Anda di halaman 1dari 8

RESUME JURNAL INTERNASIONAL

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUID DAN SEMISOLIDA

“FORMATION OF CONCENTRATED EMULSIONS IN HEAVY OIL”

Disusun Oleh :

Dindha Pratiwi Setyaningrum (152210101010)


Rochman Dwi Setiawan (152210101029)
Ni Made Ayu Kartini (152210101049)

UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2017
FORMATION OF CONCENTRATED EMULSIONS IN HEAVY OIL

A. Abstrak

Penambahan beberapa macam surfaktan dengan metode HLB pada pembentukan


emulsi minyak dalam air yang terkonsentrasi pada minyak berat. Sifat morfologi dan
rheologi dari emulsi yang terbentuk juga dipelajari. Sampel minyak awal adalah cairan
Newtonian dalam rentang temperatur yang luas dan viskositasnya adalah 4 Pa s pada
suhu kamar. Tujuan dari penelitian ini adalah penciptaan emulsi dengan tingkat viskositas
yang dapat diterima.
Nilai tegangan dan viskositas pada tekanan geser tinggi ditentukan oleh nilai HLB
surfaktan yang digunakan, rezim pencampuran dan kandungan air dalam emulsi. Semakin
tinggi nilai HLB, semakin efektif pengaruhnya pada rheologi emulsi. Nilai tegangan dan
viskositas terbaik pada emulsi yang diperoleh terletak pada kisaran 0,6 sampai 22 Pa dan
tidak lebih dari 10 kali (dalam kasus pembatas sebanyak 50 kali) dibandingkan dengan
minyak mentah, dimana kandungan air sebagai fase kontinu dapat dikurangi sampai 20%.

B. Pendahuluan

Heavy oil juga disebut sebagai minyak berat adalah minyak yang banyak
mengandung unsur hidrokarbon, mempunyai kerapatan atau berat jenis yang lebih tinggi
dari minyak mentah ringan, dan juga memiliki kadar kekentalan (viscosity) yang lebih
tinggi. Minyak berat adalah jenis minyak mentah yang sangat kental, yang berarti bahwa
itu tidak mengalir dengan mudah.
Minyak mentah berat banyak ditemukan di Kanada, Brazil, Venezuela, Amerika
Serikat, Rusia, Kuwait dan negara lainnya. Pengembangan sumber daya ini
membutuhkan pengembangan teknologi inovatif untuk memberikan produksi yang
ekonomis. Menurut klasifikasi dari American Petroleum Institute ( API), minyak ditandai
dengan nilai API, yang ditentukan sebagai :

dimana densitas air ῤ dan ῤw diukur pada suhu 15,6°C (60°F) .


Minyak disebut berat jika nilai API dalam kisaran dari 10 sampai 22,3 jika API
<10 minyak tersebut diklasifikasikan sebagai ekstra-berat. Sebagai aturan umum, nilai-
nilai rendah kelas API sesuai dengan viskositas minyak. Rheologi minyak berat
ditentukan oleh adanya komponen dengan berat molekul lebih tinggi serta struktur yang
kental.
Terdapat perbedaan alasan yang membuat kesulitan dalam pengolahan dan
perubahan minyak ringan dan berat. Untuk minyak ringan, masalah utama adalah formasi
struktur yang bekerja pada kristalisasi parafin, sementara tingginya viskositas adalah
faktor utama untuk minyak berat. Solusi dari masalah ini mungkin adalah pembuatan
emulsi konsentrasi tinggi dengan kandungan air yang sedikit mungkin, yang diharapkan
dapat membentuk fase kontinyu sebagai lapisan tipis antara droplet minyak.

C. Metode Percobaan
1. Sampel minyak
Sampel yang digunakan yaitu minyak berat yang diperoleh dari pertambangan
Ashalchinskoye di Tatarstan, Rusia. Minyak pradehidrasi terdiri dari air (0,48% berat),
Kerapatannya adalah 962,2 kg/m3.
2. Surfaktan
Pemilihan surfaktan ditentukan oleh nilai keseimbangan lipofilik-hidrofilik (HLB).
Jadi, surfaktan yang digunakan untuk eksperimen, meliputi :
 Polyoxyethylene (20) sorbitan trioleat (Tween 85, Tw85) dengan nilai HLB = 11.
 Polyoxyethylene (20) sorbitan monooleat (Tween 80, Tw80) dengan nilai HLB=15.
Surfaktan ini membentuk misel dalam air (CCM = 1,2 × 10-5 pada 22o C). Digunakan
Tw80 dengan konsentrasi 5% (3000 kali lebih tinggi dari CCM).
 Polyoxyethylene (9-10) 4-tert-oktilfenol (Triton X-100, TRX-100) dengan HLB =
13,5 dan CCM = 2,2 × 10-4М pada suhu 22o C). Konsentrasi TrX-100 yang digunakan
yaitu 5%.
 Sodium dodesil sulfat dengan nilai HLB = 40 dan CCM = 8 × 10-3M (pada suhu 22o
C). Digunakan larutan SDS konsentrasi 2,5%.
3. Persiapan emulsi
Emulsi disiapkan dalam botol kaca silindris, yang disegel dengan tutup sekrup.
Volume larutan berair yang diketahui atau dispersi surfaktan berair ditambahkan ke
sampel minyak menggunakan pipet. Fraksi volume fasa berair bervariasi dari 0,04 sampai
0,65.
Pencampuran dilakukan sesuai dengan berbagai protokol dalam deskripsi sampel
yang diteliti. Sebagian besar emulsi berupa sedimentasi-stabil untuk waktu yang lama
(dari beberapa minggu sampai dua bulan) tanpa stratifikasi makroskopik.
4. Analisis dispersi dari sistem
Distribusi ukuran partikel dalam dispersi berair dipelajari dengan metode hamburan
cahaya dinamis menggunakan penganalisis Zetatrac TM (model NPA152, Microtrac Inc.,
Nikkiso). Sumber cahayanya adalah dioda laser yang bekerja pada jarak cahaya 730 nm.
Pengukuran periodik pada interval 3-6 menit dilakukan selama period 60-120 menit.
Perangkat lunak Microtrac FLEX digunakan untuk menangani data eksperimen.
Ukuran rata-rata dari masing-masing Tw80, Tr X-100, dan SDS adalah7,2 ; 6,4 dan
1,5 nm. Serta ukuran partikel Tw85 dalam dispersi berair adalah 97,8 nm.
5. Pengukuran rheologi
Sifat rheologi pada emulsi diamati dengan menggunakan Rheometer Rheo Stress 1
(Thermo Haake, Jerman) dengan unit kerucut pengukuran termostatik. Diameter kerucut
adalah 60 mm dan sudut antara permukaan kerucut dan pelat adalah 2◦. Kesenjangan
antara apex kerucut dan plat adalah 0,104 mm. Pengukuran dilakukan pada mode kontrol
laju geser pada jalur linier. Kisaran tingkat gesernya adalah dari 3,9 × 10-2 sampai 200 s-.
Durasi satu percobaan adalah 200 detik dan jumlah titik adalah 100. Suhunya yang
digunakan adalah 200 C.
6. Mikroskop optik
Morfologi emulsi minyak diperiksa dengan metode mikroskop optik menggunakan
Axioskоp 40 (Carl Zeiss).
Gambar 1: Distribusi ukuran partikel dari beberapa surfaktan yang digunakan

D. Hasil Dan Pembahasan


1. Tween 80
Pembuatan emulsi dengan surfaktan Tween 80 terdiri dari EM1-EM5. Fasa air
untuk EM1 dan EM2 adalah 4-7,7 %. Sedangkan fase air untuk EM3-EM5 adalah 20%.
Sampel EM1 dan EM2 adalah emulsi balik dan viskositasnya berubah sedikit (tidak lebih
dari 10%) dari viskositas sampel minyak berat. Jadi, sampel ini tidak menarik untuk
tujuan pekerjaan ini.
Dalam mengevaluasi sifat rheologi dari emulsi, nilai dari tegangan sangat perlu
digunakan, karena nilai tegangan adalah hasil yang ditentukan oleh ekstrapolasi dan
hasil prosedur tersebut yang bergantung pada persamaan kurva aliran. Sementara itu,
perlu disebutkan bahwa tegangan hasil untuk emulsi (EM3 dan EM4) adalah rendah,
masing-masing sebesar 2,1 dan 3,0 Pa, sehingga emulsi ini menunjukkan sedikit
theksotropi, meskipun efeknya tidak kuat.
Emulsi EM5 yang diperoleh pada dasar larutan berair alkalin Tw80 menunjukkan
sifat yang tidak biasa. Nilai HLB yang rendah menghasilkan pembentukan emulsi
dispersi halus yang memiliki struktur perkolasi.
Gambar 2. Fotomicrograph untuk sampel EM3 dan EM5

2. Tw 85
Emulsi dengan surfaktan Tw85 dicampurkan ke dalam minyak dengan perbandingan
1: 4. Kemudian diaduk menggunakan pengaduk magnet dengan kecepatan 1000-1200
rpm selama 30 menit. Hal ini menyebabkan perpisahan fase cepat. Dinamakan EM6.
Selanjutnya emulsi ini menunjukkan sifat fluida Newtonian dengan viskositas 3,14 Pa s,
lebih rendah dari viskositas minyak berat. Pengurangan viskositas semacam itu
disebabkan oleh pelarutan komponen minyak dengan BM tinggi dalam tetesan air,
sehingga menyebabkan penipisan fasa kontinyu dengan komponen pengental. Jadi,
sampel EM6, tidak menarik untuk tujuan pekerjaan ini.

3. TrХ-100
Emulsi dengan surfaktan TrХ-100 terdiri dari EM7 dan EM8. Dimana kedua emulsi
ini memiliki perbedaan yang signifikan. Emulsi EM7 stabil terhadap sedimentasi
sedangkan EM8 tidak stabil. Selain itu emulsi EM7 mengalami polydisperse yang
terkonsentrasi dari tipe W/O/W. Sedangkan emulsi EM8 adalah emulsi invert khas
dengan ukuran partikel dalam fase dispersi tidak melebihi 15 μm.
Tegangan hasil EM7 adalah sama dengan 6,8 Pa dan viskositas pada tekanan geser
tinggi adalah 0,37 Pa s, ini merupakan nilai terendah dari pada viskositas minyak berat.
Nilai yang agak rendah dari tegangan diperoleh untuk emulsi EM8 dan viskositas tampak
sama dengan 0,48 Pa s.
Gambar 3. Fotomicrograph untuk sampel EM7 dan EM8
4. SDS

Emulsi dengan surfaktan SDS terdiri dari EM9-EM14 disiapkan sesuai dengan
protokol yang berbeda.
Sampel EM9 dan EM10 dapat didefinisikan sebagai emisi W / O / W ganda .
Sampel EM11-EM14 memiliki struktur yang sangat spesifik. Fitur utama mereka adalah
pembentukan emulsi encer halus yang diserap dengan lapisan antar berair tipis yang
merupakan emulsi W / O / W ganda. Emulsi EM11, EM12, dan EM13 tampak paling
menjanjikan. Emulsi EM11 yang terdiri dari 25 % fase air memiliki viskositas paling
rendah (0,08 Pa s). Emulsi EM12 dan EM13 yang terdiri dari 15-17 % fase air memiliki
nilai tegangan rendah dan viskositasnya yang nyata terletak pada kisaran yang dapat
diterima untuk persyaratan yaitu di bawah 0,4 Pa s.
Jadi, penurunan tajam viskositas emulsi nyata dianggap sebagai tujuan utama dari
penelitian ini sehingga dapat dicapai dengan menggunakan surfaktan dengan nilai HLB
tertinggi.

Gambar 4. Fotomicrograph untuk sampel EM9 dan EM10


E. Kesimpulan
Pengenalan surfaktan dengan nilai HLB ≥15 ke dalam minyak berat menyebabkan
pembentukan emulsi dengan air sebagai fase kontinyu dan viskositas nyata mereka pada
kisaran tekanan geser tinggi dapat dikurangi secara tajam dibandingkan dengan viskositas
minyak mentah. Surfaktan yang paling efektif adalah natrium dodesil sulfat dengan HLB
= 40. Karena dilihat dari morfologi emulsi nya membentuk struktur emulsi yang paling
baik daripada surfaktan lainnya. Dalam kasus ini, penggunan surfaktan mungkin untuk
mengelola emulsi dengan nilai tegangan kurang dari 1 Pa dan viskositas nyata pada
tegangan geser 50 kali lebih rendah dari viskositas minyak berat. Kandungan air tidak
melebihi 20% .