Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja adalah masa di mana seorang individu mengalami
peralihan dari masa anak-anak menuju ke dewasa. Sebelum dewasa
individu akan mengalami masa dimana terjadi peralihan untuk benar-benar
mematangkan dirinya menuju masa dewasa. Dewasa adalah masa yang
paling rawan yang dihadapi individu sebagai anak. Dari yang tadinya
anak-anak mereka mengalami perkembangan secara fisik maupun psikis
dengan beberapa perubahan. Orang tua yang memiliki anak tentu akan
menghadapi hal ini ketika membesarkan anak mereka, anak yang beranjak
remaja akan mengalami perubahan sesuai dengan pertumbuhan norma
seorang anak. Kaitannya masa remaja disebut sebagai masa yang rawan
yaitu ancaman yang mengintai anak yang beranjak remaja yaitu
‘kenakalan remaja’. Kenakalan tadi bisa disebut sebuah penyimpangan
yang dilakukan oleh anak remaja yang mengakibatkan masalah dalam
masyarakat. Penyebab dari kenakalan remaja tidak hanya satu ataupu dua
penyebab saja, pada dasarnya remaja akan membentuk suatu kelompok
sendiri, yang memiliki kesamaan tertentu yang pada akhirnya akan
menjadi identitas. Hal ini sesuai dengan pandangan Erikson bahwa dalam
masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari orang tua
dengan maksud untuk menemukan dirinya, dan proses tersebut dikatakan
sebagai proses mencari identitas ego.1
Dan hal inilah yang mendasari terjadinya kenakalan remaja dalam
masyarakat.
Dan pada makalah ini, kami membahas tentang apa yang dimaksud
dengan kenakalan remaja, jenis-jenisnya, faktor penyebabnya, kenakalan
remaja pada daerah pesisir, dan cara penanggulangannya.

1
Erikson dalam Monks, F.1, dkk.2006. Psikologi Perkembangan. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta. Hlm. 282

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang terdpat pada makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan kenakalan remaja?
2. Apa saja yang termasuk jenis kenakalan remaja?
3. Apa faktor yang menyebabkan kenakalan remaja?
4. Bagaimana kasus kenakalan remaja pada masyarakat pesisir?
5. Bagaimana cara penanggulangan pada kasus kenakalan remaja?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu:
1. Untuk memberitahu pengertian dari kenakalan remaja.
2. Memberitahu jenis-jenis kenakalan remaja.
3. Memberitahu faktor-faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.
4. Memberitahu kasus kenakalan remaja pada masyarakat pesisir.
5. Memberitahu cara penanggulangan pada kasus kenakalan remaja.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kenakalan Remaja


Kartini Kartono mengatakan remaja yang nakal itu disebut pula
sebagai anak cacat sosial. Mereka menderita cacat mental disebabkan oleh
pengaruh sosial yang ada ditengah masyarakat, sehingga perilaku mereka
dinilai oleh masyarakat sebagai suatu kelainan dan disebut “kenakalan”2.
Kenakalan remaja merupakan tingkah laku yang yang melampaui
batas toleransi orang lain atau lingkungan sekitar serta suatu tindakan yang
dapat melanggar norma - norma dan hukum. Secara sosial kenakalan
remaja ini dapat disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga
remaja ini dapat mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
Sumiati (2009), mendefinisikan kenakalan remaja adalah suatu perilaku
yang dilakukan oleh remaja dengan mengabaikan nilai – nilai sosial yang
berlaku di dalam masyarakat. Hurlock (1999), menyatakan kenakalan
remaja adalah tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh remaja,
dimana tindakan tersebut dapat membuat seseorang atau remaja yang
melakukannya masuk kedalam penjara. Gunarsa (2004), mendefinisikan
kenakalan remaja itu terjadi pada remaja yang mempunyai konsep diri
lebih negatif dibandingkan dengan remaja yang tidak bermasalah. Remaja
yang dibesarkan dalam keluarga kurang harmonis dan memiliki
kecenderungan yang lebih besar menjadi remaja yang nakal dibandingkan
remaja yang dibesarkan dalam keluarga harmonis dan memiliki konsep
diri yang positif. Berdasarkan beberapa pendapat dari para tokoh diatas,
jadi yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah kecenderungan
remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat
mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri
maupun orang lain.

2
Kartini Kartono. 1988.Psikologi Remaja. Bandung : PT.Rosda Karya. Hlm. 93

3
B. Jenis – Jenis Kenakalan Remaja
1. Menurut Gunarsa (2004), jenis - jenis kenakalan remaja dibagi menjadi
dua, yaitu :
a. Kenakalan yang bersifat amoral dan asosial yang tidak diatur dalam
undang – undang, sehingga sulit digolongkan sebagai pelanggaran
hukum
b. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaiannya
sesuai dengan undang – undang dan hukum yang berlaku sama
dengan perbuatan hukum bila dilakukan pada orang dewasa.
2. Menurut Kartono (2003), jenis – jenis kenakalan remaja, meliputi:
a. Kenakalan biasa, seperti ; suka berkelahi, suka keluyuran,membolos
sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit, berkelahi dengan teman dan
berkeluyuran.
b. Kenakalan yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan, seperti ;
mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang tua tanpa ijin,
mencuri, dan kebut – kebutan.
3. Kenakalan khusus, seperti ; penyalahgunaan narkoba, hubungan seks
diluar nikah, pemerkosaan, aborsi, dan pembunuhanperilaku kenakalan
remaja dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Kenakalan Remaja Terisolir (Delinkuensi Terisolir)
Kelompok ini merupakan jumlah terbesar dari kenakalan remaja.
Pada umumnya mereka tidak menderita kerusakan psikologis.
Perbuatan nakal mereka didorong oleh faktor – faktor berikut:
 Keinginan meniru dan ingin konform dengan gangnya, jadi tidak
ada motivasi, kecemasan atau konflik batin yang tidak dapat
diselesaikan.
 Kebanyakan berasal dari daerah kota yang transisional sifat yang
memiliki subkultur kriminal.
 Pada umumnya remaja berasal dari keluarga berantakan, tidak
harmonis, dan mengalami banyak frustasi.
 Remaja dibesarkan dalam keluarga tanpa atau sedikit sekali
mendapatkan supervisi dan latihan kedisiplinan yang teratur,

4
sebagai akibatnya dia tidak sanggup menginternalisasikan norma
hidup normal.
Kenakalan remaja ini disebabkan karena faktor lingkungan terutama
tidak adanya pendidikan kepada anak, sehingga anak cenderung
bebas untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
b. Kenakalan Remaja Neurotik (Delinkuensi Neurotik)
Pada umumnya, kenakalan remaja tipe ini menderita gangguan
kejiwaan yang cukup serius, antara lain berupa kecemasan, merasa
selalu tidak aman, merasa bersalah dan berdosa dan lain sebagainya.
Ciri – ciri perilakunya adalah:
 Perilaku nakalnya bersumber dari sebab – sebab psikologis yang
sangat dalam, dan bukan hanya berupa adaptasi pasif menerima
norma, dan nilai subkultur gang yang kriminal itu saja.
 Perilaku kriminal mereka merupakan ekspresi dari konflik batin
yang belum terselesaikan.
 Biasanya remaja ini melakukan kejahatan seorang diri, dan
mempraktekkan jenis kejahatan tertentu.
 Remaja nakal ini banyak yang berasal dari kalangan menengah.
 Remaja memiliki ego yang lemah, dan cenderung mengisolir diri
dari lingkungan.
 Motif kejahatannya berbeda – beda.
 Perilakunya menunjukkan kualitas kompulsif (paksaan).
c. Kenakalan Remaja Psikotik (Delinkuensi Psikopatik)
Delinkuensi psikopatik ini sedikit jumlahnya, akan tetapi dilihat dari
kepentingan umum, dan segi keamanan, kenakalan remaja ini
merupakan oknum kriminal yang paling berbahaya. Ciri tingkah laku
mereka adalah:
 Hampir seluruh remaja delinkuen psikopatik ini berasal dan
dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang ekstrim,
brutal,diliputi banyak pertikaian keluarga.
 Mereka tidak mampu menyadari arti bersalah, berdosa, atau
melakukan pelanggaran.

5
 Bentuk kejahatannya majemuk, tergantung pada suasana hatinya
yang kacau, dan tidak dapat diduga.
 Mereka selalu gagal dalam menyadari dan menginternalisasikan
norma – norma sosial yang umum berlaku, juga tidak peduli
terhadap norma subkultur gangnya sendiri.
 Kebanyakan dari mereka juga menderita gangguan neurologis,
sehingga mengurangi kemampuan untuk mengendalikan diri
sendiri. Psikopat merupakan bentuk kekalutan mental dengan
karakteristik sebagai berikut ; tidak memiliki pengorganisasian
dan integrasi diri, orangnya tidak pernah bertanggung jawab
secara moral, selalu mempunyai konflik dengan norma sosial dan
hukum. Mereka sangat egoistis, anti sosial, dan selalu menentang
apa, dan siapapun tanpa sebab.
Kenakalan remaja ini pada tahap yang serius karena mengarah ke
kriminal, dan sadisme. Kenakalan ini dipicu adanya perilaku turunan
atau tingkah laku dari keluarga (orang tua) yang berbuat sadis,
sehingga anaknya cenderung untuk meniru.
d. Kenakalan Remaja Defek Moral (Delinkuensi Defek Moral)
Defek (defect, defectus) artinya rusak, tidak lengkap, salah, cedera,
cacat, kurang. Kenakalan remaja defek moral mempunyai ciri – ciri ;
selalu melakukan tindakan anti sosial, walaupun pada dirinya tidak
terdapat penyimpangan, namun ada disfungsi pada inteligensinya.
Kelemahan remaja delinkuen tipe ini adalah mereka tidak mampu
mengenal dan memahami tingkah lakunya yang jahat, juga tidak
mampu mengendalikan dan mengaturnya, mereka selalu ingin
melakukan perbuatan kekerasan, penyerangan dan kejahatan, rasa
kemanusiaannya sangat terganggu, sikapnya sangat dingin tanpa
afeksi jadi ada kemiskinan afektif, dan sterilitas emosional. Terdapat
kelemahan pada dorongan Instinktif yang primer, sehingga
pembentukan super egonya sangat lemah. Impulsnya tetap pada taraf
primitif sehingga sukar dikontrol dan dikendalikan. Mereka merasa
cepat puas dengan prestasinya, namun perbuatan mereka sering

6
disertai agresivitas yang meledak. Remaja yang defek moralnya
biasanya menjadi penjahat yang sukar diperbaiki. Mereka adalah
para residivis yang melakukan kejahatan karena didorong oleh naluri
rendah, impuls, dan kebiasaan primitif, di antara para penjahat
residivis remaja, kurang lebih 80 % mengalami kerusakan psikis,
berupa disposisi, dan perkembangan mental yang salah, jadi mereka
menderita defek mental. Hanya kurang dari 20 % yang menjadi
penjahat disebabkan oleh faktor sosial atau lingkungan sekitar.
4. Jensen (dalam Sarwono, 2010) membagi kenakalan remaja menjadi
empat bentuk:
a. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain:
perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan, dan lain – lain.
b. Kenakalan yang meninbulkan korban materi: perusakan, pencurian,
pencopetan, pemerasan, dan lain – lain.
c. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan korban di pihak orang
lain; pelacuran, penyalahgunaan obat, hubungan seks bebas.
d. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak
sebagai pelajar dengan cara membolos, minggat dari rumah,
membantah perintah.

C. Faktor Penyebab Kenakalan Remaja


Kenakalan remaja bukan semata-mata di akibatkan oleh kondisi
dari remaja yang seharusnya dihadapi. Ada beberapa remaja yang dapat
melalui masa remaja dengan baik dan lancar tanpa melakukan
penyimpangan yang dianggap sebagai masalah sosial. Hal itu menandakan
bahwa kenakalan remaja juga dipengaruhi faktor-faktor tertentu baik
eksternal maupun internal.
1. Faktor internal:
 Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan
terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan
akan konsistensi dalam kehidupannya.

7
Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena
remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
 Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku
yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret
pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui
perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa
mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
2. Faktor eksternal:
 Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota
keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu
perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun,
seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan
agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi
penyebab terjadinya kenakalan remaja.
 Teman sebaya yang kurang baik.
 Komunitas/lingkungan/sekolah/ tempat tinggal yang kurang baik3.
Penyebab tadi menjadi faktor yang paling sering terjadi di
masyarakat kaitannya dengan kenakalan remaja yang terjadi. Jika
dilihat faktor internal lebih menekankan pada segi psikologis dari
yang dihadapi remaja sehingga menyebabkan remaja melakukan
penyimpangan. Sedangkan faktor eksternal lebih menekankan pada
sosiologis atau lingkungan baik lingkungan keluarga, pertemanan
atau sosialisasi dan masih banyak lingkungan lain yang menjadi
faktor remaja melakukan penyimpangan, dengan seperti itu maka
kenakalan remaja bisa jadi di sebabkan karena masyarakat yang
tidak berfungsi secara benar dalam memberikan kontribusinya pada
individu yaitu remaja sehingga menyebabkan terjadinya kenakalan
remaja.

3
Eva Imania Eliasa, KENAKALAN REMAJA : PENYEBAB & SOLUSINYA, Yogyakarta, Hlm.4-5

8
D. Kasus Kenakalan Remaja Pada Masyarakat Pesisir
1. Pengertian Masyarakat pesisir
Masyarakat pesisir adalah sekelompok masyarakat yang dipengaruhi
oleh laut baik sebagian besar atau pun seluruh kehidupannya. Mata
pencaharian utama di daerah pesisir adalah nelayan. Definisi lainnya
adalah kelompok orang atau suatu komunitas yang tinggal di daerah
pesisir dan sumber kehidupan perekonomiannya bergantung secara
langsung pada pemanfaatan sumberdaya laut dan pesisir. Mereka terdiri
dari nelayan pemilik, buruh nelayan, pembudidaya ikan dan organisme
laut lainnya, pedagang ikan, pengolah ikan, supplier factor sarana
produksi perikanan. Dalam bidang non-perikanan, masyarakat pesisir
bisa terdiri dari penjual jasa transportasi dan lain-lain.
2. Karakteristik masyarakat pesisir berbeda dengan karakterisik
masyarakat agraris atau petani. Dari segi penghasilan, petani
mempunyai pendapatan yang dapat dikontrol karena pola panen yang
terkontrol sehingga hasil pangan atau ternak yang mereka miliki dapat
ditentukan untuk mencapai hasil pendapatan yang mereka inginkan.
Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir yang mata pencahariannya
didominasi dengan pelayan. nelayan bergelut dengan laut untuk
mendapatkan penghasilan, maka pendapatan yang mereka inginkan
tidak bisa dikontrol. Nelayan menghadapi sumberdaya yang bersifat
open acces dan beresiko tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat
pesisir sepeti nelayan memiliki karakter yang tegas, keras, dan
terbuka”.
3. Dilihat dari aspek pengetahuan, masyarakat pesisir mendapat
pengetahuan dari warisan nenek moyangnya misalnya mereka untuk
melihat kalender dan penunjuk arah maka mereka menggunakan rasi
bintang.
4. Dilihat dari aspek kepercayaan, masyarakat pesisir masih menganggap
bahwa laut memilki kekuatan magic sehingga mereka masih sering
melakukan adat pesta laut atau sedekah laut.

9
Sehingga, dari beberapa penjelasan tentang masyarakat pesisir di
atas, ditemukanlah beberapa kasus kenakalan remaja yang timbul akibat
kondisi didaerah pesisir. Adapun kasus kenakalan remaja yang ditemukan
pada masyarakat pesisir, yaitu:

1. Kasus Pencabulan
2. Kasus Pencurian
3. Kasus Perampasan
4. Kasus Penipuan
5. Kasus Penganiayaan dengan atau tanpa alasan
6. Kasus Pemerkosaan

Beberapa kenakalan itu terjadi disebabkan adanya keinginan untuk


mencari tambahan makan, adanya dendam masa lalu, kurangnya
pengetahuan, kurangnya perhatian orang tua, kurangnya nilai religi.

E. Cara Penanggulangan Kenakalan Remaja


Untuk permasalahan kenakalan remaja cara penanggulangannya di
bagi menjadi tiga yaitu keadaan keluarga, lingkungan sekolah, dan
masyarakat akan dijelaskan secara rinci untuk keadaan keluarga dan untuk
lingkungan sekolah dan masyarakat secara singkat.
A. Keadaan Keluarga
1. Keluarga yang harmonis sangat menentukan untuk menciptakan
lingkungan yang baik dalam suasana kekeluargaan dan menjadi
pusat ketenangan hidup
2. Keluarga berfungsi sebagai pusat kehidupan dan kebudayaan. Untuk
mencapai tujuan itu perlua diusahakan/dilakukan:
 Memberi tugas yang sesuai dengan kemampuan anak.
 Mendorong minat anak untuk mengembangkan bakat

10
 Menciptakan suasana yang edukatif, yaitu dengan membiasakan
anak sejak kecil untuk membaca buku-buku yang bermutu, dan
perlu mengontrol bacaan-bacaan yang dapat merugikan
perkembangan jiwa.
 Melatih hidup untuk disiplin diri sejak kecil, tanpa perlu
menggunakan kekerasan atau paksaan yang mengakibatkan jiwa
anak menjadi kerdil.
 Memperhatikan kebutuhan rekreasi bersama secara sederhana
tanpa mengurangi keakraban.
 Kesempatan yang cukup untuk mengadakan dialog untuk saling
terbuka antar sesama anggota keluarga.
 Agar tidak terjerumus dalam “kesibukan” atau rutinisme perlu
dibuat jadwal untuk acara keluarga.
 Menanamkan nilai-nilai religius, misalnya ibadah keluarga setiap
hari sebagai santapan rohani.
3. Nuclear family, yaitu lengkapnya struktur keluarga, sehingga
terdapat keutuhan dalam interaksi. Masing-masing dari orang tua
harus ada kesefahaman tentang norma-norma yang harus dianut
untuk pendidikan anak, sehingga tidak membingungkan atau
menimbulkan konflik. Perlu ada saling pengertian dan saling
membantu dalam melaksanakan tugas tanggung jawab: dalam hal ini
tugas orang tua sebagai pendidik.
 Peranan Ayah dapat dirumuskan:
a. Sumber kekuasaan, dan dasar identifikasi
b. Bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga
c. Pelindung ancaman dari luar
d. Penghubung dunia luar
e. Pendidik dari segi “rasional”
 Peranan Ibu dapat dirumuskan:
a. Pemberi rasa aman, sumber kasih sayang
b. Tempat mencurahkan isi hati (peranan ayah pula)
c. Pengatur kehidupan rumah tangga

11
d. Pembimbing kehidupan rumah tangga
e. Pendidik segi emosional
f. Penyimpan tradisi
4. Memberikan bimbingan sebagai: Usaha untuk menemukan,
menganalisa, dan memecahkan kesulitan yang dihadapi anak dalam
hidupnya. Jadi tugas orang tua adalah:
 Berusaha mengerti pribadi anak-anaknya.
 Memupuk kesanggupan untuk menolong diri sendiri dalam
mengatasi masalah.
 Untuk mengembangkan potensi/bakat anak yang ada.
 Membimbing untuk mampu menyesuaikan diri terhadap
lingkungan sekitarnya.
 Membimbing kepada kepada ketaatan dan kasih, nilai-nilai,
agama dan moral4.
B. Lingkungan sekolah
Lingkungan sekolah seharusnya juga dapat berkontribusi untuk
penanggulangan kenakalan remaja dengan menciptakan suasana belajar
yang dapat memicu kreatifitas dari murid-murid secara lebih sehingga
potensi remaja dalam melakukan penyimpangan dapat tercegah dengan
kegiatan yang lebih bermanfaat di sekolah. Lebih lanjut sekolah pun
juga berkoordinasi dengan orang tua murid untuk saling memantau apa
yang dilakukan murid sehingga jika ada indikasi penyimpangan akan
cepat tertangani.
C. Masyarakat
Untuk masyarakat walaupun di masa era postmodern ini, fungsi
masyarakat terganggu oleh budaya individualis, namun meski begitu
masyarakat perlu lah tetap disosialisasikan untuk kemungkinan-
kemungkinan yang tidak terduga. Sehingga masyarakat perlu bertindak
pengawasan dan tindakan yang tegas jika memang diperlukan untuk
dapat mencegah adanya kenakalan remaja.

4
Mulyono, Bambang. 2001. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulanganya.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hlm. 53-54

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang terdapat pada pembahasan kenakalan remaja
ini, yaitu:
1. Remaja adalah masa di mana seorang individu mengalami peralihan
dari masa anak-anak menuju ke dewasa.
2. Kaitannya masa remaja disebut sebagai masa yang rawan adalah
ancaman yang mengintai anak yang beranjak remaja yaitu ‘kenakalan
remaja’. Kenakalan tadi bisa disebut sebuah penyimpangan yang
dilakukan oleh anak remaja yang mengakibatkan masalah dalam
masyarakat.
3. Kenakalan remaja di sebabkan oleh dua hal utama yaitu faktor internal
psikologis dari remaja dan juga faktor eksternal kondisi sosiologis atau
lebih kepada lingkungan.
4. Kasus kenakalan remaja yang yag muncul di masyarakat pesisir
biasanya disebabkan karena faktor lingkungan
5. Penanggulanga kenakalan remaja dapat dilakukan dari segi sosiologis
yaitu dengan tiga hal utama yang harus diperhatikan keadaan keluarga,
lingkungan sekolah dan masyarakat

13
DAFTAR PUSTAKA
Erikson dalam Monks, F.1, dkk.2006. Psikologi Perkembangan. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta

Eva Imania Eliasa, Kenakalan Remaja : Penyebab & Solusinya. Yogyakarta,


Hlm.4-5

Kartini Kartono. 1988.Psikologi Remaja. Bandung : PT.Rosda Karya.

Mulyono, Bambang. 2001. Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan


Penanggulanganya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

14