupakan sebuah pintu
masuk dari saluran-saluran halus yang menghubungkan badan
fisik kita dengan badan-badan halus lain. Saluran-saluran yang
tidak kasat mata ini selalu mengalirkan daya-daya prana yang kita
peroleh dari makanan dan sinar matahari, ke lapisan badan-badan
halus yang lain.
Dalam spiritualitas Jawa atau kejawen, lapisan etherik
ini sering kali disebut sebagai kembaran atau ‘ari-ari’ kita, yang
secara eksoteris kemudian dimaknai dengan bentuk ari-ari fisik
sebenarnya yang harus diberikan beberapa ritual tertentu sebelum
dikuburkan, paska kelahiran. Semua orang terlahir dengan
‘kembaran’ ini, yang kadang dimaknai sebagai ‘cetakan’ dari
badan fisik kita, yang muncul bahkan sebelum fase zigot terjadi
dalam kandungan.

3. Badan Astral
Lapisan badan astral merupakan sebuah lapisan yang
tersusun dari elemen-elemen astral yang sifatnya non fisik. Karena
sifatnya yang non fisik, untuk melihatnya diperlukan indera-
indera yang sifatnya juga non-fisik. Lapisan astral tidak dapat
ditangkap oleh instrumen-instrumen fisik seperti kamera, detektor
magnetik atau apapun yang sifatnya fisik. Jadi apabila memang
ada diperlihatkan bahwa instrumen-instrumen yang disebutkan
sebelumnya tadi menangkap sebuah fenomena aneh tertentu yang
mensugestikan adanya kehadiran dari apa yang kaum profane
pikir sebagai penampakan ‘roh’ atau ‘hantu’, sejatinya apa yang
terlihat itu adalah sebuah fenomena etherik, yang mungkin saja
berhubungan atau sama sekali tidak berhubungan dengan jiwa-
jiwa mereka yang telah mendahului kita.

33
Dante R Kosasih

Lapisan astral ini tersusun oleh materi-materi astral dari


kerajaan elemental yang berasal dari tataran alam astral atau alam
bhur atau alam Barzah. Sebagian besar unsur yang membentuknya
adalah elemental yang berkaitan dengan unsur hasrat atau
keinginan. Alam Astral atau yang juga biasa disebut oleh kaum
profane sebagai alam supranatural karena posisinya yang mereka
pikir terletak di ‘bawah’ alam kita, sebenarnya tidak berhubungan
dengan apa yang diasumsikan sebagai neraka. Dimensi astral
sebenarnya tidak terletak di ’bawah’ atau di ‘atas’ alam kita,
dimensi astral merupakan sebuah ‘tempat’ atau ‘alam’ yang
berada di sekitar kita, saling berkaitan dengan dunia fisik dan di
beberapa titik tertentu benar-benar dapat dikatakan saling ber-
penetrasi dengan dimensi fisik. Dimensi astral dan juga mungkin
dimensi-dimensi lain, tidak dapat dipahami sebagai sebuah tempat
yang sifatnya tetap. Dimensi astral merupakan sebuah dimensi
yang sangat cair dan penuh dengan perubahan, tidak mengenal
batasan apapun dan memiliki kaidah hukum ‘waktu’ yang lebih
cair juga. Untuk dapat memahami hal ini, mungkin anda dapat
membayangkan ketika anda mendengar siaran radio di dalam
mobil sewaktu sedang berangkat ke tempat kerja di pagi hari. Ketika
anda mendengar suara lagu atau penyiar lewat perangkat radio di
mobil anda, mungkin ada sebuah lagu atau sebuah acara talk show
yang menggiring anda ‘memasuki’ sebuah ‘tempat’ dalam pikiran
anda yang sifatnya tumpang tindih dengan pandangan yang tertera
pada kaca depan mobil anda. Anda dapat melihat ramainya lalu
lintas yang ada di hadapan anda, namun secara bersamaan anda
mungkin dapat membayangkan suasana tertentu atau ingatan
tertentu di masa lalu yang berhubungan dengan alunan irama
lagu tertentu. Apakah anda tengah memasuki sebuah tempat ?
atau apakah yang anda ‘lihat’ itu merupakan hal yang sifatnya

34
Kunci Esoteris I

nyata atau tidak nyata? demikian juga apa yang dapat kita pahami
dengan dimensi astral. Sifatnya adalah di antara ‘ada’ dan ‘tiada’,
di antara sebuah ‘tempat’ atau ‘non-lokalitas’ yang samar. Untuk
memudahkan bahasa penyampaian, penulis akan menggunakan
kata ‘alam’ atau loka.
Alam atau Astral Loka ini, seperti halnya dimensi fisik,
memiliki sifat dan kaidahnya sendiri. Bahkan memiliki habitat dan
penghuninya sendiri, namun untuk kesempatan kali ini penulis
tidak membahas lebih lanjut mengenai hal ini dan berharap akan
mendapatkan kesempatan lain untuk membahasnya di kemudian
hari.
Kembali lagi, lapisan astral ini sangat berkaitan dengan
unsur-unsur hasrat dan keinginan dalam konstitusi badan
manusia. Di lapisan badan ini, terdapat juga titik-titik sentra energi
berikut dengan semua jalur meridian yang lebih vivid atau nyata
daripada apa yang dipancarkan oleh ‘kembaran’ kita atau badan
etherik. Badan Astral juga memancarkan radiasinya sendiri yang
dikenal dengan aura Astral. Aura Astral memiliki susunan warna-
warna yang jauh lebih jernih dan cerah ketimbang dari apa yang
dapat diamati dari badan etherik lewat metode kirlian. Dibutuhkan
kemampuan clairsentience (ekstra sensorik yang berhubungan dengan
rasa) yang lebih tinggi untuk dapat mengamati atau lebih tepatnya
merasakan warna-warni aura yang terpancar dari lapisan yang
sangat halus ini. Apabila di lapisan etheris, radiasi aura yang
terpancar berhubungan dengan kesehatan atau vitalitas seseorang,
pada lapisan yang lebih ‘dalam’ ini, emanasi aura yang terpancar
memiliki korelasi langsung dengan getaran-getaran halus dari diri
personalitas yang tidak terlihat oleh mata fisik, seperti : mood, niat,
tingkatan kesadaran, perkembangan evolusi spiritual dan lain-
lain. Dimensi astral merupakan sebuah ‘loka’ atau ‘alam’ yang

35
Dante R Kosasih

tidak membutuhkan ungkapan atau ekspresi diri yang sifatnya


verbal. Sifat komunikasi yang ada di sana adalah non verbal,
belum sepenuhnya dapat dikatakan menggunakan metode telepati
meskipun sudah mendekati ke arah sana. Metode komunikasi
astral adalah dengan menggunakan vibrasi dan pancaran warna.
Indera ‘penglihat’ dan sekaligus ‘perasa’ di dalam astral loka adalah
cakra solar plexus atau cakra ‘limpa’. Oleh karena itu, banyak ilmu-
ilmu kebathinan tradisional yang secara aktif mempergunakan
cakra ini untuk dapat masuk dan berkomunikasi dengan makhluk-
makhluk yang berdiam di alam astral.

4. Badan Mental
Badan mental adalah lapisan badan terhalus dalam
konstitusi susunan badan manusia, karena tersusun oleh elemen-
elemen mental yang sangat halus, tidak banyak orang yang
memiliki kejernihan ‘mata’ bathin untuk mempersepsikannya.
Badan mental sendiri terbagi atas dua, yaitu : 1. Badan mental
rendah yang sifatnya lebih konkret, 2. Badan Mental yang lebih
tinggi yang memiliki sifat lebih abstrak.
Badan mental rendah sangat berkaitan erat dengan organ
berfikir dalam badan fisik manusia, yaitu otak. Beberapa kalangan
dalam lingkaran pemahaman esoteris mengatakan kalau lapisan
mental rendah bisa dibilang beremanasi sebagai pikiran-pikiran
kita yang sifatnya lebih konkret dan materialistis. Tanpa kehadiran
dari lapisan ini, otak tidak akan memiliki kemampuan untuk
melahirkan berbagai ide dan gagasan dan hanya berfungsi sebagai
organ tubuh yang mengontrol gerakan dan fungsi biologis lain,
seperti sistem saraf tulang belakang, sedangkan lapisan astral
biasanya mengendalikan sistem tubuh yang sifatnya sekretif. Perlu
dipahami di sini, otak hanyalah sebuah organ badan biologis yang

36
Kunci Esoteris I

dapat kita bandingkan dengan instrumen-instrumen fisik lainnya


seperti sebuah kalkulator dan komputer. Memang organ berpikir
ini merupakan sebuah organ yang lebih rumit dari jantung atau
paru-paru, namun tidak akan dapat berfungsi secara prinsipalitas
apabila tidak memiliki lapisan mental yang menyelubunginya.
Lapisan tipis yang menyelubunginya ini berfungsi sebagai sebuah
katalisator untuk memungkinkan timbulnya proses-proses kinerja
otak internal yang dapat melahirkan adanya suatu kesadaran.
Tanpa lapisan ini, organ ini hanya akan mampu menjalankan
fungsi-fungsinya secara otomatis tanpa ada sesuatu yang dapat
‘mengendalikan’ atau ‘mengarahkan’ fungsi-fungsi kognitif yang
ada di dalamnya. Sebuah prosesor di dalam komputer dapat
memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memproses semua
informasi yang ia terima dengan sangat efisien, namun proses
kognitif tidak akan terjadi tanpa hadirnya sebuah kesadaran. Proses
tersebut mungkin akan melahirkan perhitungan angka-angka
rumit, berbagai kumpulan data dan analisa, namun apa artinya
semua hasil itu tanpa ada suatu keberadaan untuk mengamati,
menarik kesimpulan dan mengekspresikannya? Inilah yang
kemudian kita pahami sebagai Artificial Intelegence atau kecerdasan
buatan. Sebuah instrumen yang cerdas dan efisien, namun hollow
atau kosong, hanya sebuah benda, tidak lebih dan tidak kurang.
Lapisan mental rendah juga memiliki fungsi sebagai sebuah
jembatan penghubung antara prinsipalitas yang sifatnya terestial
atau fisik (termasuk di dalamnya sistem motorik, proses pemikiran
konkret dll) dengan prinsip-prinsip keilahian yang masih terletak
satu tingkatan yang lebih tinggi daripadanya. Tanpa kehadiran
lapisan perantara yang menghubungkan aspirasi-aspirasi Ilahiah
dengan badan yang memiliki kualitas sifat-sifat hewaniah, maka
kita tidak lebihnya sama seperti seekor binatang yang berbudaya.

37
Dante R Kosasih

Tidak akan ada ekspresi-ekspresi dari kesadaran yang lebih


tinggi seperti kebaikan, dorongan untuk berevolusi, cinta kasih,
pengorbanan, semangat melayani sesama, aspirasi-aspirasi
spiritual dan lain-lain, kita hanya akan tunduk pada pikiran
rendah badan fisik yang sifatnya instingtif, responsif dan egoistik.
Inilah sebabnya dalam pemahaman esoteris, seseorang tidak akan
pernah mengindentifikasikan dirinya dengan badan fisiknya,
karena ia telah memahami bahwa badan fisik hanyalah sebuah
wahana, sebuah instrumen dari prinsipalitas-prinsipalitas lain
yang sifatnya lebih halus dan lebih tinggi.
Lapisan badan mental sering kali juga dikatakan memiliki
sifat yang dual, atau ganda. Ia dapat menangkap getaran-getaran
yang sifatnya badaniah dan getaran-getaran yang sifatnya
ilahiah. Di sinilah medan peperangan abadi itu terjadi. Inilah
medan peperangan Kurukshetra, dimana dua musuh bebuyutan
abadi berhadap-hadapan. Di satu sisi adalah pihak Pandawa
yang mewakili prinsipalitas Ilahiah yang sifatnya abadi, luhur
dan murni, dan di sisi lain adalah pihak kurawa yang mewakili
prinsipalitas fisik yang sifatnya egoistik, sementara (fana) dan
rendah. Di sepanjang kehidupan reinkarnasi seseorang yang
terwujud dalam diri personalitasnya, ia akan berada di medan
peperangan abadi ini. Badan mentalnya akan sepenuhnya
terekspose dengan getaran-getaran yang dipancarkan dari ‘bawah’
dan dari ‘atas’. Kaum Profane atau Duniawi mungkin akan melihat
kutub dual atau ganda ini sebagai wujud nyata dari pertimbangan
moralitas, atau apa yang dilihat sebagai yang ‘baik’ dan yang
‘tidak baik’. Namun, kalangan esoteris melihatnya sebagai dua
kutub dorongan yang sebenarnya saling berhubungan antara satu
dengan yang lainnya, dan tidak melihat salah satu kutub atau sisi
dengan label baik atau tidak baik. Keduanya hanyalah proyeksi

38
Kunci Esoteris I

dari dua kekuatan alam, yaitu kekuatan fisik dan kekuatan Roh.
Kekuatan fisik memiliki elemen-elemen fisik yang sifatnya kasar,
tidak abadi dan tidak murni dan kekuatan Roh memiliki elemen-
elemen yang sifatnya sangat halus, abadi dan luhur. Kekuatan
fisik adalah dorongan di balik timbulnya semua keberadaan yang
sifatnya terlihat atau duniawi dan kekuatan Roh merupakan
dorongan untuk berevolusi yang diwarisi oleh setiap makhluk
yang sudah memiliki kesadaran individu (baca : manusia). Tanpa
adanya kedua kekuatan yang saling ‘berseberangan’ ini, maka
alam semesta ini tidak akan mungkin untuk bermanifestasi dan
bahkan semua bentukan juga tidak akan dapat bermanifestasi.
Keberadaan merupakan hasil langsung dari daya tarik menarik
dari kedua kekuatan ini, tidak ada hal yang benar-benar baik atau
benar-benar buruk di alam semesta yang relatif ini, semua adalah
hal yang relatif. Kita tidak dapat menemukan keabsolutan di alam
yang telah terdiferensiasi dan termanifestasi, keabsolutan hanya
didapatkan dalam kegelapan ‘air’ sebelum titik kesadaran yang
timbul di tataran alam Adi.
Badan mental yang terlalu condong pada tarikan dorongan
yang sifatnya materialistik, tidak akan dapat naik melampaui
badan mental yang rendah. Selamanya ia akan berada dalam
pengaruh kaidah-kaidah yang sifatnya fisik. Karena semua hal
fisik memiliki sifat-sifat yang tidak abadi, penuh perubahan dan
tidak memuaskan, maka mereka yang materialistik akan lebih
dekat dengan penderitaan. Sedangkan badan mental yang sudah
mulai memiliki kemampuan untuk tidak selalu tunduk pada
dorongan-dorongan yang sifatnya materialistik, naluriah dan
sementara, akan mulai dapat ‘melihat’ hal-hal lain yang memiliki
aspek-aspek yang lebih abadi, lebih luhur dan lebih permanen,
secara perlahan ia akan memiliki pandangan bathin atau insight

39
Dante R Kosasih

yang lebih tajam, dimana lewat mata bathinnya yang perlahan


terbuka ini atau lewat mata spiritualnya ini, ia mulai menyadari
kalau sebenarnya masih ada hal-hal lain yang sifatnya non fisik,
yang selama ini belum ia sadari sepenuhnya, dalam tahapan
ini ia akan mulai untuk mendisasosiasikan Diri dengan wujud
fisiknya (diri personalitasnya yang ilusif) beserta semua proses-
proses pikiran rendahnya dan mulai mengarahkan pandangan
matanya ke dalam, jauh dari semua fenomena-fenomena luar diri
yang sifatnya ilusif. Kemampuan bathin ini, adalah kemampuan
spiritual sebenarnya yang berproses di dalam diri, dalam lapisan
badan mental seseorang yang sepenuhnya tersembunyi di balik
kulit, tulang dan semua organ-organ badan fisik. Untuk mencapai
hal ini, biasanya akan melalui banyak rangkaian reinkarnasi dari
satu diri personalitas ke personalitas lain, dari satu masa kehidupan
ke masa kehidupan yang lain.
Jadi kembali lagi, badan mental merupakan sebuah medan,
dari dua kekuatan yang saling ‘berseberangan’, yang selalu
tumpang tindih dan bergantian mendominasi proses kesadaran jiwa
yang dibalut kulit. Kadang dorongan yang lebih mulia ‘menang’
namun tak sering juga dorongan yang sifatnya materialistis akan
cenderung untuk lebih mendominasi. Apa yang terjadi di medan
peperangan ini, secara langsung akan diproyeksikan ke dalam
sosok-sosok diri personalitas kita, yang juga berkorelasi dengan hal-
hal yang lebih mudah untuk diamati dari ‘luar’ seperti gaya hidup,
pilihan hidup, aspirasi dan kecenderungannya. ‘Pergulatan’ bathin
ini berlangsung setiap waktu selama masa kehidupan seseorang
di dalam dunia fisik, hingga saatnya nanti akan tiba, dimana sinar
matahari kesadaran yang lebih tangguh dan mulia akan terbit
dari langit yang sebelumnya kelam, dimana sinar yang cemerlang
itu akan terbit di atas diri manusia yang telah memenangkan

40
Kunci Esoteris I

pergulatan panjangnya, di mana Diri yang sejati akan bangkit dari


sisa-sisa abu kumpulan diri personalitas dari medan peperangan
antara tarikan Materi dan Roh. Sosok yang mulia ini dalam esoteris
dikenal dengan sosok “Augoeides” yang artinya adalah Manusia
Ilahiah yang benar-benar baru dapat disebut sebagai manusia yang
sebenarnya.

5. Badan Mental yang lebih tinggi atau Badan Kausal


Badan Kausal adalah Diri yang sebenarnya, dalam
pemahaman esoteris dipahami sebagai Diri Individualitas yang
sejati. Badan Kausal tersusun dari tiga atom permanen tataran
alam yang lebih tinggi, yaitu alam Atma-Buddhi-Manas. Inilah
yang secara eksoteris atau pemahaman luar diartikan dengan
istilah Jiwa. Perlu dipahami di sini, selama rangkaian kehidupan
reinkarnasi, Badan Kausal tidak pernah benar-benar dilahirkan
dan mati dalam alam fisik, seperti apa yang mungkin dipahami
oleh golongan profane atau duniawi. Badan Kausal tetap berada
di alamnya sendiri, dalam tataran alam tinggi menakjubkan yang
disebut dengan alam Kausal. Badan Kausal inilah yang juga sering
disebut sebagai Sang Ego, “Guru Sejati”, “Ingsun Sejati”, “The
Self atau Diri yang sebenarnya”, Sugma, Jiwa, Jiva dan lain-lain.
Badan kausal merupakan perwujudan langsung dari tritunggal
semesta, yaitu Kehendak, Intuisi dan Intelektual. Karena tersusun
oleh elemen-elemen tataran alam yang sangat tinggi, badan Kausal
memiliki rentang usia yang sangat panjang apabila dibandingkan
dengan lapisan badan-badan lain yang lebih rendah. Badan
Kausal dapat dilihat sebagai hal yang abadi dalam perspektif diri
personalitas yang fana, namun apabila dilihat dari sudut pandang
Monad yang berada di lapisan alam yang masih lebih tinggi lagi,
badan Kausal merupakan hal yang relatif abadi. Dikatakan sebagai

41
Dante R Kosasih

hal yang relatif abadi karena badan Kausal suatu hari nanti juga
akan hancur dan musnah, disebutkan ketika Ketiga aspek ilahiah
yang ada di dalam dirinya telah memiliki daya yang cukup
untuk mengenali Monadnya, maka kesadaran akan terlepas dari
kungkungan badan Kausal yang selama ini memenjarakannya,
bagaikan kupu-kupu yang lepas dari kepompongnya dan terbang
bebas menuju ke rumahnya di angkasa luas, jiwa yang terbebaskan
dari samsara ini dikenal dengan istilah “Jivan Mukti” atau Jiwa
yang telah Mukti atau bebas.
Badan Kausal tidak pernah terlahirkan, tidak pernah
hancur oleh kematian, semua keberadaannya di alam-alam yang
lebih rendah hanyalah merupakan proyeksi yang ia siratkan di
atas lautan materi. Dalam pemahaman esoteris, Badan Kausal
dan keempat badannya yang lebih rendah dihubungkan dengan
sebuah ‘tali’ Ilahiah yang dinamakan dengan Sutratman. Dimana
lewat saluran tipis ini, daya-daya dapat dialirkan dari Diri yang
sebenarnya, tercurah pada keempat lapisan badan-badan yang
tenggelam dalam lautan materi selama periode reinkarnasi.
Badan Kausal adalah Diri kita yang sebenarnya, yang sangat
menakjubkan dalam tataran alamnya sendiri. Alam Kausal adalah
alam Mahatnya Semesta Raya, atau Alam Intelektual dari Semesta,
dimana alam ini juga dihuni oleh makhluk-makhluk Ilahiah yang
sangat tinggi evolusi dan kesadarannya. Tataran alam ini tentu
saja tidak dapat terbayangkan oleh kita, tidak ada lagi halangan
ruang dan waktu, tidak ada lagi halangan untuk berkomunikasi,
semuanya terjadi secara serentak dan bersama-sama. Karena
letaknya yang sangat dekat dengan Alam Monad, maka sifat
alam Kausal adalah relatif nyata, sangat lebih nyata apabila
dibandingkan dengan tataran alam-alam suram di bawahnya
seperti alam mental rendah dan astral, meskipun bagi kita yang

42
Kunci Esoteris I

berada dalam alam fisik, alam astral dan alam mental tentu saja
akan terkesan lebih nyata dan lebih intens karena keabsenan badan
fisik yang merupakan halangan terbesar untuk dapat menikmati
semuanya secara lebih nyata. Selama berada di wahana fisik, kita
tidak pernah benar-benar dapat ‘bersentuhan’ atau berhubungan
langsung antara satu dengan yang lainnya, semua yang kita
rasakan atau kita lihat, selalu dimediasi oleh indera fisik, kesadaran
dalam diri tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk
berhubungan langsung dengan semua yang dialaminya. Semua
pengalaman tersebut akan menjadi sedikit lebih vivid ketika kita
berada di alam Astral, dimana lapisan astral memiliki sifat yang
lebih halus dan transparan apabila dibandingkan dengan lapisan
fisik yang lebih kasar, sehingga dengan demikian kesadaran dapat
lebih dimungkinkan untuk mendapatkan pengalaman yang lebih
‘intens’ dari semua hal yang ditemuinya, dan keintensan ini akan
semakin jelas ketika berada di dalam lapisan badan mental yang
tersusun oleh materi yang lebih halus lagi ketimbang elemen-
elemen astral. Namun, tetap saja semua sensasi itu tidak akan dapat
mengalahkan kemegahan dan keindahan yang menakjubkan dari
tataran alam Kausal, dimana di sana adalah tempat Diri kita yang
sebenarnya tinggal dan bertahta. Sayangnya, sebagian besar badan
Kausal manusia yang berada di sana masih belum sepenuhnya
berkembang, hal ini diperlihatkan oleh variasi cahaya yang dapat
diamati dari satu badan kausal ke badan kausal yang lain. Beberapa
badan kausal masih terlihat memiliki semburat warna dan cahaya
yang masih sangat temaram, sementara beberapa lain mungkin
memiliki tingkat pancaran cahaya yang sedikit lebih cerah, namun
kebanyakan dari badan kausal manusia masih berada dalam
kondisi dorman atau tertidur.
Alam Kausal adalah tataran alam yang teramai dan paling

43
Dante R Kosasih

padat populasinya apabila dibandingkan dengan alam-alam


lain. Di alam Kausal, terdapat semua Badan asli dari semua
Diri sejati dari manusia-manusia yang pernah ada atau yang
telah terindividualisasi. Beberapa kesadaran Kausal mungkin
sedang berada di badan fisik atau sedang menjalani kehidupan
duniawinya, sementara beberapa lainnya tengah berada di alam
Astral, dan mungkin juga berada di tataran alam mental rendah.
Sebagian lainnya mungkin sudah kembali ke Dirinya sendiri, sibuk
mengumpulkan semua abstraksi pengalaman yang diperoleh dari
kehidupan diri personalitasnya yang terakhir, sebelum semua
proses internal itu akan dilanjutkan kembali oleh kelahiran
kembali atau pencelupan kembali ke dalam kolam materi. Dari
kesaksian beberapa orang yang pernah mencapai alam ini dalam
meditasi dalamnya, Badan Kausal terlihat seperti bulatan-bulatan
cahaya dengan variasi warna-warni di dalamnya dengan tingkat
keintensifitasan yang berbeda-beda, tidak ada bentuk wajah di
sana, atau perpisahan jenis kelamin duniawi. Semuanya adalah
pecahan cahaya-cahaya dalam jumlahnya yang tak terhitung.
Bulatan cahaya yang satu dengan yang lainnya dipisahkan oleh
sejenis lapisan film tipis yang terbuat dari bahan materi yang luar
biasa indah. Konon dikatakan, setelah pencerahan tercapai, inti jiwa
yang terkandung di dalamnya akan memiliki kemampuan yang
cukup untuk memecah lapisan badan terhalusnya ini, yang selama
ini sudah setia menemani di sepanjang rangkaian reinkarnasinya
selama ribuan tahun, menjadi terbebaskan, menjadi Jivan Mukti
yang terus terbang ke atas, menyatu dengan Monadnya sendiri.
Inilah yang dinamakan dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti
dalam ilmu Kejawen atau Berpulang ke Rahim Allah atau Rumah
Bapa dalam pemahaman yang mungkin lebih eksoteris.

44
Kunci Esoteris I

Jiwa-jiwa besar atau Mahatma, yaitu jiwa-jiwa yang telah


terbebaskan, dikenal dengan istilah golongan Adepta atau Master
dalam pemahaman esoteris. Mereka ini adalah golongan terpilih
dari umat Manusia yang telah menyelesaikan evolusi terestial atau
duniawinya. Mereka telah menjadi golongan Manusia Ilahiah atau
Augoeides yang sangat perkasa, dimana tidak ada prinsip-prinsip
duniawi yang dapat menyentuhnya. Mereka telah mempelajari
semua hal yang dibutuhkan untuk menjadi benar-benar sadar
dan terjaga dalam badan Kausalnya masing-masing. Sosok-Sosok
Adepta ini tampak sebagai Bola-Bola besar cemerlang yang memiliki
radiasi sinar luar biasa dan dapat bergerak bebas di semua tataran
alam, termasuk alam Kausal. Mereka adalah kelompok dari badan-
badan Kausal yang telah memiliki kesadaran penuh di alamnya
sendiri, yang telah terjaga dalam ketiga aspek Ilahiahnya. Manusia-
manusia yang sebenarnya, para putra cahaya yang muncul sebagai
barisan pemenang yang sebenarnya dari dalam kolam materi
yang ‘kotor’ dan ‘berlumpur’. Mereka telah menundukkan ego
terestialnya, beserta semua kendaraan-kendaraannya yang lebih
rendah, mereka telah sepenuhnya memiliki kendali penuh atas
semua rasa dan intelektualnya, mereka telah menjadi tuan atas
budak-budaknya, sosok pahlawan medan kurukestra yang telah
sepenuhnya menundukkan kaum kurawa. Mereka inilah cikal
bakal dari diri kita saat ini, proyeksi masa depan dari semua
tahapan evolusi kita saat ini, dimana kaidah-kaidah kolam materi
seperti lingkaran kelahiran dan kematian, tidak akan dapat lagi
menyentuh telapak kaki kita, dimana kita dapat bangkit dari sisa-
sisa abu duka dan penderitaan, bangkit dari kefanaan menuju ke
kekekalan dan keluhuran yang mulia.

45
Dante R Kosasih

6. Monad
Di awal buku ini, sebelumnya telah disinggung mengenai
keberadaan percikan cahaya Ilahiah yang memiliki jumlah tak
terhingga di tataran alam Anupadaka yang luhur. Percikan
cahaya Ilahi yang memercik sesaat setelah tahapan pradhana atau
pemisahan Roh dan Materi dalam kesadaran tunggal di Alam Adi,
dalam tradisi esoteris sering kali disebut sebagai Monad.
Inilah esensi dari Diri kita yang sejati atau The Real Self. Monad
adalah suatu hal atau mungkin juga ‘non-hal’, yang saat ini berada
di luar jangkauan pemahaman kita. Bahkan golongan para Adepta
atau Masters sekalipun, hanya mendapatkan sedikit bayangan
mengenai sifat dan keberadaan Monad yang sangat misterius ini.
Monad berada di tataran alam yang sangat tinggi, yang dinamakan
dengan alam Anupadaka. Alam Anupadaka berada satu tingkatan
lebih tinggi dari Alam Kausal dan merupakan sebuah tataran
alam yang sifatnya universal. Di tataran ini, Kumpulan Monad
konon dikatakan berada dalam kondisi dorman, perlu diingat di
sini, walaupun Monad merupakan zat percikan Ilahiah dalam
potensialitasnya yang tak terbatas, namun esensi dahsyat ini hanya
dapat berfungsi di alamnya sendiri yang luar biasa agung itu, unit
Monad dikatakan tidak dapat memasuki tataran alam-alam yang
lebih rendah, seperti misalnya alam Kausal dan lain-lain karena
sifatnya yang tidak terbatas dan kekal. Di sisi lain, meskipun
memiliki potensi Ilahiah yang tak terbatas dan bersifat Omniscience
atau Maha Mengetahui, Monad dikatakan belum sepenuhnya
menyadari keberadaan dirinya sendiri. Dalam berbagai literatur
Perenial primordial, Monad dikatakan berada seperti dalam
keadaan ‘tertidur’ di alamnya sendiri. Keberadaan kesadaran
yang telah terbungkus oleh Material terhalus yang disebut dengan

46
Kunci Esoteris I

lapisan Monad ini, belum memiliki kemampuan untuk menyadari


Keilahiannya sendiri. ‘Ketidakmampuan’ yang dimaksudkan di
sini adalah bukan mengimplikasikan sebuah kondisi impotensi
seperti yang kita pahami di tataran fisik ini dan tidak menyiratkan
sebuah cacat kapasitas. Tataran Anupadaka atau alam Omniscience
yang juga adalah degradasi atau diferensiasi pertama dari alam Adi
atau Ketunggalan adalah sebuah alam yang maha potensi dengan
semua kebrilianannya, tidak ada hal yang ‘cacat’ atau impoten
di sana, semua hal yang ada di sana merupakan hal-hal yang tak
terbayangkan bagi pemahaman otak fisik kita saat ini. Kembali
lagi ke kata ‘ketidakmampuan’ itu tadi, dikatakan kalau Monad
berada dalam kondisi tertidur atau ‘dorman’ karena monad belum
sepenuhnya menyadari keilahian yang ada di dalamnya. Dalam
fase awal ini, Monad dapat diibaratkan sebagai benih-benih Ilahiah
yang belum berkembang. Benih-benih ini nantinya akan dapat
berkecambah dan menghasilkan tunasnya sendiri setelah esensi di
dalamnya tergugah atau mulai menyadari Keilahiannya sendiri.
Proses untuk menghasilkan ‘tunas’ ini dilakukan lewat satu-
satunya cara atau metode yang dipahami oleh Semesta raya, yaitu
lewat medan evolusi di tataran alam materi, mulai dari Kausal,
Mental, Astral, hingga fisik.

47
Dante R Kosasih

Oleh karena ‘keterbatasannya’ di dimensi-dimensi yang lebih


rendah, Monad membutuhkan sebuah kendaraan atau wahana
untuk dapat berevolusi di tataran-tataran yang lebih rendah.
Monad memiliki 3 aspek yang identik dengan Aspek Trimurti
atau Titik Kesadaran awal yang sifatnya Tritunggal, yaitu :
1. Aspek Kehendak
2. Aspek Kebijaksanaan
3. Aspek Kreativitas.

Ketiga Aspek Monad ini dipantulkan kembali dalam


keberadaan Diri triad yang lebih rendah, seperti yang terdapat di
badan Kausal atau Sang Ego yang sifatnya relatif abadi, yaitu :
1. Atma - Kehendak (SAT)
2. Budhi - Intuisi (ANANDA)
3. Manas - Penalaran Murni (CHIT)

Dan kemudian, Ketiga aspek Badan Kausal ini juga akan


dipantulkan kembali secara kasar atau tidak akurat oleh ‘bayangan’-
nya di alam-alam yang lebih rendah dalam diri personalitas yang
sifatnya tidak abadi atau fana, yaitu :
1. Badan Mental - Intelek
2. Badan Astral - Emosi
3. Badan Fisik - Aktifitas atau Gerakan

48
Kunci Esoteris I

Ketiga aspek dari kesadaran di alam Adi juga dipantulkan


kembali oleh semua unsur-unsur elemen yang terdapat di alam
fisik atau tataran terendah ini (dasar dari kolam materi) sebagai :
1. Sattva
2. Raja
3. Tamas

Diagram pantulan 3 aspek Jiwa atau Spirit ke dalam unsur-unsur


materi

49
Dante R Kosasih

Apa yang ada di ‘bawah’, merupakan cerminan langsung


dari apa yang ada di ‘atas’. Inilah yang dinamakan dengan kaidah
hierarki semesta, dimana semua hal yang berada di tataran frekuensi
yang lebih rendah merupakan representasi atau perwakilan
dari hal-hal lebih tinggi lain yang tersembunyi atau occult. Perlu
dipahami, dikarenakan oleh keterbatasan dari sifat-sifat alam yang
ada, maka sering kali pantulan yang muncul merupakan degradasi
atau kemunduran dari hal yang sebenarnya. Triad yang terdapat
di Monad, tidak akan mungkin sepenuhnya dipantulkan oleh
tataran alam-alam yang lebih rendah dan demikian seterusnya,
hingga akhirnya pantulan yang paling kasar dan paling tidak
akurat berada di alam fisik yang sangat terbatas ini.
Tidak ada yang benar-benar memahami Monad di luar dari
ketiga aspeknya yang masih dapat ditangkap secara samar oleh
badan Kausal atau Badan Ego dari golongan para Adepta yang
kemudian menceritakan kembali pada kita apa yang dilihatnya
di sana. Satu hal yang jelas, Monad memiliki hubungan langsung
dengan semua badan-badannya yang lebih rendah seperti Diri
individual kita atau badan Kausal, hingga ke semua wujud
terendahnya dalam bentuk-bentuk personalitas yang mati dan
dilahirkan kembali kedalam dunia fisik. Pada tahapan ini, kita
hanya dapat berandai-andai apa yang akan terjadi ketika Monad
telah sepenuhnya menyadari esensi yang ada di dalam dirinya
sendiri ketika Jivan Mukti atau Jiwa-Jiwa yang terbebaskan kembali
menyatu ke dalamnya. Apakah kemudian Monad akan kembali
ke titik kesadaran awal di alam Adi, atau ia akan melanjutkan
evolusinya ke tangga evolusi universal yang tidak akan mampu
kita pahami, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Satu hal
yang pasti, dari semua kehidupan yang berkesinambungan ini,
masih banyak hal-hal yang belum kita ketahui dan tersembunyi

50
Kunci Esoteris I

dari pandangan dan penalaran fisik kita. Kehidupan sehari-


hari kita hanyalah cerminan dari sebagian kecil proses evolusi
kesadaran yang berpusat di tataran alam Anupadaka atau alam
Para Monad (kumpulan percikan Ilahiah), yang merupakan Esensi
hakikat dari diri kita yang sejati. Begitu banyak susunan alam yang
berada di ‘atas’ dan di ‘bawah’ kita, semuanya merupakan proses
kinerja medan evolusi alam semesta yang sepenuhnya bekerja
di luar kesadaran otak fisik kita yang fana dan terbatas, yang
kita bisa lakukan saat ini adalah secara perlahan mendaki jalan
evolusi itu, menyibakkan satu demi satu rahasia alam yang akan
secara perlahan dibukakan bagi diri kita, bagi orang-orang yang
mencari kesejatian, bagi mereka yang dengan tekun melakukan
ziarah sakral meniti perjalanan ke dalam diri, untuk menemukan
kebenaran tunggal yang universal itu. Saat ini, biarlah apa yang
telah dijabarkan akan menjadi dasar dari pemahaman esoteris kita
yang mungkin tidak akan pernah dipahami oleh kaum profane
atau duniawi, biarlah Ilmu ini akan bersama-sama kita selami
lebih mendalam dalam keheningan meditasi kita, yang akan terus
meluaskan dan memperlebar pemahaman kita mengenai hal-
hal luar biasa yang telah menanti di sudut-sudut semesta yang
misterius.

51
Dante R Kosasih

BAB III

SUSUNAN CAKRA

Seperti yang dikatakan sebelumnya, di dalam lapisan badan-


badan manusia yang lebih halus, misalnya lapisan badan Etherik,
Astral hingga Mental, terdapat sentra-sentra titik energi beserta
jalur-jalur nadi besar dan kecil yang tak terhitung banyaknya.
Pengetahuan ‘sakral’ yang sangat esoterik ini berasal dari tradisi
Tantra Yoga yang esensinya dapat juga ditemukan di Vedanta dan
Vajrayana.
Terdapat tujuh titik sentra cakra utama dalam anatomi
triad badan spiritual kita (Badan etherik, astral dan mental) yang
berkorelasi langsung dengan fungsi indera dan organ-organ utama
di dalam kendaraan badan fisik atau sthula. Tradisi Hindhu dan
Sansekerta menyebutkan adanya 5 tattva (unsur alam semesta)
yang berhubungan langsung dengan kelima sentra energi di
badan-badan halus manusia, namun secara esoterik telah lama
diamati dan dikenal bahwasanya terdapat tujuh titik cakra yang
berkorelasi langsung dengan sifat septenaris atau kelipatan tujuh
yang terdapat di alam semesta.
Salah satu alasan mengapa hanya disebutkan lima tattva
dalam tradisi Perenial bangsa Aryan, karena berkorelasi langsung
dengan skema perkembangan ras manusia pada saat ini yang
hanya memiliki pancaindera atau 5 indera fisik aktif, sedangkan

52
Kunci Esoteris I

dua indera lainnya, yaitu indera keenam dan ketujuh yang saat ini
masih sangat occult atau tersembunyi, akan perlahan dibukakan
di putaran ras yang berikutnya, yaitu ras keenam akan memiliki
6 indera fisik dan disempurnakan pada kehadiran ras ketujuh
manusia dengan 7 indera fisiknya di era peradaban yang akan
datang.
Pembahasan mengenai ras-ras manusia ini, dari ras awal
yaitu Lemuria, Atlantis hingga ras manusia saat ini akan dituliskan
lebih mendalam lagi di buku ‘Kunci Esoteris jilid II” nanti.
Dikarenakan keterbatasan waktu dan tema pembahasan kali ini,
maka penulis hanya akan memfokuskan pembahasan di seputar
tujuh cakra berikut fungsi-fungsinya. Berikut ini adalah gambar
anatomi ‘fisiologi spiritual’ kita dengan susunan jalur-jalur halus
dan ketujuh titik sentra yang terdapat di dalam triad spiritual kita :

53
Dante R Kosasih

Ketujuh titik sentra energi atau Cakra adalah :

1. Cakra Dasar/tulang ekor - memiliki pancaran warna Merah


Berhubungan dengan dasar atau fundamental dari tulang
belakang, yang membawa fungsi-fungsi vitalitas dasar dari
aspek badan dan kesadaran fisik. Unsurnya Tatva-nya adalah
Prithivî atau Materi Solid (padat).
2. Cakra Seks - memiliki pancaran warna jingga
Berhubungan dengan Kelenjar reproduksi dan aspek
kreativitas. Unsur Tattva-nya adalah Apas atau air.
3. Cakra Perut/pusar - memiliki pancaran warna kuning.
Unsur Tattva-nya adalah Agni atau Api, memiliki aspek Ego
personalitas yang berkaitan dengan rasa. Di cakra ini juga
terdapat sambungan The Silver Cord atau Kabel Perak yang
menghubungkan badan fisik dengan kembaran Etheriknya.
4. Cakra Hati/Jantung- memiliki pancaran warna hijau. Unsur
Tattva-nya adalah Vâyu atau udara, memiliki aspek Cinta
Kasih tak terkondisi. Di titik ini juga terdapat beberapa titik
lain yang sifatnya sangat esoteris yang akan dibuka seiring
dengan pelatihan kriya yoga.
5. Cakra Tenggorokan - memiliki pancaran warna biru, unsur
Tattvanya adalah Ãkâsha atau suara yang berkaitan dengan
getaran suara semesta.
6. Cakra Ajna - memiliki pancaran warna ungu, unsur
esoterisnya adalah Buddhi (tidak terdapat dalam sistem
Tattva), merupakan ‘lensa’ terdepan dari kelenjar Pineal
yang disebut sebagai pituitari, berkaitan dengan kebangkitan
kesadaran spiritual kita.
7. Cakra Mahkota - memiliki pancaran keemasan, unsur
esoterisnya adalah Adi (tidak terdapat dalam sistem tattva),

54
Kunci Esoteris I

berkaitan dengan The holy Seat atau Tempat duduk kesadaran


Diri yang sejati dan jembatan Antahkarana.

Prinsip pengembangan kesadaran yang terdapat di setiap


cakra adalah :
- Cakra Dasar - Aku adalah
- Cakra Seks - Aku merasa
- Cakra Perut - Aku melakukan
- Cakra Jantung - Aku mencintai
- Cakra tenggorokan - Aku bersabda
- Cakra Ajna - Aku melihat
- Cakra Mahkota - Aku mengerti

Perlu diingat di sini, bahwa titik pusat cakra terletak di daerah


sushumna atau tulang belakang dan mengembang membentuk
corong di sisi depan dan sisi belakang dari kendaraan fisik kita di
dalam lapisannya yang paling halus, yaitu badan Etherik.
Selain dari ketujuh titik cakra yang ada, terdapat 72.000
sistem nadi atau jalur-jalur energi badan halus manusia dengan
dua nadi utamanya yaitu Ida dan Pingala, yang pada gambar di
bawah yang mengalir membentuk untaian saluran energi yang
mengalir dari atas ke bawah dan bawah ke atas. Dalam beberapa
cabang ilmu esoteris lain, Ida Pingala juga dikenal dengan istilah
Ying-Yang.

55
Dante R Kosasih

Ida adalah aliran chi atau energi di tubuh sisi kiri, yang
mewakili aspek energi feminim (-) dengan sifat dingin yang
dilambangkan dengan Bulan. Aliran Ida berasal dari Muladara
atau Cakra Dasar yang berada di tulang ekor dan bermuara di
lubang hidung sebelah kiri.
Pingala adalah aliran chi atau energi di tubuh sisi kanan,
yang mewakili aspek energi maskulin (+), dengan sifat panas yang
dilambangkan dengan Matahari. Pingala juga berawal dari Cakra
Muladhara dan berakhir di lubang hidung sebelah kanan.
Kriya Yoga merupakan salah satu teknik yoga yang
mempergunakan ilmu bernafas atau pranayama pada ketujuh
titik cakra ini dalam upayanya untuk menggugah sang ular atau
energi laten dalam badan manusia yang dinamakan dengan istilah
Kundalini. Dalam hubungannya dengan Kundalini, Teknik Kriya
Yoga berkorelasi dengan ‘dua’ macam kundalini yang bercokol
dalam lapisan badan-badan spiritual manusia, yaitu Kundalini atas

56
Kunci Esoteris I

yang sifatnya lebih halus atau feminim (-) dan Kundalini bawah
yang sifatnya lebih kasar atau maskulin (+). Kriya Yoga memahami
setiap tarikan udara atau nafas ke dalam tubuh yang dipraktikkan
dalam setiap tekniknya sebagai perwujudan dari ‘nafas kehendak’
secara mental, yang apabila dipraktikkan dengan benar akan
membawa praktisinya ke titik kuliminasi tertinggi pencapaian
daya-daya clairvoyant yang tertinggi, yaitu berfungsinya mata
‘ketiga’ atau Pineal di dalam organ otak yang terletak di kepala.

Secara Esoteris, Cakra dapat dibagi menjadi dua wilayah,


yaitu :
1. Susunan cakra yang lebih rendah, yang juga sangat erat
kaitannya dengan keberadaan dari diri personalitas kita,
yang biasanya terdapat di lapisan cakra pertama hingga
kelima (cakra dasar hingga cakra tenggorokan)
2. Susunan cakra yang lebih tinggi, yaitu cakra Ajna dan Mahkota
yang sangat erat berkorelasi dengan Diri individualitas kita
yang sejati atau Badan Kausal.

Juga dikatakan, bahwa cakra ‘Ajna’ yang pada skema


perkembangan evolusi manusia saat ini adalah merupakan cakra
yang sangat esoteris atau tersembunyi ini pada awalnya terdiri
dari 3 unit yang terpisah, yaitu :
A. Kelenjar Pineal yang terletak di bagian tengah dalam organ
otak di kepala
B. Pituitari yang merupakan sisi unit yang posisinya agak
menjorok ke depan yaitu sebagai apa yang dipahami sebagai
titik cakra Ajna itu sendiri oleh golongan profane
C. Medulla oblongata yang terletak di sisi belakang kepala (di
beberapa tradisi dikenal sebagai titik cakra Bindu)

57
Dante R Kosasih

Pada awalnya akan berfungsi sebagai 3 unit yang terpisah,


namun setelah berhasil dikuasai akan menjadi satu, yang dikenal
dengan Cakra Master, dengan titik pusatnya di kelenjar Pituitari.
Inilah yang dikenal oleh kaum esoteris sebagai ‘The Eye of Dangma”
atau Mata Sang Dangma atau Mata Shiwa, yaitu mata ketiga kita.
Jadi pelatihan lima nafas terhadap kelima tattva yang sifatnya
material, yang berkaitan dengan fungsi-fungsi prostatik epigastrik,
cardiak, and laringealnya, akan dilengkapi dengan kulitivasi nafas
keenam dan ketujuh, yaitu cakra Ajna dan Mahkota.

“Ia yang telah terinisiasi, kaya dengan pengetahuan yang


diberikan oleh generasi pendahulunya, yang tidak banyak
jumlahnya, mengarahkan “Mata Dangma”-nya terhadap esensi
dari segala sesuatu hal, di mana Maya tidak dapat lagi memiliki
pengaruh apapun kepadanya.” [SD 1:45]

“… Shiva-Rudra – the “Pelindung kaum Yogi”, “third eye”,

58
Kunci Esoteris I

yang mistis ini harus dikuasai oleh para yogi sebelum ia dapat
menjadi seorang Adepta atau Master” – [SD 2: 615]

“Mata Ketiga terletak di belakang kepala, bukan depan. Hal


ini hanya untuk tujuan ilustrasi saja, maka sering digambarkan
sebagai antara dua mata fisik atau di dahi”

“Mata ketiga berada di belakang kepala.” [SD 2: 294]

Cakra mahkota yang dikatakan memiliki seribu kelopak


bunga lotus, berada beberapa cm di atas ‘ubun-ubun’ dan
merupakan Singasana tempat Sang Ego atau Diri yang sejati
duduk. Di sini juga terdapat sambungan halus Antahkarana yang
menghubungkan lapisan badan fisik terhalus atau etherik kita
dengan lapisan badan-badan lain yang lebih halus. Cakra Mahkota
adalah titik universalitas yang menghubungkan diri Personalitas
dengan alam-alam Svaha yang sifatnya Satvik atau mulia.
Ini adalah ulasan mengenai sentra-sentra energi yang
terdapat di badan-badan halus kita yang juga sering disamarkan
sebagai tujuh kunci pembuka alam kesejatian dalam berbagai jenis
praktik esoteris lain, yang awalnya hanya dibukakan bagi segelintir
golongan orang-orang yang terinisiasi. Apabila dikultivasi dengan
benar dan tepat, teknik pranayama Raja Yoga, dalam hal ini Kriya,
akan menghantarkan kita untuk membuka semua potensi keilahian
yang saat ini masih tersembunyi dan merealisasikan Kesadaran
Ilahiah, yaitu Diri yang sebenarnya dalam kehidupan dunia ini.
Inilah daya kekuatan spiritual yang sejati.
“Kunci-kunci apa yang dapat digunakan untuk menyingkap
makna-makna terpendam di dalam tulisan-tulisan sakral itu?”
Sepertinya terdapat tujuh kunci yang dapat digunakan untuk

59
Dante R Kosasih

“membuka semua rahasia spiritualitas Timur” seperti yang


pernah dituliskan dalam SD halaman 318. Cara satu-satunya untuk
mendapatkan ketujuh kunci ini adalah lewat proses inisiasi dan
praktik langsung dimana si Chela atau (murid) secara perlahan
diberikan cara untuk menggunakan ketujuh kunci itu, satu demi
satu lewat proses inisiasinya yang bertahap.

60
Kunci Esoteris I

BAB IV

PROSES KEMATIAN DAN KELAHIRAN


KEMBALI

Kendaraan fisik kita merupakan hal yang sifatnya sangat


terbatas, rentan dan fana. Seperti semua hal-hal fisik lainnya,
wahana fisik ini seiring dengan waktu akan banyak mengalami
degradasi fungsi dan efektifitas yang berujung dengan kematian
atau proses penguraian kembali. Kata ‘kematian’ apabila dilihat
dari sudut pandang kaum profane, tentu saja akan menyiratkan
suatu hal yang misterius dan mengimplikasikan sebuah ‘akhir’
yang menyedihkan dari keberadaan. Namun, bagi golongan
esoteris, tidak ada yang misterius dari sebuah kematian. Peristiwa
kematian dan kelahiran bagaikan sapuan ombak yang datang silih
berganti ke bibir pantai dari semenjak awal peradaban kehidupan
dunia ini dulu. Semua yang lahir pasti akan mati, semua yang
muncul pasti akan lenyap kembali, tidak ada hal yang luar biasa
dari kematian karena sebagaimana kelahiran, kematian hanyalah
sebuah proses pergantian kesadaran.
Kesadaran manusia hanya dapat berfungsi di satu alam
saja, golongan manusia normal yang masih belum sepenuhnya
terbebas atau ‘melek’ dalam badan kausalnya, hanya dapat melihat
dan memahami satu frekuensi dalam setiap waktu. Kita belum

61
Dante R Kosasih

memiliki kemampuan untuk mengamati realitas yang terdapat


di berbagai tataran alam pada saat yang bersamaan. Dalam
episode bangun atau apa yang dinamakan dengan tahapan jagad,
kita hanya dapat melihat fenomena-fenomena fisik. Di saat kita
tertidur, indera untuk melihat keluar itu tadi akan menjadi dorman
dan kesadaran akan diteruskan pada lapisan badan astral, dimana
apabila badan astral kita telah memiliki instrumen-instrumen yang
cukup mumpuni, kita akan dapat mempersepsikan fenomena-
fenomena astral secara sadar dalam hidup berkesinambungan
setelah badan fisik terlelap. Namun, tidak semua orang dapat
menikmati kehidupan yang berkesinambungan ini, sebagian besar
dari kita kesadarannya akan ‘terhenti’ atau ‘terputus’ dan ikut
terlelap dengan tidurnya badan fisiknya. Kesadaran yang terdapat
di sebagian besar manusia ini sifatnya sangat terbatas dan hanya
berfungsi penuh ketika indera-indera fisiknya aktif. Pada beberapa
golongan lainnya, kesadaran ini mulai tetap dapat terjaga atau
berlanjut bahkan ketika semua indera-indera fisik terlelap dalam
tidurnya. Mereka telah memiliki kemampuan bathin untuk dapat
mempersepsikan alam lain yang lebih halus dari alam jagad, yaitu
tataran dunia astral yang penuh dengan warna, rasa dan memori.
Pada awalnya mungkin kesadaran astral ini sifatnya muncul
secara spontan atau sporadis dan karena kemunculannya yang
sporadis atau sekonyong-konyong itu, biasanya akan diakhiri oleh
kembalinya kesadaran pada indera-indera fisik secara mendadak
pula. Beberapa orang mungkin telah memiliki kemampuan untuk
dapat sepenuhnya mengendalikan mimpinya secara sadar, bahkan
beberapa diantaranya telah memahami bahwa yang ia alami di
dalam kondisi terlelap hanyalah sebuah mimpi dan tidak lantas
hanyut di dalamnya, kemudian mereka ini dapat melampaui
batasan mimpi yang sifatnya fisik dan melesat masuk ke dalam

62
Kunci Esoteris I

kesadaran astral dan menemukan bahwa terdapat fenomena-


fenomena kehidupan lain yang berada di tataran alam ini.
Seperti halnya ketika kita terlelap, hal yang sama akan kita
alami pada saat mendekati ajal. Di bawah ini adalah cuplikan dari
beberapa tulisan esoteris mengenai kematian berikut prosesnya :

“Nafas yang meninggalkan badan dan apa yang kita sebutkan


sebagai kematian seseorang, sebenarnya hanyalah merupakan
sebuah awal dari proses kematian itu sendiri, proses ini berlanjut
di alam-alam yang lain. Ketika rangkanya telah menjadi dingin
dan kedua mata tertutup rapat, semua daya kekuatan di badan
dan pikiran bergerak cepat ke arah otak dan hal ini ditemani oleh
rangkaian gambar dari seluruh kehidupan yang baru saja berakhir
dan diteruskan sepenuhnya kepada Diri manusia yang di dalam,
bukan secara garis besar, namun hingga ke detail yang paling kecil
dan impresi yang paling halus sekalipun. Pada saat ini, ketika
semua hal diidentifikasikan oleh Dokter sebagai tanda-tanda
kematian, lewat semua asa dan karsa dari manusia yang saat ini
telah dinyatakan meninggal itu, manusia yang sebenarnya justru
menjadi sangat sibuk di otak, dan Ia tidak akan beranjak sebelum
semua pekerjaan di sana telah usai. Ketika pekerjaan khidmat ini
telah usai, lapisan badan Astral melepaskan diri dari badan fisik
dan seiring dengan berlalunya energi kehidupan atau prana, maka
kelima lapisan saat ini berada di dalam Kama Loka (alam astral)” -
WQJ, The Ocean of Theosophy, halaman 99-100.

“Meski para Dokter telah mengumumkan kematian, sejauh


masih ada sepercik panas hewani di dalam badan, maka otak
masih dapat berpikir. Karena seseorang tidak dapat beranjak
maju, maka ia harus mundur kembali, dan dengan demikian selagi

63
Dante R Kosasih

gulungan kitab kehidupan digulung semenjak saat kematian


atau ketika menjelang ajal, maka seseorang akan mendapati
dirinya membaca kembali semua rekam pikiran, kata-kata, semua
motif dan impresinya, dari saat terakhir itu hingga ke peristiwa-
peristiwa yang terjadi dalam masa kanak-kanaknya.” RC, Answers
to Questions on The Ocean of Theosophy, Halaman 168

Dalam catatan ini, Master K.H pernah menuliskan “Seseorang


mungkin terlihat telah mati, namun dari detak jantung terakhirnya,
dari dan di antara gerakan terakhir otot-otot jantungnya dan pada
saat ketika percikan terakhir dari hawa panas hewani yang telah
meninggalkan badan - Otak masih dapat berpikir dan Sang Ego
menghidupkan kembali seluruh cerita kehidupannya, di antara
jeda yang hanya sesaat itu. Berbicaralah dengan bisikan, kau
semua, yang membantu di sekitar ranjang kematian dan rasakan
keberadaan kematian yang khidmat. Tetaplah hening, khususnya
pada saat kematian telah mencengkeramkan tangannya pada
badan itu. Berbicaralah dalam bisikan, maka kau tidak akan terlalu
mengganggu riak-riak pikiran dan menghalangi pekerjaan dari
masa lalu yang memantulkan refleksinya pada kerudung masa
depan”.

“...manusia pada saat kematiannya memiliki pandangan yang


retrospektif terhadap kehidupan yang baru saja ia tinggalkan...,”
HPB, The Key to Theosophy, halaman 163.

Pada saat-saat menjelang kematian, semua aliran daya


kehidupan atau prana biasanya akan tertarik ke cakra jantung,
dimana hal ini tentu saja akan mengakibatkan tidak berfungsinya
semua indera-indera fisik lain terutama yang berhubungan

64
Kunci Esoteris I

dengan hal-hal yang motorik. Karena aliran prana dari badan


etheris telah sepenuhnya berhenti, maka sisa aliran prana yang
masih berada di badan fisik akan bergerak tersedot ke daerah
cakra jantung. Dari sana, aliran prana akan diteruskan kembali
ke cakra ajna atau mata ketiga kita, dimana seluruh peristiwa
kehidupan dari diri personalitas yang segera akan ditinggalkan
ini akan dibabarkan kembali, dari lahir hingga saat menjelang
kematian secara mendetail. Di sini, kesadaran Ego atau Diri yang
sebenarnya akan menghidupi kembali setiap detik kehidupan kita
tanpa melewatkan satu kejadian yang paling kecil sekalipun. Ia
akan mereview kembali, mengamati dan menarik semua abstraksi
pengalaman yang mungkin akan berguna bagi evolusinya kelak.
Tidak banyak memang yang dapat ia gunakan, faktanya ekstraksi
abstraksi yang mungkin dapat Ia gunakan dari setiap masa
kehidupan amatlah kecil kuantitasnya, namun tetap saja ekstraksi
ini akan menjadi hal yang sangat berharga baginya. Karena inilah
esensi sebenarnya dari keberadaan diri-diri personalitas yang telah
ia ‘investasikan’ ke dalam kolam materi ini.
Di saat jantung telah berhenti berdetak, dan tarikan nafas
terhenti, diceritakan oleh Madam Blavastky atau HPB, selama
masih ada secercah panas hewani atau badaniah yang masih
tersisa, kesadaran akan terus mengumpulkan informasi di dalam
pusat kesadaran di otak yaitu Pineal, sebelum akhirnya beranjak
dari kesadaran fisik dan masuk ke dalam badan astral. Di sinilah
proses pemisahan kesadaran dari wahana fisiknya telah terjadi
dengan sempurna dan inilah apa yang kemudian dinamakan oleh
kaum profane atau duniawi sebagai sebuah kematian.

65
Dante R Kosasih

Proses I
Pemisahan Kembaran Etheris Dari Badan Fisik

Sepeninggal kesadaran yang telah beralih ke dalam badan


atau lapisan astral, kembaran kita yang juga sering kali disebut
sebagai Badan etherik juga akan memisahkan diri dari kerangkeng
fisiknya. Proses pemisahan ini biasanya berlangsung dari beberapa
jam lamanya hingga ratusan tahun bagi kasus-kasus tertentu yang
sangat jarang dijumpai. Pusat sambungan badan eteris yang berada
di cakra muladara atau cakra perut pada badan fisik, dihubungkan
dengan apa yang dinamakan oleh golongan cenayang (atau mereka
yang telah melihatnya) sebagai silver chold atau kabel perak. Kabel
perak ini dulunya berfungsi sebagai jembatan penghubungan
atau perantara mengalirnya aliran prana dari badan-badan yang
lebih halus ke badan fisik. Karena jantung tidak lagi berdenyut
dan berhentinya aktivitas di otak, maka kabel ini akan terlepas
dengan sendirinya. Proses pelepasan kabel ini yang dikatakan
bisa berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa ratus tahun
lamanya. Setelah kabel ini terputus, maka kembaran badan fisik
yang selama ini dengan setia mendampingi kehidupan duniawi
kita dalam diri personalitas yang terakhir, akan melayang-layang
mengikuti aliran daya eteris yang ada di sekitarnya. Perlu diingat,
tidak ada kesadaran yang tertinggal di dalam ‘cangkang’ fisik ini,
yang tersisa hanyalah sebuah lapisan fisik yang sangat tipis, yang
menyerupai diri personalitas yang baru ditinggalkannya. Inilah
yang orang sering tangkap dan lihat sebagai kabut putih atau
bayangan asap tipis setelah peristiwa kematian, banyak kalangan
profane yang mengartikannya sebagai ‘jiwa’ atau ‘sugma’ dari
individu yang baru saja meninggalkannya, namun sekali lagi,
anggapan ini adalah suatu hal yang tidak tepat.

66
Kunci Esoteris I

Karena Badan eteris ini merupakan hal yang sifatnya fisik,


tentu saja ia akan mengurai dan hancur seiring dengan berjalannya
waktu. Kembaran badan fisik ini biasanya akan sepenuhnya
mengurai dalam waktu 3 tahun setelah kematian badan fisiknya
dan sering kali ditemukan masih melayang-layang di atas tanah
kuburan dimana badan fisiknya dikuburkan. Oleh karena itu,
disarankan bagi mereka yang telah memahami proses ini untuk
mengkremasi kerabat mereka yang telah meninggal dunia, agar
mempercepat kehancuran dari badan etherik ini. Karena ketika
badan fisik telah benar-benar dimusnahkan lewat proses kremasi,
hal ini juga akan diikuti oleh kembaran etheriknya dan tentu saja
proses ini akan sangat memudahkan jiwa untuk ‘move on’ atau
melanjutkan perjalanannya di tataran alam-alam yang lebih tinggi.

Proses II
Pemindahan Kesadaran Ke Dalam Kendaraan Astralnya

“Menurut ajaran-ajaran ketimuran, kondisi mereka yang


telah meninggal dalam Kama-loka, bukanlah berada dalam
kondisi seperti apa yang kita pahami sebagai “sadar”. Namun
lebih pada sebuah kondisi seperti halnya seseorang yang tertegun
atau linglung karena baru saja menerima sebuah pukulan yang
keras, mereka ini selama beberapa saat “kehilangan semua
inderanya.” Di dalam Kama-Loka, ada sebuah peraturan yang
tidak memperbolehkan mereka untuk dapat mengenali teman-
teman atau saudara-saudaranya

* (terkecuali apabila kesadaran mereka sengaja dibangunkan


melalui kontak dengan medium atau cenayang).

67
Dante R Kosasih

“.... Kama-loka atau tempat dari segala hasrat - merupakan


kawasan astral yang bersentuhan dan mengelilingi Bumi... hal
ini disebut dengan alam hasrat karena berhubungan langsung
dengan prinsipalitas yang ketiga dan di dalamnya berkuasa penuh
daya hasrat secara total, benar-benar terpisah dari kecerdasan. Ini
merupakan alam astral yang berada di antara kehidupan duniawi
dan ‘surgawi’. Tanpa diragukan lagi, hal ini merupakan asal
muasal dari Teori Nasrani mengenai purgatori, dimana jiwa-jiwa
menjalani hukuman atas semua kejahatan yang pernah dilakukan
dan dari sana mereka dapat kemudian dibebaskan oleh doa-doa
dan ritual-ritual atau persembahan-persembahan tertentu. Fakta
yang melatarbelakangi takhayul ini adalah bahwa kondisi jiwa
yang terikat oleh daya luar biasa dari hasrat yang belum terpuaskan
di Kama loka, tidak memiliki kemampuan untuk menanggalkan
pakaian astral dan kamiknya hingga hasrat tersebut dipuaskan
oleh seseorang di atas bumi atau oleh jiwa itu sendiri”.

Namun, apabila seseorang memiliki pikiran yang murni


dan aspirasi-aspirasi yang tinggi, pemisahan prinsip-prinsip di
tataran alam itu akan cepat selesai, sehingga triad yang lebih tinggi
akan dapat meneruskan perjalanan, memasuki Devachan. Karena
tempat ini adalah merupakan alam astral, maka secara alamiah
tersusun dari materi-materi astral yang sangat duniawi dan jahat,
di dalamnya semua daya bekerja sendiri tanpa pengaturan dari
jiwa atau kesadaran. Tempat ini merupakan tungku api, dari
perapian kehidupan, dimana alam semesta menyediakan sebuah
tempat untuk merontokkan semua elemen yang tidak mendapat
tempat di Devachan dan untuk alasan itulah, tempat ini sudah
pasti memiliki banyak tingkatannya dan tiap-tiap tingkatan itu
telah dipelajari oleh orang-orang zaman kuno. Ke semua tingkatan

68
Kunci Esoteris I

ini dikenal dalam bahasa Sansekerta sebagai Lokas atau tempat,


dalam artian metafisikal. Kehidupan manusia memiliki banyak
variasi karakter dan potensi-potensi lain dan bagi setiap dari itu
semua, telah disediakan juga tempat-tempat yang sesuai setelah
kematian, hal ini membuat kama loka sebagai sebuah alam dengan
variasi yang tidak terbatas” - WQJ, The Ocean of Theosophy
halaman 99, 100-101

Proses pemisahan kesadaran dari kendaraan fisiknya yang


baru saja selesai akan dilanjutkan dengan perpindahan kesadaran
ke dalam badan astral. Perpindahan ini akan menyebabkan kondisi
ketidaksadaran selama beberapa jam lamanya, beberapa pengamat
menyebutkan kalau durasi ketidaksadaran ini bisa berlangsung
antara 3 hingga 6 jam lamanya. Setelah fase ketidaksadaran itu
berakhir, kesadaran akan terjaga dalam lapisan badan astralnya di
alam astral atau kama loka. Seperti yang dituliskan di atas tadi,
kama loka merupakan sebuah alam hasrat yang terpisah dari
kecerdasan. Di alam ini, semua gairah dan hasrat berkuasa penuh
tanpa penalaran. Semua sisa-sisa hasrat dan gairah yang masih
belum terselesaikan di alam fisik dari kehidupan personalitas yang
lama akan dihabiskan di sini. Tentu saja kita tidak akan menemukan
apa yang golongan profane pahami sebagai neraka di dimensi
astral ini, sebab apabila semua adalah manifestasi pengembangan
kesadaran yang tunggal, bagaimana mungkin kesadaran yang
tunggal dapat menghukum bagian dari dirinya sendiri dalam
nyala lautan api yang abadi? lantas apa yang ingin diperoleh dari
proses yang seperti itu selain dari kehancuran dan kutukan kekal?
Pemahaman esoteris mendiktekan kalau apa yang terjadi di alam
Astral merupakan hal yang sangat jauh dari bayangan golongan
profane selama ini. Alam astral merupakan sebuah alam dimensi

69
Dante R Kosasih

yang memiliki hukum dan kaidahnya sendiri, yang tentu saja


tersusun oleh elemen-elemen semesta yang sangat halus, sebagian
besar unsur-unsur ini tersusun oleh elemen-elemen hasrat dan
keinginan. Di alam ini, semua hasrat terpendam atau yang belum
sepenuhnya terpuaskan akan diselesaikan. Mungkin mekanisme
‘perontokan’ elemen-elemen astral inilah yang dilihat oleh kaum
profane sebagai proses purgatori atau pembakaran.
Kesadaran yang masih diberatkan oleh unsur-unsur
duniawi, tidak dapat melanjutkan perjalanan ke alam-alam yang
lebih tinggi, apalagi kembali menyatu dalam Dirinya yang sejati di
alam Kausal. Kesadaran-kesadaran ini haruslah terlebih dahulu di-
’murnikan’ kembali dari semua kemelekatan terestialnya, termasuk
di dalamnya adalah kemelekatan emosi, gairah dan material kita.
Bagi mereka yang telah memiliki kemampuan untuk masuk ke alam
astral, sering kali didapati sekerumunan orang yang terlihat hanya
terduduk atau terdiam sendiri di depan bangunan atau tempat-
tempat yang mungkin pernah ia kenali sepanjang kehidupannya.
Sebagian besar dari sosok-sosok manusia astral ini sama sekali
tidak menyadari keberadaan hal-hal lain yang ada di sekitarnya.
Kesadaran mereka benar-benar terserap ke dalam permainan
rasa bathinnya sendiri. Lewat apa yang dapat diamati, pada
kebanyakan kasus manusia-manusia astral, mereka sepertinya
tengah ‘menghidupi’ kembali kehidupan personalitasnya
yang terakhir di dalam ruang lingkup dan suasana yang telah
mereka pahami selama ini. Beberapa diantaranya ‘menciptakan’
kembali suasana rumahnya sebelum ditinggalkannya, suasana
kantornya, suasana kotanya bahkan suasana ‘negara’-nya sendiri,
persis seperti apa terjadi sebelum ditinggalkannya kehidupan
terestialnya. Di dalam benak bathin astralnya, mereka ini terlihat
menjalani kembali hasrat demi hasratnya yang selama ini masih

70
Kunci Esoteris I

belum terselesaikan dan terpuaskan, seperti hasrat seksual, ambisi,


kebencian, dendam, kesedihan dan lain-lain. Bahkan beberapa
di antaranya memainkan kembali kehidupan terestial bersama
dengan keluarga dan teman-teman terdekat yang dulu pernah
dikenalnya, persis seperti apa yang mereka alami terakhir dulu.
Ini adalah sebuah jerat keterikatan emosi yang belum sepenuhnya
dapat untuk ditanggalkan.
Semakin besar kecondongan dan keterikatan mereka pada
hal-hal yang sifatnya duniawi atau sementara, semakin lama mereka
berada di alam astral ini. Mereka seolah berada dalam keadaan
trance yang dalam, dimana tidak ada satu hal pun yang mereka
sadari di luar dari permainan benak mereka sendiri. Bagaikan
sedang menonton sebuah DVD yang rusak, memori mereka akan
memasuki kondisi ‘looping’ dimana pada bagian-bagian tertentu,
mereka akan berusaha mengalami kembali hal-hal yang masih
belum bisa mereka tanggalkan meskipun dalam bentuk keberadaan
ini, mereka akan berusaha mengulang, dan mengulang kembali
semua sensasi duniawi dari semua pengandaian keterikatannya
itu. Karena elemen astral juga memiliki batasannya sendiri yang
sifatnya tidak abadi atau sementara, maka semua pengaruh rasa
yang dihasilkan dari sesi pengulangan bathin setiap kejadian itu
tadi akan diikuti oleh tingkatan sensasi yang semakin berkurang.
Di sini alam memainkan mekanismenya sendiri untuk membatasi
sebuah keterikatan dengan tujuan agar manusia-manusia astral
yang sudah tidak lagi memiliki badan fisik ini bisa sekiranya
dapat segera melanjutkan perjalanan ke tataran alam-alam yang
lebih tinggi seiring dengan habisnya atau menguapnya daya-daya
astral itu tadi. Namun, sebagian orang rupanya tidak menyadari
mekanisme ini karena mata bathinnya benar-benar telah dibutakan
oleh bayangan materi dari kehidupan personalitas sebelumnya,

71
Dante R Kosasih

sehingga dalam keabsenan daya-daya astralnya pun, mereka akan


selalu berusaha untuk ‘memutar’ kembali memori keterikatan
duniawinya hingga tidak ada satu daya pun yang tersisa, karena
tidak ada lagi daya astral di dalam diri yang tersisa untuk
memainkan angan-angannya, mereka ini akan menjadi sadar
dalam dimensi astral secara penuh dan akan mengarungi alam
astral dengan kesedihan dan penderitaan yang tak kunjung reda,
karena tidak memiliki instrumen apapun untuk melampiaskan
semua hasrat yang masih membelenggunya. Mereka inilah yang
sering kali disebut sebagai ‘hantu-hantu’ kelaparan dalam budaya
tradisi Tibet yang lebih eksoteris. Karena dorongan duniawinya
yang sangat kuat, mereka sering kali didapati berada di sisi-sisi
terluar dunia astral yang sangat bersinggungan dengan dunia fisik,
dimana mereka ini akan berusaha untuk mendapatkan apapun
untuk dapat memuaskan hasrat duniawinya. Namun, hal ini akan
semakin membuat mereka menjadi semakin tenggelam dalam
penderitaan, karena mereka ini tidak lagi memiliki indera-indera
duniawi untuk dapat menangkap atau merespon stimuli-stimuli
terestial yang dilihatnya.
Kembali lagi ke alinea sebelumnya, di diri manusia-manusia
astral yang kesadarannya masih berfokus ke dalam menghabiskan
daya-daya astralnya, beberapa sosok medium atau orang ‘pintar’
yang memiliki ilmu tertentu mungkin saja dapat memasuki
dimensi astral, untuk kemudian menggugah mereka dari trance-
nya ini dan menghubungkan kesadarannya dengan orang-orang
yang masih berada di dalam kehidupan duniawi. Biasanya
peristiwa-peristiwa semacam ini akan malah membawa berbagai
masalah baru baik bagi manusia-manusia astral, si medium dan
juga kerabat yang baru ditinggalkan. Keterikatan yang difasilitasi
dalam bentuk apapun, tidak akan melahirkan ketenangan dan

72
Kunci Esoteris I

kebahagiaan, apa yang terjadi sering kali malah mendatangkan


rasa penderitaan dan kesedihan yang luar biasa bagi manusia-
manusia astral, karena kini manusia-manusia astral ini telah
‘bangun’ dalam kesadaran astralnya dan benar-benar menyadari
apa yang telah menimpa dirinya dimana saat ini tengah berada di
suatu alam lain yang ‘jauh’ dari dunia. Banyak di antara jiwa-jiwa
ini yang lantas menjadi semakin terikat dengan dunia dan tidak
bisa melanjutkan proses alamiah yang seharusnya berjalan dengan
cepat, dan memperlambat laju perjalanan mereka ke tataran alam-
alam yang lebih tinggi. Bagi sosok-sosok manusia berilmu dan
medium yang memiliki kemampuan seperti ini, biasanya mereka
juga akan terekspos penuh oleh pengaruh-pengaruh astral yang
sifatnya sangat kuat dan ilusif, sehingga mereka ini tidak lagi
memiliki kesadaran yang ‘normal’ dalam badan fisiknya lagi,
selamanya pandangan mereka akan bercampur antara hal-hal
yang sifatnya astral dan fisik. Karena keabnormalan ini, sering
kali mereka melarikan diri ke obat-obatan terlarang, rokok dan
alkohol, sebelum akhirnya badan fisiknya akan rusak dan mereka
akan berakhir di tempat sama dengan manusia-manusia astral
yang selama ini dihubunginya.
Sepertinya mekanisme alam mencegah manusia-manusia
astral untuk benar-benar memperoleh kesadarannya dalam alam
astral. Dimana sebagian besar manusia astral yang berada dalam
kondisi trance itu, kesadaran yang ada di dalamnya akan langsung
beranjak meninggalkan lapisan badan astralnya ketika sudah tidak
ada lagi daya-daya astral yang tersisa. Kesadaran-kesadaran ini
akan melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam alam yang lebih
halus lagi, yaitu Alam Devachan. Inilah mekanisme alam semesta
normal yang berlaku bagi sebagian besar golongan umum manusia
dalam proses pergantian kesadarannya. Diamati, pergantian

73
Dante R Kosasih

kesadaran dari alam astral ke alam Devachan ini bisa berlangsung


dari periode 3 tahun terestial atau bumi hingga ke ribuan tahun
lamanya, bagi kasus-kasus tertentu dimana keterikatan materi
begitu besar membutakan mata bathin seseorang.
Mekanisme ini sepertinya tidak berlaku lagi bagi mereka
yang telah memiliki tahapan kehidupan yang berkesinambungan.
Bagi mereka yang telah memiliki kemampuan untuk memiliki
kesadaran penuh di alam fisik dan astral, proses yang terjadi
biasanya akan menjadi suatu hal yang lebih mudah dan otomatis.
Bagi mereka yang mata bathinnya telah terbuka, yang biasa terjadi
adalah ketika tiba waktunya bagi mereka untuk meninggalkan
badan fisiknya yang telah rusak, mereka tidak lagi harus melewati
fase ketidaksadaran seperti yang berlaku pada diri manusia
umum lainnya. Karena mereka ini telah memiliki kemampuan
untuk berpindah kesadaran secara cepat seperti apa yang biasa
mereka alami ketika masih berada dalam kendaraan fisiknya,
maka mereka juga akan memiliki kemampuan untuk dengan
cepat meninggalkan badan astralnya dan mengikuti ‘insting’
spiritualnya untuk melanjutkan perjalanan ke alam-alam yang
lebih tinggi, seperti alam devachan misalnya.
Jadi bisa dikatakan, proses kematian menjadi hal yang lebih
singkat dan efisien bagi golongan manusia seperti ini, dengan
satu catatan tambahan tentunya, yaitu mereka tidak memiliki
kecenderungan yang lebih besar pada dunia materi berikut semua
hasrat dan keinginan yang mengikutinya. Apabila hal ini terjadi
dan dorongan terestial ini masih dirasa sangat membebani, orang-
orang ini juga akan terjebak dalam kekangan ilusi daya astral yang
tak tertahankan dan dengan begitu akan melewatkan lebih banyak
waktu di sana dalam penderitaan dan ketidaktenangan.
Ketika kesadaran telah sepenuhnya melanjutkan perjalanan

74
Kunci Esoteris I

ke alam yang lebih tinggi, maka yang tersisa di dalam alam astral
adalah apa yang dinamakan dengan Cangkang Astral. Perlu
dipahami di sini, cangkang astral tidak memiliki kesadaran apapun
didalamnya dan meskipun memiliki bentuk dan gambaran yang
sangat identik dengan diri personalitas yang terahkir, hal ini tidak
dapat disamakan dengan ‘individu’ yang berkaitan. Sering kali
dalam saat-saat tertentu, dimana waktu dan tempat menjadi sangat
selaras bagi dua dimensi untuk saling berhubungan, seseorang
mungkin saja mendapat penampakan sekilas dari diri orang-orang
yang telah terlebih dahulu meninggalkannya. Sosok-sosok ‘bisu’
yang biasanya terlihat pucat dan tidak memiliki ‘kehidupan’ di
dalamnya ini sering kali terlihat berjalan dari satu ruangan ke
ruangan rumah yang lain, atau bergentayangan di tempat-tempat
tertentu yang mungkin masih berhubungan dengan peristiwa
kematian badan fisiknya beberapa lama yang lalu. Perlu diingat,
pada sebagian kasus yang diamati, penampakan-penampakan
seperti ini adalah penampakan dari apa yang dikenal secara
esoteris sebagai Cangkang Astral dan secara Profane atau duniawi
sebagai ‘hantu’. Biasanya penampakan yang mereka lihat sifatnya
seperti bayangan yang hanya terlihat sekilas dan mungkin juga
untuk beberapa lama. Dengan wajah-wajah dingin yang tidak
menyiratkan daya apapun, cangkang-cangkang astral ini adalah
satu-satunya bagian astral yang masih tersisa dari sosok-sosok
personalitas yang pernah hidup sebelumnya dan karena tidak
memiliki kesadaran dan kecerdasan apapun, cangkang-cangkang
ini tidak memiliki daya apapun untuk berpindah dari satu tempat
ke tempat lainnya secara sadar, yang sering kali terjadi cangkang-
cangkang astral ini akan mengikuti aliran unsur-unsur elemen
astral dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti sebuah balon
yang ditiup oleh angin.

75
Dante R Kosasih

Pada beberapa kasus tertentu yang sifatnya lebih kompleks


dan tidak akan dibahas secara lebih dalam di buku kali ini adalah
kasus-kasus dimana cangkang-cangkang astral ini kemudian
ditangkap oleh beberapa makhluk peri bumi astral, dimana
mereka ini kemudian memasuki wadah-wadah ‘kosong’ ini dan
mempergunakannya bagi tujuan-tujuan yang tidak baik dan penuh
dengan keisengan. Mereka dapat mempergunakan cangkang-
cangkang ini dan berpura-pura menjadi diri personalitas yang
dulu pernah menghuninya dan meminta banyak hal bagi keluarga
dan orang-orang yang pernah ditinggalkannya dulu, seperti
sesajen, dupa, tumbal dan lain-lain. Diperlukan keahlian lebih
untuk dapat membedakan cangkang astral yang di-’tunggangi’
dengan manusia astral yang sebenarnya. Karena seperti yang
telah dituliskan di atas tadi, mekanisme alam mencegah manusia-
manusia astral untuk dapat benar-benar menjadi sadar di alam
astral untuk alasan-asalan yang mulia, jadi dengan kaidah hukum
yang berlaku universal itu, tidak banyak manusia-manusia astral
yang dapat dengan mudah ‘mendatangi’ atau ‘berkomunikasi’
kembali dengan orang-orang yang telah mereka tinggalkan dalam
kehidupan terestialnya yang lalu. Kebanyakan dari mereka hanya
memiliki kesadaran yang sifatnya ke ‘dalam’ diri bukan ke ‘luar’.
Bencana besar menanti mereka yang membuka mata di alam astral,
hindarilah hal ini demi kebaikan anda sendiri.

Proses III
Devachan

“Lantas, apa yang dimaksud dengan Devachan? yang secara


literatur bisa dikatakan sebagai “Tanahnya para Dewa”. Hal ini
merupakan sebuah kondisi, tahapan dari mental Bliss. Secara

76
Kunci Esoteris I

Filosofi dapat dikatakan sebagai kondisi mental, dimana semua


pengalaman yang dialami di dalamnya, sifatnya jauh lebih nyata
dan vivid, ketimbang dari mimpi yang paling nyata sekalipun.
Ini merupakan sebuah kondisi yang menanti sebagian besar dari
makhluk-makhluk fana” - HPB, The Key to Theosophy, halaman
100.

“Apabila para psikolog kita dapat menemukan sebab


dari semua mimpi dan visi-visi dari alam bawah sadar selama
masa-masa bangun, mengapa mereka tidak dapat menerapkan
prinsip yang sama terhadap adanya kemungkinan-kemungkinan
mengenai mimpi yang muncul setelah kematian? saya ulangi
kembali, kematian adalah sama dengan tertidur. Setelah kematian,
di hadapan mata spiritual dari sang Jiwa, akan dimulai sebuah
pertunjukan yang didasarkan dari semua pemograman yang telah
dipelajari sebelumnya dan sering kali secara tidak sadar diciptakan
oleh kita sendiri, seperti membawa serta keyakinan-keyakinan
yang kita anggap paling benar atau sekumpulan ilusi yang
sebenarnya diciptakan oleh diri kita sendiri. Golongan Metodis
akan menjadi metodis, Golongan Mussulman akan menjadi
Mussulman, setidaknya untuk beberapa saat lamanya di dalam
surganya orang-orang bodoh, setiap orang menciptakan kreasinya
sendiri. Kesemuanya ini merupakan buah-buah pasca kematian
dari pohon kehidupan” HPB, The Key To Theosophy, halaman 165.

“Kita menciptakan Devachan kita sendiri dan juga Avitchi


kita, meskipun mungkin belum sepenuhnya diwujudkan ketika
sedang berada di dunia, hal ini sepenuhnya dapat diwujudkan
di saat-saat nanti dan bahkan saat-saat yang pernah dialami oleh
intelektual kita, kesadaran kita, tetap hidup” - Master K.H, dari

77
Dante R Kosasih

notes on Devachan, Theosophical Articles and Notes, halaman 246.

“Apa yang masuk ke dalam Devachan? apa yang


bereinkarnasi? tentu saja adalah sang Ego, Manas, tepatnya porsi
yang lebih tinggi dari Manas. Manas yang bereinkarnasilah yang
masuk ke sana.” - HPB, The Secret Doctrine Dialogues, halaman
621.

“Yang kita yakini adalah sebuah kondisi pasca kematian atau


sebuah kondisi mental, sebagaimana kita tengah berada dalam
sebuah mimpi yang sangat vivid atau nyata” - HPB, the Key to
Theosophy, halaman 138

“Tidak terdapat daya transformasi apapun di dalam


kematian, sebagaimana sebuah pohon yang telah tumbang, pohon
itu akan tetap diam di sana. Sejatinya di dalam masa kehidupanlah
kita harus dapat memahami dan membangkitkan sifat-sifat
alamiah kita yang sesungguhnya. Kematian tidak membuka pintu
ke pemahaman apapun” - Rc. The Friendly Philosopher, halaman
255.

“Setiap Ego setelah ketidaksadaran yang dialami selama


masa transfer akan dilahirkan kembali ke dalam Devachan, yang
merupakan sebuah keniscayaan, dalam kondisi yang tidak berdosa
dan murni, seperti seorang bayi yang baru saja dilahirkan. Dan,
di sisi lain Karma (yang buruk) untuk sementara waktu diam
menunggu sejenak, hingga masa re-inkarnasi buminya yang
mendatang telah tiba waktunya dan mengikutinya dari sana. Di
Devachan ia hanya membawa serta karma dari segala perbuatan,
kata-kata dan pemikiran yang baik” - Master K.H, Notes on

78
Kunci Esoteris I

Devachan, Theosophical Articles and Notes, halaman 244-245.

Kutipan-kutipan di atas tadi sengaja diambil untuk


memberikan sedikit gambaran atau preview dari apa yang akan kita
bahas berikut ini.
Tradisi esoteris menyebut tahapan pemisahan kesadaran
yang terakhir ini sebagai Devachan. Perlu digaris bawahi di sini,
Devachan tidak memiliki artian yang sinonim dengan apa yang
kaum Profane sebut sebagai ‘surga’, bahkan istilah ‘Nirvana’
juga memiliki artian yang sangat berbeda dengan tahapan
Devahchan ini. Devachan bukanlah sebuah lokalitas atau alam,
namun merupakan sebuah kondisi ahkir pra meleburnya kembali
kesadaran personalitas ke dalam kesadaran Individunya atau
kesadarannya yang hakikat dalam badan Kausal. Proses Devachan
ini juga bukanlah suatu hal yang abadi dan durasinya ditentukan
oleh seberapa besar penderitaan dan kebaikan yang kita lakukan
selama berada di alam dunia fisik. Mengapa diperlukan devachan?
tidakkah lebih mudah bagi kesadaran personalitas untuk dapat
menjadi terserap kembali ke dalam kesadarannya sendiri? kembali
lagi, hal-hal yang dijabarkan di sini merupakan pemahaman
esoteris yang berkaitan erat dengan mekanisme kematian dan
kelahiran kembali secara alamiah. Dari semua kasus yang diamati
oleh Guru-Guru dan Penulis Esoteris terkemuka yang pernah ada
selama ini, mereka semua selalu menyiratkan adanya tahapan
yang tidak dapat dipungkiri ini, ini adalah sebuah keniscayaan
yang berlaku secara universal.
Apabila alam astral merupakan mekanisme alam untuk
‘merontokkan’ semua hasrat dan gairah terestial kita yang lebih
rendah, maka Devachan adalah sebuah tahapan mekanisme alam
semesta untuk melarutkan semua aspirasi dan perbuatan kita yang

79
Dante R Kosasih

lebih tinggi. Proses Devachan ini berlangsung di lapisan badan


mental di tataran alam mental yang juga merupakan alam mahat
atau intelek dari semesta raya, Alam Mental merupakan sebuah
alam yang sangat halus dan mulia, karena ‘letaknya’ yang ‘jauh’
dari Bumi, maka tidak dapat ditemukan lagi pengaruh, sisa-sisa
hasrat dan aspirasi yang sifatnya materialistis atau terestial. Alam
ini juga dikatakan dihuni oleh banyak makhluk-makhluk luar
biasa berkesadaran tinggi seperti para dewa dewi atau malaikat
dari dimensi-dimensi mental yang bahkan lebih tinggi lagi. Para
master dari kelas Sambogakaya dan Nirmanakaya juga dapat
banyak ditemukan di sini, namun bagi kebanyakan manusia,
alam mental adalah sebuah dimensi yang tidak mungkin untuk
digapai. Berbeda dengan alam astral yang dapat dibilang masih
sangat dekat dengan bumi, alam mental benar-benar berada di
luar jangkauan indera manusia-manusia normal bahkan juga dari
manusia-manusia ‘berilmu’ yang masih terikat dengan hasrat dan
ambisi duniawi, setipis apapun itu. Konon keluhuran vibrasi alam
inilah yang membuatnya tidak terjangkau dari tangan-tangan kotor
duniawi yang lancang hendak menggapainya. Alam mental juga
merupakan sebuah tataran alam yang sangat dekat dengan Rumah
kita, dengan Sang Ego atau Diri kita yang sebenarnya. Badan
Kausal terletak di perbatasan tingkatan Rupa dan Arupa dalam
dimensi alam mental, apabila hendak diberi urutan, Badan Kausal
terletak di dimensi keempat dari tujuh dimensi alam mental yang
dapat diamati sejauh ini. Dimana dimensi ketiga hingga dimensi
yang pertama sudah merupakan wilayah dari segala sesuatu yang
sifatnya Arupa atau tidak memiliki bentuk lagi.
Kesadaran jiwa personalitas yang berada di badan
mentalnya, tidak lagi memiliki sisa-sisa elemen apapun yang
sifatnya terestial dan yang tersisa di dalamnya kini hanyalah

80
Kunci Esoteris I

kumpulan dari semua aspirasi dan perbuatan-perbuatan baiknya


di masa kehidupannya yang terahkir. Sebagaimana semua hasrat
terestial akan di ‘habiskan’ di alam astral, maka semua aspirasi
dan perbuatan mulia juga akan di-’larutkan’ di alam Mental dalam
kondisi Devachan sebelum kesadaran personalitas dapat terserap
kembali ke dalam Individualitas atau Kesadaran Kausal. Beberapa
kalangan esoteris melihat kondisi Devachan ini seperti kondisi jiwa
yang sedang bermimpi, dan analogi ini memang dapat diterima
mengingat sifat kondisi Devachan yang tidak abadi dengan durasi
yang berbeda-beda antara satu jiwa dengan jiwa yang lain.
Dalam kondisi pra-devaniknya, jiwa akan sekali lagi meng­
alami suatu periode ketidaksadaran yang diakibatkan oleh perpin-
dahan kesadaran dari badan astral memasuki badan mentalnya.
Kondisi ketidaksadaran ini dalam kitab-kitab yang lebih tua, di-
katakan sebagai titik Laya atau Laya point, dimana ketika berada
di dalam titik laya ini, Jiwa akan berada dalam sebuah kekoso­
ngan, sebuah ketiadaan sementara, seperti kondisi yang tertidur
lelap. Setelah periode kekosongan itu berakhir, kesadaran akan
mendapati dirinya berada di sebuah kondisi yang dipenuhi deng­
an suka cita atau bliss. Kondisi ini direfleksikan dalam kesadaran
yang masih mengarah ke dalam, di dalam lapisan badan mentalnya
sendiri, di sana ia akan menghidupi kembali kondisi-kondisi post
mortemnya atau pra kematian seperti apa yang dikenalinya dulu.
Di sini jiwa personalitas akan bertemu kembali dengan segenap
keluarga dan handai taulan yang ia cintai dan rindukan selama ini
dan ia melihat mereka semua dalam kondisinya yang terbaik, bah-
kan lebih baik dari apa yang dilihatnya dalam kondisi duniawinya
yang dulu. Contohnya : ia akan menyaksikan istrinya yang sakit
keras kini telah sepenuhnya sembuh dan bebas berinteraksi deng­
annya tanpa penderitaan lagi, mungkin juga ia akan melihat kedua

81
Dante R Kosasih

orang tuanya yang dulu meninggal karena usia atau jenis penya-
kit tertentu kini menemuinya dalam tampilan yang lebih muda
dan sangat bugar, begitu juga semua teman-temannya yang selalu
berada dalam sikap yang menyenangkan dan bersahabat dengan-
nya. Cinta kasih yang memancar luar biasa kuat dari orang-orang
yang ia cintai dan rindukan ini akan membuatnya masuk ke dalam
kondisi bliss yang tidak dapat dibayangkan. Suka cita yang kita
rasakan di alam fisik bahkan di alam astral sekalipun sama seka-
li bukan bandingan dengan suka cita, kedamaian dan bliss yang
dapat kita persepsikan dalam kondisi Devachan ini. Karena Alam
mental merupakan sebuah alam dimana tidak terdapat lagi hala­
ngan waktu dan jarak, maka semua sifat-sifat alam mental ini akan
berfungsi laksana amplifier untuk menggemakan lagi dan lagi rasa
suka cita dan bliss yang memancar itu.
Beberapa orang menyebut kondisi Devachan sebagai kondisi
yang ilusif, namun saya lebih suka menyebutnya sebagai kondisi
mimpi. Apa yang dijumpai di alam astral merupakan kondisi yang
sifatnya ilusif, namun alam mental adalah sebuah tataran alam
tertinggi dari kesadaran manusia yang juga merupakan tataran alam
mahat semesta raya yang sangat luhur. Hal apapun yang terjadi
di sini, apapun yang dialami di alam ini, sudah pasti merupakan
sebuah pengalaman yang lebih nyata atau vivid ketimbang dengan
apa yang ada di tataran alam-alam yang lebih rendah. Tidak ada
kepalsuan di sini, tidak ada jebakan dan ilusi, semuanya adalah
manifestasi langsung dari Intelektual Semesta, Aspek ‘Chit’ dari
Keilahian yang tak terbatas dan tak terbayangkan. Kondisi Devachan
sangat mirip dengan kondisi ketika kita sedang mengalami sebuah
mimpi, namun karena ‘mimpi’ indah yang kita alami ini berada di
tataran alam mahat, maka yang kita alami merupakan serentetan
peristiwa atau kejadian yang sifatnya jauh lebih nyata daripada

82
Kunci Esoteris I

kondisi apapun yang mampu kita alami di alam fisik dan astral.
Dalam kondisi ini, jiwa personalitas akan melarutkan daya-daya
ilahiahnya, semua aspirasi mulia, cinta kasih tertingginya, semua
dorongan perbuatan baiknya dalam keindahan alam bathinnya
sendiri. Tidak akan ada yang mengganggu dan dalam kondisi
devanik seperti saat ini, merupakan hal yang sangat tidak mudah
untuk dapat menggugah kesadaran jiwa-jiwa yang mengalaminya.
Menurut apa yang diceritakan oleh para master, di alam mental,
banyak badan-badan mental manusia dimana bentuknya tampak
seperti bulat telur yang memancarkan cahayanya sendiri, begitu
disibukkan dengan kondisi devachannya sendiri, sehingga tidak
dapat menjadi sadar dengan semua keindahan dan keluarbiasaan
alam mental yang ada di sekitarnya.
Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi ketika sedang
berada di tataran alam astral dulu, badan astral memiliki fungsi
yang lebih mengarah pada sebuah penjara atau pintu besi yang
mencegahnya sadar ke ‘luar’, badan mental yang menyelimuti
kesadaran personalitas memiliki fungsi sebagai pelindung
dari semua daya-daya yang ada dan meradiasi alam mental
tempatnya berada. Seperti yang dikatakan sebelumnya, alam
mental merupakan alam mahatnya semesta, yang memiliki arus
daya kehidupan yang begitu tinggi dan luar biasa besar, kita
bisa kemudian membayangkan apa yang sekiranya bakal terjadi
apabila badan mental tidak lagi berada di tempatnya sebagai
lapisan pelindung dan dengan demikian membuat kesadaran
personalitas langsung terekspos penuh dengan semua daya-daya
itu. Tentunya kesadaran personalitas yang memiliki kapasitas
daya yang sangat terbatas dan fana akan langsung larut dalam
aliran berbagai daya-daya besar yang terpancar dari berbagai
makhluk dan lingkungan sekitar yang ada di sekitarnya. Ia akan

83
Dante R Kosasih

sirna, menyatu dengan sapuan curahan aliran daya dari alam-alam


yang lebih tinggi tanpa memberikan manfaat apapun pada badan
Kausalnya. Personalitas akan lenyap dalam latar belakang bliss
yang dahsyat dari alam mahat, tanpa tersisa sedikitpun. Ia akan
‘musnah’ dalam kebahagiaan total. ketika ini terjadi, maka tidak
akan ada satu pengalaman berarti pun yang dapat diabstraksi
dari diri personalitas, dan dengan demikian, maka satu perjalanan
reinkarnasi personalitasnya akan menjadi hal yang tidak berarti
bagi sang ‘investornya’ yaitu Diri Sang Ego itu sendiri.
Durasi kondisi Devachan merupakan hal yang variatif dari
satu jiwa ke jiwa yang lain. Karena kondisi alam fisik yang cenderung
lebih bersifat materialistik, maka sangat jarang bagi jiwa-jiwa
personalitas untuk memiliki ‘simpanan’ daya-daya mental tinggi
yang berfungsi sebagai ‘bahan bakar’ untuk mempertahankan
kondisi ‘mimpi indah’ itu tadi. Menurut pengamatan banyak
Adepta atau para Master, sebagian besar jiwa akan mengakhiri masa
Devachannya dalam hitungan beberapa menit saja lamanya dalam
satuan waktu terestial atau duniawi, beberapa dalam hitungan hari
dan hanya sebagian kecil saja yang mampu berada dalam kondisi
ini dengan rentang waktu yang cukup lama. Beberapa jiwa-jiwa
personalitas yang memiliki begitu banyak dorongan luar biasa
bagi kemajuan dan perkembangan evolusi umat manusia secara
umum, dapat berada dalam kondisi Devachan ini selama beberapa
belas dekade lamanya, bahkan segelintir kecil lainnya berada
dalam kondisi Devachan selama beribu-ribu tahun lamanya.
Namun kembali lagi ke realita yang umum, kebanyakan dari kita
hanya mampu untuk mempertahankan kondisi Devachan dalam
hitungan menit saja.
Karena kecenderungan dari diri-diri personalitas manusia
saat ini yang lebih mementingkan diri sendiri dan tertarik dengan

84
Kunci Esoteris I

hal-hal yang sifatnya materialistik dan astral, maka kebanyakan


dari jiwa personalitas akan melewatkan sebagian waktu pasca port
mortemnya di tataran alam-alam yang lebih rendah, seperti dalam
bentuk Etherik dan Astral, beberapa akan melewatkan waktu
hingga ratusan tahun di alam-alam ini dan secara kontras hanya
akan larut dalam kondisi Devachan di tataran alam mental dalam
hitungan menit, bahkan detik. Ini adalah tahapan umum evolusi
kesadaran umat manusia pada saat ini, yang memang sesuai
dengan skema perputaran zaman atau kalpa yang saat ini berada
dalam titik kesadaran terendah dalam ‘kolam materi’. Karena porsi
fisik dan astralnya lebih mendominasi, tidak banyak manusia yang
dapat melampaui daya-daya dari dua alam terendah ini. Nantinya,
semakin jauh perjalanan evolusinya, jiwa-jiwa personalitas akan
mulai memahami bahwa segala hal yang sifatnya fisik dan astral
tidaklah abadi dan tidak memiliki kelayakan dalam sudut pandang
apapun untuk dipertahankan apalagi harus mengorbankan begitu
banyak daya kekuatan untuk mendapatkannya. Semua hal yang
memiliki bentuk akan hancur pada saatnya, semakin kuat kita
berusaha untuk mempertahankan fenomena bentukan, maka
semakin menderita bathin kita karenanya. Jiwa-Jiwa yang mulai
mendekati fase akhirnya sebagai Jiva mukti atau Jiwa-Jiwa yang
terbebaskan, biasanya akan lebih banyak memiliki dorongan
untuk melakukan pencarian ke dalam dan mulai secara perlahan
mengabaikan tarikan-tarikan yang sifatnya eksternal. Biasanya
mereka tidak lagi mengalami ketertarikan lebih pada hal-hal yang
sifatnya tidak permanen, tidak abadi dan ritualistik dan memiliki
dorongan insting yang tak terjelaskan, pada beberapa kasus -
dorongan insting yang ‘tak tertahankan’, untuk mulai merindukan
kesejatian, kedamaian yang utuh dan lestari. Apabila daya-daya
jiwa personalitas tidak lagi hanya dialirkan keluar, daya-daya itu

85
Dante R Kosasih

secara otomatis akan beralih ke sisi ‘dalam’, dimana dari curahan


segenap daya-daya yang mengalir deras dari Diri yang sejati dalam
badan Kausal di tataran alamnya yang tersembunyi itu, akan mulai
berubah fungsinya menjadi daya untuk bertransformasi. Inilah
saat-saat dimana kita dapat melihat proses kesadaran Ilahiah yang
mulai tergugah dalam bathin seseorang.
Kembali lagi ke tahapan kondisi akhir dari jiwa personalitas
yang tengah berada dalam Devachan, seperti halnya yang terjadi di
alam astral, ketika daya-daya spiritual mulia yang memungkinkan
terjadinya tahapan ini telah mulai berkurang dan habis, maka secara
perlahan jiwa personalitas akan mengalami apa yang dinamakan
dengan kematiannya yang ‘kedua’ dan yang terakhir. Di tahapan
ini, dunia ‘khayalan’ nya akan perlahan memudar seiring dengan
kempisnya aliran daya-daya spiritual yang memproyeksikan hal
itu. Sang Jiwa akan kembali mengalami proses ketidaksadaran
secara perlahan, satu persatu lampu panggung khayalannya
akan meredup dan mati. Hal ini sama sekali tidak mengurangi
rasa kebahagiaan yang ia rasakan ataupun menimbulkan rasa
penderitaan apapun. Dari perspektif jiwa personalitas, ia telah
berada dalam kondisi yang penuh dengan suka cita, kedamaian
dan bliss ini selama ‘ber-aeon-aeon lamanya’ dan telah sepenuhnya
melupakan hal-hal asing yang dulu pernah sangat akrab dengan
dirinya, seperti kesedihan, penderitaan, kekecewaan, sakit hati
dan tangis air mata. Semuanya itu hanyalah sebuah memori dari
bentuk kehidupan lain yang sudah sangat jauh ia tinggalkan
sehingga tidak ada satupun dari bagian dirinya yang dapat
berkorelasi dengan hal-hal itu. Ia kini seperti tengah digiring secara
perlahan mendekati tempat tidur yang dipenuhi dengan kelopak
bunga mawar dengan wangi surgawi yang sangat memabukkan
dan menyenangkan, ditemani oleh sayup-sayup melodi dawai

86
Kunci Esoteris I

langit tertinggi yang dipetik oleh para bidadari, untuk yang


terakhir kalinya ia kembali berbaring dan mulai tak kuasa untuk
menahan dorongan memejamkan mata. Sebuah mimpi yang luar
biasa indah ini akan segera ia akhiri dengan senyum kebahagiaan
yang sangat tulus, sudah terlalu ‘lama’ ia berada dalam kondisi ini
dan mekanisme alam semesta bekerja tanpa mengenal kesalahan.
Setiap jiwa akan mendapatkan apapun yang ia tabur, tidak kurang
dan tidak lebih. Tidak ada kecenderungan untuk berpihak dalam
kaidah hukum alam yang kaku, semuanya berjalan sesuai dengan
mekanisme keadilan alam semesta yang luar biasa akurat. Mimpi
indah ini telah sampai ke bagian akhirnya, kini apapun yang pernah
dikenal oleh jiwa personalitas ilusif telah genap terselesaikan.
Tidak ada lagi hasrat rendah ataupun aspirasi tinggi yang tersisa
di dalamnya. Kini ia telah menjadi murni kembali, menjadi fitri
kembali, kembali tak bernoda, saatnya bagi jiwa-jiwa ‘kecil’ ini
untuk kembali ke rumah ‘Bapa’-nya yang ada di ‘surga’.

Proses IV
Reinkarnasi

“Karma selalu beraksi tanpa henti, kita akan memanen buah


apapun yang kita berhak untuk dapatkan dari apa yang telah kita
tebar di kehidupan ini. ‘ HPB, The Key to Theosophist, halaman
160.

“Karma hanya mengirimkan mereka ke dalam Devachan dan


diam menunggu di perbatasan.” – The Secret Doctrine Dialoguess,
halaman 598-599, 581

“Karma jugalah yang membuat ia berinkarnasi. Ia tidak

87
Dante R Kosasih

akan mendapatkan lebih dari apa yang ia layak untuk dapatkan.


Tidak ada dorongan apapun dari dalam dirinya, namun secara
perlahan ia akan memudar atau mati. Mimpinya akan berakhir,
tidak ada dorongan apapun dari sisi mereka. Karma akan kembali
menarik lehernya dan oleh karena itu tidak akan ada dorongan
apapun, seperti halnya ketika seorang polisi datang mendekat dan
mengambilmu (karma) telah menempatkan mereka di Devachan ke
dalam tahapan kondisi kebahagiaan, Karma akan memberikannya
semua yang ia berhak untuk dapatkan dan tetap berdiri menunggu
di balik pintu. Ketika semuanya itu telah usai, karma akan kembali
menarik lehernya dan menempatkannya ke dalam badan yang
baru”.
Dikatakan, selama periode Devachan dari jiwa-jiwa
personalitas, Karma akan menunggu di balik pintu dan begitu
mimpi ini berakhir, dengan cepat tangan karma akan menarik leher
kita kembali ke dalam kolam materi untuk bereinkarnasi dalam
kehidupan personalitas baru yang sudah menantinya di sana.
Inilah realita dari cara kerja mekanisme alam yang begitu tepat,
efisien dan adil. Semuanya berjalan sedemikian adanya, tanpa
memerlukan dorongan atau campur tangan dari makhluk-makhluk
yang dipersonafikasikan sebagai Tuhan atau Adi Kodrati. Semua
yang terjadi di alam ini hanyalah bentukan fenomena getaran dan
frekwensi yang berjalan secara otomatis.
Jiwa-jiwa personalitas yang telah memudar, menghantarkan
abstraksi dari semua pengalaman kehidupan duniawinya yang
terakhir dan meletakkannya di hadapan Tuannya yang Sejati.
Dalam Kilauan badan Kausal yang dipenuhi dengan keindahan,
keagungan dan kemuliaan, sosok perkasa ini akan mengambil
kumpulan nektar yang disajikan di hadapannya dengan penuh
rasa syukur. Kumpulan nectar abstraksi yang terkumpul dalam

88
Kunci Esoteris I

kuantitas yang sangat sedikit ini, dikatakan sama seperti setetes


embun yang bergulir di atas permukaan dedaunan, merupakan
hal yang luar biasa berharga bagi Sang Ego di alamnya. ‘Tetesan’
embun abstraksi ini kemudian terserap ke dalam kesadarannya
yang individual dan dapat langsung terlihat menambah kilauan
dari warna warni aura yang dipancarkan olehnya. Satu langkah
lebih dekat menuju ke kebebasannya, satu langkah lebih dekat
untuk menjadi tersadarkan di dalam alamnya sendiri. Satu putaran
telah berlalu, nektar ini masih belum cukup untuk menumbuhkan
sayap-sayap kebebasannya dan untuk kali ini, ia harus kembali
bersabar dalam penantiannya. Daya-daya ilahiah yang terkumpul
dalam dirinya sejauh ini belumlah cukup untuk melenyapkan
individualitasnya, dan di sisi lain, karma masih terlihat mengejar
dengan ‘wajah’ yang penuh dengan ketidakpuasan, karena begitu
banyak untaian sebab-akibat yang masih belum terselesaikan. Jalan
belumlah mulus dan matahari kesadaran belum terbit di ufuk timur
langit pencerahan, oleh karena itu, Karma telah menyediakan atom-
atom permanennya untuk kembali di-‘celupkan’ ke dalam kolam
materi, dari yang paling tinggi, yakni alam mental, dilanjutkan
oleh alam astral, etherik hingga akhirnya masuk kembali ke rahim
seorang wanita yang nanti akan berperan menjadi ibu raganya,
Bunda Duniawinya.
Dari tempatnya yang penuh ketinggian, Badan Kausal akan
kembali mengeluarkan atom permanennya, yaitu dimulai dari apa
yang diistilahkan dengan sebuah unit mental, dimana kemudian
unit mental yang tampak seperti titik kecil yang berkilau-
kilauan ini akan bergetar menarik elemen-elemen alam mental
di sekitaran badan Kausal untuk membentuk agregat dengannya
dan menciptakan lapisan badan mental yang baru. Dari sana,
unit mental ini akan turun mencelup ke dalam lapisan yang lebih

89
Dante R Kosasih

padat, ke dalam dimensi astral yang tertinggi dimana di sana telah


menunggu atom astral permanen yang dulu pernah ditinggalkannya
ketika beranjak masuk ke alam mental, dan atom permanen astral
ini akan langsung mendekat menempelkan diri membungkus unit
mental dalam lapisan astral yang ‘baru’. Agregat lapisan mental
dan astral ini akan terus mengalami kepadatan demi kepadatan,
bersamaan dengan perjalanan turunnya ke dalam tataran alam-
alam astral yang lebih rendah, hingga akhirnya mencapai lapisan
terhalus dari alam fisik yang telah kita kenal sebagai lapisan Eteris,
dimana agregat ini akan kembali dilapisi oleh lapisan eterik dan
memadat dalam bentuk Zigot (jabang bayi) dalam kandungan
seorang wanita.
Proses ini berlangsung secara otomatis dalam pengaruh-
pengaruh kaidah hukum karma yang telah berkuasa dengan
kakunya selama bermiliar-miliar tahun. Proses pencelupan ke
dalam kolam materi kehidupan dan proses kelenyapannya kembali
ke Alam Kausal telah berlangsung berkali-kali dalam rentang
perjalanan reinkarnasi yang hanya dapat diingat sepenuhnya
oleh Sang Ego, yaitu Sang Diri yang sejati, yang tidak tersentuh
oleh kelahiran, kematian dan waktu. Tidak ada yang luar biasa
dari proses ini dan proses kelahiran jiwa-jiwa personalitas ini
telah berlangsung dari awal bangkitnya peradaban manusia
yang telah mengalami individualisasi di zaman Lemuria dulu.
Semuanya adalah proses kehidupan yang berkesinambungan,
tidak ada yang benar-benar mati atau musnah dalam jagad raya
ini, semuanya hanya berganti bentukan, dari satu unsur ke unsur
yang lain, dari satu bentukan ke bentukan yang lain. Apa yang kita
pahami sebagai proses kelahiran dan kematian merupakan sebuah
pemahaman yang sangat berbeda dengan apa yang dimiliki oleh
kalangan profane. Bagi golongan esoteris, kelahiran adalah proses

90
Kunci Esoteris I

awal dari kematian dan kematian adalah awal proses dari kelahiran
kembali. Tidak ada akhir atau awal, semuanya hanya merupakan
sebuah rangkaian panjang rentetan kehidupan dalam semesta
alam bentukan yang luas ini.
Pemahaman inilah yang dulu pernah didiktekan oleh
ketiga makhluk misterius pada golongan awal orang-orang yang
terinisiasi dalam awal kebangkitan peradaban Atlantis yang lalu,
dalam bahasa senzar yang rahasia. Pemahaman esoteris ini tidak
pernah mengalami perubahan dari dulu hingga saat ini, meskipun
esensi universal ini telah menghasilkan banyak cabang spiritualitas
yang melahirkan aneka ragam pemahaman yang variatif. Namun,
pada akar dari semua pemahaman yang sekilas terlihat berbeda-
beda itu, semuanya memiliki esensi yang sama, nilai-nilai dan
kaidah yang sama persis, menyiratkan sebuah pemahaman yang
sifatnya sangat universal, seperti apa yang telah dijabarkan secara
sekilas dalam buku jilid kali ini. Di buku yang selanjutnya, kita akan
membahas lebih dalam mengenai peradaban Lemuria dan Atlantis,
berikut mengulas lebih banyak mengenai persaudaraan rahasia
dari para Adepta yang bernama The Great White Brotherhood,
hubungannya dengan perkembangan evolusi kesadaran manusia
secara umum dan masa depan dari manusia saat ini. Semoga apa
yang telah dibabarkan di sini dapat menjadi hal yang bermanfaat
untuk lebih memahami siapa diri kita dan peran-peran kita dalam
kehidupan terestial saat ini, terlebih lagi bagi perkembangan
evolusi kesadaran kita masing-masing.

91
Dante R Kosasih

Sekilas mengenai penulis :

Dante R Kosasih adalah seorang


spiritualis, free thinker dan Theosof muda
Indonesia, - lahir di Surabaya, Indonesia
dan mendapatkan gelar Bachelor of Art
dari International College of Tourism
and Hotel Management, Manly –
Sydney, Australia di tahun 1998.
Untuk mendukung perkembangan
karirnya di dunia perhotelan, Dante
sempat berkarir di Seattle (US), Nashville (US), kembali ke Sydney
(Australia) dan akhirnya untuk beberapa waktu menetap di
Melbourne, Australia di mana Dante kemudian mendapatkan
Permanent Residency (Australian PR). Selain pengalaman formal
di dunia kerja, Dante juga mendapatkan sertifikasi dari ATA
(American Tarot Association) dengan gelar Third Degree yang
merupakan lembaga pengajar resmi Tarot dan New Age Division
di Amerika Serikat. Tahun 2004 Dante kembali ke Surabaya –
untuk memulai karirnya sebagai Pembaca Tarot Profesional dan
pernah membuka toko new age ‘Stardust” di Tunjungan Plaza II,
Surabaya. Dante juga merupakan salah satu Founder Surabaya
Tarot Club yang didirikan pada bulan September 2007 silam. Dante
menemukan kembaran jiwanya di Surabaya dan menikah pada
tanggal 11-11-11 yang silam. Selain itu Dante juga dikenal sebagai

92
Kunci Esoteris I

seorang praktisi Kriya Yoga, Tarot Instructor & Mentor yang


sering mendapat kesempatan untuk berbicara di berbagai event.
Dante percaya pada kesatuan yang tunggal, pantheisme, Aliens
dan light beings dari dimensi-dimensi lain, juga meyakini bahwa
semua agama diciptakan dengan setara, konsep evolusi jiwa, gaya
hidup vegetarian, reinkarnasi dan pluralis. Dante adalah seorang
open minded dengan semboyan “The only constant is change” (hal
yang paling konstan adalah perubahan). Pendekatan Spiritualnya
adalah Dinamis, Praktis, Cerdas, Toleran dan kontemporer.

93