Anda di halaman 1dari 109

Pengadilan In-Absentia:

Terhadap Nabi Islam


Muhammad Bin Abdullah
Atas Kejahatan
Melawan Kemanusiaan

Inilah Sidang Pengadilan


Yang Telah Lama Tertunda
Mengenai Kejahatan Islam dan
Sang Nabi Besarnya, Muhammad

Diselaraskan kembali oleh Admin


islamexpose.blogspot.com

Terimakasih & Penghargaan :


kpd Para Relawan Penerjemah
www.indonesia.faithfreedom.org
Inilah sidang pengadilan yang telah lama tertunda mengenai Islam –
Dihadiri oleh :

Tertuduh/terdakwa : Muhammad bin Abdullah

Diwakili oleh : Pembela, Raheel Shahzad (Muslim)

Pendakwa : Umat Manusia

Diwakili oleh : Jaksa Penuntut, Ali Sina

Sidang pengadilan : Hati Nurani & Akal Sehat

Jury/Hakim : Anda sekalian

Terdiri dari:

1. PEMBUKAAN/PREAMBLE

2. Bagian I Pembunuhan

3. Bagian II Agama & Moralitas

4. Bagian III Perkosaan 1

5. Bagian IV Perkosaan 2

6. Bagian V Perkosaan 3

7. Bagian VI Pedophil

8. Bagian VII Tidak santun & tidak bermoral

9. Bagian VIII Pembenci Perempuan


PREAMBLE
PEMBUKAAN

Dari Raheel Shahzad,

Yth Mr Sina,
Secara kebetulan saya menemukan alamat website anda kurang lebih 2 bulan
yang lalu. Saya sudah membaca sebagian besar artikel di website anda. Dan
saya mengakui kagum dengan kemampuan intelektual anda.

Singkat cerita mengenai saya: Saya berumur 33 tahun, keturunan Pakistan,


tinggal di USA selama kurang lebih 12 tahun. Sebelumnya, saya tinggal di Timur
Tengah selama 20 tahun dan dilahirkan di Karachi, Pakistan. Dua tiga bulan
terakhir, saya mempunyai keinginan untuk mengetahui lebih detail tentang
masalah keimanan. Saya meng-anggap diri saya muslim karena orang tua saya
muslim. Saya lulus gelar Masters Degree in Bussiness dan memiliki usaha sendiri.
Saya sudah menikah selama 6 tahun dan belum mempunyai anak.

Dua alasan dari email saya:


1. Untuk memastikan apakah anda sungguh-sungguh dalam menerima
jawaban yang berlawanan dengan pandangan anda;
2. Untuk berdebat secara intelek.

Saya mengerti tema umum dalam tulisan anda yang pada dasarnya mengenai :
(a) Kenyataan sejarah Islam yang ternodai (berisi kesalahan).
(b) Para pembela Islam takut memperlihatkan kenyataan sebenarnya.
(c) Islam merupakan ideologi penuh kekerasan yang berdasarkan kenyataan
iman pada jaman Muhammad.
(d) Penguasa/pemerintahan Islam penuh korupsi karena ideologi mereka yang
salah.
(e) Muhammad tidak patut dijadikan pedoman karena moralnya jauh dari apa
yang diharapkan, hal yang diketahui secara luas oleh para kalangan
akademis.
(f) Auwloh-nya Islam hanya imajinasi yang dibuat-buat dan;
(g) Muslim pada umumnya sudah dijejali kebencian terhadap agama lain
berdasarkan ajaran yang salah oleh kalangan akademik islam.

Tujuan saya untuk melakukan debat adalah untuk menghasilkan 3 hal :


i. Untuk membuktikan bahwa pendapat anda tidak berdasarkan nilai intelek.
ii. Bukti-bukti yang disampaikan mungkin benar adanya dan mungkin juga agak
kabur namun seorang muslim moderat bisa mengerti dan menanggapi
dengan semangat yang sama.
iii. Memberikan anda kesempatan untuk mempertimbangkan kembali pendapat
anda baik yang secara sengaja atau tidak.

Mungkin, setelah berdebat, anda bisa memper-timbangkan kembali keyakinan


anda, malah mungkin anda bisa menyalurkan frustasi anda secara lebih berarti
mengenai hal iman. Anda tidak perlu menghilangkan website anda.

Saya berharap ini akan merupakan debat yang bermanfaat berdasarkan saling
menghormati kemampuan masing-masing untuk menjelaskan apa yang kita
sebut dengan “agama”. Karena kita bicara tentang ISLAM secara spesifik, ini
yang akan menjadi fokus debat.

Dengan hormat,
R. Shahzad
---------------------------------------------------------

DARI ALI SINA | 15 November 2003

Yth Mr. Shahzad,


Saya sangat sibuk untuk berdebat dengan orang satu persatu. Sebenarnya saya
menciptakan forum ini untuk meringankan beban saya. Walaupun demikian, saya
menerima tantangan anda. Saya akan terbitkan debat kita ini di bagian debat
pada website saya sehingga setiap orang dapat membacanya.

Saya akan sangat berterimakasih jika setiap koresponden anda hanya membahas
satu aspek yang anda ingin perdebatkan. Bahasan yang singkat akan mudah
untuk dibaca kembali. Anda mengatakan sudah mengenal tulisan saya. Nah,
segera saja anda membantah tuduhan saya bahwa ;

1) Islam adalah palsu,


2) dan Muhammad BUKAN rasulullah namun seorang yang terganggu secara
mental dan seorang penipu.

Dalam debat ini, saya akan mengambil posisi jaksa penuntut dan anda mewakili
klien anda sebagai pembela (pengacara), sang terdakwa, Muhammad.

Mari kita mulai dengan :

1) karakter Muhammad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus
memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri
dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak
etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang
sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang
kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak
lagi kekurangannya yang mendiskualifikasikanya sebagai seorang manusia baik-
baik, apalagi seorang rasulullah.

Keberatan saya berikut mengenai pernyataan kerasulan Muhammad adalah :


2) Absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta
alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku absurd
semacam itu. Apakah mungkin Auwloh begitu bodoh tentang fakta-fakta simpel
dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti
dinampakkan oleh sang penulis Quran?

Mari kita membahas masalah-masalah tersebut satu per satu.


BAGIAN I

ASSASSINATION
Muhammad Sebagai Pembunuh

Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela dan
dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan rasulullah.
Setelah anda membaca cerita-cerita dibawah ini, saya ingin anda MEMBUKTIKAN
bahwa tuduhan saya ini salah.

Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta anda membaca


semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita-cerita pembunuhan tersebut. Saya
minta anda membaca keempat cerita tersebut, menegaskan kesahihan sumber
beritanya dan lalu membela klien anda, Muhammad, dan buktikan ia tidak
bersalah.

Inilah 4 link cerita pembunuhan tsb. (Yg harus Anda baca):


Link Satu, Link Dua, Link Tiga, Link Empat.

Sampai jumpa,
Ali Sina.
--------------------------------------------------------------------------------

UMAT MANUSIA vs. MUHAMMAD BIN ABDALAH.

DARI RAHEEL SHAHZAD | Nov. 16, 2003

Yth A Sina,
Anda menulis:
1) karakter Muhammad.
Dalam pendapat saya, seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus
memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-diri
dsb. Muhammad tidak mungkin seorang rasulullah karena ia licik, imoral, tidak
etis, tidak memiliki kualitas kemanusiaan. Ia seorang pembunuh masal, seorang
sex-maniac, pedophile yang tidak kenal malu, seorang pembunuh licik, seorang
kepala perampok, schizophrenic narcissist, pembohong menjijikkan dan banyak
lagi kekurangannya yang mendiskualifikasikanya sebagai seorang manusia baik-
baik, apalagi seorang rasulullah.
Nah, anda melemparkan tuduhan kepada seorang manusia. Ini penting diakui
karena kita berdua harus menilai tindak manusia lewat kode moral kita. Jadi
nampaknya fair kalau seorang manusia kena tuduhan, maka ia juga harus diukur
dari kaca mata manusia. Tidak diragukan bahwa Muhammad seorang manusia.
Ia lahir dan mati. Nah, hubungan ketuhanannya inilah yang menjadi
pembahasan kita disini.

Mari kita lihat definisi Manusia (HUMAN) dari dictionary.com ;


• Of, relating to, or characteristic of humans: the course of human events; the
human race.
• Having or showing those positive aspects of nature and character regarded as
distinguishing humans from other animals: an act of human kindness.
• Subject to or indicative of the weaknesses, imperfections, and fragility
associated with humans: a mistake that shows he's only human; human
frailty.
• Having the form of a human. Made up of humans: formed a human bridge
across the ice.

Mengapa penting membahas definisi manusia (human) disini? Karena kita


dapat mengerti seorang manusia lewat kode moral kita sekarang. Yang
menarik adalah definisi ketiga: indicative of the weaknesses or imperfections
and fragility. (Atau bhs. Ind: menunjukkan kelemahan, ketidak-sempurnaan
dan kerapuhan).

Anda menulis: ... seseorang yang menyatakan diri seorang rasulullah harus
memiliki kualitas iman sbg berikut: cinta kasih, kejujuran, pandai menahan-
diri dsb

A) Cinta. - Cinta macam apa yang anda maksudkan disini? Apakah artinya
berbeda dari masa ke masa atau konstan? Apakah ini cinta bagi sesama
manusia atau cinta bagi dunia akhirat? Dan apakah cinta ini termasuk cinta
bagi hal-hal yg disepakati manusia atau bagi apa saja yang disukai manusia?
Apakah mencakup sex? Dan jika seorang lelaki menyatakan jatuh cinta
kepada isteri orang lain, apakah ini dapat diterima secara moral oleh jaman
kita ini?

B) Kejujuran; apakah kejujuran dituntut dalam segala keadaan atau apakah


ada pengecualian?

C) Sikap menahan diri. - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan


tindakan yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang
dianggap jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang? Atau kedua-
duanya?
Alasan pertanyaan saya diatas penting untuk menentukan dengan jelas apa
hukum yang berlaku sehingga kita dapat menentukan apa yang dimaksud
dengan pelanggaran hukum tersebut. Baru kita dapat menuntut sang
terdakwa, dan kita dapat menentukan kesalahan terdakwa. Namun jika
hukum itu sendiri bisa diinterpretasi macam-macam maka jury (hakim) tidak
akan pernah bisa menentukan kesalahan sang terdakwa, karena memang
tidak ada hukumnya.

Contoh di Amerika, banyak undang-undang dibatalkan atau diganti karena


dianggap sudah tidak pantas atau terlalu kabur. Banyak orang dibebaskan
tanpa tuduhan karena hukumnya sendiri tidak jelas. Jadi, tanpa menetapkan
hukumnya, sulit menentukan pelanggarannya.

Anda menulis:
2) absurditas dan ketidakwajaran dalam Quran. Tidak mungkin sang pencipta
alam semesta yang luar biasa ini adalah penulis yang menciptakan buku
absurd itu. Apakah mungkin Auwloh begitu bodoh tentang fakta-fakta simpel
dalam sains, nalar, matematik, sejarah dan bahkan tata bahasa seperti
dinampakkan oleh penulis sang Quran?

Nah sekarang kita menyentuh masalah intelektualitas dan pengetahuan.


Keberatan anda didasarkan pada pendapat anda bahwa intelektualitas adalah
syarat keTuhanan, bahwa manusia harus dapat mengerti keTuhanan dari
perspektifnya dan ketuhanan harus dapat dijelaskan sejelas mungkin. Tuhan
harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup menjelaskan sikapNya
tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya diam-diam saja.

Absurditas dan ketidakwajaran juga harus dijelaskan artinya dalam hubungan


dengan intelektualitas. Masalahnya adalah, intelektualitas sendiri artinya
relatif. Dan intelektualitas sulit diukur bagi orang yang berbeda pandangan.
Contoh, saya pandai dalam hal komputer tetapi tidak mengerti apapun
tentang masalah medical science.

Jadi saya rasa maksud anda dengan intelektualitas adalah "nalar".


Nalar/Logika adalah persepsi yang eksklusif dimana dua persepsi berbeda
memiliki logika berbeda.

Contoh:
1) John dan Mary bepergian ke Bermuda naik perahu
2) Sebuah perahu tidak dapat bergerak kalau ada lebih dari satu orang
didalamnya.
Nah, terdapat kontradiksi dalam kedua pernyataan tadi karena bertentangan
dengan logika. Sehingga kedua pernyataan tadi jika digunakan bersama-
sama adalah absurd.

Tidak mungkin menghubungkan point 1 dan 2 seperti ditulis diatas, tanpa


sang penulis menambahkan kalimat atau menggunakan asumsi. Jadi
berdasarkan contoh diatas, kedua pernyataan menentang nalar jika
digunakan bersamaan.

Jadi, keberatan anda ada dua:


a) Quran sebagai kumpulan kalimat adalah absurd karena menentang nalar
dan karena menentang nalar, maka,
b) sang penulis haruslah seorang manusia karena hanya manusia yang
mampu menentang nalar. Maka Tuhan harus menuruti nalar setiap manusia,
kalau tidak Ia sebaiknya tidak memiliki hak untuk mengatakan apa-apa.

Mengenai masalah kalimat-kalimat dalam Quran saya akan membahasnya


dalam bagian lain. Tetapi yang perlu ditetapkan sekarang adalah apa yang
dimaksud dengan pelanggaran intelektualitas dan seperti saya sebutkan pada
mulanya, pelanggaran moralitas.

Anda menulis:
Muhammad sebagai pembunuh (assassin).
Saya menuduh Muhammad sebagai pembunuh, seseorang yang harus dicela
dan dihukum dan oleh karena itu tidak pantas menyandang julukan
rasulullah. Setelah anda membaca cerita-cerita dibawah ini, saya ingin anda
MEMBUKTIKAN bahwa tuduhan saya ini salah.

'Assassin', sejauh pengertian saya berasal dari kata "Hashishin" (sekelompok


Muslim yang membunuh atas perintah para Sheikh pada abad 17 dan para
sheikh memberikan mereka hashish dengan alasan tdiak jelas). Jadi definisi
assassination dibuat belum lama ini : Seseorang yang mengadakan
pembunuhan dengan cara mengejutkan (surprise attack), khususnya mereka
yang mengadakan rencana untuk membunuh orang penting.

Nah, definisi ini tidak menunjukkan apapun tentang baik buruknya orang
yang dibunuh. Alasan pembunuhan juga tidak disebut apakah guna menjaga
keadilan atau lain-lain. Juga tidak disebutkan kesalahan sang korban (orang
yang dibunuh). Jadi, artinya secara singkat adalah pembunuhan. Atau
pembunuhan dengan cara surprise. Apakah ini bisa dikatakan salah? Salah
menurut jamannya atau menurut jaman ini?

Jadi, jika tentara Amerika memasuki rumah seseorang di Iraq dan membunuh
penghuni rumah, terlepas dari kejahatan atau kebaikan yang dilakukan para
penghuni, apakah para tentara AS itu akan disebut assassins?

Kalau iya, tetapi anda berpendapat bahwa mereka mencapai tujuan AS, maka
mengapa orang lain yang juga berjuang untuk membela tujuan mereka
disebut dengan assassins? Jadi tergantung dari siapa yang menginterpretasi.

Dengan logika ini, Muhammad tidak dapat dituduh melakukan assassination


karena ia mempunyai tujuan yang dengan jelas disebutkan, terlepas dari
anda dan saya setuju dengan tujuannya itu atau tidak.

Anda menulis: Daftar kejahatannya panjang. Namun saya tidak meminta


anda membaca semuanya. Saya hanya memilih 4 dari cerita-cerita
pembunuhan tersebut. Saya minta anda membaca keempat cerita tersebut,
menegaskan kesahihan sumber beritanya dan lalu membela klien anda,
Muhammad, dan buktikan ia tidak bersalah.

Anda meminta saya menegaskan kesahihan sumber-sumber berita tersebut,


yang rasa rasa adalah tuntutan UNFAIR. Ini bukan berarti saya tidak
mencoba mencari kebenaran atau menolaknya. Saya hanya mengatakan
bahwa anda ingin agar saya menggunakan sumber yang sama untuk
membela klien saya, yang sudah pasti akan melemahkan posisi klien saya.
Anda ingin membatasi sumber-sumber pembelaan saya.

Peraturan tentang cara pembuktian ini paling sedikit harus ditetapkan dahulu.
Kasus-kasus masa lalu bagi saya tidak merupakan bukti, mereka hanya kasus
yang mungkin tidak lagi dapat diberlakukan jaman sekarang. Pendapat orang
juga tidak dapat digunakan sebagai bukti. Pernyataan atau asumsi juga
bukan bukti. Jadi kalau kita tidak dapat menentukan cara pembuktian, maka
sulit membatasi kasus.

Saya usulkan agar kita membatasi materi yang memiliki referensi guna
menentukan hukumnya dan baru membahas klien saya salah atau tidak.

Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan klien saya
tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya
tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan
(established beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang
tidaklah mungkin mengingat waktu yang sudah berlalu.

Kesimpulan saya :
♦ Tuduhan anda banyak mengandung asumsi;
♦ Standar anda dalam hal norma dan intelektualitas tidak jelas;
♦ Anda menggunakan kata "assassin" namun tidak dapat menjelaskan artinya
dan sangat menunjang pihak yang terbunuh;
♦ Sumber-sumber pembuktian tidak jelas dan harus dibatasi; dan
♦ "Innocence until proven guilty beyond doubt" (Tidak bersalah sampai terbutki
bersalah tanpa keraguan) adalah posisi saya.

Terima kasih.
R Shahzad

---------------------------------------------------------

JAWABAN ALI SINA [Nov. 16, 2003]

Yth Mr. Shahzad,


Saya menuduh klien anda, Muhammad sebagai assassin dan dari sejumlah kasus
yang tersedia, saya hanya memilih empat.

Anda tidak sekalipun membantah tuduhan saya maupun keaslian (authenticity)


kasus-kasus yang menjadi sumber tuduhan saya. Kasus-kasus ini memang sulit
dibantah karena mereka dilaporkan dalam semua sumber Islam seperti Sirat
Rasulullahnya Ibn Is-haq, al Waqidi, al Tabari dan beberapa hadis sahih
(authentic, verified).

Karena anda tidak dapat membantah bukti-bukti tersebut, anda lalu mencoba
mendefinisikan istilah manusia (human being) dan pembunuhan (assassination).

Dalam pembelaan anda, anda mengatakan bahwa Muhammad seorang manusia


biasa dan menjelaskan apa artinya "manusia". Anda menekankan bahwa
Muhammad juga memiliki kelemahan, ketidaksempurnaan dan kerapuhan. Saya
setuju dengan itu semua. Namun ITU BUKAN ALASAN MENGHALALKAN
PEMBUNUHAN (ASSASSINATIONS).

Semua pelaku kriminal (penjahat) adalah manusia dan ketentuan yang sama
mengenai kelemahan berlaku pada mereka juga. Tetapi apakah itu alasan untuk
membebaskan mereka? Apakah setiap penjahat (pembunuh, perampok, penipu,
pemerkosa, dll) harus dibebaskan dari dakwaan hanya karena mereka adalah
manusia?

Saya ragu para jury (hakim) akan membebaskan seorang pelaku kejahatan
karena ia seorang manusia yang memiliki kelemahan. Kita semua manusia
dengan berbagai kelemahan, tetapi tidak semua dari kita adalah assassin
(pembunuh). Mungkin lebih baik anda membela klien anda dengan alasan TIDAK
WARAS (insanity). Ini pembelaan yang bisa membebaskan klien anda dari segala
tuduhan.

Anda kemudian mendefinisikan kembali konsep baik dan buruk dan bahwa
definisi saya tentang kebaikan dan keTuhanan adalah subyektif. Anda
mengatakan cinta kasih adalah relatif dan bertanya apakah kalau bicara
mengenai cinta, apakah itu juga menyangkut moralitasnya. Anda
mempertanyakan apakah kejujuran harus diterapkan dalam segala situasi dan
apakah ada pengecualian kalau ketidakjujuran bisa membawa keuntungan.

Dan tentang sikap menahan diri anda bertanya:


"Sikap menahan diri. - Menahan diri dari kejahatan guna melakukan tindakan
yang diinginkan nurani atau menahan diri dari segala tindakan yang dianggap
jelek baik bagi jaman dulu ataupun jaman sekarang? Atau kedua-duanya?"

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan kasus.

Anda mengatakan alasan pertanyaan anda adalah anda tidak pasti apakah baik-
buruk tindakan dianggap sama oleh semua orang. Dengan kata lain, anda
mempertanyakan definisi orang tentang "baik dan buruk". Sampai-sampai anda
mengatakan bahwa pembunuhan/assassination belum tentu buruk. Anda
menyimpulkan “tanpa menentukan hukumnya, kita tidak dapat memastikan
hukum apa yang dilanggar.”

Saya tidak percaya bahwa baik-buruk begitu relatif sehingga kita tidak dapat
menentukan bahwa membunuh seseorang karena ia tidak sependapat dengan
kita adalah tindakan baik. Mungkin baik-buruk bagi manusia adalah relatif. Tetapi
intelektualitas kita, terlepas dari ketidak-sempurnaannya, adalah satu-satunya
alat yang kita gunakan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang
buruk. Adalah TIDAK MASUK AKAL untuk mengatakan bahwa pembunuhan
adalah OK karena kita manusia yang memiliki kelemahan dan tidak mengerti
beda antara baik dan buruk.

Cinta kasih juga kualitas manusia (human). Moralitas adalah topik lain lagi. Point-
nya adalah bahwa seorang manusia yang tidak memiliki kualitas kemanusiaan ini
tidak patut menyandang gelar manusia. Kami menyebut orang macam itu
MONSTER dan bukan manusia.

Pertanyaan anda mengenai kejujuran adalah : kejujuran selalu diinginkan dan


ketidakjujuran selalu tidak diinginkan (honesty is always desirable and dishonesty
is always undesirable). Tidak ada pengecualian.

Apa yang anda inginkan disini adalah moral relativism (moralitas yang relatif).
Dengan kata lain, anda mengatakan kejahatan diperbolehkan kalau kebaikan
adalah jalan yang terlalu panjang. Ini absurd, karena ini memperbolehkan orang
untuk melakukan kejahatan sesuai dengan standar moralnya sendiri.

Saya sama sekali tidak kaget akan filosofi anda. Anda hanya mengekspresikan
filofosi Islam. Ini menunjukkan bahwa Islam memang agama yang moralitasnya
relatif, yang mengijinkan ketidak-jujuran, pembunuhan dan kejahatan lainnya
yang sesuai dengan moral para pengikutnya.

Dibawah ini kutipan Iman Ghazali, akademisi Islam paling ternama:


"Kalau mencapai tujuan dapat dimungkinan dengan berbohong,
dengan menyembunyikan kebenaran, membohong diijinkan jika
tujuannya diijinkan." (Ref: Ahmad Ibn Naqib al-Misri, The Reliance of the
Traveller, translated by Nuh Ha Mim Keller , Amana publications, 1997, section
r8.2, page 745).

Berbeda dengan anda, saya tidak setuju dengan relativitas moral. Saya pengikut
Prinsip Emas (Golden Rule): "Jangan memperlakukan orang sebagaimana
anda tidak ingin diperlakukan".

Saya tidak ingin dibunuh, oleh karena itu saya juga tidak membunuh. Saya tidak
ingin orang menjajah kota saya, merampok harta saya, memperbudak anak-anak
saya dan meniduri isteri saya. Saya juga tidak melakukan hal itu kepada orang
lain. Saya tidak suka menjadi warga kelas dua, dihina dan diwajibkan membayar
pajak (jizyah) karena ingin mempertahankan hak saya untuk mengikuti
kepercayaan saya. Saya juga tidak memperlakukan orang lain demikian. Saya
tidak ingin orang memukuli saya kalau saya tidak patuh. Oleh karena itu pula
saya tidak memukuli isteri saya. Saya tidak suka dibohongi, dikibuli. Oleh karena
itu saya merasa ketidak-jujuran adalah tidak baik dan tidak ada pengecualian
yang sah.

Melanjutkan pembahasan relativisme moral anda, anda juga mengatakan bahwa


intelektualitas manusia adalah RELATIF sehingga tidak dapat mengerti prinsip-
prinsip keTuhanan.

Anda menulis: ”Tuhan harus mengikuti nalar setiap manusia dan sanggup
menjelaskan sikapNya tanpa menimbulkan keraguan, kalau tidak Ia sebaiknya
dia-diam saja.”

Jawaban saya tetap sama. Intelektualitas manusia mungkin tidak sempurna


namun merupakan satu-satunya alat untuk membedakan baik dari buruk. Kalau
tidak, bagaimana membedakan seorang penipu dengan seorang yg benar-benar
utusan Tuhan? Ada ribuan orang yang mengaku nabi. Bagaimana kita tahu mana
yang benar? Bagaimana kita tahu bahwa Muhammad-lah benar-benar rasulullah?
Caranya? Gunakan otak! Yah, otak yang tidak sempurna itu. Jika kelakuan dan
perkataan para "nabi" itu membuat otak kita bertanya-tanya maka kita tahu
bahwa mereka itu tukang ngibul.

Seperti kata Galileo ; JIKA TUHAN TIDAK INGIN KITA MENGGUNAKAN OTAK
KITA, MENGAPA IA MEMBERIKANNYA KEPADA KITA?

Mengukur Quran dan tingkah laku Muhammad dengan otak (human intelligence)
kita, kita dapat dengan mudah menentukan kualitasnya sebagai pembawa pesan
dari Tuhan. KECUALI anda berpendapat bahwa Tuhan memang begitu sinting
sampai mengirim seorang bandit psychopath yang doyan sex dengan anak kecil
untuk mengantar kita semua, umat manusia, ke jalan yang benar.

Anda memberikan definisi tentang 'assassin'.


Saya rasa anda bingung. Kita disini tidak membahas kebaikan dan kejahatan
KORBAN, melainkan SANG PEMBUNUH. Pertanyaannya adalah apakah tindakan
pembunuhan adalah tindakan yang PANTAS DILAKUKAN OLEH SEORANG
RASULULLAH. Kesalahan seseorang harus ditentukan oleh pengadilan, tidak oleh
seseorang yang merasa ia berhak membunuh orang lain karena tuduhan fitnah
(misalnya).

Anda memberi contoh tentara AS. Kalau tentara AS masuk rumah orang lain dan
membunuhi penghuni, apakah mereka bisa dicap assassin, anda tanya. Jawaban
saya ; YA! Tentara itu akan dituduh dengan peraturan 'war crime' (kejahatan
perang) dan harus diseret ke pengadilan atau mahkamah militer. Tentara AS
tidak memasuki rumah orang dan membunuh secara sembarang. Mereka
mungkin memasuki rumah orang untuk mencari senjata atau menangkap musuh.
Namun mereka tidak akan menembak sebelum ditembaki terlebih dahulu.
Begitulah peraturannya.

Nah, bedakan dengan ekspedisi pembunuhan/assassination Muhammad. Dari


links yang saya berikan kita bisa membaca bahwa Muhammad mengirim
seseorang untuk membunuh seorang lelaki tua berusia 120 tahun karena
memperingatkan orang-orang Medinah agar menjaga diri terhadap kebohongan
Muhammad. Ketika Asma binti Marwan, seorang penyair dan seorang ibu lima
anak kecil mengeluh tentang pembunuhan brutal tersebut, Muhammad
mengirimkan orang lain untuk membunuh Asma dimalam buta, selagi ia di
tempat tidur menyusui bayinya. Mudah-mudahan anda juga pernah membaca
kasus Ka'b ibn Ashraf dan Abu Rafi.

Inilah macam kejahatan yang dilakukan oleh klien anda yang dianggap nabi dan
diikuti secara buta oleh satu milyar orang. Dan lihatlah bagaimana ia mengejek
siapapun dan bagaimana sang "auwloh" ciptaannya selalu siap dengan pujian
bagi dirinya:

"And surely thou hast sublime morals" (Q.68:4).


(Dan kamu –muhammad-- memiliki moral mulia)

”Indeed in the Messenger of Allah you have a good example to follow"


(Q.33:21).
(Memang dalam rasulullah kau memiliki contoh yg bagus utk diikuti)

We sent thee not, but as a Mercy for all creatures. (Q.21:107).


(Kami mengirimkan kau sbg rahmat bagi semua mahluk)

Verily this is the word of a most honorable Messenger, (Q.81.19)


(Sesungguhnya inilah kata-kata rasul yg sangat terhormat)

Kami ingin menjelaskan fakta-fakta ini dan menelanjangi Muhammad, sehingga


paling tidak kami dapat menyelamatkan Muslimin, korban utama kebohongan
besar Islam ini dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun kami hanya
bisa menyelamatkan mereka yang mau, mereka yang jiwa dan pemikirannya
belum dirusak total oleh Islam. Namun mereka yang Islamnya sudah merasuk
tidak dapat kami bantu.

Seseorang yang membenarkan pembunuhan, mempertanyakan apakah kejujuran


kadang-kadang baik dan telah tenggelam kedalam relativisme moral Islam
sehingga tidak lagi dapat melihat kenyataan secara obyektif tidak dapat diobati
lagi dengan nalar/logika (beyond reach of reason). Namun saya berterima kasih
atas kejujuran anda (walaupun anda merasa ketidakjujuran kadang perlu) dan
tidak membantah ke-otentik-an hadis dan sumber-sumber sejarah lain yang
menunjukkan kejahatan yang dilakukan oleh klien anda, Muhammad.

Anda tidak mengajukan sumber-sumber sejarah lain dan nampaknya anda cukup
puas dengan pembelaan anda bahwa pembunuhan, ketidakjujuran dan tindakan
buruk lainnya, "kadang-kadang bisa menguntungkan" dan kita manusia tidak
sanggup membedakan antara satu dengan yang lain. Dan oleh karena itu
Muhammad tidak dapat dikenakan tuduhan apapun.

Dengan kata lain, anda mengejek kemampuan manusia untuk berpikir dan
menggunakan nalar. Anda menyatakan bahwa karena manusia tidak sanggup
mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk dan oleh karena itu setiap
kejahatan yang dilakukan Muhammad sebenarnya dapat diartikan sebagai
kebaikan.

Bukankah ini cara berpikir seorang pelaku kriminal? Ataukah Muhammad


pengecualiannya?
Menarik sekali pembelaan anda dengan menggunakan jalur pikir dan logika
(commonsense and logic) untuk menentukan salah atau tidak salahnya
Muhammad.

Commonsense dan logic macam apa yang anda maksudkan? Apakah tidak jelas
bagi anda bahwa pembunuhan bukan tindakan baik? Bahwa pedophilia tidak
baik? Bahwa perampokan, pencurian dan pembudakan perempuan dan anak-
anak adalah tidak baik?

Terakhir, anda mengatakan:


"Saya ingin tegaskan bahwa tugas saya tidak untuk membuktikan Klien saya
tidak bersalah. Tujuan saya adalah untuk menunjukkan bahwa kesalahannya
tidak dapat dibuktikan atau tidak dapat ditetapkan tanpa keraguan (established
beyond any doubt). Membuktikan tidak bersalahnya orang tidaklah mungkin
mengingat waktu yang sudah berlalu."

Saya tidak lagi perlu membuktikan kesalahan karena kesalahan itu sudah diakui.
Cukup membaca sejarah dan hadis yang ditulis oleh para pengikut setia Islam
untuk melihat bagaimana mereka membanggakan diri atas tindakan kriminal
yang dilakukan nabi mereka.

Sekarang terserah pada jury (hakim) untuk membahas keputusan mereka.

- Ali Sina
----------------------------------------------

Untuk sesi pengadilan berikutnya saya mengundang anda untuk membantah


tuduhan saya bahwa Muhammad adalah seorang yang gila perempuan (a
lecherous womanizer). Saya menyatakan bahwa mengingat kurangnya kualtias
keimanannya ini, ia BUKAN seorang rasulullah. Ia hanyalah seorang pemimpin
cult yg sukses dan brutal yang menipu pengikutnya agar mematuhi ambisi dan
nafsunya.

Dalam links berikut ini saya menyampaikan bukti-bukti; Ttg Juwayriah,


Safiyah: the Jewish wife of Muhammad,
Adoption in Islam and Muhammad's Marriage to Zainab Bint Jahsh,
Mariyah The Coptic Sex Slave of the Prophet.
BAGIAN II

Religion and M orality


Hum anity vs. M uham m ad bin Abdullah

Agama dan Moralitas


Kemanusiaan vs. Muhammad bin Abdullah

Dari Raheel Shahzad (18 November 2003)


kepada Ali Sina

Mr. Sina,
Apabila menyelamatkan kemanusiaan merupakan tujuan anda, maka mengutuk
atau menjelek-jelekkan sebagian umat manusia, saya meragukan motivasi dan
sikap mental anda sesungguhnya. Tentu saja anda dapat mengaku bahwa anda
tidak puas dgn Islam karena Islam menyebarkan kebencian, namun bagaimana
mungkin membasmi kebencian dengan kebencian yang lebih besar? Apakah ini
tidak nampak seperti lingkaran setan; menyatakan perang terhadap sekelompok
orang dengan tujuan menyelamatkan mereka?

Bagaimana saya dapat percaya bahwa anda benar-benar ingin menyelamatkan


umat manusia? Jika menyelamatkan saya dari cengkraman Islam tidak tercapai
secara intelektual, bagaimana saya dapat percaya bahwa anda akan
menyelamatkan orang lain dengan pesan anda?

Muslim dimanapun akan menolak sebuah pesan dimana yang membawa pesan
memiliki perilaku yang sama dengan orang yang ia tuduh. Untuk dapat
menyelamatkan yang kurang intelek, bukankah lebih penting untuk meyakinkan
para intelektual dulu?

Katakanlah suatu saat proyek anda ini berhasil, maka pilihan apa yang anda
tawarkan bagi sebagian besar umat manusia ini?

Terlalu banyak pertimbangan untuk dapat ditulis di sini, oleh karena itu saya
akan menggunakan contoh EFEK DOMINO:
Seandainya pendapat anda mengakibatkan penolakan terhadap Quran, bukankah
kita menghadapi dilema moral mengenai buku mana yang akhirnya benar-benar
suci? Bukankah Terdakwa juga dituduh telah berbohong maka hal ini juga akan
mengakibatkan semua kitab sebelumnya menjadi tidak sah?
Akibatnya, seluruh ajaran kemanusiaan secara fisik maupun rohani jadi
diragukan dan akhirnya manusia akan tiba pada kesimpulan bahwa tidak ada
yang namanya Tuhan. Dan jika Tuhan sendiri menjadi subjek yang diragukan
maka kebaikan dan kejahatan hanya dinilai melalui nilai-nilai moral manusia,
sehingga manusia sampai pada RELATIVISME MORAL.

Mereka yang berkuasa akan menjadi sewenang-wenang karena memiliki kuasa


atas moral dan karena tidak ada etika yang nyata dari yang maha kuasa.
Manusia dapat berada pada posisi yang lebih rendah daripada hari ini. Karena
mereka menyingkirkan pemikiran akan Tuhan, atau membiarkan penafsiran
terbuka tanpa ada suatu kerangka yang nyata mengakibatkan kerusakan yang
lebih besar daripada hari ini. Dan itulah yang menjadi kekhawatiran saya hari ini.

Sebenarnya saya setuju dengan misi anda, namun caranya yang sangat berbeda.
Maka dari itu belas kasih terhadap kemanusiaan dan pertimbangan berdasarkan
suatu logika tidak boleh dimonopoli oleh mereka yang merasa diri sebagai
Tuhan. Dan saya pikir kesimpulanmu di bagian 1 tidak memenuhi syarat ini,
karena anda tidak mampu menjabarkan tindakan yang harus diambil atau
bahaya apa yang harus dihadapi bila mengikuti pola pikir anda tersebut.

Pada suatu titik anda akan terpaksa mengadopsi Relativisme Moral, yang anda
tolak sendiri di bagian 1. Karena tanpa relativisme ini, anda tidak memberikan
pilihan apapun. Apabila pemimpin suatu misi menolak apa yang seharusnya ada
untuk menjamin kelangsungan suatu dunia tanpa Tuhan, maka ini adalah
penipuan. Pada akhirnya Moralitas Sesaat akan menjadi agama. Dan jaminan
apakah yang anda berikan bahwa moral tidak akan ditolak atau berubah juga
pada akhirnya? Mereka yang mengikuti pola ketuhanan anda sepantasnya
disebut “moralis.”

Jika anda memang benar, Mr. Sina dan anda benar-benar mengharapkan orang
meninggalkan Islam, anda harus menyiapkan suatu kode moral bagi orang yang
berpihak kepada anda. Dan kode moral itu harus dipergunakan sebagai contoh,
mengacu pada perintah sederhana, atau akan sangat sulit diterapkan. Jika anda
membiarkan para pengikut anda untuk membela diri sendiri atau
mengembangkan kode moral sendiri, apakah anda menjamin Iran tidak akan
menerapkan “Hijab” terhadap warganya? Anggaplah mereka benar-benar
membiarkan warganya memiliki kebebasan baik pikiran maupun tindakan, apa
yang akan terjadi dengan mereka yang membelokkan kode moral anda? Anda
tentu akan melarang mereka menolak kode moral yang mereka kembangkan
secara bebas itu.

Mungkin anda tidak akan tersinggung, tetapi salah seorang dari anggota
kelompok anda bisa tersinggung. Apa yang akan terjadi bila kode moral menjadi
sangat bebas sehingga bertukar pasangan untuk semalam menjadi sesuatu yang
lazim di suatu bagian dunia, bukan berdasarkan suatu kode moral, tetapi benar-
benar suatu kebebasan, apakah hal tersebut wajar di mata anda? Itulah
akibatnya bila Islam berhasil dihapuskan, digantikan oleh suatu agama baru yang
aneh. Dan anda benar-benar tidak dapat mengharapkan orang-orang yang anda
sadarkan untuk menerima ajaran lain selain moral yang menjadi ukuran. Hal ini
berarti anda harus benar-benar mempercayai orang-orang tersebut dengan
menganggap mereka semua adalah orang baik secara moral dan akal sehat.
Lantas mengapa moral mereka dianggap kacau hanya karena mereka menganut
islam? Jika islam diganti nama menjadi moralitas, perubahan apa yang anda
harapkan akan terjadi dan bagaimana cara menegakkan hal ini?

Oleh karena itu saya menolak konsep anda dengan alasan:


a) kasus anda tidak cukup kuat
b) anda tidak mampu mengarahkan para juri atau penggugat secara jelas
c) anda tidak menghargai aturan yang anda buat sendiri
d) anda telah menuduh secara sepihak tanpa memberi kesempatan pembela dan
juri mendengar kasusnya secara utuh.

----------------------------------------------------------

JAWABAN ALI SINA

Yth Mr. Shahzad,


Sebagai Penuntut, saya yakin dengan temuan saya dan tuduhan yang saya
ajukan pada Klien anda. Jika saya ragu, saya pasti tidak akan mengajukan
tuntutan.

Saya hadir untuk menuntut Muhammad dan tugas anda adalah untuk
membelanya. Saya harus mendukung semua pernyataan dengan bukti. Terserah
anda untuk membantah bukti saya dan mempertanyakan relevansi dan
kesahihannya. Tentu saja anda juga harus mem-back-up pernyataan anda. Jika
anda menuduh tentara Amerika melakukan kejahatan perang, dapatkah anda
membuktikannya? Dapatkah anda mengajukan bukti dan saksi? Jika dapat,
seharusnya anda jangan membuang waktu di depan komputer. Anda seharusnya
berada di PBB dan meminta pengadilan internasional untuk mendukung
pernyataan anda.

Anda menulis:
Jika menyelamatkan umat manusia menjadi tujuan anda, maka mengejek dan
mengutuk sebagian dari umat manusia menggoyahkan motivasi dan tujuan
anda.
Pernyataan anda diatas salah. Saya tidak mengutuki sebagian umat manusia.
Saya menolak sebuah ideologi yang dianut oleh sebagian umat manusia. Apakah
suatu ideologi menjadi benar dan sakral hanya karena banyak orang
mempercayainya? Adakah batasan dimana masih boleh melakukan kritik dan
batasan dimana kritik menjadi tabu?

Haruskah kita berhenti mengkritik ideologi? Bagaimana dengan neo-Nazisme?


Ribuan orang yang menganut ajaran ini dengan setia. Haruskah kita berhenti
mengkritik Hitler karena takut menyinggung perasaan orang kulit putih? Ataukah
kita hanya boleh mengkritik doktrin yang hanya memiliki sedikit pengikut
sedangkan yang pengikutnya banyak tidak boleh dikritik? Apakah ini kriteria yang
anda maksud?

Jadi apakah memang boleh mengkritik Islam pada waktu masih baru dan
pengikutnya sedikit? Dari sejarah kita lihat bahwa Muhammad mengirimkan
pembunuh untuk membungkam para pengkritiknya. Pada saat yang sama ia
sendiri mengkritik dan menodai agama kaum Quraisy, Yahudi dan Kristen
dengan mengatakan bahwa mereka telah mengubah agama mereka sendiri dan
apa yang sekarang mereka percayai bukanlah agama yang masih asli.

Jadi, pada prinsipnya Islam dan anda sendiri mengajarkan bahwa Islam sama
sekali tidak boleh dikritik. Itukah intinya? Boleh mengkritik semua kepercayaan
lain, tapi Islam jangan? Benarkah?

Peraturan ini diterapkan di negara-negara Islam. Siapa saja yang berkata-kata


melawan Islam dan Muhammad akan didakwa melakukan pelecehan dan akan
diperlakukan secara mengerikan. Namun di forum www.FaithFreedom.org
kami mengkritik semua ideologi. Kami mempertanyakan semua kepercayaan.
Sebagaimana inspirasi sang Budha, kami mencari pencerahan atas keraguan
kami.

Jadi, mengkritik Islam tidak sama dengan menyebar kebencian.

Alquran sendiri yang menyebarkan kebencian :


”bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka” (9:5)
”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali” (3:2
atau; “sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis” (9:2

Ayat-ayat itulah ayat penyebar kebencian. Perkataan seperti itulah yang


seharusnya dihentikan.

Anda menulis:
Jika menyatakan kejahatan seseorang menjadi motif satu-satunya, maka saya
tidak yakin anda telah mempertimbangkan semua dilema yang akan terjadi pada
umat manusia secara umum.

Dalam pernyataan di atas anda mengimplikasikan bahwa kebenaran bukanlah


menjadi pertimbangan anda. Anda lebih kuatir bagaimana kebenaran akan
mempengaruhi umat manusia.

Saya yakin bahwa kebenaran selalu lebih baik. Kebenaran hanya akan menyakiti
perasaan kita untuk sementara saja. Orang-orang senang dibohongi demi
menghindari rasa sakit dan melepaskan kebohongan seperti ini tidaklah mudah.
Saya berhasil melepaskan diri. Tetapi kebohongan benar-benar menghancurkan.
Kepercayaan palsu sangatlah berbahaya.

Contohnya paham Nazisme. Paham itu berdasarkan kepercayaan palsu bahwa


ras Aria berasal dari benua Atlantis yang hilang dan ras inilah yang
memperkenalkan peradaban ke seluruh dunia. Kita melihat bahwa kepercayaan
itu tampaknya baik-baik saja namun akibatnya sungguh luar biasa. Bayangkan
mimpi buruk dan hilangnya begitu banyak nyawa atas kebohongan superioritas
ras Aria.

Hari ini kita menuju kepada suatu kehancuran akibat satu lagi kebohongan.
Kebohongan yang dimaksud adalah Islam.

Islam mengajarkan bahwa penganutnya lebih baik daripada para kafir. Kafir
harus diperangi dan Islam harus menjadi yang terbesar di dunia, bahwa jika 10
muslim menghadapi 100 kafir, muslim akan menang karena Auwloh akan
menolong mereka. Bahwa pada akhirnya seluruh dunia akan menjadi muslim.
Bila muslim mati dalam peperangan, mereka akan masuk surga dan mendapat
hadiah bidadari yang banyak untuk disetubuhi. Jika sebagian besar umat
manusia mempercayai hal ini, ini namanya bom waktu.

Sejujurnya, saya tidak melihat alternatif yang lebih baik selain daripada
menjinakkan bom ini. Dan itulah misi dari Faith Freedom International. Kami
mencoba menjangkau muslim sebelum terlambat dan mengatakan kepada
mereka bahwa Islam itu palsu.

Gambaran Umum.
Anda mengajak para juri untuk melihat gambaran umum. Menurut anda
menyadarkan orang akan palsunya Islam tidak penting karena ini hanyalah akan
meninggalkan dunia tanpa agama. Dengan kata lain anda pikir lebih baik
menganut suatu agama palsu daripada tanpa agama sama sekali. Anda
memperkirakan kekacauan dan degradasi moral.

Saya tidak setuju! Kita telah melihat bahwa RELATIVISME MORAL ADALAH CIRI
KHAS ISLAM. Islam-lah yang menyetujui kejahatan apabila hasilnya
menguntungkan Islam dan muslim. Relativisme moral artinya menghalalkan
segala cara.

Namun, saya percaya bahwa moral itu relatif, tetapi bukan dari sudut pandang
islam. Saya percaya moralitas relatif terhadap sejarah dan budaya. Dalam Islam,
moralitas relatif terhadap kepentingan Islam dan keinginan untuk menang
dengan segala cara. Islam mengajarkan bahwa seseorang boleh melakukan
kejahatan demi kepentingan Islam.

Etika dalam Islam tidak mempedulikan benar atau salah, baik atau buruk tetapi
mengacu kepada halal dan haram. Pada kenyataannya etika merupakan omong
kosong dalam islam. Islam sama sekali tidak peduli terhadap etika. Diskusi
mengenai etika tidak dikenal oleh “filsuf” islam.

Etika yang menyetujui pelanggaran hak asasi manusia pasti tidak benar. Tetapi
tidak dalam Islam. Islam tidak menghargai hak non-muslim dan karenanya HAK
MEREKA TIDAK SAMA dengan hak para muslim. Perempuan dalam Islam juga
tidak memiliki hak yang sama dengan para pria muslim. Dalam Islam, hukum
syariah menjadi acuan benar dan salah.

Etika diturunkan dari kesadaran manusia dan The Golden Rule.

Orang yang berakal sehat mampu membedakan benar dan salah


mempergunakan Golden Rule sebagai parameter. Tetapi tidak dalam Islam.
Benar dan salah mengacu kepada ucapan Muhammad. Contohnya, etika
mengajarkan bahwa memukul perempuan itu salah. Dalam Islam, memukul istri
itu halal. Berdasarkan etika, hukuman tidak boleh melebihi kejahatannya. Dalam
Islam hukuman bagi pencuri kecil-kecilan adalah potong tangan. Islam juga
mementingkan “dosa atas pikiran” (dosa karena berpikir bebas/beda [pentj]).
Etika tidak mengenal ini.

Individu dalam masyarakat etis memiliki kebebasan bertindak dan berpikir. Anda
bebas berpikir, bertindak, dan berkata-kata selama tidak merugikan orang lain.
Dalam Islam kebebasan ini tidak ada. Anda dapat dihukum berat dan bahkan
dieksekusi karena mengkritik, menolak islam, melakukan hubungan seks di luar
nikah, atau berperilaku homoseks.

Dalam Islam, memukuli istri itu halal tetapi perempuan diharamkan


memperlihatkan rambutnya kepada orang lain. Poligami itu halal tetapi haram
bagi perempuan. Memiliki budak dihalalkan, namun diharamkan untuk
memungut bunga pinjaman. Halal untuk memperawani gadis 9 tahun (Aisyah)
tetapi haram bagi anak lelaki dan anak perempuan untuk bermain bersama.
Dihalalkan untuk memperkosa anak lelaki dan berperilaku pedofil tetapi haram
bagi orang yang homoseks untuk
berhubungan dengan sesama mereka
yang tentu sudah dewasa. Hukum
Syariah relatif terhadap apa yang
dikatakan Syariah namun tidak relatif
terhadap logika dan etika.

Relativitas moral secara historis dan


budaya merupakan topik yang berbeda.
Diperlukan pemahaman atas setiap
kebudayaan dan tahapan sejarah serta
setiap peradaban memiliki kode moral
sendiri berbeda dengan peradaban lain.

Apa itu moralitas?


Manusia beragama percaya bahwa moralitas berasal dari agama dan bila agama
kehilangan pengaruhnya, manusia akan menjadi immoral. Apakah moralitas
merupakan produk agama? Apakah orang yang tidak beragama juga tidak
bermoral?

Anda berkata bahwa tanpa agama orang akan tukar menukar istri. Saya pernah
bercakap-cakap dengan seorang muslim muda yang berkeras bahwa jika tanpa
agama orang akan melakukan incest dan tidak ada yang akan mampu menahan
mereka untuk meniduri ibu mereka sendiri. Saya bertanya apakah dia bergairah
terhadap ibunya dan apakah Islam satu-satunya pencegah dia meniduri ibunya?
Dia tampak tersinggung.

Bagian terbesar dari moralitas kita adalah naluri kita. Incest tidak dianut oleh
peradaban manusia manapun baik dalam peradaban yang agamis maupun tidak.
Tentu sudah ada dan akan ada beberapa individu dengan perkembangan mental
yang abnormal di dalam masyarakat. Pada kenyataannya, kecuali Simpanse
Bonobo di Zaire yang saling menggosokkan alat kelamin mereka untuk
melambangkan ikatan sosial, tidak ada jenis kera lain yang berkembang biak
melalui incest. Biasanya para pejantan mengunjungi kelompok lain untuk
mencari pasangan. Singa muda dipaksa meninggalkan kelompoknya untuk
mencari pasangan singa betina di kelompok lain.

Menariknya, pernikahan di antara anak-anak yang tumbuh bersama dalam suatu


panti asuhan jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi, sekalipun anak-
anak ini tidak ada yang memiliki hubungan darah.

Namun beberapa issue moral tidak sejelas contoh di atas. Apa yang tergolong
moral dan imoral tergantung pada waktu dan budaya. Bahkan bisa berbeda
antara orang yang satu dengan yang lain. Apa yang dulu dianggap bermoral
misalnya seribu tahun lalu menjadi immoral saat ini, demikian sebaliknya. Begitu
pula apa yang dianggap bermoral di satu belahan dunia bisa dianggap sebaliknya
di bagian dunia lain.

Contohnya perilaku seks bebas. Banyak kebudayaan menganggap hal tersebut


immoral. Tetapi ada juga kebudayaan yang menganggapnya sebagai norma.
Bagi kita, “yang berkiblat ke Barat” memiliki beberapa partner secara bersama-
sama merupakan hal yang immoral. Namun bagi muslim yang menganut
poligami, hal tersebut adalah “anugerah Auwloh.”

Di satu bagian dunia, perempuan melakukan poliandri. Dalam suku Inuit,


seorang pria akan menawarkan istrinya kepada tamunya untuk ditiduri. Perilaku
mana yang immoral? Dan siapa yang menentukan hal tersebut?

Apakah memperlihatkan bagian tubuh itu immoral? Di tengah hutan Amazon


beberapa suku benar-benar telanjang. Apakah hal tersebut immoral? Bagi
mereka itulah gaya hidup. Di beberapa negara islam perempuan diharuskan
menutup semua bagian tubuhnya. Apakah itu moral yang baik? Jika hal demikian
menjadi definisi moral, apakah perempuan yang berpakaian sopan tanpa hijab
termasuk immoral? Bagaimana pula dengan perempuan berbikini di pantai?
Apakah mereka immoral? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas
bergantung pada siapa anda dan apa standar moral anda.

Mari kita lihat contoh lain: perbudakan. Apakah perbudakan itu immoral?
Perbudakan dilakukan selama berabad-abad bahkan oleh orang yang paling
religius. Muhammad bukan hanya memiliki budak tapi dia juga mengambil
untung dengan cara memperjualbelikan manusia bebas sebagai budak. Apakah
dia immoral? Jika ya, mengapa kita mengikuti seorang yang tidak bermoral dan
jika tidak, mengapa sekarang kita mengutuk perbudakan?

Bagaimana dengan perilaku pedophile? Kita semua tentu menolaknya dan


menganggap hal tersebut sebagai suatu tindakan immoral. Tetapi pada waktu
Muhammad melakukan hal tersebut terhadap anak perempuan berumur 9 tahun
(Aisyah) hal ini tidak dianggap immoral. Bahkan ayah Aisyah secara rela
menyerahkan anaknya menikah dengan Muhammad sesuai dengan permintaan
Muhammad. Pada waktu itu tidak ada yang mengerutkan dahi. Pertanyaannya
adalah, jika meniduri anak berumur 9 tahun tidak dianggap immoral, apakah
berarti hal tersebut benar? Tidak semua yang dipandang bermoral oleh
masyarakat itu benar. Berhubungan seks dengan anak kecil mungkin dianggap
wajar 1400 tahun yang lalu di tanah Arab, tetapi dulupun itu tetap tidak etis.

Moralitas ditentukan oleh situasi, tetapi etika melampaui waktu dan ruang. Etika
berakar pada logika (akal sehat). Moralitas dapat berbeda antar kebudayaan,
dari waktu ke waktu dan dari orang per orang. Siapa yang berhak menentukan
sesuatu itu bermoral atau tidak?

Seorang pria di Pakistan dapat menganggap bahwa pertemuan istrinya dengan


sepupu laki-lakinya tanpa kehadiran orang ketiga sebagai tindakan immoral,
menodai kehormatannya dan untuk memulihkan kehormatan, sang istri harus
dibunuh. Baginya, pertemuan dua saudara adalah tindakan immoral tetapi
membunuh dianggap baik-baik saja.

Kita harus membedakan moralitas yang membahayakan masyarakat dengan


yang tidak. Apa yang membahayakan harus dianggap tidak etis dan dilarang.
Perbudakan contohnya, melanggar kebebasan dan hak asasi seorang manusia.
Karena itu entah dilarang atau dipraktekkan oleh suatu budaya, hal tersebut
tetap tidak etis. 1400 tahun yang lalu memiliki budak bukanlah tindakan
immoral. Tetapi secara etika perbudakan itu salah dan hal tersebut melintasi
ruang dan waktu. Bahkan sang nabi pun tahu bahwa perbudakan itu salah.
Itulah sebabnya ia menyuruh para pengikutnya untuk membebaskan budak
sebagai tindakan amal. Namun ia tetap menambah koleksi budaknya dengan
menyerang kota demi kota dan menangkapi orang bebas untuk kemudian
dijadikan budak.

Menariknya, atas perkataan nabi, para muslim membebaskan budak ketika


budak itu telah tua dan tidak mampu lagi bekerja. Membebaskan budak pada
waktu mereka masih muda adalah tindakan amal dan bermoral tetapi
membebaskan mereka setelah tua tanpa tunjangan apapun sangat tidak etis.
Sang nabi lupa menyatakan hal tersebut dan karenanya para mantan budak
yang sudah tua menjadi pengemis di jalan sementara majikan mereka mendapat
anugerah auwloh karena telah membebaskan budak sambil menghindarkan diri
merawat budak yang telah tua; sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau
terlampaui.

Hal yang seharusnya dilakukan adalah jangan memperbudak manusia lain.


Namun kekayaan Muhammad dan penguasa Islam justru berasal dari penjualan
budak.

Sekarang saya akan menjawab kekuatiran anda mengenai tukar menukar istri.
Saya menyebut hal tersebut sebagai perzinahan. Sekalipun dilakukan dengan
sadar dan sama-sama suka. Pertanyaan anda adalah apa yang akan dilakukan
oleh suatu masyarakat yang tidak beragama. Jawaban saya sama dengan
jawaban Pierre Trudeau di hadapan parlemen Kanada. Dia berkata, “Negara
tidak boleh mencampuri urusan kamar tidur penduduk.” Ia menyampaikan hal
tersebut 30 tahun yang lalu dan pemerintah Kanada mendengarkan. Namun
saya tidak pernah melihat orang-orang non-muslim senegara saya menawarkan
istri mereka kepada orang lain.
Sejujurnya bukan urusan saya atas apa yang tetangga saya lakukan. Seperti
yang dikatakan muslim: saya tidak mau terkubur bersama mereka. Lantas
mengapa kita membahasnya?

Sekarang mari kita lihat negara Islam dimana pemerintah mengatur kehidupan
pribadi (private) penduduknya. Ibu-ibu yang memiliki anak diluar nikah dirajam
batu sampai mati dengan cara yang paling sadis. Apakah itu yang disebut
bermoral? Orang dicambuk karena minum bir. Perempuan dipukuli sampai
berdarah-darah karena selendang mereka tersingkap sehingga rambut mereka
terlihat di muka umum. Tolong katakan kepada saya moralitas mana yang lebih
baik?

Sebagai penutup, kita harus membedakan antara apa yang immoral dan apa
yang tidak etis. Masalah moralitas harus diserahkan kepada individu; masalah
etika harus diajarkan di sekolah dan ditegakkan melalui hukum atau kode etik.
Apakah berganti-ganti pasangan itu immoral atau tidak etis? Jawaban atas
bagian pertama bergantung pada siapa anda. Jika anda berada dalam kelompok
ultra liberal negara Barat atau penganut Islam, mungkin hal tersebut bukanlah
hal immoral. Ini berkaitan dengan selera, budaya dan didikan. Kita tidak boleh
terpaku pada sisi moral saja. Apa yang dilakukan oleh orang dewasa di dalam
kamarnya bukanlah urusan kita. Pertanyaannya adalah: apakah hal tersebut etis?

Jika berganti-ganti pasangan disahkan misalnya melalui poligami, apakah hal


tersebut tetap immoral? Mereka yang melakukannya mungkin tidak terlalu
memusingkannya, tetapi hal tersebut tetap saja tidak etis. Pernikahan adalah
institusi sosial yang pengaruhnya lebih luas daripada hanya kepada dua orang
yang bersumpah setia. Bukan hanya anak-anak tetapi seluruh masyarakat akan
“dipaksa” untuk mendukung keluarga yang berubah jadi tidak berfungsi.
Masyarakat harus membayar biaya pendidikan anak-anak, makanan mereka,
pakaian mereka dan juga menanggung akibat atas sampah masyarakat yang
kemungkinan besar akan dihasilkan oleh keluarga yang berantakan tadi. Poligami
harus dilarang bukan karena immoralitasnya, sesuai dengan uraian kita tadi
bahwa hal tersebut adalah masalah individu, tetapi karena poligami itu tidak etis.
Hal tersebut membahayakan anak-anak dan masyarakat.

Apa yang disebut moral tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Moral religius
terlihat tidak etis lagi. Apa yang kita anggap bermoral berlawanan dengan
agama. Poligami, perbudakan, pengorbanan hewan, perkawinan dengan anak
kecil dan lainnya tidak termasuk hal immoral dalam islam. Tapi perempuan yang
bepergian sendiri, tidak memakai hijab atau memasuki lift bersama seorang
lelaki asing disebut immoral.

Karena itu moralitas harus diserahkan kepada masing-masing dan bisa berubah-
ubah. Namun masalah etika harus didefinisikan. Nilai-nilai etis berdasarkan logika
(akal sehat) dan Golden Rule. Keduanya bersifat universal dan tidak akan
berubah secara intinya, apa yang melukai orang dan mengganggu hak mereka
itu tidak etis. Pada kenyataannya, binatangpun memiliki hak dan suatu
masyarakat yang etis harus melindungi dan menghargai binatang.

Moralitas islam adalah moralitas yang tak lagi kompatibel dengan nafas jaman
sekarang. Masyarakat patriarkhi menerapkan kode moral terhadap perempuan
yang memberikan kendali kepada para pria atas istri mereka. Moralitas agama
(islam) tidak berasal dari surga. Hal tersebut hanya menggambarkan rasa takut
dan sifat posesif para pria yang menciptakan aturan tersebut. Islam mewajibkan
hijab (jilbab). Apakah hal ini berkaitan dengan ketakutan Muhammad sebagai
orang yang mulai tua dalam mengendalikan para istrinya yang masih cantik dan
melindungi mereka dari mata pria muda yang dianggapnya sebagai saingan? Dia
terus menerus menekankan pentingnya kepatuhan terhadap suami. Apakah ini
ada hubungannya dengan kenyataan bahwa sebagian besar istrinya adalah anak
remaja yang masih berjiwa pemberontak sehingga harus dikendalikan?

Moralitas adalah sesuatu yang pribadi dan sesuatu yang seharusnya diajarkan
oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Tetapi moralitas sejati tidak berasal
dari doktrin dan kepercayaan kuno. Sangat menyedihkan bahwa ada yang
membuat moralitas menjadi tawanan agama. Sangat absurd memaksakan
moralitas dari suatu budaya yang telah lalu terhadap masyarakat modern saat
ini. Moralitas diperoleh dari kesadaran manusia dan kepekaan rohani/bathin.
Semakin kita dewasa, tindakan kitapun semakin baik. Kita tidak hidup dalam
moralitas demi kerakusan atau ketakutan akan hidup setelah kematian. Kita
berperilaku moral karena moral meningkatkan kehidupan kita. Moralitas harus
menjadi bagian kehidupan kita, sama seperti pengetahuan menjadi bagian dari
diri kita. Moralitas sejati tidak pernah bertolak belakang dengan etika.

Etika sangat sedikit dipengaruhi agama. Seperti kata Gandhi, etika adalah
persoalan ‘ekonomi.’ Pertanyaannya adalah dimana kita akan menginvestasikan
energi kita untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Jika anda menginvestasikan
energi dalam kenikmatan seksual anda akan memperoleh hasil yang sementara.
Jika anda menginvestasikannya di dalam hal-hal yang lebih bermakna anda akan
mendapatkan kepuasan yang lebih besar.

Hidup dalam moral yang baik tidak berarti menghilangkan kenikmatan. Hidup
tanpa rasa syukur bukanlah hidup. Semua merupakan pilihan. Apa yang kita pilih
sebagai kesenangan kita? Itulah pertanyaan yang penting. Seseorang yang
menginvestasikan energinya dalam melayani kemanusiaan mendapat kepuasan
yang lebih besar daripada orang yang berkubang dalam pencarian kesenangan
duniawi.

Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan pribadi, didasarkan pada kematangan dan
pemahaman spiritual. Moralitas tidak seharusnya dipaksakan oleh otoritas yang
lebih tinggi seperti negara atau agama. Moralitas yang dipaksakan bukanlah
moralitas. Seseorang yang menjalani hidup dalam moral karena takut pada
neraka bukanlah orang yang bermoral karena ia tidak memilih perilaku tersebut
secara bebas.

Rasa takut dan kerakusan --merupakan metode dalam agama tradisional-- yang
dipakai sebagai insentif untuk memaksa orang menerima sistem moral tidak akan
membuat suatu masyarakat yang bermoral. Tidak seorangpun dan tidak satu
agamapun yang mampu memaksakan moralitas kepada orang lain. Pemaksaan
sistem moral tidaklah etis. Agama yang mengancam pengikutnya dengan api
neraka atau memancing mereka dengan janji-janji surga tidak akan menjadikan
pengikut yang bermoral. Cemeti dan wortel memang berhasil dalam melatih
binatang tetapi tidak dalam mendidik manusia. Hanya orang yang dapat memilih
secara bebas dapat disebut sebagai orang yang bermoral.

Seorang yang bermoral memilih untuk hidup baik karena hal tersebut
memberinya kepuasan. Orang yang jujur puas dalam perilaku jujurnya. Ia akan
memilih disiksa daripada harus berbohong atau menipu. Moralitas kita
berhubungan langsung dengan kematangan spiritual. Jika kita bertumbuh secara
spiritual; pengetahuan, kontribusi kepada masyarakat dan bekerja untuk
perdamaian akan memberikan imbalan yang jauh lebih besar daripada
berkubang dalam kepuasan sensual. Tidak ada yang salah dengan kepuasan
sensual. Tetapi kita mendapatkan kepuasan lebih, dalam melakukan sesuatu
kepada masyarakat dibandingkan dengan memuaskan diri kita sendiri.

Agama primitif memperlakukan anda seperti anak kecil (kalau bukan binatang).
Mereka ingin memaksakan sistem moral yang sudah kadaluarsa dengan
mengancam pengikutnya dengan api neraka dan menyuap anda dengan surga
untuk menerima moralitas kuno dan kadang tidak etis. Entah anda hidup
bermoral karena rasa takut dan kerakusan ini atau karena anda mendapatkan
kepuasan dengan berperilaku moral, tetap saja ditentukan oleh kedewasaan dan
kepekaan rohani.

Moralitas keagamaan tidak diturunkan dari langit. Moralitas keagamaan


merupakan moralitas orang jaman kuno, cara pandang mereka dan (dalam kasus
islam) tipu daya. Kita tidak membutuhkan moralitas orang jaman dulu sama
seperti kita tidak membutuhkan teknologi, ilmu, dan pengobatan mereka.
Moralitas mereka harus dikubur bersama dengan tulang-belulang mereka.
Manusia modern harus membentuk moralitas sendiri. Moralitas harus
berkembang sama seperti perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia.

Moralitas baru tidak berarti immoral. Artinya keluar dari masa kegelapan
ketidakpedulian dan membangkitkan generasi yang lebih bertanggung jawab.
Manusia tidak lagi dapat dibelenggu dengan rasa takut dan ancaman di
kehidupan setelah kematian. Ilmu pengetahuan telah memberi cahaya terhadap
absurditas konsep agama dan mengguncang fondasi dari kepercayaan yang
dipegang teguh leluhur kita. Hari ini kita harus mendidik anak-anak kita dengan
kesadaran. Mereka harus belajar bahwa umat manusia itu satu. Sama seperti
orang tua kita mengajarkan kebohongan agama dan kita mempercayainya. Kita
dapat mengajar anak-anak kita kebenaran dan mereka akan percaya.

Kita tidak perlu berbohong dan menakut-nakuti anak kita dengan api neraka
untuk mendidik moral, cinta kasih dan perilaku mereka. Metode seperti itu tidak
pernah berhasil. Sejarah manusia menjadi saksinya.

Jika kita mencintai anak kita, mereka juga akan belajar mencintai. Jika kita jujur,
secara moral dan etika mereka akan belajar jujur. Kita dapat membangun
manusia yang lebih baik dengan berperilaku manusiawi sekarang ini. Tetapi
pertama-tama kita harus mengajar mereka cinta kasih.

Nah, ini cinta kasih ala Muhammad sehubungan dengan mereka yang non-
muslim:
Perangilah mereka, niscaya Auwloh akan menyiksa mereka dengan
(perantaraan) tangan-tanganmu dan Auwloh akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang
beriman, (9:14)

Seperti yang anda lihat, dasar kepercayaan Islam sangat tidak etis dan immoral.
Kita tidak dapat menyembuhkan umat manusia sampai kita membuang
kankernya. Kanker ini telah mencapai titik berbahaya yang akan membunuh kita.
Pilihannya hanya umat manusia atau islam. Umat manusia tidak akan memiliki
masa depan selama penyakit ini tidak diobati. Islam harus dimusnahkan
sekarang. Besok akan terlambat.

Bagaimana dengan agama lain:


Saya sadar bahwa banyak orang yang tergantung pada agama dan hidup bagi
agama tanpa percaya pada Tuhan yang berpribadi dan janji pada kehidupan
setelah kematian. Saya ingin menekankan bahwa peperangan saya ini tidak
dilakukan terhadap seluruh agama. Saya lihat anda menarik kesimpulan bahwa
menolak Islam berarti menolak seluruh agama yang ada, Tuhan dan kemudian
moralitas. Tidak demikian! Saya bukan seorang yang religius dan tidak
membutuhkan satu agama untuk hidup secara etis dan bermakna. Saya percaya
hidup saya cukup bermakna dan usaha saya untuk mempersatukan umat
manusia serta merintis jalan menuju perdamaian dengan menghancurkan
penghalang terbesar menuju perdamaian (islam) adalah pengabdian terbesar
yang dapat saya lakukan.
Namun, memang banyak orang yang membutuhkan agama dan saya
menghargai itu. Perlawanan saya hanya tertuju kepada Islam. Bukan
karena Islam adalah agama, justru karena ISLAM BUKAN AGAMA.
Islam adalah politik yang dibungkus dengan agama. Islam merupakan
alat dominasi dan penaklukan. Islam memakai agama sebagai topeng
untuk menelusup dan menaklukkan.

Jika orang meninggalkan Islam, mereka bisa memilih satu dari berbagai agama
yang ada, atau memilih seperti saya yang tidak beragama. Jadi tidak perlu panik.
Kekosongan karena meninggalkan Islam akan segera terisi karena ada banyak
agama lain dan filosofi di dunia ini. Banyak muslim yang meninggalkan Islam dan
mereka pasti dapat memberi tahu anda bahwa mereka sekarang lebih
berbahagia.

Jika Islam mati, doktrin kebencian akan mati pula. Sama seperti
membuang sel kanker. Hal ini berarti kebebasan bagi muslim dan suatu
kesempatan baru untuk mengasihi seluruh umat manusia. Mereka akan memiliki
kebebasan untuk merangkul saudara saudari mereka dalam kemanusiaan dan
kasih sayang. Tidak ada lagi muslim lawan kafir. Tidak ada lagi "kita" lawan
"mereka".

Hal ini akan menjadi kelahiran baru bagi umat manusia seutuhnya. Kita akan
menjadi satu, berbagi planet yang sama. Planet satu-satunya untuk hidup! Tidak
ada lagi selain bumi yang mampu menampung manusia. Planet yang kecil ini,
permata biru yang menggantung di tengah semesta yang kelam dan dingin
adalah satu-satunya rumah kita. Jangan hancurkan demi suatu kebohongan.

Jika anda harus memiliki agama, mengapa memilih agama yang penuh
kebencian seperti islam?!

Salam,
Ali Sina
BAGIAN III
PEMERKOSAAN
(Bagian 1)

Dari Raheel Shahzad (Nov 20, 2003)

kpd Ali Sina,

Anda menulis:
Untuk kesempatan sidang selanjutnya, saya mengundang anda untuk
membantah tuduhan saya bahwa Terdakwa/Muhammad adalah pemimpin bejat
(termasuk terlibat dalam tindakan PEMERKOSAAN). Saya menuduh derajat
moralnya rendah sehingga ia tidak mungkin seorang nabi yang dikirim dari ‘Atas’.
Ia hanyalah seorang pemimpin sekte yang kejam, yang memanfaatkan orang-
orang bawahannya untuk memenuhi nafsu dan ambisi pribadinya.

Mr Sina, ini hanyalah masalah interpretasi yang sebenarnya merupakan inti


kasus ini. Jadi untuk anda sampai pada kesimpulan sebelum menjelaskan
kedudukan kasus dengan jelas dan tidak hanya berdasarkan artikel-artikel
simplistik dari sana sini, atau berdasarkan material yang ditolak oleh sebagian
besar Muslim, tidaklah bijaksana.

Kita akan membahas tuduhan anda satu-persatu.

Anda menulis:
Dalam links berikut ini saya sampaikan tuduhan saya dengan cukup bukti.
- Juwayriah
- Safiyah: isteri Yahudi Muhammad
- Adopsi dalam Islam dan perkawinan Muhammad kpd Zainab Bint Jahsh.
- Mariyah, Budak Koptik Muhammad
- Propaganda seorang apologist/liberalis: jawaban langsung
# Tolong semuanya dibaca!

Saya telah lakukan itu, membaca semua links tersebut. Menikah berkali-kali
dalam masyarakat jaman ini merupakan problem moral dan banyak muslim tidak
mempraktekkannya. Mereka punya akal sehat untuk membedakan apa yang
harus diikuti dan apa yang tidak diterima oleh standar masyarakat masa kini.
Kebanyakan negara Islam yang maju juga tidak memperbolehkan perbudakan.
Amerika mengakhirinya 140 tahun yang lalu, meskipun ini tetap terjadi dan
dilakukan oleh kaum Kristiani. Akibatnya masih dirasakan oleh kaum Afro-
Amerika sampai saat ini, namun akan makan waktu lebih lama lagi untuk
menghilangkan akar-akar rasisme. Nilai moral berubah. Begitu pula dalam Islam.
Muslim mampu menyadarinya. Maka, daripada saya meminta maaf (seperti yang
dilakukan orang pada artikel ke-5), saya benar-benar percaya bahwa sang nabi
telah menikah 12 kali, mungkin juga lebih, seperti banyak ditemukan dari
beberapa sumber yang belum jelas.

Dan dia-pun menikahi seorang budak, mungkin lebih dari satu. Thomas Jefferson
juga mempunyai budak. Saya menduga bahwa semua bapak pendiri Amerika
mempunyai budak. Namun sekarang apa yang bisa kita lakukan? Hanya karena
Jefferson dan Washington tidak mengaku sebagai nabi, maka Muhammad harus
dianggap sebagai orang yang memiliki moral yang lebih tinggi?

Pertanyaan saya adalah, mengapa? Apakah 1400 tahun lalu ada peraturan
bahwa menikah beberapa kali adalah tidak bermoral? Mempunyai budak pada
1400 tahun lalu adalah kejam? Apakah perbudakan 200 tahun yang lalu di
Amerika dianggap immoral? Kata siapa? Praktek tersebut sangat umum
dilakukan dan nilai moral masyarakat pada waktu itu pun berbeda.

Maka apakah jika Muhammad menikahi 12 perempuan, atau 35, atau 400
perempuan sekaligus adalah tindakan yang salah? Muhammad menikahi banyak
perempuan dan anda bisa memilih jumlah yang anda sukai karena angka
tidaklah penting. Ia menunjukkan bahwa waktu itu praktik tersebut memang
umum dilakukan. Jadi apa maksudnya menyerang poligami dan kepemilikan
budak?

Bahkan jika anda menyampaikan ribuan artikel mengenai hal ini, apa yang mau
anda buktikan? Saya menyatakan tanpa rasa penyesalan bahwa ia menikah
beberapa kali dan menikahi budak dengan tetap mengikuti kebudayaan yang
normal pada jaman itu. Dan kebanyakan pria muslim tidak berbuat seperti itu
karena adanya perubahan nilai moral saat ini tentang kehidupan perkawinan.

Mengikuti Sunnah bukan berarti harus menikahi 12 perempuan, malahan pria


muslim hanya bisa menikah 4 kali, yang sifatnya lebih untuk menghindari
semangat para pria muslim untuk meniru nabi. Maka Sunnah ini sebenarnya
tidak bisa dilakukan.

Muslim sering memiliki akal sehat dan perempuan saat ini pun tidak akan
menerima jika dijadikan istri kesembilan, walau sang pria beralasan mengikuti
Sunnah nabi. Banyak perempuan muslim seperti di Pakistan akan ngamuk jika
suaminya mulai bermain mata dan menyimpan budak.
Tuduhan anda bahwa Muhammad menikahi banyak perempuan hanya
membuktikan satu hal, bahwa ia memang menikah berkali-kali dan mempunyai
budak. Menyamakan (memberlakukan) nilai moral saat ini pada beliau adalah
perbuatan yang tidak adil, bukan hanya pada Nabi, namun juga pada semua
bapak pendiri Amerika.

Pertanyaan saya pada anda, Mr. Ali Sina :


1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun 2003
ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada jaman
Arab kuno adalah berlebih-lebihan?
2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai-nilai perkawinan
harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?
3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan perbudakan di negara-negara maju
diakibatkan karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya waktu?
4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada
masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan oleh muslimin di
desa-desa tertinggal?
5. Apakah anda setuju bhw menikahi budak adalah sesuatu yg tidak menyalahi
moral pada 1400 tahun yg lalu, namun ada perubahan besar pd prakteknya
pd jaman sekarang di negara-negara muslim?

JADI, Saya telah berusaha sejujur mungkin menanggapi Anda Mr. Ali Sina dalam
isu poligami. Dari pengalaman saya, pernikahan dengan 12 perempuan tidak lagi
terjadi pada muslim jaman sekarang, dan jikapun ada, itu adalah pengecualian.

Ahl-e-Sunnat sendiri telah membuktikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti


praktek ini, dan hanya menyetujui bahwa sang nabi mengikuti kebiasaan yang
umum pada jamannya. Mengapa non-muslim terus mempermasalahkan hal ini?
Kami para muslim tidak mengikutinya.

Saya rasa dalam setiap bahasan saya hanya bisa mengatakan, “Memang benar
(Muhammad berpoligami dan mempunyai budak), memangnya kenapa?”
Apakah saya harus menjadi atheis karenanya?

Anda menulis:
Ada lebih dari 1 milyar muslim di dunia ini, mengapa tidak ada satupun dari
mereka yang mampu membuktikan bahwa tuduhan saya salah?

Ini hanyalah masalah perspektif. Mungkin karena anda membuat 2 peraturan


dasar tentang perdebatan ini:
1. Saya selalu benar.
2. Jika saya salah, lihat peraturan no 1.

Saya tidak menggunakan prinsip ini, saya ingin menyanggah dan banyak hal
yang saya dapat pelajari dan betulkan. Namun dalam salah keyakinan, tidak ada
area hitam atau putih, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Maka bagi saya,
kepercayaan diri dan keras kepala adalah hal yang berbeda.

----------------------------------------------------------

DARI ALI SINA Kpd. RAHEEL SHAHZAD

Yth Mr. Shahzad,

Nampakya anda tidak membaca artikel yang saya berikan, atau tidak
mengerti inti masalahnya. Seluruh argumen anda berkisar pada: muslim
sekarang tidak lagi mempraktekkan poligami. Ini tidak relevan!

Masalah yang saya persoalkan tidak sekedar memperdebatkan jumlah


perempuan yang dinikahi Muhammad. Masalahnya adalah :
RENDAHNYA MORAL MUHAMMAD SAMPAI TERLIBAT PEMERKOSAAN!
Muhammad menyerang rakyat tidak bersalah tanpa peringatan,
membunuhi semua pria, mengambil perempuan tercantik dan
menyetubuhinya pada hari yang sama ia membunuh suami, ayah, dan
semua orang yang disayanginya. Ini terjadi pada Juwairyah, Rayhanah
dan Safiyah. TUGAS ANDA SEBAGAI PEMBELA ADALAH UNTUK
MEMBUKTIKAN BAHWA MUHAMMAD BUKAN SEORANG PEMERKOSA.
Anda ternyata tidak sanggup !

RAYHANAH
Tentang Rayhanah, hanya sedikit data yang tersedia. Kita hanya mengetahui
bahwa ia adalah anggota dari suku Yahudi, Bani Qurayza. Muhammad menutup
jalur sumber air, mengepung kotanya dan ketika se-isi kota menyerah, ia
memerintahkan pemenggalan kepala semua pria, merampas harta mereka,
termasuk istri dan anak-anak mereka dijual sebagai budak. Rayhanah adalah
perempuan tercantik di sukunya, dan ia menjadi budak seks Muhammad. Ia
menolak menikahi pembunuh rakyatnya, namun harus menerima penghinaan
untuk diperkosa penawannya, sang “nabi besar” Auwloh.

JUWARIYAH
Dalam sejarah bangsa Arab masa pra-Islam, belum pernah ada pergolakan dan
perang yang luas dan tingkat kedahsyatannya separah yang dilancarkan
Muhammad, sang pendiri islam. Pertempuran sebelumnya hanya merupakan
pertempuran lokal yang terbatas pada percekcokan antar suku. Dengan lahirnya
islam, tidak hanya perang tetapi GENOCIDE dan TEROR tidak habis-habisnya
menjadi komponen integral dalam sejarah ekspansionisme islam.

Pada awal karir Muhammad sebagai nabi, kota asalnya (Mekah) adalah kota
yang damai. Dalam 13 tahun ia berkotbah, hanya sekitar 70/80 orang mengikuti
ajarannya. Tidak semuanya jago perang. Ini menjelaskan sejarah awal
penyebaran Islam yang damai. Muslim belum mempunyai kekuatan untuk
menyerang. Namun setelah Muhammad bermigrasi ke Medinah dan mayoritas
penduduknya menerima ajarannya, ia memulai perampokan karavan pedagang
dan penyerbuan kampung-kampung penduduk sekitarnya untuk bertahan hidup,
selain menghidupi pengikutnya yang sulit mencari pekerjaan di Medinah.

Tahun ke 5 hijrah di Medinah merupakan tahun menentukan. Ini tahun dimana


Muslim berperang melawan penduduk Mekah dan mengepung perkampungan
Yahudi, Bani Qaynuqa, yang terkenal dengan penduduknya yang kaya, pengrajin
emas dan besi. Setelah merebut rumah dan ladang anggur mereka, mereka
diusir dari kediaman mereka. Setelah itu ia menyerang kantung Yahudi lainnya,
Bani Nadir. Hal yang sama terjadi pada mereka. Muhammad membunuh
pemimpin suku dan banyak pemudanya, merampas harta mereka dan kemudian
mengusir mereka dari Medinah. Dalam dua penyerbuan tersebut, suku Yahudi
tidak memberikan sedikitpun perlawanan. Mereka diserbu secara tiba-tiba, dan
mau tidak mau harus menyerah kepada pasukan Muhammad yang lebih kuat.

Mabuk kemenangan atas orang-orang tak berdaya, Muhammad berniat


mengulanginya dengan suku Yahudi lain diluar Medina, kali ini giliran Bani al-
Mustaliq:

BUKHARI, biografi Muhammad, mengisahkan penyerbuan tersebut dalam


hadis;
"Diriwayahkan Ibn Aun: Saya menulis surat pada Nafi dan Nafi menceritakan
bahwa nabi secara tiba-tiba menyerbu Bani Mustaliq ketika mereka lengah,
ketika mereka sedang memberi minum ternak mereka. Mereka yang melawan
dibunuh. N abi m endapatkan Juw airiya pada hari itu." Volume 3, Book 46,
Number 717.

Hadis yang sama ini dicatat kembali dalam Sahih Muslim Buku 019, Nomor 4292,
yang memperkuat otentisitas hadis dan peristiwa tersebut.

Muhammad mencontek agamanya dari paham Yudaisme dan berharap kaum


Yahudilah yang pertama menjadi pengikutnya. Namun mereka sama sekali tidak
tertarik pada agama bawaan Muhammad itu. Ia tidak pernah memaafkan mereka
karenanya. Begitu marahnya ia pada mereka sehingga ia pun mengubah
arah kiblat dari Yerusalem ke Kabah, yang waktu itu hanyalah sebuah kuil
pemujaan dewa. Muhammad dalam kemarahannya mengatakan bahwa Auwloh
akan mengutuk Yahudi menjadi monyet dan babi karena menolaknya (Q. 5:60
dan 2:65). Ia pun menjadikan kaum Yahudi kambing hitam sbg alasan untuk
mencari pengikut.

Ia jeli menggunakan taktik adu domba (devide et impera) antara kaum Arab
Medinah yang miskin dan bodoh, yang bekerja di kebun anggur milik kaum
Yahudi, dengan majikan mereka sendiri. Kaum Arab ini adalah imigran dari
Yaman, sementara kaum Yahudi sudah tinggal di Medinah selama 2000 tahun.
Dengan merampas harta majikan, menjual majikan mereka kepada perbudakan
untuk tambahan harta, para pekerja ini diyakinkan bahwa perbuatan mereka
bukan saja “benar” namun diridhoi oleh Auwloh. Muhammad telah mendapatkan
agama yang sangat menguntungkan dan memulai penyebarannya dengan
perang.

Muhammad mengirim salah satu pengikutnya, Bareeda bin Haseeb, untuk


mematai-matai Bani al-Mustaliq dan memberitahukannya jika keadaan
menguntungkan.

Petikan dari salah satu situs Islam:


Kedatangan pasukan Muslim membuat panik Haris, ia dan pengikutnya
melarikan diri. Meskipun begitu penduduk Muraisa mencoba mati-
matian mempertahankan diri. Muslim menyerang secara tiba-tiba.
Banyak korban jiwa melayang, dan lebih dari 600 orang ditawan. Hasil
rampasan mencakup 2000 onta dan 5000 kambing. Diantara tawanan
perang, terdapat Barra, anak dari Haris, yang kemudian dinamai nabi
Hazrat Juwairiyah, atau istri nabi yang mulia.

Dalam prakteknya, harta rampasan dan tawanan dibagikan antara pasukan


muslim. Hazrat Juwairiyah dimiliki oleh Thabit bin Qais. Karena perempuan ini
adalah anak pemimpin suku dan terlalu hina untuk menjadi budak seorang
prajurit muslim, maka ia meminta untuk dibebaskan dengan tebusan uang.
Thabit menyetujuinya jika ia mempunyai 9 keping emas, namun karena Hazrat
Juwairiyah tidak punya apa-apa (hartanya telah dirampok habis), ia pergi
menghadap Muhammad untuk meminta bantuan agar diselamatkan dari
penghinaan ini. "Saya memohon anda agar melakukan satu tindakan
berdasarkan belas kasihan dan menyelamatkan saya dari hinaan ini.” HATI NABI
MENJADI TERGERAK dan berkata apakah ia ingin hal yang lebih baik. Juwariyah
bertanya apa maksudnya. Nabi berkata bahwa ia akan membayar uang tersebut
pada Thabit dan meminta Juwairiah menjadi istrinya. Hazrat Juwairiyah
kemudian menyetujuinya. (www.trueteaching.com)

Kisah tersebut menceritakan pernikahan nabi dengan Juwariah. Yang menarik,


Muhammad membuat Auwloh berkata bahwa ia “mempunyai moral yang
maha mulia" (Quran 68:4) dan “sebenarnya nabi adalah contoh sempurna
untuk diikuti” (Quran 33:21). Pertanyaannya adalah, benarkah ini?
Pertama, ia menyerang penduduk tanpa peringatan karena mereka sasaran yang
mudah dan kaya. Seperti biasa, ia membunuhi semua pemuda yang sehat yang
tak bersenjata, merampas harta benda dan memperbudak sisanya. Apakah ini
perbuatan Nabi Tuhan? Praktek tawanan perang, perbudakan dan pembagian
harta rampasan perang antara pasukan muslim ini adalah pola prilaku para
Mujahidin Muslim selama sejarah berdarah Islam.

Pertanyaan saya tetap sama, inikah perilaku Nabi Tuhan? Auwloh malah
mengatakan bahwa ia adalah “rahmat bagi alam semesta”. Pemimpin otoriter
dan penjahat biadab namun RAHMAT BAGI ALAM SEMESTA?! Come on...

Kalau ini memang praktek umum kaum jahiliyah, apakah si Nabi Rahmat Alam
Semesta ini tidak dapat mengubahnya? Kenapa ia terlibat dengan peristiwa
maha biadab ini? Apakah ia hanya mengikuti kebiasaan saat itu atau IA-LAH
YANG MEMBERI CONTOH KEPADA PENGIKUTNYA?

Sangatlah jelas bahwa HATI MUHAMMAD TIDAK TERGERAK oleh belas


kasihan, namun oleh nafsu birahi. Ia tidak membebaskan Juwariah
karena kasihan. Ia mengiginkan Juwariah untuk dirinya sendiri. Ini
adalah contoh dari pria yang harus diikuti 1,2 milyar pengikutnya.

Cerita selanjutnya tentang Juwariyah penuh dengan campuran isapan jempol


dan cerita yang dilebih-lebihkan (hiperbolis) yang banyak mewarnai Hadis.

Diceritakan bahwa nabi setelah peristiwa penyerbuan itu, bertolak kembali ke


Medinah dan menyerahkan Juwairiah dalam pengawasan pengikutnya. Ayahnya
menyadari bahwa anaknya ditawan, bergegas membawa tebusan, namun di
tengah jalan menyembunyikan dua untanya di jalan dekat al-Aqia. Ia datang
kepada nabi lalu berkata, “Anakku terlalu terhormat untuk dijadikan tawanan,
bebaskanlah dia dengan tebusan ini.” Nabi berkata, “Bagaimana jika ia kita
suruh pilih sendiri?,” kemudian ia datang menemui anaknya lalu berkata, “Ia
menyuruhmu memilih, jangan jatuhkan kehormatan kita”, lalu anaknya
menjawab dengan tenang, “Aku memilih nabi”. al-Harith dengan marah berkata,
“Ini suatu penghinaan!”
Lalu nabi berkata,”dimanakah unta yang kau sembunyikan di jalan ini sebelah ini
di dekat al-Aqia?” al-Harith terkejut dan berkata, “Saya menyatakan bahwa tidak
ada Tuhan selain Auwloh, dan Muhammad adalah nabi Auwloh, tidak ada yang
lain yang dapat mengetahui hal ini selain Auwloh.”

Ibn-i-S'ad dalam 'Tabaqat', menceritakan bahwa setelah ayah Juwariyah


memberikan tebusan dan membebaskannya, nabi menikahinya, dan semua
tawanan dibebaskan oleh prajurit muslim, karena mereka tidak suka melihat
anggota keluarga orang dari istri nabi, dijadikan budak.
Sulit menilai kebenaran cerita ini. Di satu sisi diceritakan bahwa Muhammad
membayar tebusannya pada Thabit, sedangkan yang lain menceritakan bahwa
ayahnya Juwariyah-lah yang membayar tebusannya. Juga diceritakan tentang
kemampuan Muhammad untuk menebak masa depan, seperti yang terjadi
dengan unta yang disembunyikan. Ini membuat sulit dipercaya, karena pada
banyak kesempatan lain, Muhammad sering menunjukkan hal sebaliknya.
Misalnya, sering ia harus menyiksa seseorang sampai hampir mati dahulu untuk
mengetahui dimana harta kota disembunyikan.

Dalam cerita ini pun masyarakat Arab menunjukkan tingkatan moral yang lebih
tinggi dari sang nabi dengan secara sukarela membebaskan tawanan mereka
setelah mendengar Muhammad menikahi putri kepala sukunya. Muslim pun
menyatakan bahwa Juwairiyah menjadi penganut yang taat, dan seringkali
menghabiskan waktu seharian untuk bersholat. Penulis Usud-ul-Ghaba
menyatakan bahwa ketika nabi mendatangi Juwairiyah sering ia mendapatinya
sedang bersholat, dan ketika ia kembali pun Juwairiyah masih bersholat, sampai
akhirnya nabi pun berkata, “Kamu lebih banyak bersholat sehingga membuat
timbangan menjadi lebih berat ke satu sisi.”

Mari kita melihat kisah ini secara lebih realistis. Bayangkan anda dalam posisi
Juwariah, perempuan muda yang jatuh ke tangan pembunuh suami yang juga
sepupunya, dan pembunuh massal rakyat sukunya. Tanpa pegangan hidup lain
dan tak ada jalan untuk melarikan diri, opsinya hanya menyerah dan menjadi
budak seks seseorang yang menjadi pemimpin para penyerangnya. Juwairiah
terpaksa memilih opsi ini dan mencoba bertahan. Tak heran Juwariah selalu
didapati Muhammad dalam keadaan sibuk bersholat dengan harapan Muhammad
akan meninggalkannya sendirian dan mendapat kesenangan dari istrinya yang
lain. Namun Muhammad adalah bandot tua licik. Dengan menyindirnya “berat
sebelah dalam timbangan,” ia merampas alasan Juwariah untuk menghindari
nafsu sex Muhammad.

SAFIYAH
Safiyah Bint Huyeiy Ibn Akhtab adalah perempuan Yahudi berumur 17 tahun
ketika pasukan Muslim menyerang Khaibar dan membawanya pada nabi sebagai
bagiannya dalam harta rampasan. Kisah ini termuat dalam buku TABAQAT dan
terdapat juga dalam situs Islam yang terpercaya, www.prophetmuhammed.org.
(ketika penulisan ini dibuat banyak situs Islam memuat kisah ini, namun
sekarang sudah tidak lagi –mungkin disembunyikan--, walaupun demikian kisah
ini cukup mudah dicari dalam hadis).

Safiyah lahir di Medinah, dibesarkan oleh suku Yahudi Banu 'I-Nadir. Ketika
sukunya terusir dari Medinah, A.H. Huyaiy adalah salah seorang yang tinggal
bersama-sama di Khaibar dengan Kinana ibn al-Rabi', pria yang menikahi Safiyah
tak lama sebelum Muslim menyerang perkampungan baru tersebut. Ia berumur
17 tahun. Ia sebelumnya adalah istri dari Sallam ibn Mishkam, yang
menceraikannya. Satu mil jauhnya dari Khaibar, sang nabi menikahi Safiyah. Ia
dipersiapkan dan didandani oleh Umm Sulaim, ibu dari Anas ibn Malik. Disana
mereka berdua bermalam.

Abu Ayyub al-Ansari menjaga tenda sang nabi semalaman dan ketika fajar, nabi
melihatnya terus berjaga-jaga. Nabi bertanya alasanya dan ia menjawab, “Saya
khawatir tentang perempuan ini dengan-mu. Anda telah membunuh suami,
ayah dan banyak kerabatnya dan sampai saat ini ia masih kafir. Saya sangat
menghawatirkan pembalasan darinya.”

Safiyah dikatakan meminta agar nabi menunggu untuk menikahinya di lokasi


yang lebih jauh dari Khaibar dengan alasan masih banyak Yahudi yang
berkeliaran di sekitarnya. Alasan sebenarnya Safiyah menolak sangat jelas. Ia
memilih untuk berduka daripada harus naik ranjang pada hari yang sama dimana
suami, ayah, dan keluarganya terbunuh oleh orang yang ingin menyetubuhinya.
Sikap nabi auwloh yang berumur 57 tahun ini, yang tak dapat menahan birahi
untuk satu hari saja dan mengijinkan gadis muda ini berkabung, menunjukkan
cara berpikir dan derajad moralnya.

Sejarawan muslim pun mencatat bahwa perkawinan terjadi satu hari setelah
Muhammad menyetubuhinya. Ini bukanlah masalah untuk nabi karena auwloh
telah mengeluarkan ayat yang memperbolehkan hubungan seksual dengan para
budak tanpa perkawinan, meskipun mereka telah menikah. “dan semua
perempuan yang telah menikah (terlarang untukmu) kecuali (budak) yang kamu
miliki.” (Q.4:24)

Ayat diatas menunjukkan bahwa si nabi islam tidak menganggap bahwa budak
pun mempunyai hak juga sebagai manusia. Anda bisa saja perempuan yang
telah menikah dan berbahagia, namun jika Muhammad dan para pengikutnya
menyerang kotamu, kamu akan kehilangan semua hak yang kamu punya dan
sementara suamimu dibunuh atau diperbudak, Anda dapat diberikan pada
seorang Mujahidin Muslim yang memperkosamu dengan bebas dengan ridho
auwloh.

Mari kita lanjutkan kisah Safiyah.


Ketika ia dibawa bersama tawanan lainnya, Nabi berkata, ”Safiyah, ayahmu
selalu memusuhiku, sampai akhirnya Auwloh sendiri yang menghukumnya.” Dan
Safiyah berkata, “Bukankah Auwloh tidak akan menghukum seseorang karena
kesalahan orang lain?”
"Yakni, bahwa tidak ada pendosa yang dapat dibebani oleh beban dosa pendosa
lainnya” Q.53:3*
Ini tentu saja bertolak belakang dengan perbuatan Muhammad yang menumpas
seluruh Bani Qainuqa dengan dalih mereka membunuh seorang muslim. Dan
bukannya Auwloh yang membunuh ayah Safiyah, melainkan pengikut
Muhammad. Hitler saja tidak pernah mengklaim bahwa Tuhan-lah yang
membantai kaum Yahudi dalam PD II.

”The Prophet then gave her the choice of joining her people after freedom or
accepting Islam and coming into a matrimonial relationship with him.” [Tabaqat].
(We have to remember that Muhammad killed most of her people and banished
the rest of them. So giving the choice to join her people is not much of a choice).

”She was very intelligent and gentle and said, "O Auwloh's Messenger, I had
hoped for Islam, and I confirmed you before your invitation. Now when I have
the honour to be in your presence, I am given a choice between kufr and Islam I
swear by Auwloh, that Auwloh and His Messenger is dearer to me than my own
freedom and my joining with my people." [Tabaqat].
(Was this confession, if true, sincere? Was she safe to speak out her mind? She
was enslaved by a man who had exterminated her family and could do with her
the same. See the reference made to her "freedom". This shows clearly that she
was not free. In fact she must have been very intelligent to fabricate those lies
to save her own life. )

"Ketika Safiyah menikah, ia sangat muda, hampir 17 tahun, sangat cantik. Bukan
hanya ia sangat mencintai Muhammad iapun sangat menghormati kenabiannya
karena sebelum menikah, ia telah mendengar pembicaraan ayah dan pamannya
tentang Muhammad ketika ia baru saja mengungsi ke Medinah. Salah seorang
berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang dia?”, jawabnya, ”Ia adalah benar
nabi yang telah diramalkan oleh kitab kita”, lalu yang lain berkata, “Lalu apa
yang harus dilakukan?” Jawabannya adalah mereka harus menentangnya
sekuat tenaga. " [Tabaqat].

(Masuk akalkah cerita ini? Bagaimana mungkin 2 orang Yahudi yang mengenali
Muhammad sebagai seseorang yang diramalkan dalam kitab mereka (TAURAT)
dan kemudian memutuskan untuk MENENTANGNYA? LOGISKAH INI? Bukan
hanya itu, dimanakah dalam Taurat disebut tentang Muhammad? Bagaimanakah
caranya paman dan ayah Safiyah dengan mudah menemukan ramalan tersebut
dalam kitab mereka sedangkan selama 1400 tahun kaum terpelajar muslim tak
mampu menemukannya?)

”Safiyah kemudian sadar akan kebenaran nabi. Dengan suka rela ia merawat,
menyediakan kebutuhan dan menyenangkan nabi dengan berbagai cara. Hal ini
jelas terlihat pada saat kedatangannya kehadapan nabi saat jatuhnya Khaibar.”
[Tabaqat].
(Anda tidak melihat pernyataan-pernyataan bertentangan sang penulis muslim?
Tadinya ia mengatakan bahwa Safiyah ditawan dan diserahkan pada Muhammad
sebagai tawanan. Itu berarti Safiyah tidak datang dengan sukarela, namun ia
dibawa ke hadapan sang nabi karena dia masih muda dan tercantik diantara
tawanan lainnya).

Bukhari juga mencatat pertemuan Muhammad dengan Safiyah dan pertempuran


Khaibar dalam hadis. Dinarasikan oleh 'Abdul 'Aziz: "Kata Anas, ketika nabi
menyerbu Khaibar orang-orang di kota berseru “Muhammad dan pasukannya
datang.” Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan
harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan,
membantai anak-anak keturunan mereka dan mengumpulkan para perempuan
menjadi tawanan.. (Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512).

Kemudian Dihya datang menghadap nabi dan berkata, “Oh Nabi Auwloh!
Berikan aku seorang budak perempuan dari para tawanan.” Nabi berkata,
“Pergilah dan ambil budak perempuan yang mana saja.” Ia lalu mengambil
Safiya bint Huyai. Namun seorang pria datang pada nabi dan berkata, “Oh nabi
Auwloh, kau memberi Safiya bint Huyai pada Dihya, sedangkan ia adalah istri
pemimpin suku Quraiza dan An-Nadir, ia seharusnya adalah milikmu.” Maka nabi
berkata, “Bawa dia bersamanya.” Maka Dihya pun datang bersama Safiya, dan
nabi berkata, “Carilah budak perempuan lain dari antara para tawanan.”
Kemudian nabi mengambil dan mengawini Safiya bint Huyai.

Thabit lalu bertanya pada Anas, “Apa mahar yang diberikan sebagai mas
kawinnya?” Ia berkata “dirinya sendiri merupakan mahar yang harus dibayar
ketika nabi menikahinya. Di perjalanan Um Sulaim mendandaninya untuk
upacara pernikahan, dan malamnya ia langsung diantar sebagai pengantin untuk
nabi.” (Sahih Bukhari 1.367)

Mahar adalah uang yang diterima pengantin perempuan dari pengantin pria saat
pernikahan. Muhammad tidak membayar mahar karena ia harus membayarnya
pada dirinya sendiri karena menikahi seorang budak. Tentu ironisnya adalah ia
tidak membeli Safiyah, namun memang memperbudaknya dengan cara
menyerbu kota kediamannya. Kisah ini sangat signifikan dalam menilai moral dan
etika dari seorang abdi Tuhan.

Kisah yang membuat kita miris mendengarnya pada jaman sekarang, namun
lagi-lagi Muhammad mengejutkan kita dengan ajarannya bahwa dengan
menikahi Safiyah dia akan menerima dua imbalan. Pertama, dengan menghindari
mahar karena menikahi gadis budak yang diperbudaknya sendiri dengan
sengaja, kedua ia dapat menikahi gadis tercantik yang 40 tahun lebih muda
darinya. Abu Musa pun melaporkan bahwa menurut Muhammad barangsiapa
yang membebaskan seorang budak dan menikahinya, ia akan diberi dua
imbalan.

Sdr Pembela, anda mengajukan berbagai pertanyaan;

1. Apakah anda setuju bahwa mempersoalkan masalah poligami di tahun


2003 ini, kemudian memperdebatkan masalah praktek perkawinan pada
jaman Arab kuno adalah terlalu berlebih-lebihan?

Saya setuju bahwa standar moral kaum Arab jaman dulu tidak bisa
dbandingkan dengan standar saat ini.

2. Apakah anda setuju bahwa persoalan moral untuk nilai-nilai perkawinan


harus dilihat berdasarkan waktu dan tempatnya dalam sejarah?

Saya menyetujui bahwa tingginya nilai moral seseorang dinilai berdasarkan


masanya dan oleh orang-orang disekitarnya.

3. Apakah anda setuju bahwa penghapusan nilai-nilai perbudakan di negara-


negara maju karena berubahnya nilai moral sejalan dengan berlalunya
waktu?

Saya setuju bahwa nilai moral berubah seperti yang telah dikatakan pada
bagian 2, juga relatif berdasarkan waktu dan tempat.

4. Apakah anda setuju perkawinan Nabi tidak melanggar nilai moral pada
masanya, dan poligami pada jaman sekarang dilakukan adalah sesuatu
yang hanya dilakukan muslim di desa-desa tertinggal?

Saya tidak mengatakan bahwa tindakan Muhammad menikahi banyak


perempuan melanggar nilai etika pada jamannya. Dan memang benar,
poligami saat ini tidaklah dipraktekkan oleh sebagian besar muslim.

5. Apakah anda setuju bahwa menikahi budak adalah sesuatu yang tidak
menyalahi moral pada 1400 tahun yang lalu, namun ada perubahan besar
pada prakteknya pada jaman sekarang di negara-negara muslim?
Pada akhirnya saya pun mengerti bahwa meniduri gadis budak 1400 tahun
yang lalu di Arabia tidak dianggap imoral. Dan memang benar banyak Negara
muslim tidak memperbolehkannya pada saat ini.

Seperti anda lihat, saya menyetujui seluruh poin anda diatas. Namun saya tidak
menyetujui bahwa argumen anda membebaskan sang nabi dari tuduhan
PEMERKOSAAN.

Inti permasalahan yang anda lewati adalah bahwa Muhammad


mengklaim diri sebagai nabi Tuhan untuk segala zaman dan bagi
semua bangsa. Ia memperkenalkan diri sebagai Nabi Terakhir dan Yang
Terbaik dari semua nabi sebelumnya. Ia bersikeras bahwa ia mempunyai “moral
yang maha mulia” (68:4), dan ia adalah, “contoh yang harus diikuti” (33:21),
“Maha pengampun semua mahkluk” (21:107) dan “Nabi yang paling terhormat”
(81:19). Namun berdasarkan apa yang telah kita telusuri, ternyata tidak begitu
adanya.

Apakah contoh yang diberikan Muhammad dalam kisah Juwairiyah dan


Safiyah sepatutnya diikuti oleh para muslim?

Jika anda menyetujuinya maka para muslim seharusnya menyerang rumah-


rumah non-muslim, membunuh mereka dan memperkosa istri-istri mereka. Jika
anda berkata TIDAK dan tindakan Muhammad pada jaman tersebut tidak dapat
diterapkan pada peradaban sekarang, maka semua ayat yang mengatakan
bahwa kita harus mengikuti contoh Muhammad menjadi tidak berarti, gugur alias
“Batal demi hukum.”

Yang menjadi masalah adalah bahwa orang-orang muslim tidak konsisten.


Apakah kita harus mengikuti contohnya atau tidak? Apakah ia memberi contoh
yang baik bagi kemanusiaan untuk diikuti atau tidak?

Muhammad bukan hanya figur sejarah. Washington mungkin meniduri budaknya.


Pada jaman tersebut mungkin tindakan itu dianggap biasa, namun tidak ada
orang yang mengatakan bahwa tindakannya merupakan contoh yang harus
diikuti UNTUK SEGALA JAMAN DAN BAGI SEMUA BANGSA!

------------------------------------------

KESIMPULAN JAKSA

Pertama, Muhammad BUKAN contoh baik yang harus diikuti. Kedua; ayat Quran
yang menyatakan contohnya harus diikuti atau ia nabi segala jaman adalah
palsu. Oleh karena itu, ini menyebabkan seluruh isi Quran tidak dapat diandalkan
keasliannya dan oleh sebab itu tidak mungkin berasal dari Tuhan (!!!).

Kenapa kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh yang diberikan Muhammad


walaupun ia menyuruh begitu? Apakah sekarang standar moral muslim lebih
tinggi dari Muhammad? Mengapa kita harus mengikuti orang yang standar
moralnya lebih rendah dari kita?

Syukurlah kebanyakan muslim tidak mengikuti contoh Muhammad, walaupun


memang ada yang benar-benar mengikutinya. Osama bin Laden adalah
contohnya, bayangkan apa yang terjadi jika lebih banyak lagi muslim sepertinya
dan menjadi muslim yang sebenarnya.

Muslim yang tidak mengikuti contoh Muhammad adalah muslim yang tidak taat.
Muslim yang taat berbuat banyak hal yang membawa bencana dan perbuatan
setan lainnya. Semakin seorang muslim mengikuti Quran, semakin berbahaya
tindakannya terhadap kemanusiaan. Bukankah ini membuktikan bahwa Islam itu
ajaran SETAN?!

Jika ajaran agama saya menyuruh untuk memerangi tetangga, membunuh,


memperbudak, memperkosa, memukul istrinya atau sebanyak mungkin
tawanan... mengapa saya tidak boleh melakukannya? Mengapa anda kemudian
mengatakan agar kita menggunakan akal-sehat kita sendiri dalam menentukan
perbuatan yang kita anggap baik untuk diikuti. Apakah Tuhan mempermainkan
kita? Saya menyerahkan pada pembaca untuk menilainya.

JADI :

Kegiatan seksual yang tak diinginkan sama saja dengan PEMERKOSAAN.


Dapatkah anda menjelaskan bagaimana caranya budak tahanan perempuan
yang kebebasannya telah direnggut secara paksa DAPAT MENOLAK HUBUNGAN
SEKSUAL?
BAGIAN IV
PEMERKOSAAN
(Bagian 2)

Dari Pembela; Raheel Sjahzad

Kepada para Jury,


Jawaban atas bagian III dan permintaan atas pembatalan tuduhan Jaksa.

Pembela meminta pembatalan terhadap kasus dengan dasar bahwa tuduhan Mr.
Ali Sina sendiri memberatkan dan menyesatkannya. Pembela juga menuntut
untuk mengetahui maksud sebenarnya Jaksa Penuntut.

Dasar tuntutan saya adalah dua pernyataan Jaksa Penuntut;

1). Jaksa menyatakan bahwa “Bukhari, biografer terkemuka tentang


Muhammad, menuliskan kisah tentang penyerbuan terhadap Bani al-Mustaliq
yang dipaparkan dalam hadis.” Pernyataan ini membuktikan ketergantungan
Penuntut pada biogafer ini dan melandaskan semua tuntutannya berdasarkan
hadisnya.

Namun kemudian Jaksa mengatakan dalam pembahasannya pada kasus


Juwairiah bahwa “Semua kisah tentang Juwairiyah bercampur antara fakta
kebenaran dan hiperbola, yang selalu terdapat dalam semua kisah dalam hadis.”

Pertentangan kedua pernyataan ini memperlihatkan bahwa Penuntut


menggunakan hadis semau-maunya. Disatu pihak ia mengutip dari Hadis, dilain
pihak ia menganggap hadis bercampur antara fakta dan hiperbola (hal-hal yg
dibesar-besarkan).

Sekarang Pembela akan memberikan versi yang lebih akurat tentang kisah
tersebut, walau Jaksa telah mengatakan bahwa sumber ini penuh dengan
campuran antara kebenaran dan hiperbola. Pembaca dapat menilai sendiri
karena ini adalah versi hadis yang lengkap.

Volume 3, Book 46, Number 717 (Bukhari) dan Book 019, Number 4292:
(Muslim)

Pada peperangan 1400 tahun yang lalu, dalam suatu perang, banyak musuh
dikalahkan, keluarga mereka ditawan dan salah satunya dijadikan istri Terdakwa
(Muhammad). Berdasarkan kisah tersebut, tebusan bagi Juwairiya dibayar dan ia
dibawa untuk dinikahkan.

Pembela tidak akan membahas lebih jauh tuduhan Jaksa karena sangat subyektif
dan tidak berdasarkan bukti-bukti yang kuat. Tentu saja cerita yang tidak akurat
dan di-hiperbola-kan dapat mengandung banyak pengertian. Maka Pembela ingin
menunjuk sekali lagi bahwa kasus poligami adalah tidak relevan.

2). Mr. Ali Sina menulis: “Saya menyetujui bahwa nilai moral seseorang harus
berdasarkan nilai moral yang berlaku saat itu pendapat masyarakat sekitarnya”
dan
”Akhirnya, saya pun menyetujui bahwa meniduri budak bukanlah pelanggaran
moral di masyarakat Arab 1400 tahun yang lalu dan memang benar kebanyakan
Negara muslim tidak mempraktek-kannya lagi.”

Karena pernyataan ini maka saya tidak mengerti mengapa akhirnya Penuntut
masih mempermasalahkan poligami. Oleh karena perbedaan sikap Jaksa ini,
Pembela menginginkan ditutupnya kasus ini.

Terima kasih,
R. Shahzad

-----------------------------------------------------------

DARI ALI SINA KEPADA RAHEEL SJAHZAD

Pembela menyiapkan mosi untuk membatalkan kasus ini atas dasar, apa yang
dianggapnya, "ketidakakuratan bukti-bukti yang disampaikan Jaksa". Oleh
karena itu, katanya, maka seluruh kasus ini harus dibubarkan dan Terdakwa
dinyatakan tidak bersalah.

Jika bukti-bukti ini ditulis oleh musuh-musuh Terdakwa, Pembela bisa saja benar.
Ketidakakuratan penyataan dapat saja djadikan dasar untuk membubarkan kasus
ini, khususnya jika bukti tersebut adalah campuran fiksi-fakta dan hiperbola.

Namun kisah historis yang dipaparkan sebagi bukti ini bukanlah ditulis oleh
musuh Muhammad. Ini merupakan pengakuan dari para pengikut setianya. Tidak
ada alasan bagi mereka untuk menuduh atau memfitnah pemimpin yang mereka
cintai melakukan perilaku kriminal seperti pemerkosaan, pembantaian suatu suku
bangsa, penyiksaan, pelecehan anak secara seksual, perbuatan cabul, atau
pembunuhan terencana. Yang biasa dilakukan pengikut suatu aliran agama
adalah turut membesar-besarkan kemampuan pemimpin mereka sebagai
manusia yang superior, seperti
nabi dari Auwloh misalnya. Apalagi
jika ia sendiri yang mempengaruhi
mereka dengan mengatakan
bahwa ia memiliki moral yang
paling luhur sekaligus rahmat bagi
alam semesta.

Penuntut menganggap Bukhari


sebagai penulis biografi
Muhammad terkemuka karena
memang begitulah para muslim
menilainya. Bukunya merupakan
sumber Sunnah dan merupakan
tulang punggung Syariah. Buku-buku tersebut juga merupakan sumber sejarah
berharga tentang pribadi Muhammad. Buku-buku tersebut dibaca dan diikuti oleh
sebagian besar pengikut Islam selama 1400 tahun. Tanpa adanya buku tersebut,
praktek Syariah dan pemahaman yang tepat terhadap Quran mustahil dilakukan.
Ritual sholat, puasa, dan naik haji yang merupakan pilar Islam digambarkan
dalam Hadis-hadis tersebut. Tanpa hadis, mempraktekkan Islam adalah suatu
yang mustahil. Faktanya adalah, tanpa Hadis, maka eksistensi historis
Mumamad sangatlah diragukan.

Buku-buku Bukhari dan Muslim mengandung banyak inkonsistensi, hiperbola dan


campuran antara fakta dan dusta. Hal tersebut adalah karena kecintaan
mendalam terhadap pemimpin mereka. Muhammad menganggap dirinya sebagai
pusat alam semesta, penghubung satu-satunya antara manusia dengan Tuhan
dan, (menurut hadis dari Iran) merupakan satu-satunya alasan Tuhan
menciptakan alam semesta ini. Konsep yang sama dapat ditemui dalam Quran
dan hadis ketika ia sendiri berkata, “Nabi lebih dekat pada para pengikutnya
dibandingkan kedekatan mereka dengan diri mereka sendiri dan para istri nabi
adalah ibu mereka.” (33:6)

Memang sudah biasa jika pengikut agama berbohong untuk membesar-besarkan


status pemimpin mereka dan membuat kisah-kisah luar biasa untuk lebih
menggambarkan kharismanya. JADI tidaklah mungkin jika mereka membuat
kisah untuk menyerang nabi tercinta mereka. Jika memang cerita-cerita yang
memberatkan Muhammad memang ada, tidak masuk akal untuk meragukannya.
Meskipun detailnya berbeda-beda, namun fakta bahwa banyak orang
menarasikan kisah-kisah tersebut merupakan bukti kuat akan kebenarannya.

Pembela tidak sanggup menangkis semua tuduhan tersebut, namun malah


meminta ditolaknya bukti-bukti ini karena saya, Jaksa, dianggap meragukan
kebenaran Hadis. Bukankah Hadis-hadis ini telah dikatagorikan Sahih? Jika
ternyata memang tidak benar, mengapa selama 1400 tahun tidak ada yang
menyanggahnya? Mengapa kisah-kisah ini ternyata terus berulang dalam
sumber-sumber yang berbeda? Hadis mengandung banyak sekali nama orang-
orang dan tak mudah untuk dikategorikan palsu. Dan akhirnya, mengapa
pengikutnya harus menulis kisah-kisah yang mempermalukan nabi yang sangat
mereka cintai?

Kami mempunyai bukti yang cukup dari Quran maupun Hadis untuk menuduh
Terdakwa dan menyatakannya bersalah terhadap semua dakwaan, termasuk
kasus PEMERKOSAAN yang telah memberatkannya di BAGIAN III persidangan
ini.

-|-

Pembela juga nampaknya bingung dalam menanggapi pernyataan Jaksa :

a]. Muhammad menyatakan bahwa ia bermoral luhur dan memberi contoh yang
baik untuk diikuti.

b]. Muhammad mengikuti contoh masyarakat pada masanya, yang dia sendiri
mencapnya sbg JAHILIYAH. Bukannya ia memberikan contoh yang lebih baik
tetapi ia malahan mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk orang-orang yang
semestinya harus dia bimbing.

c]. Hasilnya; pengikutnya menjadi bingung dan mempercayainya dalam segala


hal (i) dan mereka mengikuti contohnya, (ii) Karena itu, timbullah praktek-
praktek jahiliyah yang sekarang diikuti oleh milyaran orang yang tertipu karena
Muhammad sendiri mengatakan bahwa ia adalah contoh yang baik untuk diikuti.
Muhammad bukanlah pembaharu dan contoh yang baik untuk diikuti, ia
hanyalah pengikut dan pelaksana dari suatu budaya barbar yang telah ada.

Berdasarkan bukti-bukti ini, Terdakwa harus pula dinyatakan bersalah melakukan


pembohongan luas (kebohongan publik), memberi contoh yang buruk, dan
menyesatkan para pengikutnya. Alasan yang menyatakan bahwa ia hanya orang
yang mengikuti budaya pada jamannya adalah alasan yang tak dapat diterima.
Ia adalah orang pada jaman tersebut yang turut mengikuti perbuatan jahiliah
orang-orang pada masanya, namun malah mengaku mempunyai standar moral
yang lebih tinggi dan merupakan suatu contoh yang harus diikuti sepanjang
masa. Oleh karena itulah ia telah menyesatkan pengikutnya, dan menipu
mereka.
Ini tentunya adalah tuduhan tambahan, berbeda dari tuduhan PEMERKOSAAN
yang sedang dibahas dan pasti ditolak oleh Pembela yang sibuk menghalang-
halangi pengesahan bukti-bukti dan pengakuan dari pengikut setia Muhmmad
sendiri.

Jaksa selesai dan menghimbau juri untuk menyatakan Muhammad bersalah atas
tuduhan PEMERKOSAAN dan atas tuduhan MEMBOHONG bahwa ia adalah wakil
umat manusia (atas klaim-nya sebagai contoh yang baik dan bermoral luhur).

Jika pembela setuju, maka kita dapat menutup kasus ini dan berlanjut kepada
topik lain.
BAGIAN V

PERKOSAAN
(Bagian 3)

DARI RAHEEL SHAHZAD

Yth Ali Sina,

Penuntut menuduh, almarhum Tertuduh (Muhammad) melakukan perkosaan.


Hal ini harus berdasarkan bukti. Tidak pernah ada tuduhan langsung yang dibuat
oleh korban terhadap Tertuduh. Lagi pula Quran menuliskan bahwa kasus
perkosaan membutuhkan 4 saksi mata (Quran tidak digunakan untuk membela,
hanya menyatakan persyaratan).

Jika Penuntut mempergunakan tulisan biografi (hadis) Bukhari dan Muslim, maka
dia harus menerima secara keseluruhan atau menolak mereka sama sekali. Tidak
bisa mempergunakan mereka sambil meragukan mereka sebagai saksi. Karena
itu Pembela meminta ketegasan dari Penuntut.

Dengan demikian kasus ini hanyalah masalah opini pribadi yang tidak disertai
dengan bukti-bukti pemerkosaan. Jika tuduhan pemerkosaan diajukan maka
perempuan tersebut harus membuat tuduhan. Jika tidak, keputusan yang dibuat
atas tuduhan ini tanpa kehadiran korban. Jika Safiyah “diperkosa,” saya sebagai
Pembela meminta bukti sejarah atas kejadian ini. Jika acuan yang digunakan dari
Bukhari dan Muslim, Pembela ingin menyaksikan buktinya. Jika acuan lain yang
digunakan 1400-1200 tahun yang lalu, Pembela ingin menyaksikannya pula.

Jika proses peradilan ini tidak dapat menunjukkan sumber dimana, digunakan
kata “perkosaan” atau sumber lain yang menunjukkan kata synonim dengan
“perkosaan” dalam kurun waktu seribu tahun yang lalu atau pengakuan dari
Safiyah tentang kejadian perkosaan, maka Pembela akan meneruskan
pembelaan.

Jika Ali Sina (Penuntut) diperbolehkan oleh sidang untuk menggunakan sumber
dari hadis Bukhari dan hadis Muslim, sumber yang sama akan digunakan juga
oleh Pembela. Dengan kesimpulan bahwa kejadian ini lebih mengarah pada
campur tangan dari Tuhan. Dengan demikian jaksa pembela menyimpulkan
seperti yang tercatat dalam Bukhari dan Muslim, kasus urusan pribadi dengan
Juwairiya didalam tenda, tidak menyangkut hubungan sex.

Seperti halnya Penuntut diperbolehkan untuk membuat tuduhan, maka dengan


ini Pembela mengajukan pembelaan terhadap apa yang mungkin terjadi:

Sumber Bukhari dan Muslim tidak menuliskan kata-kata “sex”, hubungan badan,
menggerayangi tubuh atau teriakan histeris. Hanya satu hal yang ditulis yaitu
Tertuduh (yaitu; Muhammad) menginginkan ketenangan, dan Safiyah adalah
tawanan perang dan Tertuduh sudah membayar tebusan terhadapnya kepada
ayahnya. Status “tawanan” sebagai perempuan bebas, yang diberikan oleh
ayahnya setelah menerima tebusan dan dia sendiri telah meminta untuk pindah
ke tempat yang lebih aman, dan Tertuduh khawatir kalau perempuan jelita tsb
(seperti yang digambarkan oleh Penuntut) akan mendapat celaka jika dibiarkan
tanpa perlindungan pada masa yang penuh dengan kekerasan. Dan kemudian
Tertuduh menjelaskan duduk permasalahanya, bahwa tertuduh ingin melindungi
Safiyah karena kecantikannya dapat membawa kemalangan baginya. Yang mana
juga dijelaskan tentang ideologi Islam dan campur tangan dari Tuhan atas
kejadian tsb. Setelah beberapa jam kemudian “tawanan” yang sudah dibebaskan
ini dapat tidur dengan tenang tanpa ada perlawanan. Pagi harinya, ketika
Tertuduh keluar dari tenda, dia melihat penjaga tenda dan bertanya apa yang
telah dilakukan. Penjaga ini menjelaskan bahwa perlunya untuk memberi
keamanan kepada Tertuduh dengan istri barunya. Tertuduh menghaturkan
terimakasih kepada penjaga tsb, dan kemudian memindahkan ketempat yang
lebih aman.

Hari berikutnya “walima,” pesta pernikahan diadakan dan dihadiri oleh banyak
orang. Tertuduh mencintai istri barunya ini, Safiyah, meskipun dia berasal dari
kaum Yahudi, dan mengatakan bahwa Safiyah memiliki hal yang sama dengan
istri-istri lainnya, yang mana membuat mereka cemburu. Sembilan bulan
kemudian Juwairiya tidak melahirkan seorang bayi, yang mana memperkuat
bukti bahwa hubungan sex tidak pernah terjadi.

Ketika masa perang telah berlalu, Safiyah dihormati oleh masyarakat sekitarnya
sebagai seorang istri Tertuduh (Muhammad), dia kemudian menjalani hidup
pernikahan yang normal. Dia tidak pernah menyatakan cerita perkosaan, dan
dengan demikian tidak seorangpun beralasan untuk membuat tuduhan yang
demikian. Tidak ada sumber dari Islam, Yahudi atau Kristen yang mengacu pada
tuduhan ini.

Tertuduh menjadikannya istri sampai ia (Muhammad) meninggal, dan sampai


pada hari tuanya, Safiyah tidak pernah menyatakan bahwa dia pernah
dipermalukan secara sexual dan diabaikan sebagai istri. Safiyah meninggal
dengan tenang, dan sampai saat ini dia termasuk sahabat setia Nabi, karena
pengabdiannya. Safiyah tidak melahirkan seorang anakpun dengan tertuduh.
Jiwanya telah kembali dengan tenang meskipun telah pernah mengalami tragedy
yang mengerikan semasa hidupnya dengan kehilangan orang-orang yang
dicintainya pada masa perang.

Dalam standar kehidupan sekarang, dunia penuh dengan pertentangan


kekuasaan dan tidak ada alasan untuk mempercayai bahwa komunitas 1400
tahun yang lalu hidup penuh ketentraman dan seragam. Seperti halnya sekarang
ini, jaman itu telah ada pertentangan pendapat, perbedaan kepecayaan dalam
banyak hal. Semoga Safiyah mendapat ketenangan abadi. Amin.

Dengan ini Pembela meringkas penolakan kasus pemerkosaan yang dituduhkan,


berdasarkan praduga “urusan pribadi (privacy) di dalam tenda.” Pembela telah
selesai mengajukan pembelaan, selanjutnya tergantung proses peradilan untuk
membuktikan jika pembelaan ini tidak benar adanya. Jika pembelaan ini ditolak,
hal tsb berarti juga menolak tuduhan dari Penuntut. Terserah pada “hakim
kemanusian” untuk memutuskan perkara.

Untuk diketahui selanjutnya, bahwa Pembela menyikapi tulisan di website ini


tentang pernikahan, perbudakan, dan istri-istri Tertuduh, bahwa motivasi dari
Tertuduh adalah untuk melindungi para perempuan dalam kejadian peperangan.
Sedangkan tuduhan dari Penuntut bahwa kejadian tsb berdasarkan motif
“birahi,” terjadinya hubungan badan (sex) dalam perkara ini. Pembela sudah
mengatakan bahwa hubungan badan (sex) tidak terjadi, kecuali dapat dibuktikan
dengan bukti baru dalam bentuk gambar (yang mana pembela sudah
mengetahui bahwa hal itu tidak ada). Dengan ini sebenarnya, Penuntut telah
memperlihatkan kebencian terhadap organisasi agama Islam. Pembela tidak
melihat alasan hakim untuk berpihak kepada Penuntut.

Terimakasih;
Raheel Shahzad.

---------------------------------------------------------

DARI ALI SINA ;

Yth Mr Shahzad,

KESAKSIAN KORBAN
Pembela menyatakan bahwa : karena tidak adanya korban perkosaan yang
memperkarakan tuduhan kepada Tertuduh (yaitu; Muhammad), karena tidak ada
saksi perkosaan, maka kita tidak akan mendapatkan kesalahan pada Tertuduh.

Tujuan pengadilan ini bukanlah untuk menentukan kesalahan Tertuduh untuk


kemudian dihukum. Bagaimana mungkin? Tertuduh sudah mati! Tujuannya
bersifat akademis, kita akan memberikan bukti-bukti bahwa Tertuduh tidaklah
sesuci seperti yang diklaim olehnya sendiri, dan dengan demikian tidak pantas
untuk mengemban tugas yang diakuinya.

Membuktikan kesalahan Tertuduh dalam kasus perkosaan dan kasus lainnya


tidak hanya mempunyai nilai sejarah, tapi juga akan memberi pengaruh sangat
besar pada cara berpikir dan kelakuan berjuta-juta orang saat ini. Hal ini sangat
penting karena kepercayaan (agama) Tertuduh menjadi penyebab pertumpahan
darah, kemiskinan dan kekacauan bagi umat manusia di seluruh dunia. Saat
terungkapnya kebenaran tentang Tertuduh, kepercayaan kepadanya dan kepada
kekerasan ajarannya akan menghilang dan dunia akan menjadi tempat yang
damai untuk semua umat manusia.

Tertuduh mengaku sebagai utusan Tuhan, sangat bermoral dan patut dicontoh.
Dalam pandangan Penuntut, pengakuan tsb adalah tipuan belaka. Proses
peradilan ini berharap untuk mengemukakan alasan keraguan terhadap
Tertuduh, dan membuktikan bahwa ia, Muhammad, bukan orang baik-baik,
tetapi seorang penjahat.

Pembela memberi alasan:


Dalam kasus perkosaan diperlukan seorang korban yang membuat pernyataan
“Saya diperkosa.” Belum pernah ada tuduhan macam ini terhadap Tertuduh.

Pembela jelas tidak benar. Sudah jelas korban tidak lagi hidup untuk bersaksi.
Peran dari Penuntut adalah memberikan bukti-bukti yang masuk akal terhadap
tindakan kriminal ini. Bukti kejahatan ini ditemukan dari PERNYATAAN
TERTUDUH SENDIRI. Peradilan ini menyadari bahwa banyak pernyataan itu juga
tidak benar. Penuntut berusaha untuk memisahkan / mencari kebenaran dari
sedemikian banyak kebohongan dari pernyataan-pernyataan tsb. Dengan
mengenali kontradiksi dari pernyataan Tertuduh, kebenaran akan terkuakkan.

BUKHARI dan MUSLIM

Keberatan Pembela:
"Jika Penuntut menerima Bukhari dan Muslim sebagai dua penulis biografi
terkenal, seharusnya dia menerima sepenuhnya atau menolak sepenuhnya
hadis-hadis mereka. Tidaklah masuk akal untuk menggunakan dua orang tsb
untuk menjelaskan perkara ini sambil menuduh motivasi kedua orang tsb."
Penuntut menolak keberatan tsb. Penuntut mengetahui Bukhari dan Muslim
sebagai pengikut Muhammad yang setia, karena itu sikap mereka tidak selalu
objektif. Kedua sejarawan ini mengumpulkan cerita-cerita yang keluar dari mulut
para pengikut Muhammad.

Mereka berusaha membuktikan kebenaran cerita tsb sebatas kemampuan


mereka dan mengelompokkannya sebagai 1] Sahih (asli atau dapat diterima), 2]
Hasan (mungkin), 3] Dha’eef (lemah), 4] Dha‘eef Jiddan (sangat lemah), 5]
Mawdhoo (palsu). Mereka hanya memilih Hadis yang Sahih (asli) dan menolak
selebihnya. Hidup mereka didedikasikan untuk mengumpulkan hadis-hadis tsb.

Kepercayaan dan pengabdian pada orang yang mereka percayai sebagai nabi
tidak diragukan disini. Mereka mungkin sangat mempercayai cerita yang dibuat-
buat (palsu) tentang mukjijat nabi tercinta dan melebih-lebihkannya. Sangat
masuk akal. Mereka juga memerinci tindakan kriminal Muhammad dengan
sangat detail. Tanpa adanya tindakan kriminal Muhammad, mereka juga tidak
akan menuliskannya. Karena itu, sangat masuk akal untuk mempercayai cerita
kriminal yang dilakukan Muhammad dan mengabaikan cerita-cerita tentang
kemampuannya melakukan mukjijat luar biasa. Kenyataanya mukjijat yang
dilakukan oleh Muhammad bertentangan dengan Al Quran.

Menurut Al Quran, ketika dia ditanya oleh orang-orang yang tidak percaya
padanya untuk melakukan mujijat ia menjawab:

Q. 17:90 - “Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu


hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami."

Q. 17:93 - Katakanlah: "Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang
manusia yang menjadi rasul?"

Karena itu pengikutnya bisa saja membuat-buat keajaiban dan mengakuinya


sebagai perbuatan nabi yang mereka cintai; mereka memalsu hadis demi
memuliakan nabi. Tetapi mereka tidak memiliki alasan untuk memalsukan cerita
tentang perbuatan kriminal nabi merkea.

SAFIYAH

Mr. Shahzad bercerita tentang SAFIYAH. Shahzad mengakui: bahwa setelah


Muhammad membantai habis semua anggota keluarga Safiyah dan orang-orang
yang dicintainya, Muhammad melihat betapa cantiknya Safiyah dan memutuskan
untuk melindunginya dari kekerasan. Muhammad dalam tendanya menenangkan
Safiyah dan menjelaskan bahwa adanya campur tangan Auwloh dalam kejadian
ini.
Mr. Shahzad menjelaskan mereka tidur bersama dengan tenang dan tidak ada
kejadian apa-apa. Tapi Mr Shahzad tidak menjelaskan mengapa seorang yang
mengaku Rasul Auwloh yang konon mempunyai moral sempurna itu perlu tidur
berduaan dengan perempuan cantik didalam tenda tsb.

Mungkin malam pertama tidak terjadi apa-apa, tapi ini bukan berarti bahwa
Muhammad tidak berusaha memaksakan kehendak kepada perempuan yang
sedang ditimpa kemalangan ini. Cerita berikutnya menjelaskan Safiyah
menunjukkan upaya Tertuduh untuk memaksakan kehendaknya namun ditolak.

”Nabi tidak begitu senang dengan Safiyah, karena dia menolak ketika Rasul
menginginkan untuk berdua dengannya dalam satu kesempatan.”

Pembela mengatakan bahwa tidak ada hubungan sex dengan Safiyah karena dia
tidak melahirkan anak Muhammad. Pada kenyataannya tidak semua hubungan
sex selalu berakhir dengan kehamilan. Jawabannya disini adalah Muhammad
sudah tua dan mungkin saja dia impotent. Dia termasuk orang yang gila sex dan
paling suka bermain sex (dengan meraba-raba) dengan perempuan cantik.
Namun sekian banyak isteri dan gundiknya (pengecualian Mariah) tidak
memberinya keturunan.

Hadis berikut ini memperlihatkan kalau tertuduh sex maniac :

Bukhari Jilid 7 Buku 62 Nomer 6


Dikatakan oleh Anas: Biasanya nabi berkeliling (untuk bermain sex) dengan para
istrinya dalam satu malam, dan ia mempunyai 9 istri.

Meskipun demikian ini bukan berarti Muhammad bisa melayani istri-istri


mudanya. Dia hanya menelanjangi mereka dan bermain sex (meraba-raba saja).

Bukhari Jilid 1 buku 6 Nomer 299


Aisah berkata: Jika Rasul Auwloh ingin bermain sex (meraba-raba) seorang dari
kita selama masa menstruasi, biasanya dia memerintahkan kita untuk
mengenakan Izar (pakaian dalam yang dikenakan dari pinggang ke bawah) dan
mulailah dia bermain sex (fondling) dengannya.” Aisha menambahkan “Tidak ada
dari kamu yang dapat menahan birahi seperti Rasul.”

Seorang laki-laki yang bisa menahan nafsu birahinya tidak perlu berkeliling untuk
bermain sex. Mungkin saja itu yang dikatakannya kepada para istri mudanya,
bahwa sebenarnya Muhammad impoten. Muhammad menikmati permainan sex
dengan meraba-raba perempuan telanjang dan berkhayal sedang bercinta
dengan mereka.

Jilid 7 Buku 71 Mumber 660


Cerita Aisyah: Nabi Auwloh, Muhammad, terkena sihir sehingga ia biasanya
berpikir bahwa ia telah berhubungan sex dengan para istrinya padahal tidak
demikian.

(Sufyan mengatakan: Itu merupakan sihir yang sangat ampuh kekuatannya).

Mungkinkah penglihatan Muhammad akan Jibril merupakan halusinasi juga?


Sudah cukup bukti untuk meragukan kewarasan Muhammad. Kasus ini kita akan
bicarakan dalam lain kesempatan.

Quran ayat 4:24 dan ayat 23:1-7 : Muhammad menganjurkan para pengikutnya
untuk memperkosa para tahanan perang. Adakah manusia normal yang
menganggap perkosaan terhadap tawanan perang sbg hal yang wajar?
Perempuan macam apa yang menginginkan hubungan sex dengan para
pembunuh suaminya, ayahnya, saudaranya atau orang yang dicintainya?

Bukti bahwa Muhammad telah melakukan perkosaan dari cerita Rayhanah,


Safiyah dan Juwairiah dan kenyataannya Muhammad telah mengijinkan untuk
memperkosa perempuan tahanan, sangat jelas diterangkan di Al Quran: Ayat
4:24, ”Juga dilarang bagimu adalah perempuan yang telah menikah, kecuali
mereka yang dimiliki tangan kananm u .”

Ayat 23:1-7 ... Kecuali mereka yang dipersatukan dengan pernikahan, atau
(tawanan) yang dimiliki tangan kananm u , dalam hal ini, kamu tidak dapat
disalahkan. [tidak dapat disalahkan melakukan hubungan sex]

“Kepemilikan tangan kanan” maksudnya adalah para perempuan tawanan


perang. Dari ayat diatas jelaslah terbukti Muhammad menganjurkan perkosaan
terhadap tahanan perang.

Pembela menyatakan Tertuduh menikah dengan Safiyah dan perempuan


tawanan perang lainnya karena alasan untuk melindungi mereka dari kekerasan.
Ini alasan yang memalukan dan mencoreng keadilan.

Jika Tertuduh benar mempunyai ketulusan untuk melindungi perempuan tsb, dia
tidak akan membunuh suami-suami mereka. Peperangan dimulai oleh
Muhammad. Muhammad seorang agresor. Dia menyerang kelompok masyarakat
(sipil) tanpa adanya peringatan, membantai mereka, membumi-hanguskan
tempat tinggal mereka, merampas harta dan kebebasan mereka serta menculik
istri-istri mereka.
Jika Muhammad mempunyai perasaan belas-kasih terhadap para perempuan,
tentu ia tidak akan membunuh para suami mereka dan orang-orang yang
mereka cintai, dia tidak akan memperbudak perempuan, dia tidak akan
membagi-bagikan perempuan tawanan pada pengikutnya, dia tidak mengijinkan
tindakan perkosaan, ia tidak akan memilih yang paling cantik untuk dirinya
sendiri, dia tidak akan memerintahkan perempuan untuk bertelanjang sehingga
ia bisa meraba-raba perempuan tersebut dan dia tidak punya khayalan sex
dengan mereka.

Penuntut berkesimpulan; tidak pantas Muhammad diberi sebutan sebagai orang


yang memiliki belas kasih. Penuntut mempelajari seluruh perjalanan hidup
Tertuduh. Ia adalah seorang yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan,
mengabaikan welas asih (belas kasih), dan tidak memiliki nilai etika.

Namun Penuntut setuju dengan Pembela untuk menutup kasus ini dan
meneruskannya dengan kasus selanjutnya.
Nov 28, 2003

BAGIAN VI

PEDOFILIA
Hum anity vs. M uham m ad bin Abdullah

(YG DITERJEMAHKAN ADALAH BAGIAN JAWABAN ALI SINA kpd RAHEEL SHAHZAD)

RAHEEL SHAHZAD – PEMBELA ;

This post is further to Part 3, in which I presented the case that the merits of
multiple marriages is a nonissue really, because you have gathered a lot of
evidence to support the defendant's multiple wives, and then invoked the
morality and framework of today's societies (especially those of western
hemisphere), and have found defendant guilty of polygamy in 2003. Seperti saya
katakan sebelumnya, baopak2 pendiri Amerika juga memiliki budak, tetapi
mereka tidak pernah dituntut karena rendahnya moral mereka.

The defense hereby submits that the case of practicing polygamy 1400 years and
it being judged on basis of current day norms is not made convincingly, and the
defendant be found not guilty.

The next portion of this case then goes to the heart of one marriage that is the
source of contention and basis for the accusation of pedophilia. To give the
reader some background on this, the basis of the case is that one of the wives of
the defendant was an allegedly immature child of 9 years, and that the
defendant thereby marrying her, practiced pedophilia. The morality of a 53 year
old man marrying a 9 year old has also been invoked.

The defense will present the context of this portion and then go into
counterquestioning to ask the prosector to yield a declaration of principle, based
on which the jury will have to decide this particular aspect.

On this site, one of the articles that is presented by the prosecutor throw the
prosecutor's case into doubt itself, by the sources referenced there. On account
of the discrepancy in the sources, the defense then is free to make objective
disagreement, and since the sources themselves are not in harmony, then the
issue of the exact age is not proven beyond all doubts by the prosecutor.

For that article, please read it here:


Here's the problem with the collection of sources (which are not divine and not
construed as such by muslims collectively, they are historical accounts meant for
the guidance of people today, who also have the collective authority to conclude
the relevance of certain portions in today's world, and if some society wishes to
take a hardline attitude, in respect of that, then it also is a problem for the
societies which accepted it in the first place).

[The sources quoted: Volume 5, Book 58, Number 236: Narrated Hisham's
father: Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He
stayed there for two years or so and then he married 'Aisha when she was a girl
of six years of age, and he consumed that marriage when she was nine years
old.]

Two or so plus 6 = 9#
Rendered Inconclusive, hence the muslims can decipher that she was of a fairly
young age

[Book 008, Number 3311: 'A'isha (Auwloh be pleased with her) reported that
Auwloh's Apostle (may peace be upon him) married her when she was seven
years old, and he was taken to his house as a bride when she was nine, and her
dolls were with her; and when he (the Holy Prophet) died she was eighteen
years old.]

Ayesha 9 at alleged consummation, defendant 53, defendant passed away at 63,


and 9+10=19, but source mentions 18. Inconclusive. Hence reasonableness by
current society is invoked and the source is not denounced, but the hadees
understood to mean that Ayesha was of a young age at marriage. Further, seven
years old then contradicts the previous sahih hadith, thereby both sahih hadees
contradicting each other, and the prosecutor on account of referencing both of
them has brought the accuracy of age into question. To choose one over the
other then is being forced onto the defense

[He married Aisha in Mecca when she was a child of seven lived with her in
Medina when she was nine or ten. She was the only virgin that he married. Her
father, Abu Bakr, married her to him and the apostle gave her four hundred
dirhams.(Ref. 3, page 792)]

The defense has now even more reason to doubt the source as not being
absolutely conclusive. Inconclusive and Incorrect are two different things. Hence
defense does not deny the Hadees, but invokes that the verbage allows some
room for reasonable inference. Hence, since the prosecutor has opened up the
possibility of the exact age being inconsistently listed in the referenced sources,
it can be then reasonably inferred that the exact age is arguable. The defense
then has the liberty to claim that the age being discussed, if ONLY the above
sources are read, falls within a range, and that range
can then also have an additional year or two added. If
9 or 10 can be read, then 10 or 11 or 12 can be read
without being logically completely out of the range
being addressed and context. The defense will then
state for the jury that Ayesha can be portrayed as a
young girl, whose age can fall within a specific range.
If the prosecutor has the liberty to choose the lower end, the defense then has
the liberty to choose the upper reasonable range. By doing so, the defense will
address Ayesha as being a "young girl" of age 12, which 12 also has been
researched by many well intentioned independent scholars and the collective
reasonable person standard is employed, without rejecting the Hadees in totality.
(By some scholars, they come to even 14 also as the age, and the jury needs to
know this aspect about the scholars disagreeing without denouncing Hadees).

If the prosecutor wishes to absolutely claim 9 calendar or lunar years, then the
following will have to be provided in addition to the above sources:

1- The medical records and birth certificate from the hospital where she was
born
2- Her marriage certificate with her date exactly stated
3- Her physical makeup as one of a girl not having reached puberty
4- A distinct source disclaiming that she had not experienced menses at time of
the "consummation" of marriage
5- A historically irrevocable source attesting that she had no mental aptitude or
capacity to object to sex, and in addition, had no ability to be a reasonable wife
to any man of any age.
6- Undisputed sources that the girl's father, mother, the society, both the
opponents of the cause and the proponents alike, objected vehemently to the
event as totally unacceptable

However, if the prosecutor cannot provide any or all of the above, then any text
which tackles the issue of age 1000 or more years after the fact is hereby
discarded by defense too. Charges brought today under a particular constitution
and the defendant charged posthumously under a variant code 1400 years later
is also then looked upon by defense with extreme skepticism. Unless all the
sources combined decisively pin down the exact dates, the defense submits that
the prosecutor is employing selective information to further his point of view,
and is not making a case with clarity and unambiguity.
Furthermore, "consummation" as having meant sexual intercourse, here is being
forced upon the jury also. The defense is not disputing that consummation
cannot mean intercourse, but prosecutor has provided no evidence that
consummation to a 12 year-old actually means intercourse. In fact, the
prosecutor is contradictory in the inferences made on this site. On one hand the
insistence by the prosecutor is that the young girl was immature and playing
with dolls is somehow reflective of her being a child mentally and physically. On
the other hand, she is also being trusted to recall the meaning of
"consummation", no matter at what age the Hadees is attributable to her.
Consummation means intercourse by a reasonable person standard, and the
defense concedes this, but prosecutor has not provided any source that this
intercourse is exactly what she is saying. As a married person myself, without
going into details, and those in jury who are married, can use your imagination
that "consummation" can mean a variety of things on that one night, which you
can always think of as consummation, but the defense is not convinced that all
married people actually do exactly the same things. This is not somehow a play
on your reasonableness, but a statement of fact that the prosecutor cannot make
a convincing case of immaturity and maturity at the same time.

Let's now follow by accepting what consummation is reasonably supposed to


mean, which means the act of performance between a husband and wife. Hence
the prosecutor has invoked pedophilia.

The defense will now present aspects of pedophilia and make the case that it is
being employed incorrectly and that the defendant did not practice it:

Pedophilia is a societal unacceptable practice of an individual who seeks


illegitimate pleasure by having sex with "children"

This definition by itself then needs a few elements to exist, and the absence of
those elements then will mean that the defendant cannot be charged or found
guilty of them. If the prosecutor has some definition of his own, then it needs to
be stated on the site in clarity for the defense to counter it within that context.
Since the prosecutor has not really presented any definition of pedophilia from
any historic source or perspective whatsoever, the use of the word "pedophile" is
entirely based on personal ambiguous definitions, a predisposed bias against all
societies of past and present, without any clear indication given as to what
exactly the "child" aspect meant 1400 years ago.

I will now explore the elements of pedophilia by invoking the definition myself,
since prosecutor has not stated anywhere on site what he means by pedophilia.

The first aspect is one of social acceptability, and here social acceptability does
not mean a universal one too. Just as diets and climates and other factors
dictate people's growth patterns to a certain degree, that society also then has
the right and ability to decipher what remains within reason or surpasses it.
Secondly, Acceptability of a practice universally is not the prerequisite for its
legitimacy within a certain independent society. If women want to live naked in
the Amazon jungle, it’s not illegitimate in the Amazon. A third element, not in
isolation but in addition to first two, is that of the “nature” of illegitimacy or
unethical. Hence that society in which a practice is considered ethical and
legitimate and within the reasonable norm of that particular society, and not in
absolute stark contrast with other societies of present past or future, then has to
be taken into account. And the fourth element then needs to be of the interest of
sexual pleasure, without any consideration of any other objective but to quench
a bodily desire as being the only motive of the person actively involved in
pedophilia or contemplating it. If all four of these elements are not applicable in
combination, pedophilia by definition does not apply.

Universal Social Acceptability (1/2 above): Regardless of the prosecutor's


insistence that moral relativity is a useless philosophy, that does not
automatically render it null and void. Hence if a society accepts certain acts to be
within the realms of reasonableness, and devoid of any shock value or violating a
basic human right to exist, then that society is free to allow the members
practice it freely. This is the basic tenet even of USA that grants many freedoms.
Cannibalism hence will be stopped if found by other parallel societies as of the
same time period based on the shock value it renders to parallel societies. Ethics
also then are of that society alone. Since the prophet's marriage does not have
any convincing source or criticism by the thinkers, writers or intellectuals of 1400
years ago, or even 1200 years ago, then it has to be accepted that marriage to
young girls was an acceptable act and did not rupture the moral fabric of that
time. Mr. Sina then will have to provide convincing, irrefutable evidence from any
source of about a 1400 years ago to convince the defense that a shock value,
displeasure, unacceptability, ridicule, and rejection was associated with the
defendant's marriage to Ayesha. If the prosecutor wants to construct an
imaginary society and then place the defendant in it and create imaginary shock
value, then that is disingenuous. If the prosecutor is invoking pedophilia based
on his perceived definition of some "universal" society, then the jury is being
intentionally misguided.

Unethical or Illegitimate: The societal acceptable act of a marriage between a


man and woman was achieved by the defendant, and is not disputed by the
prosecutor. Sexual aspect is not part of this element. Hence if today a marriage
anywhere is performed by a man to a girl of 3 years old (it IS done in some parts
of India), but the sexual aspect is not realized by the partners until the girl is of
an age where sex can reasonably be expected as a natural outcome of the bond,
then that marriage at 3 years of age by itself is not unethical or illegitimate. If
this does not appeal to someone's advanced sensibilities, it is not the problem of
that society, but of that one person who is shocked at such alleged
"perverseness", according to the one being shocked, and if the prosecutor's
sensibilities are being challenged, and other’s have got the perspective that the
event deserves, then the prosecutor's shock value is largely a product of a
certain brand of indoctrination and a predisposed bias to a certain race, class,
time in history, or an individual such as the defendant. To ask that society which
was not shocked 1400 years ago, to today suddenly come back and display
horror, or to ask a current society which has largely accepted the fact that times
have changed and what was reasonable 1400 years ago has now found a shift in
attitude, is asking almost for the impossible. Differences in ideology is all fine,
but to ask people to take a certain portion of history and denounce the entire
present day fabric, is quite a bit of stretch. Of course that does not mean that
everyone is going to assess the event and take the wisdom from it, but to
denounce an entire ideology by giving reference to a few events, is ambitious at
best.

Sexual Pleasure: By itself, a man or woman deriving sexual pleasure has never
been objectionable by any society. Amongst most societies, marriage is a legal
permission for it, and some societies have adjusted to sex also capable of being
acceptable even without a
legal marriage contract. But
pedophilia is then the
unethical practice of it
being sought from a "child".
But the view of "child" is
also an important part of
the mix. The "child", hence
is not a universal constant
and has never been in any
society. Of course, as I
stated earlier, within
reasonableness, parallel
societies do conform to a
range. A "child" in USA for
example is up to the age of
18 years of age for most
legal situations. This
imposition of a hard
number is done for many
complicated legal
considerations, but biologically this number 18 really has no compulsory basis
whatsoever. It would be foolish to think that at 17 years 354 days a person is a
child, and then the next day he is an adult biologically. If some biological proof
exists that some visible or biological change takes place at the passage of that
one day, then the defense needs to see it. But defense and prosecutor will have
to then agree in absence of such source that 18 years of age as the distinction
between "child" and "adult" is because of the current day requirement of
absolutes required in multiple situations. Driving license for example, can be
given at a recognizable and provable point in a person's life in USA and other
countries. But even in USA, a different limitation exists for various situations
involving age. The defense does not want to explore each and every one of them
and leaves it to the jury to use their judgment. So, in establishment of someone
as a child 1400 years ago, the use of current day 18 or 16 or even 14 year
boundary does not have strong merit.

Hence, if a child has to be called a child, in absence of the current day


availability of age records, then some advent of a biological nature has to be
used to judge that society. For girls, this can be then the onset of the menses
cycle, and for boys can be ability to reproduce, and for both groups can be the
visibility of pubic hair. This is partly one reason in my opinion that holy scriptures
and Hadees have quite a bit of reference to menses. The defense does not want
to explore this graphically anymore to respect the sensibilities of the audience,
but hopefully the gist of the point is understood. All girls can understand when
they first experienced a biological event. This event (the womanhood cycle) is
not the same across the globe even today. Diets and climates, and genetics
make it variable for different parts of the world. Some girls can get the cycle as
early as 8, and some may experience as late as 12.. And then there are probably
some exceptional cases too. The medical community can provide more of this
information. The chest of girls also then not a constant given for each girl. There
are enough girls at 8 who probably have more visible chest than some 16 year
olds. Even in current day USA, you can find some 10 year-old-girls who have all
the characteristics of a well-endowed woman. So instead of exploring this
medical aspect, the defense then leaves it up the imagination of the jury to
understand that girls can be capable of all sexual activity at variable young age.
This young age, if the current societies have delineated as having an exact
number of child/adult, cannot be superimposed for the last x 1000's of years. If
3000 years ago, a girl was considered a "woman" for marriage purposes at the
onset of a biologically visible event, but was a "child" for reference to their
interests in that society (dolls as an example), why the insistence today that they
also should have got their driving licenses at 18? Even today, a 14 year-old-guy
can have sex with another 14 year old girl, but if the guy was 25, it is taken as
statutory rape. But that by itself does not mean that the girl did not have sex or
was incapable in every other way as far as biological performance goes.
Statutory rape is also imposed by western societies for a whole number of
reasons, but once again, to impose this on each and every society past and
present, is the prosecutor's own shock value at work.

Now if the current western societies wish to invoke the "child" concept up to the
age of 18, the defense submits that yes this is necessary today to keep a lot of
things within some measurement, and absence of this will pose huge problems
today. But to take this 18 year rule and also impose it around the world today
and 1400 years ago is subject to the bias of the reader of this defense. Now one
may argue that the one of sources quoted earlier says "child", but then the
defense wants to invoke that the other source says "girl of 9". Hence, it can be
reasonably inferred regardless of girl or child used, at least the implied inclusion
of a biological change%2%2namely the woman cycle, is present. Which then
also means that the girl is physically capable of a sex act and also then capable
of reproducing. If also you took additional changes into account, as I have said
before, some 12 year olds today have all the characteristics of a grown woman.
Since there are not a lot of convincing pictures of Ayesha when she was 10 or 11
or 15, for the prosecutor to imagine that she was of some limited capability
when it came to being a "woman", then also is subject to the prosecutor's own
bias as it relates to girls, and maybe somehow reflective of the prosecutor's
sexual code of acceptance. However, this aspect I am not sure of, hence I take
back my own words about the sexual bias of the prosecutor.
Hence, in the interest of Ayesha, I am not sure if at 12 she actually was not in all
respects a "full" woman. She very well could have been. And could have had
genuine feelings of desire, together with the emotional makeup to maintain a
home. (Sidenote: I have a sister who recently married at the age of 20. Between
13 and about the time she married, I really didn't see much of a difference in
her, if you know what I am referring to. My family waited for a proper match,
but she was just as much of a "woman" at 14 as she is now)

Hence for the prosecutor to give reference to Ayesha as a girl, incapable of


sexual activity and immature to the point of not being capable of deciphering
right from wrong at her marriage "consummation" day, the defense needs
absolute proof. Just the use of "girl" or "child" of 9 or 11 or 12, is not sufficient
for the worldwide jury to accept the prosecutor's version of what a 12-year-old
girl can and cannot do sexually and emotionally. Women are very capable at
young ages too, and to give them some kind of a "stupid" syndrome, especially if
a girl is predisposed to "grow up" fast due to genetics or other factors,
underestimating them. If the prosecutor finds it personally offensive that a 12-
year-old girl can have sex, then that statement needs to be made explicitly.
Otherwise lumping all 12-year-olds of the world into the same exact category,
and passing a judgement, without regard to those girl's biological or mental
makeup, ESPECIALLY of the desert climate and land of 1400 years ago, is also
hereby rejected by the defense as a statement of personal bias and motive as it
relates to sexual activity in girls.

It is understood that at first any news or story of 10 - 13 year old girls creates a
mental picture of a small thin girl who is "babyish", but looking around me, I can
present the jury with enough examples of girls who are capable. We as a
western society obviously want to think in the best way possible, but the world is
not just in the west. So reality of it all is also important.

Hence for the defense to proceed further on the sexual aspect of 10 or 12 year
olds, the prosecutor will have to admit to the following:

"I Ali Sina, hereby declare under penalty of perjury, that I find no reason to
believe that a young girl of 10 11 or 12, and for purpose of clarity, a 'young girl',
is incapable of having sexual orientation or the mental makeup to be a wife of
any man, across the globe, of times both past and present, inclusive of the time
period of 2000 years ago. Further, that I invoke that 18 years be accepted as the
legal age of marriage of Ancient Arabia, and any digression or violation of this,
by any man of any tribe of that time, renders that marriage null and void, and
any children produced as a result and their descendants, are in my view,
illegitimate. If I wish to alter my minimum age limit downwards to accommodate
the customs of Ancient Arabia, I hereby then agree that a downward acceptable
limit that the defense may impose, which may be lower than what I will come up
with, be also as applicable. The minimum age limit, then having been disagreed,
I will make a public statement that the minimum age of marriage of Ancient
Arabia is a nonconclusive issue, and I will then not invoke any source or my
personal opinion as to what the age of Ayesha should have been at time of her
alleged consummation of marriage with the defendant. Also, I will further bring
documented proof that no girl of even present times, even with the legalities of
societies imposed, under the age of 14 has had sex with a male, in the United
States of America."

If Mr Sina makes this claim on the homepage of the website, then the defense
will have to make counterpoints to that also. But if the statement is not made
publicly, on grounds of difference of opinion, then the minimum age of a girl
capable of being a wife of any man, prophet or not, is inconclusive, and since is
subject to the bias and opinion of the prosecutor and the age then subject to the
sensibilities of the reader based on some personal sexual orientation, any
derisive reference of it will be removed from the case.

Also, since the four elements that the defense presented necessary for
pedophilia to exist, and for the prosecutor having presented no convincing
supporting document in establishing the 4 elements in combination, and that the
source used to establish the age by the prosecutor are a source of disagreement
and debate for the jury of which muslims are also a sizeable portion, the
prosecutor will have to remove all references of pedophilia also from the website.
If such mentioning is allowed to continue, the jury should request decisive proof
about the existence of all 4 elements for pedophilia as the defendant is accused
of, and failure to do so, will render the issue as a matter of bias, and not rooted
in sound logic.

-----------------------------------------------------------

[Jawaban]

ALI SINA kepada RAHEEL SHAHZAD

1) Pembela memulai sidang dengan menunjuk bahwa moralitas masyarakat


jaman dulu tidak boleh diterapkan pada moralitas jaman sekarang.

Argumen ini sudah didiskusikan sebelumnya dan kita tidak perlu lagi
memperpanjang masalah ini. Namun perlu saya tambahkan disini bahwa para
bapak pendiri Amerika, walaupun memiliki budak, mereka tidak pernah
terlibat tindak kriminal seperti Terdakwa. Mereka tidak pernah terlibat
pemerkosaan, pembunuhan masal, pembunuhan terencana, genocide,
perampokan, penipuan dan mengumpulkan kekayaan lewat perbudakan dst
dst.

Bapak/ibu pendiri Amerika tidak pernah mengaku sebagai "wakil Tuhan di


bumi" atau "contoh baik" untuk diikuti rakyat atau "memiliki moral
mulia/tinggi" seperti yang diklaim Terdakwa. Bapak/ibu pendiri Amerika itu
adalah orang-orang jujur yang lahir pada suatu masa dimana pemikiran
humanisme masih dalam tahap awal. Mereka berupaya sekeras mungkin bagi
tercapainya masyarakat yang lebih baik, lebih adil berdasarkan hukum.

Terdakwa dilain pihak, mengikuti contoh orang-orang yang dianggapnya


jahiliyah, memberi contoh yang lebih jelek dari pada orang manapun dalam
masanya dan membenarkan tindak kriminal yang paling biadab. Ia
menciptakan sebuah masyarakat yang penuh dengan kekerasan, anti
demokrasi, terbelakang, picik dan mengabadikan kesengsaraan bagi mereka.

Para bapak/ibu pendiri Amerika membuka pintu bagi kebebasan rakyat


mereka dan membantu rakyat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan
yang melebihi bangsa-bangsa manapun didunia. Sementara pengikut
Muhammad terbelenggu dalam kebodohan, fanatisme, kepercayaan buta dan
semakin jauh dari kebahagiaan dan kesejahteraan dengan tujuan mencapai
sebuah surga yang notabene adalah palsu.

Hasilnya kelihatan sekali: Dalam hanya dua abad, Amerika menjadi


superpower dunia yang tidak tersaingi tanpa perlu memperbudak masyarakat
atau negara-negara lain. Namun 14 abad kemudian, para pengikut
Muhammad masih terbelenggu kemiskinan dan tenggelam dalam
kesengsaraan yang mengelilingi mereka dari segala penjuru.

Yang disebut dengan “Golden Age of Islam” dicapai hanya karena orang-
orang Muslim merampas kekayaan finansial & intelektual negara-negara lain.
Muslim menginvasi, merebut, meninggalkan jejak-jejak pertumpahan darah
dan kehancuran. Dan begitu kekayaan itu mereka habiskan, dunia Islam
kembali tenggelam dalam kemiskinan karena memang mereka terbukti tidak
mampu maju ataupun mengikuti perubahan jaman.

2) Pihak Pembela mencoba meragukan otoritas Hadis dan mengatakan: "Inilah


masalahnya dengan koleksi sumber-sumber hadis, yang memang tidak
berasal dari Tuhan dan memang tidak dianggap demikian oleh kaum muslim.
Hadis-hadis ini hanyalah saksi sejarah yang dimaksudkan untuk membimbing
orang sekarang, yang juga memiliki otoritas kolektif untuk memutuskan
relevansinya sekarang. Dan kalau ada masyarakat Islam yang memilih jalan
garis keras, maka ini juga akan menjadi masalah bagi masyarakat yang
menerimanya."

Saya ingin bertanya kepada Pembela; bagaimana sebuah masyarakat Islam


atau seseorang tahu MANA HADIS YANG PERLU DIIKUTI DAN MANA YANG
TIDAK?!?

Apa yang akan kau katakan pada Muslim yang berpendapat bahwa
perempuan memiliki intelektualitas yang defisien (lebih rendah dari lelaki)
atau bahwa anjing hitam harus dibunuh karena IA MEMBACANYA DALAM
HADIS? Apakah anda akan mengatakan bahwa ia salah dan hadis-hadis itu
tidak lagi berlaku? Dapatkah anda jelaskan pula mengapa ia harus percaya
pada anda? Siapa anda sampai merasa memiliki otoritas untuk menentukan
mana hadis yang berlaku dan mana yang ketinggalan jaman? Apakah anda
akan menentukan sirat dan sunah Nabi dengan STANDAR SEKULER ANDA
ATAU STANDAR PERADABAN MASYARAKAT “KAFIR” JAMAN INI?

Kita memiliki dilema. Quran tanpa Hadis membuat kita bingung. Hadis-lah
yang memberikan penjelasan tentang arti Quran. Lalu datanglah Mr.Shahzad
yang mengatakan bahwa Hadis problematik adanya. Ia mengatakan bahwa
masyarakat secara kolektif bisa menentukan mana hadis yang ingin diikuti
dan mana yang tidak. Saya ingin bertanya kepadanya, MEKANISME APA
YANG DIGUNAKAN SATU MILYAR ORANG ISLAM UNTUK MENENTUKAN
MANA HADIS YANG BERLAKU DAN MANA YG HARUS DIBUANG?

Faktanya adalah, tidak ada mekanisme macam itu dan mengganti hadis atau
Quran TIDAKLAH MUNGKIN. Orang bisa memilih untuk tidak mengikuti
bagian tertentu hadis, tetapi tidak ada otoritas dalam Islam yang
menentukannya. Apakah kita memiliki hak untuk menghentikan para mullah
atau teroris Muslim kalau mereka memilih untuk mengikuti ajaran kekerasan
Quran? Lha wong, mereka cuma mengikut agama mereka kok! Bukankah
Islam pecah kedalam ratusan sekte-sekte, yang satu menganggap yang
lainnya murtad, khususnya karena setiap orang memilih dan menolak hadis
dan menginterpretasi Quran semaunya.

3) Mengenai kasus PEDOFILIA, Pembela berputar-putar bahwa Aisha


dibeberapa hadis dikatakan berumur 6 dan di Hadis lain berumur tujuh dan
lalu berkesimpulan bahwa karena teks tentang umur Aisha berbeda-beda
maka mereka "tidak konklusif" dan tidak boleh dipercaya sama sekali. Oleh
karena itu ia mengatakan bahwa umur Aisha bisa jadi lebih tua ketika ia
menikahi Terdakwa.

Pembela menulis: Jika


9 atau 10 bisa
disimpulkan darinya
maka 10 atau 11 atau
12 juga dimungkinkan
... beberapa pakar
malah menyimpulkan
usianya ketika nikah
adalah 14 tahun.

Pembela menuntut
agar Jaksa
menunjukkan surat-
surat medis Aisha,
sertifikat perkawinan
dan sertifikat
pembuktian bahwa
Aisha belum mencapai
pubertas atau belum
menstruasi pada saat
menikah dengan
Terdakwa dan
berbagai tuntutan
tidak masuk akal
lainnya.

Namun saya sebagai Jaksa angkat topi pada Pembela karena ia jelas
menganggap pernikahan dengan anak umur 9 tidak etis dan oleh karena itu
mencoba membuktikan bahwa Aisha sebenarnya lebih tua dari yang dikatakan
hadis. Namun, upayanya ini tidak berhasil. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak
hadis yang mengatakan dengan JELAS bahwa usia Aisha ketika dicalonkan
kepada Muhammad adalah ENAM, dan SEMBILAN tahun ketika hubungan
(badan) perkawinan dimulai.

Sahih Muslim Book 008, Number 3310:


'A'isha m engatakan: rasulullah (saw ) menikahi saya ketika saya
berusia EN AM TAHUN dan saya m asuk rum ahnya ketika saya
SEM BI LAN TAHUN .

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64


Diriwayahkan 'Aisha: bahwa nabi menikahi saya ketika saya berumur ENAM dan
ia melaksanakan perkawinan itu saat saya SEMBILAN TAHUN, dan kemudian ia
tinggal bersama nabi selama sembilan tahun (yaitu sampai kematiannya).

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65


Diriwayahkan 'Aisha: bahwa nabi menikahinya saat ia ENAM TAHUN dan ia
melaksanakan perkawinan saat ia SEMBILAN TAHUN. Hisham mengatakan: Saya
diberitahu bahwa 'Aisha tinggal bersama nabi selama 9 tahun ...'

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88


Diriwayahkan 'Ursa: Nabi menulis kontrak per-kawinan dgn 'Aisha saat ia ENAM
TAHUN dan melangsungkan perkawinan dgnnya saat ia SEMBILAN TAHUN dan ia
tinggal dgn nabi selama 9 tahun ...

Ada muslim yang bersikeras bahwa Abu Bakr yang mendatangi Muhammad dan
memintanya mengawini puterinya. Ini jelas tidak benar dan ini buktinya.

Sahih Bukhari 7.18 = Narrated 'Ursa:


N abi m em inta Abu Bakr bagi ijin perkaw inan dgn 'Aisha. Abu Bakr
m engatakan "TETAP I SAYA SAUDARAM U." N abi m engatakan, "K AU
SAUDARA SAYA SE-UK UW I YAH, TETAP I I A (Aisha) HALAL BAGI SAYA
utk saya kaw ini."

Lihatlah bagaimana Muhammad melanggar semua adat/peraturan kaum Arab


setiap kali dianggapnya menghalangi mencapai keinginannya. Abu Bakr (ayah
Aisha) dan Muhammad terikat janji persaudaraan. Jadi menurut adat, Aisha
seperti sepupu Muhammad. Namun itu tidak menghalanginya untuk dijodohkan
pada Muhammad saat ia berumur ENAM tahun. ANEHNYA, nabi penganut
relativisme moral ini menggunakan alasan yang sama untuk menolak perempuan
yang dianggapnya kurang muda atau kurang cantik baginya.

Sahih Bukhari V.7, B62, N. 37


Narrated Ibn 'Abbas: Dikatakan kpd Nabi, "M engapa kau tidak m enikahi
puteri Ham zah"? Ia menjawab, "I a adalah sepupu angkat saya (puteri
kakak saya). "
Hamza dan Abu Bakr keduanya seperti saudara terhadap Muhammad. Namun
Aisha pasti lebih sedap di mata Nabi dan tidak ada salahnya Nabi melanggar
kode ektik dan adat masyarakatnya itu.

Dalam hadis berikut, Muhammad mengatakan pada Aisha bahwa ia


mendapatkan mimpi tentangnya sebelum meminta ayahnya untuk
mengawinkannya. Ini benar mimpi atau cuma dalih untuk membohongi anak
ingusan?

Sahih Bukhari 9.140


Narrated 'Aisha: Rasulullah mengatakan kpd saya, "Kau dipertunjukkan dua kali
kpd saya (dlm mimpi) sebelum saya menikahimu. Saya melihat bidadari
menggendongmu dlm selendang sutera dan saya mengatakan kpdnya,
'Tunjukkanlah ia,' dan lihatlah, ternyata itu kau.
Saya katakan pada diri saya sendiri, 'Jika ini dari Auwloh maka terjadilah.' "

Ini hadis yang secara eksplisit menunjukkan umur Aisha pada saat
perkawinannya.

Sahih Bukhari 5.236. = Diriwayatkan ayah Hisham:


Khadijah wafat 3 tahun sebelum nabi berangkat ke Medinah. Ia tinggal disana
selama 2 tahun dan ia menikahi 'Aisha ketika ia gadis EN AM TAHUN dan ia
melangsungkan perkaw inan ketika ia SEM BI LAN TAHUN . (Note: bedakan
antara “nikah” dan “kawin”).

Sahih Bukhari 5.234


Diriwayahkan Aisha: Nabi bertunangan dgn saya ketika saya gadis berusia
EN AM TAHUN . Kami pergi ke Medinah dan tinggal di rumah Bani-al-Harith bin
Khazraj. Lalu saya jatuh sakit dan rambut saya rontok. Kemudian rambut saya
tumbuh kembali dan ibu saya, Umm Ruman, datang kpd saya selagi saya
berm ain di ayunan dgn teman-teman perempuan saya. Ia memanggil saya
dan saya mendatanginya, tidak tahu apa yg diinginkannya dari saya. Ia
memegang tangan saya dan membuat saya berdiri di pintu rumah. Saya tidak
dapat bernafas dan setelah pernafasan saya normal kembali, ia mengambil air
dan menggosok muka saya dgn air. Lalu ia membawa saya masuk rumah.
Didalam rumah saya melihat beberapa perempuan Ansar yg mengatakan,
"Selamat dan rahmat Auwloh besertamu ..." Lalu ibu mempercayai saya kpd
mereka dan mereka mempersiapkan saya (bagi perkawinan). Tidak disangka,
Rasulullah datang siang hari itu dan ibu saya menyerahkan saya kepadanya dan
pada saat itu saya berusia SEM BI LAN .
HANYA DALAM SATU HADIS SAJA UMURNYA DIKATAKAN "TUJUH ATAU ENAM".

Sunan Abu-Dawud Book 41, Number 4915, also Number 4915 and Number 4915
Diriwayahkan Aisha, Ummul Mu'minin:
Rasulullah (saw) menikahi saya saat saya tujuh atau enam . Ketika ia tiba ke
Medinah, beberapa perempuan mendatangi. Menurut versi Bishr: Umm Ruman
datang kpd saya saat saya berm ain di ayunan. Mereka membawa saya,
mempersiapkan dan mendandani saya.
Saya lalu dibawa ke Rasulullah (saw) dan ia tinggal bersama saya ketika saya
SEM BI LAN ....

Dalam hadis diatas kita membaca bahwa Aisha bermain dalam ayunan. INI
BUKAN MAINAN PEREMPUAN DEWASA. Hadis diatas menyebut Terdakwa
"hidup bersama" dengan Aisha pada saat ia berusia 9. Dan usia nikah disini
disebut 6 atau 7. Usia 6 atau 7 tidak beda jauh. Biasanya orang tidak pernah
mengingat usia persisnya pada peristiwa-peristiwa penting. Jadi mengatakan
umur Aisha 6 atau 7 tidak sama dengan 10 atau 12 atau malah 14 tahun, seperti
yang dipaksakan Pembela.

Hadis berikutnya menunjukkan Aisha sedang bermain dengan bonekanya.

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151


Narrated 'Aisha: Saya biasanya m ain dengan boneka dihadapan nabi, dan
teman-teman perempuan saya juga sering bermain dgn saya. Ketika Rasuloullah
memasuki rumah kami, mereka biasa-nya menyembunyikan diri, tetapi nabi
biasanya memanggil mereka utk bergabung dan bermain dgn saya.

Menurut adat Arab, bermain dengan boneka atau benda-benda yang mirip orang
dilarang, tetapi tidak bagi Aisha karena ia masih anak kecil, belum mencapai
pubertas. Fateh-al-Bari page 143, Vol.13.

Saya, Jaksa, oleh karena itu menyampaikan hadis diatas ketimbang tuntutan
aneh Pembela berupa sertifikat kelahiran. Aisha masih anak-anak saat ia ber-
main dengan boneka dan ayunan dan belum meraih pubertas. Surat medis atau
sertifikat tidak diperlukan jika kita memiliki bukti diatas.

Sahih Muslim Book 008, Number 3311


'A'isha melaporkan bahwa rasulullah (saw) menikahinya saat ia TUJUH TAHUN ,
dan ia dibawa kerumahnya sbg pengantin sbg pengantin ketika ia berusia
SEMBILAN, dan boneka-bonekanya bersamanya, dan ketika ia (nabi) wafat,
Aisha berusia DELAP AN BELAS tahun.

Khadija adalah isteri pertama Muhammad yang meninggal bulan Desember, 619.
Pada saat itu, Muhammad yang lahir tahun 570 AD berumur 49 (hampir 50)
tahun. DUA BULAN setelah kematian Khadija, MUHAMMAD MENIKAHI
SAW DA DAN PADA SAAT YANG BERSAMAAN DIJODOHKAN PADA
AI SHA . 3 tahun kemudian ia melangsungkan perkawinannya dnegan
Aisha YANG KETIKA ITU MASIH BERUMUR 9 TAHUN.

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 33


Narrated 'Aisha: Saya belum pernah iri terhdp perempuan selain terhdp
Khadijah, walau ia wafat TI GA tahun sebelum nabi menikahi saya.

Dalam bagian lainnya, Aisha mengatakan bahwa sejauh ingatannya, orang


tuanya selalu Muslim.

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 245


Narrated 'Aisha: Saya tidak pernah mengingat orang tua saya mempercayai
agama selain Islam,..

Ini juga bukti bahwa Aisha dilahirkan dari Abu Bakr dan isterinya setelah mereka
masuk Islam. Oleh karena itu ia tidak bisa lebih dari 9 atau 10 tahun usianya
ketika menikah dgn Terdakwa (Muhammad).

4) Pembela Terdakwa lalu menanyakan arti "hubungan" perkawinan


(consummation of marriage) dan menyatakan bahwa Jaksa Penuntut
memaksakan kepada Jury pengertiannya sendiri.

Jaksa tidak sedikitpun


berusaha memaksakan
definisinya kepada arti sebuah
kata, namun ini hanya
menunjukkan kesediaan
Pembela untuk memaksakan
pemikirannya guna
membantah fakta dan
kebenaran.

Pembela mengatakan bahwa


hubungan perkawinan bisa
berarti hal-hal lain dan bisa
jadi Aisha menganggap
"hubungan perkawinan"
bukan hubungan seksual.

Saudara-saudara, hubungan perkawinan hanya berarti satu hal. Pembela jelas


memberikan arti lain. Bahkan kalau ia menganggap hubungan perkawinan hanya
sebatas pada "meraba-raba" (karena Aisha sering melaporkan bahwa
Muhammad meraba-raba para isterinya), MERABA-RABA ANAK DIBAWAH UMUR
ADALAH PEDOFILIA! INI MENJIJIKKAN, MEMUAKKAN DAN HARUS DIHUKUM.

Terlepas apakah Abu Bakr atau masyarakat jahiliyah ketika itu menyetujui
"hubungan perkawainan" tsb, INI TIDAK MELOLOSKAN TERDAKWA DARI
KEJAHATAN PEDOFILIA. Ia seharusnya memberi CONTOH YG LEBIH BAIK!

Pembela lalu memberikan definisinya sendiri tentang pedofilia dan menetapkan 4


kriteria dan berdasarkan kriteria tersebut Terdakwa bukan Pedofil.

Jaksa tidak akan mengupayakan definisinya sendiri namun memanggil kesaksian


para pakar. Menurut (kamus bahasa) Dictionary.com PEDOFILIA adalah:
TINDAKAN ATAU KHAYALAN ORANG DEWASA SEHUBUNGAN DGN AKTIVITAS
SEKSUAL DENGAN ANAK ATAU ANAK-ANAK.

Menurut Paul A. Gore, Ph.D. dari University of Missouri-Kansas City, PEDOFILIA


MELIBATKAN RANGSANGAN SEKSUAL DAN KEINGINAN ATAU
KHAYALAN YANG MELIBATKAN IMPULS SEKSUAL TERHADAP ANAK-
ANAK DIBAWAH UMUR. SANG PEDOFIL HARUS BERADA DIATAS USIA
16 DAN ATRAKSI SEKSUAL HARUS MELIBATKAN ANAK BERUMUR 13
ATAU LEBIH MUDA YANG PALING SEDIKIT 5 TAHUN LEBIH MUDA DARI
ORANG DEWASA TSB.

SANG PEDOFIL BERTINDAK UNTUK MEMUASKAN IMPULS SEKSUAL


ATAU FANTASI DAN/ATAU RANGSANGAN SEKSUAL YANG MENGGANGU
INDIVIDU TSB. SANG PEDOFIL TERANGSANG SECARA SEKSUAL
KARENA KORBANNYA SEORANG ANAK, TERLEPAS DARI JENIS
KELAMIN ANAK ATAU PEDOFIL TSB.

"Pedophilia involves reoccurring sexual arousal and desires or fantasies involving


sexual impulses toward a pre-adolescent child or children. The pedophile must
be above age 16, and the sexual attraction must involve a child of age 13 or
younger who is at least 5 years younger than the adult.
A pedophile has either acted on these sexual impulses, or the fantasies and / or
sexual arousal and impulses disturb the individual. The pedophile is sexually
aroused because the child is a child, regardless of the pedophile's sexual
orientation, or the child's gender."

Oleh karena itu orang tidak perlu mengadakan hubungan seksual untuk
memenuhi persyaratan sebagai seorang pedofil. Bahkan memiliki khayalan
seksual saja dengan anak dibawah usia 13 sudah termasuk definisi pedofilia.

MUHAMMAD BERUMUR 54 (bandot tua) saat ia mengadakan hubungan SEX


DENGAN AISHA yang HANYA BERUSIA 9 TAHUN (bahkan usia ABG juga belum).
Definisi manapun dan kapanpun menganggap ini P-E-D-O-F-I-L-I-A. Penetrasi
kelamin secara aktual tidak harus terjadi untuk membuktikan bahwa Terdakwa
adalah seorang PEDOFIL.

Kemakluman masyarakat juga bukan alasan kuat. Masyarakat jaman dulu


memang jahiliyah dan biadab. Malah ada masyarakat yang menganggap korban
manusia normal dan bahkan mempraktekkan kanibalisme. Ini bukan alasan
untuk percaya bahwa tindakan ini benar di jaman manapun APALAGI SEORANG
NABI masyarakat tersebut yang mempraktekkan tindakan biadab itu TIDAK
MUNGKIN SEORANG NABI UTUSAN TUHAN.

Muhammad menganggap diri sebagai pembawa pesan dari Sang Pencipta Alam
Semesta. Ia menganggap diri penunjuk jalan umat manusia. Katanya sendiri, ia
memberikan contoh bagi seluruh umat manusia. Bahkan jika PEDOFILIA
berlangsung dalam masyaraktnya jaman itu, ia seharusnya TIDAK
melakukannya.

Kami disini tidak saja untuk mengutuk


Muhammad namun membebaskan
orang-orang dari kepercayaan yang
diciptakannya. Saya harap Muslimin
dimanapun akan mencari kebenaran dan
menyadari bahwa mereka telah
dibohongi oleh seorang tukang tipu
jahanam. Mengikuti kepercayaan ciptaan
orang macam itu tidak akan mengantar
siapapun ke surga. KECUALI AUWLOH
ITU SETAN, TIDAK ADA TUHAN YANG
AKAN MENGUTUS ORANG DENGAN
MORAL YANG SEDEMIKIAN RENDAH ITU
UNTUK MENJADI PENUNJUK JALAN
UMAT MANUSIA.

Pembela melanjutkan :
"Karena 1400 tahun lalu tidak ada pakar
atau penulis yang menganggap
pernikahan dengan seorang gadis
dibawah usia pubertas itu salah, maka
harus diterima bahwa perkawinan
macam itu adalah KELAKUAN YANG BISA
DITERIMA DAN TIDAK
MENGHANCURKAN MORALITAS
MASYARAKAT JAMAN ITU."
Walau saya tidak memiliki sertifikat pernikahan utk membuktikan usia Aisha 9
tahun, sejauh yang saya tahu tidak ada satupun dokumen sejarah yang
menyatakan bahwa perkawinan dgn anak-anak dibawah umur DIANGGAP
NORMAL. Rakyat beradab seperti Persia (saya sendiri orang Persia) tidak pernah
mempraktekkan hal itu.

Sekarang ini di Iran, banyak gadis dibawah umur dan negara-negara Islam
lainnya menjadi korban sunnah ini. Khomeini menurunkan batas perkawinan
menjadi 9 thn ketika ia memegang tampuk pimpinan. INI merupakan
LEGALISASI PEDOFILIA SECARA MASSAL! DAN INI TERJADI DI KEBANYAKAN
NEGARA ISLAM. Dan muslim hanya mengangguk-angguk sambil mengatakan
"AUWLOHU AKBAR"!!

Untuk itu saya memohon pada Jury, baik Muslim maupun non-Muslim, untuk
secara bulat mengutuk TERDAKWA, MUHAMMAD BIN ABDULAH, karena
memberi contoh buruk bagi umat manusia dan menyatakannya bersalah atas
kejahatan PEDOFILIA.

Kepada rekan-rekan muslim, saya minta untuk membayangkan


puteri/adik/saudara anda yang berumur 9 tahun digagahi atau diraba-
raba oleh seorang kakek berumur 54 tahun. Bahkan jika kau mencintai
si Terdakwa Muhammad, kau harus mengutuk tindakan ini! Kalau
tidak, bagaimana kau bisa berkaca dan tidak merasa malu akan
bebalnya hati nuranimu?

***
Dec. 03, 2003

BAGIAN VII

KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH,


TIDAK BERMORAL, TIDAK PANTAS
DAN HUBUNGAN SEKS DILUAR PERKAWINAN
Lewdness, Immorality , indecency and promiscuity

Dari RAHEEL SHAHZAD / PEMBELA:

Pihak Pembela sekarang akan menangani masalah orientasi seksual Terdakwa


mengingat jumlah perkawinannya. Keberatan atas usia salah satu isterinya
sudah dibahas diatas sehingga Aisha kini dicakupkan kedalam istilah isteri sah
Terdakwa, sederajat dengan para isteri lainnya. Menurut berbagai sumber,
Terdakwa menikahi sejumlah 13 perempuan.

Mr. Ali Sina, mengapa anda tidak dapat menerima Terdakwa sebagai seorang
lelaki dengan nafsu seksual seperti layaknya lelaki biasa jaman sekarang?
Apakah seorang nabi tidak boleh menikmati sex? Atau ini hanya tuntutan anda
bahwa ia tidak boleh menikmati sex dengan isterinya? Apakah anda hanya
bersedia menerima mereka yang tidak memiliki nafsu birahi maupun melakukan
kegiatan seksual apapun?

Bahkan lelaki yang paling berakhlakpun dapat menikmati tubuh isterinya dalam
kenyamanan rumah mereka dan bahkan sang isteri juga berhak menikmati
suaminya selama sang isteri tidak dipaksa. Mengadakan hubungan sex berkali-
kali tidak membuat sesuatu perkawinan didasarkan atas nafsu. Bahkan keinginan
untuk mengadakan hubungan sex dengan beberapa perempuan tidak otomatis
membuat seorang tidak bermoral. Pandangan seseorang atas sex bahkan dapat
menganggap setiap tindakan sex orang lain sebagai tindakan atas dasar nafsu.
Lagipula, mengapa kita harus mempersoalkan nafsu seorang suami terhadap
isteri-istrinya yang sah?

Lagipula bukankah setiap perkawinan melibatkan hubungan seksual?


Perkawinan bukan "marriage of convenience" bagi masyarakat tersebut, kecuali
demi mencapai tujuan baik. (A marriage cannot be a marriage of convenience
for the society, or to achieve some good?). Jika anda menikahi seorang
perempuan, apakah anda wajib melakukan sex 90 kali sehari? Apakah anda
sebagai Jaksa Penuntut memiliki bukti absolut bahwa Terdakwa menikah hanya
karena alasan seksual dan tidak ada alasan lain?

Saya tidak dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukannya, namun andapun


tidak dapat membuktikan bahwa ia melakukannya. Anda mungkin akan
menyampaikan sumber-sumber yang menggambarkan daya seksualnya sebesar
sekian banyak lelaki dan bahwa ia mengunjungi setiap rumah setiap malam,
namun apakah anda memiliki FOTO-FOTO kegiatan seksual tersebut? Bagaimana
dengan para akademisi muslim? Anda memiliki bukti mendetail bahwa setiap
perkawinannya merupakan pelampiasan nafsu seksualnya? Apakah anda tidak
memungkinkan adanya alasan lain, seperti perlindungan bagi sang perempuan?

Anda memberi segala macam teori dan menunjukkan sejumlah buku dan sumber
dan mengatakan bahwa saya hanya memaklumi, padahal tidak. Saya meminta
anda menunjukkan bukti bahwa kesemua dari 13 perkawinan itu tidak memiliki
alasan sosial lain kecuali alasan yang anda sebutkan diatas. Bahkan jika 300
akademisi-pun mengatakannya, mereka masih belum dapat meyakinkan saya
bahwa sex terlibat dalam setiap perkawinan.

Karena tidak adanya foto album dan video 1400 tahun lalu, saya dianggap
sebodoh itu menyimpulkan bahwa 13 perkawinan pasti menghasilkan 13
ejakulasi dalam 8 jam. Jika anda membaca kesemua teks dan menyimpulkan
adanya nafsu seksual, anda boleh-boleh saja. Namun saya juga bisa membaca
sumber yang sama dan menyimpulkan bahwa ada berbagai macam cara
pandang terhadap hal ini.

Point saya adalah bhw urusan tempat tidur jarang diungkapkan. Dan sebuah
perkawinan tidak otomatis memiliki elemen-elemen yg anda sebutkan itu. Saya
membaca referensi ttg perkawinan Terdakwa dan dng menggunakan kata-kata
yg sama saya bisa mengambil kesimpulan lain dlm batas-batas logika. Namun
jika anda bersikeras bahwa Terdakwa gila sex, maka jawaban saya adalah:

Lihatlah jaman sekarang di AS; jutaan lelaki meniduri 8 sampai 10 perempuan.


Banyak anak muda memulai kegiatan seksual pada usia 15 atau 16, dan pada
saat mereka berusia 60, sudah pasti telah meniduri banyak perempuan. Di AS ini
tidak lagi dianggap aneh atau tidak bermoral. Bahkan para politisi yang
memegang posisi tinggi sekarang dan kode moral mereka tidak dipertanyakan,
kalaupun mereka pernah tidur dengan 30 perempuan sepanjang hidup mereka.
Bahkan Bill Clinton terjerat dalam nafsu, tetapi itu tidak menghalangi orang
untuk tetap memilihnya sebagai presiden.
Bahkan presiden-presiden lain juga tidak memiliki kesulitan memisahkan masalah
perempuan dengan urusan negara. Lihatlah kelakuan JFK (Kennedy) yang tidak
pernah disembunyikan namun ia tokoh yang paling dihormati sampai sekarang.

Anda juga mengajukan keberatan atas perkawinannya pada usia tinggi


(khususnya menyangkut Aisha) dalam konteks itu pula. Pihak Pembela
menganggap hal ini sangat aneh, mengingat kebebasan seksual dan kemajuan
medis negara-negara Barat. Pembela mengajukan “Viagra” sebagai salah satu
bukti, yang dipakai sekarang untuk memperpanjang siklus seksual lelaki berusia
tua. Jadi kalau Terdakwa ingin menikmati sex pada usia diatas 50-an, mengapa
ia sampai diseret ke pengadilan?

Jadi menurut Mr. Sina, siapapun diatas 50 tahun yg ingin mengadakan sex dalam
perkawinan adalah tidak bermoral? Perbedaan usia antara suami dan isteri bukan
ditetapkan oleh pihak Jaksa, namun oleh Jury.

Jika Jaksa menganggap jijik perkawinan seorang lelaki berumur 50-an tahun
dengan perempuan berumur 20, maka Pembela berhak meminta Jaksa agar
mengeluarkan sebuah deklarasi untuk menyatakan sikapnya ini. Jika suatu saat
Jaksa ingin menunjukkan kesalahan Terdakwa, maka Pembela dapat
menggunakan deklarasi Jaksa ini sebagai bahan pembelaan:

”Saya, Ali Sina, dengan ini mendeklarasikan dibawah ancaman hukuman (under
penalty of perjury), bahwa adalah tidak pantas untuk seorang lelaki berumur 50
tahun lebih mengadakan hubungan sex atau memiliki rasa cinta bagi seorang
perempuan, tua ataupun muda, kapanpun. Dan jika lelaki itu terbukti melakukan
poligami atau menikah lebih dari sekali atau memiliki nafsu seksual macam
apapun bagi siapapun, lelaki atau perempuan, maka ia dinyatakan ‘defisien’
dalam segala hal lain, akibat menunjukkan keinginan normal untuk melakukan
hubungan sex tsb.

Saya juga mendeklarasikan bahwa adalah melanggar norma apapun dan


kapanpun bagi seorang lelaki berusia lanjut untuk menikmati tubuh isterinya
dalam rumahnya. Jika orang macam itu terbukti melakukan hal diatas maka ia
saya anggap tidak mampu memimpin bangsa, perusahaan, atau sekelompok
orang, karena memiliki kode moral defisien, tidak pantas diberi perhatian atau
memang tidak waras.

Pernyataan ini akan berlaku kepada setiap orang, bangsa, kapanpun dan bagi
siapapun yang menganggap diri nabi. Saya juga mendeklarasikan bahwa setiap
presiden AS, kapanpun, kalau terbukti melakukan hubungan sex dalam usia
lanjut akan di-impeach oleh Kongres dan dinyatakan tidak waras.

Jika hubungan sexual dilakukan dengan seorang budak yang usianya tidak akan
saya sebutkan, karena masyarakat tidak memiliki definisi kedewasaan, maka
orang ini akan dianggap tidak pantas secara moral.

Sebagai pemimpin missi ini, saya juga mendeklarasikan bahwa siapapun yang
setuju dengan missi saya ini dan berusia lebih dari 50 tahun dan mengadakan
sex dengan isteri atau isteri-istrinya tidak lagi dianggap bagian dari missi ini atas
dasar tidak bermoral. Jika orang berusia diatas 50 tahun itu menikah lebih dari 3
kali, oleh FFI ia akan dinyatakan tidak waras. Mengingat missi ini adalah untuk
menghukum seseorang yang hidup 1400 tahun lalu karena menikahi banyak
perempuan dan aktif secara seksual setelah usia 50, maka tidak akan ada
missionary FFi (Faith Freedom International, situs Ali Sina. –adm) yang akan
menunjukkan sikap moral yang serupa."

Tentu sekarang anda akan mengatakan bahwa seorang nabi kualitasnya diatas
ini dan harus memiliki kekuatan moral dengan menolak sex atas nama Tuhan.
Namun, saya tanya kembali MENGAPA? Apa hubungan orientasi seksual orang
atau nafsu seksualnya atau keinginannya memiliki berbagai perempuan dengan
kemampuannya sebagai pemimpin? Apa yg membuat anda meragukan
kemampuan kepemimpinan Terdakwa karena alasan kepemilikian 12 isteri?
Apakah anda tidak melakukan double standard? Seorang pemimpin sekarang
boleh memiliki hubungan diluar perkawinan namun seorang pemimpin 1400
tahun lalu tidak boleh menikmati sex?

Oleh karena itu Pembela menyerahkan kasus kepada para Jury sekalian.

Saya meminta Jaksa agar memandang kasus ini secara obyektif. Namun jika
anda dari mula sudah menetapkan sikap terhadap Klien saya, dan tidak ada
logika yang dapat menyadarkan anda, maka saya sudah melakukan tugas saya.
Saya bahkan tidak menggunakan sumber-sumber dari Quran atau Hadis atau
akademisi lain. Saya hanya menyampaikan analisa sepenuhnya berdasarkan
common sense (logika). Jika anda ingin mengejek Terdakwa dan kini ingin
mendakwa Klien saya, maka common-sense kita tdk pernah akan ketemu.

Oleh karena itu saya akan meminta Jury mengambil keputusan yang adil,
obyektif sehubungan dengan tuduhan polygami, pedophilia dan aktivitas seksual
yang dinyatakan Pembela sebagai sikap normal yang terdapat dalam kebanyakan
pria di kebanyakan negara. Jika mengingat alasan saya diatas anda masih juga
tidak sanggup, maka saya rasa kita harus setuju untuk tidak-setuju.

Ketahuilah bahwa saya tidak meminta anda untuk menerima ideologi Terdakwa.
Jika anda menganggap Terdakwa bersalah, melanggar kode moral, maka anda
juga bertanggung jawab. Oleh karena itu pembaca diminta untuk memandang
hal sesuai dengan perspektif.
Seperti kata pepatah: “Kalau anda tidak setuju dengan isi pesan, jangan tembak
sang pemberi pesan" ("If you do not agree with the message, don’t shoot the
messenger”).

Terima kasih;
R. Shahzad

-----------------------------

JAWABAN DARI ALI SINA ;

Yth Mr. Shahzad,

Anda ternyata tidak juga mengerti masalah yang dibahas dalam pengadilan ini.
Saya TIDAK mendakwa Klien anda karena ia mahluk seksual. Semua umat
manusia adalah mahluk seksual sebagaimana kita juga mahluk intelek dan
spiritual. Sex memang salah satu fungsi manusia. Sex menjamin
keberlangsungan species. Sex juga merupakan hubungan erat antara lelaki dan
perempuan yang bersama-sama bertanggung jawab atas generasi berikutnya.

Saya menuduh Klien anda karena KELAKUAN SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK
BERMORAL, TIDAK PATUT dan melakukan HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN
DILUAR PERKAWINAN.

Ambil contoh Mariah. Mariah adalah pembantu


Hafsa. Hafsa adalah puteri Omar dan salah satu
isteri Muhammad.

Suatu hari Muhammad mengunjungi rumah Hafsa


dan setelah melihat Mariah, pembantunya, ia
langsung naksir dan disitu juga ia memutuskan
untuk menidurinya. Ia mengirimkan Hafsa ke
rumah Omar dan mengatakan (membohonginya)
bahwa ayahnya memanggilnya. Pada saat Hafsa
keluar rumah, Muhammad mengajak Mariah ke
tempat tidur dan mengadakan hubungan sex.
Sementara itu Hafsa, yang kecewa karena
ayahnya tidak memanggilnya, sampai di rumahnya
dan memergoki suaminya di ranjang dengan
pembantunya.
Hafsa menjadi histeris, melupakan status suaminya sbg nabi dan berteriak-teriak
mengundang perhatian. Sang nabi memohon agar ia tenang, agar tidak
membeberkan rahasia ini kepada siapapun dan berjanji tidak lagi akan meniduri
Mariah.

Hafsa tidak dapat menahan diri, menceritakan semuanya kepada Aisha yang
akhirnya juga menentang sang nabi dan bersama para isteri lainnya
membuatnya pusing kepala. Sehingga akhirnya sang nabi memutuskan untuk
menghukum mereka semua dengan tidak meniduri siapapun diantara mereka
selama satu bulan. Menahan sex dari isteri adalah tahap kedua hukuman dalam
Quran. Langkah pertama adalah menegur/memperingatkan mereka. Langkah
ketiga adalah PUKULI mereka. Q.4:34.

Namun tidak melakukan hubungan seks dengan semua isterinya juga merugikan
sang nabi sendiri. Bagaimana mengatasi hal ini? Nah, datanglah "Auwloh",
teman setianya itu dengan wahyu (Surah Tahrim), membebaskan Muhammad
dari kesengsaraan harus hidup tanpa seks selama sebulan :

Inilah teks surah yang konyol tersebut: Q. 66:1-5.


1. O Prophet! Why do you ban (for yourself) that which Auwloh has made lawful
to you, seeking to please your wives? And Auwloh is Oft-Forgiving, Most Merciful.
2. Auwloh has already ordained for you (O men), the dissolution of your oaths.
And Auwloh is your Maula (Lord, or Master, or Protector, etc.) and He is the All-
Knower, the All-Wise.
3. And (remember) when the Prophet (SAW) disclosed a matter in confidence to
one of his wives (Hafsah), so when she told it (to another i.e. 'Aishah), and
Auwloh made it known to him, he informed part thereof and left a part. Then
when he told her (Hafsah) thereof, she said: "Who told you this?" He said: "The
All-Knower, the All-Aware (Auwloh) has told me".
4. If you two (wives of the Prophet SAW, namely 'Aishah and Hafsah) turn in
repentance to Auwloh, (it will be better for you), your hearts are indeed so
inclined (to oppose what the Prophet SAW likes), but if you help one another
against him (Muhammad SAW), then verily, Auwloh is his Maula (Lord, or
Master, or Protector, etc.), and Jibrael (Gabriel), and the righteous among the
believers, and furthermore, the angels are his helpers.
5. It may be if he divorced you (all) that his Lord will give him instead of you,
wives better than you, Muslims (who submit to Auwloh), believers, obedient to
Auwloh, turning to Auwloh in repentance, worshipping Auwloh sincerely, fasting
or emigrants (for Auwloh's sake), previously married and virgins.

Komentar:
Walaupun Muhammad berjanji pada Hafsa agar tidak melakukan hubungan sex
dengan pembantunya, ia tidak dapat menahan godaan nafsu. Apalagi setelah ia
bersumpah tidak akan tidur dengan semua isterinya selama sebulan. Situasi
memang benar-benar sulit, namun tidak ada yang IMPOSSIBLE jika anda
seorang rasul auwloh.

Dalam Surah Tahrim, Auwloh mengijinkan nabi kesayangannya itu untuk


melanjutkan hubungan seksualnya dan mengacuhkan para isterinya. Memang
enak jadi rasulullah. Auwloh begitu mempedulikan kepuasan seksual Muhammad
sampai Ia mengijinkan SEMUA LELAKI agar melupakan janji/sumpah mereka.
Subhanallah! Auwloh benar-benar AKBAR deh!

Perlu diperhatikan disini bahwa setelah Muhammad mengetahui dari Aisha


bahwa Hafsa membongkar rahasianya kepada Aisha, Muhammad juga
membohongi Aisha dengan mengatakan bahwa Auwloh yang memberitahu
Muhammad akan kelakuan Hafsa (membuka rahasia) itu. Padahal Aisha yg
memberitahukannya kepada Muhammad. Luar biasa!

Aisha, yang muda, cantik, lagi pintar itu, bereaksi terhadap surah diatas. Ia
dilaporkan sebagai mengatakan kepada Muhammad, "Auw lohm u m em ang
selalu segera datang m em bantum u!"

Menjelaskan Surah Tahrim (66) diatas itu, Omar dilaporkan sebagai mengatakan:
Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648: Rasulullah tidak mendatangi isteri-
istrinya karena rahasia yang diberitahu Hafsa kepada Aisha, dan ia mengatakan
tidak akan mendatangi isteri-istrinya selama satu bulan karena ia marah pada
mereka ketika Auwloh menegurnya.
(The Prophet did not go to his wives because of the secret which Hafsa had
disclosed to 'Aisha, and he said that he would not go to his wives for one month
as he was angry with them when Auwloh admonished him (for his oath that he
would not approach Mariyah).

Cerita ini pasti memalukan bagi pengikut Muhammad sehingga mereka membuat
hadis-hadis lain untuk menjelaskan surah yang sudah dijelaskan oleh Omar.

Sahih Muslim Book 009, Number 3496 & 3497: "Aisha meriwayatkan bahwa
Rasulullah (saw) menghabiskan waktu dengan puteri Zainab dari Jahsh dan
meminum madu dirumahnya. Aisha kemudian mengatakan: saya dan Hafsa
setuju bahwa siapapun diantara kami yang dikunjungi Rasululah terlebih dahulu
akan mengatakan kepadanya : mengapa kami mencium bau Maghafir (cairan
pohon mimosa) dari tubuh anda.

Ketika Rasulullah mengunjungi salah satu dari mereka sang isteripun


menanyakan hal tsb. Rasulullah menjawab: saya mencicipi madu dirumah Zainab
bint Jabsh dan tidak akan melakukannya lagi. "
Jadi maksud Sahih Muslim ini; bukannya SEKS yang dimaksudkan Auwloh dalam
wahyu Surah 66:1 ("That which Auwloh had made lawful for you / Apa yang
disahkan Auwloh bagimu") melainkan MADU !

Eksistensi hadis-hadis diatas dan perbedaannya dengan riwayah Omar jelas


menunjukkan fakta bahwa pengikut Muhammad siap berbohong (seperti banyak
Muslim sekarang) demi menyelamatkan nama baik dan muka sang nabi. Sangat
bodoh kalau kita menerima alasan meminum madu untuk membenarkan surah-
surah diatas. Madu tidak meninggalkan bau tidak enak. Juga aneh jika insiden
kecil menyangkut bau madu sampai mengakibatkan keributan dalam rumah
tangga nabi sampai ia tega mengancam menceraikan isteri-istrinya atau
menghukum mereka dengan No-Sex selama sebulan. (Mannnaaa
tahaaaannnn.....)

Dan apakah insiden kecil dengan madu sampai harus menyusahkan sang
Pencipta Alam Semesta sampai harus campur aduk dalam keributan perkawinan
nabinya dan mengancam isteri-istrinya dengan perceraian? Bukankah lebih
pantas jika madu yang dimaksudkan adalah madu diantara paha Mariah?

Rendahnya standar moral dan etika Terdakwa bisa dibuktikan lagi dari cerita-
cerita hidupnya. Seperti yang berikut ini :
Bukhari Volume 7, Book 63, Number 182: Diriwayahkan Abu Usaid: Kami pergi
dengan nabi ke sebuah taman yg disebut dengan Ash-Shaut .... nabi memasuki
taman tersebut. Perempuan dari Bani Jaun sedang menginap dalam rumah milik
Umaima bint An-Nu'man bin Sharahil di taman tersebut. Ketika nabi memasuki
rumahnya ia mengatakan kepadanya "Serahkan dirimu kepada saya sebagai
hadiah", katanya. Sang perempuan mengatakan "Apakah seorang puteri raja
dapat memberikan dirinya kepada orang biasa?"

Nabi mengangkat tangannya dan menyentuhnya guna menenangkannya. Sang


perempuan mengatakan "Saya meminta Auwloh perlindungan dari dirimu." Kata
nabi, "Kau telah mencari perlindungan kepada Ia yang memberikan
perlindungan."

Lalu nabi datang kepada kami dan mengatakan, "O Abu Usaid! Berikan dirinya
dua gaun putih dan biarkan ia kembali kepada keluarganya."

Apakah Muhammad sudah tidak memiliki cukup perempuan? Apakah ia harus


MENGGENJOTI setiap perempuan cantik yang ia temui?

Perhatikan juga sifatnya. Suatu saat ia termakan nafsu dengan meminta pemilik
rumah agar "menyerahkan dirinya sebagai hadiah", dan ketika ditolak ia menjadi
kasar dan mengangkat tangannya untuk memukulinya. Dan setelah mengadu ke
Auwloh, sang nabi gadungan itu sadar, merasa bersalah atas kelakuannya itu
dan memberi kompensasi kepada korbannya dengan cara menyuapnya dengan
hadiah. Inikah profil seseorang yang STABIL SECARA MENTAL?
Ternyata, praktek suap-menyuap (nyogok) sudah diperkenalkan oleh sang nabi sejak awal islam
mulai tumbuh. Pantes negara-negara mayoritas muslim mental korupsinya naujubilahminjalik 
-adm.

SAYA TEGASKAN SEKALI LAGI KEPADA PIHAK PEMBELA :


Saya tidak menuduh Terdakwa karena menyukai perempuan, saya menuduh
Terdakwa karena melampiaskan nafsunya pada perempuan dng menikah secara
paksa, tidak patut dan tidak senonoh. Saya menuduh Terdakwa karena
kesediaannya melakukan apapun demi pelampiasan nafsunya.

Satu lagi cerita skandal tentang nafsu dan imoraltias Muhammad seperti
dilaporkan dalam Kitab al Tabaqat.

Diriwayatkan Muhammad Ibn Yahya Ibn Hayyan,


"Rasulullah mendatangi rumah Zaid ... Zainab Binti Jahsh menghampirinya,
mengenakan gaun rumah tipis, namun Rasulullah memalingkan muka darinya.
Zainab mengatakan, 'Ia tidak disini, Rasulullah, tapi silahkan masuk ..."
Rasulullah menolak.

Ketika Zaid pulang, Zainab melaporkan kedatangan Rasulullah. Zaid bertanya,


'Kau mengijinkanya masuk, bukan?' Zainab menjawab, 'Saya tawari namun ia
menolak. Ia bilang, 'Ia tidak mengatakan apa-apa?' Zainab mengatakan, `Ketika
ia pergi ia mengatakan sesuatu namun bagi saya kurang jelas. Katanya,
"Terpujilah Auwloh yang mengarahkan hati manusia."
Maksud dari “mengarahkan hati” adalah mengarahkan hati Muhammad kepada Zainab; kalo
diterjemahkan secara bebas dlm bahasa sekarang mungkin bisa berarti “jatuh hati” atau “naksir”.
–adm.

'Zaid pergi menemui Rasulullah dan mengatakan, 'O Rasulullah, saya mendengar
anda pergi ke rumah saya. Mengapa anda tidak masuk? Mungkin anda menyukai
Zainab. Saya bisa meninggalkannya.'
Rasulullah mengatakan, 'Pertahankanlah isterimu.'
Zaid mengatakan, 'O Rasulullah, saya akan meninggalkannya.'
Rasulullah mengatakan, 'Tetaplah bersama isterimu.'
Ketika Zaid meninggalkan Zainab, Zainab mengucilkan diri dan menghabiskan
masa Iddah-nya.
Sementara Rasulullah duduk dan bicara dengan Aisha, ia kesurupan (kemasukan
wahyu) dan ketika sembuh ia tersenyum dan mengatakan, 'Siapa akan pergi ke
Zainab dan memberikannya kabar baik bahwa Auwloh menikahkannya kepada
saya di surga?' " (Tabaqat, 8:101-102).

Saudara sekalian, pada saat itu Muhammad SUDAH memiliki 4 isteri: Sawda,
Aisha, Hafsa dan Umma Salama. Namun dengan meningkatnya kekuasaannya ia
semakin yakin dan lihai mencuci otak pengikutnya agar menerima segala
kelakuannya yang tidak patut sekalipun sehingga ia tidak lagi merasa harus
mengendalikan diri. Namun tetap saja banyak orang Arab, termasuk
pengikutnya, kaget dan mempertanyakan kelakuannya. Maududi menjelaskan:

Begitu perkawinan disetujui, terjadi propaganda besar-besaran melawan


Rasulullah. Mereka menggunakan alasan perkawinan ini sebagai cara untuk
mengakhiri superioritas moral nabi yang sebenarnya kunci kuasa dan
kesuksesannya. Karena itu, dibuatlah cerita-cerita bahwa Muhammad jatuh cinta
kepada isteri puteranya dan ketika puteranya tahu, ia menceraikan isterinya dan
ayahnya kemudian menikahi bekas isterinya.

Seperti dapat dilihat oleh Jury, Muhammad BAHKAN MENARUH NAFSU PADA
MENANTUNYA, ISTERI ANAK ANGKATNYA SENDIRI. Ia berpura-pura
mendapat wahyu dari Auwloh bahwa Ia sudah menikahkan mereka di surga,
sehingga ia menguasai Zainab dalam sekejap. Riwayah ini menunjukkan bahwa
motifnya tidak lain selain NAFSU syahwat.

`Aisha mengatakan, "saya mendengar banyak tentang kecantikannya dan


bagaimana Auwloh menikahkannya dengan di surga. Dan saya katakan, 'Sudah
pasti ia akan menyombogkan dirinya pada kita.'" ( Tabaqat, 8:101-102).

Nah, pada saat inilah surah yang terkenal dengan nama Tabir diturunkan.
Q33:53

Diriwayahkan oleh Sulaiman Ibn Harb, mengutip Hammad Ibn Zaid, mengutip
Ayyub Ibn Abi Qulaba bahwa Anas berkata, "Saya paling tahu surah tabir ini.
Pada malam Zainab diberikan kepada Rasulullah, ia mengadakan jamuan dan
mengundang orang-orang. Tak berapa lama kemudian Nabi ingin agar orang-
orang itu segera pulang karena pikirannya ada pada sang pengantin. (udah
kebelet pengen gituan  –adm).

Ia berdiri untuk memberi tahu mereka, sehingga beberapa orang pergi. Sekali
lagi ia berdiri, namun beberapa tetap duduk. Ia berdiri untuk ketiga kalinya, dan
baru kesemuanya pergi. Jadi ia memasuki rumahnya [dimana pengantin
menunggu] dan Anas mengikutinya, namun nabi menghalanginya dengan
menurunkan tabir dan mengatakan,

"Hai kalian yang percaya! Jangan memasuki rumah nabi, kecuali diijinkan ... :
namun jika kalian diundang, masuk dan setelah mendapatkan makan, segera
pergi tanpa basa basi. Kelakuan ini membuat jengkel Nabi: ia malu mengusir
a?na? namun Auwloh tidak malu mengatakan kebenaran. dan jika kalian
meminta sesuatu dari para perempuan nabi, mintalah dari balik tabir: itu
menjaga kebersihan hatimu dan hati mereka. Tidak pantas kalian membuat
jengkel Rasulullah atau kalian menikahi para jandanya kapanpun setelah
kematiannya. Sesungguhnya hal itu dimata Auwloh adalah dosa besar. "

Para tamu kemudian beranjak pergi dan ia menurunkan tabir. Lihat al-Simt al-
thamin, p.110; al-Isti`ab, 40:1851; al-Isaba, 9:83.

Saya, Jaksa, mengajukan Surah 33.53 seperti dikutip diatas sebagai bukti
bagaimana Terdakwa memanfaatkan Auwloh bagi kepuasan nafsu syahwatnya
dan keinginan egoistiknya.

Betapa bodohnya orang untuk percaya bahwa sang Pencipta Alam Semesta ini
begitu khawatir tentang nabinya sampai menurunkan wahyu agar orang jangan
memasuki rumahnya tanpa undangan atau agar orang segera meninggalkan
rumahnya setelah menikmati santapan dan jangan sampai anda membuat
jengkel nabi Saya karena SAYA, Pencipta Alam Semesta, mengatakan kepadamu
bahwa nabi Saya malu-malu?

Sosok Terdakwa ini tukang tipu ulung. Ia menciptakan sebuah cult untuk
membohongi orang. Namun ia bukan saja pembohong melainkan MONSTER.
Dalam sejarah dunia sulit menemukan seseorang sebejat dirinya. Oleh karena itu
saya memohon Jury agar menyatakan Terdakwa bersalah karena KELAKUAN
SEKS TIDAK SENONOH, TIDAK BERMORAL, TIDAK PATUT dan melakukan
HUBUNGAN SEKS SERAMPANGAN DILUAR PERKAWINAN.

Saya memohon agar saudara-saudara Muslim membuka mata mereka. Terdakwa


BUKAN Rasul utusan Tuhan. Ia bohong. Bukti-bukti sangat kuat. Sangat bodoh
bagi kita untuk percaya bahwa orang-orang berkuasa tidak perlu mematuhi
hukum. Mereka malah yang pertama yang harus mematuhi aturan moral dan
etika. Tuhan tidak sebegitu sadis sampai mengirimkan orang dengan moralitas
yang sedemikian rendah sebagai rasulNya. Terdakwa Muhammad tidak
menunjukkan contoh baik. Ia bukan orang yang patut dihormati. Ia tidak
memiliki moral.

Saya mendesak anda untuk mengutuk Mohamad, mengambil alih jiwa dan raga
anda dari cengkramannya.

Jika Tuhan dan Setan memang ada, maka Auwloh-nya islam tidak lain dari Setan
dan Muhammad rasulnya. Tuhan asli tidak mungkin bersikap seperti Setan.
Selamatkan jiwa-ragamu kawan, dan sebarkan pesan ini keseluruh dunia
sebelum Setan dan rasulnya, Muhammad, menghancurkannya.

-----------------------
BAGIAN VIII

MISOGYNY :
Kebencian terhadap Perempuan

(Note: Pihak Pembela sayangnya tidak memberi bantahan atas tuduhan Jaksa
dalam bagian ini)

Dalam sesi ini tuduhan Jaksa terhadap Terdakwa adalah misogyny.


Jaksa menyatakan bahwa Terdakwa:

♦ Merendahkan derajat perempuan,


♦ Dan bahwa kaum perempuan, sebelum kekuasaan Terdakwa di tanah Arab
dan di negara manapun yang jatuh dibawah kekuasaan islam, menikmati
jauh lebih banyak kebebasan dan hak daripada dalam masyarakat ciptaan
Terdakwa.
♦ Tuduhan saya BUKAN bahwa sang nabi arab Mr. Muhammad bin Abdullah
(almarhum) tidak memberikan cukup banyak hak kepada perempuan, namun
bahwa ia MERAMPAS segala hak yang dimiliki perempuan dan menjadikan
mereka warga kelas dua, yang tergantung dan berada dibawah kekuasaan
lelaki.
♦ Ia memberlakukan perbudakaan berdasarkan jenis kelamin (gender) dan
merendahkan status mereka sejajar dengan harta benda dan binatang. Tidak
ada satu masyarakatpun dalam sejarah bangsa apapun, perempuan begitu
terhina dan direndahkan seperti dalam sejarah islam.

Islam adalah agama misogynist par excellence.

1) Status Perempuan Arab SEBELUM Islam kokoh sebagai agama &


ideologi politik, adalah lebih tinggi.

Sayangnya kaum muslim tidak meninggalkan jejak literatur Arab masa pra-Islam.
Mereka menganggap era ini sebagai era Jahilyah (era kegelapan) dan oleh
karena itu mereka membakar, menghancurkan setiap bukti sejarah. Oleh karena
itu kita hanya tergantung dari sumber-sumber intern islam. Namun dari sumber-
sumber yang memberikan gambaran secuilpun tentang era tsb kita sudah bisa
menyimpulkan bahwa perempuan sebelum islam berdiri kokoh memiliki jauh
lebih banyak hak.
Mari kita mulai dengan Khadijah isteri pertama Muhammad. Perempuan ini
janda, tidak memiliki suami namun tetap dikenal sebagai perempuan kaya dan
memiliki bisnis sukses dan bahkan mempekerjakan lelaki, termasuk si Terdakwa,
Muhammad. Ini saja menunjukkan bahwa pada jaman itu perempuan memiliki
bisnis sendiri dan kaum lelaki Quraysh tidak menganggap seorang boss
perempuan merendahkan kaum lelaki.

Seperti dilaporkan hadis, adalah Khadijah yang melamar Muhammad, bukan


sebaliknya. Ini satu lagi bukti tingkat kebebasan yang dinikmati perempuan Arab
dalam masa pra-islam. Bedakan dengan masyarakat islam sekarang, perempuan
melamar lelaki dianggap taboo.

Contoh lain lagi: Hind , isteri Abu Sufyan, saudara dan musuh bebuyutan
Muhammad. Dilaporkan bahwa dalam Pertempuran Uhud, Hind memimpin
perempuan Quraysh dengan membakar semangat kaum lelaki agar berjuang dan
menghentikan agresi Muslim.

Pada saat menghangatnya pertempuran, para perempuan Quraysh, dibawah


pimpinan Hind, beramai-ramai menabuh gendang untuk mendukung para
tentara. Salah satu anak buah Muhammad, Abu Dujanaj, mengatakan, "Saya
melihat seseorang mendukung musuh dengan berteriak-teriak keras. Saya
mendekatinya dan saat mengangkat pedang untuk membunuhnya, sekali lagi ia
berteriak-teriak keras dan saya melihat bahwa ia seorang perempuan; saya
menghormati pedang Rasululah dan merasa mubazir untuk menggunakannya
melawan perempuan." Perempuan itu adalah Hind.[1]

Contoh lain perempuan memimpin lelaki dalam pertempuran adalah Aisha isteri
termuda Muhammad yang setelah kematian Muhammad memimpin tentara
muslim melawan Ali dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran
Jamal (Camel).

Ada juga contoh Asma bt. Marwan, perempuan Yahudi penulis sajak dari
Medinah yang atas suruhan Terdakwa dibunuh karena menulis sajak-sajak
menentang Terdakwa. Kenyataan bahwa Terdakwa khawatir akan pengaruh
tulisan Asma kalau-kalau sampai menghancurkan karir Terdakwa sebagai
rasulullah adalah satu lagi bukti bahwa dalam budaya pra-Islam, kaum Arab
menghormati, mendengarkan nasehat dan membuka diri mereka dipengaruhi
oleh perempuan. Perempuan saat itu tidak dianggap bodoh atau kurang tingkat
intelektualnya (deficient in intelligence) seperti kemudian ditetapkan Quran.

Contoh paling nyata akan status tinggi perempuan sebelum Islam kokoh berdiri
sebagai sebuah sistem keagamaan dan ideologi politik adalah fakta bahwa pada
jaman Muhammad, bahkan ada perempuan yang menyatakan diri sebagai nabi
dan memiliki banyak pengikut. Sekarang, jangankan nabi, bahkan menjadi
Imam-pun tidak mungkin bagi perempuan. Tetapi anehnya justru perempuan
Islam-lah (muslimah) yang merupakan apologis/pemaklum terbesar status
rendah mereka dan sepenuhnya menerima penghinaan mereka oleh Islam.

Sebagai bukti (A) Jaksa menyampaikan hadis dimana disebutkan bahwa teman
dekat Terdakwa Muhammad, Umar b. Khattab yang akhirnya menjadi khalif
kedua, mengeluh bahwa perempuan Muslim mempelajari “kebiasaan buruk”
emansipasi dan kebebasan dari kaum perempuan Medinah dan bahwa Rasululah
harus melakukan sesuatu.

Cerita ini terjadi pada saat Terdakwa sedang menjalani affairnya dengan Mariah,
pembantu isterinya, Hafsa. Terdakwa ribut dengan semua isterinya karena
mereka mengeluh akan kelakuannya yang suka tidur sana-sini dan Terdakwa
mengancam akan menceraikan mereka semua.

Terdakwa sedang duduk dirumahnya ketika Umar mengunjunginya. Umar


kemudian meriwayahkan: ’Kami, rakyat Quraish, dulunya memiliki kekuasaan
atas perempuan, namun setelah kami hidup dengan kaum Ansar [Muslimin dari
Medina], kami melihat bahwa perempuan Ansar memiliki kuasa atas kaum lelaki,
sehingga perempuan kami mulai mengikuti contoh mereka. Suatu hari saya
berteriak kepada isteri saya dan ia malah membalas dengan membayar saya
dengan uang logam dan saya tidak suka bahwa ia menyahuti saya. Isteri saya
mengatakan, 'Mengapa kau tersinggung jika saya menegurmu? Demi Auwloh,
para isteri Nabi menegurnya, dan akibatnya mereka bahkan tidak boleh
berbicara padanya sehari penuh sampai malam.'

Apa yang dikatakannya, membuat saya takut dan saya mengatakan, 'Siapapun
dari mereka yang berbuat demikian akan mengalami rugi besar.' Lalu saya pergi
ke Hafsa dan bertanya, 'Apakah kalian membuat marah Rasulullah sepanjang
hari sampai malam?' Ia menjawab iya. Saya mengatakan, 'Kau adalah orang
yang kalah dan hancur (dan tidak pernah akan mendapat sukses)! Apakah kau
tidak takut bahwa Auwloh akan membalas kemarahan rasulNya dan akibatnya
kau akan dihancurkan? Jangan meminta terlalu banyak dari Rasulullah, dan
jangan menegurnya ataupun mengacuhkannya. ...jangan tergoda untuk
mengikuti contoh tetanggamu (Aisha) karena ia (Aisha) lebih cantik darimu dan
lebih dicintai Rasulullah’.”

"Akhirnya, saya menghampiri nabi dan melihatnya berbaring di atas tikar... Saya
menyalaminya dan sambil berdiri mengatakan "Apakah anda menceraikan isteri-
istri anda?' Ia menjawab tidak. Saya kemudian berkata: "Dengarkanlah Hai
Rasulullah! Kami, rakyat Quraish dulu memiliki kuasa atas perempuan kami, dan
setelah kami tinggal diantara mereka yang membiarkan perempuan mereka
menguasai mereka ..."
'Umar menceritakan seluruhnya tentang isterinya. "Kemudian Nabi tersenyum."
'Kata Umar kemudian, "Saya lalu mengatakan, 'Saya menemui Hafsa dan
mengatakan kepadanya: Jangan mengikuti contoh temanmu (Aisha) karena ia
lebih cantik dan lebih dicintai Nabi.' Rasulullah tersenyum kembali.” [2]

Hadis diatas cukup jelas. Rakyat Mekah lebih picik dari orang-orang Arab lainnya.
Sering orang dalam komunitas agama lebih ekstrimis dan misoginis dari rakyat
yang hidup di kota-kota besar yang kurang religius. Namun nampaknya Umar
dan Muhammad ini lebih picik dari orang Mekah pada umumnya. Dengan kata
lain, mereka yang paling picik (maha picik) dari yang picik. Sementara
kebanyakan orang Mekah tidak pusing mendengarkan ocehan perempuan atau
menerima otoritas boss perempuan, kedua orang ini menganggap emansipasi
perempuan sebagai hal tidak pantas dan harus dihancurkan.

2) Hijab diusulkan Umar dan diterima Auwloh.

Terdakwa yang berusia lanjut --takut kalau-kalau lelaki muda lain naksir para
isterinya yang muda dan cantik dan "menyentuh" mereka-- memerintahkan agar
para isterinya menutupi tubuh dan wajah mereka. Tentu dengan pertolongan
wahyu berikut ini :

33.59 : “O Prophet! Tell thy wives and daughters, and the believing women,
that they should cast their outer garments over their persons (when abroad):
that is most convenient, that they should be known (as such) and not molested.”

Umar menjelaskan bagaiman surah diatas “turun" karena permintaannya.


"Auwloh setuju dengan saya ('Umar) dalam 3 hal ... (2) dan mengenai
penutupan tubuh perempuan, saya mengatakan 'Wahai Rasululllah! Saya ingin
anda memerintahkan para isteri anda agar menutupi diri dari lelaki karena orang
baik maupun buruk berbicara kepada mereka.' Akhirnya surah tudung bagi
perempuan diturunkan.” [3]

Tidakkah aneh bahwa Pencipta Alam Semesta menunggu usul salah satu
ciptaannya untuk menurunkan peraturan bagi manusia? Umar dengan lugu
menyombongkan diri bahwa Auwloh setuju dengannya. Namun, tidak semua
teman Terdakwa sebodoh Umar. Abdullah ibn Sarh lebih pintar dari Muhammad.
Ia meninggalkan Muhammad dan Islam setelah ia melihat bahwa Auwloh sering
mengganti-ganti wahyuNya dan terus mengupayakan perbaikan surah. Namun
ini topik lain. Yang penting bagi kita disini adalah fakta bahwa kaum perempuan
jaman pra-Islam tidak mengenakan tutup tubuh dan wajah seperti dipaksakan
kepada perempuan Islam sekarang. Tutup tubuh perempuan ini timbul karena
perasaan rendah diri Muhammad, karena sebagai orang berusia lanjut ia takut
kalau-kalau haremnya, para perempuan cantik dan muda, dicuri lelaki lain.

Ketakutan orang tua ini tercermin dalam surah-surah yang "katanya" datang dari
mulut Auwloh. Q.33:30 = O Consorts of the Prophet! If any of you were guilty
of evident unseemly conduct, the Punishment would be doubled to her, and that
is easy for Auwloh.
31. But any of you that is devout in the service of Auwloh and His Messenger,
and works righteousness,- to her shall We grant her reward twice: and We have
prepared for her a generous Sustenance.[4]

Muhammad sering memperingatkan isteri-istrinya agar tidak menarik perhatian


lelaki lain dan menutupi tubuh dan wajah mereka agar tidak menjadikan diri
mereka obyek nafsu lelaki.

32. O Consorts of the Prophet! Ye are not like any of the (other) women: if ye do
fear (Auwloh), be not too complacent of speech, lest one in whose heart is a
disease should be moved with desire: but speak ye a speech (that is) just.

33. And stay quietly in your houses, and make not a dazzling display, like that of
the former Times of Ignorance; and establish regular Prayer, and give regular
Charity; and obey Auwloh and His Messenger. And Auwloh only wishes to
remove all abomination from you, ye members of the Family, and to make you
pure and spotless.[5]

Disini terlihat jelas bahwa perempuan jaman pra-Islam dapat keluar rumah tanpa
tutup tubuh atau wajah dan memamerkan diri. Sekarang, perempuan muslim --
menunjukkan rambut atau lengan dari dalam mobilnya sendiri bisa diseret keluar
dan dihajar polisi moral Islam di negara-negara seperti Iran dan Saudi Arabia
seperti juga di Afghanistan dengan Taleban. Hanya sedikit negara-negara
(mayoritas penduduk) Islam yang mengijinkan perempuan keluar rumah, apalagi
dengan "dazzling display” / memamerkan diri secara menyilaukan.

3) Lelaki adalah Pemelihara Perempuan dan lebih Superior dari


Perempuan.

Terdakwa tidak hanya merampas kebebasan perempuan untuk berpakaian


namun ia menaklukkan mereka dibawah lelaki dan tergantung kpd lelaki. Ini
katanya:

”Men are the maintainers of women because Auwloh has made some of them to
excel others and because they spend out of their property; the good women are
therefore obedient, guarding the unseen as Auwloh has guarded.” [6]
Surah diatas merendahkan
perempuan sejajar dengan
binatang piaraan,
memberikan lelaki kuasa
untuk memeliharanya bak
onta atau keledai. Anehnya,
Terdakwa TIDAK SADAR,
ketika ia masih miskin dulu,
ADALAH ISTERINYA, SANG
BUSINESS-WOMAN
KHADIJAH, yang
memeliharanya! Terdakwa
juga lupa bahwa dulu ia hidup
dari kocek Khadijah.

Dalam surah ini Muhammad secara tegas menunjukkan bahwa lelaki memiliki
derajat kemampuan lebih tinggi dari perempuan. ”And women shall have rights
similar to the rights against them, according to what is equitable; but men have
a degree (of advantage) over them.” [7]

Terdakwa berupaya sekeras mungkin agar membuat perempuan takluk pada


suami. Menurutnya, perempuan yang tidak mematuhi suami akan ke neraka.
Terdakwa mengatakan:
”I also saw the Hell-fire and I had never seen such a horrible sight. I saw that
most of the inhabitants were women." The people asked, "O Auwloh's Apostle!
Why is it so?" The Prophet replied, "Because of their ungratefulness." It was
asked whether they are ungrateful to Auwloh. The Prophet said, "They are
ungrateful to their companions of life (husbands) and ungrateful to good deeds.
If you are benevolent to one of them throughout the life and if she sees anything
(undesirable) in you, she will say, 'I have never had any good from you.' " [8]

4) Suami Bisa MEMUKUL Isteri-istrinya


Terdakwa juga memerintahkan para suami agar memukuli isteri jika tidak patuh.
”and (as to) those on whose part you fear desertion, admonish them, and leave
them alone in the sleeping-places and beat them; then if they obey you, do not
seek a way against them; surely Auwloh is High, Great.” [9]

Diriyawahkan Mishkat al-Masabih : "surah diatas diturunkah sehubungan dengan


seorang perempuan yang mengeluh kepada Muhammad karena suaminya
menamparinya di mukanya (yang masih ada bekas tamparannya). Pada
mulanya, nabi mengatakan: 'Balaslah suamimu', namun kemudian
menambahkan, 'TUNGGU! Saya mau berpkir dulu.' Setelah surah diatas
diwahyukan, nabi mengatakan: 'Kami ingin satu hal namun Auwloh
menginginkan lain, dan apa yang diinginkan Auwloh adalah yang terbaik.'" [10]
Mungkin sang nabi tadinya kasihan pada perempuan tersebut tetapi mengingat
isteri-istrinya sendiri yang suka mbalelo ia kemudian membuat Auwloh-nya
mengumumkan surah yang tidak berperikemanusiaan ini, memberi lelaki hak
untuk memukuli isterinya kalau membandel.

Jelas dari surah diatas, syarat seorang isteri dipukul, tidak perlu menunggu
sampai si isteri tidak mematuhi suaminya. Cukup dengan adanya
KEKKHAWATIRAN/KECURIGAAN suami bahwa isterinya tidak patuh, tangannya
berhak melayang ke tubuh isteri.

Seperti dikatakan muslimah dan penulis Canada, Irshad Manji , dalam bukunya
"The trouble with Islam (hal. 34 mengenai Q4:34) : "To deserve a beating, a
woman doesn't have to disobey anybody, a man merely has to fear her
disobedience. His insecurity becomes her problem" .
Buku Irshad Manji, The Trouble with Islam, sudah diterjemahkan ke dlm bahasa Indonesia dng
judul “Beriman Tanpa Rasa Takut”, diterbitkan oleh Nun Publisher & Koalisi Perempuan
Indonesia, 2008. –adm.

5) Perempuan baik-baik tidak mengeluh jika suami memukuli mereka:

Book 11, Number 2141: Narrated Abdullah ibn AbuDhubab:


Iyas ibn Abdullah ibn AbuDhubab melaporkan Rasulullah (saw) mengatakan:
jangan memukuli perempuan-perempuan Auwloh, namun ketika Umar datang
pada Rasulullah (saw) dan mengatakan: Perempuan menjadi lebih berani
terhadap suami mereka, IA (RASULULLAH) MEMBERIKAN IJIN UNTUK
MEMUKULI MEREKA. Lalu banyak perempuan datang kepada keluarga Rasulullah
mengeluh tentang suami mereka. Akhirnya Rasulullah mengatakan: Banyak
perempuan datang kepada keluarga saya mengeluh tentang suami mereka.
Mereka bukanlah yang terbaik diantara kalian.

Sang suami bahkan tidak perlu menjelaskan alasan mengapa memukuli isterinya.
Book 11, Number 2142: Diriwayahkan Umar ibn al-Khattab:
Rasulullah (saw) mengatakan: Seorang lelaki tidak akan ditanya mengapa ia
memukuli isterinya.

Terdakwa malah menuntut bahwa isteri bersujud dihadapan suaminya :


”Kalau ada orang yang saya perintahkan untuk bersujud maka saya akan
memerintahkan PEREMPUAN untuk bersujud kepada suami mereka, karena hak
khusus yang diberikan Auwloh kepada para suami.” [11]

Muhammad Sendiri Memukuli Isterinya.


Dalam sebuah hadis, Aisha meriwayahkan bahwa suatu malam Muhammad
meninggalkan rumah mereka setelah ia menyangka Aisha sudah tidur. Diam-
diam ia mengikuti Muhammad dan ketika Muhammad kembali ke rumah ia
menemui Aisha kehabisan nafas. Muhammad curiga dan meminta pengakuan
dari Aisha dengan mengatakan jika ia menyembunyikan sesuatu para hantu akan
memberitahunya. Aisha mengatakan bahwa setelah ia mengaku, “Ia memukuli
saya di dada saya yang mengakibatkan sakit ...” [Muslim4.2127 ].

6) Kekurangan Perempuan

Sebuah hadis melaporkan pertemuan Terdakwa dengan para perempuan dimana


ia menyebut mereka “deficient in intelligence and religion” (kurang dalam hal
intelektualitas dan agama) :

”Once Auwloh's Apostle went out to the Musalla (to offer the prayer) o 'Id-al-
Adha or Al-Fitr prayer. Then he passed by the women and said, "O women! Give
alms, [this money would go to him as the viceroy of God on Earth and he would
distribute it to those whose favor he was seeking or to make the show of
generosity] as I have seen that the majority of the dwellers of Hell-fire were you
(women)." They asked, "Why is it so, O Auwloh's Apostle ?" He replied, "You
curse frequently and are ungrateful to your husbands. I have not seen anyone
more deficient in intelligence and religion than you. A cautious sensible man
could be led astray by some of you." The women asked, "O Auwloh's Apostle!
What is deficient in our intelligence and religion?" He said, "Is not the evidence
of two women equal to the witness of one man?" They replied in the affirmative.
He said, "This is the deficiency in her intelligence. Isn't it true that a woman can
neither pray nor fast during her menses?" The women replied in the affirmative.
He said, "This is the deficiency in her religion." [12]

Kasus diatas tersebut menunjukkan misogyny (kebencian terhadap jenis kelamin


perempuan) dimana Terdakwa pertama-tama merampas hak perempuan dan
lalu mengutuk mereka karena tidak memiliki hak-hak tersebut. Tidak puas
dengan mengakibatkan sakit secara fisik, Terdakwa juga menghina perempuan
dengan menyalahkan korban (blaming the victim). Hadis diatas ini dilaporkan
oleh berbagai narator dan juga dicatat dalam Sahih Muslim, hadis yang paling
otoritatif tentang Terdakwa Muhammad.

7) Perempuan diciptakan UNTUK Lelaki

Dalam surah berikutnya Terdakwa mengatakan :


"dan Ia memberikan tanda-tanda bahwa Ia menciptakan bagimu, darimu, isteri,
sehingga kau dapat “repose in them” /mengasuh didalam mereka"[13]

Bahasa Arabnya menegaskan bahwa “bagimu” menunjuk pada jenis kelamin


lelaki dan "mereka" pada jenis kelamin perempuan. Kenyataannya Auwloh dalam
Quran tidak pernah berbicara langsung kepada perempuan. IA selalu berbicara
kepada nabi atau para pengikut lelakiNya dan yang dimaksud dengan surah ini
adalah: perempuan diciptakan UNTUK lelaki, demi kesenangan lelaki.

Razi dalam At-Tafsir al-Kabir, mengomentari Q. 30:21 :

"Perkataannya 'diciptakan bagi mu' adalah contoh bahwa perempuan diciptakan


seperti binatang dan tanaman, seperti juga Sang Pencipta mengatakan 'Ia
menciptakan bagimu apa yang ada di bumi' dan ini membuat perempuan TIDAK
diciptakan bagi ibadah ataupun menyampaikan perintah-perintah Ilahi. Kami
mengatakan 'menciptakan perempuan' adalah salah satu karunia yang diberikan
kepada kami dan juga memberikan mereka hak atas perintah Ilahi namun TIDAK
SEBAGAIMANA LELAKI diberikan tanggung jawab tersebut. Karena perempuan
tidak diberikan hak memerintah seperti lelaki, karena PEREMPUAN LEMAH,
DUNGU, SEPERTI ANAK KECIL dan hak memerintah tidak diberikan kepada anak
kecil, namun kepada lelaki. Perempuan harus di beri tanggung jawab agar
mereka takut kepada siksaan hukuman dan mengikuti suaminya dan menjauhi
apa yang dilarang, kalau tidak korupsi menjalar."

Hadi Sabzevari, seorang pemikir Islam ternama, dalam komentarnya terhadap


seorang pemikir Islam ternama lainnya, Sadr al-Mote'alihin, menulis: Bahwa Sadr
ad-Deen Shirazi mengklasifikasikan perempuan sebagai binatang adalah
penunjukkan halus kepada kenyataan bahwa perempuan, mengingat kekurangan
mereka dalam hal intelektualitas dan pengertian mengenai hal-hal mendetail,
dan mengingat kesenangan mereka atas perhiasan materi, memang tepat dan
adil disejajarkan kepada binatang [al-haywanti al-sa^mita].

Mereka (perempuan) memiliki sifat binatang [ad-dawwa^b], namun


mereka diberikan bentuk badan manusia sehingga lelaki tidak akan
malu/jijik/enggan untuk berbicara kepada mereka dan mengadakan hubungan
sex dengan mereka. Oleh karena itulah hukum sempurna kami [shar'ina al-
mutahhar] berpihak kepada lelaki dan memberi mereka superioritas dalam
segala hal termasuk perceraian, "nushuz," etc. [14]

Para pemikir diatas tidak membuat-buat pernyataan merendahkan perempuan


ini. Mereka Menginterpretasikan perkataan Muhammad, yang menurut mereka
adalah rasul terhebat Auwloh yang contohnya harus diikuti. Malahan pernyataan
"naqisatan 'aqlan wa dinan" (defisien dalam intelektualitas dan agama), sering
digunakan orang-orang Arab dan merupakan acuan kepada perempuan dan
berasal dari perkataan Muhammad.
8) Perempuan yang menolak Sex akan Dikutuk Malaikat.

Hadis berikut ini menjelaskan bahwa perempuan diciptakan bagi lelaki, bagi
kepuasan lelaki.

’Rasulullah mengatakan, "Jika seorang suami memanggil isteri ke tempat tidur


dan ia menolak dan mengakibatkannya tidur selagi marah, para malaikat akan
mengutuknya sampai keesokan hari." [15]

Membaca hadis diatas tersebut akan membuat orang terheran-heran, apakah


Auwloh tidak memiliki urusan lain selain menyibukkan diri dengan kenikmatan
seksual lelaki muslim?

Adalah tidak masuk akal bahwa Auwloh akan mengirimkan pasukan malaikatnya
untuk nongkrong semalam suntuk dan mengutuki perempuan yang enggan
menghibur suami secara seksual. Mengutuk berarti mengundang dendam Ilahi.
Mengapa Auwloh memerlukan begitu banyak malaikat kalau Ia sendiri cukup
mampu menghukum para perempuan itu?

Ternyata The Divine House of Allah itu mengandung banyak kekurangan dan
mis-management. Seperti presiden sebuah negara yang mengirimkan stafnya
untuk melobby rencana-rencana yang akan dilakukannya. Ini tidak masuk akal.
Lebih banyak lagi hadis menyentuh topik ini:

”Abu Huraira melaporkan Rasulullah sebagai mengatakan : ... jika seorang lelaki
memanggil isterinya ke tempat tidur dan ia tidak menanggapi maka Sang
Pencipta di Surga tidak akan suka dengannya kecuali suaminya kembali suka
kepadanya.” [16]

Dan
”Nabi mengatakan, "Jika seorang perempuan melewatkan malam mengacuhkan
tempat tidur suaminya, maka malaikat akan mengutuknya sampai ia kembali ke
suaminya." [17]

Sulit mencari alasan mengapa Terdakwa begitu mempersoalkan kebutuhan sex


lelaki. Apakah Terdakwa hanya ingin menakut-nakuti para isterinya yang masih
remaja agar tidak menolak tuntutan seksualnya? Mungkin Terdakwa dalam usia
lanjutnya bergigi keropos, bau nafas tidak sedap dan mungkin juga impoten?
Atau mungkin Auwloh pekerjaannya sebagai germo atau GIGOLO / "pimp"?

Menurut nabi egois ini, nafsu seksual lelaki begitu darurat sampai sang
perempuan harus mengorbankan makanan dalam kompor. "Rasulullah
mengatakan: Kalau seorang suami memanggil isterinya untuk memuaskan
nafsunya, ia harus datang padanya walaupun ia sibuk didepan kompor." [18]
9) Perempuan adalah Pudenda (Pudendum [Latin]: A thing to be
asham ed of ) ?!!

Muhammad tidak puas menghina perempuan malah membandingkan mereka


sebagai pudenda.

"Ali melaporkan kata-kata Rasulullah: 'Perempuan memiliki 10 ('aurat). Jika ia


menikah, suaminya menutupi satu, dan jika ia meninggal, kuburan akan
menutupi ke 10."[19]

Apa yang dimaksud dengan AURAT? The Encyclopedia of Islam mendefinisikan


'aurat sebagai pudendum, yaitu "alat kelamin external, khususnya perempuan".
(Arti "pudendum" dalam bahasa Latin adalah : hal yang memalukan, a thing to
be ashamed of )" [20]

Dan menurut hadis berikut, perempuan tidak hanya memliki 10 aurat, sang
perempuan itu sendiri dianggap aurat:
"Perempuan adalah aurat. Kalau ia beranjak keluar rumah, setan akan
menyambutnya." [21]

Hadis berikut menunjukkan bahwa perempuan tidak didorong untuk beranjak ke


luar rumah, bahkan sembahyang di mesjid. "Perempuan paling dekat dengan
wajah Auwloh jika ia ditemukan di rumah. Dan ibadah perempuan di rumah lebih
baik daripada ibadahnya di mesjid." [22]

Ini jauh dari keadaan ketika kaum Arab menghormati perempuan sebagai
business-woman (Khadija), mengikuti perintah perempuan sebagai pemimpin
perang (Aisha), mendengarkan pemikiran perempuan (Asma bt. Marwan),
menerima dukungan dari mereka (Hind) dan mengikuti nabi perempuan mereka.
Secara bertahap, generasi baru diindoktrinasi dengan ajaran Muhammad,
menjadi benci terhadap perempuan dan pada akhirnya perempuan Islam
kehilangan hak dan kehormatan mereka.

10) Perempuan kehilangan hak hukum/legal rights

”Defisiensi perempuan” dalam hal intelektualitas juga mempengaruhi hak mereka


dalam hukum.

Qur'an, 2:282
"Dan panggilah para saksi, dua saksi kalau lelaki; atau jika keduanya bukan
lelaki, maka satu lelaki dan dua perempuan, jika salah satu perempuan keliru
maka yang lainnya akan memperingatinya.
(And call in to witness two witnesses, men; or if the two be not men, then one
man and two women, such witness as you approve of, that if one woman errs
the other will remind her)."

Dengan kata lain, bukan hanya seorang perempuan tidak bisa memberikan
kesaksian, namun kalau tidak ada kehadiran saksi lelaki, maka kesaksian
perempuan itu tidak ada artinya. Jadi kalau seorang perempuan diperkosa dan
ia tidak dapat membawa saksi lelaki ia TIDAK dapat memberikan kesaksian
melawan sang pemerkosa. Namun, kesaksiannya itu malah dianggap sebagai
pengakuan seks tidak senonoh dan bisa digunakan untuk menghukum balik
SANG PEREMPUAN! Apalagi jika sang korban perkosaan menjadi hamil, bukti
hasil perkosaan, ia dapat dituduh dan dihukum rajam sampai mati.

Jury mudah-mudahan masih mengingat kasus AMINA LAWAL yang oleh


pengadilan syariah Nigeria dikenakan hukuman rajam pada saat bayinya tidak
lagi perlu susu ibu.

11) Hak Waris Perempuan lebih kecil

Muslim apologists (pembela islam) mengatakan bahwa sebelum Islam,


perempuan tidak memiliki hak sama sekali dan tidak menerima waris. Ini jelas
tidak terbukti. KHADIJA MENERIMA KEKAYAANNYA LEWAT WARIS. Ketika
Muhammad memutuskan bahwa hak waris perempuan setengah dari hak waris
saudara lelaki mereka, perempuan tidak menerima ini dengan tangan terbuka.

4.11 - “Auwloh memberikan hak (waris) kepada anak-anakmu: kepada lelaki,


jumlah bagian yang sama dengan dua perempuan”.

Malah salah satu isterinya mengeluh bahwa peraturan ini tidak adil bagi
perempuan.

Umma Salmah mengatakan: "Wahai Rasulullah! Lelaki dapat melakukan Jihad,


mengumpulkan hasil perang, sementara kami tidak dan menerima setengah dari
warisan." (i.e. saudara lelaki menerima dua kali jumlah yang diterima saudara
perempuan). Setelah itu surah "Dan kau tidak boleh iri .... 4.32." diturunkan.” [23]

4.32 - “And in no wise covet those things in which Auwloh Hath bestowed His
gifts More freely on some of you than on others: To men is allotted what they
earn, and to women what they earn.”

Ini menunjukkan bahwa perempuan sebelum islam memiliki hak waris lebih
banyak dari yang diberikan dalam masa islam.
12) Pendapat Muhammad tentang Perempuan

Terdakwa begitu rendah pandangannya terhadap perempuan sampai ia


membandingkan mereka dengan ladang perkebunan dan lelaki dapat
memasukinya dari manapaun (ana she’tom).

2.223 - “Isteri-istri mu adalah ladang pertanian bagimu: jadi dekatilah


ladangmu ini kapan dan bagaimanapun kau inginkan..” (sering terjemahan
dihaluskan/disanitasi.)

Memang tidak pantas untuk lebih deskriptif, namun jelas bahwa kata "ana
she'tom" berarti lubang perempuan manapun yang bagi lelaki diijinkan untuk
dimasuki! Ini tidak lain menganggap perempuan tidak lebih dari sekedar alat
permainan yang diciptakan untuk kepuasan lelaki.

"'Umar pernah berbicara ketika isterinya memotong kalimatnya, jadi ia


mengatakan kepadanya: 'Kamu adalah mainan (a toy), jika kau diperlukan kami
akan memanggilmu.'" [24]

Pemikir Islam ternama, Ghazali, mengatakan :


"Berada diantara perempuan, memandangi mereka dan bermain dengan mereka,
jiwa kembali segar, hati beristirahat dan ibadah kepada Auwloh diperkuat ...
itulah mengapa Auwloh mengatakan : 'Agar ia (lelaki) bisa beristirahat
didalamnya (perempuan) / That he may rest in her.' (Q. 7:189)" [25]

Surah yang dimaksudkan Ghazali adalah:


Q 7.189 - “IA-lah yang menciptakanmu dari satu orang, dan menjadikan
pasangannya dari alam agar kau dapat beristirahat didalamnya. / It is He Who
created you from a single person, and made his mate of like nature, in order that
he might dwell with her (rest in her).”

Jelas bahwa Muhammad tidak memiliki hormat bagi perempuan.


Rasulullah mengatakan, "Setelah saya, tidak ada yang mengakibatkan
penderitaan yang lebih besar terhadap kaum lelaki ketimbang perempuan."
[26]
("After me I have not left any affliction more harmful to men than women")

Terdakwa juga membandingkan perempuan dengan tulang rusuk bengkok.


”Perempuan seperti tulang rusuk. Kalau kau mencoba meluruskannya, kau akan
mematahkannya. Jika kau mendiamkannya kau akan mendapatkan manfaat dan
kebengkokannya akan tetap berada didalamnya.” [27]

Hadis ini diklasifikasikan sebagai "disetuju bersama" karena dilaporkan oleh


kolektor hadis lainnya.
Dalam hadis lain ia mengatakan: ”Perempuan datang dan pergi dalam bentuk
setan, jadi jika kau melihat wantia, kau harus segera kembali ke isterimu,
sehingga dapat mengusir perasaan yang ada didalammu”. [28]

13) Perempuan dalam posisi tinggi

Sebelum Islam, dalam negara-negara non-Arab, seperti di Persia dan Byzantine,


perempuan memiliki lebih banyak hak dari negara-negara Arab. Malah, di Iran
perempuan bisa menjadi Ratu dan pemimpin negara. Apa komentar Muhammad
mengenai hal ini?

Ketika Nabi mendengar berita bahwa rakyat Persia membuat puteri Khosrau Ratu
(pemimpin) mereka, ia mengatakan, "Tidak pernah sebuah bangsa akan sukses
jika menjadikan perempuan sebagai pemimpin." [29]

Pernah saya ditanya mengapa negara-negara islam seperti Bangladesh dan


Pakistan memiliki perdana menteri perempuan? Jawabannya adalah bahwa
banyak muslim tidak tahu agama mereka dan secara tidak sadar mengikuti adat
Jahiliyah pra-Islam. Jaheliah berarti kebodohan dan Muslimin sering melakukan
hal-hal yang tidak menurut islam. Tetapi Taliban, di lain pihak mengerti betul
islam. Semakin islam sebuah negara, semakin sempurna syariah yang
diberlakukan, semakin rendah hak-hak perempuan.

14) Penguburan hidup-hidup bayi perempuan.

Sering Muslimin memberi bukti bahwa Muhammad membebaskan perempuan


dengan perintah Quran yang melarang penguburan hidup-hidup bayi
perempuan. Mereka ingin agar kau percaya bahwa ini praktek umum bangsa
Arab yang hanya dihentikan setelah Islam. Namun dongeng ini bisa dibantah
dengan mudah. Jika praktek ini begitu umum, bagaimana kaum Arab memiliki
begitu banyak isteri dan bagaimana bangsa Arab bisa melanjutkan keturunan?

Penguburan bayi perempuan hidup-hidup sekarang bahkan masih dipraktekkan


di China dan India. Ini dilakukan oleh golongan yang paling rendah
pendidikannya dan paling miskin. Praktek ini namun demikian dianggap
melanggar hukum dan para pelakunya, jika ketahuan, akan dihukum. Tidak ada
alasan bahwa hal ini berbeda di negara-negara Arab. Sudah jelas orang Arab
tidak menyukai tindakan ini karena melanggar kemanusiaan. Ketika Muhammad
melarangnya, ia sekedar mengungkapkan perasaan mayoritas. Seperti pemimpin
jaman sekarang yang melarang orang minum alkohol [mabuk] sambil
mengendarai mobil. Namun apakah keputusan macam ini dianggap sebagai
sesuatu yang luar biasa?

Seperti saudara Jury bisa menyimak, perempuan di masa Islam kehilangan


segala hak, termasuk hak untuk bepergian sendirian. [30]

15) Auwloh memiliki puteri? Alangkah merendahkan bagi Auwloh!

Pandangan Muhammad terhadap perempuan begitu rendah sampai ia merasa


tidak pantas bagi Auwloh untuk memiliki puteri jika lelaki biasa saja bisa
membanggakan putera-puteranya.

Dalam Surah 53.19-22, setelah membantah pernyataan bahwa Auwloh memiliki


puteri-puteri seperti dulunya anggapan suku Quraysh, ia mengatakan : “APA!
Bagi anda anak lelaki, dan bagi IA, perempuan? Lihatlah, hal itu merupakan
pembagian yang AMAT TIDAK ADIL (a division most unfair)!”

Seandainya Auwloh hanya memiliki puteri dan bukan putera: mengapa


memangnya keadaan ini dianggap begitu tidak adil? Apakah Auwloh malu tidak
memiliki putera? IRONISNYA MALAH MUHAMMAD YANG KETIBAN NASIB INI:
semua puteranya mati ketika masih bayi dan ia hanya ditinggali anak-anak
perempuan. BETAPA MALUNYA IA! Seseorang dengan ego kolosal tersebut
HANYA memiliki anak perempuan, yang ia anggap "sangat UNFAIR".

Kenyataan bahwa kaum Arab memiliki dewi-dewi adalah bukti bahwa mereka
cukup menghormati perempuan sampai memberikan mereka status dewi.
Menurut Muhammad, semua anggota Rumah Auwloh, termasuk malaikat adalah
lelaki. Satu-satunya kaum perempuan yang ada di surga adalah para "houris",
prostitute (pelacur) surgawi yang diciptakan khusus bagi kenikmatan lelaki/martir
muslim. Malahan, tidak banyak perempuan yang diijinkan masuk Surga. Seperti
dikatakan Muhammad sendiri, kebanyakan dari mereka akan berakhir di
NERAKA!

16) Komentar Terdakwa lainnya yang merendahkan Perempuan.

Dalam sebuah hadis Muhammad menyamakan perempuan dengan anjing dan


keledai:
”Ibadah lelaki akan diputus dengan lewatnya keledai, perempuan dan anjing
hitam.” [31]
Dalam hadis lainnya ia mengartikan mimpinya tentang seorang perempuan hitam
sebagai “epidemi”. [32]

Ia juga mengatakan bahwa perempuan mengakibatkan penderitaan yang paling


besar kepada lelaki: "Setelah saya, tidak ada yang mengakibatkan penderitaan
yang lebih besar terhadap lelaki ketimbang perempuan. " [33]

17) Isteri yang baik

Satu-satunya kewajiban suami adalah untuk memilihara isteri. Ia harus


menyediakan makanan, rumah dan pakaian. Namun kebutuhan emosional,
psikologis maupun sexual ia tidak perlu ambil pusing. Menurut Islam, kebutuhan
ini tidak ada karena perempuan bukanlah manusia.

Muhammad bukan saja memiliki segudang perempuan dalam haremnya ketika


berusia lanjut dan mungkin juga impoten, ia malah melarang isteri-istrinya yang
muda itu untuk menikah kembali setelah ia mati. Terdakwa begitu posesif
sampai tidak sudi isterinya disentuh lelaki lain, bahkan setelah kematiannya.

Ia mensahkan poligami dan mengijinkan lelaki menikahi 4 isteri (Q.4:3) dan para
budak perempuan sesukanya. Bahkan ada yang percaya bahwa surah ini tidak
membatasi jumlah isteri namun bahwa seorang lelaki bisa menikahi sejumlah
isteri, dua, tiga, dst. [34]

Oleh karena itu lelaki boleh memiliki nafsu seksual terhadap perempuan lain
bahkan setelah menikahpun namun:
”Perempuan saleh, adalah perempuan yang jika suaminya memintanya, ia
menurut; jika suaminya memandanginya, isteri menyenangkannya; jika suami
bersumpah; isteri memenuhinya, dan jika suami absen, isteri akan menjaga diri
dan harta bendanya." [35]

Bukankah ini cara menggambarkan anjing setia? Nah, apa lagi yang harus
dimiliki seorang perempuan saleh?
"Perempuan paling baik adalah mereka yang memiliki
wajah paling cantik DAN EMAS KAWIN PALING
RENDAH." [36]

Satu lagi kualitas isteri baik :


"Isteri yang baik adalah yang membantu suami
memikirkan dunia akhirat. Ia melakukannya dengan
melakukan kewajibannya di rumahnya (membebaskan
suami dari urusan domestik rumah tangga), dan
dengan memuaskan suaminya secara seksual sehingga
melindunginya dari godaan seksual." [37]

Jika seorang nabi begitu membenci perempuan, begitu


merendahkan kepercayaan mereka, begitu menghina
intelektualitas mereka, merampas hak-hak mereka, apa
yang dapat kita harapkan dari pengikutnya? Perempuan
muslim tidak pernah akan emansipasi, selama mereka
menganggap Muhammad sebagai pemimpin spiritual
mereka.

Jika muslimin tidak percaya saya, percayalah nabi mereka yang mengatakan:
‘Rasulullah mengatakan, "banyak dari antara lelaki mencapai kesempurnaan
namun tidak ada diantara para perempuan kecuali Asia, isteri Faraoh, dan Maria,
puteri 'Imran.” [38]

KESIMPULAN:

Jaksa merasa memberikan bukti berlimpah akan kejahatan Terdakwa untuk


menyatakannya bersalah dalam hal misogyny, pelecehan terhadap hak-hak
perempuan dan merendahkan setengah jumlah umat manusia. [39]

Karena kejahatannya ini (misogyny), perempuan Muslim dilecehkan hak-hak


mereka dan tidak dapat mengembangkan potensi penuh mereka. Sebaliknya
mereka menjadi obyek hinaan, diskriminasi, perkosaan, honor killing dan
macam-macam pelecehan fisik, emosional dan sexual tanpa diberi hak untuk
membela diri ataupun menuntut hak mereka. Hasilnya, seluruh dunia Muslim
tertinggal dari penduduk dunia lain karena setengah jumlah penduduknya sendiri
dihalangi dari emansipasi.

Perempuan dihalangi dari pendidikan karena dianggap tidak perlu. Perempuan


tidak berpendidikan ini menjadi terbelakang dan tidak memiliki percaya diri.
Kaum perempuan macam inilah kemudian yg membesarkan anak-anak lelaki dan
mencerminkan kekurangan mereka terhadap anak-anak mereka. Putera-putera
mereka ini mewarisi harga-diri rendah (low self-esteem) dari ibu mereka dan
"membangun" dunia Islam secara tidak memadai, tanpa kemampuan untuk
mengatasi kekurangan-kekurangan didalam diri mereka: rasa takut, rasa terhina
dan kebanggaan yang terluka. Pada akhirnya seluruh dunia islam terjun dalam
kegelapan, kebodohan dan kediktatoran.

Dr. Mahathir, mantan PM Malaysia, pada pertemuan puncak ke-10 Organization


of Islamic Conference, memberi gambaran tepat: “Kami semua Muslim. Kami
semua tertekan. Kami semua dihina.”

Ini gambaran tepat tentang perasaan Muslimin pada umumnya. Dan perasaan
inferioritas ini bukan karena kekuatan Zionis yang memiliki pengaruh atas
Muslimin melalui alat pencet tombol jauh (remote control), kata Dr. Mahathir,
namun akibat pelecehan hak-hak perempuan di semua negara-negara Islam.

Ternyata ada juga orang dengan rasa kurang percaya diri yang sanggup
mencapai puncak kekuasaan seperti Sadam Husein, Osama Bin Laden atau
Hasan Sabbah. Namun merekapun memiliki inferiority-complex yang merusak
jiwa mereka dan akibatnya mereka bertindak secara diktatorial, terlepas dari
tinggi rendahnya status mereka dalam masyarakat. Lelaki muslim macam ini
haus akan kuasa, perlu menunjukkan dirinya dan perlu membuktikan kepada
dunia bahwa ia seseorang yang patut diperhitungkan. Ia haus akan pengakuan
dan takut diacuhkan. Ia merasa diacuhkan, dihina, dikecilkan dan oleh karena itu
mencari pelampiasan dendam. Ini juga disuarakan Dr. Mahathir yang
menyerukan kepada Muslimin agar mendapatkan “guns and rockets, bombs and
war-planes, tanks and warships” untuk merampas kembali hak mereka dari
“detractors and enemies” mereka.

Mahathir memang betul! Lelaki Muslim tertekan dan terhina. Namun faktanya
adalah, penghinaan mereka tidak ada hubungannya dengan Yahudi atau umat
non-muslim lainnya. Ini karena cara mereka dibesarkan oleh ibu mereka dan
cara Islam memperlakukan perempuan. Perempuan yang tidak memiliki self-
esteem (rendah harga dirinya) tidak dapat membesarkan putera-puteri dengan
harga diri tinggi. Hasilnya adalah lelaki dengan ego terluka, yang mencari
kekuasaan dan pengakuan untuk mengatasi inferiority complex mereka itu.

Tidaklah aneh bahwa ibu Osama bin Laden adalah isteri yang paling tidak disukai
ayahnya yang memiliki lebih dari 10 isteri. Osama dibesarkan oleh seorang ibu
yang rendah harga dirinya dan ia mewarisi sifat inferior sang ibu. Kini Osama
berperang melawan dirinya sendiri itu dengan menjadi pahlawan muslimin yang
mendukung tindakan terornya.

Lelaki dengan harga diri rendah sangat berbahaya. Lee Harvey Oswald
membunuh J.F. Kennedy tanpa alasan lain selain ingin membuktikan diri sendiri,
untuk menunjukkan bahwa ia penting dan sanggup melakukan hal besar. Semua
lelaki terhina ini ingin membuktikan diri, bahkan sebagai pembunuh atau teroris.
Mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan massal 9/11 dsb guna
menjadi martyr, menderita karena diri yang direndahkan. Ide untuk menjadi
pahlawan, pemaparan foto mereka diseluruh dunia adalah sangat menarik bagi
lelaki yang merasa hidup mereka tidak berguna.

Nabi gadungan dari tanah Arab ini tidak pernah dapat membayangkan bahwa
obsesinya mengontrol isteri-istrinya satu hari dapat membawa dunia kepada
kehancuran.

Oleh karena itu Jaksa menuntut pengutukan total terhadap MUHAMMAD BIN
ABDULLAH karena merampas hak perempuan, merendahkan mereka pada
derajat binatang piaraan dan oleh karena itu melahirkan bangsa sakit yang
terdiri dari lelaki yang luka secara emosional dengan ego luar biasa, tanpa
kemampuan berfungsi dalam dunia yang menuntut persamaan hak-hak. Mereka
tidak sanggup menjadi bahagia, positif dan puas. Mereka gagal dalam hubungan
mereka dengan isteri dan anak mereka kecuali sifatnya patriarchal. Mereka gagal
dalam masyarakat kecuali masyarakat itu diktatorial.

Mereka mengulangi lingkaran pelecehan, penghinaan dan kediktatoran AD


INFINITUM (tanpa akhir). Lelaki tidak berarti yang luka jiwanya karena keperluan
emosi mereka tidak dipenuhi oleh ibu-ibu mereka yang sama-sama bodoh, picik
dan kurang puas secara emosional, mengenakan topeng pengingkaran/denial
dan grandiositas, menyembunyikan diri dibelakang ego mereka yang cepat
tersinggung. Mereka merupakan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain, bahkan
bagi seluruh dunia.

Dari semua kejahatan yang dilakukan Terdakwa; pembunuhan, perampokan,


pemerkosaan dan pedophilia, perbudakan dan genocide, ini yang paling parah.
Misogyny paling menghancurkan bagi muslimin. Walaupun target misogyny
adalah perempuan, kerusakan yang diakibatkan dirasakan oleh setiap pengikut
Muhammad. Sebuah masyarakat sakit dikembangkan oleh lelaki yang memiliki
mental korban namun sombong dan egosentris, menyukai kekerasan, penyebar
kebencian dan perang.

Saya menyerukan Jury (anda sekalian para pembaca) agar mengutuk


Terdakwa dengan suara bulat dan menyatakannya bersalah atas
misogyny. Ini merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan!

---------------- t.h.e.*.e.n.d. -----------------


Referensi :

[1] http://anwary-islam.com/battle/ghazwah_uhud.htm
[2] Bukhari Volume 3, Book 43, Number 648:
[3] Bukhari, v1, bk 8, sunnah 395.
[4] Quran, 33:30
[5] Quran, 33:32
[6] Qurna, 4:34
[7] Quran 2:228
[8] Bukhari Volume 2, Book 18, Number 161
[9] Quran.4:34
[10] Razi, At-tafsir al-Kabir, on Q. 4:34.
[11] Muslim Book 11, Number 2135)
[12] Bukhari Volume 1, Book 6, Number 301
[13] Quran: 30.21
[15] (Quoted in Soroush, Abdolkarim, _Farbehtar az ideoloji_, Sera^t, Tehran,
1373 A.H.S.). [A.H.S. = After the Hegira, in Solar years].
[14] Bukhari Volume 4, Book 54, Number 460.
[16] Sahih Muslim Book 008, Number 3367:
[17] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 122
[18] Mishkat al-Masabih, English translation, Book I, Section 'Duties of husband
and wife', Hadith No. 61.
[19] Kanz-el-'Ummal, Vol. 22, Hadith No. 858. See also Ihy'a
[20] The World Book Dictionary
'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-
Nikah, p. 65.
[21] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II,
Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith.
[22] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II,
Kitab Adab al-Nikah, p. 65. Reported by Tirmizi as a true and good Ahadith.
[23] (Ibn Katheer vl.1, pg.498)
[24] Al-Musanaf by Abu Bakr Ahmad Ibn 'Abd Auwloh Ibn Mousa Al-Kanadi who
lived 557H., Vol. 1 Part 2, p. 263. See also Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar
al- Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II, Kitab Adab al-Nikah, p. 52.
[25] Ihy'a 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, Vol II,
Kitab Adab al-Nikah, p. 34.
[26] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33
[27] Sahih Muslim Book 008, Number 3466
[28] Book 008, Number 3240
[29] Volume 9, Book 88, Number 219
[30] (Sahih Bukhari 2.194)
[31] Muslim Book 004, Number 1032
[32] Bukhari Volume 9, Book 87, Number 163
[33] Bukhari Volume 7, Book 62, Number 33
[34] Razi, At-tafsir al-kabir, commenting on Q. 4:3
[35] Mishkat al-Masabih, Book 1, duty towards children Hadith No. 43.
[36] Ihya' 'Uloum ed-Din by Ghazali, Dar al-Kotob al-'Elmeyah, Beirut, vol. II,
Kitab Adab al-Nikah, p. 45.
[37] Ibid., p. 35
[38] Bukhari Volume 4, Book 55, Number 623
[39] For further studies, read Abul Kasem’s book on women available online and
an excellent essay written by M. Rafiqul-Haqq and P. Newton called The Place of
Women in Pure Islam also available online.

. Selamatkan Umat Manusia dari Islam .

Copy & Print artikel ini


Dan sebarluaskan !
islamexpose.blogspot.com