Anda di halaman 1dari 11

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS TENAGA KERJA

KABUPATEN SUMENEP DALAM RANGKA MENGHADAPI MEA


(Masyarakat Ekonimi Asean)

KELOMPOK II
RARAYIMA 713.1.1.1905
NUR AISYAH LUTFIYAH 713.1.1.1933
VITA DEWI NOVITASARI 713.1.1.1963
SONY YULIANTO PUTRA 713.1.1.2053P
IMAM MUKHSIN 713.1.1.2037
MOH HUZEIN DAMASKUS 713.1.1.2050P
HASANI 713.1.1.2049

PRODI ADMINISTRASI NEGARA


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk paling banyak di


kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat
mengakibatkan jumlah angkatan kerja juga terus meningkat setiap tahunnya di
tengah kesempatan kerja yang terbatas karena pertumbuhan ekonomi belum
mampu menyerap angkatan kerja tersebut masuk ke dalam pasar kerja.

Tenaga kerja merupakan faktor pendukung perekonomian suatu Negara.


Untuk memajukan perekonomian suatu Negara diperlukan tenaga kerja yang
berkualitas. Dalam suatu Negara, tenaga kerja ada yang dipekerjakan di dalam dan
di luar Negara itu sendiri. Seperti halnya Indonesia, tenaga kerja Indonesia banyak
bekerja di luar negeri. Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri, dapat
menghasilkan devisa Negara yang turut mendukung perekonomian Indonesia.

Berlakunya MEA hanya tinggal hitungan bulan diakhir tahun 2014 ini
karena sejak awal tahun 2015 MEA akan segera berlaku. Kesiapan Indonesia
sangat diperlukan menghadapi MEA bila tidak ingin Negara Indonesia akan
menjadi pasar bagi negara ASEAN lainnya. Kesiapan Indonesia diperlukan tidak
hanya pada proteksi produk dalam negeri namun juga pada sisi dunia
ketenagakerjaan.

Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan,


definisi ketenagakerjaan itu sendiri adalah segala hal yang berhubungan dengan
tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Bekerja
merupakan cara manusia mendapatkan harkat dan martabatnya sebagai manusia
meskipun selalu dihadapkan dengan kenyataan terbatasnya lapangan kerja di
negara ini. Namun perlu diingat bahwa MEA 2015, bukan sekedar ajang
kompetisi ekonomi belaka akan tetapi juga akan berimplikasi kepada sisi
kehidupan lainnya, sisi kehidupan misalnya kehidupan sosial atau bangsa, nilai-
nilai budaya, perilaku hukum masyarakat, perkembangan politik, hubungan
pemerintahan daerah dengan pusat dan kehidupan beragama.

Adapun dampak negatif dari MEA, yaitu dengan adanya pasar barang dan
jasa secara bebas tersebut akan mengakibatkan tenaga kerja asing dengan mudah
masuk dan bekerja di Indonesia sehingga mengakibatkan persaingan tenaga kerja
yang semakin ketat di bidang ketenagakerjaan. Hal inilah yang akan menjadi ujian
baru bagi masalah dunia ketenagakerjaan di Indonesia karena setiap negara pasti
telah bersiap diri di bidang ketanagakerjaannya dalam menghadapi MEA. Untuk
segi positifnya, produk dan jasa dalam negeri memiliki daya saing, lapangan kerja
baru bertambah karena bertambahnya perusahaan baik perusahaan dalam negeri
maupun perusahaan asing.

Kabupaten Sumenep merupakan salah satu kabupaten yang saat ini juga
memperlakukan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Bagi Kabupaten Sumenep,
dalam perspektif MEA 2015 terbuka lebar masuknya investasi yang dapat
menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan
tenaga kerja, pengembangan sumber daya manusia dan akses yang lebih mudah
kepada pasar dunia. Berdasarkan hal tersebut, pemerintah Kabupaten Sumenep
telah melakukan persiapan salah satu diantaranya menerbitkan keputusan Bupati
Sumenep Nomor : 188/441/KEP/435.013/2016 Tentang Tim Koordinasi Menata
Kota dan Membangun Desa Di Kabupaten Sumenep, serta konsep Visit Sumenep
Year 2018 yang meliputi 6 (enam) Pokja yaitu : Pokja Destinasi Pariwisata, Pokja
Event/tampilan Budaya dan Seni, Pokja Infastruktur, Pokja Produk Unggulan,
Pokja Promosi dan Media, serta Pokja Kerjasama dan Investasi.

Dalam segi ketenaga kerjaan, jumlah penduduk yang bekerja di Kabupaten


Sumenep pada tahun 2015 mencapai 445.324 orang. Sedangkan jumlah angkatan
kerja 650.213 orang. Jumlah pengangguran terbuka 19.575 orang, sementara
jumlah pencari kerja 41.321 orang. Pencari kerja yang terdaftar 1.342 orang
dengan rata-rata upah minimum Rp.1.300.000 dengan tingkat pengangguran
terbuka (TPT) 3,01% angka ini lebih rendah dibandingkan TPT Jawa Timur
sebesar 4,05%.

Studi Pustaka dan Metode

TEORI

Menurut Siagian (2014:182) menjelaskan bahwa alasan yang sangat


fundamental untuk mengatakan demikian ialah bahwa baik untuk menghadapi
tuntutan tugas sekarang maupun dan terutama ntuk menjawab tantangan masa
depan, pengembangan sumber daya manusia merupakan keharusan mutlak.

Selanjutnya, Siagian (2014:182) juga mengatakan bahwa pengalaman


banyak organisasi menunjukkan bahwa dengan penyelenggaraan program
pengenalan yang sangat komprehensif sekalipun belum menjamin bahwa para
pegawai baru serta merta dapat melaksanakan tugas dengan memuaskan. Artinya,
para pegawai baru itu masih memerlukan pelatihan tentang berbagai segi tugas
pekerjaan yang dipertanyakan kepada mereka. Para pegawai yang sudah
berpengalamanpun selalu memerlukan peningkatan pengetahuan, keterampilan
dan kemampuan karena selalu ada cara yang lebih baik untuk meningkatkan
produktivitas kerja. Belum lagi kalau seseorang pegawai ditempatkan pada tugas
pekerjaan yang baru. Tidak mustahil ada krbiasaan-kebiasaan kerja yang tidak
atau kurang baik yang perlu dihilangkan.
Terdapat perbedaan antara pelatihan dan pengembangan. Pembedaan
tersebut pada intinya mengatakan bahwa pelatihan dimaksudkan untuk membantu
meningkatkan kemampuan para pegawai melaksanakan tugas sekarang,
sedangkan pengembangan lebih berorientasi pada peningkatan pada produktivitas
kerja para pekerja di masa depan. Akan tetapi sesungguhnya pembedaan tersebut
tidak perlu ditonjolkan karena manfaat pelatihan yang ditempuh sekarang dapat
berlanjut sepanjang karir seseorang. Berarti suatu pelatihan dapat bersifat
pengembangan bagi pegawai yang bersangkutan karena mempersiapkannya
memiliki tanggung jawab yang lebih besar dikemudian hari Siagian (2014:182).
Terdapat tujuh manfaat yang dapat dipetik melalui penyelenggaraan
pelatihan dan pengembangan menurut Siagian (2014:183)

1. Peningkatan produktivitas kerja organisasi sebagai keseluruhan antara lain


karena tidak terjadinya pemborosan, karena kecermatan melaksanakan
tugas, tumbuh suburnya kerja sama antara berbagai satuan kerja yang
melaksanakan kegiatan yang berbeda dan bahkan spesialistik,
meningkatnya tekad mecapai sasaran yang telah ditetapkan serta lancarnya
koordinasi sehingga organisasi bergerak sebagai satu kesatuan yang bulat
dan utuh.
2. Terwujudnya hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan antara lain
karena adanya pendelegasian wewenang, interaksi yang didasarkan pada
sikap dwasa baik secara teknikal maupun intelektual, saling menghargai
dan adanya kesempatan bagi bawahan untuk berpikir dan bertindak secara
inovatif.
3. Terjadinya proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat
karena melibatkan para pegawai yang bertanggung jawab
menyelenggarakan kegitan-kegiatan koperasional dan tidak sekedar
diperintahkan oleh para manajer.
4. Meningkatkan semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi
dengan komitmen organisasional yang lebih tinggi
5. Mendorong sikap keterbukaan manajemen melalui penerapan gaya
manajerian yang partisipatif.
6. Memperlancar jalannya komunikasi yang efektif yang pada gilirannya
mempeprlancar proses perumusan kebijakan organisasi dan
koperasionalisasinya.
7. Penyelesaian konflik secara fungsional yang dampaknya adalah tumbuh
suburnya rasa persatuan dan suasan kekeluargaan dikalangan para anggota
organisasi.
Ada beberapa langkah-langkah yang dimaksud dari tujuh manfaat diatas agar
pelatihan dan pengembangan dapat dipetik semaksimal mungkin yang harus
dilakukan oleh pakar pelatihan dan pengembangan, antara lain:

a. Penentuan kebutuhan
b. Penetapan sasaran
c. Penetapan isi program
d. Identifikasi prinsip-prinsip belajar
e. Pelaksanaan program
f. Identifikasi manfaat
g. Penilaian pelaksanaan program

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan


metode kualitatif. Pemilihan metode kualitatif ini didasarkan pada data yang dikumpulkan
adalah berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka. Laporan penelitian akan berisi
kutipan-kutipan data yang diperoleh dari wawancara, pengamatan secara langsung dan
dokumen pribadi untuk memberikan gambaran penyajian laporan tersebut.

Fokus penelitian menyatakan pokok permasalahan apa yang menjadi pusat


perhatian dalam penelitian. Fokus merupakan masalah pokok yang bersumber dari
pengalaman peneliti atau melalui pengetahuan yang di perolehnya melalui kepustakaan
ilmiah ataupun kepustakaan lainnya. Dalam suatu penelitian, fokus merupakan hal
penting, dimana dengan di tentukannya fokus penelitian secara tepat, benar dan sesuai
dengan tujuan masalah yang akan di capai maka penelitian dapat terhindar dari kekaburan
bahasa dan tidak melebar jauh dari permasalahan sehingga akan di peroleh hasil
penelitian yang terarah dengan baik dan proporsional.

Penelitian ini mengenai Strategi Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja


Kabupaten Sumenep dalam rangka Menghadapi Mea (Masyarakat Ekonomi
asean) dimana dalam hal ini bagaimana mengetahui strategi yang hendak
dilakukan dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja yang ada di Kabupaten
Sumenep sehingga masyarakat sumenep bisa siap menghadapi MEA tersebut.

Penelitian Mengenai Strategi Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Kabupaten


Sumenep dalam rangka Menghadapi Mea (Masyarakat Ekonomi asean) sesuai
dengan permasalahan yang sudah tertera diatas menggunakan fokus penelitian yang
mengacu kepada pengembangan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Kabupaten
Sumenep dalam rangka menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean).
Pembahasan

Strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam hal ini kualitas
tenaga kerja yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Sumenep diwujudkan
dengan diimplementasikannya program bertajuk penciptaan seribu wirausahawan
muda di Kabupaten Sumenep. Program seribu wirausahawan muda merupakan
salah satu program yang menjadi janji politik pasangan calon Busyro-Fauzi
selama masa kampanye pemilihan bupati dan wakil bupati Kabupaten Sumenep.

Selama lima tahun kedepan mereka menginginkan menciptakan lima ribu


wirausahawan muda supaya anak muda tidak semua bermimpi menjadi pegawai
negeri sipil (PNS) melainkan berfikir untuk menciptakan lapangan kerja sendiri
sesuai kemampuan masing-masing. Selain itu, ditengah diberlakukannya program
Masyarakat Ekonomi Asean, penciptaan seribu wirausahawan muda diharapka
juga mampu meningkatkan kualitas tenaga kerja di Kabupaten Sumenep sehingga
tidak kalah saing dengan tenaga kerja asing.

Program ini digulirkan untuk memajukan Kabupaten Sumenep karena


ketika lima ribu usahawan muda tersebut terwujud ini akan mendongkrak
perekonomian Kabupaten Sumenep, dengan terciptanya lapangan kerja baru dan
usaha baru sesuai kemampuan masyarakat itu sendiri. Karena kesuksesan sebuah
daerah dan negara bergantung dari banyaknya pengusaha di dalamnya, bukan
diukur seberapa banyak warganya yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Kehadiran pasar bebas ASEAN ini juga membawa konsekuensi terjadinya


persaingan harga barang dan jasa secara terbuka. Negara yang mampu
memproduksi barang dengan biaya yang efisien dan murah,mempunyai potensi
untuk menguasai pasar negara-negara lain di ASEAN, termasuk indonesia.
Dengan harga yang lebih murah tetapi memiliki fungsi yang sama, kemungkinan
besar konsumen akan memilih harga yang paling murah. Prinsip ekonomi berlaku
disini. Apalagi bila barang itu berasal dari luar negeri, mengingat sebagian
masyarakat kita lebih menyukai produk-produk yang berasal dari luar negeri.
Produk-produk dalam negeri terancam gagal menjadi tuan rumah di negeri
sendiri, sehingga akan mengancam kelangsungan produsen Indonesia.

Untuk menghindarkan diri dari kemungkinan buruk itu, maka kesiapan


konsumen di tanah air sangat dibutuhkan dalam menyongsong datangnya
Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kelengahan untuk mempersiapkan diri, bisa
menjadi malapetaka karena kita hanya bisa menjadi konsumen dari produk negara
lain. Tanpa persiapan dan pemahaman yang cukup, masyarakat sebagai
konsumen justru dapat menjadi korban membanjirnya produk-produk negara lain,
karena tidak semua produk asing tersebut mempunyai kualitas yang bagus.
Lantas, siapa yang harus mempersiapkan konsumen Indonesia dalam menghadapi
Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Untuk menyikapi kompetisi MEA yang begitu ketat tersebut, negara


anggota ASEAN wajib mempersiapkan SDM atau sumberdaya manusia yang
cerdas, terampil serta kompetitif.

Menurut Dita Indah Sari strategi yang diberlakukan dalam menyikapi


pasat bebas tenaga kerja professional tidak hanya memperluas sector dan
membuka jabatan namun juga memperketat syarat misalnya telah tersertifikasi
lembaga profesi dalam negeri terkait dan kewajiban menguasai bahasa Indonesia .
Hal ini supaya tenaga kerja Indonesia yang sebenarnya mampu dan berkualitas
tidak tergeser oleh adanya tenaga kerja asing.

Beberapa petinggi perserikatan profesi berpendapat cukup optimis bahwa


tenaga kerja professional di Indonesia cukup bisa berkompetisi. Sejumlah
pimpinan asosiasi profesi mengaku cukup optimistis bahwa tenaga kerja ahli di
Indonesia cukup mampu bersaing. Dalam menyikapi MEA, Indonesia ternyata
sebelumnya telah mengantisipasi sebelumnya tentang arus tenaga kerja asing
dengan beberapa strategi.

Indonesia harus menyiapkan tenaga kerjanya siap menghadapi MEA


dengan Meningkatkan kualitas SDM. Dalam menyikapi pemberlakuan MEA,
Indonesia bisa melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing
dengan memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), memberikan edukasi
akan pentingnya MEA 2015, serta menyediakan fasilitas kesehatan dan
pendidikan yang memadai.

Rendahnya kualitas pekerja Sumenep bila dilihat dari tingkat pendidikan


formal ini jelas sangat mengkhawatirkan. Dengan sisa waktu yang sangat sempit
ini, Pemerintah perlu mencari terobosan dan cara singkat untuk meningkatkan
ketrampilan dan kompetensi kerja bagi SDM kita yang sesuai dengan kebutuhan
pasar MEA nantinya dan bukan hanya terobosan yang sifatnya normatif melalui
Peraturan perundang-undangan. Perlindungan melalui peraturan bukannya tidak
penting, namun untuk saat ini diperlukan upaya riil karena kita berpacu dengan
waktu yang sempit. Salah satu upayanya bisa dengan mengoptimalkan sarana
prasarana yang ada baik dengan sering mengadakan workshop ataupun seminar
bagi angkatan kerja baru maupun pelatihan peningkatan kualitas skill bagi
angkatan kerja yang sudah ada. Sebagai perbandingan, di negara Vietnam mulai
memberikan pelatihan bahasa Indonesia bagi setiap tenaga kerjanya menghadapi
MEA. Dengan dimulainya MEA tentu akan ada masalah dalam komunikasi
karena bahasa dari tiap-tiap negara berbeda.

Pengenalan bahasa negara ASEAN lainnya atau minimal penguatan bahasa


Internasional seperti bahasa Inggris kepada pekerja atau masyarakat kita bisa
dijadikan terobosan sebagai upaya persiapan menghadapi MEA.
Selain itu, di era digital seperti saat ini, kebutuhan akan penguasaan atas teknologi
bagi tenaga kerja merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar lagi karena
perkembangan teknologi berkembang sangat cepat. Oleh karena itu perlu adanya
pelatihan bagi pekerja Sumenep untuk belajar memahami dan terus meng-update
teknologi terkini yang mendukung setiap pekerjaannya.

Hal ini jelas akan meningkatkan keahlian mereka sehingga akan


meningkatkan daya saing mereka dengan pekerja dari negara ASEAN lainnya.
Meskipun saat ini telah ada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nomor 40 Tahun 2012 tentang Jabatan-Jabatan Tertentu yang Dilarang Diduduki
Tenaga Kerja Asing sebagai upaya bentuk perlindungan dan mengantisipasi
globalisasi sektor jasa atau ketenagakerjaan ini, persiapan SDM Tenaga kerja
Sumenep di berbagai hal seperti mempelajari bahasa asing untuk berkomunikasi
dan mengenal teknologi terkini sangat penting dilakukan. Artinya, perlu ada nilai
lebih yang dimiliki pekerja Sumenep untuk ditawarkan kepada pemberi pekerjaan
agar dapat berhasil menghadapi MEA awal tahun depan tersebut.

Pemerintah Indonesia harus mensupport kegiatan pelatihan ketrampilan


sebab sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih kurang dalam kemampuan
pengoperasian komputer, kemampuan skill public speaking dalam berbahasa
Inggris, dan kecerdasan sikap. Walaupun dalam meningkatkan kualitas peran
yang dominan di tangan pemerintah, namun tidak berarti semua tanggung jawab
di pundak pemerintah. Sebenarnya kesadaran diri bahwa dampak MEA akan
dirasakan oleh seluruh masyarakat sehingga tanggungjawab dalam
mempersiapkan diri dan berpartisipasi menghadapi MEA menjadi tanggung jawab
bersama.

Penutup
 Kesimpulan

Indonesia khususnya di Kabupaten Sumenep harus menyiapkan tenaga


kerjanya agar lebih siap menghadapi MEA dengan Meningkatkan kualitas SDM.
Hal tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan daya saing dengan
memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM), Kita sebagai sumber daya
manusia harus bisa menstabilkan diri dengan menghadapi adanya MEA dalam
menstabilkan hal tersebut harus adanya suatu Strategi peningkatan kualitas
sumber daya manusia dalam hal ini kualitas tenaga kerja yang dilakukan oleh
pemerintah Kabupaten Sumenep diwujudkan dengan diimplementasikannya
program bertajuk penciptaan seribu wirausahawan muda di Kabupaten Sumenep.
Dengan dimulainya MEA tentu akan ada masalah dalam komunikasi karena
bahasa dari tiap-tiap negara berbeda.
Pengenalan bahasa negara ASEAN lainnya atau minimal penguatan
bahasa Internasional seperti bahasa Inggris kepada pekerja atau masyarakat kita
bisa dijadikan terobosan sebagai upaya persiapan menghadapi MEA. Dalam
program bupati kita Selama lima tahun kedepan mereka menginginkan
menciptakan lima ribu wirausahawan muda supaya anak muda tidak semua
bermimpi menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Karena anak muda sekarang
banyak yang ingin bekerja yang diidentik santai dan gaji setiap bulan. Karena
kesuksesan sebuah daerah dan negara bergantung dari banyaknya pengusaha di
dalamnya, bukan diukur seberapa banyak warganya yang menjadi Pegawai Negeri
Sipil (PNS).
DAFTAR PUSTAKA

Siagian, Sondang, P, 2014, Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit:Bumi


Aksara:Jakarta

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/717164-menakar-dampak-positif-dan-
negatif-mea-terhadap-indonesia (diakses pada 24-12-2016)

http://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/KETENAGAKERJAAN%20INDO
NESIA%20MENGHADAPI%20MEA.pdf (diakses pada 24-12-2016)