Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan yang terjadi akibat dari kerusakan jaringan yang aktual dan

potensial. Berkaitan dengan hal tersebut, nyeri yang dirasakan oleh individu

yang mengalami post-operasi, bisa dari skala yang paling ringan hingga

terberat. Kondisi ini dipengaruhi oleh bagaimana individu tersebut berespon

terhadap nyeri, yang secara langsung berkaitan dengan kecemasan individu

tentang nyeri yang dialaminya (Capernito,2001: 203). Nyeri dapat timbul oleh

berbagai stimuli (termasuk cemas/stress), tetapi reaksi terhadap nyeri tidak

dapat diukur dengan objektif. Nyeri adalah pengalaman yang dipelajari oleh

pengaruh dari situasi hidup masing-masing orang. (Long,2000).


Hubungan antara nyeri dan kecemasan sendiri bersifat kompleks.

Kecemasan sering kali meningkatkan persepsi nyeri, tetapi nyeri juga dapat

menimbulkan suatu perasaan cemas. Banyak faktor yang mempengaruhi

tingkat kecemasan seseorang diantaranya karakteristik stimulus (Intensitas,

lama, jumlah), karakteristik Individu (arti stimulus bagi induvidu, sumber

stimulus dan respon koping, status kesehatan). Kecemasan dapat terjadi bila

seseorang merasa terancam baik secara fisik maupun psikologi (seperti harga

diri, gambaran diri, atau identitas diri). Manifestasi kecemasan yang terjadi

tergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi

ketegangan, harga diri, perasaan sakit/nyeri dan mekanisme koping (Long,

2000: 223).

1
2

Pengalaman nyeri dipengaruhi oleh arti nyeri bagi seseorang, persepsi

nyeri, toleransi nyeri, reaksi orang terhadap nyeri. Termasuk juga seks/jenis

kelamin, latarbelakang sosiokultural, lingkungan, pengalaman sekarang dan

sudah lalu. Setiap orang berespon berbeda terhadap nyeri diantaranya ada

yang disertai takut, gelisah cemas dan optimis. (Long, 2000: 224). Kecemasan

pada pasien post operasi perlu mendapatkan perhatian yang serius karena

kecemasan akan meningkatkan pelepasan rennin, angeotensin, aldosteron dan

kortisol yang mengakibatkan terjadinya vasokontriksi pembuluh darah

sehingga mengurangi suplai pembuluh darah ke miokard. Kecemasan dapat

merangsang melalui serangkaian aksi yang diperantarai oleh HPA-axis

(Hipotalamus, pitiutari dan adrenal). Stress akan merangsang hipotalamus

untuk meningkatkan produksi CRF (corticotrophin releasing factor). CRF ini

selanjutnya akan merangsang pituitary anterior untuk meningkatkan produksi

ACTH (Adeno Cortico Tropin Hormon).


Dengan demikian hormon ini yang akan merangsang korteks adrenal

untuk meningkatkan sekresi kortisol. Kortisol inilah yang selanjutnya akan

menekan sistem imun tubuh (Guyton & Hall, 1999: 194) sehingga

memperberat kondisi pasien. Nyeri ini akan mempengaruhi status kesehatan

pasien secara keseluruhan. Dengan demikian maka akan menurunkan

produktifitasnya dalam beraktivitas karena nyeri juga dapat mengganggu

system pulmonary, kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin dan imunologik.

Penyebab nyeri biasanya mudah dikenali akibat adanya injuri,

penyakit/pembedahan terhadap salah satu atau beberapa organ. Nyeri yang

bermanifestasi sebagai rasa yang tidak enak (unpleasant sensation) bersumber


3

dari kerusakan jaringan tubuh. Oleh karena itu, maka rasa nyeri sering

dianggap sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh (defence

mechanisme). Penderita post operasi sering disertai kecemasan. Serangan

nyeri dari pasien post operasi merupakan salah satu stressor atau suatu

ancaman terhadap integritas seseorang yang meliputi ketidakmampuan

fisiologis dan menurunkan kapasitas untuk melakukan kehidupan sehari-hari

(Stuart & Sundeen, 1998: 45).


Kecemasan adalah suatu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir

disertai oleh gejala somatic yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari

susunan saraf autonomic atau SSA (Long, 2002: ).Peran perawat sangat

penting dalam upaya penanggulangan kecemasan pasien agar nyeri yang

timbul dapat diminimalkan melalui asuhan keperawatan yang komprehensif

secara biopsikososiospiritual. Perawat sebagai tenaga professional dan tenaga

yang memiliki waktu lebih banyak dibandingkan tenaga kesehatan lainnya

dituntut untuk memiliki kompetensi yang memadai untuk mengurangi

perasaan cemas dan nyeri dalam dari pasien, sehingga kecemasan dan nyeri

yang dialami pasien dapat dicegah atau dihindari. Disamping itu, pasien juga

memegang peranan penting dalam mengantisipasi terhadap masalahnya.

Pasien juga harus juga mengetahui segala aspek dari penyakit (terutama

penatalaksanaan) dirumah pasca operasi. Penyuluhan terhadap pasien dan

keluarga sama pentingnya.


Pada studi pendahuluan, didapatkan data dari bulan Januari s/d

Desember 2011 tercatat sebanyak 330 pasien post operasi, dimana 30% atau

99 adalah pasien post op hernia dengan rata – rata perbulannya sebanyak 10


4

orang. Data diambil di ruang Bedah RS DR.R.Soeharsono Banjarmasin.

Sebagai studi pendahuluan, tanggal 19 November 2012, penulis mengambil

sampel responden sebanyak 10 pasien paska operasi , yaitu 2 pasien post-

operasi HIL (Hernia Inguinalis Lateralis), 2 pasien post operasi BPH (Benigna

Prostat Hiperplasi), 2 pasien post operasi laparatomi., dan 4 pasien post-

operasi appendiktomi. Sampel diambil secara accidental sampling, dan tidak

mengkhususkan pada pasien hernia saja , mengingat keterbatasan waktu dan

jumlah pasien yang tidak mencukupi pada saat itu.


Berdasarkan hasil pengambilan data awal yang dilakukan pada tanggal

19 November 2012 dari 10 responden post operasi 50% mengalami cemas

berat, 20% sedang dan 30% ringan. Pengukuran nyeri menggunakan skala

VDS, dan pengukuran cemas menggunakan skala Hamilton Anxiety Rate

Score. Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penulis untuk lebih

mendalami dan menelitinya. Dari hasil studi pendahuluan tersebut, maka penulis

tertarik untuk meneliti sejauh mana hubungan nyeri dan cemas pada pasien

post operasi hernia di RS. DR.R.Soeharsono Banjarmasin, mengingat angka

kejadian yang cukup tinggi di RS DR.R.Soeharsono Banjarmasin.


B. Rumusan Masalah
Dari fenomena tersebut diatas, dapat ditarik rumusan masalah sebagai

berikut : apakah ada hubungan antara tingkat nyeri dengan tingkat kecemasan

pada pasien post operasi hernia diruang Bedah RS DR.R.Soeharsono

Banjarmasin?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
5

Menganalisis hubungan tingkat nyeri dengan tingkat kecemasan pada

pasien Post Operasi hernia diruang Bedah RS DR.R.Soeharsono

Banjarmasin.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi tingkat nyeri pada pasien post operasi hernia di

ruang bedah RS DR.R.Soeharsono Banjarmasin.


b. Mengidentifikasi tingkat kecemasan pada pasien post operasi hernia di

ruang bedah RS DR.R.Soeharsono Banjarmasin.


c. Menganalisis hubungan tingkat nyeri dengan tingkat kecemasan pada

pasien post operasi hernia di ruang bedah RS DR,.R.Soeharsono

Banjarmasin

D. Manfaat Penelitian
1. Teoritis
a. Menambah wacana keilmuan tentang penatalaksanan nyeri dan cemas

paska bedah.
b. Sebagai informasi dan masukan dalam peningkatan pengetahuan dan

pedoman untuk melaksanakan tindakan keperawatan mandiri dan

komprehensif.
2. Aplikatif
a. Sebagai bahan untuk meningkatkan pengetahuan tentang penanganan nyeri

dan cemas serta program pendidikan dan pengembangannya.


b. Sebagai bahan masukan dalam melakukan standar penanganan nyeri dan

cemas, menekan angka kejadian ketidak nyamanan terhadap nyeri pasien.


c. Sebagai bahan pengajuan standar operasional prosedur ke pimpinan Rumah

Sakit yang diperlukan untuk meningkatkan pelayanan Rumah Sakit.


d. Sebagai bahan masukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme dalam

memberikan pelayanan kepada pasien.

3. Klien dan keluarga


6

Hasil yang diperoleh dari penelitian, diharapkan peneliti

memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang nyata, dan dapat

memberikan model intervensi yang sesuai bagi pasien Post Operasi hernia.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang hubungan antara tingkat nyeri dengan tingkat

kecemasan pada pasien post operasi sudah pernah dilakukan sebelumnya

yaitu “hubungan antara tingkat nyeri dengan tingkat kecemasan pada pasien

post operasi diruang Irna A RSUD Syarifah Ambani Rato Ebu Bangkalan

oleh Eko pada tahun 2009”.

Penelitian ini dilakukan kepada pasien post operasi secara menyeluruh,

bedakan karakteristik dan jenis operasi yang dilakukan kepada pasien. Cara

pengukuran nyeri menggunakan metode VAS, sedangkan pengukuran cemas

menggunakan metode HARS.

Sedangkan penulis menggunakan metode VDS untuk pengukuran nyeri

dan lebih mengkhususkan hanya pada pasien paska bedah hernia saja.