Anda di halaman 1dari 4

Ahok Dinilai Punya Alasan Kuat untuk

Ditangguhkan Penahanannya
Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Kompas.com - 14/05/2017, 19:57 WIB

Pengamat Hukum Tata Negara, Refly Harun usai siaran radio di MNC Tower, Jakarta, Senin
(7/10/2013).(KOMPAS.COM/FIAN)

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar hukum tata negara Refly Harun menilai, semestinya
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memenuhi permintaan penangguhan penahanan terhadap
Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Menurut dia, Ahok
memenuhi kriteria objektif untuk dibebaskan dari tahanan.

"Dasarnya alasan yang objektif apakah punya potensi melarikan diri. Menurut saya enggak,"
ujar Refly dalam diskusi di Jakarta, Minggu (14/5/2017).

Menurut Refly, Ahok juga tidak mungkin mengulangi perbuatannya untuk kembali menista
agama. Selain itu, Refly meyakini Ahok tidak akan menghilangkan barang bukti.

"Menyembunyikan barang bukti apa? Semua juga bisa melihat, barang bukti sudah tersebar,"
kata Refly.

Meski begitu, Refly menghormati keputusan hakim pengadilan tingkat pertama yang
menjatuhkan vonis dua tahun penjara dan langsung menahan Ahok.
Apa yang Perlu Dipelajari dari Aksi Massa
Tolak Fahri Hamzah?
Kontributor Manado, Ronny Adolof Buol
Kompas.com - 14/05/2017, 13:10 WIB

Peserta aksi menolak kedatangan Fahri Hamzah di Manado, Sabtu (13/5/2017) mencoba
menjebol pintu pagar halaman VIP Bandara Sam Ratulangi. Fahri Hamzah dianggap sebagai
sosok yang sering mengumbar pernyataan yang memicu tindakan intoleran.(KOMPAS.com /
RONNY ADOLOF BUOL)

MANADO, KOMPAS.com - Kedatangan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ditolak oleh
massa saat berkunjung ke Manado, Sabtu (13/5/2017). Fahri harus membatalkan sejumlah
agendanya karena situasi yang tak kondusif.

Massa yang berkumpul sejak pagi di Bandara Sam Ratulangi memaksa Fahri harus melewati
jalan alternatif lewat belakang Bandara untuk tiba di Kantor Gubernur Sulut.

Pun, saat harus kembali ke Bandara, Fahri harus melewati pintu belakang. Massa menggelar
aksi menolak kedatangan Fahri karena menganggap dia adalah pejabat negara yang kerap
melontarkan pernyataan yang tak mencerminkan toleransi.

"Aksi kemarin sebenarnya bentuk spontanitas dalam menyikapi kondisi bangsa akhir-akhir
ini. Kenapa harus Fahri, karena dia dinilai sebagai figur yang acapkali tampil di forum-forum
resmi maupun dalam beberapa aksi selalu berbicara tanpa memperhatikan perasaan kaum
minoritas," ujar Jim R. Tindi, salah satu orator dalam aksi kemarin, Minggu (14/5/2017).

Aksi massa yang datang dari berbagai elemen masyarakat itu sempat terlibat bentrok dengan
polisi di Kantor Gubernur. Massa juga sempat merangsek masuk hingga ke dalam Bandara.
Namun, pihak keamanan dapat meredam keributan itu dan tidak sampai menimbulkan
korban.
Dituding Cari Kesalahan Pajak Fadli Zon,
Ini Komentar Istana
Fabian Januarius Kuwado
Kompas.com - 14/05/2017, 12:24 WIB

Fabian Januarius Kuwado Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi
Saptopribowo

JAKARTA, KOMPAS.com - Istana Kepresidenan dengan tegas membantah telah


menginstruksikan aparat untuk mencari-cari keterlibatan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon
dalam hal tindak pidana perpajakan.

"Tuduhan itu tidak benar," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi
Saptopribowo kepada Kompas.com, Sabtu (13/5/2017).

Johan mengatakan, dugaan keterlibatan Fadli Zon dalam tindak pidana perpajakan pertama
kali diketahui berdasarkan salah satu sidang kasus pajak di pengadilan tindak pidana korupsi,
beberapa waktu yang lalu.

Istana, lanjut Johan, sama sekali tidak tahu menahu perihal perkembangan sidang itu sendiri.
Istana juga tidak terkait dengan seorang yang mengungkapkan adanya dugaan keterlibatan
Fadli Zon dalam perkara itu.

"Istana tidak ada kaitan apa pun dengan pajak seseorang, apalagi dengan fakta- fakta yang
muncul di sebuah persidangan," ujar Johan.

Untuk menjernihkan persoalan, Johan meminta Fadli Zon menanyakan langsung ke orang di
persidangan yang pertama kali menyebut keterlibatan Fadli dalam perkara pajak.

"Sebaiknya ditanyakan kepada sumber awal munculnya informasi soal itu," ujar Johan.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon sebelumnya merasa kesalahan pajaknya sudah dicari-cari sejak
ia mengikuti aksi unjuk rasa 411 atau 4 November 2016 lalu.

Aksi massa saat itu digelar di sekitar Istana Kepresidenan untuk menuntut pemerintah
memproses hukum Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang
dianggap melakukan penodaan agama.

"Setelah saya ikut 411 ada info datang ke saya bahwa saya dicari persoalan pajaknya," kata
Fadli Zon usai menghadiri pelantikan kepala daerah, di Istana Kepresidenan, Jakarta?, Jumat
(12/5/2017).