Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH SENI BUDAYA

Disusun Oleh :

1. Anisa Nur Fauziyah


2. Deby Irma Regina Rengganis
3. Dinda Aprilia
4. Hana Istivarati
5. Intania Rosidah
6. Nur Novianti
7. Ros Angelica
8. Zelita Hariani

XI IPA 1

SMAN 15 KOTA BEKASI

TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat serta
salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga untuk para
keluarga, sahabat dan pengikutnya sampai akhir zaman. Karena atas rahmat-Nya,
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “Evaluasi Gerak
Tari”.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran “Seni Budaya”. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada Ibu Eliza. selaku guru, teman-teman dan semua pihak
yang membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penyusunan materi dalam makalah ini
disesuaikan dengan referensi yang didapat dari buku maupun internet.

Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca dan


memberikan gambaran mengenai materi terkait. Sehingga pembaca dapat menggunakan
makalah ini sebagai literatur pendukung dalam pengembangan bidang ilmu selanjutnya
yang terkait ataupun langsung mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan
makalah ini. Besar harapan penulis agar penulisan makalah ini dapat berguna bagi
siapapun yang menjadikan makalah ini sebagai bahan literatur mengenai materi terkait.

Bekasi, 29 Januari 2018

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... i

DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PEMBAHASAN

1.1 Evaluasi Gerak Tari Kreasi Berdasarkan Teknik Tata Pentas .... 1
1.2 Mengevaluasi Bentuk, Jenis, Nilai Estetis, Fungsi dan Tata Pentas
Dalam Karya Tari Kreasi .................................................................. 3

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PEMBAHASAN

1.1 Evaluasi Gerak Tari Kreasi Berdasarkan Teknik Tata Pentas


A. Teknik Tata Pentas Tari Kreasi
Tata pentas tari adalah teknik merancang untuk mementaskan tari yang baik,
sehingga tampak jelas tampilan keindahan geraknya. Bentuk tata pentas tari
panggung proscenium dan auditorium yaitu menempatkan penonton dan pemain
pada posisi berbeda yang saling berhadapan. Bentuk tata pentas arena adalah tata
pentas yang bisa ditonton dari berbagai arah. Bisa saja bentuknya seperti bentuk
U, mirip tapal kuda atau meniru huruf L dengan peninggian atau bahkan
berbentuk lingkaran tanpa peninggian. Kadangkala pertunjukan tanpa panggung
alias beralas tanah. Sementara, penonton dan pemain dibatasi oleh garis di tanah
sebagai penghalang.

B. Mendeskripsikan Karya Tari Kreasi Baru Berdasarkan Teknik Tata Pentas


Tata Teknik Pentas adalah cara menata panggung untuk sebuah pertunjukan.
Seorang yang melakukan tata teknik pentas atau penataan sebuah panggung
disebut sebagai seorang kreator.
Cara Menata adalah dengan terlebih dahulu merancang / membuat konsep
setelahnya mengarah pada Teknik perencanaan apa yang akan dibuat sehingga
menjadi sebuah tempat pertunjukan.
Perencanaan pentas / Pertunjukan untuk Tari, Pertunjukan Tari seperti apa
kita Buat, Sebut saja kontempungorer kemudian pemilihan tema / cerita pada
tarian, setelahnya masuk pada material yang digunakan seperti : kostum, make-
up, proferti, hand proferti, set proferti, cahaya, sound sistem, akustik.

Contoh :
Teknik Tata Pentas Tari Kreasi di Pangggung Prosenium.

1
Gambar Tari Kipas dari Korea.

Gambar di atas adalah tari kreasi dengan tata pentas yang dilaksakan di atas
panggung prosenium. Tari kipas ini, gerakannya mengandalkan variasi gerak
tangan yang memegang kipas dan dilakukan oleh sekelompok penari dalam
beragam ruang gerak. Tata pentas dilaksanakan pada pola melingkar dengan
level dari rendah sampai tinggi. Pergelaran tari kelompok ini sangat cocok
dilaksanakan di atas panggung prosenium, karena dilakukan dengan gerak tari
yang mengandalkan gerak tangan dan sedikit gerak gerak kaki.

Tari kreasi dengan menggunakan tata pentas arena luar (outdoor).

Gambar Tari Kecak dari Bali.

Tari kecak pada gambar diatas ditampilkan diruangan terbuka (outdoor)


beralas tanah dengan posisi pemain lingkaran dalam tata pentas arena. Tata
pentas menggunakan panggung arena, memungkinkan penonton melihat
pertunjukan dari berbagai arah. Tari kecap awalnya dipertunjukan untuk

2
keperluan upacara dengan waktu pertunjukan yang sangat lama yang
menampilkan cerita Ramayana dari awal sampe akhir. Akan tetapi saat ini, Tari
Kecak sudah terbarukan dan bisa ditampilkan dalam beberapa menit dengan
cerita yang singkat untuk keperluan wisatawan yang mengunjungi bali.
Adapun hal menarik dari tata pentas tari kecak, yakni terdapat tiga lapis
lingkaran yang mengelilingi 3 orang penari. Lingkaran orang ini memiliki fungsi
sebagai :
1. Batas/kalang pertunjukan dalam tata pntas arena.
2. Pengiring musik internal, karena tari ini hanya diiringi dengan suara dari
mulut (semacam akapela dalam amusik).
3. Peran yang berganti-ganti.
Tari kreasi dengan panggung diruang terbuka (outdoor) berlatar lingkungan.
Contohnya Tari Pohaci karya Ine Arini. Menampilkan seorang penari yang
berpentas di ruangan terbuka antara puing-puing reruntuhan. Dihadapan penari
terletak tempat air dari tanah dan tetumbuhan. Pohaci, yaitu tokoh seorang dewi
pelindung bumi dalam cerita rakyat sunda. Tari Pohaci memiliki simbol Dewi
Pohaci yang merasa sedih atas kerusakan lingkungan dan Dewi Pohaci turun ke
bumi untuk melindungi dan menyuurkan bumi.

1.2 Mengevaluasi Bentuk, Jenis, Nilai Estetis, Fungsi, dan Tata Pentas Dalam
Karya Tari Kreasi
A. Konsep Evaluasi Tari
Sepanjang sejarah, evaluasi tari menjadi sebuah wacana yang kurang
menyenangkan, karena pengertian evaluasi selalu dikaitkan dengan anggapan
mengenai celaan, makian, atau koreksi. Masalahnya adalah bagaimana cara
mengemukakan evaluasi itu sendiri.
Pengertian evaluasi tari sendiri adalah sebuah proses sistematis untuk
menentukan nilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian ekspresi
jiwa manusia yang diubah melalui gerak ritmis yang indah.
Seorang evaluator tari adalah seorang kritikus. Istilah kritik berasal dari
bahasa Yunani, yaitu berasal dari kata krities (kata benda) yang bersumber dari
kata “criterion” yaitu kriteria, sehingga diartikan sebagai kriteria atau dasar
penilaian. Dengan demikian kita memberikan evaluasi itu harus memiliki dasar
kriteria sebagai acuan. Evaluasi tari diperlukan oleh penata tari untuk

3
meningkatkan kualitas tari, karena evaluasi merupakan tanda penghargaan
penonton terhadap karya tarinya.
Seorang kritikus akan memberikan pandangan dan pemahaman yang rinci
kepada masyarakat mengenai nilai-nilai estetis yang ada pada sebuah karya.
Dengan demikian evaluasi yang baik itu bersifat membangun sekaligus memberi
motivasi. Seorang kritikus harus memiliki pengetahuan luas mengenai tari
misalnya geraknya, fungsinya, jenisnya, pola lantainya, dan teknik tata pentas.
Kita sudah belajar berkarya tari artinya sudah memiliki pengalaman
berkarya. Pengalaman itu sebagai modal dasar untuk melakukan evaluasi
terhadap karya kita sendiri yang disebut oto kritik. Dengan demikian, kita
melakukan hal yang bermanfaat untuk mengasah ide dan membangun
kemampuan lebih dalam lagi.

B. Cara Menulis Evaluasi


Pada bagian ini, kita dapat menulis pendapat atas hasil pengamatan pada
beragam tarian etnis di Indonesia. Tahap - tahap menulis evaluasi :
1. Menulisakan / mendeskripsikan bagian dari tari yang paling mengesankan.
Maka dimulai dengan urutan 5W + 1H yaitu What (apa), Where (dimana
pementasan), When (kapan dipentaskan), Who (siapa yang menari), Why
(alasan ditarikan), dan How (bagaimana menarikannya). Untuk menerangkan
How, hanya memilih gerakan yang paling disukai.
2. Menganalisis gerakannya dengan memberikan argumen yang jernih
mengenai keunggulan maupun kelemahan tari atas dasar konsep estetis
( wiraga, wirama, wirasa ) serta konsep etis dari budaya penyangga tarinya.
3. Mengevaluasi tarinya, yaitu mengemukakan sikap kita mengenai tari
tersebut. Apabila menurut kita ada yang perlu diperbaiki tunjukan pada
teman mu agar diperbaiki.
4. Saran adalah saran, artinya terserah pada yang dievaluasi akan dilaksanakan
atau tidak. Yang terpenting , iyalah meningkatnya kemampuan kita dalam
mengapresiasikan karya tari.
Terdapat karya tari dari beberapa orng koreografi terkemuka di Indonesia.
Karya Didik yang di beri judul “ Bedhaya Hagaromo ” ditarikan oleh sembilan
penari dengan busana Jawa, bersanggul khas dengan hiasan tusuk konde layak
nya putri keraton dan diberi tambahan bulu hias. Busana dan semua hiasan yang
digunakan memiliki acuan pada tari bedhaya, pada tarian ini terdapat tokoh yang

4
berbusana lain. Tokoh tersebut ialah koreografernya sendiri, yang menggunakan
busana lengkap dengan hiasan yang biasa dipakai oleh perempuan Jepang dari
kalangan keraton.
Dari bahasan ini kita bisa mengkorelasikan adanya persamaan asal tari, yaitu
mengacu pada budaya tari klasik yang ada dikeraton jawa dan keraton jepang
dan bahwa jepang itu sebuah kekaisaran. Perbedaan disatukan dengan
penggunaan topeng dalam garis wajah yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Bangun, Sem Cornelyoes. 2017. Seni Budaya. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan