Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM VIII

TOLERANSI HEWAN TERHADAP SALINITAS

Waktu : 3 jam

I. Tujuan :
1. Mengetahui tentang toleransi hewan air tawar berupa ikan kepala timah
(Aplocheilus panchax) (Vertebrata) dan Planaria (Planaria sp.)
(Invertebrata) terhadap salinitas air.
2. Mengidentifikasi gejala-gejala fisiologi dan perilaku hewan yang
berhubungan dengan efek perubahan salinitas.

II. Dasar Teori


Organisme akuatik memerlukan lingkungan untuk melangsungkan
kehidupannya dan tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Lingkungan
hidup organisme akuatik selalu mengalami perubahan yang berfluktuasi
yang disebabkan oleh lingkungan itu sendiri ataupun akibat dari kegiatan
yang dilakukan oleh manusia. Beberapa variabel lingkungan (fisika-kimia)
yang dapat berubah dari waktu ke waktu contohnya seperti suhu, pH,
salinitas, deterjen dan kekeruhan. Perubahan kondisi lingkungan tersebut
dapat berubah secara harian, mempengaruhi kehidupan organisme akuatik
baik secara fisiologis, tingkah laku, biokimia, maupun struktur tubuhnya
yang mana perlu untuk kita ketahui.
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam
air. Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.
Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air
alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air
tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang
dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau
menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, maka
disebut brine (Darmadi, 2010).
Salinitas atau kadar garam adalah jumlah kandungan bahan padat
dalam satu kilogram airlaut, seluruh karbonat telah diubah menjadi oksida,
brom dan yodium telah disetarakan dengan klor dan bahan organik telah
dioksidasi. Secara langsung, salinitas media akan mempengaruhi tekanan
osmotik cairan tubuh ikan. Apabila osmotik lingkungan (salinitas) berbeda
jauh dengan tekanan osmotik cairan tubuh (kondisi tidak ideal) maka
osmotikmedia akan menjadi beban bagi ikan sehingga dibutuhkan energi
yang relatif besar untuk mempertahankan osmotik tubuhnya agar tetap
berada pada keadaan yang ideal. Pembelanjaan energi untuk osmoregulasi,
akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan dan konversi menjadi berat
tubuh (Sharaf et al , 2004).

Faktor – faktor yang mempengaruhi salinitas

1. Penguapan, makin besar tingkat penguapan air laut di suatu wilayah,


maka salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang rendah
tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar
garamnya.
2. Curah hujan, makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut
maka salinitas air laut itu akan rendah dan sebaliknya makin
sedikit/kecil curah hujan yang turun salinitas akan tinggi.
3. Banyak sedikitnya sungai yang bermuara di laut tersebut, makin
banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka salinitas laut
tersebut akan rendah, dan sebaliknya makin sedikit sungai yang
bermuara ke laut tersebut maka salinitasnya akan tinggi.

Ikan Kepala Timah atau dalam bahasa latin disebut sebagai


Aplocheilus panchax. Memiliki karakteristik dengan ditandai adanya bintik
putih dibagian kepala, dan dikarenakan hal ini ada yang menyebut ikan ini
sebagai ikan mata tiga. Ikan kepala timah biasa ditemukan di area
persawahan, kolam, dan saluran irigasi. Jika dilihat morfologi dari ikan
kepala timah ini bentuk tubuh ikan ini relatif kecil, panjang tubuh hingga
55 mm atau lebih. Kepala memipih datar di bagian depan, tegak di bagian
belakangnya, sisi atasnya datar sebagaimana pula punggung bagian depan.
Tinggi tubuh 4,5-5,5 kali sebanding dengan panjangnya, atau 5,5-7 kali
sebanding dengan panjang tubuh dengan ekor. Panjang kepala 3-3,5 kali
sebanding dengan panjang tubuh (3,8-4,5 kali bila dengan ekor). Panjang
kepala kira-kira 3,5 kali lebar mata. Rahang bawah sedikit menonjol. Sirip
dorsal (punggung) terletak jauh di belakang, dipisahkan oleh 24-26 sisik
dari moncongnya, sejajar dengan jari-jari ke-13 pada sirip anal (dubur).
Awal sirip ventral (perut) jarang-jarang lebih dekat ke ujung moncong
dibandingkan ke pangkal sirip ekor. Sirip dorsal dengan 7-8 jari-jari (duri
lunak), sirip anal 15-16 jari-jari, sirip pektoral (dada) 14 jari-jari, dan sirip
ventral memiliki 6 jari-jari (Riana, 2010).Ikan kepala timah tidak terlalu
terpengaruh terhadap kualitas air dan mudah beradaptasi dengan berbagai
kondisi lingkungan. Ikan kepala timah pada selang pH 6,0 sampai 8,0, dH
5,0-12,0 dan selang suhu 20-250. Ikan ini menyukai perairan tenang yang
banyak ditumbuhi tanaman dan mempunyai rentang waktu hidup 2 tahun.

Planaria atau dalam bahasa latin disebut sebagai (Planaria sp.).


Planaria adalah hewan yang memiliki kemampuan regenerasi yang
sangatmengagumkan. Planaria dapat dipotong melintang atau memanjang,
dan masing-masing bagian potongan tubuh akan melakukan regenerasi
bagian-bagian yanghilang. Bagian tubuh yang mungkin dibentuk kembali
adalah kepala, ekor, ataubagian tengah dari farink. Apabila dilakukan
pemotongan sebuah blastemaregenerasi akan terbentuk pada permukaan
potongan dan bagian yang hilang akantumbuh dari blastema tersebut.
Bagian-bagian yang akan direorganisasi dengancara pengurangan skala,
hingga individu yang dihasilkan dari regenerasi ini akanberukuran lebih
kecil dari ukuran semula. Planaria ditemukan dihabitat perairan yang
tenang dan tidak tercemar, oleh karena itu planaria digunakan sebagai
bioindikator dalam mengetahui kondisi suatu perairan. Misalnya jika
planaria dapat ditemukan di aliran sungai yang tenang, maka indikasi air
yang mengaliri sungai tersebut masih bersih bebas dari limbah yang
berbahaya.Planaria memanfaatkan permukaan tubuhnya untuk melakukan
respirasi dan pertukaran ion-ion tubuh dengan lingkungannya melalui
difusi. Hal tersebut menjadikan tingginya sensitifitas fisiologis hewan
tersebut terhadap perubahan-perubahan faktor eksternal seperti salinitas.
Konsentrasi larutan di luar tubuh yang terlalu tinggi (misalnya tingginya
kadar ion Na+ dan Cl-) akan memicu terjadinya lisis sel-sel dan
pengeluaran sekret lendir yang berlebihan yang berujung pada kematian
(Riawan, 2016).

III. Alat dan Bahan


A. Alat:
1. Beaker glass,
2. Gelas ukur,
3. Pipet tetes,
4. Pinset,
5. Stopwatch, dan
6. Kertas label.

B. Bahan:
1. Aquades,
2. Larutan NaCl (konsentrasi 0,1%;0,5%; 1%;1,5% dan 2%),
3. 18 ikan kepala timah (Aplocheilus panchax), dan
4. 18 Planaria (Planaria sp.).

IV. Prosedur Kerja


1. Melakukan praktikum dengan metode eksperimen sederhana.
2. Mengelompokkan hewan coba dibagi menjadi dua yaitu hewan
Vertebrata (ikan kepala timah) dan Invertebrata (planaria) yang diberi
perlakuan yang sama tetapi dianggap dua unit percobaan yang
terpisah.
3. Memperlakukan eksperimen ini dengan konsentrasi NaCl
(berhubungan dengan salinitas) yang terdiri dari 5 macam konsentrasi
dan 1 kontrol (seperti pada tabel dibawah ini) dan 6 pengulangan
sebagai berikut.
Kode Perlakuan Perlakuan (Medium Percobaan)
A Aquades
B NaCl 0,1%
C NaCl 0,5%
D NaCl 1%
E NaCl 1,5%
F NaCl 2%

4. Menyediakan hewan percobaan (ikan dan planaria) masing-masing 18


ekor.
5. Menyediakan 6 beaker glass dengan volume dan bentuk yang sama
lalu mengisi dengan medium seperti pada tabel dan memberi kode
perlakuan pada masing-masing beaker glass.
6. Memasukkan sebanyak 3 ekor hewan percobaan ke dalam beaker
glass yang berbeda sesuai urutan perlakuan lalu membiarkan selama
10 menit.
7. Melakukan observasi dan pencatatan sebagai berikut:
 Parameter-parameter yang diamati pada ikan kepala timah
(Aplocheilus panchax) :
a. Pergerakan : skor 1 jika kurang aktif, 2 jika normal, dan 3
jika sangat aktif.
b. Frekuensi pergerakan operculum per menit (mengamati 2
ekor ikan saja untuk masing-masing perlakuan)
c. Persentase individu yang bertahan hidup setelah 2 jam
perlakuan.
d. Gejala-gejala pengeluaran sekret setelah akhir percobaan
(ada lendir atau tidak) dan gejala pendaraham atau bleeding
pada permukaan tubuh, sirip, insang dan mata.
e. Tingkat kekeruhan air setelah akhir percobaan (jernih skor
0, agak keruh skor 1, keruh skor 2, sangat keruh skor 3)
 Parameter-parameter yang diamati pada Planaria :
a. Pergerakan: skor 1 jika kurang aktif, 2 jika normal, dan 3
jika sangat aktif.
b. Persentase individu yang bertahan hidup setelah 2 jam
perlakuan.
c. Gejala-gejala pengeluaran sekret setelah akhir percobaan
d. Tingkat kekeruhan air (sama seperti ikan).

V. Hasil Pengamatan
Tabel 1. Hasil Pengamatan Toleransi Ikan Kepala Timah (Aplocheilus
panchax) Terhadap Salinitas
Pergerakan Persentasi Gejala-Gejala Tingkat
Kode
No Pergerakan Overculum Individu Pengeluaran Kekeruhan
Perlakuan
/Menit Hidup Sekret Air
A. Aquades
1 2 - 100%  0
(control)
B. NaCl 0,1
2 1 - 100%  0
%
C. NaCl 0,5
3 1 - 100%  0
%
D. NaCl 1 %
4 2 - 100%  0

E. NaCl 1,5
5 1 - 100%  0
%
F. NaCl 2 %
6 3 - 100%  1

Keterangan :

√ : ada lendir

- : tidak ada lendir


Tabel 2. Hasil Pengamatan Toleransi Planaria (Planaria sp.) Terhadap
Salinitas
Pergerakan Persentasi Gejala-Gejala Tingkat
Kode
No Pergerakan Overculum Individu Pengeluaran Kekeruhan
Perlakuan
/Menit Hidup Sekret Air
A. Aquades
1 1 - 0% - 0
(control)
B. NaCl 0,1
2 2 - 100%  0
%
C. NaCl 0,5
3 3 - 100%  0
%
D. NaCl 1 %
4 2 - 100%  0

E. NaCl 1,5
5 1 - 75%  1
%
F. NaCl 2 %
6 2 - 0%  1

Keterangan :

√ : ada lendir

- : tidak ada lendir


Grafik 1. Hasil Perbandingan Pergerakan Pada Ikan Kepala Timah dan
Planaria
3.5

2.5

2
Skor Ikan Kepala Timah
1.5 Planaria

0.5

0
A B C D E F

Perlakuan

VI. Pembahasan
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam
air. Perbedaan tingkat salinitas tentunya akan mempengaruhi ciri-ciri
fisiologi yang dialami oleh mahkluk hidup khususnya hewan yang berada
pada suatu habitat yang memiliki tingkat salinitas yang berbeda-beda.
Ikan kepala timah (Aplochaeilus panchax) dan Planaria (Planaria
sp.) adalah hewan yang hidup dengan kadar salinitas yang rendah,
sehingga ketika diberi perlakuan dengan kadar salinitas lebih tinggi maka
akan terlihat reaksi yang berbeda dari bentuk normalnya. Pada ikan,
perbedaan tersebut terlihat pada pergerakan, pergerakan operculum,
persentase ikan yang hidup, gejala pengeluaran sekret, dan tingkat
kekeruhan air. Perbedaan reaksi juga terlihat pada Planaria hampir sama
hanya saja tidak terdapat pengukuran terhadap pergerakan operculum.
Pada praktikum ini akan menguji tentang toleransi hewan air tawar
berupa ikan kepala timah (Aplocheilus panchax) yang mewakili hewan
vertebrata dan Planaria (Planaria sp.) yang mewakili hewan invertebrata
terhadap salinitas air. Selain hal tersebut, pada praktikum ini juga
sekaligus mengidentifikasi gejala-gejala fisiologi dan perilaku hewan yang
berhubungan dengan efek perubahan salinitas. Perlakuan yang dilakukan
pada praktikum ini yaitu pemberian 5 konsentrasi larutan NaCl yang
berbeda yaitu 0,1%, 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2%. Larutan kontrol yang
digunakan yaitu aquades.
Setelah melakukan praktikum sesuai dengan prosedur kerja yang
telah ditentukan, maka hasil yang didapatkan yaitu pada ikan kepala timah
yang mewakili hewan vertebrata saat diberikan 5 konsentrasi NaCl yang
berbeda menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perubahan pertama
terjadi pada pergerakan ikan kepala timah (Aplocheilus panchax). Hasil
pengamatan pada pergerakan didapatkan bahwa pada perlakuan B,
perlakuan C, dan perlakuan E pergerakan ikannya kurang aktif, pada
perlakuan A dan perlakuan D pergerakannya Normal, pada perlakuan F
pergerakannya sangat aktif. Pada Planaria (Planaria sp.) yang diberikan
perlakuan A, dan perlakuan E pergerakannya kurang aktif, sedangkan
pada perlakuan B, perlakuan D, dan perlakuan F pergerakannya normal,
pada perlakuan C pergerakannya sangat aktif. Menurut teori, kecepatan
bergerak begitu cepat menurun, ini disebabkan daya tahan tubuh yang
tidak sanggup beradaptasi dengan kadar salinitas tinggi. Namun, kondisi
ikan yang berbeda juga mempengaruhi ketahanan ikan tersebut terhadap
salinitas lingkungannya, hal ini terlihat pada ikan yang diberi perlakuan A
dan D yang pergerakannya masih normal.
Pada pengamatan pergerakan operkulumnya kami belum dapat
untuk mengetahuinya. Namun, secara teoritis pada pergerakan operculum
semakin tinggi konsentrasi salinitas maka semakin rendah pergerakan
operculum ikan dikarenakan ikan tidak biasa melakukan terlalu banyak
pernafasan, guna untuk mempertahankan kadar garam pada tubuh ikan
tersebut.
Pada semua ikan yang diberikan perlakuan yang berbeda
persentase ikan yang hidup sebanyak 100% (tidak ada yang mati). Hal ini
dapat dikarenakan ditinjau dari fisiologi ikan kepala timah tersebut, ikan
kepala timah merupakan hewan yang dapat toleran terhadap perubahan
yang terjadi di lingkungannya dengan cara sangat cepat beradaptasi
dengan lingkungannya. Pada Planaria yang diberikan perlakuan A, dan
perlakuan F tidak ada Planaria yang hidup (0%), pada perlakuan B,
perlakuan C, dan perlakuan D semua masih hidup (100%), sedangkan pada
perlakuan E persentase Planaria yang hidup sebanyak (75%). Pada
sulvival individu (%) semakin tinggi kadar salinitas maka semakin banyak
dan semakin cepat spesies mati, ini dikarenakan spesies tersebut tidak
sanggup beradaptasi dengan lingkungannya. Teori tersebut sudah cocok
dengan hasil praktikum terlihat dari perlakuan A dan perlakuan F pada
Planaria.
Gejala pengeluaran sekret terjadi pada semua ikan kepala timah
disetiap perlakuan, sedangkan pada Planaria gejala pengeluaran sekret
terjadi pada perlakuan B, C, D, E, dan F. Pengeluaran secret atau lendir
pada Planaria, semakin tinggi konsentrasi semakin banyak sekret yang
dikeluarkan, dikarenakan Planaria mempertahankan hidupnya dengan
mengeluarkan lendir dari lapisan kulitnya. Semakin banyak lendir yang
dikeluarkan, semakin tinggi tingkat kekeruhan air tersebut. Kekeruhan air
pada ikan terjadi hanya pada perlakuan F dengan skor kekeruhan air
sebesar 1 poin yang berarti airnya agak keruh. Pada Planaria perlakuan A,
B, C airnya masih dalam keadaan jernih. Pada saat praktikum, pengeluaran
sekret tidak terlalu banyak, sehingga tidak terlalu memengaruhi kekeruhan
air. Secara keseluruhan, ikan lebih tahan terhadap salinitas lingkungan
daripada Planaria. Hal tersebut sudah sesuai dengan teori bahwa hewan
vertebrata seperti ikan cenderung memiliki toleransi yang lebih baik

VII. Simpulan
1. Rentang toleransi salinitas antara hewan vertebrata dan invertebrata
berbeda. Hewan vertebrata memiliki rentang toleransi salinitas yang lebih
tinggi daripada hewan invertebrata.
2. Gejala-gejala perubahan perilaku hewan akibat perubahan salinitas antara
lain: pergerakan tubuh dan pergerakan operculum. Gejala perubahan
fisiologisnya ditandai dengan pengeluaran sekret.
VIII. Daftar Pustaka

Dahelmi, 1991. Fisiologi Hewan. Padang: Universitas Andalas.

Kartolo, W. S. 1990. Prinsip-Prisip Fisiologi Hewan. Jakarta: Erlangga.

Kimball, J.W. 1996. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Riawan, Oka., Desak Made Citrawathi, dan I Made Sutajaya. 2016.


Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan. Singaraja: Jurusan
Pendidikan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Pendidikan Ganesha.

IX. Pertanyaan
1. Dari praktikum tersebut apakah saudara dapat menentukan kelompok
hewanosmoregulator atau osmokonformer yang lebih adaptif terhadap
perubahansalinitas? Apakah kompleksitas mineral mempengaruhi
kemampuan osmoregulasi organisme?
Jawab:
Pada praktikum ini ikan kepala timah dan planaria termasuk
kelompok hewan osmokonformer. Jika dispesifikan lagi, ikan kepala
timah merupakan osmokonformer euryhalin sedangkan planaria
merupakan osmokonformer stenohalin. Berdasarkan hal ini, maka ikan
kepala timah yang memiliki kemampuan yang lebih adaptif dalam
mengatasi perubahan salinitas di lingkungannya. Hal ini juga telah
dibuktikan dalam praktikum ini bahwa beberapa ikan kepala timah
pilihan yang diberikan 5 konsentrasi NaCl yang berbeda memiliki
kemampuan bertahan hidup 100%, sedangkan pada planaria tidak
menujukkan hasil seperti ikan kepala timah, dengan dibuktikan
beberapa planaria mati dan bahkan semua planaria mati pada konsentasi
NaCl yang tinggi.
Osmoregulasi adalah proses pengaturan konsentrasi cairan dan
menyeimbangankan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel
tubuhnya. Kompleksitas mineral mempengaruhi proses osmoregulasi
pada suatu organisme. Hal ini disebabkan jika mineral yang diserap
susah untuk di filtrasi maka tubuh akan mengalami hipertonik dan
begitu juga sebaliknya, jika mineral mudah di filtrasi, maka jika organ
osmoregulasi pada suatu organisme tidak dapat menangani hal tersebut,
maka akan mengalami keadaan hipotonik. Hal ini tentunya akan
menganggu keadaan homeostatis tubuh suatu organisme.