Anda di halaman 1dari 3

A.

PRINSIP UMUM

Gravimetri merupakan cara pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan yang paling
sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya. Analisis gravimetri adalah
cara analisis kuantitatif berdasarkan berat tetap (berat konstannya). Dalam analisis ini, unsur
atau senyawa yang dianalisis dipisahkan dari sejumlah bahan yang dianalisis. Bagian terbesar
analisis gravimetri menyangkut perubahan unsur atau gugus senyawa yang dianalisis menjadi
senyawa lain yang murni dan mantap (stabil), sehingga dapat diketahui berat tetapnya
(Gandjar & Rohman, 2007). Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari
rumus senyawa serta berat atom penyusunnya. Suatu metode analisis gravimetri didasarkan
pada reaksi kimia seperti:
Aa + Rr AaRr
Yang mana sejumlah a analit A aan bereaksi dengan sejumlah r pereaksi R membentuk
produk AaRr yang biasanya merupakan suatu senyawa yang sangat sedikit larut dan dapat
ditimbang setelah pengeringan; atua produk tersebut dapat dibakar menjadi senyawa lain
yang komposisinya diketahui untuk kemudian ditimbang (Gandjar & Rohman, 2007).
Kelebihan cara analisis gravimetri dibanding volumetri adalah bahwa penyusun yang
dicari dapat diketahui pengotornya jika ada; dan bila diperlukan dapat dilakukan pembetulan
(koreksi). Kekurangan dari metode gravimetri adalah cara ini sangat memakan waktu
(Gandjar & Rohman, 2007). Kekurangan dari metode gravimetri adalah memakan banyak
waktu, sedangkan kelebihan dari analisa gravimetri adalah bahan penyususn zat telah
diisolasi ( Khopkar, 2002 ).
Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri meliputi transformasi
unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat
ditimbang dengan teliti. Berat unsur dapat dihitung berdasarkan rumus senyawa dan berat
atom unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan berbagai cara, seperti
metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis, atau berbagai macam cara
lainya. Pada prakteknya, metode pertama adalah yang terpenting, metode gravimetri
memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu
faktor-faktor pengoreksi dapat digunakan (Khopkar, 1990). Gravimetri merupakan salah satu
metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui dengan cara
mengukur berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan
(Khopkar,1990).
Analisis gravimetri atau analisa kuantitatif berdasakan bobot adalah proses isolasi
serta pertimbangan suatu unsur atau senyawa tertentu dari unsur tersebut dalam bentuk yang
semurni mungkin. Bagian besar penetapan-penetapan pada gravimetri menyangkut
pengubaahan unsur atau radikal yang akan ditetapkan menjadi sebuah senyawa yang murni
dan stabilyang dapat dengan mudah diubah menjadi satu bentuk yang sesuai dan ditimbang.
Metode pengendapan adalah metode yang paling penting dalam analisis gravimetri (Vogel,
1994 ).
Analisis gravimetri merupakan salah satu divisi dari kimia analitik. Tahap
pengukuran dari metode gravimetrik adalah timbangan. Analit fisik dipisahkan dari semua
komponen lain dari sampel itu maupun dari pelarutnya. Pengendapan merupakan tehnik yang
paling meluas penggunaannya untuk memisahkan analit-analit dari pelarutnya (Day &
Underwood, 2002). Dalam menentukan keberhasilan metode gravimetri ada beberapa
persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu :
1. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak
terendapkan secara analitis tak dapat dideteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang dalam
menentukan penyusunan utama dalam suatu makro).
2. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni,
atau sangat hampir murni. Bila tidak akan diperoleh hasil yang galat. Persyaratan
yang kedua itu lebih sukar dipenuhi oleh para analis. Galat-galat yang disebabkan
faktor-faktor seperti kelarutan endapan umumnya dapat diminimumkan dan jarang
menimbulkan galat yang signifikan. Masalahnya mendapatkan endapan murni dan
dapat disaring itulah yang menjadi problema utama. Banyak penelitian telah
dilakukan mengenai pembentukkan dan sifat-sifat endapan, dan diperoleh cukup
banyak pengetahuan yang memungkinkan analis meminimumkan masalah
kontaminasi endapan.
(Day and Underwood, 2002).
Berat unsur atau gugus yang dianalisis selanjutnya dihitung dari rumus senyawa serta
berat atom penyusunnya. Gravimetri dapat digunakan untuk menentukan hampir semua
kation dan anion anorganik serta zat – zat netral seperti belerang dioksida, karbon dioksida,
dan iodium. Selain itu, berbagai jenis zat organik dapat ditetapkan dengan teknik ini. Contoh
– contohnya antara lain : penetapan kadar laktosa dalam susu, salisitas dalam sediaan obat,
kolestrol dalam biji – bijian, dan benzaldehid dalam buah tertentu (Gandjar, 2007).
Analisis gravimetri dapat berlangsung baik, jika persyaratan berikut dapat terpenuhi :
1. Komponen yang ditentukan harus dapat mengendap secara sempurna (sisa analit
yang tertinggal dalam larutan harus cukup kecil, sehingga dapat diabaikan), endapan
yang dihasilkan stabil dan sukar larut.
2. Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah dari larutan ( dengan
penyaringan).
3. Endapan yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometrik tertentu (dapat
diubah menjadi sistem senyawa tertentu) dan harus bersifat murni atau dapat
dimurnikan lebih lanjut.
(Vogel, 1994).
Kesalahan dalam gravimetri dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Endapan yang tidak sempurna dari ion yang diinginkan dalam cuplikan.
2. Gagal memperoleh endapan murni dengan komposisi tertentu untuk penimbangan.
(Day & Underwood, 2002).
Faktor–faktor penyebabnya adalah :
1. Kopresipitasi dari ion-ion pengotor.
2. Postpresipitasi zat yang agak larut.
3. Kurang sempurna pencucian.
4. Kurang sempurna pemijaran.
5. Pemijaran berlebih sehingga sebagian endapan mengurai.
6. Reduksi dari karbon pada kertas saring.
7. Tidak sempurna pembakaran.
8. Penyerapan air atau karbondioksida oleh endapan.
(Day & Underwood, 2002).