Anda di halaman 1dari 4

Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk salah satu keluarga bahan kimia

beracun yang mempunyai struktur kimia yang mirip serta mekanisma peracunan yang sama.
Keluarga bahan kimia beracun ini termasuk
(a) Tujuh Polychlorinated Dibenzo Dioxins (PCDD);
(b) Duabelas Polychlorinated Dibenzo Furans (PCDF); dan
(c) Duabelas Polychlorinated Biphenyls (PCB).
PCDD dan PCDF bukanlah produk kimia yang dikomersilkan, tetapi produk
sampingan yang secara tidak sengaja terjadi di dalam banyak proses pembakaran dan
beberapa proses industri kimia. PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil dalam
jumlah besar sampai produksi tersebut dilarang di Amerika pada tahun 1977

Karakteristik senyawa Dioksin


Senyawa dioksin sendiri adalah senyawa yang tersusun oleh atom karbon, hydrogen,
oksigen dan klor.

Senyawa 2,3,7,8-TCDD murni telah disintesis sejak tahun 1967. Bentuk fisik dari
senyawa murni ini adalah berbentuk serbuk kristal padat (seperti serbuk yang terdapat pada
tablet), tidak larut di dalam air dan sedikit larut pada beberapa pelarut organic.

Sumber dan jenis dioksin di lingkungan


Setiap hari manusia menghasilkan sampah. Baik sampah organik maupun anorganik.
Data BPS pada tahun 2000 menunjukkan produksi sampah dari 380 kota di Indonesia sebesar
80.235,87 ton tiap harinya. Dari sampah yang dihasilkan tersebut 37,6 % atau sekitar
30.168,687 ton ditangani dengan cara dibakar. Data itu 10 tahun yang lalu… Tentu saja
dengan meningkatnya jumlah penduduk, volume sampah yang dihasilkan juga akan semakin
banyak.
Pembakaran sampah yang tidak menggunakan teknologi tinggi dapat berakibat pada
pencemaran lingkungan. Sebab hal ini dapat menghasilkan senyawa kimia berbahaya dan
beracun yang dikenal dengan nama dioksin. Senyawa ini dapat terbentuk pada pembakaran
dengan temperature yang rendah. Bahkan pembakaran dengan menggunakan incinerator
pada temperatur 400 – 600 0 C merupakan kondisi yang optimum untuk pembentukan
senyawa dioksin.
Apabila proses pembakaran sampah berlangsung sempurna maka tidak akan
menghasilkan dioksin, seperti yang diperlihatkan pada persamaan reaksi
sCO2 + tHCl + xH2O + ySO2 + zN2 ==> CaHbOcNdSeClf + u (O2 + 3,76 N2)
Pada reaksi persamaan reaksi pembakaran diatas memperlihatkan tidak terbentuk senyawa
dioksin apabila reaksi berlangsung secara sempurna (dalam reaksi yang stabil).
Namun dengan beragamnya komposisi yang terdapat pada sampah, maka ketika sampah
dibakar maka dapat menghasilkan dioksin dan furan. Hal ini terjadi karena proses
pembakaran tidak dapat dapat berlangsung secara stabil. Adapun proses pembentukan
dioksin dan furan dapat ditunjukkan pada persamaan reaksi dibawah ini.
C + H2 + Cl2 + O2 + N2  CO2 + CO + HCl + N2 + O2 + PCDD + PCDF
Dioksin sebenarnya tidak hanya dihasilkan dari pembakaran sampah, akan tetapi juga
dapat dihasilkan dari gas emisi kendaraan, kebakaran hutan, asap rokok atau kegiatan
lainnya. Disamping itu proses pada pemutihan bubur kertas juga dapat menghasilkan dioksin
sebagai impurity pada produksi senyawa klorinat organic. Pada industry bubur kertas dioksin
ditemukan pada air limbah (efluen). Pada proses pemutihan bubur kertas menggunakan
bahan pemutih yang mengandung klorin dimana kemudian senyawa klorin tersebut bereaksi
dengan senyawa organic membentuk dioksin.
Beberapa temuan menyampaikan tentang adanya sumber-sumber dioksin baru,
terutama dalam bentukflame retardants (suatu zat kimia yang dapat menunda atau mencegah
pembakaran, biasanya digunakan untuk memadamkan kebakaran serta untuk melapisi
benda-benda yang cenderung mudah terbakar).
Cina telah banyak melakukan penelitian tentang dioksin dan secara paralel hampir
selama 30 tahun Cina juga membuat brominated flame retardant (BRF). BRF ditemukan pada
produk handphone (papan sirkuit dan casing). Sampai dengan tahun 2010 permintaan BRF di
Cina akan mencapai 200.000 ton dan tahun 2007 Cina juga memproduksi 25.000 ton sumber
dioksin decaBDE (20% dari total dunia). Volume terbesarnya terdapat pada produk
elektronik dan telah dilarang di Eropa dan beberapa negara bagian Amerika Serikat.
Sumber lainnya adalah senyawa PFOS (perfluorooctane sulfonate) dan PFOA
(perfluorooctanoate) yang dalam produk anti lengket, tahan air dan noda, seperti pada produk
alat rumah tangga (non stick cookware, serta produk harian seperti pakaian, karpet, kertas,
pelapis tekstil, dan kemasan makanan atau plastik). PFOS dan PFOA cukup tinggi
ditemukan dalam darah para pekerja di Cina.
PBDEs menunjukkan kemampuan bioakumulasi (sel mempunyai kemampuan untuk
mengakumulasi nutrien dan mineral esensial, sel juga dapat mangabsorpsi dan menyimpan
senyawa toksik). Konsentrasi PBDEs tersimpan dalam darah dan jaringan tubuh, serta
menempatkan anak-anak terkena resiko paling tinggi untuk terkontaminasi zat berbahaya
ini. Hal ini disebabkan karena zat kimia flame retardant biasa digunakan dalam produk
keseharian seperti mainan dan perabot (furniture), plastik komputer dan penahan tekstil
terbakar.
Bahan dasar PVC (seperti TBC) adalah penyebab terjadinya gangguan kesehatan
seperti pneumoconiosis(radang paru-paru) dan dalam proses produksi atau limbah buang PVC
dapat menyebabkan juga gangguan hormon (pengurangan jumlah sperma), meningkatkan
resiko kanker payudara, serta menurunkan kapasitas sistem kekebalan tubuh.
Chlorinated paraffin (SCPP) juga diproduksi di Cina lebih dari 600.000 ton dan
mengantarkan Cina untuk “menyesuaikan diri secara urgensi” apabila SCCP terdaftar di
Konvensi Stockhlom. Sebuah konsekuensi serius karena penggunaan POPs yang secara
kontinyu atau terus menerus akan mengancam masyarakat dan kehidupan sekelilingnya.
Flame retardant baru ditemukan seperti dechlorane plus, DBHPBT, dan
TBC. Dechlorane plus digunakan sebagai pengganti Mirex (terdaftar dalam Konvensi
Stockhlom). Produksinya sebanyak ribuan ton dijual dan terdapat di dalam berbagai jenis
produk komersial, seperti kawat kabel listrik, bahan atap, dan bahan lainnya yang telah ada
lebih dari 40 tahun. Di Cina, bioakumulasi dechlorane plus terjadi dalam rantai makanan di
dekat lokasi daur ulang limbah elektronik, sedangkan di Korea dilaporkan adanya
kandungan dechlorane plus pada ikan. DBHPBT terdapat dalam plastik, lilin, cat, lem,
penyegel, dan lain-lain. Di Jepang digunakan untuk bahan plastik bangunan dan bagian
mobil. Sifat DBHPBT meskipun tidak benar-benar beracun di Jepang sudah dianggap sebagai
POPs.
TBB dan TBPH adalah pengganti untuk pentaBDE yang baru-baru ini terdaftar di
Konvensi Stockholm. Sumber-sumber flame retardant ini ditemukan di air laut timur Hong
Kong dan konsentrasinya semakin meningkat di setiap tahunnya sejak 2004. POPs lain
yang juga muncul adalah HBCD yaitu zat yang ‘dicalonkan’ pada Konvensi Stockholm. Zat
ini ditemukan di beberapa wilayah di negara-negara Asia Tenggara, Jepang, Ceko, Swedia,
dan Cina. HBCD ditemukan di lokasi daur ulang limbah elektronik, debu rumah, mamalia
laut, limbah lumpur dan sedimen sungai, elang, kulit pohon, dan ikan. Studi-studi
biomonitoring manusia menemukan HBCD pada ASI (air susu ibu) di India dan Cina.
TBBPA, Tris fostat, dan PFC (perfluorokarbon, termasuk PFOS) adalah zat temuan lainnya
yang hadir terutama di ASI, dan produk lain seperti susu kemasan, sayuran, dalam
organisme/makhluk hidup (moluska, lumba-lumba, capung) dan lokasi-lokasi seperti
tambak udang, sedimen, limbah pabrik pengolahan, sungai, dan bendungan air.
PCBS

berbagai produk dari plastik

pipa PVC
Masyarakat penting mengetahui informasi beragam polutan beracun dan mampu
mengambil sikap atau tindakan dalam menangani permasalahan limbah, seperti misalnya
tidak membakar sampah atau berhati-hati memilih barang plastik. Konsep zero waste dengan
prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) adalah pendekatan untuk menerapkan pengelolaan limbah
yang lebih bijak. Tentunya diperlukan komitmen bersama untuk penanganan sampah atau
limbah di lingkungan kita.

Dinamika Dioksin di Lingkungan


Dioksin bersifat ada terus menerus (persistent) dan terakumulasi secara biologi
(bioaccumulated), dan tersebar didalam lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Tingkat
konsentrasinya rendah, sampai parts per trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi
sepanjang kehidupan dan ada terus bertahun tahun, walaupun tidak ada penambahan lagi
kedalam lingkungan. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya
terhadap binatang dan manusia.
Jika dioksin berada diudara maka akan dapat terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam
sistem pernafasan. Risiko bagi manusia yang paling besar adalah jika dioksin diterima tetap,
walaupun dalam satuan takaran kecil, dan selanjutnya mengendap dalam tubuh manusia.
Dioksin menimbulkan kanker, bertindak sebagai pengacau hormon, diteruskan dari ibu ke
bayi selama menyusui dan mempengaruhi sistem reproduksi. Selain mengakibatkan
penyakit tersebut, dioksin dengan demikian juga mempengaruhi kemampuan belajar oleh
anak yang sangat peka terhadap pencemaran udara.
Dioksin dalam jumlah kecil juga terdapat dalam asap rokok. Belum banyak pula yang
menyadari bahwa insinerator atau pembakaran sampah di rumah-rumah sakit merupakan
penghasil dioksin yang sangat berbahaya. Dioksin mempunyai struktur kimia yang sangat
stabil dan bersifat lipofilik, yaitu tidak mudah larut dalam air tetapi mudah larut di dalam
lemak. Karena kestabilan strukturnya ini, maka dioksin sangat berbahaya, sebab tidak
mudah rusak atau terurai. Dioksin dapat berada di dalam tanah dan terakumulasi sampai 10-
12 tahun. Dioksin bersifat mudah larut dalam lemak sehingga dapat terakumulasi dalam
pangan yang relatif tinggi kadar lemaknya.

Bahaya Keracunan Dioksin


Beberapa dekade terakhir telah banyak dilakukan kajian dan riset tentang bahaya dioksin bagi
mahluk hidup khususnya manusia. Adapun kasus-kasus yang terjadi sepanjang sejarah
menyangkut efek bahaya dari senyawa dioksin misalnya:
 Kasus dari Monsanto plant di Nitro, West Virginia, tahun 1949. Akibat kecelakaan di pabrik
herbisida 2,4,5-T itu, 250 pekerja terkena penyakit chloracne, penyakit kulit berupa gatal-
gatal memerah. Baru tahun 1955, Karl Schultz (seorang dokter Jerman) mensinyalemen
bahwa chloracne adalah akibat racun dioksin.
 Kasus meledaknya pabrik kimia Hoffman-LaRoche di Seveso, Italia, tahun 1976. Akibatnya,
sejumlah besar TCDD terlepas sampai ke atmosfer. Di daerah sekitar pabrik, hewan-hewan
mati, terjadi destruksi vegetasi, penduduk mengalami keracunan akut, kasus-kasus
chloracne, abortus, dan kelainan kongenital. Bahkan penelitian yang dilakukan Bertozzi dkk.
pada tahun 1993 menemukan adanya peningkatan kasus kanker.
 Penggunaan herbisida Agent Orange dalam Perang Vietnam (1960 – 1970) ternyata juga
menyemburkan dioksin. Agent Orange digunakan untuk merontokkan dedaunan agar
hutan-hutan Vietnam tidak bisa digunakan untuk bersembunyi tentara Vietkong. Tahun
1983, kantor veteran Chicago mencatat ada 17 ribu lebih veteran yang mengklaim ganti
rugi akibat dioksin sewaktu bertugas di Vietnam.
 Terbakarnya kabel PVC di Beverly Hills Supper Club bahkan merenggut nyawa 161 orang.
Kebakaran tahun 1977 itu menimbulkan asap putih. Menurut salah seorang pekerja di situ,
asap pedas yang mengandung gas hidrogen klorida (HCl) itu bisa bereaksi dengan pewarna
kuku. Bahkan hasil reaksi tersebut dapat memakan kuku. Ketika terhirup dan masuk ke
dalam paru-paru bersama udara yang mengandung air, HCl akan berubah menjadi asam
klorida yang korosif. Akibatnya, yang selamat pun mengalami luka parah pada saluran
pernapasannya.
 Kasus di Time Beach, Missouri, pada tahun 1971 bisa menjadi gambaran. Sebuah
perusahaan herbisida sembarangan saja membuang sampah industri ke tempat pembuangan
oli bekas. Lalu oli bekas tersebut terpakai untuk menyemprot lapangan pacuan kuda,
jalanan, serta tempat-tempat berdebu. Selain gangguan berupa chloracne dan radang
kandung kemih yang akut, penyemprotan itu juga menimbulkan kematian dan penyakit
pada ternak. Daerah tersebut kemudian dibeli oleh EPA (Badan Perlindungan Lingkungan
AS) dan biaya yang dikeluarkan untuk membersihkan dioksin mencapai AS $ 100 juta.

Pencegahan Peningkatan Dioksin


Untuk dapat menahan laju pertumbuhan senyawa dioksin di udara, khususnya dari
pembakaran sampah di perkotaan, maka perlu dilakukan pengendalian sampah secara
terpadu.
1. Pertama harus memberikan kesadaran pada masyarakat untuk dapat memisahkan sampah-
sampah organic yang mudah terdegradasi oleh mikroorganisme dengan sampah yang susah
terdegradasi seperti plastic. Sampah-sampah plastic yang susah terdegradasi harus
dikumpulkan dan jangan dibakar begitu saja karena berpotensi untuk menghasilkan dioksin.
2. Pemerintah daerah, dimana daerahnya memproduksi sampah dalam jumlah yang sangat
besar maka harus menyediakan incinerator yang mampu melakukan pembakaran sampah
berkisar antara 800 – 1100 0C, sebab dengan incinerator yang mampu membakar sampah
hingga temperature 10000C tidak akan menghasilkan dioksin. Terjadinya dioksin dalam
pembakaran sampah, dapat dikendalikan dengan penguraian suhu tinggi dioksin atau
prehormon melalui pembakaran sempurna yang stabil. Untuk itu, penting untuk
mempertahankan suhu tinggi gas pembakaran dalam tungku pembakaran, menjaga waktu
keberadaan yang cukup bagi gas pembakaran, serta pengadukan campuran antara gas yang
belum terbakar dan udara dalam gas pembakaran.
3. Pencegahan pembentukan senyawa de novo yang juga merupakan penyebab munculnya
dioksin, pendinginan mendadak serta pengkondisian suhu rendah gas pembakaran akan
efektif.
4. Terhadap debu terbang yang dikumpulkan dengan penghisap debu yang banyak
mengandung dioksin, ada teknologi pemrosesan reduksi khlorinat dengan panas. Untuk
udara atmosfir yang dikembalikan, karena menggunakan reaksi reduksi khlorinat dengan
menukar khlor yang terkandung dalam dioksin dengan hidrogen, dengan terus memanaskan
debu terbang pada suhu diatas 8000C dioksin dalam debu dari jumlah totalnya akan terurai.
Ini digunakan sebagai teknologi yang dapat menguraikan dioksin dengan energi input lebih
sedikit dibandingkan dengan peleburan.