Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


Diajukan untuk memenuhi salah stau tugas mata kuliah Kesehatan
Reproduksi

Disusun Oleh :

1. Dede Indri Turmalasari


2. Dedeh Sa’adah
3. Dian Nendhiawati
4. Fauziah Afianti
5. Hani Rohimah
6. Hertika Mauliawati

Reguler 2

PROGRAM D IV KEBIDANAN
POLTEKES BHAKTI PERTIWI HUSADA CIREBON
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Undang-Undang No.23 Tahun 1992 mendefinisikan bahwa
kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sedangkan reproduksi menurut Koblinsky adalah kemampuan
perempuan hidup dari masa adolescence ke perkawinan tergantung

mana yang lebih dahulu, sampai dengan kematian, dengan pilihan

reproduktif, harga diri dan proses persalinan yang sukses serta

relatif bebas dari penyakit ginekologis dan risikonya. menurut

WHO kesehatan reproduksi adalah kesehatan yang sempurna baik fisik,

mental, sosial dan lingkungan serta bukan semata-mata terbebas

dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan

dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya (Melyana, 2005).


Me n u r u t W H O , r e m a j a a p a b i l a a n a k t e l a h m e n c a p a i

u m u r 1 0 - 1 8 t a h u n . Menurut Undang-undang No. 4 tahun

1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang


belum mencapai 21 tahun dan belum menikah. Pada buku-buku

Pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah bila

seorang anak telah mencapai umur 10-18 tahun untuk anak perempuan

dan 12-20 tahun untuk anak laki-laki. Menurut Diknas, anak


dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun yang sesuai
dengan saat lulus sekolah menengah (Soetjiningsih, 2004).
Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang
menyangkut s i s t e m , f u n g s i d a n p r o s e s r e p r o d u k s i r e m a j a .
Berbagai permasalahan kesehat an r e p r o d u k s i r e m a j a
antara lain kehamilan tidak dikehendaki.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa strategi advokasi untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan
reproduksi remaja dan menekan angka pernikahan dini ?
2. Bagaimana strategi sosial support untuk meningkatkan pengetahuan
kesehatan reproduksi dan menekan angka pernikahan dini ?
3. Apa strategi empowerment dalam meningkatkan pengetahuan
kesehatan reproduksi remaja dan menekan angka pernikahan dini ?

1.3 Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Dapat dilakukannya promosi kesehatan tentang Kesehatan
Reproduksi remaja dan bahaya pernikahan dini di SMAN 1
Leuwimunding Kabupaten Majalengka.

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Kepala Sekolah SMAN 1 Leuwimunding, Kecamatan
Leuwimunding Kabupaten Majalengka memberikan izin untuk
diadakan penyuluhan mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja.
2. Guru SMN 1 Leuwimunding, Kecamatan Leuwimunding
Kabupaten Majalengka memberikan dukungan penyuluhan
kesehatan reproduksi remaja.
3. Siswa dapat mengetahui, mengenali, menilai, menentukan sikap
mengenai kesehatan reproduksi remaja.
BAB II
PERENCANAAN STRATEGI

2.1 Advokasi
1. Sasaran : Kepala Sekolah SMAN 1 Leuwimunding,
Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majajlengka
2. Tujuan : Acara ini mendapat persetujuan dan
dukungan dari Kepala Sekolah SMAN 1 Leuwimunding,
Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka, promosi
kesehatan ini berjalan lancar.
3. Pokok Bahasan : Pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi
remaja.
METODE MASALAH KEGIATAN SASARAN TEMPAT MEDIA EVALUASI
Dengan Minimnya Memberikan Kepala Kantor Makalah Bapak kepala
mendatangi pengetahuan pengetahuan sekolah kepala sekolah
dikantor remaja kesehatan Sekolah mengerti dan
Kepala tentang reproduksi mendukung
sekolah kesehatan remaja dan serta
reproduksi bahaya menurunkan
pernikahan surat keputusan
dini untuk
diadakannya
penyuluhan
kesehatan
reproduksi di
SMAN 1
Leuwimunding,
Kecamatan
Leuwimunding
Kabupaten
Majajlengka

2.2 Sosial Support ( Kemitraan )


1. Sasaran : Guru SMAN 1 Leuwimunding, Kecamatan
Leuwimunding Kabupaten Majajlengka
2. Tujuan : Guru SMAN 1 Leuwimunding, Kecamatan
Leuwimunding Kabupaten Majajlengka mengetahui dan ikut
berperan dalam memberikan informasi kesehatan reproduksi
remaja di SMAN 1 Leuwimunding, Kecamatan Leuwimunding
Kabupaten Majalengka
3. Pokok bahasan : Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja

METODE MASALAH KEGIATAN SASARAN TEMPAT MEDIA EVALUASI


Dengan Minimnya Memberikan Guru Kantor Makalah Bapak/Ibu
mendatangi pengetahuan pengetahuan mengerti dan
diruang remaja kesehatan mendukung serta
Guru tentang reproduksi menurunkan
SMAN 1 kesehatan remaja dan surat keputusan
Leuwimund reproduksi bahaya untuk
ing pernikahan diadakannya
dini penyuluhan
kesehatan
reproduksi di
SMAN 1
Leuwimunding,
Kecamatan
Leuwimunding
Kabupaten
Majajlengka
2.3 Empowerment

1. Sasaran : Siswa-siswi SMAN 1 Leuwimunding,


Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka
2. Tujuan : Siswa dapat mengetahui, mengenali, menilai,
menentukan sikap mengenai kesehatan reproduksi remaja
3. Pokok Bahasan : Kesehatan Reproduksi Remaja
METODE MASALAH KEGIATAN SASARAN TEMPAT MEDIA EVALUASI
Dengan Minimnya Memberikan Siswa-siswi Kelas Laptop, Siswa-siswi
mengadakan pengetahuan pengetahuan SMAN 1 Mipa 1 LCD mengetahui
penyuluhan remaja kesehatan Leuwimundi SMAN 1 Proyektor, dan
tentang reproduksi ng, Leuwimun Infocus, menyadari
kesehatan remaja dan Kecamatan ding, Leaflet pentingnya
reproduksi bahaya Leuwimundi Kecamata kesehatan
pernikahan ng, n reproduksi
dini Kabupaten Leuwimun remaja dan
Majalengka ding, bahaya
Kabupaten pernikahan
Majalengk dini
a
BAB III

RENCANA ACARA PENYULUHAN

3.1 Satuan Acara Penyuluhan (SAP)

Topik : Kesehatan Reproduksi remaja dan bahaya pernikahan dini

Sasaran : Siswa-siswi SMAN 1 Leuwimunding, Kecamatan


Leuwimunding Kabupaten Majalengka

Waktu : 45 menit

Tempat : Kelas X Mipa 1 SMAN 1 Leuwimunding,


Kecamatan leuwimunding Kabupaten Majalengka

Tujuan Umum : Untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan


reproduksi pada remaja

Tujuan Khusus : Siswa dapat mengetahui, mengenali, menilai,


menentukan sikap mengenai Kesehatan reproduksi remaja yang sehat

Pokok Bahasan : Kesehatan Reproduksi remaja

Metode : Kegiatan promosi kesehatan ini menggunakan


metode ceramah, konseling.

Media : Kegiatan penyuluhan kesehatan ini menggunakan


media pendukung yaitu laptop, LCD proyektor, infocus, dan leaflet

Alat Evaluasi : Setelah di beri penyuluhan, audien di beri


pertanyaan dan audien dapat menjawab sehingga dapat disimpulkan
bahwa audien telah mencerna materi dengan baik.
3.2 Materi Penyuluhan (Terlampir)

3.3 Kegiatan Operasional

Tahapan Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan


Audien
Pendahuluan 5 menit 1. Membuka Mendengar dan
2. Memperkenalkan diri menjawab
3. Menjelaskan maksud dan
tujuan
4. Menggali pengetahuan
siswa-siswi tentang
kesehatan reproduksi
remaja
Penyajian 20 menit 1. Menjelaskan kesehatan Mendengar dan
reproduksi remaja melihat
2. Menjelaskan perilaku
remaja yang sehat
3. Menjelaskan dampak
akibat penyimpangan
perilaku bagi kesehatan
reproduksi
4. Menjelaskan tentang
penyakit apa saja yang
dapat di timbulkan dari
penyimpangan perilaku
remaja
5. Bahaya pernikahan dini
Tanya jawab 15 menit Memberikan kesempatan kepada Audien
audien untuk bertanya menanyakan
tentang hal-hal
yang belum di
mengerti dan
narasumber
menjawab
pertanyaan yang
disampaikan
Penutup 5 menit Menarik kesimpulan, salam Mendengar
penutup

3.4 Evaluasi
3.4.1 Evaluasi Struktur
1. Peserta hadir ditempat penyuluhan
2. Penyelenggaraan penyuluhan yang dilaksanakan di kelas X
Mipa 1 SMAN 1 Leuwimunding Kecamatan Leuwimunding
Kabupaten Majalengka
3.4.2 Evaluasi Proses
1. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
2. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
sebelum penyuluhan selesai.
3. Peserta mengajukan pertanyaan .
4. Peserta mampu menjawab pertanyaan sekilas tentang materi
penyuluhan.
5. Peserta penyuluhan memahami tentang perilaku remaja
terhadap kesehatan.
BAB IV

LAMPIRAN MATERI KEGIATAN

4.1 Definisi

Defenisi Kesehatan adalah Keadaan sejahtera dari fisik, mental dan


sosial yang memungkinkan orang hidup produktif.

Definisi Reproduksi ( re = kembali , produksi = membuat/


menghasilkan ) atau proses kehidupan manusia dalam menghasilkan
keturunan demi kelestarian hidupnya.

Pengertian Remaja adalah Masa peralihan dari masa kanak-kanak ke


masa dewasa.

Kesehatan reproduksi remaja adalah Kondisi sehat yang menyangkut


sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja

4.2 Masa Remaja

Masa Remaja : Masa transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai
perubahan fisik emosi dan psikis Terjadi perubahan fisik secara cepat yang
tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan Dalam lingkungan sosial
tertentu : bagi remaja pria merupakan saat diperolehnya kebebasan, bagi
remaja wanita saat mulainya segala bentuk pembatasan

1. Pembagian masa remaja

a. Masa Remaja Awal umur antara 10 – 12 tahun


Ciri khas :
- Lebih dekat dengan teman sebaya
- Ingin bebas
- Lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir
abstrak
b. Masa Remaja Tengah Umur antara 13 - 15 tahun

Ciri yang khas pada masa ini :


- Mencari identitas diri
- Timbulnya keinginan untuk kencan
- Mempunyai rasa cinta yang mendalam
- Mengembangkan kemampuan berpikir abstrak
- Berkhayal tentang aktivitas seks
c. Masa Remaja Akhir umur antara 16 - 19 tahun
Ciri khas :
- Pengungkapan kebebasan diri
- Lebih selektif dalam mencari teman sebaya
- Mempunyai citra jasmani dirinya
- Dapat mewujudkan rasa cinta
- Mampu berpikir abstrak

4.3 Perbedaan Fisik antara remaja laki-laki dan perempuan

1. Remaja laki laki


 Pertumbuhan kumis dan kantung zakar
 Suara semakin membesar
 ekresi dan ejakulasi
 Badan berotot
2. Remaja Perempuan
 Pertumbuhan rahim dan vagina
 Pertumbuhan buah dada
 Menstruasi pertama
 Pinggul melebar
4.4 Pernikahan Dini

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan


atau dilaksanakan oleh dua orang dengan meksud meresmikan ikatan
perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hokum adapt.
Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi antar bangsa, suku
satu dan yang lain pada satu bangsa, agama, budaya, maupun kelas social.
Penggunaan adapt atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan
aturan atau hokum agama tertentu pula (Alfiyah, 2010).
Pernikahan dini diartikan merupakan instituisi agung untuk mengikat
dua insan lawan jenis yang masih remaja dalam satu ikatan keluarga. Ada
beberapa factor penyebab terjadinya pernikahan dini, yaitu factor pribadi
dan factor keluarga. Dari factor pribadi remaja adalah karena ingin
menghindari dosa (seks bebas), dan ada juga yang karena “kecelakaan”.
Sedangkan dari factor keluarga adalh karena paksaan dari orang tua (Dian
Luthfiyati, 2008).
Dampak Dari Pernikahan Dini
Dampak dari pernikahan dini bukan hanya dari dampak kesehatan,
Tetapi punya dampak juga terhadap kelangsungan perkawinan. Sebab
perkawinan yang tidak disadari,Mempunyai dampak pada terjadinya
perceraian(Lily Ahmad, 2008).
Pernikahan Dini atau menikah usia muda, memiliki dampak negative
dan dampak positif pada remaja tersebut. Adapun dampak paernikahan dini
adalah sebagai berikut:
 Dari Segi Psikologis

Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan
seks, sehingga akan menimbulkan truma psikis berkepanjangan dalam jiwa
anak yang sulit dissebuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya
yang berakhir pada perkawinan yang dia sedari tidak mengeti atas putusan
hidupnya. Selain itu, ikatan perkawinan akan menghilangkan hak anak
untuk memperoleh pendidikan ( Wajib belajar 9Tahun), hak bermain dan
menikmati waktu luangnya serta hak-hak lainnya yang melekat dala diri
anak (Deputi, 2008).

 Dari Segi Sosial

Fenomena sosial ini berkaitan dengan faktor social budaya dalam


masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi yang rendah dan
hanya diangggap pelengkap seks laki-laki saja (Deputi, 2008).

 Dari Segi Kebidanan

Perempuan terlalu mudah untuk menikah di bawah umur 20Tahun


beresiko terkena kangker rahim. Sebab pada usia remaja, sel-sel leher rahim
belum matang (Dian Lutyfiyati, 2008).

 Dampak terhadap hukum

Adanya pelanggaran terhadap 3 Undang-undang di negara kita yaitu:


1. UUNo.1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai
umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.
Pasal 6 (2) Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum
mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua.
2. UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Pasal 26 (1) Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk:
a. Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak
b. Menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, dan bakat
c. mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
3. UU No.21 tahun 2007 tentang PTPPO
Patut ditengarai adanya penjualan/pemindah tanganan antara kyai
dan orang tua anak yang mengharapkan imbalan tertentu dari perkawinan
tersebut.
Amanat Undang-undang tersebut di atas bertujuan melindungi anak,
agar anak tetap memperoleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang
serta terlindungi dari perbuatan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.
Sungguh disayangkan apabila ada orang atau orang tua melanggar
undang-undang tersebut. Pemahaman tentang undang-undang tersebut harus
dilakukan untuk melindungi anak dari perbuatan salah oleh orang dewasa
dan orang tua. Sesuai dengan 12 area kritis dari Beijing Platform of Action,
tentang perlindungan terhadap anak perempuan.
Penyebab Trejadinya Pernikahan Dini
1. Pendidikan
Peran pendidikan anak-anak sangat mempunyai peran yang besar.
Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi
waktu dengan bekerja. Saat ini anak tersebut sudah merasa cukup mandiri,
sehingga merasa mampu untuk menghindari diri sendiri.
Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut
menganggur. Dalam kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka
akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah
menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang jika diluar control membuat
kehamilan diluar nikah.
Di sini, terasa betul makna dari wajib belajar 9tahun. Jika asumsi
kita anak masuk sekolah pada usia 6tahun, maka saat Wajib belajar 9tahun
terlewati, anak tersebut sudah berusia 15tahun. Di harapkan dengan wajib
belajar 9tahun, maka akan punya dampak angka Pernikahan Dini akan
sedikit atau bekurang.
2. Melakukan Hubungan Biologis
Ada beberapa kasus, diajukan pernikahan karene anak-anak telah
melakukan hubungan biologis layaknya suami istri. Dengan kondisi seperti
ini, orang tua anak perempuan cenderung segera menihkahkan anaknya,
karena menurut oaring tua anak gadis ini, sudah tidak perawan lagi, dan hal
ini menjadi aib bagi keluarga.
BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB PERNIKAHAN DINI.
Selama ini perkawinan di bawah umur terjadi dari dua aspek:
1. Sebab dari Anak.
a. Faktor Pendidikan.
Peran pendidikan anak-anak sangat mempunyai peran yang besar.
Jika seorang anak putus sekolah pada usia wajib sekolah, kemudian mengisi
waktu dengan bekerja. Saat ini anak tersebut sudah merasa cukup mandiri,
sehingga merasa mampu untuk menghidupi diri sendiri.
Hal yang sama juga jika anak yang putus sekolah tersebut
menganggur. Dalam kekosongan waktu tanpa pekerjaan membuat mereka
akhirnya melakukan hal-hal yang tidak produktif. Salah satunya adalah
menjalin hubungan dengan lawan jenis, yang jika diluar kontrol membuat
kehamilan di luar nikah.
b. Faktor telah melakukan hubungan biologis.
Ada beberapa kasus, diajukannya pernikahan karena anak-anak telah
melakukan hubungan biologis layaknya suami istri. Dengan kondisi seperti
ini, orang tua anak perempuan cenderung segera menikahkan anaknya,
karena menurut orang tua anak gadis ini, bahwa karena sudah tidak perawan
lagi, dan hal ini menjadi aib.
Tanpa mengenyampingkan perasaan dan kegalauan orang tua, saya
menganggap ini sebuah solusi yang kemungkinan di kemudian hari akan
menyesatkan anak-anak. Ibarat anak kita sudah melakukan suatu kesalahan
yang besar, bukan memperbaiki kesalahan tersebut, tetapi orang tua justru
membawa anak pada suatu kondisi yang rentan terhadap masalah. Karena
sangat besar di kemudian hari perkawinan anak-anak tersebut akan dipenuhi
konflik.
c.Hamil sebelum menikah
Ini saya pisahkan dari faktor penyebab di atas, karena jika kondisi
anak perempuan itu telah dalam keadaan hamil, maka orang tua cenderung
menikahkan anak-anak tersebut. Bahkan ada beberapa kasus, walau pada
dasarnya orang tua anak gadis ini tidak setuju dengan calon menantunya,
tapi karena kondisi kehamilan si gadis, maka dengan terpaksa orang tua
menikahkan anak gadis tersebut.
Bahkan ada kasus, justru anak gadis tersebut pada dasarnya tidak
mencintai calon suaminya, tapi karena terlanjur hamil, maka dengan sangat
terpaksa mengajukan permohonan dispensasi kawin. Ini semua tentu
menjadi hal yang sangat dilematis. Baik bagi anak gadis, orang tua bahkan
hakim yang menyidangkan.
Karena dengan kondisi seperti ini, jelas-jelas perkawinan yang akan
dilaksanakan bukan lagi sebagaimana perkawinan sebagaimana yang
diamanatkan UU bahkan agama. Karena sudah terbayang di hadapan mata,
kelak rona perkawinan anak gadis ini kelak. Perkawinan yang dilaksanakan
berdasarkan rasa cinta saja kemungkinan di kemudian hari bias
goyah,apalagi jika perkawinan tersebut didasarkan keterpaksaan .
2. Sebab dari luar Anak
a. Faktor Pemahaman Agama.
Saya menyebutkan ini sebagai pemahaman agama, karena ini
bukanlah sebagai doktrin. Ada sebagian dari masyarakat kita yang
memahami bahwa jika anak menjalin hubungan dengan lawan jenis, telah
terjadi pelanggaran agama. Dan sebagai orang tua wajib melindungi dan
mencegahnya dengan segera menikahkan anak-anak tersebut.
Ada satu kasus, dimana orang tua anak menyatakan bahwa jika anak
menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan satu: “perzinahan”. Oleh
karena itu sebagai orang tua harus mencegah hal tersebut dengan segera
menikahkan. Saat mejelishakim menanyakan anak wanita yang belum
berusia 16 tahun tersebut, anak tersebut pada dasarnya tidak keberatan jika
menunggu dampai usia 16 tahun yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi
orang tua yang tetap bersikukuh bahwa pernikahan harus segera
dilaksanaka. Bahwa perbuatan anak yang saling sms dengan anak laki-laki
adalah merupakan “zina”. Dan sebagai orang tua sangat takut dengan azab
membiarkan anak tetap berzina
b. Faktor ekonomi.
Kita masih banyak menemui kasus-kasus dimana orang tua terlilit
hutang yang sudah tidak mampu dibayarkan. Dan jika si orang tua yang
terlilit hutang tadi mempunyai anak gadis, maka anak gadis tersebut akan
diserahkan sebagai “alat pembayaran” kepada si piutang. Dan setelah anak
tersebut dikawini, maka lunaslah hutang-hutang yang melilit orang tua si
anak.
Kasus ini baru-baru ini mencuat terjadi di Maros (Sulawesi Selatan).
Dimana seorang kakek erusia 60 tahun menikah dengan anak berusia 12
tahun. Orang tua anak tersebut sudah cuup senang, karena selain hutang-
hutangnya bisa terbayarkan juga karena anaknya tersebut telah diberikan
HP. Sebuah kisah yang sangat ironis.
c. Faktor adat dan budaya.
Di beberapa belahan daerah di Indonesia, masih terdapat beberapa
pemahaman tentang perjodohan. Dimana anak gadisnya sejak kecil telah
dijodohkan orang tuanya. Dan akan segera dinikahkan sesaat setelah anak
tersebut mengalami masa menstruasi. Padahal umumnya anak-anak
perempuan mulai menstruasi di usia 12 tahun. Maka dapat dipastikan anak
tersebut akan dinikahkan pada usia 12 tahun, jauh di bawah batas usia
minimum sebuah pernikahan yang diamanatkan UU.
Dari kedua penyebab pernikahan dini, maka pernikahan dini yang
terjadi bukan karena n si anak, yang menjadi korban adalah anak-anak
perempuan. Budaya ini harus kita kikis, demi terwujudnya kesaaan hak
antara anak laki-laki dan anambangan Remaja dk perempuan. Dan wajib
kita syukuri juga, budaya ini terjadi di daerah, bukan di daerah yang sudah
maju.
Perkembangan Remaja dan Tugasnya sesuai dengan tumbuh dan
berkembangnya suatu individu , dari masa anak-anak sampai dewasa ,
individu memiliki tugas masing-masing pada setiap tahap perkembangannya
Yang dimaksud tugas pada setiap tahap perkembangan adalah bahwa setiap
tahapan usia , individu tersebut mempunyai tujuan untuk mencapai suatu
kepandaian.