Anda di halaman 1dari 20

Disusun Oleh: Drs. Musa, M.H.

PEMBAGIAN TAUHID

Penghayatan terhadap iman kepada Allah SWT adalah dasar yang paling
esensial dari seluruh akidah Islam dan penghayatan terhadap tauhidullah atau
mengesakan Allah adalah dasar dan sendinya dari iman kepada Allah. Setiap
muslim berkewajiban menghayati dan mengamalkan hakikat tauhid yang
diperintahkan Allah dan menjadi landasan agama-Nya serta menjadi sebab
diturunkannya kitab-kitab suci dan diutusnya para Rasul shalawatullah wa
salamuhu alaihim.
Secara umum tauhid dibagi menjadi dua bagian, yaitu tauhid rububiyah
dan tauhid uluhiyah. Kedua macam tauhid ini saling berhubungan dan tidak bisa
dipisahkan satu dengan lainnya. Seorang muslim tidak boleh hanya berpegang
dan mengakui tauhid rububiyah saja, akan tetapi ia harus merealisasikan tauhid
rububiyah tersebut dalam bentuk amaliah dengan melakukan penyembahan hanya
kepada Allah semata, melakukan ketaatan yang mutlak, merendahkan diri,
berdoa, bertawakkal, takut dan harap hanya kepada-Nya. Kedua macam tauhid
tersebut harus diyakini dan dapat direalisasikan dalam kehidupan riil (nyata)
sehari-hari.

1. Tauhid Rububiyah
Tauhid adalah bahasa Arab yang berasal dari kata wahhada yuwahhidu
tauhidan, yang berarti menyendirikan; mengesakan; dan meniadakan bilangan.
Menurut pengertian syariat Islam, tauhidullah bermakna meniadakan persamaan
dan penyerupaan mengenai dzat, sifat-sifat, asma Allah, dan perbuatan-Nya, dan
meniadakan sekutu dalam ketuhanan dan ibadah. Lawan kata tauhid adalah
syirik, karena syirik berarti mensekutukan, menyerupakan sesuatu dengan Allah,

1
atau mengadakan tandingan-tandingan terhadap Allah, dan menjadikan selain
Allah sebagai ilah atau sesembahan lain bersama Allah.
Sedangkan kata rububiyah diambil dari kata rabb yang di antaranya
bermakna tuan, raja, yang mengatur, mendidik, memperbaiki, memelihara dan
lain-lain. Kata rububiyah dapat diartikan dengan menciptakan, memberi rezki,
merajai, yang dipertuan, mendidik, memperbaiki dan mengatur.Allah adalah rabb
semesta alam, artinya Allah adalah pencipta, pengatur, pemelihara, pengayom,
pemberi rezki, tuan, raja, pengendali dan lain-lain terhadap alam semesta ini.
Hanya Allah yang mempunyai wewenang dalam rububiyah dan yang wajib
diesakan. Allah tidak mempunyai sekutu dalam rububiyah dan tidak wajar serta
tidak dibenarkan makhluk-Nya mempunyai hak rububiyah tersebut. Dalam
konteks inilah, maka tauhid rububiyah bermakna meniadakan sekutu bagi Allah
dalam sifat-sifat rububiyah yang sebenarnya. Allah adalah satu-satunya pencipta,
pemberi rezki, raja diraja, dan pengatur semua makhluk-Nya, seperti
menghidupkan dan mematikan, memberi dan mencegah, menolong dan
membahayakan, memuliakan dan menghinakan, memberikan kekuasaan dan
menurunkannya, dan lain sebagainya. Allah berfirman :
‫قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك ممششن تشششاء وتعششز مششن تشششاء‬
.‫وتذل من تشاء بيدك الخير انك على كل شيء قدير‬

Tauhid rububiyah merupakan tauhid I’tiqadi ‘ilmi (pengesaan Allah yang


bersifat keyakinan teoritis, yaitu tauhid dalam bentuk ma’rifat (pengetahuan
pengenalan), itsbat (penetapan), I’tiqad (keyakinan), qasd (tujuan), dan iradah
(kehendak). Seorang muslim harus berpegang kepada keyakinan tauhid
rububiyah ini, yakni beriman bahwa Allah SWT itu satu, esa dalam zat, esa sifat-
sifat, asma, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu dan tidak ada yang
menyerupai-Nya, serta tidak beranak dan tidak diperanakkan. Allah menjelaskan
tentang diri-Nya dengan firman-Nya :

2
(4) ‫( ولم يكن له كفوا احد‬3) ‫( لم يلد ولم يولد‬2) ‫( ال الصمد‬1)‫قل هو ال احد‬
Artinya : Katakanlah! Dia Allah Yang Maha Esa. Allah tumpuan harapan.
Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada satupun yang setara dengan-
Nya.

Pelajaran atau kajian sifat dua puluh yang dikembangkan dalam


masyarakat penganut mazhab asy’ariyah di Indonesia adalah lebih difokuskan
pada pembahasan tauhid rububiyah ini. Allah dima’rifati sebagai yang wajibul
wujud, esa, berdiri sendiri, kekal, dan mnempunyai sifat-sifat kesempurnaan dan
mustahil mempunyai sifat-sifat kekurangan. Kajian sifat dua puluh hanya
membicarakan sebagian kecil sifat-sfat dan asma Allah yang amat banyak
diuraikan secara terinci dan jelas di dalam Al-Quraan dan hadis Nabi saw. Bila
kita kembali kepada sejarah pada saat diturunkannya Al-Quraan, orang-orang
musyrik Arab pada dasarnya mengakui tauhid rububiyah ini, akan tetapi mereka
tetap dianggap sebagai musyrik. Padahal bila ukurannya didasarkan pada
mengesakan Allah dengan tauhid rububiyah saja maka orang-orang musyrik
sebenarnya sudah memiliki dan berpegang teguh pada tauhid rububiyah. Namun
standarnya tidak terbatas pada tauhid rububiyah saja, tapi dilanjutkan pada
aplikasi tauhid rububiyah, yakni tauhid uluhiyah yang nanti akan kita bicarakan
lebih lanjut. Allah telah menjelaskan di dalam Al-Quraan bagaimana pengakuan
orang-orang kafir musyrik tentang keesaan Allah dalam bidang tauhid rububiyah
ini.

‫ولئن سئلتهم من خلق السموات والرض ليقولن خلقهن العزيز العليم‬


Artinya : Jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi”? Mereka akan menjawab; “Semuanya diciptakan
oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

Dalam surah Az-Zukhruf ayat 87 Allah berfirman :

3
‫ولئن سئلتهم من خلقهم ليقولن ال فأنى يؤفكون‬
Artinya : Jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang
menciptakan mereka’? niscaya mereka menjawab, “Allah”. Oleh karena itu,
bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?

Dan dalam ayat ke 31 surah Yunus Allah berfirman :

‫قل من يرزقكم من السماء والرض أمن يملك السمع والبصار ومن يخرج‬
‫الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ومن يدبر المر فسيقولون ال فقل‬
.‫أفل تتقون‬
Artinya : Katakan, ‘Siapakah yang memberi rezki kepada kalian dari langit
dan bumi atau siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala
urusan ?’ Mereka akan menjawab, “Allah”. lantas katakanlah, “Kenapa kalian
tidak bertakwa (kepada-Nya)”.

Berdasarkan ayat-ayat di atas dan banyak lagi ayat-ayat yang semakna


yang menjelaskan tentang pengakuan orang-orang musyrik Arab bahwa Allah itu
esa dan pencipta segala sesuatu, sedangkan mereka tetap dianggap musyrikin,
seperti firman Allah dalam surah Yusuf ayat 106 :

‫وما يؤمن اكثرهم بال ال وهم مشركون‬


Artinya : Kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, tetapi mereka
tetap mempersekutukan Allah.
Menurut sekelompok ulama salaf, “Pertanyaan yang diajukan kepada
orang-orang musyrik, siapakah pencipta langit dan bumi? Mereka pasti
menjawab, Allah”. Padahal disamping pengakuan mereka itu, mereka tetap
menyembah selain Allah.1
1
Abdurrahman bin Hasan, Fathul Majid Syarh Kitab at0Tauhid, Darul fikr, Beirut, 1992, hal.25.

4
SYIRIK RUBUBIYAH DAN REALITASNYA DALAM MASYARAKAT
ISLAM
Abu Bakar Al-Jazairi dalam kitabnya yang berjudul Aqidah Mu”min
menjelaskan secara panjang lebar mengenai realitas syirik rububiyah yang
melanda umat islam sekarang, sebagai berikut :
Pertama, kebanyakan umat Islam yang awam dan orang-orang senacam
mereka berkeyakinan bhwa di alam ini terdapat pemimpin spritual seperti para
wali dan orang-orang salwh yang mempunyai kemampuan bertindak secara
khusus dalam kehidupan manusia. Mereka menolong dan menyingkirkan,
memberi dan mencegaah, membahayakan memanfaatkan, sebagaimana yang
tersebar danpopuler dikalangan umat Islamyang awam bahwa para pemimpin
spritual itu mempunyai dewan (mahkamah pengadilan, kantor). Di atas dewan ini
diungkapkan dewannya orang-orang saleh. Dewan itu mengeluarkan berbagai
ketetapan dan ketentuan mengenai keuntungan dan kebehasilan fulan serta
kerugian dan kegagalannya.
Dari hal tersebut kebnyakan hati manusia berhubungan dengan orang-
orang salwh. Mereka dimintai pertolongan dan dipanggil ketika ada malapetaka.
Mereka juga diundang untuk menyelamatkan agar terhindar dari bencana.
Kenyataan i9ni merupakan realitas rububiyah, karena di dalamnya terkandung
keyakinan adanya tindakan dan pengaturan di dunia selain Allah.
Kedua, kebanyakan orang yang menghubung-hubungkan kepadailmu
pengetahuan berkeyakinan bahwa roh paraali dan orang-orang saleh
bisabertindak setelah mereka meningggal . keyakinan yang batil ini telah populer
dan meresap dalam diri kebanyakan orang Islam, sampai-sampai bru nisandan
kuburan menjadi jang kebohongn bagi orang yang takut dan menjadi rumah sakit
bago orang yngsakit. Orng yang terkena kesusahan, teraniaya atau tertimpa
bencana selalu minta pertolongan pada batu nisan dan kuburan itu. Dia tinggal

5
di halamannya dan berhubungan dengan rumbai-rumbai pemilknya (ahli kubur)
dengan berharap agarkesusahannya dihilangkan dan kebutuhannya dipenuhi.
Banyak sekali orang yang sakit pindah dan pergi kekuburan . di samping,
juga banyak orang yang mempunyai penyakit dan kebutuhan menuju dan
bermaksud ,e sana. Dia tinggal di halamannya dengan berharap kepada ahli
kubur, sampai-sampai ada ungkapan dikalangan orang-orang awam, “Jika kalian
kesulitan, pergilah dan memohonlah kepada ahli kubur”. Mereka datang dengan
meminta pertolongsn krpsds shli kubur dsn berdos di sampingnya.
Ketentuan semacam itu tidak diragukan oleh orang-orang mukmin yang
berakal bahwa perbuatan tersebut termasuk syirik riil (zhahir), karena di
dalamnya terkandung keyakinan bahwa roh para wali dapat bertindak untuk
memberi dan mencegah, membahyakan dan menolong. Kita tahu bahwa hal ini
adalah kekuasaan dan kewenangan rububiyah. Dengan demikian, mengatur
makhluk itu hanya khusus bagi Allah dan kewenangn-Nya.
Ketiga, takut kepada jin, minta pertolongan kepadanyadan menyajikan
korban untuknya sperti korban yang disembelihlingkaran lobang yang digali

DOA, ANTARA TAUHID DAN SYIRIK


Islam adalah agama yang sangat menekankan kepada umatnya untuk
mengesakan Allah (tauhidullah) yang merupakan tiang tonggak dari pondasi
bangunan Islam. Melakukan penyembahan hanya kepada Allah semata dan
meminta pertolongan pun juga hanya kepada-Nya pula merupakan implementasi
dan wujud nyata dari tauhidullah (pengesaan Allah dalam bidang tauhid
rububiyah); sebagaimana pengakuan yang selalu diucapkan berulang-ulang –
paling tidak 17 kali dalam sehari semalam – oleh orang yang mendirikan shalat,
yakni ayat ke 5 dari surah al-Fatihah
ُ ‫سَتِعْي‬
‫ن‬ ْ ‫ك َن‬
َ ‫ك َنْعُبُد َوِاَيا‬
َ ‫ِاَيا‬

6
Artinya : Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu
(pula) kami memohon pertolongan
Dan dalam ayat ke-2 surah Al-Ikhlash, Allah menegaskan kepada kita, bahwa
Allah adalah tempat kita menggantungkan segala harapan dan permohonan.
‫صَمُد‬
َ ‫ل ال‬
ُ ‫ا‬
Artinya : Allah tempat meminta segala sesuatu
Rasulullah saw pernah berwasiat kepada Abdullah bin Abbas agar
mengajukan permintaan dan permohonan pertolongan hanya kepada Allah, bukan
kepada yang lain. Rasulullah saw bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh
Turmudzi dari Ibnu Abbas rs :
ِ ‫ن ِبا‬
‫ل‬ ْ ‫سَتِع‬
ْ ‫ت َفا‬
َ ‫سَتَعْن‬
ْ ‫ل َوِاَذا ا‬
َ ‫لا‬
ِ ‫سَأ‬
ْ ‫ت َفا‬
َ ‫سَأْل‬
َ ‫ِاَذا‬

Artinya : Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah dan jika engkau
memohon prtolongan, mohonlah kepada Allah.

Di dalam Al-Quraan, Allah telah menegaskan bahwa Dia sangat dekat


dengan hamba-hamba-Nya, bahkan lebih dekat daripada urat nadi hamba itu
sendiri, sehingga apabila sang hamba menyeru atau berdoa kepada-Nya, Allah
akan mengabulkan segala permohonan yang disampaikan. Oleh sebab itu Allah
memerintahkan agar memenuhi segala perintah-Nya dan supaya beriman kepada-
Nya sebagai prasyarat diijabahkan segala permohonan dan permintaan.
‫وإذا سشألك عبشادى عنشى فشإنى قريشب أجيشب دعشوة الشداع إذا دعشان فليسشتجيبوا لشى‬
.(186 : ‫ (البقرة‬.‫وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون‬

Artinya : Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku,


maka {jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku akan mengabulkan
permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah
mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

‫وقال ربكم ادعوني استجب لكششم إن الششذين يسششتكبرون عشن عبششادتي سشيدخلون جهنششم‬
(60 : ‫ )المؤمن‬.‫داخرين‬

7
Artinya : Dan Tuhanmu berfirman; “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Ku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
dari meyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina”.

Dari uraian di atas, dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa ibadah hanya
boleh ditujukan kepada Allah semata, tidak kepada selain-Nya. Dan salah satu
bentuk ibadah adalah doa, maka doa juga hanya boleh dihadapkan dan
dimohonkan kepada Allah semata pula. Ini adalah salah satu prinsip dasar tauhid
yang mesti dipegang teguh dan diamalkan oleh setiap muslim. Dalam hadis
Rasulullah saw dijelaskan bahwa Doa adalah ibadah dan dalam riwayat kain
disebutkan doa itu inti ibadah.
Seiring dengan itu, Islam melarang syirik (mensekutukan) Allah dengan apa
dan siapa pun dari makhluk-Nya, yakni menjadikan sesuatu sebagai tandingan
bagi Allah atau melakukan penyembahan dan atau pemintaan pertolongan kepada
selain Allah seperti kepada batu, pohon, kuburan, matahari, bulan, nabi, syekh,
auliya, malaikat, atau berhala dan lain sebagainya, baik yang berhubungan
dengan tauhid rububiyah maupun tauhid uluhiyah. Syirik merupakan perbuatan
dosa yang amat besar dan tidak terampunkan oleh Allah, sebagaimana firman
Allah dalam Surah AnNisa ayat 48,
‫ان ال ل يغفر ان يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بال فقد افترى‬
‫اثما غظيما‬
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mensekutukan Allah, maka sungguh ia telah
berbuat dosa yang besar.

Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim


mengatakan, bahwa perbuatan syirik merupakan salah satu dosa paling besar
yang berada di atas dosa-dosa besar lainnya.

8
‫ الشراك بال وعقوق الوالدين وشهادة الزور‬: (‫أل أنبئكم بشأكبر الكبائر )ثلثا‬
Artinya : Perhatikanlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-
dosa yang paling besar - Rasulullah mengatakannya tiga kali – yaitu : (1) syirik
(mensekutukan) Allah, (2) durhaka kepada kedua orang tua, dan (3) memberikan
kesaksian palsu.

Perbuatan syirik adalah tindakan pelecehan dan penghinaan terhadap Allah


yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur alam ini. Membuat tandingan terhadap
Allah berarti menganggap Allah yang Maha Kuasa dan Perkasa itu lemah dan
tidak berdaya.
Orang yang melakukan syirik adalah orang yang kurang mempecayai
kekuasaan dan kasih sayang Allah untuk dapat mengabulkan segala permintaan
dan permohonan yang diajukann oleh hamba kepada-Nya. Mereka beranggapan
seakan-akan Allah tidak memperhatikan doa dan permohonannya, kalau tidak
melalui perantara yang dapat mempengaruhi Allah, karena Allah, menurut
anggapannya, tidak mau menerima permintaan dan permohonan dari orang-orang
biasa, kotor, banyak dosa. Allah hanya memperhatikan dan memperkenankan
doa, permohonan dan permintaan dari orang-orang salih, ahli ibadah, wali, dan
orang-orang suci. Sehingga ada sebagian orang ketika mempunyai hajat tertentu
atau dalam kesulitan dan ditimpa mara bahaya memanggil-manggil sambil
menyebut nama wali tertentu untuk menolongnya (sebagaimana diajarkan dalam
buku-buku manaqib orang tertentu), atau ketika hendak salat hajat seseorang
berdiri sambil mengucapkan kata-kata :sesembahan yang ditujukan kepada
orang-orang gaib, roh-roh suci dan serangkaian nama jabatan wali-wali dalam
konsep tasawuf, seperti ungkapan mereka :

9
‫ياغوث‬ .‫ السلم عليكم يا أرواح المقدسية‬.‫السلم عليكم يا رجال الغيب‬
‫ياقطب يااوتاد ياأبدال يانجباء اغيثونا بغوثة الش وانصششرونا بنصششرة الش وانظرونششا‬
‫بنظرة ال‬
Dari ungkapan di atas jelas tergambar bahwa permintaan sesuatu, berupa
istigatsah, pertolongan dan perlindungan yang ditujukan kepada wali-wali dan
orang-orang suci bersama Allah, yang berarti menjadikan mereka sebagai
tandingan-tandingan atau saingan kepada Allah. Menjadikan wali-wali itu
sebagai ilah-ilah selain Allah atau bersama Allah.
Dengan demikian, sebenarnya orang yang seperti ini telah berburuk sangka
terhadap Allah dan tidak mempunyai keyakinan yang mantap, bahwa Allah akan
mengabulkan segala permohonan dan permintaan yang diajukan oleh hamba
kepada-Nya. Dan orang yang seperti ini adalah orang yang tidak mempunyai
kemauan baik untuk memperbaiki diri dan bertaubat, mengakui segala kesalahan
dan dosa-dosa yang dilakukan serta enggan merendahkan diri mengakui segala
kelemahan, kekurangan dan keberhajatannya kepada Allah (sebagai hakikat dari
do’a yang merupakan inti ibadah), sehingga berlindung di belakang populritas,
nama besar dan bayang-bayang orang-orang suci, wali, atau orang salih, dalam
mengajukan permohonan dan doa dan menjadikan mereka sebagai perantara yang
dianggap dapat memberi syafaat atau penolong untuk mendekatkannya kepada
Allah.
Gambaran orang yang seperti itu sama halnya dengan orang-orang
musyrik arab jahili yang dalam tataran teoritis mengakui keesaan Allah dari
aspek tauhid rububiyah, akan tetapi mereka tetap dianggap musyrik bila dilihat
dari segi tauhid uluhiyah/ubudiyah, karena mereka menyembah kepada tuhan-
tuhan lain selain Allah dengan cara menghadapkan doa dan permohonan kepada
selain Allah yang mereka anggap sebagai penolong atau pemberi syafaat di sisi
Allah; dan mereka berdalih bahwa hal itu bukan sebagai penyembahan kepada
selain Allah, tetapi yang di panggil/diseru selain Allah itu mereka yakini dapat

10
mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya. Hal ini diungkapkan oleh
Allah dalam firman-Nya pada surah Az-Zumar ayat 3 :
‫ال ل الدين الخالص والذين اتخذوا مششن دون ال ش اوليششاء مانعبششدهم ال ليقربونششا‬
‫الى ال زلفى ان ال يحكم بينهم في ماهم فيه يختلفون ان الش ليهشدى مشن هشو كششذب‬
( 3 : ‫ ) الزمر‬.‫كفار‬
Artinya : Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari
syirik). Dan orang-orang yang mengambil penolong selain Allah (berkata) :
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan
di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya
Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta lagi sangat inkar.

Dari ayat di atas dapat kita ambil pelajaran, bahwa orang-orang musyrik
mengakui bahwa perbuatan mereka meminta dengan menyeru selain Allah atau
bersama Allah itu sebagai penolong bukan sebagai penyembahan kepada mereka,
tapi hanya untuk membantu mendekatkan kami kepada Allah, sehingga dengan
pertolongan mereka, Allah akan mengabulkan segala permintaan kami.
Pernyataan orang-orang musyrik tersebut merupakan sanggahan terhadap
perbuatan mereka yang dinilai oleh Al-Qur’aan sebagai perbuatan penyembahan
kepada selain Allah, sehingga terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat, dan
perselisihan tersebut nanti akan mendapatkan kata putus dari Allah, siapa
sebenarnya yang berpegang teguh pada tauhid yang bersih dari syirik dan siapa
pula yang telah mencampur-adukkan antara tauhid dan syirik. Ayat di atas
menyebutkan dua tipe keyakinan yang saling bertentangan atau berbeda secara
diametris, yaitu antara keyakinan tauhid yang murni yang menyatakan bahwa
hanya untuk Allah agama yang bersih dari kemusyrikan dan keyakinan syirik
dengan menjadikan selain Allah sebagai wali-wali (penolong-penolong) bersama
Allah.
Allah hanya memerintahkan orang-orang beriman untuk menyembah atau
menyeru (berdoa, menyembah, mengajukan permintaan/permohonan

11
pertolongan) hanya kepada Allah semata atau dengan istilah lain berdoa dengan
mengikhlaskan agama hanya kepada Allah semata, sebagaimana firman Allah
berikut ini.
(5 : ‫ )البينة‬.... ‫وما امروا ال ليعبدوا ال مخلصين له الدين حنفاء‬
Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyemah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.

Dalam surah Al-Mu”min ayat 65, Allah berfirman :


.‫هو الحي ل اله ال هو فادعوه مخلصين له الدين الحمد ل رب العالمين‬
Dialah Yang Hidup kekal, tiada tuhan melainkan Dia; maka sembahlah
{serulah) Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah
Tuhan semesta alam.

Dalam surah Al-A”raf ayat 29, Allah menegaskan :


‫قل امر ربي بالقسط واقيموا وجوهكم عند كل مسجد وادعوه مخلصين لششه‬
.‫الدين كما بدأكم تعودون‬
Artinya : Katakanlah, “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”, dan
(katakanlah), “Lurtuskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah
(serulah) Allah dengan mengikhlaskan ketaatankepada-Nya. Sebagaimana Dia
telah menciptakan alian pada permulaan (demikian pulalah) kalian akan kembali
kepada-Nya.

Seiring perintah Allah agar berdoa hanya kepada-Nya, maka Allah


melarang orang yang beriman berdoa kepada selian Dia, sebagaimana firman
Allah dalam surah Al-Qashash ayat 88;
‫ولتدع مع الش إلهششا أخششر ل إلششه إل هششو كششل ششيئ هالششك إل وجهششه لشه الحكششم واليششه‬
.‫ترجعون‬
Artinya : Dan janganlah kamu seru (sembah) tuhan lain bersama Allah.
Tidak ada tuhan (yang berhak disembah atau diseru) melainkan Dia. Tiap-tiap
sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan dan hanya
kepada-Nya lah kalian dikembalikan.

12
Dan orang yang menyeru atau menghadapkan doa kepada selain Allah
bersama Allah akan mendapat azab dari Allah. sebagaimana firman Allah dalah
surah Asy-Syu’ara ayat 213;
‫فل تدع مع ال إلها أخر فتكون من المعذبين‬
Artinya : Maka jaanganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di
samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di azab.

Islam melarang menyeru atau berdoa kepada selain Allah, sebab apa
yang diseru selain Allah tidak dapat memberi manfaat dan menolak mudarat dan
orang yang berdoa kepada selain Allah termasuk orang yang berbuat zalim. Allah
berfirman dalam surah Yunus ayat 106 :
‫ول تدع من دون ال مال ينفعك وليضرك فأن فعلت أذا من الظالمين‬
Artinya : Dan janganlah kamu menyembah (menyeru) selain Allah apa
yang tidak memberi manfaat kepadamu dan tidak pula memberi mudarat
kepadamu, sebab jika engkau melakukan itu, maka sesungguhnya engkau kalau
begitu termasuk orang-orang yang zalim.

Apa dan siapa pun yang diseru (dihadapkan doa kepadanya) selain Allah
adalah batil, bertentangan dengan kebenaran (alhaq) atau tidak sesuai dengan
tauhid yang murni. Hal ini dijelaskan oleh Allah secara gamblang dalam firman-
Nya pada surah Al-Hajj ayat 62 dan surah Luqman ayat 20 :
.‫ذلك بأن ال هوالحق وأن ما يدعون من دونه هو الباطل وأن ال هو العلى الكبير‬
Artinya : (kuasa Allah), yang demikian itu adalah karena sesungguhnya
Allah, Dialah tuhan Yang Hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru
selain Allah itulah yang batil. Sesungguhnya Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha
Besar.

Pada ayat lain, Allah menjelaskan bahwa yang diseru (dihadapkan doa
kepadanya) selain Allah itu adalah hamba-hamba seperti kita juga. Apabila
mereka diseru (berdoa kepada mereka), mereka pun tidak mampu mengabulkan
atau mengijabahi segala permintaan kita.

13
‫إن الذين تدعون من دون ال عباد أمثالكم فادعوهم فليستجيبوا لكم ان كنتم صدقين‬
Artinya : Sesungguhnya yang kalian seru selain Allah adalah hamba-hamba
serupa kalian (juga). Maka serulah mereka lalu biarkanlah mereka
memperkenankan untuk kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar.

Orang-orang yang diseru (disembah) selain Allah itu sebenarnya tidak


memiliki apa-apa walau setipis kulit ari. Bila diseru mereka pun tidak akan
mendengar seruan atau doa yang kita panjatkan. Dan kalaupun mendengar,
mereka tidak akan mampu mengabulkan pemohonan atau permintaan yang kita
ajukan kepada mereka. Bahkan pada hari kiamat, orang-orang yang diseru selain
Allah tersebut akan mengingkari syirik yang kita lakukan. Hal ini dijelaskan
dengan tegas dalam firman Allah pada surah Fathir ayat 13 dan 14 :
‫( إن تششدعوهم ليسششمعون‬13) ‫ والذين تدعون من دونه ما يملكون من قطميششر‬........
‫دعاءكم ولو سمعوا ما اسششتجابوا لكششم ويششوم القيمششة يكفششرون بشششرككم ولينششبئك مثششل‬
(14) ‫خبير‬
Artinya : Dan orang=orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tiada
mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka,
mereka tidak mendengar seruan kalian itu; dan kalau mereka mendengar, mereka
tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat mereka akan
mengingkari kemusyrikan kalian dan tidak ada yang dapat memberikan
keterangan kepada kalian sebagai yang diberikan oleh yang Maha Mengetahui.

Allah memerintahkan Rasulullah saw untuk menantang orang-orang


musyrik agar menyeru atau memanggil apa/siapa yang mereka anggap sebagai
tuhan-tuhan selain Allah. Allah memastikan bahwa yang diseru selain Allah itu
tidak akan mampu mengelakkan mereka dari segala bahaya dan tidak pula
mampu mengalihkan bahaya tersebut kepada yang lain. Padahal orang-orang
yang diseru selain Allah sendiri mencari jalan atau sarana (wasilah) kepada Allah
dengan melakukan ketaatan dan taqarrub kepada Allah dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut terhadap azab-Nya. Karena mereka sadar bahwa azab
Allah itu amat ditakuti. Allah berfirman dalam surah Al-Isra ayat 56-57.

14
(56) ‫قل ادعوا الذين زعمتششم مششن دونششه فليملكششون كشششف الضششر عنكششم ولتحششويل‬
‫أولئك الذين يدعون يبتغون الى ربهم الوسيلة أيهم اقرب ويرجون رحمتششه ويخششافون‬
(57) ‫عذابه إن عذاب ربك كان محذورا‬
Artinya : Katakanlah; “Panggillah (serulah) mereka yang kamu anggap
(tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mampu mengelakkan bahaya dari
kamu dan tiada (juga) pengalihan (memindahkannya). Orang-orang yang mereka
seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara
mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan
takut akan siksa-Nya. Sesungguhnya azab Rabb kamu adalah suatu yang harus
ditakuti.

Ayat-ayat yang telah kita sampaikan pada uraian di atas, bukan hanya
sekedar cerita dan sanggahan terhadap orang-orang musyrik di masa Rasulullah
saw saja, tetapi juga ditujukan kepada umat Islam di segala zaman, supaya
menjadi perhatian dan pelajaran bagaimana sebenarnya I’tiqad atau keyakinan
tauhid yang murni yang terbebas dari aroma kemusyrikan walau sekecil apapun.
Sehingga seorang muslim akan terhindar dari noda syirik yang dosanya tidak
terampunkan oleh Allah SWT.
Jadi ibadah adalah suatu ungkapan yang mempunyai makna dan bentuk
yang amat luas cakupannya, dan di antara bentuk ibadah itu adalah doa, bahkan
doa adalah inti ibadah. Oleh sebab itu doa permohonan hanya boleh dihadapkan
atau diajukan kepada Allah semata, tidak boleh doa itu dihadapkan kepada selain
Allah dan atau bersama Allah dan ini adalah perbuatan syirik yang nyata,
sebagaimana dijelaskan oleh banyak ayat Al-Quraan di atas. Minta hanya kepada
Allah dan memohon pun hanya kepada Allah, sehingga kita terhindar dari syirik
yang akan membawa kita masuk ke dalam neraka jahannam. Na’udzu billahi
min dzalik.
Ada suatu perbuatan yang sangat aneh dan menyimpang yang dilakukan
oleh sebagian umat Islam dalam berdoa ketika menghadapi kondisi atau keadaan
yang sulit dan bahaya. Mereka tidak mengikhlaskan doanya hanya kepada Allah,
tetapi menghadapkan doa kepada selain Allah secara mutlak. Dan perbuatan

15
sebagian orang Islam ini sangat bertolak belakang dengan orang-orang kafir
musyrik dalam menghadapi situasi yang sulit dan bahaya, mereka malah
mengikhlaskan doa mereka hanya kepada Allah semata dan melupakan segala
sekutu yang mereka buat-buat atau ciptakan secara dusta terhadap Allah pada
saat-saat keadaan biasa dan normal.
Sebagain orang Islam mengajukan permintaan atau doa kepada seorang
wali yang dianggapnya dapat menolong dan mengabulkan permohonannya untuk
menghindarkan bahaya atau dapat menolongnya melancarkan atau memudahkan
segala kesulitan yang dihadapi. Dia memanggil-manggil, “wahai wali fulan
tolonglah aku” atau “wahai wali fulan mudahkanlah isteriku dalam melahirkan”,
dan ungkapan-ungkapan lain yang senada yang dihadapkan kepada wali-wali
tertentu untuk dapat menolongnya. Sebagian orang Islam melakukan hal ini
karena kepada mereka diajarkan doa yang salah oleh penyusun manaqib wali
tertentu – walaupun wali tersebut sebenarnya berlepas diri dari keyakinan yang
demikian. Dalam sebuah buku manaqib diajarkan, apabila mengahapi keadaan
sulit dan bahaya untuk memanggil dia meminta pertolongan kepadanya,
sebagaimana dinaskan :
“Barangsiapa menyeru aku (ya Saman atau ya Abdul Qadir Jailani) - tiga kali
- ketika mendapat kesusahan dunia ataupun kesusahan akhirat, niscaya hadirlah
aku serta aku tolong dia”.
Memperhatikan ungkapan di atas, jelas sekali bahwa sebagian orang Islam
disuruh untuk menghadapkan doa, menyeru atau memanggil wali-wali tertentu
untuk membantu melepaskan dia dari segala kesulitan dan marabahaya yang
dihadapi dan seakan sama sekali tidak ada kaitannya dengan Allah. Allah sama
sekali tidak menjadi perhitungan dan seakan-akan walilah yang menjadi tuhan
penentu dan pengatur alam ini, sehingga dialah yang mampu menolong dan
menghilangkan kesusahan dan kesulitan yang dahapi penyeru-penyerunya.
Bahkan wali dianggap mampu membantu menghilangkan kesusahan dunia, tapi

16
lebih lancang lagi kesusahan akhirat, yang sebenarnya merupakan hak prerogatif
(mutlak) Allah semata.
Praktek berdoa, menghadapkan permohonan kepada wali-wali atau
berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan yang bertentangan dengan tauhid
yang murni, sebagaimana kita jelaskan pada bagian lalu. Di samping itu Allah
menegaskan kepada kita, agar tidak menyuruh manusia untuk menjadikan
malaikat dan nabi-nabi, apalagi hanya sekedar seorang wali, sebagai tuhan-tuhan
selain Allah. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 79-80.
‫ماكان لبشر ان يؤتيه ال الكتاب والحكم والنبوة ثم يقششول للنششاس كونششوا عبششادا‬
‫لى من دون ال ولكن كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب وبما كنتم تدرسون‬
‫( ول يششأمركم ان تتخششذوا الملئكششة والنششبيين اربابششا أيششأمركم بششالكفر بعششد إذ انتششم‬79)
(80) ‫مسلمون‬
Artinya : Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan
kepadanya kitab, hukum, dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia;
“Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah”.
Akan tetapi (dia berkata); “Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani”,
karena kalian selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kalian tetap
mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula) menyuruh kalian menjadikan malaikat
dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kalian berbuat
kekafiran di saat kalian telah menjadi orang yang berserah diri (muslim),

Syekh Abdul Qadir Jailani sebagai salah seorang wali yang dipanggil atau
diseru untuk dimintai pertolongannya guna menghilangkan kesusahan dan
bahaya, dalam bukunya al-Fath al-Rabbani sebagaimana dikutip oleh penulis
buku Asy-Syekh Abdul Qadir Al-Jailani wa Araauhu al-I’tiqadiyah wa ash-
Shufiyah, menasehatkan :
“Berbuat ikhlaslah, janganlah kalian berbuat syirik, esakanlah Allah SWT,
dan janganlah menyelinap dari pintu-Nya. Mintalah kepada-Nya dan jangan
meminta kepada selain-Nya. Mintalah pertolongan kepada-Nya dan janganlah
meminta pertolongan kepada selain-Nya. Bertawakkallah kepada-Nya dan jangan
bertawakkal kepada selain-Nya.

17
Menghadapkan doa kepada selain Allah yang dilakukan oleh sebagian
muslim ini sangat berbeda dengan sikap dan perilaku orang musyrikin dalam
menghadapi kesulitan dan bahaya yang menghadang mereka. Di dalam Al-
Quraan dijelaskan bahwa orang kafir musyrikin mengikhlaskan doa mereka
kepada Allah semata ketika mengalami kesulitan, padahal mereka terkenal
sebagai masyarakat yang mensekutukan Allah dengan berbagai berhala
(sesembahan lain bersama Allah). Allah berfirman dalam surah Az-Zumar ayat
8:
‫وإذا مس النسان ضردعا ربه منيبا اليه ثم اذا خوله نعمششة منششه نسششي مششا كششان‬
‫يدعوا اليه من قبل وجعل ل أندادا ليضل عن سبيله قششل تمتششع بكفششرك قليل إنششك مششن‬
.‫أصحاب النار‬
Artinya : Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon
(pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya, kemudian apabila
Tuhan memberikan ni’mat-Nya kepadanya lupalah dia lupa akan kemudaratan
yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu,
dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia)
dari jala-Nya. Katakanlah; “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu
sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka”.

Ketika mereka menghadapi bahaya dalam pelayaran di lautan, orang-orang


musyrik berdoa, menyeru meminta pertolongan hanya kepada Allah dengan
mengikhlaskan agama (ketaatan) kepada Allah, tetapi begitu terlepas dari bahaya
sampai kedaratan, mereka pun kembali kepada kemusyrikan, sebagaimana
dijelaskan Allah dalam surah Al-‘Ankabut ayat 65 :
‫فإذا ركبوا فى الفلك دعوا ال مخلصششين لششه الششدين فلمششا نجهششم فششى الششبر إذاهششم‬
.‫يشركون‬
Artinya : Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah
dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelematkan
dan sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).

18
Masih ada beberapa ayat lain yang semakna dengan kedua ayat di atas,
seperti ayat 67 dari surah Al-Isra, ayat 33 surah Ar-Ruum, dalam surah Luqman
ayat 32 dan lain-lain.
Dengan memperhatikan dua kelompok manusia di atas, tergambar dua
sikap dan perilaku yang saling kontradiksi dalam menyikapi dua kondisi yang
berbeda. Sebagian orang Islam yang mengaku dirinya muslim dalam keadaan
biasa dan normal mereka mengajukan doa hanya kepada Allah, tetapi bila dalam
keadaan terjepit dan menghadapi bahaya mereka mengajukan permohonan dan
doa kepada selain Allah atau kepada wali-wali tertentu yang mereka anggap
mampu memberikan pertolongan dan dapat mengabulkan permintaanya, sehingga
dalam kondisi seperti ini ia terjebak dalam kemusyrikan; sedangkan orang-orang
musyrik dalam menghadapi keadaan sulit dan bahaya mereka menjadi seorang
mukhlis menghadapkan doa kepada Allah semata, tetapi bila sudah terbebas dari
bahaya, mereka pun kembali pada keyakinan kemusyrikan.
Apa yang mesti kita harus perbuat apabila kita berdoa, meminta dan
memohon sesuatu? Allah telah memerintahkan kita supaya berdoa dengan
menggunakan atau menyebut nama-nama Allah yang terbaik (al-asmaul husna)
dan jangan sekali-kali menyimpang dari kebenaran (ilhad) dalam menyebut
asma-Nya.
‫ول السماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون فى أسششمائه سششيجزون مششا‬
(180 : ‫كانوا يعملون )العراف‬
Artinya : Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmaul husna tersebut dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka
akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

‫بارك ال لى ولكشم فشى القشران العظيشم ونفعنشى وايشاكم بمشا فيشه مشن اليشات والشذكر‬
‫ أقول قولى هششذا وأسششتغفر ال ش‬.‫ فتقبل منى ومنكم تلوته إنه هو السميع العليم‬.‫الحكيم‬
.‫ فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم‬.‫لى ولكم ولسائر المسلمين‬

19
Marabahan, Jumat 24 Maret 2006 M
24 Shafar 1427 H

20