Anda di halaman 1dari 8

HUBUNGAN BIAYA VOLUME DAN LABA

Disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan Akuntansi Manajemen

Disusun Oleh:

Nama : GAZA FARHAN

NIM : 1501103010082

UNIVERSITAS SYIAH KUALA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

AKUNTANSI

2016/2017
BAB 1
PEMBAHASAN
1.1 Biaya
Biaya adalah pengorbanan sumberdaya yang diukur dalam satuan uangyang
mana hal tersebut telah terjadi dan tidak terjadi untuk mendapatkan suatu aset. Biaya
sangat berpengaruh dalam jalan perusahaan. Biaya juga menentukan harga produk
pada suatu perusahaan.
Prilaku biaya juga dapat menjadi tolak ukur perencanaan laba pada suatu
perusahaan. Perilaku biaya dibedakan menjadi dua : yaitu biaya tetap dan biaya
variabel. Biaya variabel selalu akan berubah dengan perubahan jumlah output
sedangkan biaya tetap tidak. Biaya tetap akan menjadi acuan berapa produk yang harus
dijual untuk menempuh laba yang diinginkan.

1.2 Margin Kontribusi


Margin kontribusi adalah selisih antara penjulan dengan biaya variabel. Margin
kontribusi juga menjadi jumlah yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan
memperoleh laba. Berikut ini ilustrasi perhitungan margin kontribusi:

Total Per Unit


Penjualan ( 1 Laptop) Rp 3.500.000 Rp 3.500.000
Biaya Variabel Rp 2.500.000 Rp 2.500.000
Margin Kontribusi Rp 1.000.000 Rp 1.000.000
Biaya Tetap Rp 300.000.000
Laba (Rugi) Bersih (Rp 299.000.000)

Berdasarkan perhitungan diatas, penambahan 1 prosduk terjual mengakibatkan


penambahan margin kontribusi sebanyak Rp 1.000.000. Melalui perhitungan ini dapat
kita ketahui berapa produk yang harus terjual untuk mencapai titik impas (break event
point). Untuk mencapai titik impas, bisa kita hitung dengan membagi biaya tetap
dengan margin kontribusi perunit ; Rp 300.000.000 : 1.000.000 = 300 unit
Total Per Unit
Penjualan (300 Laptop) Rp 1.500.000.000 Rp1.500.000.000
Biaya Variabel Rp 1.200.000.000 Rp 1.200.000.000
Margin Kontribusi Rp 300.000.000 300.000.000
Biaya Tetap Rp 300.000.000
Laba (Rugi) Bersih -

Perhitungan produk terjual untuk menentukan laba juga dapat dilakukan dengan
menggunakan analisis ini yaitu dengan cara membagi laba yang dinginkan dengan
margin kontribusi perunit lalu menambahkannya dengan produk BEP. Misal laba yang
dingin kan Rp 100.000.000 maka barang yang harus terjual adalah
= (Rp 100.000.000/1.000.000) + 300 unit
= 100 unit + 300 unit
= 400 unit.

1.3 Margin Keamanan


Margin keamanan ( Safety Margin) adalah kelebihan dari penjulan yang
diangggarkan (aktual) di atad titik impas volume penjualan. Margin keamanan
menjelaskan jumlah di mana penjualan dapat menurun sebelum kerugian terjadi.
Semakin tingggi margin keamanan, semakin rendah resiko untuk tidak balik modal.
Margin keamanan dapat dihitung sebagai berikut :
Margin keamanan = Total penjualan dianggarkan – Penjualan titik impas

Margin penganggaran dapa disajikan dalam bentuk persentase. Persenatse ini


dapat dihitung dengan membagi margin keamanan.
Persentase Margin keamanan = Margin Keamanan dalam dolar
Total Penjualan yang dianggarkan
1.4 Operating Levarge
Operating levarge adalah suatu ukuran tentang sensitifitas perubahan laba
bersih terhadap perubahan penjualan. Jika operating levarge tinggi, peningkatan
persentase kecil dalam penjualan akan menghailkan peningkatan laba bersih dalam
persentase yang jauh lebih tinggi. Operating levarge dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Tingkat Operating Levarge = Margin Kontribusi
Laba Bersih
Operating levarge dapat diilustrasikan sebagai berikut : diketahui laba bersih
Sterling Farm sebesar Rp 10.000.000 dengan Margin kontribusi sebesar Rp
40.000.0000. Overating levarge dapat dihitung sebagai berikut:

Tingkat OL = Rp 40.000.000
Rp 10.000.000
= 4
Ini memberikan informasi bahwa, jika penjualan meningkat sebasar 10%, maka
mengaharapkah bahwa peningkatatan sebesar 40%.

1.5 Perbedaan Titik Impas dengan Analisis Hubungan BVL


Analisis biaya volume laba kadang-kadang disederhanakan menjadi analisis titik
impas. Padahal analisis titik impas hanyalah salah satu elemen analisis biaya volume
laba. Meskipun demikian, analisis titik impas adalah elemen yang penting.
Titik impas adalah tingkat penjualan dengan tingkat laba nol. Titik impas dapat
dihitung dengan menggunakan metode persamaan (equation method) atau metode
margin kontribusi (contribution margin method). Kedua metode tersebut ekuivalen.
Metode persamaan memanfaatkan data-data dari laporan laba rugi yang disusun
dengan format kontribusi seperti yang telah digambarkan, format laporan laba rugi
dapat disajikan dengan persamaan sebagai berikut:
Laba = Penjualan - (Biaya Varibel + Biaya Tetap)
Persamaan tersebut dapat kita ubah menjadi

Penjualan = Biaya Variabel + Biaya Tetap + Laba

Analasisis Biaya Volume Laba seringkali diartikan sebagai analisis titik impas.
Hal ini sangat disayangkan karena analisis titik impas hanyalah satu elemen dalam
analisis Biaya Volume Laba, walaupun merupakan elemen yang penting. Analisis titik
impas didesain untuk menjawab pertanyaan mengenai seberapa jauh penjualan dapat
menurun sebelum perusahaan mengalami kerugian. Titik impas (break even) Adalah
tingkat penjualan dimana laba adalah nol. Ketika titik impas dicapai, laba bersih akan
bertambah sesuai dengan margin kontribusi per unit untuk setiap pertambahan produk
yang terjual. Dengan menggunakan analisis titik impas, manajer tidak perlu
menyiapkan serangkaian laporan laba rugi secara lengkap untuk mengetahui tingkat
pengembalian dari penjualan yang terjadi. Dalam analisis titik impas, jika tidak ada
penjualan, kerugian perusahaan akan sebesar beban tetapnya. Setiap unit yang terjual
akan mengurangi kerugian sebesar margin kontribusi per unit. Ketika titik impas
tercapai, setiap tambahan unit terjual meningkatkan laba perusahaan sebesar margin
kontribusi per unit.
BAB II
ANALISIS BVL BERDASARKAN JURNAL
2.1 Metode BVL
Metode Biaya, Volume dan Laba merupakan salah satu teknik untuk
merencanakan laba. Metode BVL sendiri memiliki beberapa analisis yang dapat
membantu para manajer dalam menentukan kepetusan tentang total barang yang harus
diproduksi dan harus dijual. Analisis dari BVL tersebut yang biasa terdiri atas 4, yaitu:
Analisis BEP, Overating Levarge, margin of safety dan analisis rasio margin
kontribusi.
Berdasarkan jurnal ”ANALISIS COST-VOLUME-PROFIT (CVP) DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERENCANAAN LABA PADA PT. TROPICA
COCOPRIMA” didapati analisis margin kontribusi tahun 2010 sebagai berikut :

RMK = 1 - 18.106.909.863,13
26.651.796.509,62
= 0,32 atau 32 %

Tingkat operating leverge tahun 2010


Tol = 8.544.886.646, 49
2. 126.539.915, 05
= 4, 02 %

Hal ini mengindikasikan bahwa setiap perubahan penjualan 1% maka akan terjadi
perubahan laba bersih 4,02 %.

Analisis BEP 2010


BEP = 6.331.809.282,18
0,32
= Rp 21.030.962.318,00

Margin of saferty 2010


MoS = 26.651.796.509-21.030.962.318
26.651.796.509
= 21,1 %
Penerapan analisis BVL ialah pada perencanaan laba dan berapa volume
penjualan yang harus dicapai. Dimisalkan PT Tropica Cocoprima manetapkan laba
harus mencapai 30% maka perhitungannya :
= BEP + BEP*Provit rate
= Rp 21.030.962.318,00 + (Rp 21.030.962.318,00 X 30%)
= Rp 27,340,251,013.40
Atau harus menjual produk sebanyak 5.468.050 pada harga Rp 5.000.

2.2 Kesimpulan
Berdasarkan jurnal yang dibaca penulis antara lain :
1. ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA SEBAGAI ALAT BANTU
PERENCANAAN LABA PT. BANGUN WENANG BEVERAGES COMPANY
2. ANALISIS BIAYA, VOLUME PENJUALAN, DAN LABA SEBAGAI ALAT
BANTUPERENCANAAAN LABA PADA “UD. WAHYU LESTARI
KABUPATEN KEDIRI
3. ANALISIS COST VOLUME PROFIT UNTUK PERENCANAAN LABA PADA
HOTEL SINTESA PENINSULA MANADO
4. ANALISIS BIAYA, VOLUME, LABA SEBAGAI ALAT BANTU
PERENCANAAN LABA PADA HOTEL SEDONA MANADO
5. ANALISIS COST-VOLUME-PROFIT (CVP) DALAM PENGAMBILAN
KEPUTUSAN PERENCANAAN LABA PADA PT. TROPICA COCOPRIMA

Penulis mengambil kesimpulan bahwa penerapan metode BVL sangat cocok


dibergbagi bidang usaha unit merencanakan laba. Hal ini yang mendasarkan penulis
memilih judul penerapan metode BVL pada perencanaan laba.
Metode BVL dalam merencanakan laba sangat baik dan mudah diaplikasikan.
Anasisis yang tidak rumit dan dapat berdampak besar bagi perusahaan. Pengambilan
analisiss ini sangat membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan terhadap
komposisi penjulan, biaya variabel, biaya tetap, volume dan harga produk
Manager dapat mengubah komposisi biaya dan “meracik” produk mana yang
harus dijual dengan banyak dan sedikit. Hal ini dihitung melalui analisis bauran
penjualan yang ada pada metode BVL. Penjualan mana yang paling menguntungkn dan
menghasilkan laba yang maksimum.
Analisis BEP yang terdapat pada metode BVL menjadi prioritas utama dalam
pengambilan keputusan. Dengan menggunakan BEP menager dapar memisahkan pada
tingkat penjulan brapa produk menghasilkan laba nol dan pada penjulan berapa produk
menghasilkan laba yang diinginkan.