Anda di halaman 1dari 18

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BAJA-BETON KOMPOSIT AMAN GEMPA

Umar Iswanto, Yurisman, Khadavi

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Bung Hatta Padang Email: umariswa@gmail.com, yurisman_pdg@yahoo.com, qhad_17@yahoo.com

Abstrak

Penggunaan baja sebagai material struktur bangunan di Indonesia masih belum meluas seperti di negara-negara lain, khususnya di kota Padang. Bila menggunakan struktur baja biasa, penampang baja yang diperlukan akan lebih besar. Berbeda bila menggunakan struktur komposit, maka akan diperoleh penghematan berat baja. Dalam tulisan ini direncanakan struktur komposit dari sebuah gedung kantor 4 lantai yang terletak di Jl. Air Pacah Kota Padang. Struktur komposit mencakup struktur atas (pelat lantai, balok dan kolom). Beban gempa dihitung dengan metoda statik ekivalen dimana struktur ditinjau secara 3D dan sesuai dengan peraturan gempa terbaru, yaitu RSNI 03-1726-201x. Dari peta respon spektra, diperoleh respon spektra periode pendek (Ss) = 1,35g dan periode 1 detik (S 1 ) = 0,55g, Kota Padang termasuk dalam kategori desain seismik “D”. Design Base Shear (V) diperoleh sebesar 4269034 N. Dari hasil perhitungan diperoleh ketebalan pelat 11 cm dengan memakai union floordeck W-1000, balok induk memakai profil IWF 400.200.8.13 dan IWF 350.175.8.9, dimensi kolom 600x600 mm dengan profil IWF 400.400.21.21 di dalamnya. Adapun struktur bawah digunakan sloof 30x40 cm, pondasi memakai 4 pondasi tiang Φ40 cm (per titik) dengan kedalaman 15 m dan pilecap 2,2 x 2,2 x 0,7 m.

Kata kunci : Struktur komposit, baja-beton, floordeck

DESIGN OF STEEL-CONCRETE COMPOSITE BUILDING STRUCTURE WITH EARTHQUAKE SAFETY

Umar Iswanto, Yurisman, Khadavi

Department of Civil Engineering, Faculity of Civil Engineering and Planing,

University Of Bung Hatta Padang

Email: umariswa@gmail.com, yurisman_pdg@yahoo.com, qhad_17@yahoo.com

Abstrack

The use of steel as a structural material in Indonesia is still not as widespread as in other countries particularly in the city of Padang. When using ordinary steel structures, steel section required will be larger. When using composite structures, it will obtain a weight saving of steel. In this paper, planned composite structure of a 4-storey office building located on Jl. Air Pacah Padang. Composite structures include upper structures (floor slabs, beams and columns). Earthquake loads are calculated with equivalent static method whereby 3D structure reviewed and in accordance with the newest eartquake regulation, thats is RSNI 03- 1726-201x. From spectral respon map, obtained that the short period spectral respon (S 1 ) = 1,35g and 1s periode spectral respon (S 1 ) = 0,55g. Padang City classified seismic design category “D”. Design Base Shear (V) obtained 4269034 N. From the calculations, the plate thickness is 11 cm by using union floordeck W-1000, primary beam using IWF 400.200.8.13 and IWF 350.175.8.9 profile, dimensions of column is 600x600 mm with IWF profile 400.400.21.21 inside. The bottom structure is used sloof 30x40 cm, 4 pile foundation Φ40 cm (per point) with 15 m depth and used pilecap 2.2 x 2.2 x 0,7 m.

Keywords : composite structure, steel-concrete, floordeck

PENDAHULUAN

Penggunaan baja sebagai material struktur bangunan di Indonesia masih belum meluas seperti di negara-negara lain, khususnya di kota Padang. Perencanaan struktur baja umumnya masih menggunakan struktur baja konvensional. Bila menggunakan struktur baja biasa, penampang baja yang diperlukan akan lebih besar dan kurang efisien. Penggunan baja sebagai struktur bangunan akan lebih baik lagi bila dikombinasikan dengan beton. Perpaduan antara baja profil dengan beton yang digabung bersama untuk memikul beban tekan dan lentur disebut struktur komposit. Keistimewaan yang nyata dari sitem komposit (Charles G.Salmon, 1991) adalah :

1) Penghematan berat baja 2) Penampang balok baja yang digunakan lebih kecil 3) Kekakuan lantai meningkat 4) Kapasitas menahan beban lebih besar 5) Panjang bentang untuk batang tertentu dapat lebih besar

Dalam tugas akhir ini akan dibuat contoh perencanaan sebuah gedung

kantor 4 lantai yang terletak di Jl. Air Pacah, Kota Padang dengan struktur baja komposit yang ditujukan dapat menahan beban gempa yang terjadi, sesuai dengan peraturan – peraturan dalam RSNI 03-1729-201x. Adapun maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Merencanakan struktur gedung dengan memanfaatkan keuntungan dari struktur baja dan beton yang dikombinasikan sehingga beraksi sebagai struktur baja-beton komposit.

2. Merencanakan struktur baja-beton komposit yang memenuhi persyaratan tahan gempa berdasarkan RSNI 03-1729-201x dimana pada saat terjadi gempa kekuatan gedung yang direncanakan dapat melindungi jiwa penghuni dan memastikan kerusakan yang terjadi berada pada batas yang masih dapat diperbaiki kembali.

3. Bisa merencanakan sambungan pada struktur baja komposit yang memenuhi persyaratan.

Tujuan dari penyusunan Tugas Akhir ini adalah :

1. Mendapatkan dimensi pelat

komposit, balok komposit dan kolom komposit yang mampu menahan gempa dan memenuhi persyaratan keamanan struktur.

2. Memperoleh perencanaan sambungan balok anak dengan balok induk, dan sambungan balok induk dengan kolom yang sesuai dengan SNI 03-1729-2002.

BATASAN MASALAH

Secara garis besar batasan masalah dalam Tugas Akhir ini adalah :

1. Tidak meninjau analisa biaya, manajemen konstuksi, maupun segi arsitektural;

2. Perhitungan tidak meninjau struktur sekunder, seperti tangga;

3. Analisa Struktur

a) Beban gempa dihitung dengan menggunakan analisa beban gempa statik ekuivalen (RSNI 03-1726-200x);

b) Perhitungan mekanika struktur (kecuali struktur pelat lantai dan balok anak) untuk mendapatkan gaya-gaya dalam (bidang M, D dan N) menggunakan bantuan program SAP2000;

c) Permodelan struktur dilakukan secara 3 Dimensi (analisa gempa

ditinjau pada dua arah); 4. Baja yang digunakan untuk struktur komposit adalah profil IWF.

METODOLOGI PENULISAN

Metodologi penulisan dalam tugas akhir ini, yaitu dilakukan dengan

metode studi pustaka atau studi literatur dengan mengumpulkan informasi, data – data, dan keterangan dari buku-buku, standar, peraturan atau pedoman perencanaan yang relevan, ditambah dengan masukan dari dosen

pembimbing.

HASIL

A. Pelat Komposit

Pelat komposit adalah struktur pelat beton yang memakai dek baja (floordeck atau bonedeck), dimana dek

baja berfungsi sebagai bekisting tetap sekaligus sebagai tulangan yang menahan momen positif. Pelat komposit ini biasanya digunakan pada proyek- proyek yang besar dan membutuhkan waktu penyelesaian yang cepat. Dalam tugas akhir ini, pelat komposit direncanakan menggunakan Union floordeck W-1000 dari PT. Union Metal, Bekasi dengan tebal 0,7

mm.

Gambar 1. Denah Pelat I + I c u I = d 2 N.A C.G.S

Gambar 1. Denah Pelat

I + I c u I = d 2 N.A C.G.S ycc or yuc yuc
I
+
I
c
u
I
=
d
2
N.A
C.G.S
ycc or yuc
yuc or ycs
ysb
Gambar 2. Penampang Pelat Komposit
Dimana,
d (
2
ycc
=
2
ρn
+
(
ρn
) − ρn)
ycs
= d – ycc

Berdasarkan SNI 03-1729-2002,

tebal minimal beton di atas gelombang

floordeck adalah 50 mm. Dalam tugas

akhir ini, dicoba dengan ketebalan 60

mm, sehingga total tebal pelat komposit

menjadi 110 mm.

Momen Inersia pelat komposit

perlu dihitung untuk mengetahui

kekuatan pelat komposit dalam

menahan lendutan. Momen inersia pelat

komposit yang dihitung adalah momen

inersia cracked section (I c ) dan momen

inersia uncracked section (I uc ). Rata –

rata dari keduanya merupakan momen

inersia desain (I d ) yang digunakan

dalam kontrol lendutan.

I

c

=

{(

b

/ 3

3

× y + n ×

cc

I UC

=

b hc

(

)

3

12

+

b hc

.

.(

yuc

+

Wr . dd

.

dd

2

12

+

(

h

n.Is + n.As.( yus)

2

A

s

× y

cs

2

)}

0,5

hc

)

2 +

yuc

0,5

dd

)

2

+ n × I

b

Cs

+

s

yuc =

b

0,5 (

hc

)

2

+

n .

Asd

+

Wr . dd ( h

0,5

dd

)

b

Cs

b hc

.

+

n . As

+

Wr . dd

.

b

Cs

yus = d – yuc

n

= rasio modulus (Es/Ec)

Is

= Momen inersia dek baja

ρ

= rasio tulangan = As/bd 2

Untuk mengetahui ketahan pelat

komposit dalam menahan momen yang

terjadi, terlebih dahulu pelat komposit

digolongkan pada pelat under reinforce

atau pelat over reinforce yang

tergantung pada rasio besarnya tekanan

(c/d) dari pelat. Perbandingan tersebut

adalah:

(c/d) b =

c

=

711(

h

dd

)

(711

+ fy d

)

ϕ

. c fc d b

s As fy

.

1.

α ϕ

.

'.

.

.

β

1

Pelat under reinforce, c < (c/d) b M ru = φ s .As.fy (d – a/2)

Pelat under reinforce, c > (c/d) b Mro = α1.Φc.fc.b.β1.c. (d-β1.c/2) Hasil perhitungan menunjukkan bahwa pelat tergolong over reinforce. Adapaun hasil kontrol adalah sebagai berikut :

Kontrol terhadap lendutan :

-

δ

- δ izin

Syarat :

= 10,8 mm

= 16,67 mm

δ < δ izin

10,8 mm < 16,67 mm

OK

Kontrol terhadap momen :

-

Mu

= 11,391 KNm

-

Mro

= 33,730 KNm

Syarat :

Mu < Mro 11,391 < 33,730

OK

Tulangan pada pelat direncanakan menggunakan wiremesh. Untuk menghitungnya, pertama luas tulangan dengan perhitungan tulangan pelat konvensional. Setelah didapat luas tulangan yang diperlukan (As konvensional), selanjutnya dikonversikan ke luas tulangan wiremesh dengan formula berikut :

ke luas tulangan wiremesh dengan formula berikut : Dari hasil perhitungan diperoleh wiremesh yang dipakai :

Dari hasil perhitungan diperoleh wiremesh yang dipakai :

- : Φ10 – 100

arah x

- : arah y Φ6 –100 Berikut ini adalah gambar hasil perhitungan pelat komposit :
- :
arah y
Φ6 –100
Berikut ini adalah gambar hasil
perhitungan pelat komposit :
WIREMESH Ø6-100
WIREMESH Ø10-100
UNION FLOORDECK W-1000 T.0,7 MM

Gambar 3. Pelat komposit dengan wiremesh

B.

Struktur Aman Gempa Beban gempa dalam tugas akhir

ini

dihitung dengan

metode analisis

beban statik ekivalen yang berdasarkan RSNI 03-1726-201x. Dari analisa beban

gempa

diperoleh

parameter

sebagai berikut :

Kategori resiko bangunan : II

parameter

Faktor keutamaan (I e )

: 1,0

Klasifikasi situs

: D

Respon Spektra percepatan

- Periode pendek (Ss)

: 1,35g

- Periode 1 dt (S 1 )

: 0,55g

Koefisien Situs

- Periode pendek (Fa)

: 1,0

- Periode 1 dt (F v )

: 1,0

Parameter Respon Percepatan

- Periode pendek (S MS )

: 1,35g

- Periode 1 dt (S M1 )

: 0,55g

Parameter percepatan

Spektral Desain

- Periode pendek (SDs)

: 0,9g

- Periode 1 dt (S 1 )

: 0,37g

Kategori Desain Seismik : D

Koefisien R, C d , dan Ω 0

- R

: 8

- C d

: 3

- Ω 0

: 5,5

Periode Struktur

Fundamental (T) : 0,55dt

Koefisien Respon

Gempa (Cs)

: 0,081

Design Base Shear (V): 4269034 N

Distribusi Gaya Lateral (Fx) dan

gaya horizontal (Vstory) :

Tabel 1. Distribusi gaya horizontal

Lantai

Fx (N)

Vstory (N)

4

1.657.246,95

1.657.246,95

3

1.305.893,53

2.963.140,47

2

870.595,68

3.833.736,16

1

435.297,84

4.269.034,00

C. Balok Komposit

Sebuah balok komposit adalah

sebuah balok yang kekuatannya

bergantung pada interaksi mekanis

diantara dua atau lebih bahan.

Aksi komposit terjadi apabila

dua batang struktural pemikul pemikul

beban seperti pada pelat beton dan

balok baja sebagai penyangganya

dihubungkan secara menyeluruh dan

mengalami defleksi sebagai satu

kesatuan. (Salmon & Johnson, 1991)

Dalam perencanaan balok

komposit, ada beberapa tahapan yang

perlu diperhatikan :

1)

Preliminary Design

2)

Kontrol Stabilitas Penampang

3)

Kontrol Kekuatan Balok

Sebelum Komposit

Setelah Komposit

Preliminary design dilakukan

dengan memilih profil baja yang

direncanakan. Dalam hal ini, profil baja

yang dipilih adalah:

Balok anak : IWF 250.175.7.11

Balok induk arah x

IWF 400.200.8.13

Balok induk arah y

IWF 350.175.8.9

Kontrol stabilitas penampang

dilakukan pada sayap dan web dari

profil baja, dengan rumusan sebagai

berikut :

a. Pada sayap

170 b f λ p = λ f = fy 2 t f dimana, b
170
b f
λ p =
λ f
=
fy
2 t
f
dimana,
b f : lebar flens

tf : tebal flens

Bila λ f < λ p , maka dikategorikan

penampang kompak, bila λ f > λ p , dikategorikan ponampang tak kompak. Berikut ini adalah hasil perhitungan dari balok yang direncanakan :

Tabel 2. Hasil kontrol stabilitas pada sayap

Elemen

λ

p

λ

f

Ket

     

Penampang

Balok Anak

7,96

10,97

Kompak

Balok Induk

7,96

10,97

Penampang

Arah x

Kompak

Balok induk

7,96

9,72

Penampang

arah y

Kompak

b. Pada Web

1680 λ p = λ w = fy dimana, b w : lebar web t
1680
λ p =
λ w =
fy
dimana,
b w : lebar web
t w : tebal web

b

w

2

t

w

Tabel 3. Hasil kontrol stabilitas pada web

Elemen

λ

p

λ

f

Ket

     

Penampang

Balok Anak

108,44

28,00

Kompak

Balok Induk

108,44

42,75

Penampang

Arah x

Kompak

Balok induk

108,44

38,00

Penampang

arah y

Kompak

Untuk mengontrol kekuatan balok sebelum komposit, maka balok dikontrol terhadap kuat lentur, kuat

geser dan lendutan yang terjadi.

Kuat lentur Mp = Zx . fy

Syarat :

Mu

ϕ

Mp

Tabel 4. Hasil kontrol kuat lentur balok

Elemen

Mu/φ (Nmm)

Mp (Nmm)

Ket

Balok

     

Anak

211.758,4

12.480.000

OK

Balok

     

Induk

224.597.483

285.600.000

OK

Arah x

Balok

     

induk

73.876.282,22

153.840.000

OK

arah y

Kuat geser

Vn = 0,6 . fy . Aw

Syarat : Vu ≤ φ Vn

Tabel 5. Hasil kontrol kuat geser balok

Elemen

Vu (N)

φVn (N)

Ket

Balok Anak

28,00

71,00

OK

Balok Induk

     

Arah x

42,75

71,00

OK

Balok induk

     

arah y

38,00

71,00

OK

Lendutan Syarat : δ δ izin

sebelum

komposit dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Hasil

kontrol

balok

Tabel

sebelum komposit

6.

Hasil

kontrol

lendutan

balok

 

δ

δizin

 

Elemen

(mm)

(mm)

Ket

Balok Anak

44

16,7

OK

Balok Induk

     

Arah x

28,56

16,7

OK

Balok induk

   

NOT

arah y

48,00

19,44

OK

Dari ketiga hasil di atas, ternyata balok tidak dapat menahan lendutan yang terjadi, maka balok diberi penyokong sementara di tengah – tengah bentang.

Balok Induk Penyokong Kolom Kolom Sementara IWF IWF 400.400.21.21 400.400.21.21
Balok Induk
Penyokong
Kolom
Kolom
Sementara
IWF
IWF
400.400.21.21
400.400.21.21

Gambar 4. Balok induk dengan diberi penyokong sementara

Penyokong sementara dipasang sampai beton mengeras, dan setelah beton mengeras maka penyokong sementara boleh dilepaskan. Berikut ini adalah hasil kontrol lendutan balok setelah diberi penyokong sementara :

Tabel 7. Hasil kontrol lendutan balok sebelum komposit dengan penyokong

sementara

 

δ

δizin

 

Elemen

(mm)

(mm)

Ket

Balok Anak

2,8

8,35

OK

Balok Induk

     

Arah x

1,78

8,35

OK

Balok induk

     

arah y

3,00

9,72

OK

Untuk mengontrol kekuatan balok setelah komposit, maka terlebih dahulu

ditentukan lebar efektif dari pelat beton. Lebar efektif pelat beton diamibil dari nilai yang terkecil dari :

a)

b)

c)

b

eff

≤ L/4 ≤ b o ≤ bf + 16tc nominal

b eff

b

eff

Momen

balok

komposit dihitung berdasarkan

distribusi tegang plastis.

(Mn)

Gambar 5. Distribusi tegangan plastis balok komposit  H a  Mn = As ⋅
Gambar 5. Distribusi tegangan plastis
balok komposit
 H
a 
Mn =
As ⋅ fy
+
tc
 
2
2
 

dimana,

tc

= Tebal pelat (mm)

a

T

= tinggi blok tekan (mm)

=

T

0,85

f

'

c

b

Eff

= As . fy

Tabel

8.

Hasil

kontrol

balok

terhadap

momen

Elemen

Mu/φ (Nmm)

Mp (Nmm)

Ket

Balok

     

Anak

113.894.072,50

477.629.860,61

OK

Balok

     

Induk

113.894.072,50

477.629.860,61

OK

Arah x

Balok

     

induk

131.913.381

288.012.890,72

OK

arah y

Momen inersia yang digunakan

dalam mengontrol kekuatan terhadap

lendutan adalah momen inersia penampang transformasi. Untuk menentukannya, maka harus dihitung :

Lebar transformasi (b tr )

Luas transformasi (A tr )

Letak garis netral penampang tranformasi (y na )

• Letak garis netral penampang tranformasi (y n a ) Gambar 6. Penampang transformasi balok komposit

Gambar 6. Penampang transformasi balok komposit

b

tr =

b Eff

n

A tr = b tr . tc

t

A

tr

c

2

t

c

+

H

2

+

As

y na =

A

tr

+

As

inersia

penampang transformasi dihitung dengan rumusan sebagai berikut :

Selanjutnya,

momen

I tr

=

b

tr

tc

3

12

+

A y

tr

na

tc

2

− +

2

Is +

As

   H

2

+ tc − y

na

2

Berikut

ini

adalah

tabel

hasil

kontrol balok setelah terhadap lendutan:

9.

setelah komposit

Hasil

Tabel

kontrol

lendutan

balok

 

δ

   

Elemen

(mm)

δizin (mm)

Ket

Balok Anak

14,8

16,7

OK

Balok Induk

     

Arah x

10,6

16,7

OK

Balok induk

     

arah y

14,79

19,44

OK

Gaya geser yang terjadi antara pelat beton dan profil baja harus dipikul oleh sejumlah penghubung geser (stud connector) , sehingga tidak terjadi slip pada saat masa layan.

Perhitungan penghubung

geser jenis paku untuk aksi

komposit punuh dengan rumusan

sebagai berikut :

Untuk aksi komposit penuh :

Vh = 0,85 x f’c x a x b Eff

Qn =

0,5× A

sc

×

f ' E c c
f '
E
c
c

Dimana,

Asc = Luas stud

Ec =

0,041

×

w

1,5

×

f ' c
f '
c

Syarat :

Qn ≤ A sc . f u

Jumlah stud yang diperlukan :

N

=

V

h

Q

n

Dari perhitungan yang dilakukan,

didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 10. Jumlah stud pada balok komposit

Elemen

Stud

Balok Anak

15Φ20

Balok Induk

 

Arah x

15Φ20

Balok induk

 

arah y

15Φ20

D. Kolom Komposit

Kolom komposit didefinisikan

sebagai “kolom baja yang dibuat dari

potongan baja giling (rolled) built-up

dan di cor di dalam beton struktural

atau terbuat dari tabung atau pipa

baja dan diisi dengan beton struktural

(Salmon & Jonson, 1996).

Dalam perencanaan kolom

komposit, ada beberapa hal yang perlu

diperhatikan :

1)

Kontrol luas penampang kolom

Perbandingan antara luas profil

baja dengan luas beton harus lebih/

sama dengan 4%.

As ≥ 4% Ac

2)

Kontrol Tulangan Longitudinal

Syarat :

At ≥ At min ,

Dimana :

At = Luas tulangan longitudinal

At min = 0,18 St

St = Jarak tulangan

3)

Kontrol Tulangan Lateral

Syarat :

At ≥ At min ,

Dimana :

A l = Luas tulagan lateral

A lmin = 0,18 S l

Sl = Jarak tulangan lateral

4)

Kontrol kuat tekan nominal kolom

Nn =

Dimana,

f

ω

A

my

s

f my =Tegangan leleh modifikasi

ω = faktor tekuk kolom

5)

Kontrol SPRMK

M

pc

M

pb

1

Dimana. M pc = Jumlah momen kolom di bawah sambungan pada pertemuan as kolom dan as balok. M pc = Jumlah momen balok di bawah sambungan pada pertemuan as kolom dan as balok

Dari hasil perencanaan diperoleh dimensi kolom komposit 600 x 600 mm, dengan memakai profil baja IWF. 400.400.21.21. Penampang kolom seperti gambar berikut :

IWF 400.400.21.21 Ø8-250 4Ø12 Gambar 7. Penampang Kolom Komposit
IWF 400.400.21.21
Ø8-250
4Ø12
Gambar 7. Penampang Kolom
Komposit

E. Desain Sambungan

Sambungan antara balok anak dengan balok induk direncanakan dengan sambungan biasa yang tidak memikul momen, dimana alat sambung yang digunakan adalah baut.

1.)

2.)

3.)

Kuat geser baut :

V d

=

φ

f

×

r

1

×

f

u

×

A

baut

×

Kuat tumpu baut :

Rd

ϕRn

=

2,4φ ×d ×t × f

f

b

p

u

=

(

0,75 0,75 f

u

b

)

A

b

m

Hasil perencanaan sambungan adalah sebagai berikut :

• Sambungan balok anak dengan balok induk Baut M-19 L 60.60.6 IWF 250.175.7.11 IWF 400.200.8.13
• Sambungan balok anak dengan
balok induk
Baut M-19
L 60.60.6
IWF 250.175.7.11
IWF 400.200.8.13

Gambar 8. Sambungan balok anak dengan balok induk

• Sambungan balok induk arah x dengan kolom A325-Ø3/4" L 130.80.14 A325-Ø3/4" IWF 400.200.8.13 L
• Sambungan
balok
induk
arah
x
dengan kolom
A325-Ø3/4"
L 130.80.14
A325-Ø3/4"
IWF 400.200.8.13
L 130.80.14
A325-Ø3/4"
Gambar
9.
Tampak
depan
sambungan
IWF 400.400.21.21

balok arah x dengan kolom

A325-Ø3/4" IWF 400.400.21.21 A235-Ø3/4" IWF 400.200.8.13 L 130.80.14
A325-Ø3/4"
IWF 400.400.21.21
A235-Ø3/4"
IWF 400.200.8.13
L 130.80.14

Gambar 10. Tampak atas sambungan balok arah x dengan kolom

• Sambungan balok induk arah y dengan kolom A325-Ø3/4" L 130.80.14 A325-Ø3/4" IWF 350.175.8.9 L
Sambungan
balok
induk
arah
y
dengan kolom
A325-Ø3/4"
L
130.80.14
A325-Ø3/4"
IWF 350.175.8.9
L
130.80.14
A325-Ø3/4"
IWF 400.400.21.21

Gambar 11. Tampak depan sambungan balok arah y dengan kolom

IWF 400.400.21.21 A325-Ø3/4" A325-Ø3/4" IWF 350.175.8.9 L 130.80.14
IWF 400.400.21.21
A325-Ø3/4"
A325-Ø3/4"
IWF 350.175.8.9
L 130.80.14

Gambar 12. Tampak atas sambungan balok arah x dengan kolom

L 100.100.14 A325-Ø1/2" A325-Ø1/2"
L 100.100.14
A325-Ø1/2"
A325-Ø1/2"

Gambar 13. Tampak Depan Sambungan Kolom-kolom

A325-Ø1/2" Pelat t. 15mm A325-Ø1/2" L 100.100.14
A325-Ø1/2"
Pelat t. 15mm
A325-Ø1/2"
L 100.100.14

Gambar 14. Tampak Atas Sambungan Kolom-kolom

F. Desain Sloof Sloof direncanakan dengan data –

data sebagai berikut :

- Mutu beton ( fc’ )

=

30 Mpa

- Mutu baja ( fy )

=

400 Mpa

= Dari hasil perhitungan dengan perencanaan beton bertulang konvensional diperoleh hasil sebagai berikut :

-

Tebal Selimut beton

40 mm

Ø10-150 Ø10-200 4Ø16 4Ø16 Luas Tiang (A tiang ) Mutu beton (f’c) = 1256d00 mm
Ø10-150
Ø10-200
4Ø16
4Ø16
Luas Tiang (A tiang )
Mutu beton (f’c)
= 1256d00 mm 2
= 30 MPa
4Ø16
4Ø16
Tumpuan
Lapangan
Berat jenis beton (σ)= 2400 Kg/cm 3
Perhitungan pondasi tiang
pancang dihitung dengan langkah
sebagai berikut :
Gambar 15. Gambar Sloof Arah x
1.) Menentukan Kekuatan bahan tiang
(
) = 0,85 f’c
Ø10-150
Ø10-200
σ tiang
5Ø16
5Ø16
2.)
Menentukan daya dukung 1 tiang
5Ø16
5Ø16
A
× NK
JHP
× O
tiang
Q
=
+
a 3
5
5Ø16 5Ø16 A × NK JHP × O tiang Q = + a 3 5 Tumpuan

Tumpuan

5Ø16 A × NK JHP × O tiang Q = + a 3 5 Tumpuan Lapangan

Lapangan

Gambar 16. Gambar Sloof Arah y

G. Desain Pondasi Tiang Pancang

Bangunan direncanakan berada di Jl. By Pass Air Pacah Kota Padang. Untuk mengetahui kedalaman tanah keras guna perencanaan pondasi, digunakan data pengujian sondir yang

telah dilakukan oleh PT. Riska Engineering Konsultan di lokasi tersebut. Tiang pancang direncanakan pada kedalaman 15 m. Pondasi tiang pancang yang direncanakan dicoba dengan pondasi tiang pancang dengan penampang bulat, dengan data-data sebagai berikut :

Diameter tiang (D) Keliling Tiang (O)

=

=

40 cm

1256 mm

3.)

Menentukan

diperlukan

n =

V

Q

a

jumlah

tiang

yang

4.) Menentukan susunan tiang serta asumsi pilecap yang digunakan. Jarak tiang (S) ≥ 2,5 D Tiang direncanakan dengan susunan sebagai berikut :

Y

X X
X
X

Y

Gambar 17. Susunan tiang pancang

5.)

Menghitung

kelompok.

Dalam

dengan jmlah 4 tiang = 1

efisiensi

tiang

hal

ini,

tiang

kelompok

6.)

Menghitung beban maksimum yang

diterima satu tiang

P maks =

V

+

M

u

× X

maks

n

n

y

×

X

2

Setelah dilakukan kontrol daya

dukung tiang terhadap beban

maksimum yang diterima oleh tiang,

ternyata tiang yang direncanakan

memenuhi syarat.

H. Pilecap

Pilecap direncanakan dengan data

– data sebagai berikut :

: 2200 mm x 2200 m x

700 mm

: 30 MPa : 400 MPa

Pilecap dikontrol terhadap geser

yang terjadi, baik aksi geser satu arah

maupun aksi geser dua arah (geser

pons)

aksi geser satu arah

Dimensi

f’c

fy

syarat :

Vu ≤ Vn

Dimana,

Vn

= ø . Vc

 

Vc

=

1/ 6.

fc '. bo . d

fc'.bo.d

bo

= keliling penampang kritis

d

= tinggi efektif tulangan

aksi geser dua arah

syarat :

Vu ≤ Vn

Dimana, Vn diambil dari yang

(i)

terkecil dari :  2  Vc = 1  .2. fc'.bo.d   +
terkecil dari :
2 
Vc =
1
 .2.
fc'.bo.d
+ β
 
 α . s d  (ii) Vc=  + 2    
α .
s d
(ii)
Vc=
+ 2     1
fc '. bo . d
bo
12
(iii)
Vc= 4
fc'.bo.d
Setelah
dilakukan
kontrol
terhadap aksi geser satu arah dan dua

arah, ternyata pilecap yang

direncanakan memenuhi syarat. Berikut

ini adalah gambar hasil perencanaan :

Ø22-100

syarat. Berikut ini adalah gambar hasil perencanaan : Ø22-100 600x600 Ø22-100 Gambar 18. Denah Pondasi dan

600x600

syarat. Berikut ini adalah gambar hasil perencanaan : Ø22-100 600x600 Ø22-100 Gambar 18. Denah Pondasi dan
Ø22-100
Ø22-100

Gambar 18. Denah Pondasi dan Pilecap

Kolom 600 x 600Sloof 300 x 500 Ø22-100 Tiang Pancang Ø 400 Gambar 19. Detail Pondasi dan Pilecap

Sloof 300 x 500 Ø22-100
Sloof 300 x 500
Ø22-100
Kolom 600 x 600 Sloof 300 x 500 Ø22-100 Tiang Pancang Ø 400 Gambar 19. Detail

Tiang Pancang

Ø 400

Gambar 19. Detail Pondasi dan Pilecap

KESIMPULAN Setelah dilakukan perencanaan struktur gedung baja – beton komposit yang bertempat di Jl. Air Tawar, Kota Padang dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari hasil analisa struktur dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :

a. Pelat komposit :

- Tebal pelat : 110 mm

- Jenis floordeck :

Union floordeck W-1000, tebal 0,7 mm

b. Balok Anak

-

Profil baja

IWF 250.175.11

:

- Stud connector

:

ϕ20 sebanyak 15 buah

c. Balok Induk Balok Arah x

- Profil baja :

IWF 400.200.8.13

- Stud connector :

ϕ20 sebanyak 15 buah

Balok Arah y

- Profil baja :

IWF 350.175.8.9

- Stud connector :

ϕ20 sebanyak 15 buah

d. Kolom komposit

- Dimensi kolom: 600 x 600 mm

- Profil baja: IWF 400.400.21.21

- Tulangan pokok : 4 ϕ12

- Sengkang : ϕ8 – 250

e. Sambungan

- Balok Anak dengan balok induk :

Baut M-19 (mutu normal)

- Balok induk – kolom (arah x):

Baut A325- ϕ 3/4” (mutu tinggi)

- Balok induk – kolom (arah y):

Baut A325- ϕ 3/4” (mutu tinggi)

- Kolom – kolom:

Baut A325- ϕ 1/2” (mutu tinggi)

f.

Balok Sloof

 

Balok Arah x

- Dimensi

: 300 x 500 mm

- Tulangan pokok

:

 

Tumpuan

: 3ϕ16

Lapangan

: 3ϕ16

 

- Sengkang

 

:

 

Tumpuan

: ϕ10 - 150

Lapangan

: ϕ10 - 200

 

Balok Arah y

-

Dimensi

: 300 x 500 mm

-

Tulangan pokok

:

 

Tumpuan

: 4ϕ16

Lapangan

: 4ϕ16

 

-

Sengkang

:

 

Tumpuan

: ϕ10 - 150

Lapangan

: ϕ10 – 200

 

g. Pondasi Tiang Pancang

- Diameter tiang : ϕ400 mm

- Jumlah tiang :

 
 

4 buah per titik kolom

 

- Kedalaman : 15 m

 

h.

Pilecap

-

Dimensi: 2200 x 2200 mm

-

Tebal

: 700 mm

 

-

Tulangan arah x : ϕ22 – 100

-

Tulangan arah y : ϕ22 – 100

2.

Agar perencanaan balok komposit dapat maksimal, maka mula-mula

balok dan pelat dianggap bekerja

balok

dianggap

menahan

secara

individu,

tidak

sehingga

dapat

lendutan yang terjadi, dan untuk mengatasinya balok diberi penyokong sementara sampai aksi komposit tercapai. Setelah aksi komposit tercapai, momen inersia balok tersebut akan menjadi lebih besar dan dapat memenuhi persyaratan lendutan.

DAFTAR PUSTAKA

A. Setiawan. 2008. Perencanaan

Struktur Baja dengan Metode LRFD (sesuai SNI 03- 1729- 2002). Penerbit: Erlangga, Semarang Badan Standarisasi Nasional. 2002.

Standar Perencanaan ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung (SNI-03-1726- 2002). Standar Nasional Indonesia CSSBI. 2008, “CSSBI S3-2008:

Criteria for the Design of Composite Slab”, Canada. 2008 Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1983. Peraturan pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983. Bandung HS. Sardjono, Ir. 1991. Pondasi Tiang Pancang. Surabaya. Imran Iswandi, Hendrik Fajar. 2009. Perencanaan Struktur Gedung Beton Bertulang Tahan

Gempa. Penerbit : ITB, Bandung Kementerian Pekerjaan Umum. 2010. Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 sebagai Acuan Dasar Perencanaan dan Perancangan Infrastruktur Tahan Gempa. Jakarta. L. Taulu, Ir, dkk. 2000. Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi. Jakarta Putri Prima Yane. 2007. Analisis dan Desain Struktur Rangka dengan SAP2000 Versi Student. Penerbit :

UNP Press, Padang R. Gunawan. 1987. Tabel Profil Konstruksi Baja. Penerbit :

Kanisius, Yogyakarta Simms WI, Hughes AF. 2011. Composite Design Of Steel Framed Building. United Stated