Anda di halaman 1dari 7

AMPHIBIA DAN REPTILIA

Oleh :
Nama : Finna Fernanda Hapsari
NIM : B1A015122
Rombongan : IV
Kelompok :1
Asisten : Avrizal Vikri Avani

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Klasifikasi hewan didefinisikan sebagai penggolongan hewan ke dalam kelompok


tertentu berdasarkan kekerabatannya, yaitu yang berhubungan dengan kontiguitas
(kontak), kemiripan, atau keduanya (Darbohoesosdo, 1976). Identifikasi adalah tugas
untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beranekaragam dan
memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran
yang bersifat deduktif. Pengertian identifikasi berbeda sekali dengan pengertian
klasifikasi. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit
(idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi,
sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri
(idealnya seluruh ciri-ciri yang dimiliki). Peranan buku kunci identifikasi mutlak
diperlukan dalam melakukan identifikasi (Mayr, 1969).
Amphibia umumnya didefinisikan sebagai kata hewan bertulang belakang yang
hidup didua alam, yakni di air dan di laut. Amphibia bertelur dan ketika menetes,
larvanya dikatakan berudu yang hidup di air atau di tempat basah dan bernafas dengan
insang. Amphibia mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh diselubungi kulit yang berlendir,
merupakan hewan berdarah dingin (poikilotem), mempunyai jantung yang terdiri dari
tiga ruang yaitu dua serambi dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada setiap
kakinya terdapat selaput renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan kakinya
berfungsi untuk melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput tambahan yang
diebut membrane niktilans yang sangat berfungsi waktu menyelam (Djuhanda, 1982).
Menurut Izza dan Kurniawan (2014), Amfibi terdiri dari tiga bangsa yakni Caudata,
Gymnophiona, dan Anura. Sebagian besar amfibi di Indonesia termasuk bangsa ketiga
yakni Anura.
Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyesuaikan diri di tempat yang
kering di tanah. Penandukan atau cornificatio kulit dan squama atau carpace untuk
menjaga banyak hilangnya cairan dari tubuh pada tempat yang kering atau panas. Nama
kelas ini diambil dari model cara hewan berjalan (Latin: reptum = melata atau merayap).
Reptilia memiliki ciri khusus, yaitu tubuhnya dibungkus oleh kulit yang menanduk
(tidak licin) biasanya dengan sisik atau bercarapace; beberapa ada yang memiliki
kelenjar permukaan kulit. Mempunyai dua pasang anggota, yang masing-masing 5 jari
dengan kuku-kuku yang cocok untuk lari, mencengkram dan naik pohon (Jasin, 2002).
Menurut Janiawati et al. (2015), komunitas reptil yang mendiami habitat spesifik akan
memberikan respon yang berbeda terhadap perubahan lansekap. Misalnya, konversi
hutan alam menjadi perkebunan akan menurunkan populasi reptil, keberadaan jalan raya
juga dapat menyebabkan penurunan kelimpahan dan kekayaan reptil.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah :
1. Praktikan mengenal beberapa anggota Classis Amphibia dan Reptilia.
2. Praktikan mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi
anggota Classis Amphibia dan Reptilia.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ampibia mempunyai ciri-ciri yaitu tubuh diselubungi kulit yang berlendir,


merupakan hewan berdarah dingin (poikiloterm), mempuyai jantung yang terdiri dari
tiga ruangan yaitu dua serambi dan satu bilik, mempunyai dua pasang kaki dan pada
setiap kakinya terdapat selaput renang yang terdapat diantara jari-jari kakinya dan
kakinya berfungsi untuk melompat dan berenang, matanya mempunyai selaput
tambahan yang disebut membran niktitans yang sangat berfungsi waktu menyelam,
pernafasan pada saat masih kecebong berupa insang, setelah dewasa alat pernafasannya
berupa paru-paru dan kulit yang hidungnya mempunyai katup yang mencegah air masuk
ke dalam rongga mulut ketika menyelam, dan berkembang biak pembuahan eksternal
(Djuhanda, 1982). Amphibi dewasa memiliki mulut lebar dan lidah yang lunak yang
melekat pada bagian depan rahang bawah. Paru-paru selalu ada seperti yang terdapat
pada kelompok salamander, dan sebagian besar pernafasan juga dilakukan oleh kulit
(Djuhanda, 1974). Pada katak sawah, kulit ini hampir selalu basah karena adanya sekresi
kelenjar-kelenjar mucus yang banyak terdapat didalamnya. Selain itu, kulit katak juga
banyak mengandung kapiler-kapiler darah dari cabang-cabang vena kutanea magna dan
arteri kutanea (Djuhanda, 1982).
Reptilia adalah kelompok hewan vertebrata yang hidupnya merayap atau melata di
dalam habitatnya. Reptil juga tergolong ke dalam hewan yang berdarah dingin, yang
suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Walaupun berdarah dingin reptil
melakukan pembiakan di darat. Tubuh reptil ditutupi oleh sisik-sisik atau plot-plot dari
bahan tanduk (horny scales or plates) yang kering atau tanpa kelenjer. Umumnya reptil
mempunyai dua pasang kaki, masing-masing mempunyai lima jari yang bercakar, tetapi
pada jenis-jenis tertentu kakinya mereduksi atau sama sekali tidak ada. Rangka dari
bahan tulang, oksipital, kondil hanya satu. Tipe gigi pada reptil adalah labyrinthodont
(pada reptile fosil), acrodont, pleurodont, dan thecodont. Jantungnya mempunyai empat
ruangan, dua atrium dan dua ventrikel, tetapi pada sekat dari ventrikel kanan dan kiri
belum sempurna benar. Habitat hidup di darat, air tawar atau air laut, di daerah tropis
dan daerah temperate (Goin & Goin, 1971).
Kelas Amfibi dibagi menjadi tiga ordo yaitu, Ordo Caudataa, Ordo Anura, dan
Ordo Gymnophiona. Caudata merupakan ordo amfibi yang memiliki ekor. Jenis ini
memiliki tubuh yang panjang, memiliki anggota gerak. Spesies Caudata ada yang
bernafas dengan insang dan ada juga yang bernafas dengan menggunakan paru-paru.
Salamander yang tidak mempunyai paru-paru maka bernafas menggunakan kulit dan
lapisan mulut. Tubuhnya terbagi antara kepala, tubuh dan ekor. Pada bagaian kepala
terdapat mata yang kecil. Ada jenis salamander yang tidak pernah dewasa yaitu aksolot.
Jadi salamander ini tidak pernah berkembang melebihi tahap larva. Habitat dari
salamander adalah di dekat sungai, sungai ataupun kolam. Anura merupakan amfibi
yang tidak berekor pada saat dewasa. Namun pada siklus hidupnya, ordo Anura atau
yang lebih dikenal dengan katak ini memiliki ekor saat pada fase berudu. Tubuhnya
terbagi menjadi 3 bagian yaitu kepala, badan, dan anggota gerak (tetrapoda). Kulitnya
cenderung basah karena memiliki kelenjar lendir dibawah kulitnya. Habitat kodok dan
katak adalah di sungai, kolam, sawah ataupun hutan tropis. Gymnophiona merupakan
amfibi yang tidak memiliki anggota gerak dan beberapa jenis alat geraknya tereduksi
secara fungsional. Tubuh menyerupai cacing, bersegmen, dan ekor mereduksi. Hewan
ini mempunyai mata tertutup oleh kulit. Kelompok ini menunjukkan 2 bentuk dalam
daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam air dan bernafas dengan insang. Pada fase
dewasa insang mengalami reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di
lingkungan akuatik. Habitat Gymnophiona yaitu tepi-tepi sungai atau parit atau di bawah
tumpukan batu (Jasin, 1992).
Kelas Reptil dibagi menjadi empat ordo yaitu ordo Testudinata, ordo Squamata,
ordo Crocodilia, dan ordo Sphenodontida. Spesies pada ordo Testudinata memiliki tubuh
bulat pipih dan umumnya relatif besar, terbungkus oleh perisai. Perisai sebelah dorsal
cembung yang disebut carapace, dan perisai sebelah ventral datar yang disebut plastron.
Kedua bagian perisai itu digabungkan pada bagian lateral bawah, dibungkus oleh kulit
dengan lapisan zat tanduk tebal. Tidak mempunyai gigi, tetapi rahang berkulit tanduk
sebagai gantinya. Tulang kuadrat pada cranium mempunyai hubungan bebas dengan
rahang bawah, sehingga rahang bawah mudah digerakkan. Tulang belakng toraks dan
tulang costae (rusuk) biasanya menjadi satu dengan perisai. Termasuk hewan ovipar.
Telurnya diletakkan dalam lubang pasir atau tanah. Ekstremitas sebagai alat gerak baik
di darat maupun di air. Ordo Squamata memiliki tubuh yang ditutupi sisik epidermis
bertanduk yang secara periodik mengelupas sebagian-sebagian atau keseluruhan.
Osteoderm biasanya tidak ada tapi pada beberapa jenis Squamata terdapat pada kepala
dan tempat lain. Kepala pada dasarnya tipe diapsid, arkade bawah tidak sempurna atau
tidak ada dan arkade atas juga sering demikian. Lubang hidung berpasangan. Sering
memiliki mata pineal pada kelompok kadal tapi pada kelompok ular tidak ditemukan.
Memiliki lubang kloaka transversal dan pada yang jantan terdapat dua hemipenis. Ordo
Crocodilia mempunyai tubuh yang panjang, kepala besar dan runcing, rahang kuat dan
gigi tumpul. Kaki pendek dengan jari-jari berselaput tebal, ekor panjang, kulit tebal,
jantung terbagi atas 4 ruangan terpisah, ovipar, dan telinga berlubang kecil. Contoh
spesies dari ordo ini adalah buaya. Ordo Sphenodontida yang masih hidup sampai
sekarang mempunyai bentuk serupa kadal, berkulit tanduk dan bersisik, bergranula,
punggungnya berduri pendek. Tulang rahang mudah digerakkan. Contoh yang masih
hidup di Australia adalah tuatara (Jasin, 1992).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah bak preparat, pinset,
kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, sarung tangan karet (gloves),
masker, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah beberapa spesimen hewan
amfibi dan reptil.

B. Metode

Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Karakter pada spesimen yang diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi diamati,
digambar, dan dideskripsikan.
2. Spesimen diidentifikasi dengan kunci identifikasi.
3. Kunci identifikasi sederhana dibuat berdasarkan karakter spesimen yang diamati.
4. Laporan sementara dibuat dari hasil praktikum.
DAFTAR REFERENSI

Darbohoesosdo, R. B., 1976. Penuntun Praktikum Taksonomi Avertebrata. Purwokerto:


Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman.

Djuhanda, T., 1974. Analisa Struktur Vertebrata. Armico: Bandung.

Djuhanda, T., 1982. Anatomi dari Empat Hewan Vertebrata. Bandung: Armico.

Goin, C. J. & Goin, O. B., 1971. Intoduction to Herpetology 2nd Edition. San Fransisco:
W. H. Freeman and Company.

Izza, Q. & Kurniawan, N., 2014. Eksplorasi Jenis-Jenis Amfibi di Kawasan OWA
Cangar dan Air Terjun Watu Ondo, Gunung Welirang, TAHURA R.Soerjo. Jurnal
Biotropika, 2(2), pp. 103-108.

Janiawati, I. A. A., Kusrini, M. D. & Mardiastuti, A., 2016. Structure and Composition
of Reptile Communities in Human Modified Landscape in Gianyar Regency, Bali.
HAYATI Journal of Biosciences,

Jasin, M., 1992. Zoologi Vertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar Jaya.

Mayr, E., 1969. Principles of Systematics Zoology. New Delhi: Tata McGraw-Hill
Publishing.

Anda mungkin juga menyukai