Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Trauma kepala merupakan suatu kegawatan yang paling sering dijumpai di

unit gawat darurat suatu rumah sakit. Trauma timbul akibat adanya gaya mekanik

yang secara langsung menghantam kepala, trauma kepala merupakan trauma pada

kepala yang dapat menyebabkan kerusakan kompleks di kulit kepala, tulang

tempurung kepala, selaput otak dengan pembuluh darahnya, dan jaringan otak itu

sendiri. Akibatnya dapat terjadi fraktur tulang tengkorak, kontusio serebri, laserasi

serebri, dan perdarahan intrakranial seperti subdural hematom, epidural hematom,

atau intraserebral hematom. Trauma kepala dapat menyebabkan kepala mengalami

gangguan kognitif, fisik dan psikososial baik sementara atau permanen dan

menyebabkan kematian atau kelumpuhan pada usia dini. 1,2

Berdasarkan data dari negara-negara maju, trauma kepala merupakan 26%

dari jumlah jenis kecelakaan yang mengakibatkan seseorang tidak bisa bekerja

selama lebih dari satu hari hingga jangka yang panjang. Sekitar 33% kecelakaan

yang berakhir pada kematian disebabkan oleh trauma kepala.1

Data epidemiologi di Indonesia belum ada, tetapi data dari salah satu rumah

sakit di Jakarta, RS Cipto Mangunkusumo, untuk penderita rawat inap, terdapat

60%-70% dengan CKR, 15%-20% CKS, dan sekitar 10% dengan CKB. Angka

kematian tertinggi sekitar 35%-50% akibat CKB, 5%-10% CKS, sedangkan untuk

CKR tidak ada yang meninggal.5

Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan otak

biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak. Secara

1
klinis ditandai dengan adanya penurunan kesadaran yang kadang-kadang disertai

lateralisasi, pada pemeriksaan CT Scan didapatkan adanya daerah hiperdens yang

indikasi dilakukan operasi jika Single, Diameter lebih dari 3 cm, Perifer, Adanya

pergeseran garis tengah, Secara klinis hematom tersebut dapat menyebabkan

gangguan neurologis/lateralisasi.4,6

Pemindaan CT merupakan pemeriksaan penunjang pilihan, yang dapat

mendeteksi perdarahan baru. CT dapat menunjukkan adanya lokasi dan adanya

perdarahan intrakranial, edema, kontusi, udara, benda asing intrakranial serta

pergeseran struktur di dalam rongga tengkorak.7-9

Pengobatan adalah kraniotomi dekompresi dan evakuasi hematoma.

Craniotomy merupakan suatu tindakan operasi pada kepala untuk membuka

tengkorak (tempurung otak) dengan tujuan untuk memperbaiki kerusakkan pada

jaringan otak. Intervensi bedah harus dikerjakan dini dan sebelum tekanan serius

pada jaringan otak menimbulkan kerusakan. Jika ditangani dengan cepat, prognosis

intracranial hematoma biasanya baik, karena kerusakan otak secara menyeluruh

dapat dibatasi. Berikut ini akan di bahas laporan kasus mengenai intracranial

hematoma pada penderita di RSUP Prof. RD Kandou.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Perdarahan intracerebral adalah perdarahan yang terjadi pada jaringan otak

biasanya akibat robekan pembuluh darah yang ada dalam jaringan otak. Secara

klinis ditandai dengan adanya penurunan kesadaran yang kadang-kadang disertai

lateralisasi, pada pemeriksaan CT Scan didapatkan adanya daerah hiperdens yang

indikasi dilakukan operasi jika Single, Diameter lebih dari 3 cm, Perifer, Adanya

pergeseran garis tengah, Secara klinis hematom tersebut dapat menyebabkan

gangguan neurologis/lateralisasi. Operasi yang dilakukan biasanya adalah evakuasi

hematom disertai dekompresi dari tulang kepala. Faktor-faktor yang menentukan

prognosenya hampir sama dengan faktor-faktor yang menentukan prognose

perdarahan subdural.4,6

Intra Cerebral Hematom adalah perdarahan kedalam substansi otak.

Hemorragi ini biasanya terjadi dimana tekanan mendesak kepala sampai daerah

kecil dapat terjadi pada luka tembak ,cidera tumpul.5

Intra secerebral hematom adalah pendarahan dalam jaringan otak itu sendiri.

Hal ini dapat timbul pada cidera kepala tertutup yang berat atau cidera kepala

terbuka .intraserebral hematom dapat timbul pada penderita stroke hemorgik akibat

melebarnya pembuluh nadi.6

2.2 ETIOLOGI

Etiologi dari Intra Cerebral Hematom menurut Suyono adalah : 3, 6

3
a. Kecelakaan yang menyebabkan trauma kepala

b. Fraktur depresi tulang tengkorak

c. Gerak akselerasi dan deselerasi tiba-tiba

d. Cedera penetrasi peluru

e. Jatuh

f. Kecelakaan kendaraan bermotor

g. Hipertensi

h. Malformasi Arteri Venosa

i. Aneurisma

j. Distrasia darah

k. Obat

l. Merokok

2.3 EPIDEMIOLOGI

Di Amerika Serikat, kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan

mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah tersebut, 10% meninggal sebelum tiba di

rumah sakit. Yang sampai di rumah sakit, 80% dikelompokkan sebagai cedera

kepala ringan (CKR), 10% termasuk cedera kepala sedang (CKS), dan 10% sisanya

adalah cedera kepala berat (CKB).3 Insiden cedera kepala terutama terjadi pada

kelompok usia produktif antara 15-44 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan

penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala, 20%-28% lainnya karena jatuh dan

3%-9% lainnya disebabkan tindak kekerasan, kegiatan olahraga dan rekreasi. Data

epidemiologi di Indonesia belum ada, tetapi data dari salah satu rumah sakit di

Jakarta, RS Cipto Mangunkusumo, untuk penderita rawat inap, terdapat 60%-70%

4
dengan CKR, 15%-20% CKS, dan sekitar 10% dengan CKB. Angka kematian

tertinggi sekitar 35%-50% akibat CKB, 5%-10% CKS, sedangkan untuk CKR tidak

ada yang meninggal. 5

2.4 PATOMEKANISME

Perdarahan intraserebral ini dapat disebabkan oleh karena ruptur arteria

serebri yang dapat dipermudah dengan adanya hipertensi. Keluarnya darah dari

pembuluh darah didalam otak berakibat pada jaringan disekitarnya atau didekatnya,

sehingga jaringan yang ada disekitarnya akan bergeser dan tertekan. Darah yang

keluar dari pembuluh darah sangat mengiritasi otak, sehingga mengakibatkan

vosospasme pada arteri disekitar perdarahan, spasme ini dapat menyebar keseluruh

hemisfer otak dan lingkaran willisi, perdarahan aneorisma-aneorisma ini

merupakan lekukan-lekukan berdinding tipis yang menonjol pada arteri pada

tempat yang lemah. Makin lama aneorisme makin besar dan kadang-kadang pecah

saat melakukan aktivitas.7,8

Dalam keadaan fisiologis pada orang dewasa jumlah darah yang mengalir

ke otak 58 ml/menit per 100 gr jaringan otak. Bila aliran darah ke otak turun

menjadi 18 ml/menit per 100 gr jaringan otak akan menjadi penghentian aktifitas

listrik pada neuron tetapi struktur sel masih baik, sehingga gejala ini masih

revesibel. Oksigen sangat dibutuhkan oleh otak sedangkan O2 diperoleh dari darah,

otak sendiri hampir tidak ada cadangan O2 dengan demikian otak sangat tergantung

pada keadaan aliran darah setiap saat. Bila suplay O2 terputus 8-10 detik akan

terjadi gangguan fungsi otak, bila lebih lama dari 6-8 menit akan tejadi jelas/lesi

yang tidak putih lagi (ireversibel) dan kemudian kematian.

5
Perdarahan dapat meninggikan tekanan intrakranial dan menyebabkan

ischemi didaerah lain yang tidak perdarahan, sehingga dapat berakibat

mengurangnya aliran darah ke otak baik secara umum maupun lokal. Timbulnya

penyakit ini sangat cepat dan konstan dapat berlangsung beberapa menit, jam

bahkan beberapa hari.8

PATHWAYS

Trauma kepala, Fraktur depresi tulang tengkorak, , Hipertensi, Malformasi Arteri Venosa,
Aneurisma, Distrasia darah, Obat, Merokok

Pecahnya pembuluh darah


otak (perdarahan intracranial)

Darah masuk ke dalam


jaringan otak

Penatalaksanaan : Darah membentuk massa


Kraniotomi atau hematoma

Luka insisi Port d’entri


Penekanan pada jaringan
pembedahan Mikroorganisme
otak

Resiko infeksi
Peningkatan Tekanan
Intracranial

Metabolisme Gangguan aliran darah


Sel melepaskan Fungsi otak menurun
anaerob dan oksigen ke otak Fungsi otak menurun
mediator nyeri :
prostaglandin,
sitokinin Refleks menelan
Kerusakan
Ketidakefektifan menurun
Vasodilatasi neuromotorik
pembuluh darah perfusi jaringan
cerebral
Kelemahan otot Anoreksia
Impuls ke pusat
nyeri di otak progresif
(thalamus)
Ketidakseimba
ngan kebutuhan
ADL dibantu
nutrisi kurang
dari kebutuhan
6 tubuh
Kerusakan mobilitas
Impuls ke pusat fisik
nyeri di otak
(thalamus)

Gangguan pemenuhan
Somasensori korteks kebutuhan ADL
otak : nyeri
dipersepsikan

Nyeri

2.5 DIAGNOSIS

A. GAMBARAN KLINIS

Intracerebral hemorrhage mulai dengan tiba-tiba. Dalam sekitar

setengah orang, hal itu diawali dengan sakit kepala berat, seringkali selama

aktifitas. Meskipun begitu, pada orang tua, sakit kepala kemungkinan ringan

atau tidak ada. Dugaan gejala terbentuknya disfungsi otak dan menjadi

memburuk sebagaimana peluasan pendarahaan. 8

Beberapa gejala, seperti lemah, lumpuh, kehilangan perasa, dan mati

rasa, seringkali mempengaruhi hanya salah satu bagian tubuh. orang

kemungkinan tidak bisa berbicara atau menjadi pusing. Penglihatan

kemungkinan terganggu atau hilang. Mata bisa di ujung perintah yang berbeda

atau menjadi lumpuh. Pupil bisa menjadi tidak normal besar atau kecil. Mual,

muntah, serangan, dan kehilangan kesadaran adalah biasa dan bisa terjadi di

dalam hitungan detik sampai menit. Menurut Corwin manifestasi klinik dari

dari Intra cerebral Hematom yaitu :4,6,7

a. Kesadaran mungkin akan segera hilang, atau bertahap seiring dengan

membesarnya hematom.

7
b. Pola pernapasaan dapat secara progresif menjadi abnormal.

c. Respon pupil mungkin lenyap atau menjadi abnormal.

d. Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekanan intra cranium.

e. Perubahan perilaku kognitif dan perubahan fisik pada berbicara dan

gerakan motorik dapat timbul segera atau secara lambat.

f. Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan

peningkatan tekanan intra cranium.

B. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang dari Intra Cerebral Hematom menurut Sudoyo

adalah sebagai berikut :

a. Angiografi

b. Ct scanning

c. Lumbal pungsi

d. MRI

e. Thorax photo

f. Laboratorium

g. EKG

8
CT Scan

2.6 DIAGNOSIS BANDING

 Hematoma subdural

Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater dan

arachnoid. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan

hematoma epidural yang berkembang lambat. Bisa di sebabkan oleh trauma hebat

pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai

tulang sehingga merusak a. kortikalis. Biasanya di sertai dengan perdarahan

jaringan otak. Gambaran CT-Scan hematoma subdural, tampak penumpukan cairan

ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit.15

Hematoma Subdural Akut

9
 Hematoma Subarachnoid

Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-pembuluh darah di

dalamnya.

Kepala panah menunjukkan hematoma subarachnoid, panah hitam

menunjukkan hematoma subdural dan panah putih menunjukkan pergeseran garis

tengah ke kanan.

2.7 PENATALAKSANAAN

a. Penanganan darurat :

• Dekompresi dengan trepanasi sederhana

• Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

b. Terapi medikamentosa

Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal

atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial

dan meningkakan drainase vena.17

10
Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan

dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam),

mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema

cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang

terbaik. Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini

mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan

untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin. Tri-

hidroksimetil-amino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk

ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat,

dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Barbiturat dapat dipakai unuk

mengatasi tekanan intrakranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif

terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali

dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB

setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar serum 3-4mg%.12,13

Perawatan Pascabedah

Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya.

Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau

kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian.

Setelah operasipun kita harus tetap berhati hati, karena pada sebagian pasien

dapat terjadi perdarahan lagi yang berasal dari pembuluh darah yang baru terbentuk,

subdural empiema, irigasi yang kurang baik, pergeseran otak yang tiba-tiba, kejang,

tension pneumoencephalus, kegagalan dari otak untuk mengembang kembali dan

11
terjadinya reakumulasi dari cairan subdural. CT-Scan serial pasca kraniotomi

sebaiknya juga dilakukan.13

2.10 PROGNOSIS

Prognosis tergantung pada :

• Lokasinya (infratentorial lebih jelek)

• Besarnya

• Kesadaran saat masuk kamar operasi.

Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus.

Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi.

12
BAB III

LAPORAN KASUS

A. Identitas Penderita

Nama : WM

Jenis Kelamin : Laki-laki

No. RM : 52.26.33

Umur : 20 tahun

Alamat : Manembo

Pekerjaan : Swasta

Agama : Kristen Protestan

MRS : 16-01-2018, pukul 01.09 WITA

B. Primary survey

Airway : Clear + C-spine control

Breathing : 20 x/menit, O2 4 L/menit

Circulation : 82 x/menit, reguler, isi cukup, akral hangat

Disability : pain respons

Exposure : kepala

C. Secondary survey

Penurunan kesadaran akibat kecelakaan lalu lintas dialami oleh

penderita sejak ± 4 jam SMRS. Awalnya, penderita sedang di dalam mobil

pick up duduk di tempat penumpang sebelah supir, supir yang mengendarai

13
mobil dalam keadaan mabuk, mekanisme kecelakaan tidak diketahui.

Riwayat pingsan (+) lama tidak diketahui, mual (-), muntah (-), alkohol (-)

kemudian penderita dibawa ke RS Pancaran Kasih dan dirujuk ke RSUP

Prof Dr. R.D Kandou dengan infus terpasang dan spain terpasang.

Allergy : -

Medication : IVFD RL

Past illness : -

Last meal : 8 jam SMRS

Enviroment : -

D. Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum : Sakit sedang

2. Kesadaran : E3V5M6

3. Tanda-tanda vital

Tekanan Darah : 120/70 mmHg

Nadi : 100x/menit

Respirasi : 20x/mnt

Suhu : 36,8ᵒ C

4. Kepala :

- Regio temporal dextra : luka terbuka uk ± 3 x 1 cm, tepi tidak rata,

dasar tulang, teraba garis fraktur, perdarahan aktif (-)

- Regio temporal sinistra : luka terbuka uk ± 5 x 1 cm, tepi luka tidak

rata, dasar otot, tidak teraba garis fraktur, perdarahan aktif (-)

- Regio occipital : luka terbuka uk ± 3 x 2 cm, tepi luka tidak rata,

dasar subkutis, teraba garis fraktur (-), perdarahan aktif (-)

14
- Periorbita dextra : hematom (-), oedem (-)

- Periorbita sinistra : hematom (+), oedem (+)

- Zygoma dextra : oedema (-), flattening sde, parestesia (-), diplopia

(-)

- Zygoma sinistra : oedema (+), flattening sde, parestesia (-), diplopia

(-)

- Occuli Dextra : CA (-), SI (-), pupil bulat isokor ᴓ 3 mm, RC +/+

normal

- Occuli Sinistra : CA (-), SI (-), pupil bulat isokor ᴓ 3 mm, RC +/+

normal

5. Leher : jejas (-), nyeri tekan (-)

6. Thorax

Paru

Inspeksi : simetris, gerakan pernapasan kiri = kanan

Palpasi : stem fremitus kiri = kanan, nyeri tekan (-)

Perkusi : sonor kiri = kanan

Auskultasi : suara pernapasan vesikuler kiri = kanan, suara napas

tambahan: ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Jantung

Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

15
Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Perkusi : batas jantung kanan di ICS IV linea parasternalis dekstra

batas jantung kiri di ICS V linea midklavikula sinistra

Auskultasi : S1 S2 normal, regular, murmur (-)

7. Abdomen

Inspeksi : datar

Auskultasi : bising usus (+) normal

Palpasi : lemas, hepar/lien tidak teraba

Perkusi : timpani

8. Extremitas

Extermitas superior : kekuatan kanan 5 / kiri 5

Extremitas inferior : kekuatan kanan 5 / kiri 5

Regio manus dextra :

Look : oedema (+), deformitas (-)

Feel : NT (-)

Move ROM terbatas karena nyeri

CRT < 3’, a. Radialis ++/++, a.ulnaris ++/++

Sensorik ++/++ normal

E. Pemeriksaan Laboratorium (16 Januari 2018)

Pemeriksaan Hasil Nilai normal

16
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Leukosit 12500 / uL 4000 – 10000 /uL

Eritrosit 5.84 x106/uL 4.70 – 6.10 x106/uL

Hemoglobin 14.0 g/dL 12.0 – 14.0 g/dL

Hematrokrit 44.9 % 37.0 – 47.0 %

Trombosit 227 /uL 150 – 450 /uL

MCH 23.9 pg 27.0 – 35.0 pg

MCHC 31.1 g/dL 30.0 – 40.0 g/dL

MCV 76.9 fL 80.0 – 100.0 fL

Ureum 22 mg/dL 10 – 40 mg/dL

Creatinin 0.9 mg/dL 0.5 – 1.5 mg/dL

Na 139 mEq/L 135 – 153 mEq/dL

K 4.10 mEq/L 3.50 – 5.30 mEq/L

Cl 109.0 mEq/L 98.0 – 109.0 mEq/L

F. Pemeriksaan Radiologis

17
1. Rontgen toraks : Jantung ukuran Normal. Tidak tampak area hiperlusen

tanpa corakan bronkovaskuler di kedua paru. Sudut kostofrenikus kanan kiri

lancip. Tidak tampak fraktur kosta kanan dan kiri. Kesan : Tidak ada

kelainan pada cor dan pulmo.

2. CT-SCAN Kepala

18
Kesan :

19
ICH regio occipital vl 2 cc

Bone Window : tak tampak garis fraktur

G. Diagnosis

ICH Regio Occipital

H. Tatalaksana

- Elevasi head of bed 30o

- O2 2-4 Lpm via nasal canul

- IVFD Nacl 0,9% + 3 amp ketorolac + Neurobion 1 amp =

12gtt/m

- IVFD Ringer Fundin 8gtt/m

- Ceftriaxone 2 x 1 amp (iv)

- Ranitidin 2 x 1 amp (iv)

- Inj. Tetagam IM

- Cuci dan jahit luka

a) Follow Up

 17 Januari 2018 ( Perawatan Hari ke 1)

S : demam (-), pasien masih disedasi dengan midazolam

O: TD : 120/70 mmHg

N : 88x/m

RR : 20x/m

SB : 36.40c

20
A : ICH traumatik oksipital vl 2 cc

P:

- Elevasi head of bed 30o

- O2 4 L/m

- IVFD Nacl 0,9% + Neurobion 1 amp = 10gtt/m

- IVFD Riger Fundin 8gtt/m

- Ceftriaxone 2 x 1 amp (iv)

- Ranitidin 2 x 1 amp (iv)

BAB IV

21
PEMBAHASAN

Intracranial hematoma adalah salah satu jenis perdarahan intrakranial yang

paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Sekitar 50 % penderita

hematoma Intracranial adalah berusia di atas 35 tahun, dan jarang terjadi pada umur

kurang dari 2 tahun. Lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan

dengan perbandingan 4:1.1.3 Pada kasus ini penderita laki-laki berumur 62 tahun

mengalami cedera kepala akibat tertimpa pohon saat sedang mengendarai mobil.11

Gejala klinis yang dapat terjadi berupa penurunan kesadaran secara

progresif, gangguan hemodinamik, nyeri kepala hebat. Primary Survey harus segera

dilakukan pada penderita meliputi pemeriksaan primer (primary survey) yang

mencakup jalan nafas (airway), pernafasan (breathing) dan tekanan darah atau nadi

(circulation). Jalan nafas harus dibersihkan apabila terjadi sumbatan atau obstruksi,

bila perlu dipasang pipa orofaring atau pipa endotrakeal lalu diikuti dengan

pemberian oksigen. Diperiksa nadi dan tekanan darah unntuk memantau apakah

terjadi hipotensi, syok atau terjadinya peningkatan tekanan intrakranial. Jika terjadi

hipotensi atau syok harus segera dilakukan pemberian cairan untuk mengganti

cairan tubuh yang hilang. Pemeriksaan neurologik yang meliputkan kesadaran

penderita dengan menggunakan Skala Koma Glasgow, pemeriksaan diameter

kedua pupil, dan tanda-tanda defisit neurologis fokal.3,4,13

Pada kasus ini, penderita mengalami penurunan kesadaran ± 4 jam SMRS akibat

kecelakaan lalu lintas, riwayat pingsan (+) lama tidak diketahui, mual (-), muntah

(-), alkohol (-). Pada primary survey ditemukan jalan nafas bersih dengan C-spine

control. Breathing didapati nafas spontan 20 kali per menit dengan bantuan O2 4

22
liter/menit, SpO2 99%. Circulation akral hangat, isi cukup, pulsasi: (+), frekuensi:

82 x/menit reguler, TD: 120/70 mmHg. Disability dijumpai alert; GCS : 14

(E3M5V6) pupil bulat isokor Ø 3 mm; RC (+/+) .12,15,16

Perdarahan bisa berjalan dengan cepat atau lambat. Bertambah besarnya

volume perdarahan mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial

yang ditandai dengan nyeri kepala, papil edema, dan muntah yang seringkali

bersifat proyektil. Pada tahap lebih lanjut, jika hematom yang terbentuk lebih besar

akan memicu terjadinya sindrom herniasi yang ditandai dengan penurunan

kesadaran, adanya pupil yang anisokor dan terjadinya hemiparesis kontralateral.76

Pemeriksaan laboratorium minimal meliputi, pemeriksaan darah rutin,

elektrolit, profil hemostasis/koagulasi.. Pemeriksaan CT-Scan merupakan alat

diagnostik pertama yang dilakukan pada penderita dengan dugaan intracranial

hematom karena dapat menunjukkan dengan baik perdarahan dan fraktur. Selain

itu, cepat untuk didapatkan hasilnya dan lebih mudah ditemukan pada layanan

kesehatan dibandingkan penunjang diagnostik MRI. Pemeriksaan dengan MRI

merupakan pilihan karena tingkat sensitivitas dan spesifitasnya lebih tinggi. Pada

pemeriksaan CT scan lesi tampak didapatkan adanya daerah hiperdens yang

indikasi dilakukan operasi jika Single, Diameter lebih dari 3 cm, Perifer, Adanya

pergeseran garis tengah. 15,16

Pada pemeriksaan darah dijumpai leukosit meninggi sebesar 12500/uL.

Pada foto toraks tidak dijumpai adanya kelainan. Pada foto CT-scan didapat ICH

regio occipital 2 cc, Bone Window : tak tampak garis fraktur. Pasien didiagnosa

dengan intracranial hematoma.14

23
Pada pasien ini diberikan tatalaksana medikamentosa IVFD Nacl 0,9% +

Neurobion 1 amp = 10gtt/m, IVFD Riger Fundin 8gtt/m, Tetagam amp (iv),

Ceftriaxone 2 x 1 amp (iv), Ranitidin 2 x 1 amp (iv). Tatalaksana non

medikamentosa untuk menurunkan TIK adalah dengan elevasi 15-30°. Pada pasien

ini dilakukan elevasi kepala 300.11,12

Prognosis ICH tergantung pada lokasinya (infratentorial lebih jelek),

besarnya, ksadaran saat masuk kamar operasi. Angka kematian berkisar antara 7-

15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Prognosis sangat buruk pada pasien yang

mengalami koma sebelum operasi. Pada pasien ini lokasi ICH berada di regio

oksipital dengan besarnya 2cc, dan pasien sadar. Prognosis pada pasien ini dubia ad

bonam.

24
BAB V

KESIMPULAN

Seorang laki-laki 20 tahun dirujuk dari RS Pancaran Kasih ke IGD RSUP

Prof Kandou dengan penurunan kesadaran karena kecelakaan lalu lintas 4 jam

SMRS. Setelah dilakukan autoanamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang pasien didiagnosa dengan ICH regio occipital 2 cc. Pasien diberikan

tatalaksana medikamentosa IVFD Nacl + Neurobion, IVFD Riger Fundin,

Tetagam, Ceftriaxone, Ranitidin. Tatalaksana non medikamentosa dilakukan

elevasi kepala 300. Prognosis pasien ini dubia ad bonam.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Anderson S. McCarty L., Cedera Susunan Saraf Pusat, Patofisiologi, edisi


4, Anugrah P. EGC, Jakarta,1995, 1014-1016

2. Hafid A, Epidural Hematoma, Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi kedua, Jong
W.D. EGC, Jakarta, 2004, 818-819

3. Mardjono M. Sidharta P., Mekanisme Trauma Susunan Saraf, Neurologi


Kilinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 2003, 254-259

4. Gennarelli TA, Meaney DF. Mechanism of Primary Head Injury. Dalam:


Neurosurgery 2nd edition. New York : McGraw Hill, 1996.

5. American College of Surgeon Committee on Trauma. Cedera Kepala.


Dalam : Advanced Trauma Life Support fo Doctors. Ikatan Ahli Bedah
Indonesia. Komisi trauma IKABI, 2004.

6. Soertidewi L. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral,


Updates In Neuroemergencies, Tjokronegoro A., Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 2002, 80

7. Hickey JV. Craniocerebral Trauma. Dalam: The Clinical Practice of


Neurological and Neurosurgical Nursing 5th edition. Philadelphia :
lippincot William & Wilkins, 2003.

8. Soertidewi L. Penatalaksanaan kedaruratan cedera kranio serebral. Dalam:


Tjokronegoro A, editor. Updates in neuroemergencies. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2002.h. 80.

9. De Jong, Wim. Buku ajar ilmu bedah.Jakarta:EGC, 2006.

26
10. Sidharta, Priguna. Neurologi klinis dalam praktek Umum. Jakarta: Dian
Rakyat, 2004.

11. Markam S. Trauma kapitis. Dalam:Harsono, editor.Kapita selekta neurologi


(Edisi kedua). Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2005. h. 314.

12. Turner DA. Neurological evaluation of a patient with head trauma. Dalam :
Neurosurgery 2nd edition. New York: McGraw Hill, 1996

13. Fleisher GR, Ludwig S. Textbook of pediatric emergency medicine (Sixth


Edition). Philadelphia: Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins
Health, 2010.p. 1422-445

14. Albright AL, Pollack IF, Adelson PD. Hematomas. In: Doppenberg EMR,
Ward JD, editors. Principles and practice of pediatric neurosurgery (Second
Edition). Thieme Medical Publishers, Inc: New York, 2008.

15. Dahnert W. Brain disorders,radiology review manual(second edition).


Williams & Wilkins, Arizona, 1993. h. 117 – 78.

16. Sutton D. Textbook of radiology and imaging (fifth edition). London:


Churchill Living Stone,1993. p.1423

17. Turner DA. Neurological evaluation of a patient with head trauma. Dalam
: Neurosurgery 2nd edition. New York: McGraw Hill, 1996.

18. Soertidewi L. Penatalaksanaan kedaruratan cedera kranio serebral. Dalam:


Tjokronegoro A, editor. Updates in neuroemergencies. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2002.h. 80.

27
19. Soertidewi L. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral,
Updates In Neuroemergencies, Tjokronegoro A., Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 2002, 80

20. Soertidewi L. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranio Serebral,


Updates In Neuroemergencies, Tjokronegoro A., Balai Penerbit FKUI,
Jakarta, 2002, 80

28