Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.

2
ARTIKEL PENELITIAN

PELAKSANAAN PROGRAM KESELAMATAN


PASIEN DI RSUD SOLOK

Firawati*, Aumas Pabuty**, Abdi Setia Putra**

ABSTRAK

Keselamatan Pasien (KP) adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman,
mencegah terjadinya cidera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil. Pada prinsipnya pelaksanaan tujuh langkah menuju keselamatan
pasien sesuai dengan standar Kementerian Kesehatan. Walaupun pencanangan keselamatan pasien sejak tahun
2005, tetapi pelaksanaan masih beragam di Rumah Sakit Indonesia, termasuk juga Sumatera Barat. Untuk
mengetahui pelaksanaan di Sumatera Barat, peneliti mencoba melakukan penelitian di RSUD Solok. Penelitian
kualitatifberikut ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program keselamatan pasien di RSUD Solok.
Informan penelitian ini dengan jumlah sembilan orang, yaitu Kepala Seksi Bidang Pelayanan, Ketua
Komite Medik, SPI, Penanggung Jawab Keselamatan Pasien dan Kepala Ruangan. Informasi diperoleh dengan
wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen, kemudian dilakukan analisis.
Hasil penelitian didapatkan dari tujuh langkah menuju keselamatan pasien, lima langkah sudah
dilaksanakan seperti, bangun kesadaran akan nilai keselamatan, pimpin dan dukung staf anda, integrasikan
aktivitas pengelolaan risiko, belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien dan cegah cedera
melalui implementasi keselamatan pasien, meskipun pelaksanaan baru sebagian. Namun, kembangkan sistem
pelaporan dan libatkandan berkomunikasi dengan pasien belurndilaksanakan.
Kesimpulan penelitian ini, dari tujuh langkah menuju keselamatan pasien, lima langkah sudah
dilaksanakan, dan dua langkah belum dilaksanakan. Disarankan untuk melengkapi fasilitas, merevisi standar
keselamatan pasien, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan dari program keselamatan pasien. Perlu uji coba
pelaksanaan program keselamatan pasien di satu unit ruangan.

Kata kunci :tujuh langkah keselamatan pasien, kualitas pelayanan

ABSTRACT

Patient safety is a system where the hospital will make the patient safer, preventing patient from injured because of
wrong or unprocedural treatment.. In fact, the implementation of seven steps to patient safety is related to the
standards of Health Ministery. Although this program has been issued since 2005, there were various
implementations of this program in Indonesia including West Sumatera. The research was conducted at RSUD
Solok.
The qualitative research aims to know the implementation of patient safety program at RSUD Solok.
There were nine informants consisted of the head of service section, the head of medical commitee, SPI, the head
of patient safety and the head of room service. The depth interview, observation, study document were used in
order to get information which was then analyzed.
The research result showed that only five of seven steps to patient safety such as: first, build a safety
culture, second, lead and support your staff, third, integrate your risk management activity, sixth, learn and share
safety lessons and seven steps implement solutions to prevent harm, although the implementation part of them. On
the other hand, promote reporting and involve and communicate with patients have not been implemented yet.
The conclusion of the research showed that five steps to patient safety have been well implemented. Two
steps have not been well done yet. It is suggested to the hospital to complete the facilities, to revise the standards of
patient safety, to monitor and evaluate the implementation of patient safety program. Moreover, it will be critically
needed to try out the patient safety program in a unit room.

Key words: Seven steps to patient safety, quality of care

* Karyawan RSUD Solok (Flrawati@yahoo.co.id)


** Dosen Program Pascasarjana Universitas Andalas

73
Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

Pendahuluan Maka perurnusan masalah yang diajukan


Keselamatan Pasien (KP) adalah suatu dalarn penelitian ini adalah bagaimana pelaksanaan
sistem dimana rumah sakit membuat asuhan pasien program keselamatan pasien di RSUD Solok,
lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang sehingga rumah sakit mempunyai langkah strategik
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan dalam upaya peningkatanpelayanan kesehatan yang
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang berkualitas di rumah sakit. Tujuan penelitian ini
seharusnya diambil. Pada prinsipnya keselamatan adalah Mengetahui pelaksanaan program
pasien bukan berarti harus tidak ada risiko sama keselamatan pasien di RSUD Solok khususnya
sekali agar semua tindakan medis dapat dilakukan.
1
pelaksanaan tujuh langkah keselamatan pasien yaitu
Gerakan keselamatan pasien merupakan bangun kesadaran akan nilai keselamatan, pimpin
organisasi, dimana bertujuan untuk menghindari dan dukung staf anda, integrasikan aktivitas
kesalahan, pada prinsipnya pengobatan pasien pengelolaan risiko, belajar dan berbagi pengalaman
sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh tentang keselamatan pasien dan cegah cedera
pimpinan pengobatan.2 Menurut Healy. J and melalui implementasi keselamatan pasien,
Dugdale, 2009 dalam masa 10 tahun terakhir ini, kembangkan sistem pelaporan serta libatkan dan
perhatian dunia terhadap pentingnya peranan berkomunikasi dengan pasien.
keselamatan pasien meningkat terhadap bagaimana
strategi serta cara dan kegiatan untuk menciptakan Metode
keselamatan bagi pasien di rumah sakit. Beberapa Penelitian ini adalah penelitian kualitatif,
faktor yang mempengaruhi terhadap kualitas penelitian telah dilakukan selama dua bulan (28 Mei
pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien adalah sampai dengan 13 Juli 2011) di RSUD Solok.
faktor organisasi seperti iklim keselamatan dan Pemilihan informan berdasarkan yang betul-betul
moral, faktor lingkungan kerja seperti susunan memahami masalah secara mendalam yang dapat
kepegawaian dan dukungan manajerial, faktor tim, dipercaya sebagai sumber data.
seperti kerja tim dan supervisi dan faktor staf. Penelitian dilakukan dengan wawancara
Setiap rumah sakit di Sumatera Barat sudah mendalam, daftar telaah dokumen, catatan lapangan
di wajibkan untuk melakukan gerakan keselamatan dan alatperekam.
pasien, apalagi PERSI sudah menerbitkan buku Data dikumpulkan melalui observasi,
tentang pelaksanaan keselamatan pasien di rumah dokumentasi dan wawancara mendalam. Observasi
sakit dan dalam waktu mendatang keselamatan dilakukan melalui pengamatan awal dengan melihat
pasien termasuk dalam penilaian akreditasi rumah langsung ke rumah sakit serta telaah dokumen.
sakit. Pada prinsipnya pelaksanaan keselamatan Dari hasil penelitian didapatkan informan
pasien sesuai dengan standar departemen kesehatan, yang bersedia untuk di wawancarai sembilan orang
namun di dalam pelaksanaan disesuaikan dengan dari sepuluh orang yang direncanakan, terdiri dari
kemampuan rumah sakit sendiri, sehingga di rumah Kepala Seksi Pelayanan, Ketua Komite Medik, SPI,
sakit manapun pelaksanaan keselamatan pasien Penanggung Jawab Keselamatan Pasien dan Kepala
hampirsama.1 Ruangan.
Rumah Sakit Umum Daerah Solok, adalah
Hasil dan Pembahasan
Rumah Sakit Unit pelaksana Teknis dari Dinas
Kesehatan Propinsi Sumatera Barat dan milik Organisasi
Pemerintahan Daerah Propinsi Sumatera Barat. Hasil wawancara mendalam maupun telaah
Berdasarkan SK Gubernur Propinsi Sumatera Barat dokumen, Surat Keputusan ataupun aturan terkait
tentang pelaksanaan program keselamatan pasien di
Nomor : 36 Thn 1986 dan SK MenKes RI
RSU Solok di
Rumah Sakit daerah Solok sudah ada Sosialisasi
No:303/Men.Kes/SK/IV1987,
tetapkan sebagai RS kelas C, yang terletak di daerah kebijakan pelaksanaan keselamatan pasien sudah
Kota Solok Dan berdasarkan SK Gubernur Propinsi disosialisasikan ke ruangan rawat inap. Dari hasil
wawancara mendalam dan telaah dokumen, pada
Sumatera Barat Nomor : 440-343-2011 dan
ruangan sudah ada yang menggunakan format untuk
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor :
HK.03.05/520/20 11 RSUD Solok di tetapkan pelaporan kejadian tentang keselamatan pasien.
Fasilitas Rumah Sakit untuk program keselamatan
sebagai RS dengan kelas B pada tanggal 20 Juli
pasien di ruangan berdasarkan wawancara
2011. Pelaksanaan keselamatan pasien di RSUD
mendalam dan observasi sudah cukup, apalagi untuk
Solok sudah dimulai sejak tahun 2009.
gedung yang baru sudah menuju standar

74
Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

keselamatan pasien. Sementara itu, untuk keadaan bagaimana menciptakankepemimpinan dan budaya
lingkungan berdasarkan wawancara mendalam dan terbuka dan adil yang artinya rumah sakit
observasi, semua informan menyatakan bahwa mempunyai kebijakan apa yang mesti dilakukan
lingkungan Rumah Sakit sudah sukup baik. staf segera setelah insiden, bagaimana langkah-
Pengorganisasian merupakan kegiatan langkah pengumpulan fakta dan dukungan apa yang
pengaturan pekerjaan, yang menyangkut diberikan kepada staf, budaya pelaporan dan belajar
pelaksanaan langkah-langkah yang harus dilakukan dari insiden serta melakukan penilaian keselamatan
sedemikian rupa sehingga semua kegiatan yang pasien.1
akan dilaksanakan serta tenaga pelaksana yang
dibutuhkan, mendapatkan pengaturan yang sebaik- Pimpin dan dukung staf anda
baiknya, serta setiap kegiatan yang akan Berdasarkan wawancara mendalam dengan
dilaksanakan tersebut memiliki penanggungjawab penanggung jawab keselamatan pasien, sudah ada
pelaksanaannya. respon dari tim untuk melaksanakan keselamatan
Lingkungan juga akan mempengaruhi pasien, tetapi belum efektif. Hal ini dibuktikan
akan keselamatan pasien, seperti yang diungkapkan dengan sudah dikirimnya staf untuk pelatihan
Cahyono, JBS, 20086 setiap petugas dapat bagaimana penerapan keselamatan pasien dirumah
melakukan kesalahan apabila kondisi tempat sakit.
mereka bekerja memberikan peluang untuk Sebagai tim penggerak keselamatan
melakukan kesalahan/pelanggaran. Lingkungan pasien haruslah disiplin, mampu bekerjasama,
yang tidak kondusif seperti tidak ada kerjasama, belajar dan berusaha untuk meningkatkan mutu
tidak ada supervisi, kejenuhan, kelelahan, stres, pelayanan, dalam buku Wijono, D, 20008
beban kerja berlebihan. Oleh sebab itu, manajer mengatakan bahwa para pengambil kebijakan,
harus dapat merancang lingkungan kerja yang memberi pelayanan kesehatan dan konsumen
kondusif, upaya-upaya seperti : merancang sistem menempatkan keamanan sebagai prioritas pertama
yang dapat meminimalkan kebisingan, dalam mutu pelayanan. Dalam buku Cahyono,
meminimalkan polusi lingkungan (berisik, getaran) JBS,20086 mengatakan bahwa dalam organisasi,
serta menjamin berjalannya supervisi dan perubahan tidak akan terjadi tanpa kepemimpinan
komunikasi. dan komitmen yang kuat serta dukungan SDM yang
Faktor budaya sangat berpengaruh andal. Pemimpin adalah orang yang melakukan
terhadap keselamatan pasien, karena menyangkut yang benar. Organisasi apapun tidak akan pernah
pemahaman kesalahan terhadap insiden yang sukses tanpa pimpinan yang bervisi berani
terjadi. Berdasarkan hal tersebut, banyak faktor mengambil risiko, memiliki komitmen yang tinggi
yang menghambat pelaksanaan program untuk berubah dan mempunyai kemampuan untuk
keselamatan pasien, agar pelaksanaan program mengkomunikasikan ide-ide.
keselamatan pasien ini terlaksana, makarumah sakit Pada prinsipnya komitmen dalam
perlu lebih mengupayakan pelaksanaannya, seperti, keselamatan pasien seperti adanya motivasi dan
membudayakan pelaporan, menciptakan komitmen direktur, pimpinan klinis dan manajerial
lingkungankerja yang kondusif. serta jajaran pelayanan kesehatan.
Berdasarkan hal tersebut diperlukan
Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pemimpin yang betul-betul mengerti tentang
pasien keselamatan pasien, karena dalam organisasi
Berdasarkan hasil wawancara mendalam keselamatan pasien ada tim yang bertanggung
dengan penanggung jawab keselamatan pasien, jawab, termasuk dalam sistem pelaporan insiden.
bahwasanya staf melaporkan setiap kejadian yang Tim juga akan membuat perencanaan dalam
berhubungan dengan keselamatan pasien, dan staf memutuskan solusi terhadap insiden yang terjadi
mempunyai solusi juga terhadap kejadian yang
terjadi, kemudian solusi yang diberikan oleh Integrasikan aktivitas manajemen resiko
penanggung jawab keselamatan pasien selama ini Pelaksanaan manajemen aktivitas risiko
efektif, hal ini juga terlihat dari hasil observasi selama ini sudah ada, begitu juga dengan penilaian
rumah sakit sudah mempunyai bagaimana cara yang dilakukan keruangan, pelaksanaan
mengumpulkan fakta dilapangan. indikator-indikator seperti standar operasional
Membangun kesadaran akan nilai prosedur sudah ada. Hasil observasi, terlihat
keselamatan pasien merupakan suatu cara bahwasanya rumah sakit sudah mempunyai

75
Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

indikator tentang keselamatan pasien. pelayanan dengan cara melaporkan setiap


Penerapan aktivitas pengelolaan risiko di kesalahan, meskipun kesalahan tersebut tidak
rumah sakit dapat dilakukan dengan cara, menimbulkan kerugian. Kesalahan baru akan
mengembangkan sistem dan pengelolaan risiko tampak apabila staf telah memiliki kesadaran untuk
yang terintegrasi dengan keselamatan pasien dan melaporkan setiap KTD yang terjadi dan tidak
staf, adanya indikator-indikator kinerja, pelaporan menutup KTD yang terjadi7.
insiden, adanya forum-forum dirumah sakit untuk Setiap pihak yang terlibat dalam aktivitas
isu-isukeselamatan pasien. pelayanan kesehatan merupakan orang yang
Pada prinsipnya, apa yang telah rumah berisiko untuk insiden keselamatan pasien. Sistem
sakit lakukan terhadap pelaksanaan aktivitas pelaporan kejadian yang berpotensi menimbulkan
manajemen risiko diatas hampir sama dengan risiko dalam budaya tidak saling menyalahkan
seperti yang di ungkapkan Arjaty W.D , 20067 merupakan sebagian metode yang dapat digunakan
prinsip yang dapat menyokong dalam mengurangi untuk mengenali risiko. Satu hal yang mesti ada,
risiko seperti adanya organisasi yang bertanggung rasa malu dalam melaporkan dan kebiasaan
jawab terhadap keselamatan pasien, dimana menghukumpelakunya harus dikikis habis agar staf
individu yang melakukan kesalahan melaporkan rumah sakit dengan sukarela melaporkan kesalahan
kejadian, kemudian organisasi yang bertanggung kepada manajemen sehingga langkah-langkah
jawab untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. pencegahan kejadian serupa dikemudian hari dapat
Pemahaman terhadap aktivitas dilakukan.
pengelolaan risiko dirumah sakit sangat tergantung
kepada sudut pandangnya. Dalam keselamatan Libatkandan berkomunikasi dengan pasien
pasien, aktivitas pengelolaan risiko lebih diartikan Pedoman komunikasi dengan pasien
sebagai pengendalian risiko salah satu (pasien atau tentang keselamatan pasien sudah ada, tetapi
masyarakat) oleh pihak yang lain (pemberi keluarga pasien mendapatkan informasi yang jelas
pelayanan). Berdasarkan hal tersebut dari segi terhadap apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan
sumber daya, manajemen risiko dimulai dari selama ini respon keluarga pasien baik. Dan
pembuatan standar, mematuhi standar yang telah berdasarkan observasi, standar komunikasi tentang
ada, kenali bahaya dan mencari pemecahan keselamatan pasien belum ada.
masalah. Karena risiko merupakan sesuatu yang Langkah penerapan libatkan dan
tidak dapat dihindari namun dapat diperkecil. Hal berkomunikasi dengan pasien adalah pastikan
yang mesti dilakukan rumah sakit seperti perlu rumah sakit memiliki kebijakan yang secara jelas
adanya forum-forum komunikasi dalam menjabarkan cara-cara komunikasi terbuka tentang
keselamatan pasien, karena didalam forum akan insiden dengan pasien dan keluarganya,
lebih banyak dibahas tentang isu-isu keselamatan prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan
pasien keluarga bilamana terjadi insiden dan segera
berikan mereka infonnasi yang jelas dan benar
Kembangkan sistem pelaporan secara tepat1.
Pelaporan ke KKPRS belum pernah Komunikasi dalam dunia kesehatan
dilakukan. Pelaksanaan pelaporan berjalan sesuai adalah pengiriman pesan antara pengirim dan
alur, kemana staf melapor jika mengalami penerima dengan interaksi diantara keduanya yang
permasalahan yang berhubungan dengan bertujuan menumbuhkan kepercayaan,
keselamatan pasien. Pada saat observasi, rumah menyebabkan keamanan menimbulkan kepuasan,
sakit belum pernah melaporkan kejadian ke meningkatkan pengobatan yang menuju
KKPRS. kesembuhan, karena didalam komunikasi saling
Rumah sakit harus memastikan staf agar memberi dan menerima antara pasien dan petugas
lebih mudah dapat melaporkan kejadian serta rumah kesehatan
sakit mengatur pelaporan kepada Komite Komunikasi yang tidak baik akan
Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) dan meningkatkan risiko dari suatu masalah, namun
melaporkan juga insiden yang terjadi dan insiden kecakapan berkomunikasi dapat meningkatkan
yang telah dicegah tetapi tetap terjadi juga karena keselamatan pasien. Selain itu, berdasarkan
mengandung bahan pelajaran yang penting1. penelitian Agency for Healthcare Research and
Bahwa setiap kesalahan harus Quality (AHRQ,2003) di dalam buku6 mengatakan
dimunculkan sebagai upaya memperbaiki sistem bahwa akar masalah kejadian yang tidak diharapkan

76

I
r

Jumal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

adalah masalah komunikasi yaitu 65%, dibanding mengivestigasi kejadian yang terjadi, namun rumah
dengan masalah dengan pasien 40% dan sakit perlu mengembangkan langkah lain yang
kompetensi 20%7. belum terlaksana.
Dalam hal jika insiden telah terjadi, baik Langkah analisis yang sederhana juga
akibat suatu tindakan atau kelalaian maupun akibat bisa dilakukan, menurut Arjaty W.D, 20069 adalah
dari suatu kecelakaan yang tidak diprediksikan kumpulkan data dan informasi, analisis faktor
sebelumnya, maka sikap yang terpenting adalah kontributor termasuk penyebab langsung, penyebab
mengurangi besarnya risiko dengan melakukan yang melatarbelakangi kejadian, terakhir
langkah yang tepat dalam mengelola insiden, rekomendasi, solusi dan tindakan apa yang
biasanya respon yang cepat dan tepat terhadap dilakukan dengan adanya masalah tersebut.
setiap kepentingan serta didasari oleh komunikasi
yang efektif. rumah sakit perlu membuat standar Cegah cedera meialui implementasi sistem
komunikasi terbuka selama proses asuhan tentang keselamatan pasien
insiden dengan para pasien dan keluarganya, artinya Berdasarkan wawancara mendalam,
pasien dan keluarga mendapatkan informasi yang implementasi keselamatan pasien dalam
jelas terhadap apa yang dialaminya, sehingga memberikan solusi sudah ada, begitu juga dengan
kejadian serta komplain dari keluarga pasin tidak mengadakan sosialisasi dengan ruangan, selain itu
terjadi, karena kesalahan dalam komunikasi dapat penjelasan kasus terhadap ruangan lain pernah
mengakibatkan konflik antar pasien dan petugas. dilakukan yang bertujuan agar kejadian yang sama
tidak terulang kembali, sehingga menghasilkan
Belajar dan berbagi pengalaman tentang umpan balik yang baik bagi staf, kemudian rencana
keselamatan pasien tim keselamatan pasien selanjutnya adalah
Pelaksanaan dalam belajar dan berbagi mengadakan sosialisasi buat semua staf rumah
pengalaman tentang keselamatan pasien, sakit.
berdasarkan wawancara mendalam mengatakan Informasi yang benar dan jelas yang
bahwa berbagi pengalaman dilakukan pada saat diperoleh dari sistem pelaporan, kajian insiden serta
rapat-rapat, sementara itu berdasarkan hasil analisis yang bertujuan untuk menentukan solusi.
observasi, rumah sakit sudah menggunakan Karena solusi dapat mencakup penjabaran ulang
kerangka acuan tentang keselamatan pasien dengan sistem penyesuaian terhadap keselamatan pasien.
menganalisis akar permasalahan menggunakan Begitujuga perlu adanya mengembangkan berbagai
sistem RCA. cara untuk membuat asuhan pasien menjadi lebih
Penerapan dirumah sakit untuk berbagi aman dan lebihbaik.
pengalaman tentang keselamatan pasien adalah Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya
melakukan analisis akar masalah yaitu dengan cara implementasi keselamatan pasien dalam
menganalisis akar masalah, didalamnya mencakup memberikan solusi sudah ada, artinya rumah sakit
semua insiden yang telah terjadi. Langkah dari telah menerapkan solusi yang di gunakan oleh
analisis akar masalah yaitu investigasi kejadian, KKPRS, begitu juga dengan mengadakan
tentukan tim investigator, kumpulkan data sosialisasi dengan ruangan tapi belum semua ,selain
(observasi, dokumentasi, interview), petakan itu penjelasan kasus terhadap ruangan lain pernah
kronologi kejadian, identifikasi masalah, analisis dilakukan sehingga menghasilkan umpan balik
informasi, rekomendasidan rencana kerja. 1 yang baik bagi staf, kemudian rencana tim
Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien selanjutnya adalah mengadakan
keselamatan pasien di RSUD Solok, sudah sosialisasi buat semua staf rumahsakit.
dilakukan dan sudah menggunakan sistem analisis Langkah yang telah dilakukan rumah
akar masalah, artinya sudah menginvestigasikan sakit tersebut sesuai pula dengan yang diungkapkan
kejadian, adanya tim untuk keselamatan pasien, menurut Healy, 20093 bahwasanya perlu adanya
sementara itu untuk menganalisis menggunakan pengembangan penerapan keselamatan pasien
RCA, sementara itu identifikasi dengan unit yang secara teratur, memprioritaskan penilaian
yang mungkin terkena dampak belum. Berdasarkan keselamatan pasien serta menempatkan pekerjaan
hal tersebut, berarti pihak manajemen sudah agar terhindar dari kesalahan. Kemudian perlu juga
mencoba membuat analisis akar permasalahan meningkatkan sistem laporan tentang keselamatan
setiap kejadian yang terjadi, dan telah mampu pasien dan konsep keselamatan pasien perlu

77
Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

Tabel 1: Hasil Observasi

No ALAT BUKTI ADA TIDAK KETERANGAN


ADA
Kebijakan
Surat keputusan direktur s/
Adanya SOP pelaksanaan keselamatan pasien s/
Jenis fasilitas yang dimiliki yang mendukung s/
keselamatan pasien Untuk gedung yang baru
Adanya jadwal petugas yang dinas v sudah menuju
keselamatan pasien

Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien


> Dokumen langkah -langkah pengumpulan
fakta
> Bukti melakukan pemeriksaan terhadap
keselamatan pasien
> Jadwal turun ke ruangan v/
> Reward
> Punishment </
Pimpin dan dukung staf anda
> Surat keputusan tim dari direktur
> Sertifikat pelatihan ÿ

4 Integrasikan aktivitas pengelolaan risiko


> Alur pengelolaan risiko </
5 Kembangkan sistem pelaporan
> Dokumen pelaporan \/
> Alur pelaporan v
6 Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien
> Blangko telah mendapatkan informasi
Belajar dan berbagi pengalaman tentang
keselamatan pasien
> Adanya blangko metode pemecahan V
masalah
> Bukti melakukan diskusi dengan unit lain
Cegah cedera melalui implementasi sistem
keselamatan pasien
> Bukti adanya solusi terhadap keselamatan </
pasien
> Bukti melakukan pelatihan V

Kesimpulan dan Saran adanya tim penggerak di ruangan, membuat tim


Berdasarkan hasil penelitian, pelaksanaan keselamatan pasien, melakukan uji coba disalah
tujuh langkah menuju keselamatan pasien di RSUD satu ruangan serta mengembangkan langkah-
Solok, hampir semua mengatakan sudah terlaksana langkah yang belumterlaksana.
tetapi belum tertata dengan baik.
Disarankan pihak rumah sakit perlu
mensosialisasikan program keselamatan pasien,

78
f

Jurnal Kesehatan Masyarakat, Maret 2012-September 2012, Vol. 6, No.2

Daftar Pustaka

1. Depkes. Panduan nasional keselamatan 7. Swanwiek. ABC of Patient Safety. BMJI


pasien rumah sakit. Depkes. Jakarta, 2006 Books.Australia, 2007
2. Morath.J and Turnball. Ensuring Patient Wijono, D. Manajemen mutu pelayanan
Safety in Health Care Organizations. Jossey- kesehatan. Airiangga University Press.
Bass. America, 2005 Surabaya, 2000
3. Healy. J and Dugdale. Patient safety first. 9. Arjaty W.D. Analisis risiko root cause
Chitra Karunanayake.Australia, 2009 analysis. Disampaikan pada Workshop 2
4. Vincent. C. Patient safety. Elseiver. Hospital Risk Management. Kongres PERSI
Philadelphia, 2006 X, 2006
5. Azwar, A. Pengantar Administrasi Kesehatan 10. Waluyo.T. Upaya Penyelenggaraan patient
edisi ketiga. BinarupaAksara. Jakarta, 2010 safety di Rumah Sakit Umum Daerah
6. Cahyono, JBS. Membangun Budaya Sumbawa. Tesis. Program Pasca Sarjana
Keselamatan Pasien dalam Praktek UGM. Yogjakarta, 2008
Kedokteran. Jakarta, 2008

79