Anda di halaman 1dari 6

TUGAS XI

BIMBINGAN DAN KONSELING

BK DALAM KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA DI SEKOLAH

DOSEN : Prof. Dr. FIRMAN, M.S, Kons

OLEH:

DENY YULVAWITA
14029057
PENDIDIKAN MATEMATIKA

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016
MEMAHAMI BK DALAM KURIKULUM 2013 DAN IMPLEMENTASINYA DI
SEKOLAH

Pengertian Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai


tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Kurikulum 2013 diberlakukan pada tahun ajaran 2013/2014 yang merupakan
pengembangan dan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum
KTSP. Dalam bidang kerja guru BK, kurikulum 2013 memiliki karakteristik
tersendiri. Dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, kurikulum 2013
ini memiliki perbedaan yang khas dengan kurikulum sebelumnya, yang menjadi
karakteristik kurikulum 2013 dalam sudut pandang BK. Dalam perubahan kurikulum
2013 dapat menimbulkan permasalahan bagi siswa jika tidak mampu menetapkan
pilihan peminatannya. Salah satu karakteristik kurikulum 2013 dalam sudut pandang
BK adalah adanya pembagian tiga arah peminatan, yaitu peminatan kelompok mata
pelajaran, lintas minat, dan pendalaman minat (Kemendikbud, 2013). Untuk
itulah perlu adanya pelayanan peminatan akademik yang diberikan guru BK kepada
siswa dalam memilih dan menetukan kelompok peminatan yang akan dijalaninya di
sekolah. Karakteristik kurikulum 2013 ialah dirancang untuk memberikan kesempatan
kepada siswa belajar berdasarkan minat mereka.
Masyarakat Profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia, perlu diketahui
bahwa bimbingan dan konseling memiliki peran yang sangat penting dalam
implementasi kurikulum 2013, karena bimbingan dan konseling berperan dan
berfungsi, secara kolaboratif, dalam hal-hal berikut:
1. Menguatkan Pembelajaran yang Mendidik
Untuk mewujudkan arahan Pasal 1 (1), 1 (2), Pasal 3, dan Pasal 4 (3) UU No.
20 tahun 2003 secara utuh, kaidah-kaidah implementasi Kurikulum 2013 sebagaimana
dijelaskan harus bermuara pada perwujudan suasana dan proses pembelajaran
mendidik yang memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik. Suasana belajar
dan proses pembelajaran dimaksud pada hakikatnya adalah proses mengadvokasi dan
memfasilitasi perkembangan peserta didik yang dalam implementasinya memerlukan
penerapan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Bimbingan dan konseling harus
meresap ke dalam kurikulum dan pembelajaran untuk mengembangkan lingkungan
belajar yang mendukung perkembangan potensi peserta didik. Untuk mewujudkan
lingkungan belajar dimaksud, guru hendaknya:
(1) memahami kesiapan belajar peserta didik dan penerapan prinsip bimbingan
dan konseling dalam pembelajaran,
(2) melakukan asesmen potensi peserta didik,
(3) melakukan diagnostik kesulitan perkembangan dan belajar peserta didik,
(4) mendorong terjadinya internalisasi nilai sebagai proses individuasi peserta
didik. Perwujudan keempat prinsip yang disebutkan dapat dikembangkan
melalui kolaborasi pembelajaran dengan bimbingan dan konseling.

2. Memfasilitasi Advokasi dan Aksesibilitas


Kurikulum 2013 menghendaki adanya diversifikasi layanan, jelasnya layanan
peminatan. Bimbingan dan konseling berperan melakukan advokasi, aksesibilitas, dan
fasilitasi agar terjadi diferensiasi dan diversifikasi layanan pendidikan bagi
pengembangan pribadi, sosial, belajar dan karir peserta didik. Untuk itu kolaborasi
guru bimbingan dan konseling/konselor dengan guru mata pelajaran perlu
dilaksanakan dalam bentuk:
(1) memahami potensi dan pengembangan kesiapan belajar peserta didik
(2) merancang ragam program pembelajaran dan melayani kekhususan kebutuhan
peserta didik
(3) membimbing perkembangan pribadi, sosial, belajar dan karir.

3. Menyelenggarakan Fungsi Outreach


Dalam upaya membangun karakter sebagai suatu keutuhan perkembangan,
sesuai dengan arahan Pasal 4 (3) UU No. 20/2003, Kurikulum 2013 menekankan
pembelajaran sebagai proses pemberdayaan dan pembudayaan. Untuk mendukung
prinsip dimaksud bimbingan dan konseling tidak cukup menyelenggarakan fungsi-
fungsi inreach tetapi juga melaksanakan fungsi outreach yang berorientasi pada
penguatan daya dukung lingkungan perkembangan sebagai lingkungan belajar. Dalam
konteks ini kolaborasi guru bimbingan dan konseling/konselor dengan guru mata
pelajaran hendaknya terjadi dalam konteks kolaborasi yang lebih luas, antara lain:
(1) kolaborasi dengan orang tua/keluarga,
(2) kolaborasi dengan dunia kerja dan lembaga pendidikan,
(3) “intervensi” terhadap institusi terkait lainnya dengan tujuan membantu
perkembangan peserta didik.

Paradigma Baru Bimbingan dan Konseling

Berdasarkan tuntutan kurikulum 2013 dan kesadaran penuh bahwa kiprah


bimbingan dan konseling selama ini belum optimal, maka perlu dipikirkan orientasi
baru atas peran dan fungsi bimbingan dan konseling dalam konteks kurikulum 2013.

Proses membantu perkembangan peserta didik secara utuh dan optimal


sesungguhnya merupakan tugas bersama yang harus dilaksanakan oleh guru mata
pelajaran dan guru bimbingan dan konseling, dan tenaga pendidik lainnya sebagai mitra
kerja, namun masing-masing pihak tetap memiliki wilayah tugas atau pelayanan
spesifik dalam mendukung realisasi diri dan pencapaian perkembangan peserta didik
secara optimal. Dalam praktik sejak pendidikan prajabatan (seperti kita saat ini),
persoalan kolaborasi antar pendidik menjadi pekerjaan yang selalu terhambat.
Sementara kebutuhan akan kolaborasi tim kerja menjadi bagaian yang tidak bisa
ditinggalkan.

Peminatan pada dasarnya merupakan misi yang harus diemban bersama oleh
seluruh jajaran pendidik dan tenaga kependidikan di tiap satuan pendidikan. Proses
penelusuran, penyemaian, dan pemeliharaan peminatan peserta didik menjadi tugas
guru sebagai pendidik profesional sebagaimana termuat dalam pasal 1 ayat (1) UU
nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa tugas utama
guru adalah “… mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik …” itu mengkomunikasikan bahwa guru, termasuk guru
BK, memiliki tanggung jawab dalam peminatan siswa secara terpadu di dalam proses
pembelajaran dan bimbingannya.

Fungsi BK di Sekolah
Bimbingan dan penyuluhan di sekolah ini sudah memenuhi fungsi
sebagaimana mestinya, karena BK di sekolah ini sudah menerapkan kelima fungsi
BK. Yaitu, fungsi pemahaman adalah mencoba mendekati siswa dan mengidentifikasi
permasalaha pada siswa atau untuk membantu peserta didik dalam memahami diri
dan lingkungan. Fungsi pencegahan adalah memberikan pengertian pada guru mata
pelajaran untuk memahami kondisi siswa atau untuk membantu peserta didik mampu
mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat perkembangan dirinya. Fungsi pengentasan, membantu peserta didik
dalam memecahkan masalah yang dialami siswa. Fungsi pemeliharaan, memberikan
perhatian kepada semua siswa secara merata atau membantu peserta didik memelihara
dan menumbuh kembangkan berbagai potensi dan kondisi yang dimiliki. fungsi
pengembangan, dengan menanamkan nilai-nilai yang baik kepada siswa dan
mengapresiasi siswa yang tidak melanggar aturan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA

Prayitno dan Erma Amti.1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Ridwan. 2004. Penanganan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jogjakarta:

Pelajar- Pelajar.