Anda di halaman 1dari 12

RINGKASAN MATERI KULIAH

TEORI AKUNTANSI (EKA 441 C1)


SAP 10
“PSAK 10: Pengaruh perubahan Kurs Valuta Asing & PSAK 55: Instrumen
Keuangan”

DOSEN PENGAMPU: Dr. Ida Bagus Putra Astika, S.E., M.Si., Ak., CA.

OLEH:
KELOMPOK 2

Dewi Raditya Mutyarini Putri (1506305007/Absen 05)

Ni Made Win Karoyani (1506305009/Absen 06)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN AJARAN 2017/2018
DAFTAR ISI

Halaman Judul

Daftar Isi .......................................................................................................................... i

Pembahasan...................................................................................................................... 1

1. PSAK 10: Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing ............................................ 1

2. PSAK 55: Instrumen Keuangan .......................................................................... 3

Daftar Referensi ............................................................................................................... 10

i
PEMBAHASAN

1. PSAK 10: PENGARUH PERUBAHAN KURS VALUTA ASING


1.1. Tujuan dan Lingkup
Tujuan dari dibentuknya PSAK 10 ini adalah untuk mengetahui bagaimana
memasukkan transaksi dalam mata uang asing dan kegiatan usaha luar negeri ke
dalam laporan keuangan entitas ke dalam menjabarkan laporan keuangan ke dalam
mata uang penyajian.
Ruang Lingkup:
a. Akuntansi transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali transaksi dan
saldo derivatif (PSAK 55).
b. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang
termasuk dalam laoran keuangan entitas secara konsolidasi, proporsional
atau metode ekuitas.
c. Menjabarkan hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang
penyajian.
d. Derivatif mata uang asing, kecuali derivatif yang tidak termasuk lingkup
PSAK 55 misal derivatif yang melekat pada kontrak lain.
e. Akuntansi lindung nilai mata uang asing termasuk lindung nilai investasi di
LN.
f. Penyajian laporan arus kas yang timbul dari transaksi mata uang asing atau
penjabaran arus kas dari kegiatan usaha LN
1.2. Pengakuan
1.2.1. Pengakuan Awal
Transaksi mata uang asing dicatat dalam mata uang fungsional. Translasi mata
uang asing ke dalam mata uang fungsional menggunakan kurs spot pada tanggal
transaksi. Kurs spot yang sering digunakan adalah yang mendekati kurs aktual
pada tanggal transaksi. Contoh: kurs rata-rata untuk seminggu (jika kurs tidak
berfluktuasi secara signifikan).
1.2.2. Pengakuan Selisih Kurs
Selisih kurs yang timbul pada penyelesaian atau penjabaran pos moneter dari
saat pengakuan awal hingga penjabaran dilakukan, diakui dalam laba rugi pada
periode saat terjadinya.
1
Jika terdapat transaksi (misal, pos moneter) yang timbul dan diselesaikan
dalam periode akuntansi yang sama di mana terdapat selisih kurs sejak timbul dan
selesainya transaksi tersebut, maka selisih kurs diakui dalam periode akuntansi itu.
Namun jika transaksi diselesaikan pada periode berikutnya, maka selisih kurs
diakui dalam setiap periode sampai tanggal penyelesaian ditentukan dengan
perubahan kurs selama masing-masing periode.
Dikecualikan:
- Selisih kurs yang timbul dari pos moneter yang merupakan bagian dari
investasi neto entitas pelapor dalam kegiatan usaha luar negeri (contoh:
piutang dan utang jangka panjang) diakui dalam salah salah satu yang tepat
antara laba rugi pada laporan keuangan tersendiri entitas pelapor dan laporan
keuangan individual kegiatan usaha luar negeri.
- Dalam laporan keuangan yang mencakup kegiatan usaha luar negeri dan
entitas pelapor (misal laporan keuangan konsolidasian), selisih kurs diakui
awalnya pada laporan komprehensif lain dan direklasifikasi dari ekuitas ke
laba rugi pada saat pelepasan investasi neto.
Lokasi di mana laba (rugi) selisih kurs akan diakui adalah mengikuti lokasi di
mana laba rugi pos non moneter juga diakui. Contoh PSAK 16 (revisi 2007): Aset
Tetap mensyaratkan beberapa keuntungan atau kerugian yang timbul dari
revaluasi aset tetap diakui dalam pendapatan komprehensif lain. Maka ketika aset
tersebut diukur dalam mata uang asing, selisih kurs juga diakui dalam pendapatan
komprehensif lain.
1.3. Pengukuran
Jumlah tercatat suatu pos mengacu pada PSAK yang mengaturnya. Misal, untuk
menentukan pengukuran aset tetap apakah menggunakan nilai historis atau nilai
wajar mengacu pada PSAK 16: Aset Tetap. Jika jumlahnya ditentukan dalam mata
uang asing, maka selanjutnya harus dijabarkan ke dalam mata uang fungsional.
1.4. Penyajian
Jika mata uang penyajian berbeda dari mata uang fungsional entitas, maka
entitas menjabarkan hasil dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian.
Untuk kepentingan konsolidasi, tetap mengikuti prosedur konsolidasi normal
kecuali untuk aset moneter intra kelompok. Hal ini disebabkan pos moneter
memiliki komitmen untuk mengkonversi suatu mata uang ke dalam mata uang lain
dan memungkinkan entitas pelapor memiliki risiko laba (rugi) selisih kurs. Selisih
2
kurs disajikan dalam laba rugi atau mengikuti lokasi di mana laba rugi suatu pos
juga diakui.
1.5. Pengungkapan
Entitas mengungkapkan antara lain:
a. Jumlah selisih kurs yang diakui dalam laba rugi, kecuali yang timbul pada
pos yang diukur pada nilai wajar sesuai PSAK 55 (revisi 2006).
b. Selisih kurs neto yang diakui dalam pendapatan komprehensif lain termasuk
rekonsiliasi selisih kurs awal dan akhir periode.
c. Alasan penggunaan mata uang penyajian yang berbeda dengan mata uang
fungsional.
d. Alasan perubahan mata uang fungsional entitas pelapor maupun kegiatan
usaha luar negeri yang signifikan.
e. Penjelasan bahwa laporan keuangan tunduk kepada SAK jika mata uang
penyajian berbeda dengan mata uang fungsional.
f. Jika entitas menyajikan informasi laporan keuangan dalam mata uang yang
berbeda namun tidak memenuhi persyaratan pada poin e, maka entitas:
i. Mengidentifikasi secara jelas informasi tersebut sebagai informasi
tambahan untuk membedakannya dengan informasi yang tunduk
pada SAK.
ii. Mengungkapkan mata uang yang mana informasi tambahan tersebut
disajikan.
iii. Mengungkapkan mata uang fungsional entitas dan metode
penjabaran yang digunakan untuk menentukan informasi tambahan
tersebut.

2. PSAK 55: INSTRUMEN KEUANGAN


2.1. Tujuan PSAK 55
Tujuan pernyataan ini adalah untuk mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan
dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan, dan kontrak pembelian atau
penjualan item non keuangan.
2.2. Ruang Lingkup PSAK 55
Pernyataan ini diterapkan oleh semua entitas untuk seluruh jenis instrumen
keuangan, kecuali untuk:

3
a. Penyertaan pada entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama.
b. Hak dan kewajiban dalam sewa.
c. Hak dan kewajiban pemberi kerja.
d. Instrumen keuangan terbitan entitas.
e. Hak dan kewajiban yang timbul dalam kontrak asuransi.
f. Kontrak antara pengakuisisi dan penjual dalam kombinasi bisnis.
g. Komitmen pinjaman yang diberikan selain dari yang dijabarkan

2.3. Klasifikasi Instrumen Keuangan


a. Aset Keuangan
1) Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi.
Aset keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan (misalnya untuk
dijual dalam waktu dekat pada masa mendatang) atau pada saat
pengakuan awal telah ditetapkan oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi.
Contoh: Aset derivatif dan investasi dalam instrumen utang
dan ekuitas yang dimiliki dalam portofolio diperdagangkan.
2) Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo.
Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh
temponya telah ditetapkan serta entitas mempunyai intensif positif dan
kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.
Contoh: Investasi dalam instrumen utang yang mempunyai kuotasi harga
di mana entitas memiliki niat dan mampu memiliki hingga jatuh tempo.
3) Pinjaman yang diberikan dan piutang.
Aset keuangan dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak
mempunyai kuotasi harga di pasar aktif.
Contoh: Piutang usaha, pinjaman yang diberikan, dan piutang wesel.
4) Aset keuangan tersedia untuk dijual.
Aset keuangan yang dirancang sebagai tersedia untuk dijual atau yang
tidak diklasifikasikan dalam ketiga kategori di atas.
Contoh: Investasi dalam instrumen utang dan ekuitas yang tidak termasuk
dalam kategori lain.

4
b. Liabilitas Keuangan
1) Liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan
laba rugi.
Liabilitas keuangan baik yang dimiliki untuk diperdagangkan
(misalnya dibeli kembali dalam waktu dekat pada masa
mendatang) atau ditetapkan pada saat pengakuan awal telah ditetapkan
oleh entitas untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Contoh: Liabilitas derivatif dan liabilitas diperdagangkan lainnya.
2) Liabilitas keuangan yang diukur dengan biaya perolehan diamortisasi.
Semua liabilitas lainnya selain daripada liabilitas yang dinillai pada
nilai wajar melalui laba rugi.
Contoh: Utang usaha, utang wesel, dan efek utang yang diterbitkan.
3) Tainting.
Entitas tidak boleh mengklasifikasikan aset keuangan sebagai investasi
yang dimiliki hingga jatuh tempo, jika dalam tahun berjalan atau dalam
kurun waktu dua tahun sebelumnya, telah menjual atau mereklasifikasi
investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo dalam jumlah yang lebih
dari jumlah yang tidak signifikan (more than insignificant) sebelum
jatuh tempo.
Terdapat pengecualian atas Tainting Rule tersebut jika penjualan atau
reklasifikasi tersebut:
- Dilakukan ketika aset keuangan sudah mendekati jatuh tempo atau
tanggal pembelian kembali (contohnya, kurang dari tiga bulan
sebelum jatuh tempo).
- Terjadi setelah entitas telah memperoleh secara substansial seluruh
jumlah pokok aset keuangan tersebut sesuai jadwal pembayaran
atau entitas telah memperoleh pelunasan dipercepat.
- Terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali
entitas, tidak berulang, dan tidak dapat diantisipasi secara wajar
oleh entitas

5
2.4. Pengukuran Instrumen Keuangan
a. Pengukuran Awal
Pada saat pengakuan awal, entitas pada umumnya mengukur aset keuangan
menggunakan akuntansi tanggal transaksi pada nilai wajar ditambah biaya
transaksi (fair value plus transaction costs), kecuali aset keuangan yang diukur
pada nilai wajar melalui laba rugi. Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi pada awalnya hanya diakui pada nilai wajar (fair value).
Biaya transaksi (transaction costs) adalah biaya-biaya tambahan, seperti
biaya pendaftaran dan komisi lain yang ditetapkan, biaya yang dibayarkan
kepada penasehat hukum, akuntan, dan penasehat profesional lain, biaya
percetakan dan meterai.
Biaya transaksi meliputi fee dan komisi yang dibayarkan pada para agen
(termasuk karyawan yang berperan sebagai agen penjual/selling agent),
konsultan, perantara efek dan pedagang efek; pungutan wajib yang dilakukan
oleh pihak regulator dan bursa efek, serta pajak dan bea yang dikenakan atas
transfer yang dilakukan. Biaya-biaya transaksi tidak termasuk premium atau
diskonto utang, biaya pendanaan (financing costs), biaya administrasi internal,
atau biaya penyimpanan (holding costs).
Jurnal untuk mencatat biaya transaksi yang dibayar tunai dan berkaitan
dengan instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar (fair value) adalah:
Biaya Transaksi xxx
Kas xxx
b. Pengukuran Berikutnya
Setelah pengakuan awal, aset keuangan dan liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar, biaya perolehan diamortisasi atau biaya perolehan tergantung
klasifikasi apakah nilai wajar dapat ditentukan dengan andal. Pengukuran awal
(initial measurement) dan pengukuran berikutnya (subsequent measurement)
atas instrumen keuangan dan perlakuan akuntansi atas perubahan nilai
wajar (keuntungan atau kerugian kepemilikan yang belum direalisasi –
unrealized holding gain or loss) diklasifikasikan sebagai berikut:
Catatan:
*Nilai pada awal juga disesuaikan dengan biaya transaksi, kecuali aset atau
liabilitas pada nilai wajar melalui laba rugi.

6
Investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar
aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal, serta derivatif yang
terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan instrumen ekuitas yang tidak
memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut, diukur pada biaya perolehan.
c. Biaya perolehan
Biaya perolehan adalah jumlah aset yang diperoleh atau liabilitas yang
diselesaikan, termasuk biaya transaksi (misalnya komisi atau fee yang dibayar).
Setelah perolehan awal, hanya satu tipe instrumen keuangan yang diukur pada
biaya perolehan yaitu investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki
kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara andal,
serta derivatif yang terkait dengan dan diselesaikan melalui penyerahan
instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif tersebut,
diukur pada biaya perolehan.
d. Biaya Perolehan Diamortisasi
Setelah pengukuran awal, kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan ini
diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku
bunga efektif di laporan posisi keuangan:
- Investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo;
- Pinjaman yang diberikan dan piutang; dan
- Liabilitas keuangan lainnya.
Biaya perolehan diamortisasi (amortized cost) adalah biaya perolehan dari
aset atau liabilitas setelah disesuaikan, jika layak, untuk mencapai suatu suku
bunga efektif yang konstan selama umur aset atau liabilitas (misalnya,
pendapatan bunga yang konstan atau beban bunga yang konstan sebagai suatu
persentase jumlah tercatat dari aset keuangan atau liabilitas keuangan). Dengan
kata lain, biaya perolehan diamortisasi dari aset keuangan atau liabilitas
keuangan adalah jumlah pada pengakuan awal aset keuangan atau liabilitas
keuangan dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan
akumulasi amortisasi berdasarkan metode suku bunga efektif dan dikurangi
penurunan nilai atau nilai yang tidak dapat ditagih.
e. Nilai Wajar
Nilai wajar (fair value) adalah nilai di mana suatu aset dapat dipertukarkan
atau suatu liabilitas diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan
untuk melakukan transaksi wajar.
7
Kategori aset keuangan dan liabilitas keuangan pada umumnya diukur pada
nilai wajar di laporan posisi keuangan:
- Aset keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi;
- Aset keuangan tersedia untuk dijual; dan
- Liabilitas keuangan pada nilai wajar melalui laba rugi.

2.5. Penghentian Pengakuan (Derecognition)


a. Penghentian Pengakuan Aset Keuangan
Entitas menghentikan pengakuan aset keuangan, jika dan hanya jika:
- Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut
berakhir.
- Entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian
pengakuan.
b. Penghentian Pengakuan Kewajiban Keuangan
Entitas mengeluarkan kewajiban keuangan (atau bagian dari kewjaiban
keuangan) dari neracanya, jika dan hanya jika kewajiban keuangan tersebut
berakhir, yaitu ketika kewajiban yang ditetapkan dalam kontrak dilepaskan atau
dibatalkan atau kadaluarsa.

2.6. Lindung Nilai


Akuntansi lindung nilai menurut Epstein & Jermakowicz (2008) adalah
penggunaan instrumen derivatif atau instrumen keuangan lainnya untuk melindungi
perusahaan dari risiko terkait perubahan nilai wajar (fair value).
Perlakuan akuntansi khusus bagi transaksi hedging yang mencakup instrumen
hedging dan hedge item, yang bertujuan untuk memastikan keuntungan atau
kerugian atas instrumen hedging dan hedge item diakui dalam laporan laba rugi
periode yang sama.
Jenis Lindung Nilai:
a. Lindung Nilai Atas Nilai Wajar
Suatu lindung nilai terhadap eksposur perubahan nilai wajar atas aset atau
kewajiban yang telah diakui, atau komitmen pasti yang belum diakui, atau
bagian yang telah diidentifikasi dari aset, kewajiban, atau komitmen pasti
tersebut, yang dapat diatribusikan pada resiko tertentu dan dapat
mempengaruhi laporan laba rugi.
8
b. Lindung Nilai Atas Arus Kas
Suatu lindung nilai terhadap eksposur variabilitas arus kas yang dapat
diatribusikan pada resiko tertentu yang terkait dengan aset atau kewajiban
yang telah diakui (misalnya seluruh atau sebagian pembayaran bunga masa
depan atas utang dengan suku bunga variabel) atau yang dapat diatribusikan
pada resiko tertentu yang terkait dengan prakiraan transaksi yang
kemungkinan besar terjadi.dan dapat mempengaruhi laporan laba rugi.
c. Lindung Nilai Atas Investasi Neto pada Operasi di Luar Negeri
Sama seperti lindung nilai arus kas. Kriteria Lindung Nilai:
Pada saat dimulainya lindung nilai, terdapat penetapan dan
pendokumentasian formal atas hubungan lindung nilai dan tujuan manajemen
risiko entitas serta strategi pelaksanaan lindung nilai.
Lindung nilai diharapkan akan sangat efektif dalam rangka saling hapus
atas perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas. Untuk lindung nilai atas
arus kas, suatu prakiraan transaksi yang merupakan subjek dari suatu lindung
nilai harus bersifat kemungkinan besar terjadi dan terdapat eksposur
perubahan arus kas yang dapat memengaruhi laporan laba rugi.

9
DAFTAR REFERENSI

https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/PSAK-10-revisi-2009-Pengaruh-Perubahan-
Nilai-Tukar-Valuta-Asing.pdf (Diakses 15 November 2017).

https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/04/ED-PSAK-55-2013.pdf (Diakses 15
November 2017).

https://www.scribd.com/document_downloads/direct/316510583?extension=docx&ft=14784
08572&lt=1478412182&user_id=45615675&uahk=A/YrRN+vOfT/k9kvNImruNcJnZQ
(Diakses 15 November 2017).

10