Anda di halaman 1dari 24

PANDUANPENGELOLAAN

PERSALINAN PRETERM NASIONAL


HIMPUNAN KEDOKTERAN FETOMATERNAL POGI
daftar isi
cover 1
kata pengantar 3
daftar isi 4
tujuan pedoman 6
definisi istilah 7
klasifikasi 7
faktor risiko 8
sistem skoring risiko creasy 10
mekanisme persalinan preterm 12
diagnosis 12
intervensi medisinalis dan operatif 16
pemeriksaan panjang serviks 17
algoritma 21
kepustakaan 22
KATA PENGANTAR
KEPALA DIVISI KEDOKTERAN FETOMATERNAL
DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN I RS. DR. HASAN SADIKIJ\
BANDUNG
"PANDUAN PENGELOLAAN PERSALINAN PRETERM
NASIONAL"
HIMPUNAN KEDOKTERAN FETOMATERNAL POGI

Saat ini kejadian persalinan preterm masih merupakan


kontributor utama morbiditas dan mortalitas perinatal di negara
berkembang dan di rumah sakit rujukan. Di Indonesia angka
kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) nasional rumah -ak 1t
adalah 27,9%% dalam IO tahun terakhir. Keadaan ini belurn banv ak
berubah.
Mengingat pengelolaan persalinan preterm rnasih berv uria:.r.
rnaka perlu disusun suatu Pedornan Pengelolaan Persalinan Preterm
di Indonesia. agar terjadi keseragaman penatalaksanaan �eh111_!1._!1.a
memungkinkan evaluasi secara berkesinambungan.
Kami menyadari bahwa penyusunan "Pedoman Pengelolaan
Persal inan Preterm di Indonesia" tahun 2011 masih banv ak
kekurangan. Kami masih mengharapkan masukan-rnasukan dan para
sejawat dan tenaga kesehatan lainnya untuk perbaikan pedoman 1111
Dengan ini pula kami mengucapkan banyak terima kasth
kepada Ketua Himpunan Kedokteran Feto Maternal POGI yang telah
mempercayakan tugas ini kapada kami. Juga kepada Kelornpok
Kerja Pengelolaan Persalinan Preterm Himpunan Kedokteran Fero
Maternal POGI atas bantuannya dalam menyusun pedoman 1111
Semoga "Pedornan Pengelolaan Persalinan Preterm di Indonesia" 1111
bermanfaat bagi kita semua dalam rangka menurunkan morhidttas
dan mortalitas ibu akibat persalinan preterm.
Bandung,Juni2011
Kepala Divisi Kedokteran Fetomatemal
Departemen Obstetri dan Ginekologi
Universitas Padjadjaran I RS. Dr. Hasan Sadikin Bandung

Prof. Dr. Johanes C. Mose, dr., SpOG(K)



DAFTARISI

No Halaman
KATA PENGANTAR
2 DAFTAR ISi II

3 TUJUAN PEDOMAN
4 HARAPAN DAN RUANG
LINGKUP .
5 PENDAHULUAN DAN LATAR
BELAKANG .
6 IDENTIFIKASI DAN ASESMENT 2
BERBASIS BUKTI. .
7 DEFINISI ISTILAH YANG 2
DIPAKAI .
8 KETERANGAN SESUAI EVIDENCE 7
BASED MEDICINE PRACTICE
9 fNTERVENSI MEDISINALIS DAN 11
OPERATIF. .
lO KEPUSTAKAAN . 17

11
Editor:
I. Prof Dr. Sofie Rifayani Krisnadi, dr., SpOG(K)
2. Akhmad Yogi Pramatirta, dr., SpOG, M.Kes
3. Amillia Siddiq, dr., SpOG, M.Si
4. Eisenhower Sitanggang. dr.. SpOG, M.Kes

Kontri bu tor:
I. Prof Hidayat Wijayanegara, dr., SpOG(K)
2. Prof Dr. Firman Fuad W. dr., SpOG(K)
3. Prof Dr. Sofie Rifayani Krisnadi, dr., SpOG(K)
4. Prof. Dr. Johanes C. Mose, dr., SpOG(K)
5. Udin Sabarudin, dr., SpOG(K), MM, MH.Kes
6. Prof Dr. Jusuf S. Effendi, dr., SpOG(K)
7. Dr. Anita D. Anwar, dr., SpOG(K)
8. Dr. Budi Handono, dr., SpOG(K), MH.Kes
9. Setyorini Irianti, dr., SpOG(K)
I 0. Adhi Pribadi, dr., SpOG(K)
11. Muhammad Alamsyah, dr., SpOG(K), M.Kes
12. Akhmad Yogi Pramatirta, dr., SpOG, M.Kes
13. Amillia Siddiq, dr., SpOG, M.Si
14. Jeffry Iman Gurnadi, dr., SpOG, M.Kes
15. Vaulinne Basyir, dr., SpOG
16. Eisenhower Sitanggang, dr., SpOG, M.Kes

111
I. TUJUAN PEDOMAN
Buku pedoman ini disusun sebagai panduan pengelolaan persalinan
preterm nasional yang disepakati oleh Himpunan Kedokteran
Fetomaternal (HKFM) Indonesia.

II. HARAPAN DAN RUANG LINGKUP


Buku ini disusun agar dapat dipakai sebagai pedoman yang juga
dilengkapi standar teknis, diharapkan dapat berguna bagi petugas
kesehatan, terutama dokter spesialis obstetri.

III. PENDAHULUAN DAN LA TAR BELAKANG


Kehamilan disebut cukup bulan bila berlangsung antara 37-42
minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari.
Persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi sebelum janin
genap berusia 37 minggu.'
Sekitar 75% kematian perinatal disebabkan oleh kurang
bulan. Bayi kurang bulan, terutama dengan usia kehamilan <32
minggu, mempunyai risiko kematian 70 kali lebih tinggi karena
kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim akibat
ketidakmatangan sistem organ tubuh seperti paru-paru, jantung,
ginjal dan hati.'-2 Kematian janin sering disebabkan oleh
sindroma gawat nafas (respiratory distress syndrome-RDS),
perdarahan intraventrikuler, displasia bronkopu lrnoner, sepsis clan
2
enterokolitis nekrotikans.
Masalah lain yang dapat tirnbul adalah masalah
perkembangan neurologi yang bervariasi dari gangguan neurologis
berat, seperti serebral palsi, gangguan intelektual, retardasi mental,
gangguan sensoris (gangguan penglihatan, tu Ii), sarnpa i gangguan
yang lebih ringan seperti kelainan perilaku. kesulitan belajar dan
berbahasa, gangguan konsentrasi/atensi dan hiperakti f.1 ::-
Kejadian persalinan preterm berbeda pada setiap negara, di negara
maju misalnya di Eropa, angkanya berkisar antara 5-11%.3 Di USA
pada tahun 2000 sekitar satu dari sembilan bayi dilahirkan kurang
4
bulan (l l,9%). Di negara yang sedang berkembang angka
kejadiannya masih jauh lebih tinggi, misalnya di India sekitar 30%,
Afrika Selatan 15%, dan Sudan 31 %. Angka kejadian persalinan
kurang bulan di Indonesia belurn ada. narnun angka kcjadian bayi
dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dapat mencenninkan angka
kejadiannya secara kasar. Angka kejadian BBLR nasional rumah
5
sakit adalah 27,9%.

IV. IDENTIFIKASI DAN ASESMEN BERBASIS BUKTI


Pedornan ini dibuat dengan tandar yang ditetapkan oleh Himpunan
Kedokteran Fetomaternal Indonesia. Data-data berbasis bukti yang
diambil disesuaikan dengan kepustakaan yang ada (RCOG
Guidelines) karena belum ada data nasional.

V. DEFINJSI ISTJLAH YANG DJPAKAI


Definisi pcrsalinan preterm menurut WHO adalah persalinan yang
terjadi antara usia keharnilan 20 minggu sarnpai kurang dari 37
1
rninggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir pada siklus 28 hari.

Klasifikasi:
Menurut kejadiannya. persalinan preterm digolongkan menjadi:"
I. ldiopatik/Spontan
Sekitar 50% penyebab persalinan preterm tidak diketahui, oleh
karena itu digolongkan pada kelompok idiopatik. Sekitar 12,5%
persalinan preterm spontan didahului oleh ketuban pecah dini
(KPD), yang sebagian besar disebabkan faktor infeksi
(korioamnionitis ).

2. latrogenik /Elektif
Persalinan preterin buatan /iatrogenik disebut juga sebagai
elective preterm.

Menurut usia kehamilan persalinan preterm diklasifikasikan dalam:


I. Preterm /kurang bu Ian:
usia kehamilan 32 - 36 minggu
2. Very preterm /sangat kurang bu Ian:
usia kehamilan 28 - 32 minggu
3. Extremely preterm /ekstrim kurang bu Ian:
usia kehamilan 20 - 27 minggu

2
Menurut berat badan lahir, bayi kurang bulan dibagi dalam
kelompok:
I. Berat badan lahir rendah:
Berat badan bayi 1500 - 2500 gram
2. Berat badan lahir sangat rendah:
Bernt badan bayi I 000 - 1500 gram
3. Be rat bad an lah ir ekstri m rendah:
Berat badan bayi < I 000 gram

Faktor risiko persalinan preterm


Persalinan preterm dipengaruhi oleh banyak faktor, antara
lain ras dan keadaan sosioekonomi, sehingga sulit diatasi. Di negara
maju yang sosioekonorninya baik, kejadiannya malah cenderung
meningkat karena induksi persalinan (elektif) yang ditujukan untuk
keselamatan janin, ibu atau keduanya. Risiko juga rneningkat akibat
pemakaian obat-obatan induksi ovulasi yang meningkatkan
kehamilan multifetus. Risiko tertinggi persalinan preterm adalah
riwayat persalinan preterm.

I
Faktor risiko persalinan preterm adalah
I. ldiopatik
2. latrogen ik ( elektif)
3. Sosiodemografik
4. Faktor ibu
5. Penyakit medis dan keadaan kehamilan
6. Infeksi
7. Genetik

I. Idiopatik
Apabila faktor penyebab lain tidak ditemukan sehingga penyebab
persalinan preterm tidak dapat dijelaskan.

2. Iatrogenik
Perkembangan teknologi dan etika kedokteran, rnenempatkan
janin sebagai individu yang mempunyai hak atas kehidupannya
(fetus as a patient). Apabila kelanjutan kehamilan dapat
mernbahayakan janin, maka ia harus dipindahkan ke lingkungan

3
luar yang lebih baik clari rahim ibu. sebaliknya bila ibu terancarn
oleh keham i lannya. maka keharn i Ian akan diakh iri.
Sekitar 25% persalinan preterm terrnasuk ke dalam golongan 1111
Keadaan yang sering menyebabkan persalinan preterm elekt i!
adalah
a. Keadaan ibu
- Preeklamsi berat dan eklamsi
- Perdarahan antepartum (plasenta previa dan solusio plasenta l
- Korioamnionitis
- Penyakit jantung yang berat atau penyakit paru /ginjal \ ang
be rat
b. Keadaan janin:
- Gawat janin. (anemia, hipoksia, asidosis atau gangguan
jantungjanin)
- lnfeksi intrauterin
- Pertumbuhan janin tcrharnbat (PJT)
- lsoimunisasi rhesus
- Tai i pusat kusut ( Cord Entanglement) pada kL·111ha1
rnonokor ion i k

3. Faktor sosio-demografik
Yang termasuk keclalam faktor ini adalah:
Faktor psiko-sosial, adalah kecemasan, depresi, keberadaan
stres, respons ernosional, dukungan sosial, pekerjaan
perilaku. aktivitas seksual, dan keinginan untuk hamil
Faktor demografik adalah usia ibu, status marital. kondisi
sosio-ekonomi. ras clan etnik.
4. Faktor maternal
lnkompetensi Serviks
Diagnosis serviks inkompeten clitentukan denµ.an
pemeriksaan dalarn clan Bi hop score.
R ·I\\ 3) at 1-,<epro cl u"s1
1. · I 10 · 11

· Pernah mengalami persalinan preterm


· Pernah mengalarni KPD
· Pernah mengalami abortus trimest,fr II
· Interval kehamilan <6 bulan
· Paritas nol
Kehamilan Multifetus
Kehamilan Hasil Teknologi Reproduksi Berbantu
Kelainan Uterus
Pemeriksaan Kehamilan
Kejadian persalinan preterm pada ibu harnil tanpa
pemeriksaan kehamilan meningkat sebanyak 2.8 kali.1
Skoring Risiko
Skoring risiko Creasy mengelompokkan kehamilan kedalarn
risiko rendah apabila hasil skoring risikonya antara 1-5,
sedang pada skor 6-9 dan tinggi bila : ".. I 0.

5. Penyakit medis dan keadaan kehamilan


Hipertensi kronis dan hipertensi dalam kehamilan
Lupus eritematosus sistemik (SLE)
Penyak it paru restri ks i
Hipertiroidisme
Diabetes melitus pregcstasional dan gestasional
Pen yak it jantung
Penyakit ginjal
Hidramnion
Kelainan kongenital
Anemia berat

6. Infeksi1 '11
lnfeksi genital, terutama oleh vaginosis bakterial
Infeksi intra uterin.
lnfeksi ekstra uterin, seperti pielonefritis dan periodontitis.
12 13
7. Faktor Genetik '

Beberapa penelitian menyatakan terdapat hubungan antara


predisposisi genetik, eksistensi interaksi gen-lingkungan,
pengaruh familial dan intergenerasional dengan persalinan
preterm.

5
Tabel I : Sistem Skoring Risiko Creasy

Skoring Karakteristik lbu Riwayat Obstetri Kcbiasaan Kcadaan Kchamilan


Seka rang Kelelahan
- Dua anak Abortus < I th terakhir Bekeria di luar rurnah fisik
- Sosek rendah
l 's1a ,- 20th 2 kah abortu-, \ leroko], ·IO batang per Kcnaikan RB,: 13 kg <amptu 32 nunggu
han
:i kal1 abortus Hckcrja berat "ung�ang pada kehanulan 32 m1nggu
�w,ek -angat rcndah 1-rn turun 2 kg
Kepala sudah �ngoge!rl
Dern am
Riwayat prelonefritis Perdarahan sebelum 12 111111ggu
Pendataran serv 1 ks lruabiluas
uterus
Plasenta prevra
Anornali uteru-
Abortus trimester II H1dra11111io11
Terpapar dieulsulbesuol (DI::.\)
Abortus trimester 11 Hamil kernbar
berulang Operas i abdomen
Riwayat persalinan preterm

Sumber: Creasy, 2009


VJ. KETERANGAN SESUAI EVIDENCE BASED
MEDICINE PRACTICE
Bukti penelitian pemberian tokolitik sampai saat ini tidak secarajelas
menunjukkan akan menurunkan rnortalitas perinatal maupun
neonatal. Tujuan utarna penggunaan tokolitik aclalah menurunkan
terjadinya persalinan dalam 48 jam atau 7 hari setelah pemberian
obat terutama untuk mernberikan kesernpatan pernberian
27
kortikosteroid (rekomendasi A).
Penggunaan tokolitik hanya direkomendasikan untuk
wanita dengan ancarnan persalinan prematur tanpa acla komplikasi
kehamilan tainnya seperti kelainan kongenital, infeksi intrauterin,
prceklamsi berat, solusio plasenta, dilatasi serviks yang lanjut, dan
adanya bukti insufisiensi plasenta (rekornendasi B).27
Pernilihan jenis tokolitik adalah nifedipin clan atosiban.
Kedua jenis ini memiliki efektifitas yang sebanding untuk menunda
terjaclinya persalinan sampai 7 hari (rekomendasi A).27
Beta agonis dibandingka plasebo menunjukkan efek
penccgahan persalinan prematur 0,63, tetapi clibanclingkan dengan
tokolitik lain, belum terbukti lebih efektif Beta agonis juga '
clilaporkan rnemiliki efek samping yang lebih sering terjadi seperti
palpitasi (38%), tremor (39 %), nausea (21%), nyeri kepala (19 %)
clan sesak na,ras ( 14%).-n
Cyclooxigenase (COX) 2 inhibitor yang bekerja dengan
rnenghambat prostaglandin belum terbukti kuat akan menurunkan
risiko persalinan prematur, clan memiliki risiko peningkatan
bermakna terhaclap penutupan cluktus ateriosus prematur.

Mekanisrne persalinan preterm


Terclapat 4 teori rnekanisrne persalinan preterm, yaitu aktivasi poros
hypothalamus-pituitary-ovary (HPO) maternal-fetal, in flamasi atau
infeksi, perdarahan desiclua atau thrombosis, dan distensi uterus
patologi

7
Diagnosis
Menegakkan diagnosis persalinan preterm terlalu cepat atau lambat
mempunyai risiko men ingkatkan morbid itas clan mortal itas neonatus.
Pacla kenyataannya kurang clari 50% ibu hamil yang clicliagnosis
menga lam i persal i nan preterm rnelah irk an bayi nya clalam I m inggu
setelah diagnosis clitegakkan Hal ini menunjukkan bahwa tidak
15
muclah menentukan diagnosis persalinan preterm.
Diagnosis persalinan preterm clapat clilakukan dengan:
I. Anamnesis: penentuan usia keharnilan, faktor risiko (riwayat
obstetri, perdarahan, infeksi)
2. Gejala dini persalinan preterm'
• Nyeri perut bawah clan/atau kram clan/atau pelvic pressure
• Nyeri pinggang belakang
3. Tanda persalinan preterm
• Kontraksi uterus: intensitas, frekuensi, clurasi.
His yang regular dengan interval tiap 8-10 men it yang
disertai perubahan serviks.
Precliksi persalinan preterm yang hanya berclasarkan
kontraksi uterus sulit karena:
a. Hanya 15% kontraksi tampak pada gambaran
kardiotokografi (KTG).
b. Pacla kehamilan biasa terjacli kontraksi Braxton-Hicks.
• Kriteria Creasy clan Heron:
Kontraksi uterus 4 kali clalam 20 menit atau 8 kali dalam
satu jam. clan clisertai dengan salah satu keadaan di bawah
1111:
Pecahnya kantung amnion
Pembukaan serviks >2 sentimeter
Pendataran serviks >50%.
Pendataran clan pembukaan serviks clinilai dengan
pemeriksaan berka la.
• Peningkatan duh vagina
• Perubahan serviks
Digital, dengan memeriksa panjang clan pembukaan
serviks, pemeriksaan ini sangat subjektif
• USG abdominal, transvaginal, transperineal

8
\kti\..1:-.1 pro s c-, 1 IPCI lnr'lamu s r nt au 1nlek:-.1 l'...::1u.!,11 .rhnn dv-u duu f)1,.;tc..·ns1 ul..:ru:.. p:11ol,1gy
111;,1cn1.d 11·1:il - lntr-narruuon Kohnmilon rnnlu Ict us
- S11..: ... - '-,.._�1·\·11,..:,. ;JI.ill rk·•.Hh1,r '.'-.,d11,H, pl,t,�;f'l{,I
- Ak11\.;1...;1 11-.:J<•logt'- prcm.u nr Si.-:1r·111d< T10mb(1,.;1!i.1

- (;flJl-J11n,·1inn
- (.'ontr,h 11011-i1,·.)0L u1f1-•d
- CR!! j)ll)/1'/II\
Anch-cg cn adrenal f,.;lu!-
- Re:-.Cj'IOI 1..k·:.1tu':-1n
- E.:--1n.1gt"11-proµe.:=:-,.h.;n_1n
pL,scnto.,

Ok si rosio
rvta r cr nal

f'..:1 ... .i1 l(J.1\1

Garnbar I. Mekanisme persalinan preterrn


Sumber: Lock wood, 20 I I
Funneling
Funneling adalah dilatasi ostium servikalis. rnerupakan
proses pendataran dengan lebar �5 mm. Garnbaran
perkembangan morfologi funneling dapat digambarkar:
sebagai proses TYVU

Garnbar 2 : Gambaran morfologifimneling


Garnbaran serviks normal
• Normal serviks:
• Nulipara : 24 minggu : 40 ± 8 mm
• 28 minggu : 33 ± 8 mm
• Multipara 24 minggu : 36 ± 8 mm
28 minggu : 35 ± 9 mm
Panjang serviks .:S 25 mm pada 16-24 mmggu
mernpunyai risiko 6 kali lebih besar untuk persalinan
preterm.
• Panjangjimne/ lebih dari 50% mempunyai progno-.r-,
buruk, 79% terjadi persalinan.
• Normalfimneling adalah gambaran T.
• Panjang serviks > 40 mm, risiko persalinan preterni
0,2%. bila panjang serviks 5 mm persalinan preterm
mencapai 78%

• Perdarahan ( bercak, bercampur lendir/show)


Memberikan nilai sensitifitas yang relatifrendah namun nila:
prediksi positifnya tinggi

• Pemeriksaan fibronektin fetus

10
Fibronektin fetus merupakan salah satu penanda terbaik,
kadar dalam sekret servikovagina 2:50 ng/mL pada gestasi
�22 minggu meningkatkan risiko terjadinya persalinan
preterm spontan.'

YI. INTERVENSI MEDISlNALIS DAN OPERATIF


Manajemen persalinan kurang bulan mencakup:
I. Tirah baring (bedrest)
2. Hidrasi dan sedasi
3. Pemberian tokolitik
--1. Pemberian steroid
: -, Pemberian antibiotik
(j Emergency Cerclage
7. Perencanaan persalinan

I. Tirah baring (bedrest)


Kepentingan istirahat rebah disesuaikan dengan kebutuhan ibu,
namun secara statistik tidak terbukti dapat mengurangi kejadian
kurang bu Ian secara statistik.i''

2. Hidrasi dan sedasi


Hidrasi oral maupun intravena senng dilakukan untuk
mencegah persalinan preterm, karena sering terjadi
hipovolemik pada ibu dengan kontraksi premature, walaupun
rnekanisrne biologisnya belurn jelas. Preparat rnorfin dapat
digunakan untuk mendapatkan efek sedasi.

3. Pernberian Tokolitik
Tokolitik akan menghambat kontraksi miornetrium clan dapat
menunda persalinan
a. Nifedipin
Nifedipin adalah antagonis kalsium diberikan per oral. Dosis
inisial 20 mg, dilanjutkan I 0-20 mg. 3-4 kali perhari,
disesuaikan dengan aktivitas uterus sampai 48 jam. Dosis
maksimal 60mg/hari, komplikasi yang dapat terjadi adalah
sakit kepala dan hipotensi

11
Pemeriksaan Panjang Serviks dengan USG Transvaginal ( USCTV)

= --------------- --- -------------


Me mb r a n ut uh PPR O :VI

<34 Minggu >.14 Minggu


-----
<36 \Jinggu
--------
>.16 !Vlinggu

I
Tid a k perlu
I
USGT\'
I I
Ticlak
Mungkin USGT\
USG TV ctipcrlukan pcrlu
USG TV

Panjang Serviks Panjang Serviles


<3cm >3cm

I
Pcrtimbangkan
I
Tidak ada

.. untuk:
- Konsultasi
- Rujuk
ntervensi

- Steroid
- Rawat inap
- Cerclage

-Pembatasan akrivitas

PPROIVl = Pruter m Premature Rupture of Mernbr anes

Garn bar 3. Pemeriksaan panjang serviks dengan l lS(J fransvaginal I l lSGTV)


Sumber Van den Hof. 200 I
I.J
b. COX (cyclo-oxygenase)-2 inhibitors
lndomethacin
Dos is awal I 00 mg, dilanjutkan 50 mg per oral setiap 6 jam
untuk 8 kali pemberian. Jika pemberian lebih dari dua hari,
dapat menimbulkan oligohidramnion akibat penurunan renal
blood flow janin. lndometachin direkomendasikan pada
kehamilan ::'.:32 minggu karena dapat mempercepat
penutupan duktus arteriosus (PDA).28
c. Magnesium sulfat
Magnesium sulfat dipakai sebagai tokolitik yang diberikan
secara parenteral. Dosis awal 4-6 gr IV diberikan dalam 20
men it, diikuti 1-4 gram per jam tergantung dari produksi urin
dan kontraksi uterus. Bila terjadi efek toksik. ber ikan
kalsium glukonas I gram secara IV perlahan-lahan.Y
a. Atosiban
Atosiban adalah suatu analog oksitosin yang bekerja pada
18
reseptor oksitosin dan vasopresin. Dos is awal 6. 75mg bolus
dalam satu menit, diikuti 18mg/jam selama 3 jam per infus,
kemudian 6mg/jam selama 45 jam. Dosis maksimal
330mg.-J7
e. Betai-symputhomimetics
Saat ini sudah banyak ditinggalkan.
Preparat yang biasa dipakai adalah ritodrine, terbutaline,
salbutamol, isoxsuprine, fenoterol and hexoprenaline.
Contoh: Ritodrin (Yutopar)
Dos is:
50 mg dalam 500 ml larutan glukosa 5%. Dimulai dengan
IO tetes per men it dan dinaikkan 5 tetes setiap IO men it
sampai kontraksi uterus hilang. Infos harus dilanjutkan 12 -
48 jam setelah kontraksi hilang. Selanjutnya diberikan dosis
pemeliharaan satu tablet ( 10 mg) setiap 8 jam setelah makan.
Nadi ibu, tekanan darah dan denyut jantung janin harus
dimonitor selama pengobatan. Kontra indikasi pemberian
adalah penyakit jantung pada ibu, hipertensi atau hipotensi,
hipertiroidi, diabetes dan perdarahan antepartum.
Efek samping yang dapat terjadi pada ibu adalah palpitasi,
rasa panas pada muka (flushing), mual, sakit kepala, nyeri
dada, hipotensi, aritmia kordis, edema paru, hiperglikemia
13
dan hipokalemi. Efek sarnping pada janin antara lain fetal
takhikardia. hipoglikernia, hipokalerni, ileus dan hipotensi
f. Progesteron
Progesteron dapat mencegah persalinan preterm. lnjeksi , -_
alpha-hvdroxyprogesterone caproate menurunkan
persalinan preterm berulang. Dos is 250 mg ( I ml) im tiap
minggu sampai 37 rninggu keharnilan atau sampai
8
persalinan. Pemberian dirnulai I 6-2 I rninggu keharnilan.c

4. Pemberian steroid
Pemakaian kortikosteroid dapat rnenurunkan kejadian RDS.
kernatian neonatal dan perdarahan intraventrikuler. Dianjurkan
pada keharnilan 24 - 34 rninggu, namun dapat dipertimbangkan
sarnpai 36 minggu.r '
Kontra indikasi: infeksi sistemik yang berat, (tuberkulosis dan
korioamn ion itis ).
Betametason merupakan obat terpilih, diberikan secara injek s:
intrarnusku ler dengan dos is I 2 mg dan diulangi 2cl Jam
kemudian. Efek optimal dapat dicapai dalarn I - 7 han
pernberian, setelah 7 hari efeknya masih meningkat. Apabila
tidak terdapat betarnetason, dapat diberikan deksarnetason
dengan dosis 2 x 5 mg intramuskuler per hari selama 2 hari.

5. Antibiotika
Pernberian antibiotika pada persalinan tanpa infeksi tidak
dianjurkan karena tidak dapat rneningkatkan luaran persalinan."
Pada ibu dengan ancarnan persalinan preterm dan terdeteksi
adanya vaginosis bakterial, pernberian klindamisin ( 2 x 300 mg
sehari selama 7 hari) atau rnetronidazol ( 2 x 500 mg sehan
selarna 7 hari). atau eritromisin (2 x 500 mg sehari selama 7
hari) aka}� berrnanfaat bila diberikan pada usia keharnilan <��
111111 gg LI .

6. Emergency cerclage
Di negara maju telah dilakukan emergency cerclage pada ibu
hamil dengan pembukaan dan pendataran serviks yang nyata
tanpa kontraksi. Secara teknik hal ini� sulit dilakukan dan
berisiko untuk terjadi pecah ketuban. 26

14
7. Perencanaan Persalinan
Persalinan preterm harus dipertimbangkan kasus perkasus,
dengan mengikutsertakan pendapat orang tuanya. Untuk
kehamilan <32 minggu sebaiknya ibu dirujuk ke tempat yang
mempunyai fasilitas neonatal intensive care unit (NICU).
Kehamilan <24 minggu dilahirkan pervaginam. Kehamilan 24-
37 minggu diperlakukan sesuai dengan risiko obstetrik lainnya
dan d isamakan dengan aturan persal inan a term. Tidak
dianjurkan forseps atau episiotomi elektif."

15
Kontraksi preterm

• Anamnesis
• Diagnosis Klinik
• Diagnosis USG

Manajemen:
• Tirah Baring
• Hidrasi dan sedasi
• Tokolitik
• Kortikosteroid
• Antibiotika
• Emergency cerclage
• Rencana persalinan

Observasi

...
Tempi Berliasil Terapi Gaga/

Pemeriksaan kehamilan Persal inan *


intensif • Persalinan · 24 minggu pervaginarn
• Persalinan 24 37 minggu. sesuai dengan
indikasi obstetri, disesuaikan dengan
persalinan aterrn. Tidak menganjurkan torseps
elektif clan episiotomi elektif
VII. KEPUST AKAAN
I. Greer I, Norman J. Preterm Labor. Managing Risk in Clinical
Practice. Cambridge University Press.2005.pp 1-26.
2. Slattery MM. Morrison JJ. Preternt Delivery. Lancet 2002:
360(9344 ): I 089-97.
3. Centers for Disease Control and Pre, ention. (CDC) 2007.
"Bhirts: Final data for 2005... Tersedia pada
http://www.cdc.gov/nchs/data/nvsr/nvsr56/nvsr56 06.pdf (
diakses I 3 Maret 2008)
4. Spong C.Y. Prediction and Prevention of Recruitment
Spontaneous Preterm Birth. Obset Gynecol 2007; l l 0:405-15.
5. Profil Kesehatan Indonesia 2005, Diterbitkan oleh Departemen
Republik Indonesia tahun 2007.
6. Alisjahbana A, Hamzah ES, Tanuwidjaja S. Perinatal Mortality
and Morbidity Survey and Low Birth Weight. 1983. Final
Report V
7. Krisnadi SR, "The Use of Clyndamycin to Reduce LBW infant
rateapplied to Bacterial Vaginosis. with or without Group B
Streptococcal Colonization and Chlamydia trachomatis
Infection". Disertation. Padjadjaran University. Bandung
Indonesia, 2000.
8. Moutquin JM, Classification and Heterogeneity of Preterm
Birth. Br J Obstet Gynaecol. 2003; 110 (Supl 20):30-33.
9. lams JD. Abnormal Cervical Competence. In: Creasy RK,
Resnik R, lams JD, eds. Maternal-fetal medicine. s" ed.
Philadelphia: Saunders; 2004. P.603-22
10. Smith GC, Pell JP, Dobbie R. lnterpregnancy Interval and risk
of Preterm birth and neonatal death: Retrospective co-hart
study. Bmj. 2003;327:9.
11. Behrman RE, Butler AS. (Eds). Preterm Birth. Causes,
Consequences and Prevention. Committee on Understanding
Kurang bulane Birth and Assuring Healthy Outcomes Board on
Health Sciences Policy. Institute of Medicine of National
Academies. The National Academies Press. Washington. 2006
12. Kalish RB, Vardhana S, Gupta M. Pemi SC. Witkin SS.
lnterleukin-4 and -10 Gene Polymorphisms and Spontaneous
Preterm Birth in Multifetal Gestations. Am J Obstet Gynaecol.
2004; 190:702-6

17
13. l<11-..1i11 Peterson Ochlke. Genetics, genomic,preterm labor and
hirth I he Minnesota department of health. 2004.
14. Ro,ncro R, Espinoza J, Mazor M, Chaiworapongsa T. The
JJffl<'l'III parturition Syndrome. In: Critchley H, Bennett P,
I hornston S. editors. Preterm Birth. London: RCOG Press:
2004 .p.28-60
15. McCormick MC The Contribution of low birth weight to infant
mortality and childhood morbidity. N Engl J Med 1985; 312:
82-90.
16. American College of Obstetricians and Gynaecologist. "preterm
Labor". Technical Bulletin no. 206. Washington DC:ACOG,
1995.\
17. Royal College of Obstetricians and Gynaecologist. Tocolytic
drugs for women in preterm labour, Guideline No.] B. London:
RCOG; 2002.
18. Papatsonis D, Flenady V. Cole S, Liley H. Oxytocin receptor
antagonists for inhibiting preterm labour. Cochrane Database
Syst Rev 2005;3:CD004452.
19. Kashanian M. Akbarian AR, Soltanzadeh M. Atosiban and
nifedipine for the treatment of preterin labor. Int J Gynaecol
Obstet. 2005 Oct: 91 (I): I 0-c!
20. Al-Ornari \1-.'R. Al-Shammaa HB. AI-Tikriti EM et al. Atosiban
and nifedipine in acute tocolysis: a Comparative study. Eur J
Obstet Gynecol Reprod Biol 2006.
21. Roberts D, Dalziel S. Antenatal Corticosteroids foraccelerating
fetal lung maturation for women at risk of preterm birth.
Cochrane Database Syst Rev. 2002; 3: CD002860
22. King J, Flenady V. prophylactic antibiotics for preterm labour
with intake membranes. Cochrane Database Syst Rev
2002;4:CD000426.
23. Grant A. Penn Zj, Steer Pj. Elective or selection cesarean
delivery of the small baby? A systematic review of
the controlled trials. Br .l Obstet Gynaecol 1996; 103: 1197-1200.
24. Read JS, Klebanoff MA. Sexual intercourse during
prcgnancyand preterm delivery: Effects of vaginal
nucroorganrsms. Am J Obste� and Gynaecol.
1993.1668(2):) 1--IQ

18