Anda di halaman 1dari 2

Bentuk-Bentuk Liberalisme

Berikut ini merupakan bentuk-bentuk liberalisme menurut Robert Jackson dan Geong
Sorensen (2013) yaitu sebagai berikut:
a) Liberalisme Sosiologis
Suatu teori yang beranggapan bahwa hubungan internasional bukan hanya tentang
hubungan antar negara, tetapi juga hubungan transnasional, yaitu hubungan antara
masyarakat, kelompok-kelompok, dan organisasi-organisasi yang berasal dari negara yang
berbeda.
Hubungan transnasional dianggap oleh kaum liberal sosiologis sebagai aspek hubungan
internasional yang semakin penting. Dalam memfokuskan hubungan transnasional, kaum
liberal sosiologis kembali ke tema lama dalam pemikiran kaum liberal. Pemikiran bahwa
hubungan antar rakyat itu lebih kooperatif dan lebih mendukung perdamaian daripada
hubungan antara pemerintah nasional. Richard Cobden, pemikir kaum liberal terkemuka abad
ke-19, menyatakan pemikirannya sebagai berikut: “semakin kecil keterlibatan di antara
pemerintah, semakin banyak hubungan antara bangsa-bangsa di dunia”. Dengan “bangsa-
bangsa”, Cobden mengacu pada masyarakat-masyarakat dan keanggotaannya. Banyak kaum
liberal sosiologis menegaskan pemikiran bahwa hubungan transnasional di antara rakyat dari
negara yang berbeda membantu menciptakan bentuk baru masyarakat yang hadir dalam
persaingan dengan negara-bangsa. Menurut James Rosenau bahwa pemikiran kaum liberal
bahwa dunia yang semakin pluralis dengan dicirikannya jaringan transnasional individu dan
kelompok akan menjadi lebih damai.
b) Liberalisme Interdependensi
Secara harfiah, Interpendensi berarti ketergantungan timbal balik. Jadi sederhananya
aliran ini memandang bahwa tingkat tertinggi hubungan internasional itu adalah
ketergantungan timbal balik rakyat dan pemerintah suatu negara dengan negara lainnya.
Aliran ini lebih menekankan pada kekuatan pembangunan ekonomi dan perdagangan luar
negeri ketimbang kekuatan militer dan perluasan wilayah. Mereka menganggap bahwa
penggunaan kekuatan hanya akan menurunkan keuntungan negara. Karena pada zaman
dahulu penguasaan wilayah dan sumber daya alam yang melimpah adalah kunci dari
kejayaan. Namun pada masa sekarang ini sumber daya manusia (tenaga kerja) yang
berkualitas, akses informasi dan modal menjadi kunci keberhasilan. Selain itu, alasan lain
disebabkan pasca perang dunia II negara-negara industrialis mulai berkembang, sehingga
semakin mereka yakin bahwa alat-alat untuk mencapai keunggulan saat ini adalah dengan
interpendensi ekonomi, lebih lanjut akan mengakibatkan integrasi politik dan mewujudkan
perdamaian.
c) Liberalisme Institusional
Aliran liberalisme ini mengambil pemikiran tentang manfaat institusi internasional.
Mereka berpandangan bahwa institusi internasionallah yang dapat menolong memajukan
kerjasama diantara negara-negara. Institusi internasional sendiri adalah suatu organisasi
internasional yang mengatur tindakan negara dalam bidang tertentu. Contohnya seperti WTO
dan Konferensi Hukum Laut. Aliran ini yakin bahwa suatu organisasi internasional ini akan
mampu mengikat segala negara baik negara kuat ataupun negara lemah untuk saling
bekerjasama. Akan tetapi, aliran ini pesimis jika negara-negara kuat tidak seluruhnya bisa
turut andil dalam organisasi internasional tersebut.
d) Liberalisme Republikan
Aliran Liberalisme Republikan lebih ditujukan pada negara demokratis. Negara –negara
yang demokratis bersifat lebih damai dan patuh pada hukum.. Maksud dari argument ini
adalah bahwa negara demokrasi tidak berperang dengan negara demokrasi lainnya.
Pengamatan ini pertama kali dikemukakan oleh Immanuel Kant (1992) diakhir abad
kedelapanbelas yang sesuai dengan negara – negara republik daripada demokrasi, dan hal ini
dibangkitkan kembali oleh Dean Babst di 1964 dan telah dikembangkan dalam sejumlah studi
semenjak itu. Alasan mengapa negara – negar demokrasi berdamai satu sama lain telah
dinyatakan oleh Michael Doyle (1983; 1986) yaitu negara demokrasi memegang nilai-nilai
moral bersama yang mengarah pada pembentukan apa yang disebut Kant “ persatuan yang
damai (pasific union)”. Selain itu, perdamaian di antara negara-negara demokrasi diperkuat
melalui kerjasama ekonomi dan interdependensi.
Dalam demokrasi republikan ada tiga kondisi perdamaian di antara negara –negara demokrasi
liberal, yaitu :
1. Norma demokratis atas resolusi konflik secara damai
2. Hubungan damai antara negara-negara demokratis, berdasarkan atas landasan moral yang
sama
3. Kerjasama ekonomi antara negara-negara demokrasi: hubungan interdependensi.
Liberalisme republikan adalah suatu aliran dengan elemen normatif yang terkuat, kaum
liberal republikan pada dasarnya optimis bahwa perdamaian dan kerjasama pada akhirnya
akan berlangsung dalam hubungan internasiona, berdasarkan pada kemajuan menuju dunia
yang lebih demokratis. Bukan hanya itu, mereka melihatnya sebagai tanggungjawabnya
untuk memajukan demokrasi di seluruh dunia, untuk melakukan hal itu mereka memajukan
perdamaian yang merupakan salah satu dari semua nilai –nilai politik yang paling
fundamental. Singkatnya, munculnya persatuan global yang damai yang mencakup semua
negara demokrasi baru dan lama tidak dapat dianggap sebagaimana adanya. Malahan,
sebagian besar negara – negara demokrasi baru gagal mencapai paling tidak dua dari tiga
kondisi bagi perdamaian demokratis.
Sebagian besar kaum liberal republikan dengan demikian menekankan bahwa
perdamaian demokratis lebih merupakan proses dinamika daripada suatu kondisi yang tetap.
Perasatuan yang damai tidak muncul kedalam eksistensi anatara negara – negara secepat
mereka mencapai definisi minimum demokrasi.
Dafpus
Robert Jackson dan Geong Sorensen. 2013. Pengantar Studi Hubungan Internasional.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.