Anda di halaman 1dari 10

c 



 

   

  

cc  

 
  
    c
Oleh

Julissar An-Naf

 

Pembangunan secara umum diartikan sebagai pemenuhan kesejahteraan individu yang meliputi pendapatan per
kapita, kebutuhan pendidikan, kesehatan, kualitas hidup termasuk kebutuhan akan adanya harga diri. Dalam
prakteknya perencanaan dan penyelenggaraan pembangunan sangat dipengaruhi oleh cara pandang, hashab atau
paradigma pembangunan yang dianut oleh para elit pada masing-masing negara.

Paradigma yang berkembang dimulai dengan Teori Pembangunan Klasik yang terpecah menjadi berbagai aliran dan
menurunkan faham-faham kapitalisme dan sosialisme. Selanjutnya berkembang pula teori-teori turunan seperti
Teori Tahapan Linear, Teori Perubahan Struktural, Teori Revolusi Ketergantungan Internasional, Tesis
Pembangunan Dualistik, Teori Kontra Revolusi Neoklasik, dan yang terakhir Paradigma Pembangunan
Berkelanjutan.
Negara-negara Sedang Berkembang (Y   
  ) banyak bereksperimentasi dengan campuran dari teori-
teori di atas mulai dari yang sentralistik sampai kepada yang liberal tergantung faham idiologi yang di anut. Hal
yang perlu dicatat, tidak satu pun Negara Sedang Berkembang bisa menyelesaikan masalah pembangunannya
dengan hanya mengadapsi satu teori secara bulat dan utuh. Karena teori-teori pembangunan yang ada berkembang
secara    sehingga tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada situasi yang berbeda.

Sejak kemerdekaan tahun 1945 pembangunan di Indonesia sendiri dapat dikatakan telah berganti-ganti faham.
Namun ada satu ciri yang khas, yaitu menerapkan teori-teori yang liberal namun dalam situasi yang sangat
sentralistik dan peranan pemerintah sangat dominan. Namun karena situasi    tidak terlalu dikenali dan
didalami, selalu dihadapkan kepada keadaan   baik di masa Orde Lama maupun di masa Orde Baru.

 c
 

Secara umum disepakati bahwa pembangunan adalah suatu proses perubahan yang mengarah
kepada peningkatan kesejahteraan manusia yang meliputi perbaikan tingkat hidup, kesehatan,
pendidikan, serta keadilan. Karena tumpuan dari proses perubahan tersebut adalah bidang
ekonomi, maka definisi dari pembangunan sering terfokus kepada definisi pembangunan
ekonomi, yaitu: (1) pemenuhan kesejahteraan individu yang sering diukur dalam bentuk
pendapatan per kapita, (2) pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup
secara umum, dan (3) pemenuhan akan adanya harga diri (   dan    ). (Goulet,
1971; Pearce and Warford, 1993).

c   


  


    
 
 
Praktek-praktek perencanaan pembangunan sangat dipengaruhi oleh cara pandang, mazhab atau
paradigma pembangunan yang dianut oleh para elit dari masing-masing negara. Teori atau
paradigma tersebut dapat diklasifikasikan dan dirangkum sebagai berikut:
c !"#$

Teori Pembangunan Klasik memiliki tiga aliran, yaitu aliran-aliran Emile Durkheim, Max
Weber, dan Karl Marx.

"!$%

Menurut Durkheim pembangunan adalah proses perubahan masyarakat dalam dimensi kuantitatif
dan kualitatif, yaitu adanya perubahan orientasi masyarakat dari berfikir tradisional menjadi
modern. Karena itu akan terjadi perubahan tata nilai masyarakat dari yang berbasiskan solidaritas
mekanik menjadi solidaritas organik. Indikator yang bisa dilihat adalah tumbuh dan
berkembangnya organisasi-organisasi sosial ekonomi modern. Implikasi dari konsep
pembangunan ini, masyarakat berkembang secara bertahap sebagai berikut:

4 Tahap Pra Industri: pada tahap ini hubungan sosial yang berkembang pada umumnya hanya
terjadi dalam kelompok masyarakat (isolasi fungsional);

4 Tahap Industrialisasi: sebagai akibat dari proses industrialisasi maka terjadi perembesan (spill
over) struktur budaya modern dari pusat yang berada di kota ke daerah pinggiran yang berada
di pedesaan;

4 Tahap Perkembangan: pusat secara terus menerus menyebarkan modernisasi sehingga tercapai
keseimbangan hubungan fungsional antara pusat dan pinggiran.

"&

Weber berpendapat bahwa pembangunan adalah perubahan orientasi masyarakat dari


tradisional-irasional menuju modern-rasional. Indikatornya adalah munculnya birokratisasi
dalam setiap unsur kehidupan yang dicapai melalui distribusi kekuasaan serta munculnya budaya
oposisi di wilayah pinggiran sebagai respon terhadap dominasi pusat yang berkepanjangan.

"
'

Sedangkan menurut Karl Marx, pembangunan adalah perubahan sosial yang terjadi
sebagai akibat konflik sosial antar kelas, yang secara bertahap akan merubah kehidupan
masyarakat. Esensi dari teori ini adalah pembangunan akan mewujudkan masyarakat tanpa kelas
(    ) dan materialisme sebagai hirarkinya. Berdasarkan teori Marx, masyarakat
terbagi atas: (1) masyarakat primitif, (2) masyarakat feodal, (3) masyarakat kapitalis, (4)
masyarakat sosialis, dan (5) masyarakat komunis.

cc%()c%(*!!% $#*+,

Menurut Rostow, perubahan dari terbelakang (


    ) menjadi maju
(   ) dapat dijelas dalam seri tahapan yang harus dilalui oleh semua negara. Sebelum
suatu negara berkembang menjadi negara maju, harus dilalui suatu tahap yang disebut tahap
tinggal landas (   ). Teori ini menyarankan agar negara-negara sedang berkembang
(   
 ) tinggal mengikuti saja seperangkat aturan pembangunan tertentu untuk
tinggal landas, sehingga pada gilirannya akan berkembang menjadi negara maju. Prasyarat
penting untuk dapat tinggal landas, suatu negara harus mampu membangun pertanian, industri,
dan perdaganganya sehingga mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang
berkesinambungan. Prasyarat penting lainnya adalah harus ada mobilisasi tabungan dengan
maksud untuk menciptakan investasi yang cukup untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Harrod-Domar mengemukakan bahwa Pertumbuhan Pendapatan Nasional Kotor   


 
 ) secara langsung bertalian erat dengan rasio tabungan, yaitu lebih banyak bagian
 yang ditabung dan diinvestasikan maka akan lebih besar lagi pertumbuhan  tersebut.
Dari model yang dikemukakan oleh Harrod-Domar tersebut Rostow menyimpulkan bahwa
negara-negara yang dapat menabung 10-20% dari -nya dapat tumbuh dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibanding dengan negara-negara yang tabungannya
kurang dari kisaran tersebut. Di negara-negara berkembang pembentukan modal relatif rendah
sehingga untuk memperoleh pertumbuhan yang diinginkan dibutuhkan pinjaman luar negeri.

-c!%*!$*!"

Teori Perubahan Struktural ini mempunyai dua model, yaitu Model Pembangunan Lewis
dan Model Perubahan Struktur dan Pola Pembangunan.


-" !+#

Dalam Model Pembangunan Lewis, perekonomian dianggap terdiri dari dua sektor: (1)
Sektor Tradisional, dengan ciri-ciri di pedesaan, subsisten, kelebihan tenaga kerja dan
produktivitas marjinalnya sama dengan nol; (2) Sektor Modern, dengan ciri-ciri di perkotaan,
industri, produktivitasnya tinggi, sebagai tempat penampungan tenaga kerja yang ditranfer
sedikit demi sedikit dari Sektor Tradisional. Model ini memfokuskan pada terjadinya proses
pengalihan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi serta kesempatan kerja di Sektor Modern,
yang dimungkinkan dengan adanya perluasan lapangan kerja di Sektor Modern.


-"!%*!$*!-" ! ""#.%/

Model ini dikembangkan oleh Hollis Chenery yang menyarankan adanya perubahan
struktur produksi, yaitu pergeseran dari produksi barang pertanian ke produksi barang industri
pada saat pendapatan per kapita meningkat. Model ini menyatakan bahwa peningkatan tabungan
dan investasi perlu tetapi tidak harus cukup (    
  
    ) untuk
memungkinkan terjadinya pertumbuhan ekonomi. Pola ini juga menyaratkan bahwa selain
akumulasi modal fisik dan manusia, diperlukan pula himpunan perubahan yang saling berkaitan
dalam struktur perekonomian suatu negara untuk terselenggaranya perubahan dari sistem
ekonomi tradisional ke sistem ekonomi modern. Perubahan struktur ini melibatkan seluruh
fungsi ekonomi termasuk tranformasi produksi dan perubahan dalam komposisi permintaan
konsumen, perdagangan internasional serta perubahan-perubahan sosial-ekonomi seperti
urbanisasi, pertumbuhan dan distribusi penduduk.

c0"!#* *! *#"


Pada dasawarsa 1970-an, teori dan model-model ketergantungan internasional kian
mendapat dukungan di Dunia Ketiga. Teori ini memadang bahwa negara-negara Dunia Ketiga
telah menjadi korban dari berbagai kelakuan kelembagaan politik dan ekonomi internasional
maupun domestik. Negara-negara Dunia Ketiga telah terjebak dalam hubungan ketergantungan
dan dominasi oleh negara-negara kaya. Teori ini mempunyai dua aliran, yaitu Model
Ketergantungan Kolonial dan Model Paradigma Palsu.


-"* *! ""

Teori Ketergantungan ini muncul sebagai antitesi terhadap Teori Modernisasi dan
merupakan variasi dari teori yang dikembangkan oleh Karl Marx (Marxian). Ketergantungan itu
sendiri berarti berarti situasi di mana ekonomi suatu negara dikondisikan oleh perkembangan dan
ekspansi ekonomi negara lain dan ekonomi negara tersebut tunduk padanya.

Secara sengaja negara-negara kaya mengeksploitasi dan menelantarkan ko-eksistensi


negara-negara miskin negara miskin dalam sistem internasional yang didominasi oleh hubungan
kekuasaan yang sangat tidak seimbang antara pusat atau centre (negara-negara maju) dan
pinggiran atau    (negara-negara berkembang). Praktek dan kondisi tersebut menggoda
negara-negara miskin untuk mandiri dan bebas dalam upaya-upaya pembangunan mereka yang
sulit dan bahkan kadang-kadang serba tidak mungkin.

Kelompok-kelompok tertentu di negara-negara sedang berkembang (tuan tanah,


pengusaha, pejabat, militer) yang menikmati penghasilan tinggi, status sosial, dan kekuasaan
politik merupakan kaum elit dalam masyarakat. Kepentingannya, sengaja atau tidak sengaja
melestarikan ketidakmerataan dan eksploitasi ekonomi oleh negara-negara maju terhadap
negara-negara miskin karena secara langsung atau tidak langsung mereka mengabdi kepada
kekuasaan kapitalis internasional.


-"- "#!

Keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga disebabkan oleh kesalahan atau


ketidaktepatan nasihat/saran yang diberikan oleh para penasihat dan para pakar internasional dari
lembaga-lembaga bantuan negara maju dan donor-donor multinasional. Nasihat atau saran
tersebut mungkin bermaksud baik tapi sering tidak mempunyai informasi yang cukup tentang
negara yang akan dibantu terutama negara-negara sedang berkembang.

1c## !!"#*$

Tesis ini berlandaskan fenomena eksistensi ganda, yaitu adanya masyarakat yang kaya (
  )
dan adanya masyarakat yang miskin (  ). Tesis ini memeiliki empat syarat:

4 Dualisme merupakan prasyarat yang memungkinkan pihak yang


  dan   hidup
berdampingan pada suatu tempat dan waktu yang sama.

4 Ko-eksistensi
  dan   bukan sesuatu yang bersifat transisional tetapi sesuatu yang
bersifar kronis.
4 Superioritas dan inferioritas tidak menunjukan tanda-tanda melemah, bahkan keduanya
cendrung menguat untuk menjadi kekal.

4 Saling keterkaitan antara unsur superioritas dan unsur inferioritas sehingga keberadaan unsur
superioritas sedikit atau sama sekali tidak meningkatkan unsur inferioritas.

c*0"!#$"#$

Teori ini muncul pada dasawarsa 1980-an yang berhaluan konservatif yaitu politik yang
dianut Amerika, Kanada, Inggeris, dan Jerman Barat. Teori ini menyerukan agar diadakan
swastanisasi perusahaan-perusahaan milik pemerintah di negara-negara maju serta munculnya
himbauan untuk meninggalkan campur tangan pemerintah dalam perekonomian serta deregulasi
di negara-negara berkembang. Teori ini menegaskan bahwa keterbelakangan negara-negara
berkembang bersumber dari buruknya alokasi sumberdaya yang bertumpu pada kebijakan-
kebijakan harga yang tidak tepat dan campur tangan pemerintah yang berlebihan.

2-  !$"3!*)Ô 


  ,

Proses kristalisai paradigma pembangunan berkelanjutan dimulai dari tahap perdebatan


antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan pada tahun 1960-an hingga tahun 1970-an.
Kemudian pada tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an mulai dikenal konsep dan argumen
pentingnya pembangunan berkelanjutan.

r           Y    (r Y) mendefinisikan
pembangunan berkelanjutan sebagai ³pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa
mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang´. Esensi pembangunan
berkelanjutan adalah ³perbaikan mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha tidak
melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. Sedangkan ekonomi
berkelanjutan merupakan buah dari pembangunan berkelanjutan, yaitu ³sistem ekonomi yang
tetap memelihara basis sumberdaya alam yang digunakan dengan terus mengadakan
penyesuaian-penyesuaian dan penyempurnaan-penyempurnaan pengetahuan, organisasi, efisiensi
teknis dan kebijaksanaan (   rr 1993).

Pembangunan berkelanjutan memiliki tiga pendekatan, yaitu pendekatan ekonomi,


ekologi, dan sosial. Pendekatan ekonomi menekankan pada perolehan pendapatan yang berbasis
pada penggunaan sumberdaya yang efisien. Pendekatan ekologi menekankan pada pentingnya
perlindungan keanekaragaman hayati yang akan memberikan kontribusi pada keseimbangan
ekosistem dunia. Sedangkan pendekatan sosial menekankan pada pemeliharaan kestabilan sistem
sosial budaya meliputi penghindaran konflik keadilan baik dalam satu generasi maupun antar
generasi (Munasinghe, 1993).

  .
      


Di Negara-negara Sedang Berkembang (Y   


  ) seringkali diterapkan
campuran dari perencanaan secara terpusat yang bergaya    sampai kepada perencanaan
yang   menggunakan mekanisme pasar atau harga. Misalnya !+)1, mengemukan
sedikitnya ada tiga klasifikasi perencanaan di negara Asia Tenggara:

4 c  !      : menggunakan  yang efektif terhadap sektor swasta,
seperti diterapkan di Malaysia dan Taiwan;

4 c     "
  : lebih menyerahkan perencanaan kepada kekuatan pasar atau
bahkan tidak ada perencanaan yang sesungguhnya, seperti di Philipina;

4 c  Y     : yang merupakan perencanaan terpusat dan sangat menganut
   , seperti di laksanakan di Ceylon, Birma, dan Indonesia.

Ditinjau dari teknik perencanaannya, teknik perencanaan yang sering dilakukan di Negara-
negara Sedang Berkembang adalah:

4  #   #  $  atau Perencanaan Proyek demi Proyek;

4 !    atau Perencanaan Sektoral yang merencanakan kebijaksanaan dan kegiatan


usaha untuk mengembangkan suatu sektor kegiatan ekonomi tertentu;

4     
      yaitu perencanaan investasi menyeluruh pada Sektor
Publik;

4       atau Perencanaan Komprehensif yang meliputi perencanaan yang


menyeluruh pada Sektor Pemerintah dan Sektor Masyarakat.


  

Sejak kemerdekaan hingga tahun 1960-an, berbagai upaya perencanaan pembangunan telah
dilakukan di Indonesia. Namun tidak satupun dari rencana-rencana tersebut mencapai tahap yang
matang dan membuahkan hasil yang memuaskan, yaitu )c3$-3/4,:

4 Pada tanggal 12 April 1947 dibentuk Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang diketuai oleh
Mohammad Hatta. Panitia ini menghasilkan rencana sementara berjudul ³Dasar Pokok Dari
Pada Plan Mengatur Ekonomi Indonesia´. Tapi rencana tersebut tidak sempat dilaksanakan
karena perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan.

4 Pada bulan Juli tahun 1947 itu juga, di bawah pimpinan I.J. Kasimo dirumuskan ³Plan
Produksi Tiga Tahun RI´. Tapi karena   I dan II dengan penjajah rencana ini juga tidak
sempat dilaksanakan.

4 Kemudian disusun ³Rencana Kesejahteraan Istimewa 1950-1951´ (untuk bidang pertanian


pangan) yang disusul dengan ³Rencana Urgensi Untuk Perkembangan Industri 1951-1952´
di bawah pimpinan Sumitro Djojohadikusumo. Rencana-rencana ini tidak berjalan dengan
baik.
4 Selanjutnya ada pula yang dinamakan ³Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956-1960´ yang
disusun oleh Biro Perancang Negara yang diprakarsai oleh Sumitro Djojohadikusumo.
Namun pelaksanaannya tertunda hingga tahun 1958 dan pada tahun 1959 sudah diganti
dengan rencana baru.

4 Pada tahun 1960 berhasil disusun lagi ³Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana
1961-1969´. Namun dalam kenyataannya rencana ini lebih berupa ³dokumen politik´ dari
pada rencana pembangunan dalam arti yang sesungguhnya, tidak realistis, sehingga rencana
kurang berjalan baik dan keadaan ekonomi bertambah parah.

4 Dalam keadaan ekonomi yang cukup kritis disusun pula ³Perencanaan Ekonomi Perjuangan
Tiga Tahun´ yang disebut juga ³Rencana Banting Stir´. Rencana ini tidak pernah
terselenggara dengan baik dan tidak mampu menolong parahnya situasi ekonomi.

Akibat tidak satupun rencana pembangunan mendatangkan hasil, keadaan ekonomi Indonesia
kian bertambah parah hingga jatuhnya Pemerintahan Soekarno oleh kudeta Gerakan 30
September PKI pada tahun 1965.

  c

Belajar dari pengalaman sebelumnya, Pemerintahan Suharto menetapkan prioritas pada


stabilisasi ekonomi, terutama penurunan tingkat inflasi yang telah mencapai 600 persen pada
tahun 1965 dan 1966, perbaikan keuangan pemerintah, dan rehabilitasi basis-basis ekonomi yang
produktif. Pengoperasian kekuatan-kekuatan pasar digalakan dari sebelumnya, investasi modal
asing diundang masuk, dan bantuan (pinjaman) luar negeri dicari secara aktif. Pemerintah
meneruskan proses pembangunan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) dengan tiga
tujuan utama (Trilogi Pembangunan) yaitu Stabilisasi, Pertumbuhan, dan Pemerataan., Juga
perlu dicatat bahwa pembangunan pertanian dan pedesaan menjadi titik tolak pembangunan
dengan tujuan ganda. Pertama, kebutuhan untuk menjamin ketersediaan pangan di perkotaan
dengan harga yang relatif stabil; kedua, kebutuhan untuk menjaga kendali politik di daerah
pedesaan )&%*4,.

Gambaran mengenai kebijaksanaan dan strategi dari REPELITA adalah sebagai berikut
)(**55*(!"65-#,:

4 REPELITA I (tahun fiskal 1969/1970 sampai 1973/1974) menekankan pada rehabilitasi


perekonomian terutama peningkatan produksi pertanian serta perbaikan irigasi dan sistem
transportasi.

4 REPELITA II (tahun fiskal 1973/1974 ± 1978/1979) difokuskan pada peningkatan standar


kehidupan rakyat. Tujuan spesifik dari REPELITA II adalah memenuhi kecukupan pangan,
pakaian, dan perumahan (pangan, sandang, papan); memperbaiki dan mengembangkan
infrastruktur, menyebarkan dan memeratakan distribusi hasil-hasil pembangunan; serta
menyediakan lapangan kerja baru. Anggaran pembangunan untuk bidang kesejahteraan sosial
seperti pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana lebih besar dibanding dengan pada
REPELITA I. Demikian juga dengan anggaran pembangunan untuk bidang industri dan
pertambangan. Pembangunan pertanian dan pedesaan tetap memperoleh anggaran terbesar.

4 REPELITA III (tahun fiskal 1978/1979 ± 1983/1984) diarahkan kepada tiga tujuan pokok,
yaitu: memperoleh distribusi yang lebih merata dari hasil-hasil pembangunan untuk
kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, menjaga pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi, dan menjaga stabilitas nasional. Sementara itu prioritas pembangunan ditujukan pada
Sektor Pertanian untuk mencapai swasembada pangan serta industri pengolahan bahan baku
menjadi barang jadi.

4 REPELITA IV (tahun fiskal 1984/1985-1988/1989) meletakan penekanan pada Sektor


Pertanian untuk mempertahankan swasembada pangan terutama swasembada beras.
Pengembangan industri diprioritaskan pada industri-industri yang bisa menghasil mesin-
mesin ringan maupun berat.

4 REPELITA V (tahun fiskal 1989/1990 ± 1993/1994) dinilai sangat menentukan karena


merupakan tahap akhir untuk persiapan menuju era tinggal landas (   ) pada periode
REPELITA VI. Pada masa REPELITA V ini pembangunan pada bidang ekonomi diberikan
prioritas dengan penekanan pada pembangunan pada Sektor Industri dengan didukung oleh
pertumbuhan yang cukup tinggi dari Sektor Pertanian.

cc   c

Catatan yang perlu dikemukan pada rangkaian REPELITA di atas yang dimulai
tahun 1973 memberikan sumbangan yang sangat menentukan pada Perekonomian Indonesia.
Sejak PELITA II anggaran pembangunan dapat melampaui budget. Ini dikarenakan
meningkatnya penerimaan negara dari ekspor minyak mentah. Sumbangan dari ekspor minyak
dan gas bumi pada nilai ekspor pada periode PELITA III meningkat rata-rata 75,2 persen per
tahun. Sejalan dengan itu terjadi perkembangan yang memuaskan dalam neraca pembayaran.
Anggaran pembangunan selama REPELITA III meningkat 274 persen. Selama periode
REPELITA IV kecendrungan perkembangan perekonomian global yang menguntungkan
ditambah dengan turunnya harga minyak secara drastis di pasaran internasional memaksa
pemerintah untuk mengambil langkah-langkah penyesuaian ( #
     ) di
berbagai bidang seraya mencoba menggalakan ekspor non-migas )-, Memasuki awal
REPELITA VI agaknya Indonesia tidak berhasil menemukan jalan keluar dalam menghadapi
krisis ekonomi global. Pada periode REPELITA VI pun format keunggulan komparatif
(     ) dari Ekonomi Indonesia belum tampak. Hal itu diindikasikan dengan
tidak

mampu bersaingnya harga-harga sebagian besar produk pertanian maupun industri Indonesia di
pasaran internasional. Hal itu diperberat pula dengan masalah-masalah    yang
tidak terselesaikan dan berbagai      di dalam bidang pemerintahan. Akibatnya
pemerintah mengalami kesulitan neraca pembayaran dan sangat mengandalkan hutang luar
negeri yang sudah sangat spektakuler jumlahnya. Akhirnya semuanya bermuara pada krisis
politik sehingga Suharto harus turun dari kursi kepresidenan.

 7  8

69&-::&-5-)-,

World Without End, Economics, Environment and Sustainable Development. Oxford University
Press.

c9
)4,

Economic Development in the Third World, Foutrh Edition. Longman Group Limited.

Tjokroamidjoyo, B. (1982)

6 !. Jakarta, PT Gunung Agung

Department of Information Republic of Indonesia (1991)

-# 8  556" -$. Department of Information, Directorate of Foreign


Information Services.

Keynes, J.M. (1936)

c% "c%/5 ("/*9*#*-


/

Lewis, W.A. (1954)

660"(*+*%*-!(("/5!

Paauw, D.S. (1965)

0"(* "   #. Center for Development Planing, National Planning
Association.

Rostow, W.W. (1971)

c%* 5 66 +*%. Cambridge University Press.

White, B. (1989)

;:0<#  0"!*   * #(6*0= in: # (English Edition), No. 48,
Desember 1989. Jakarta, LP3ES.