Anda di halaman 1dari 7

1.

Tetes Mata Anti Inflamasi Cendo Vision

Tetrahydrozoline HCl merupakan agen vasokonstriktor yang dapat mempengaruhi sistem


syaraf pusat dan pembuluh darah. Pada saat iritasi, pembuluh darah dalam keadaan vasodilatasi
sehingga mata memerah. Apabila digunakan tetes mata yang mengandung senyawa aktif ini,
pembuluh darah akan mengalami vasokonstriksi sehingga mata tidak memerah lagi.

Tetrahydrozoline HCL dapat berinteraksi dengan obat dan produk berikut ini:

 Albuterol
 Formoterol
 Metaproterenol
 Rasagiline
 Salmeterol
 Terbutaline

Farmakologi/Biofarmasi Tetrahydrozoline HCL

Setelah penggunaan larutan tetrahydrozoline hidroklorida secara topikal ke selaput lendir atau
selaput lendir hidung, vasokonstriksi lokal biasanya terjadi dalam beberapa menit dan dapat
berlangsung selama 4-8 jam. Terkadang, tetrahidrozolin dapat diserap untuk menghasilkan efek
sistemik.

2. Cendo Midriatyl 0,5% Obat Tetes Mata Midriatic

Tropicamide
Diindikasikan untuk menginduksi mydriasis (pelebaran pupil) dan cycloplegia (kelumpuhan otot
silika mata) dalam prosedur diagnostik, seperti pengukuran kesalahan refraksi dan pemeriksaan
fundus mata.

Farmakologi/Biofarmasi
Tropicamide adalah antagonis muskarinik sintetis dengan tindakan yang mirip dengan atropin
dan dengan properti antikolinergik. Pada pemberian okular, tropikamid mengikat dan
menghambat reseptor muskarinik pada sfingter dan otot siliaris di mata. Hal ini menghambat
respon dari stimulasi kolinergik, menghasilkan pelebaran pupil dan kelumpuhan otot siliaris.
Tropicamide adalah agen diagnostik dan digunakan untuk menghasilkan mydriasis durasi pendek
dan sikloplegia.

3. Azopt®Tetes Mata (Miotik dan Anti Glaukoma)

Brinzolamide
Digunakan dalam pengobatan glaukoma, brinzolamide menghambat formasi humor berair dan
mengurangi tekanan intraokular yang meningkat. Tekanan intraokular yang meningkat
merupakan faktor risiko utama dalam patogenesis kerusakan saraf optik dan hilangnya bidang
visual glaucomatous. Brinzolamide dapat menurunkan tekanan intraokular sekitar 16-19% pada
pasien dengan tekanan intraokular tinggi.

Interaksi Obat

 Acetaminophen
 Acetazolamide
 Aspirin
 Cyanocobalamin
 Dichlorphenamide
 Enoxaparin

Farmakologi/ Biofarmasi

Brinzolamide adalah penghambat sulfonamida dan karbonat anhidrase dengan afinitas spesifik
untuk karbonat anhidrase II. Setelah pemberian okular topikal, brinzolamide menghambat
karbonat anhidrase II, enzim yang bertanggung jawab atas pergerakan transportasi natrium dan
cairan di mata. Hambatan ini menyebabkan penurunan sekresi humor air, mungkin dengan
memperlambat pembentukan ion bikarbonat, dan menghasilkan pengurangan tekanan
intraokular. Brinzolamide digunakan untuk mengobati peningkatan tekanan pada mata yang
disebabkan oleh glaukoma sudut terbuka.
Farmakokinetika

Pemberian brinzolamide satu kali sehari mampu menurunkan tekanan intraokular selama kurang
lebih 12 jam dan membutuhkan waktu selama 7 hari untuk hilang dari tubuh setelah penggunaan
yang lama (kronik). Brinzolamid sebagian besar dieksresikan melalui ginjal.

4. Pantocain® Tetes Mata (Anestetik Lokal)

Tetrakain adalah ester benzoat dengan sifat anestesi. Setelah pemberian, tetracaine secara
reversibel mengikat saluran ion natrium yang terisi voltase di selaput sel saraf dan menghambat
masuknya sodium. Ini mencegah inisiasi dan konduksi impuls saraf, dan menstabilkan membran
neuronal. Hal ini menyebabkan hilangnya sensasi, dan dengan demikian memberikan analgesia
dan anestesi.

Farmakologi/Biofarmasi
Obat yang menghalangi konduksi saraf bila diterapkan secara lokal ke jaringan saraf dalam
konsentrasi yang tepat. Bertindak pada setiap bagian dari sistem saraf dan pada setiap jenis serat
saraf. Dalam kontak dengan batang saraf, anestesi ini dapat menyebabkan kelumpuhan sensorik
dan motorik di daerah yang terjaga. Bersifat reversible.

Farmakokinetika

Anestesi local yang menembus kornea dan konjungtiva, obat ini efektif setelah pemberian topical
pada mata selama 30 detik dan anestesi bertahan selama minimal 15 menit.
5. Cendo Augentonic®Tetes Mata (Tonik)

Vitamin A palmitate 1000 iu; Zinc sulfate 0,2 mg; Phenylephrine HCl 1 mg

INDIKASI

Mengatasi iritasi ringan yang disebabkan matahari, angin, debu & asap. Mengurangi gejala lelah
pada mata, alergi, inflamasi konjungtiva & photopthalmia, serta gangguan penglihatan karena
kelebihan lendir pada mata.

Farmakokinetika

Phenylephrine diserap setelah pemberian oral dan menjalani metabolisme first-pass yang
ekstensif di dinding usus. Ketersediaan hayati phenylephrine setelah pemberian oral sekitar 38%
relatif terhadap pemberian IV. Karena metabolisme first-pass yang luas, ada variasi
interindividual dan kemungkinan intraindividual yang cukup dalam ketersediaan hayati obat oral.
Setelah pemberian phenylephrine oral (1 atau 7,8 mg), konsentrasi serum puncak terjadi pada
0,75-2 jam. Phenylephrine dan metabolitnya diekskresikan terutama dalam urin. Setelah
pemberian oral atau IV, sekitar 80 atau 86% dosis, masing-masing diekskresikan dalam urin
dalam 48 jam, terutama sebagai metabolit; sekitar 2,6% dosis oral atau 16% dosis IV
diekskresikan dalam urin sebagai obat yang tidak berubah.

6. Salep Mata Chloramphenicol

Farmakodinamika
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik yang memiliki mekanisme kerja menghambat
sisntesis protein bakteri pada tingkat ribosom. Obat ini terikat pada ribosom subunit 50S.
Kloramfenikol menyekatkan ikatan persenyawaan aminoacyl dari molekul tRNA yang
bermuatan ke situs aseptor kompleks mRNA ribosom. Kegagalanaminoacyl untuk menyatu
dengan baik pada situs aseptor menghambat reaksi transpeptidase yang dikatalisasi oleh peptidyl
transferase. Peptida yang ada pada situs donor pada kompleks ribosom tidak ditransfer ke asam
amino aseptornya, sehingga sintesis protein terhenti.

Farmakokinetika
Setelah pemberian kloramfenikol melalui mata, absorpsi obat melalui kornea dan konjunctiva,
selanjutnya menuju humor aquos. Absorpsi terjadi lebih cepat bila kornea mengalami infeksi
atau trauma. Absorpsi sistemik dapat terjadi melalui saluran nasolakrimal. Jalur ekskresi
kloramfenikol utamanya melalui urin. Obat ini mengalami inaktivasi di hati. Proses absorpsi,
metabolisme dan ekskresi dari obat untuk setiap pasien, sangat bervariasi, khususnya pada anak
dan bayi. Resorpsinya dari usus cepat. Difusi kedalam jaringan, rongga, dan cairan tubuh baik
sekali, kecuali ke dalam empedu. Plasma-t1/2-nya rata-rata 3 jam. Didalam hati, zat ini dirombak
90% menjadi glukoronida inaktif. Bayi yang baru dilahirkan belum memiliki enzim perombakan
secukupnya maka mudah mengalami keracunan dengan akibat fatal. Ekskresinya melalui ginjal,
terutama sebagai metabolit inaktif dan lebih kurang 10% secara utuh.

7. Salep Mata Gentamisin


Farmakodinamika
Mekanisme kerja aminoglikosida berdifusi lewat kanal air yang dibentuk oleh porin protein pada
membran luar dari bakteri gram negatif masuk ke ruang periplasmik. Sedangkan transpor melalui
membran dalam sitoplasma membutuhkan energi. Fase transpor yang tergantung energi ini
bersifat rate limitting, dapat di blok oleh Ca2+ dan Mg2+, hiperosmolaritas, penurunan pH dan
anaerobik suatu abses yang bersifat hiperosmolar. Setelah masuk sel, aminoglikosid terikat pada
ribosom 30S dan menghambat sintesis protein. Terikatnya aminoglikosid pada ribosom ini
mempercepat transpor aminoglikosid ke dalam sel, diikuti dengan kerusakan membran
sitoplasma, dan disusul kematian sel. Yang diduga terjadi adalah miss reading kode genetik yang
mengakibatkan terganggunya sintesis protein. Aminoglikosida bersifat bakterisidal cepat.
Pengaruh aminoglikosida menghambat sintesis protein dan menyebabkanmiss reading dalam
penerjemahan mRNA, tidak menjelaskan efek letalnya yang cepat
Farmakokinetika
Gentamisin sebagai polikation bersifat sangat polar, sehingga sangat sukar diabsorpsi
melalui saluran cerna. Gentamisin dalam bentuk garam sulfat yang diberikan IM baik sekali
absorpsinya. Kadar puncak dicapai dalam waktu ½ sampai 2 jam. Sifat polarnya menyebabkan
aminoglikosid sukar masuk sel. Kadar dalam sekret dan jaringan rendah, kadar tinggi dalam
korteks ginjal, endolimf dan perilimf telinga, menerangkan toksisitasnya terhadap alat tersebut.
Ekskresi gentamisin berlangsung melalui ginjal terutama dengan filtrasi glomerulus.
Gentamisin diberikan dalam dosis tunggal menunjukkan jumlah ekskresi renal yang kurang dari
dosis yang diberikan. Karena ekskresi hampir seluruhnya berlangsung melalui ginjal, maka
keadaan ini menunjukkan adanya sekuestrasi ke dalam jaringan. Walaupun demikian kadar
dalam urin mencapai 50-200 mg/mL, sebagian besar ekskresi terjadi dalam 12 jam setelah obat
diberikan.
Gangguan fungsi ginjal akan menghambat ekskresi gentamisin, menyebabkan terjadinya
akumulasi dan kadar dalam darah lebih cepat mencapai kadar toksik. Keadaan ini tidak saja
menimbulkan masalah pada penyakit ginjal, tetapi perlu diperhatikan pula pada bayi terutama
yang baru lahir atau prematur, pada pasien yang usia lanjut dan pada berbagai keadaan, yang
disertai dengan kurang sempurnanya fungsi ginjal. Pada gangguan faal ginjal t ½ gentamisin
cepat meningkat. Karena kekerapannya terjadi nefrotoksisitas dan ototoksitas akibat akumulasi
gentamisin, maka perlu penyesuaian dosis pada pasien gangguan ginjal.

8. Salep Mata Tetracyclin


Farmakodinamika
Mekanisme resistensi yang terpenting adalah diproduksinya pompa protein yang akan
mengeluarkan obat dari dalam sel bakteri. Protein ini dikode dalam plasmid dan dipindahkan dari
satu bakteri ke bakteri lain melalui proses transduksi atau konjugasi. Resistensi terhadap satu
jenis tetrasiklin biasanya disertai resistensi terhadap semua jenis tetrasiklin lainnya.
Farmakokinetik
Absorpsi
Sekitar 30-80% tetrasiklin diserap dalam saluran cerna. Absorpsi sebagian besar
berlangsung di lambung dan usus halus. Adanya makanan dalam lambung menghambat
penyerapan, kecuali minosiklin dan doksisiklin. Absorpsi dihambat dalam derajat tertentu oleh
pH tinggi dan pembentukan kelat yaitu kompleks tetrasiklin dengan suatu zat lain yang sukar
diserap seperti aluminium hidroksid, garam kalsium dan magnesium yang biasanya terdapat
dalam antasida, dan juga ferum.
Distribusi
Dalam plasma semua jenis tetrasiklin terikat oleh protein plasma dalam jumlah yang
bervariasi. Dalam cairan cerebrospinal (CSS) kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar
dalam serum. Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis. Penetrasi ke cairan
tubuh lain dan jaringan tubuh cukup baik. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri dan terdapat
dalam ASI dalam kadar yang relatif tinggi. Dibandingkan dengan tetrasiklin lainnya, doksisiklin
dan minosiklin daya penetrasinya ke jaringan lebih baik.
Metabolisme
Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di hati, sehingga kurang aman pada
pasien gagal ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin dengan filtrasi glomerolus dan melalui
empedu. Golongan tetrasiklin yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali
kadar dalam serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen usus ini mengalami
sirkulasi enterohepatik, maka obat ini masih terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah
terapi dihentikan. Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati obat ini
akan mengalami akumulasi dalam darah. Obat yang tidak diserap diekskresi melalui tinja.