Anda di halaman 1dari 11

PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI PERKOTAAN

1)
Venny Yunita Sari 2) Sakbanul Lailatul Ulfah 3)Nurul Mudzatul Khusnah

4)
M. Nadim Zuhdi

Program Studi Teknik Lingkungan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Jl. Dukuh Menanggal XII Surabaya

ABSTRAK
Perubahan iklim yang disebabkan oleh berbagai faktor kerusakan lingkungan
merupakan fenomena yang sangat fundamental, yang telah melanda seluruh aspek
kehidupan manusia di muka bumi ini. Keadaan bumi semakin gersang dari lebatnya
tumbuhan hijau yang berperan penting sebagai penyaring dan pengikat CO2, zat – zat
pencemar dan debu, penghasil oksigen bagi kehidupan, penyerap air. Khususnya
daerah perkotaan, telah mengalami kerusakan lingkungan yang sangat parah. Maka
dari itu RTH sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat kota. Ruang terbuka
hijau kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi guna mendukung manfaat
langsung atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota tersebut yaitu
keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan. Beberapa
penyebab permasalahan RTH yaitu faktor ekonomi, penggunaan lahan ilegal dan
ketidak konsistenan dalam upaya pembangunan RTH. Tujuan dari artikel ini adalah
untuk mengetahui permasalahan pengelolaan RTH di daerah perkotaan dan peran
penting RTH dalam berbagai aspek bagi kelangsungan hidup masyarakat kota. Upaya
pemerintah dalam menangani permasalahan pengelolaan RTH harus menertibkan
penggunaan lahan illegal, pemerintah dan masyarakat harus memperhatikan fungsi
dari RTH, dan pemerintah juga harus tegas dalam menangani RTRW, sehingga RTH
dapat berfungsi seperti mestinya.
Kata kunci : RTH, wilayah perkotaan, masyarakat.
1. PENDAHULUAN
RTH merupakan salah satu komponen yang tingkat ketersediannya baik
secara kualitas maupun kuantitas harus selalu diperhatikan dalam proses perencanaan
kota (Dwihatmojo Roswidiyatmoko,2013). Semakin berkurangnya RTH karena
keterbatasan lahan akan menimbulkan permasalahan lingkungan di wilayah
perkotaan karena polusi yang meningkat. Menurut Budiharjo (1993) menyatakan
bahwa hilangnya ruang terbuka hijau di daerah perkotaan menyebabkan
ketidakstabilan psikologis, emosional, dan dimensional, sehingga ruang gerak
masyarakat untuk beraktivitas dan berpikir menjadi sangat terbatas.
Ketersediaan RTH khususnya pada wilayah perkotaan sangat penting dan
bermanfaat. Keberadaan RTH pada wilayah perkotaan akan meningkatkan produksi
oksigen dan menyerap karbondioksida, menjadi habitat hewan liar seperti kupu-kupu
dan burung serta menjaga air tanah dan mengurangi resiko terjadinya banjir.
Berdasarkan Undang-undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,
setiap wilayah kota harus menyediakan RTH sebesar 30% dari luasan wilayah yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka sebagai tempat tumbuh tanaman, baik secara
alamiah ataupun disengaja ditanam. Selain itu, kebutuhan akan RTH pada suatu
wilayah juga dapat ditentukan melalui berbagai indikator seperti jumlah penduduk,
kebutuhan oksigen, dan kebutuhan air bersih. Keberadaan RTH merupakan salah
satu unsur penting dalam membentuk lingkungan kota yang nyaman dan sehat.
Kota merupakan perwujudan aktivitas manusia yang berfungsi sebagai pusat
kegiatan sosial, ekonomi, pemerintahan, politik, dan pendidikan, serta penyediaan
fasilitas pelayanan bagi masyarakat. Dalam perjalanannya, kota mengalami
perkembangan yang sangat pesat akibat adanya dinamika penduduk, perubahan
sosial ekonomi, dan terjadinya interaksi dengan wilayah lain. Pertambahan jumlah
penduduk tersebut mengakibatkan terjadinya densifikasi penduduk dan permukiman
yang cepat dan tidak terkendali di bagian kota. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan
ruang meningkat untuk mengakomodasi kepentingannya. Semakin meningkatnya
permintaan akan ruang khususnya untuk permukiman dan lahan terbangun
berdampak kepada semakin merosotnya kualitas lingkungan. Rencana Tata Ruang
yang telah dibuat tidak mampu mencegah alih fungsi lahan di perkotaan sehingga
keberadaan RTH semakin terancam dan kota semakin tidak nyaman untuk
beraktivitas (Dwihartmojo,Roswidyatmoko2013). Tujuan artikel ini adalah untuk
menentukanpermasalahan dalam ligkungan di daerah perkotaan dapat terjadi serta
peran pentingRTH dalam berbagai aspek bagi kelangsungan hidup masyarakat kota.
2. PEMBAHASAN
A. Pengertian Dan Fungsi Ruang Terbuka Hijau ( RTH )
RTH adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat baik secara langsung
dalam kurun waktu terbatas maupun secara tidak langsung dalam kurun waktu
tidak tertentu. Ruang terbuka itu sendiri bisa berbentuk jalan, trotoar, ruang
terbuka hijau seperti taman kota, hutan dan sebagainya (Hakim dan Utomo, 2004).
Ruang terbuka hijau kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open
spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi
guna mendukung manfaat langsung atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH
dalam kota tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan
wilayah perkotaan tersebut (Dep. Pekerjaan Umum, 2008). Berdasarkan fungsi
utama RTH dapat dibagi menjadi :
1. Pertanian perkotaan, fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan hasilnya
untuk konsumsi yang disebut dengan hasil pertanian kota seperti hasil
hortikultura.
2. Taman kota, mempunyai fungsi utama untuk keindahan dan interaksi social
3. Hutan kota, mempunyai fungsi utama untuk peningkatan kualitas
lingkungan (Irwan, 2007).
B. Permasalahan RTH
1. Keterbatasan anggaran
Anggaran seringkali menjadi masalah yang tidak kunjung habisnya. Demikian
pula dengan alokasi anggaran yang diberikan oleh pihak pemerintah untuk biaya
penyediaan/pengadaan dan kegiatan penyelenggaraan. Dalam pelaksanaan
pembangunan anggaran juga menjadi salah satu masalah, untuk menyediakan
sebuah taman memerlukan biaya, minimnya biaya tersebut kurang memenuhi
kebutuhan untuk menyelesaikan sebuah taman kota, karena terhambat alokasi
biaya untuk penyediaan RTH yang kurang, RTH di perkotaan masih tergolong
minim. Anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah dirasakan masih kurang serta
penyediaan pohon dan bibit yang difasilitasi oleh Pihak BLH dan DKP terhambat
karena permasalahan anggaran yang kurang dan juga pelaksanaan pembuatan
taman juga menjadi tersedat dan tidak selesai sesuai target.
2. Aspek kelembagaan
Bentuk kelembagaan yang sesuai dan efektif untuk pengelolaan,
penyelenggaran dan pengembangan (dari tingkat pengendalian) RTH masih sangat
kurang, karena terbagi sekitar sembilan sektor yang bekerja tumpang tindih dan
kurang terkoordinasi. Hal ini disebakan karena tugas pokok dan fungsi yang
hampir sama, seperti Dinas Pertamanan, Dinas Pertanian, Dinas Kehutanan, Dinas
Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan dan Dinas Keolahragaan, Dinas Pemakaman,
Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Dinas Kebersihan. Rencana
penggabungan berbagai dinas terkait menjadi Dinas Tata Hijau atau Dinas
Lanskap Kota atau (nama lain dalam satu atap) agar mampu meningkatkan
pelayanan pembangunan dan pengelolaan RTH, mungkin perlu dikaji ulang.
3. Lemahnya pengawasan
Salah satu dari lima fungsi dasar manajemen adalah kontrol atau pengawasan
yang berfungsi membantu memastikan apakah aktifitas yang dilakukan sudah
sesuai dengan hasil yang diinginkan. Selain itu, fungsi ini juga dapat digunakan
untuk memfasilitasi bagaimana melakukan perbaikan terhadap hal tersebut.
Apabila sistem pengawasan berjalan baik maka akan diperoleh berbagai
keuntungan maupun kelebihan dari proses pengawasan yaitu tujuan akan
diwujudkan lebih cepat, murah dan lebih mudah dicapai, menciptakan suasana
keterbukaan, kejujuran dan transparan, menimbulkan saling percaya dan
menghilangkan rasa curiga dalam organisasi. Menumbuhkan perasaan aman dihati
setiap orang dalam organisasi sehingga mendorong kondisi jiwa yang sehat.
Memupuk perasaan memiliki atas perusahaan atau organisasi.
Lemahnya pengawasan pada pelaksanaannya dikarenakan beberapa hal, yaitu
jumlah SDM yang terbatas. Pengawasan yang dilakukan tidak berjalan dengan
efektif, karena ada wilayah yang tidak terjangkau, dikarenakan keterbatasan SDM.
Jumlah personel dalam pengawasan membutuhkan jumlah yang seimbang dengan
jumlah yang diawasi, agar pengawasan yang dilakukan berjalan dengan maksimal.
Walaupun pengawasan dilakukan setiap hari oleh pihak pengawas, hal itu tetap
kurang efektif dikarenakan jumlah yang terbatas ditiap-tiap kecamatan.
4. Keterbatasan lahan
Lahan merupakan tanah yang sudah ada peruntukannya dan umumnya
dimiliki dan dimanfaatkan oleh perorangan atau lembaga untuk dapat diusahakan.
Daerah perkotaan mempunyai kondisi penggunaan lahan yang dinamis, sehingga
perlu terus dipantau perkembangannya, karena seringkali pemanfaatan lahan tidak
sesuai dengan peruntukannya dan tidak memenuhi syarat. Bentuk penggunaan
lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya.
Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas
penduduk di suatu tempat berdampak pada makin meningkatnya perubahan
penggunaan lahan. Pertumbuhan dan aktivitas penduduk yang tinggi terutama
terjadi di daerah perkotaan.
Semakin banyaknya penduduk di suatu perkotaan berakibat pertumbuhan
alami maupun migrasi berimplikasi pada semakin besarnya tekanan penduduk atas
lahan kota, karena kebutuhan lahan untuk tempat tinggal mereka dan lahan
untuk fasilitas-fasilitas lain sebagai pendukungnya yang semakin meningkat. Hal
ini menjadi persoalan besar bagi perencana, pengelola kota maupun penduduk
sendiri. Bagi para perencana dan penglola kota dinamika pertumbuhan penduduk
yang cepat dan tuntutan pengaturan penggunaan lahan kota yang terbatas tetapi
selalu berubah mendatangkan pekerjaan tersendiri.
3. STUDI KASUS
A. “Pelaksanaan Pengaturan Ruang Terbuka Hijau Dalam Rencana Tata
Ruang Wilayah Di Kota Metro”(Hamidah dan Prayoga, 2014)

Di Kota Metro banyak penyediaan RTH yang menjadi tempat berdagang


para Pedagang Kaki Lima selain itu banyak juga masyarakat yang kurang
perduli dengan keberadaan RTH. Padahal RTH sangatlah penting untuk
kelangsungan hidup manusia, bagaimana pelaksanaan dan apa saja yang
menjadi hambatan dalam Pelaksanaan Pengaturan Ruang Terbuka Hijau dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah di Kota Metro.
Dalam menciptakan RTH untuk meningkatan kualitas kehidupan kota,
maka diperlukan beberapa tindakan antara lain: penyuluhan, pembinaan,
pengawasan dan penertiban dan peran serta masyarakat. PKL di Kota Metro pun
memanfaatkan tempat yang semestinya menjadi Ruang Terbuka Hijau, misalnya
saja taman kota yang menjadi tempat para PKL. Pemerintah Kota Metro sudah
menyediakan tempat untuk para PKL tersebut yakni di Lapangan Samber tidak
jauh dari taman kota. Tetapi dalam pelaksanaan masih ada beberapa PKL yang
masih berdagang di taman kota, memang cukup sulit untuk menanggulangi para
pedagang tersebut jika pemerintah tidak tegas. Relokasi pedagang tersebut untuk
mengembalikan fungsi Taman Kota Metro yang sebenarnya sebagai RTH.
Pemeliharaan RTH yang dilakukan Pemerintah Kota Metro adalah sebagai
berikut: pembersihan area, penyiraman tanaman, pemangkasan. Dan dari hasil
bahan bacaan dan wawancara penulis dengan kepala bidang pertamanan I
Nyoman Suarsana, S.H mendapatkan beberapa hambatan, yakni:
1. Perilaku merusak lingkungan hidup
2. Konsumsi yang berlebihan atas sumber daya alam
3. Egosentrisme
4. Perebutan kepentingan
5. Kesadaran untuk menanam pohon

B. “Studi Kebijakan Pembangunan Terhadap Perubahan Tata Ruang Di Kota


Semarang” (Nugroho dan Sugiri, 2009)
Secara kontradiktif pembangunan tata ruang Kota Semarang belum mampu
memenuhi ketentuan undang-undang. RTRW belum dapat berperan efektif
sebagai instrumen pengendali pembangunan Kota Semarang, ditandai dengan
masih banyaknya pelanggaran-pelanggaran terhadap ketentutan alokasi
peruntukan ruang aktivitas.
Kemajuan secara fisik ditunjukkan dengan semakin lengkapnya sarana
prasarana dan infrastruktur kota. Semakin banyaknya penduduk dan permintaan
kendaraan bermotor membuat Kota Semarang macet pada jam puncak. Sebagian
besar lahan di Kota Semarang di bangun hotel, industri dan gedung – gedung
bertingkat sehingga pembangunan RTH sangat minim di Kota Semarang. Hal
ini dapat berdampak pada munculnya permasalahan kurangnya ketersediaan
RTH terutama di pusat kota. Kurangya RTH ini nantinya akan berpengaruh pada
terjadinya banjir di Semarang. Disisi lain produk RTRW juga kurang dapat
menyikapi perkembangan Kota Semarang yang terjadi. Akibatnya hal tersebut
akan memicu terjadinya pemanfaatan ruang yang tidak efisien. Penyebab
masalah RTH kota semarang pertahunnya adalah: (1) Masih lemahnya Pemkot
dalam pengawasan dan penegakan hukum, menyebabkan kualitas dan kuantitas
simbol paru-paru kota turun secara signifikan. (2) Alih fungsi lahan karena
menurut data yang didapatkan terdapat 8 dari 16 kecamatan di Kota Semarang
memiliki RTH di bawah 30%. (3) Pelestarian ruang terbuka hijau masih sering
dikorbankan (4) Dialih fungsikan menjadi kawasan perdagangan, industri,
permukiman, dan jaringan transportasi (jalan, jembatan, terminal) (5)
Kurangnya sosialisasi RTH kepada masyarakat (6) Penggunaan lahan yang
terjadi tidak sesuai untuk mendukung konservasi lingkungan (7) Ketidaktahuan
masyarakat mengenai pelanggaran tata ruang dan guna lahan garis sempadan
sungai.
Cara menyelesaikan masalah ini adalah : (1) Memperbaiki kebijakan
pemerintah (2) Ketat dalam pengawasan RTRW (3) Mengembalikan fungsi
RTH (4) Memberikan sosialisasi kepada publik pentingnya RTH (5) Relokasi
bagi para pengguna trotoar yang ilegal seperti PKL yang mengunakan
trotoar/bahu jalan (6) Memperbaiki pembangunan infrastruktur jalan bagi para
pengguna jalan maupun trotoar di besarkan.
C. “Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kurangnya Ketersediaan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) Publik Di Kota Depok” (Kurnia dan Wardani, 2013)
Kota Depok yang termasuk kawasan Jabodetabek, merupakan sebagai
salah satu kota penyangga Ibukota Negara, Kawasan Jabodetabek ini merupakan
wilayah dengan proses urbanisasi terbesar di Indonesia karena kecenderungan
menjadi salah satu pusat perdagangan dan industri dan jasa yang mendorong
penduduk bekerja dan bermukim di wilayah ini. Depok sebagai kota penyangga
juga diarahkan untuk permukiman, kota pendidikan, pusat pelayanan
perdagangan, pariwisata dan resapan air.
Kondisi RTH Kota Depok saat ini jika dilihat berdasarkan data yang
diperoleh dari pihak pemerintah Kota Depok, kondisinya cukup jauh dari
harapan yang harus dimiliki oleh sebuah kota. Jumlah RTH di Kota Depok jauh
dari kata sesuai, sesuai dengan UU No 26 tahun 2007 dan permen PU No 05
tahun 2008 mengenai Penataan Ruang. Pada peraturan yang dibuat oleh
pemerintah pusat tersebut penyediaan RTH perkotaan harus memenuhi 30%
RTH dari luas wilayah Kota Depok, dengan komposisi 20% Publik dan 10%
privat. Jumlah RTH Kota Depok saat ini sampai tahun 2011 adalah sejumlah
3.110, 88 Ha atau hanya 15,53% dari luas wilayah Kota depok yang seluas
20,029 Ha. Untuk itu peneliti ingin mengetahui apa saja faktor-faktor yang
memengaruhi kurangnya ketersediaan RTH di Kota Depok. RTH merupakan
salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam sebuah kota. Pada setiap kota
baik kota besar maupun kota kecil, pasti memerlukan RTH untuk penyeimbang
lingkungan mereka.
Berkurangnya jumlah RTH di kota Depok tidak hanya dikarenakan
peningkatan jumlah penduduk saja, akan tetapi juga dikarenakan banyak hal
lain, diantaranya fokus perencanaan pemerintah yang belum fokus pada
penyediaan RTH, jumlah anggaran, implementasi perencanaan, lemahnya
pengawasan lingkungan dari pihak pemerintah Kota Depok, lembaga
pemerintah yang masih kurang berperan aktif dalam penyediaan, pengelolaan
dan penataan RTH, faktor lain yang berasal dari luar pemerintahan adalah
keterbatasan lahan dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk turut serta
menjaga RTH seperti taman-taman yang sudah dibuat oleh pemerintah. Faktor-
faktor tersebut merupakan hasil temuan yang diperoleh pada saat melakukan
wawancara dengan pihak-pihak terkait dengan ruang terbuka hijau.
Dalam penyediaan RTH perlu adanya komitmen dan kesadaran dari
pemerintah Kota Depok dan stakeholders terkait untuk memenuhi kebutuhan
ruang terbuka hijau yang ideal.
a. Dalam hal pengawasan perlu dibuat tim yang fokus untuk memperhatikan
lingkungan saja, bukan hanya sekedar memperhatikan konsistensi lahan saja.
b. Penyediaan anggaran oleh pemerintah Kota Depok yang mencukupi untuk
penyediaan anggaran terutama yang bersumber dari APBD kota Depok sendiri,
agar Kota Depok dapat menyediakan lahan dan bukan hanya sekedar penataan
saja. Hal ini dilakukan untuk menambah jumlah luasan RTH agar terwujud
target RTH 30% dari luas wilayah Kota depok.
c. Pemerintah Kota Depok perlu mendata lebih lanjut mengenai ketersediaan lahan
di wilayah Kota Depok secara berkala serta memilah lahan-lahan mana yang
berpotensi untuk dijadikan RTH dan lahan mana yang berpotensi ekonomis
sebagai tempat investasi agar mengurangi kejadian sengketa lahan.
d. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya RTH agar
dapat menimbulkan rasa memiliki untuk menjaga lingkungan agar tetap hijau.
e. Menempatkan personil yang berkompeten di bidangnya, sehingga tugas dan
fungsi tiap-tiap dinas dapat terwujud secara optimal.
4. PENYELESAIAN
1. Aspek anggaran
Ketersediaan dana yang memadai untuk pembiayaan pengelolaan RTH
adalah penting untuk pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan. Pembiayaan
RTH biasanya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD). Dana RTH yang ada tidak mencukupi karena adanya prioritas dalam
pembangunan sektor pelayanan publik. Oleh karena itu, pemerintah seharusnya
dapat lebih bijak dalam menghimpun dana terutama dari sumber lokal seperti
pajak, donasi, dan sistem kemitraan. Selain itu, pengembangan RTH perlu
dilkasanakan secara bertahap dan berkelanjutan.
2. Aspek Kelembagaan
Dari aspek permasalahan kelembagaan RTH perlu adanya semacam
Pedoman Pembangunan dan Pengelolaan RTH di Kawasan Perkotaan yang
transparan dan akuntabel, sesuai dengan paradigma tata pemerintahan yang baik
(good governance).
3. Aspek Lemahnya Pengawasan
Dalam lemahnya pengawasan pengelolaan RTH perlu dilakukan
pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan penataan
ruang untuk mencapai tujuan dari penyelenggaraan pengelolaan RTH dan
diberlakukanya pengawasan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sesuai
dengan kewenangannya.
4. Aspek Keterbatasan Lahan
Strategi untuk mengatasai masalah keterbatasan lahan RTH di perkotaan
dapat dilakukan melalui pemanfaatan sisa – sisa lahan yang ada secara optimal.
Penanaman ruang luar halaman pekarangan rumah atau di atas bangunan
bertingkat secara efektif memanfaatkan teras atau puncak gedung (rooftop
garden), dengan tanaman aerofonik atau hidrofonik dan semacamnya. Akibat
keterbatasan lahan, pengembangan RTH dimungkinkan mengarah ke atas.
Pengembangan landscape vertikal berupa taman atap, taman gantung, dan taman
balkon dan seharusnya pemerintah di setiap perkotaan menyediakan lahan yang
digunakan untuk pembangunan RTH sebagaimana lahan digunakan untuk
peruntukannya.

5. KESIMPULAN
Pentingnya fungsi dari RTH dalam Rencana Tata Ruang Wilayah yang
ditetapkan bahwa setiap kota harus memiliki RTH minimal 30% dari luas
wilayah kotanya sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang. Permasalahan – permasalahan yang terjadi dalam RTH
yaitu kurangnya perhatian pemerintah dalam pengelolaan RTH dan kurang
pedulinya masyarakat terhadap fungsi RTH, beralih fungsinya lahan RTH
sebagai tempat berdagang mengakibatkan hak pejalan kaki direbut dan
kurangnya pengawasan yang mengakibatkan RTRW kurang berfungsi
sempurna.
Untuk terlaksanakannya RTH perlu pengawasan pemerintah dan
masyarakat untuk memperhatikan fungsi dari RTH, dan pemerintah juga harus
tegas dalam menangani RTRW, sehingga RTH dapat berfungsi sebagai mana
mestinya. RTH merupakan solusi utama khususnya dalam menjaga sirkulasi
udara dan air dari permasalahan krisis ekologi perkotaan yang disebabkan oleh
terus meningkatnya jumlah urban dan bangunan.
Seluruh aktivitas dalam hidup pasti menghasilkan sisa yang dapat berupa
sampah ataupun zat – zat pencemar dan emisi lain yang terlepas ke udara.
Menyediakan sebagian lahan dirumah atau dikantor untuk RTH kemudian
menjaga, melindungi dan melestarikan adalah hal terkecil yang dapat setiap
manusia upayakan dalam menjaga lingkungan yang indah dan sehat.

6. DAFTAR PUSTAKA

Budiharjo, Eko. 2005.Tata Ruang Perkotaan, Bandung: PT.Alumni. diterbitkan.


Semarang: UNDIP.
Dwihatmojo, Roswidyatmoko. 2013. Pemanfaatan Citra quickbird untuk
identifikasi ruang terbuka hijau kawasan perkotaan. Jurnal Seminar
Nasional Pendayagunaan Informasi Geospatial untuk Optimalisasi
Otonomi Daerah ISBN: 978-979-636-152-6. Pusat Pemetaan Tata Ruang
dan Atlas, Badan Informasi Geospasial.
Hamidah dan Prayoga. 2014. Pelaksanaan Pengaturan Ruang Terbuka Hijau
Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Di Kota Metro. Universitas Lampung :
Vol 1, No 3
Kawasan Terbangun Padat, Studi Kasus di Wilayah Pengembangan Tegallega,
Bandung. Institut Teknologi Bandung
Kurnia dan Wardani. 2013. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Kurangnya
Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik Di Kota Depok.
Universitas Indonesia
Mariana, Y. 2011. Pola Aktivitas Ibu Rumah Tangga Terhadap Pemanfaatan
Ruang Terbuka diPemerintah Kotamadya Bandung. Rencana Detail Tata
Ruang Kota WP Tegallega 2007-2012.
Nugroho dan Sugiri. 2009. Studi Kebijakan Pembangunan Terhadap Perubahan
Tata Ruang di Kota Semarang. Namakota: Vol.3, No.2, Tahun 2009, Hal.:
41 – 51.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman
Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan
Purnomohadi, N. 2006. Ruang Terbuka Hijau Sebagai Unsur Utama Tata Ruang
Kota. Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum
Rahmy, Widyastri A. 2012. Perancangan Urban Green Spaces System Pada
Sihite, J., dan Nur Intan, 1997. Pengelolaan Pembangunan Ruang Terbuka
Hijau Kota.