Anda di halaman 1dari 8

Dii Annisaa Mutiara Qisthi

021111111

SALIVA

Saliva

Saliva merupakan cairan yang sangat penting di rongga mulut yang dihasilkan oleh kelenjar saliva
mayor dan minor. Saliva memiliki peranan menegakkan diagnosa dalam bidang Kedokteran Gigi,
Fisiologi, Internal Medicine, Endocrinology, Pediatrics, Immunology, Clinical Pathology,
Forensic Medicine, Psycology dan Sport Medicine.

Kelenjar Saliva

Saliva diproduksi oleh kelenjar saliva mayor dan minor. Kelenjar saliva mayor merupakan kelenjar
saliva utama yang terdiri dari kelenjar parotid, kelenjar submandibular, dan kelenjar sublingual.
Kelenjar parotid adalah kelenjar yang murni serus pada manusia dewasa, walaupun kadang-kadang
sel mukus ditemukan pada anak-anak. Kelenjar parotid bermuara pada duktus Stensens. Kelenjar
submandibular merupakan campuran, tapi yang lebih dominan adalah serus dan bermuara pada
duktus Whartoni. Kelenjar sublingual merupakan campuran tapi yang lebih dominan adalah
mukus. Pada kelenjar ini ditemukan sedikit acini serus dan bermuara pada duktus Bartholin. Sel
serus menghasilkan saliva yang encer sehingga viskositasnya menjadi lebih rendah sedangkan sel
mukus menghasilkan saliva yang kental sehingga viskositas lebih tinggi.

Kelenjar saliva minor ditemukan di sepanjang mukosa rongga mulut. Kelenjar lingual ditemukan
bilateral dan terbagi kedalam beberapa kelompok. Kelenjar lingual anterior terdapat pada
permukaan anterior lidah dekat ujung lidah dan terbagi atas kelenjar mukus anterior dan campuran
pada posterior. Kelenjar lingual posterior terdapat pada gabungan dengan lingual tonsil dan
permukaan lateral lidah. Merupakan kelenjar mukus murni. Kelenjar serus (von ebner) mengalir
kedalam saluran-saluran di sekeliling papilla circumvallata. Kelenjar bukal dan labial ditemukan
pada pipi dan bibir. Unit terminal secretory mengandung sekresi mukus dan serus. Kelenjar
palatinal merupakan murni mukus dan ditemukan pada palatum lunak dan uvula, dan didalam
regio posterolateral dari palatum keras. Kelenjar glossopalatina merupakan mukus murni yang
berlokasi di lipatan glossopalatina.
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

Komposisi Saliva

Saliva terdiri atas 99,5% air dan 0,5% substansi lainnya. Komposisi saliva terdiri dari komponen
organik dan anorganik. Komponen organik yang terkandung di dalam saliva seperti urea, uric acid,
glukosa, asam amino, asam laktat dan asam lemak. Makromolekul yang juga ditemukan di dalam
saliva seperti protein, amilase, peroksidase, thiocyanate, lisozym, lemak, IgA, IgM, dan IgG.
Komponen anorganik yang penting yang ditemukan di dalam saliva yaitu ionion seperti Ca, Mg,
F, HCO3, K, Na, Cl, NH4. Gas yang terdapat dalam saliva seperti CO2, N2, dan O2. Air dan
substansi lain yang terkandung di dalam saliva seperti sel epitel yang deskuamasi,
polymorphonuclear leukosit dari cairan krevikular, dan bakteri.

Fungsi Saliva

Saliva dapat membantu proses digestif (pencernaan makanan) dengan mencerna polisakarida
menjadi monosakarida dengan bantuan enzim amilase. Aksi lubrikasi yang terdapat dalam saliva
memfasilitasi proses pengunyahan, formasi bolus makanan, menelan dan berbicara, juga
melindungi permukaan mukosa yang lunak dari makanan yang keras. Aksi pembersih dari saliva
menghilangkan sel epitel mulut deskuamasi, koloni bakteri dan debris makanan. Saliva berperan
penting bagi proses pengecapan. Saliva dapat melarutkan substansi pengecapan dari berbagai
macam bentuk sifat fisik makanan baik padat maupun larutan. Substansi ini kemudian dibawa oleh
saliva ke tempat sel reseptor pengecapan yang terdapat pada taste buds. Komposisi saliva yang
mengandung ± 99% air dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kekeringan dalam rongga mulut
terutama pada saat proses mastikasi dan berbicara. Cairan akan kembali normal dengan minum
dan adanya cadangan dari cairan yang disimpan.
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

Klasifikasi Glandula Saliva

Glandula Saliva Mayor

1. Glandula Parotis. Merupakan glandula terbesar yang letaknya pada permukaan otot
masseter yang berada di belakang ramus mandibula, di anterior dan inferior telinga.
Glandula parotis menghasilkan hanya 25% dari volume total saliva yang sebagian besar
merupakan cairan serus
2. Glandula Submandibularis. Merupakan glandula terbesar kedua setelah glandula parotis.
Letaknya di bagian medial sudut bawah mandibula. Glandula submandibula menghasilkan
60- 65% dari volume total saliva di rongga mulut, yang merupakan campuran cairan serus
dan mukus.
3. Glandula Sublingualis. Glandula yang letaknya pada fossa sublingual, yaitu dasar mulut
bagian anterior. Merupakan glandula saliva mayor yang terkecil yang menghasilkan 10%
dari volume total saliva di rongga mulut dimana sekresinya didominasi oleh cairan mukus

Glandula Saliva Minor

1. Glandula Labal Superior Inferior


2. Glandula Bucalis Minor
3. Glandula Palatina
4. Glandula Lingualis Anterior
5. Glandula Lingualis Posterior
6. Glandula Glassopalatinus
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

Kelainan kelenjar saliva adalah suatu keadaan abnormal dalam kelenjar saliva yang dapat
mengarah pada kondisi yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri.

Kasus mukokel umumnya melibatkan glandula saliva minor. Tidak tertutup kemungkinan
mukokel dapat melibatkan glandula saliva mayor tergantung pada letaknya.
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

MUKOKEL

Mukokel merupakan lesi mukosa oral yang terbentuk rupturnya duktus glandula saliva minor.
Umumnya sering diakibatkan oleh trauma lokal atau mekanik. Mukokel merupkan kista benigna,
tetapi dikatakan bukan kista yag sesungguhnya, karena tidak memiliki epithelial lining atau tidak
dilapisi sel epitel pada gambaran histopatologisnya. Lokasinya bervariasi. Ibir bawah merupakan
bagian yang paling sering terkena mukokel, yaitu lebih dari 60% dari seluruh kasus yang ada.
Umumnya terletak di bagian lateral mengarah ke midline. Beberapa kasus ditemui pada ventral
lidah, dan jarang terjadi pada bibir atas. Banyak literatur yang menyebut mukokel adalah usia
muda tetapi hingga saat ini belum ada studi khusus pada usia yang spesifik.

Etiopatogenesis

Mukokel melibatkan duktus glandula saliva minor, dengan etiologi yang tidak begitu jelas, namun
diduga akibat dari trauma, baik trauma lokal atau mekanik pada duktus saliva minor, untuk tipe
ini disebut mucus ekstravasasi. Trauma lokal atau mekanik dapat disebabkan karena trauma pada
mukosa mulut hingga melibatkan duktus glandula saliva minor terhambat. Pengunyahan atau
kebiasaan yang buruk seperti menghisap mukosa bibir diantara dua gigi yang jarang, menggigit –
gigit bibir, kebiasaan menggesek – gesekkan bagian ventral lidah pada permukaan gigi rahang
bawah (biasanya pada anak yang memiliki kebiasaan minum susu botol atau dot), dan lain – lain.
Dan juga akibat trauma dari kelahiran bayi, yang proses kelehirnnya menggunakan alat bantu
forceps, trauma pada saat dilakukan suction pada saluran nafas bayi setelah dilahirkan, dan juga
trauma yang disebabkan karea iu jari bayi yang dilahirkan masih berada pada posisi sucking
(menghisap) pada saat bayi melewati jalan lahir. Ketiga contoh trauma pada bayi dapat
mengakibatkan mukokel kongenital.
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

Setelah terkena trauma, duktus glandula saliva minor rusak, akibatnya saliva keluar menuju lapisan
submucosa kemudian cairan mucus terdorong dan sekresinya tertahan lalu terbentuk inflamasi
(adanya penumpukan jaringan granulasi di sekelilingnya) dan menyebabkan penyumbatan pada
daerah tersebut , terbentuk pembengkakan, berfluktuasi, translusen kebiruan pada mukosa mulut
yang disebut mukokel.

Kedua disebabkan adanya genangan mucus dalam duktus ekskresi yang tersumbat dan melebar,
tipe ini disebut mucus retensi. Genangan mucus dalam duktus ekskresi yang tersumbat dan
melebar disebabkan karena adanya plug mucus dari inflamasi pada mukosa yang menekan duktus
glandula saliva minor lalu mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada duktus glandula saliva
minor tersebut, terjadi dilatasi aibat cairan mucus yang menggenang dan menumpuk pada duktus
glandula saliva minor dan akhirnya ruptu, kemudian subepite digenangi oleh cairan mucus dan
menimbulkan pembengkakan pada mukosa tersebut yang disebut mukokel.

Klasifikasi

Berdasarkan etiologi, patogenesis, dan secara umum mukokel dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu mukokel ekstravasasi mukus yang sering disebut sebagai mukokel superfisial dimana
etiologinya trauma lokal atau mekanik, dan mukokel retensi mukus atau sering disebut kista retensi
mukus dimana etiologinya plug mukus akibat sialolith atau inflamasi pada mukosa mulut yang
menyebabkan duktus glandula saliva tertekan dan tersumbat secara tidak langsung. Literatur lain
mengklasifikasikan mukokel menjadi tiga, yaitu superficial mucocele yang letaknya tepat di
bawah lapisan mukosa dengan diameter 0,1-0,4 cm, classic mucocele yang letaknya tepat di atas
lapisan submukosa dengan diameter lebih kecil dari 1 cm, dan deep mucocele yang letaknya lebih
dalam dari kedua mukokel sebelumnya. Dikenal pula tipe mukokel kongenital yang etiologinya
trauma pada proses kelahiran bayi.

Gambaran Histopatologis

Mukokel memiliki gambaran klinis yang khas, yaitu massa atau pembengkakan lunak yang
berfluktuasi, berwarna translusen kebiruan apabila massa belum begitu dalam letaknya, kadang-
kadang warnanya normal seperti warna mukosa mulut apabila massa sudah terletak lebih dalam,
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

apabila dipalpasi pasien tidak sakit. Massa ini berdiameter 1 mm hingga beberapa sentimeter,
beberapa literatur menuliskan diameter mukokel umumnya kurang dari 1 cm.

Diagnosa

Untuk menegakkan diagnosa mukokel dilakukan prosedur-prosedur yang meliputi beberapa tahap.
Pertama melakukan anamnese dan mencatat riwayat pasien. Pada pasien anak dilakukan
aloanamnese yaitu anamnese yang diperoleh dari orang terdekat pasien. Pada pasien dewasa
dengan autoanamnese yaitu yang diperoleh dari pasien itu sendiri. Kedua melakukan pemeriksaan
terhadap pasien dan pemeriksaan pendukung. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
fisik dengan tujuan melihat tanda-tanda yang terdapat pada pasien, yaitu pemeriksaan keadaan
umum mencakup pengukuran temperatur dan pengukuran tekanan darah, pemeriksaan ekstra oral
mencakup pemeriksaan kelenjar limfe, pemeriksaan keadaan abnormal dengan memperhatikan
konsistensi, warna, dan jenis keadaan abnormal, Gambaran histopatologi mukokel tipe
ekstravasasi mukus yang terletak di bibir bawah Gambaran histopatologi mukokel yang bagian
duktusnya mengalami dilatasi Universitas Sumatera Utara kemudian pemeriksaan intra oral yaitu
secara visual melihat pembengkakan pada rongga mulut yang dikeluhkan pasien dan melakukan
palpasi pada massa tersebut. Diperhatikan apakah ada perubahan warna pada saat dilakukan
palpasi pada massa. Ditanyakan kepada pasien apakah ada rasa sakit pada saat dilakukan palpasi.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pendukung meliputi pemeriksaan laboratorium dan
pemeriksaan radiografi. Pemeriksaan laboratorium sangat membantu dalam menegakkan
diagnosa. Pada kasus mukokel, cairan diambil secara aspirasi dan jaringan diambil secara biopsi,
kemudian dievaluasi secara mikroskopis untuk mengetahui kelainan-kelainan jaringan yang
terlibat. Kemudian dapat dilakukan pemeriksaan radiografi, meliputi pemeriksaan secara MRI
(Magnetic Resonance Imaging), CT Scan (Computed Tomography Scan), ultrasonografi,
sialografi, dan juga radiografi konfensional.

Diagnosa Banding

Beberapa penyakit mulut memiliki kemiripan gambaran klinis dengan mukokel, diantaranya
hemangioma, lymphangioma, pyogenic granuloma (apabila letaknya pada bagian anterior lidah),
salivary gland neoplasm, dan lain-lain. Untuk dapat membedakan mukokel dengan penyakit-
penyakit tersebut maka dibutuhkan riwayat timbulnya massa dan gambaran klinis yang jelas yang
menggambarkan ciri khas mukokel yang tidak dimiliki oleh penyakit mulut lain, dan dibutuhkan
Dii Annisaa Mutiara Qisthi
021111111

hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan pendukung lain yang akurat seperti pemeriksaan
laboratorium dan pemeriksaan radiografi

Perawatan

Pada umumnya pasien yang berkunjung ke dokter gigi dan meminta perawatan, memiliki ukuran
mukokel yang relatif besar. Perawatan mukokel dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan
gangguan fungsi mulut yang dirasakan pasien akibat ukuran dan keberadaan massa. Sejumlah
literatur menuliskan beberapa kasus mukokel dapat hilang dengan sendirinya tanpa dilakukan
perawatan terutama pada pasien anak-anak. Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan
faktor penyebab dan pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab dimaksudkan untuk
menghindarkan terjadinya rekurensi. Umumnya mukokel yang etiologinya trauma akibat
kebiasaan buruk atau trauma lokal dan mekanik yang terjadi terus menerus dapat menyebabkan
terjadinya rekurensi mukokel. Karena jika kebiasaan buruk atau hal yang menyebabkan terjadinya
trauma tidak segera disingkirkan atau dihilangkan, maka mukokel akan dengan mudah muncul
kembali walaupun sebelumnya sudah dilakukan perawatan bedah. Pembedahan massa dibagi atas
tiga jenis, yaitu eksisi, marsupialisasi, dan dissecting. Pemilihan teknik pembedahan tergantung
kepada ukuran dan lokasi massa.