Anda di halaman 1dari 4

5.

2 Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok


5.2.1 Model Empat Tahap
Menurut Gibson et al (1996) tahap-tahap pembentukan kelompok terdiri dari empat
tahap, yaitu:
1) Penerimaan bersama, yaitu fase dimana anggota menolak untuk berkomunikasi satu
dengan yang lain. Tidak mau mengekspresikan ide, sikap, dan keyakinan mereka.
2) Komunikasi dan pengambilan keputusan, yaitu fase dimana telah mulai ada
komunikasi yang terbuka, diskusi, interaksi untuk menyelesaikan tugas.
3) Motivasi dan produktivitas, pada fase ini ada upaya untuk menyelesaikan tugas
kelompok.
4) Pengendalian dan organisasi, sudah tercipta afiliasi, regulasi, dan norma kelompok.
Lebih mengedepankan tujuan kelompok dibanding individu.
Menurut Gitosudarmo dan Sudita (1997), tahap-tahap pembentukan kelompok dengan
model empat tahap, yaitu:
1) Tahap Orientasi, yaitu suatu tahap dimana anggota mencoba untuk memahami tujuan
kelompok dan peranan masing-masing anggota.
2) Tahap Konfrontasi, yaitu ditandai dengan adanya konflik karena perebutan kekuasaan
dan pengaruh. Jika konflik dapat diatasi maka perjalan kelompok menuju kematangan
semakin mendekati kenyataan.
3) Tahap Deferensiasi, yaitu suatu tahapan dimana perbedaan masing-masing individu
diakui, tugas pekerjaan berbasis keahlian dan kemampuan masing-masing individu.
Pada fase ini anggota sudah mulai merasakan sukses yang dicapai kelompoknya.
4) Tahap Kolaborasi, yaitu suatu fase dimana kelompok tingkat kematangan yang tinggi.
Keputusan dan solusi masalah dilakukan melalui diskusi yang rasional.
5.2.2 Model Lima Tahap
Model lima tahap dikemukakan oleh Bruce W. Tuckman. Mary Ann C. Jensen (dalam
Robbins dan Judge, 2015). Model lima tahap pengembangan kelompok (five stage group
development) mencirikan kelompok yang berjalan melalui tahapan yang unik, yaitu
forming stage, storming stage, norming stage, performing, dan adjourning stage.
Tuckman memiliki hipotesis empat langkah model di mana setiap tahap perlu
diarahkan sehingga tercapainya efektiftas kelompok. Pada akhir penelitian, Tuckman
memperkenalkan label forming, storming, norming dan performing yang kemudian diamati
sehingga dapat digunakan sebagai deskripsi sebuah perkembangan kelompok dalam 20
tahun ke depan, namun pada tahun 1977, MAC Jensen melakukan revisi pada model ini,
dengan menambahkan, adjourning. Dampak yang paling jelas dari penambahan tahap
ekstra yang penyelarasan lebih eksplisit dari model dengan konsep durasi grup terbatas
dan eksposisi lebih lanjut dari kemampuan model yang terbatas secara efektif mencakup
perubahan keanggotaan kelompok (Primantara, 2016).
1) Forming Stage (Tahap Pembentukan)
Tahap ini merupakan tahap pertama dalam pembentukan kelompok kerja, para
anggota mulai mempelajari tugas yang diberikan dan berkenalan dengan anggota
lainnya yang dicirikan dengan ketidakpastian mengenai tujuan, struktur, dan
kepemimpinan kelompok. Para anggota “menguji keadaan” untuk menentukan tipe
perilaku apa yang dapat diterima. Tahap ini akan selesai ketika anggota mulai berpikir
bahwa dirinya adalah bagian dari anggota.
2) Storming Stage (Tahap Terjadi Konflik)
Tahap storming ini dikarakteristikan oleh konflik intra Kelompok. Para anggota
menerima keberadaan kelompok tetapi menentang hambatan yang memaksakan
pada individualitas, mereka cenderung akan mempertahankan pendapat mereka
sendiri, menolak batasan-batasan yang ditetapkan oleh kelompok terhadap individu
mereka. Terdapat konflik tentang siapa yang mengendalikan kelompok. Ketika tahap
ini selesai, akan tercipta suatu hierarki kepemimpinan yang relatif jelas di dalam
kelompok.
3) Norming Stage (Menyusun Norma)
Pada tahap ini, hubungan yang dekat akan berkembang dan kelompok akan
menunjukkan kekompakan. Terdapat rasa identitas kelompok yang kuat, tercipta
persahabatan dalam kelompok, mulai dapat mendengar pendapat anggota lain serta
dapat mengidentifikasikan kekuatan dan kelemahan. Tahap ini selesai ketika struktur
kelompok mengeras dan kelompok berasimilasi serangkaian ekspektasi umum
mengenai apa yang mendefinisikan perilaku anggota yang benar.
4) Performing (Pelaksanaan)
Pada tahap ini, struktur sepenuhnya fungsional dan diterima, dimana semua
anggota kelompok telah dapat bekerja dan berfungsi secara penuh. Energi kelompok
telah berpindah dari mengenai dan memahami satu sama lain hingga mengerjakan
tugas yang ada. Pada tahap ini, semua anggota memiliki kebersamaan, percaya diri,
kreatif, inisiatif dan semangat yang tinggi serta sukses.
5) Adjourning Stage (Tahap Pembubaran)
Bagi kelompok kerja yang permanen, tahap performing adalah tahap terakhir
dalam pengembangan. Namun, untuk komite-komite, tim, satuan tugas, dan kelompok
yang bersifat sementara yang memiliki tugas yang terbatas untuk dikerjakan, tahap
pembubaran terbentuk untuk mengakhiri kegiatan dan mempersiapkan diri untuk
pembubaran. Kinerja tugas yang tinggi tidak lagi menjadi prioritas tertinggi kelompok.
Sebagai gantinya, perhatian diarahkan untuk menyelesaikan aktivitas – aktivitas.
Respons dari anggota kelompok dalam tahap ini bervariasi. Beberapa anggota
kelompok optimis, bersenang-senang atas pencapaian kelompok. Anggota lainnya
lebih tertekan karena kehilangan persahabatan dan pertemanan yang didapat selama
kelangsungan kerja kelompok.
DAFTAR PUSTAKA

Gibson, Ivancevich, dan Donelly. 1966. Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Bina
Rupa Aksara.
Gitosudarmo, Indriyo, dan Sudita, I Nyoman. 1997. Perilaku Keorganisasian. Edisi Pertama.
Yogyakarta: BPFE.
Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2015. Perilaku Organisasi Edisi 16. Jakarta:
Salemba Empat.
Primantara, Victorio Chatra. 2016. Komunikasi Kelompok Pada Kelompok Srikandi Khayangan
dalam Mewujudkan Kemandirian Sebagai Mitra Binaan PT. Pertamina EP. Pangkalan Susu.
Jurnal Simbolika Volume 2 (1).