Anda di halaman 1dari 7

KISAH “ASHABUL UKHDUD” DALAM

AL QUR’AN
BY FADHIL ZA · JUNE 22, 2015

Peristiwa Ashhabul Ukhdud adalah sebuah tragedi berdarah, pembantaian yang


dilakukan oleh seorang raja kejam kepada jiwa-jiwa kaum muslimin, ini merupakan
kebiadaban dan tindakan tak berprikemanusiaan; namun akidah tetaplah harus
dipertahankan, karena dengannyalah kebahagiaan yang abadi akan diperoleh. Allah
mengisahkan kejadian tragis ini dalam Alquran dengan firman-Nya:

” 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5 . yang berapi


(dinyalakan dengan) kayu bakar, 6. ketika mereka duduk di sekitarnya, 7. sedang
mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang
beriman.” (QS. Al-Buruju: 4-7)

Para ahlul ilmi sedikit berselisih dalam menafsirkan


siapakah Ashhabul Ukhdud. Sebagian di antara mereka (ahlul ilmi) mengatakan
bahwa mereka (Ashhabul Ukhdud) adalah suatu kaum yang termasuk orang-orang ahli
kitab dari sisa-sisa orang Majusi.
Ibnu Abbas dalam suatu riwayat mengatakan: “Mereka adalah sekelompok
manusia dari bani Isra’il. Mereka menggali parit yang luas di suatu tempat kemudian
menyalakan api, orang-orang berdiri dihadapkan kepada parit, baik laki-laki maupun
wanita, kemudian mereka dilemparkan ke dalamnya. Mereka menganggap bahwa dia
adalah Daniel dan para sahabatnya.”
Dan dalam riwayat: “Hal itu adalah sebuah lubang parit di negeri Najran, di mana
mereka menyiksa manusia di dalamnya.”

Sedangkan dalam riwayat Adl-Dlohak, beliau mengatakan: “Para ahli tafsir


menyangka bahhwa Ashhabul Ukhdud adalah orang-orang dari bani Israil, di mana
mereka meringkus manusia baik laki-laki maupun wanita, lalu dibuatkanlah parit dan
dinyalakan api dalam parit tersebut, lalu dihadapkanlah seluruh kaum mu’minin ke
arah parit tersebut, seraya dikatakan: ‘Kalian (memilih) kufur atau dilemparkan ke
dalam api?” (Tafsir Ath-Thabari, 30/162)
Kisah tragis ini pun kerap disampaikan oleh para pengajar kepada para muridnya.
Bahkan pada kisah anak-anak pun sering disajikan. Kisah tersebut ialah sebagai
berikut:

Dahulu ada seorang raja, dari orang-orang sebelum kalian. Dia memiliki seorang
tukang sihir. Tatkala tukang sihir itu sudah tua, berkatalah ia kepada rajanya:
“Sesungguhnya aku telah tua. Utuslah kepadaku seorang anak yang akan aku ajari
sihir.” Maka sang raja pun mengutus seorang anak untuk diajari sihir. Setiap kali anak
tersebut datang menemui tukang sihir, di tengah perjalanan ia selalu melewati seorang
tabib, ia pun duduk mendengarkan pembicaraan rahib tersebut, sehingga ia kagum
kepadanya. Maka setiap kali ia datang ke tukang sihir, ia selalu duduk dan
mendengarkan petuah rahib itu, kemudian baru ia datang ke tukang sihir sehingga
tukang sihir itu memukulnya (karena ia datang terlambat, red.). ia mengadukan hal itu
kepada rahib tadi, sang rahib pun berpesan: “Kalau engkau takut kepada tukang sihir,
katakanlah bahwa keluargamu telah menghalangimu (sehingga engkau terlambat), dan
bila engkau takut kepada keluargamu, katakan juga bahwa tukang sihir itu telah
mencegahmu. Maka tatkala berlangsung demikain, tiba-tiba ada seekor binatang buas
mengonggok di tengah jalan sehingga menghalangi lalu-lalangnya manusia.
Menghadapi peristiwa ini maka ia pun bergumam: “Pada hari ini akan aku buktikan
apakah tukang sihir itu lebih utama dari pada rahib, ataukah sebaliknya.”

Ia pun mengambil sebuah batu kemudian mengatakan: “Ya Allah, apabila perkara
rahib lebih engkau sukai daripada tukang sihir, maka bunuhlah binatang buas itu.”
Kemudian ia lemparkan batu tersebut, sehingga matilah binatang buas tadi dan
manusia pun bisa lewat kembali. Sesudah itu datang lah ia kepada rahib dan
mengabarkan kejadian yang baru saja ia alami, kemudian sang rahib mengatakan:

“Wahai anakku, hari ini engkau lebih baik daripada aku, dan engkau telah sampai
pada perkara yang aku sangka. (ketahuilah) sesungguhnya engkau akan diuji, dan bila
engkau diuji, janganlah engkau tunjukkan tentang diriku.”

Dan kini ia dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit kusta, serta dapat
mengobati manusia dari berbagai macam penyakit.

Hal ini terdengar oleh seorang teman duduk raja, sedangkan dia adalah seorang yang
buta, kemudian ia membawa harta yang banyak seraya mengatakan: “Aku akan
berikan harta ini kepadamu bila engkau bersedia menyembuhkan penyakitku.” Maka
sang anak menjawab, “Sesungguhnya aku tidaklah bisa menyembuhkan siapapu, yang
bisa menyembuhkan hanyalah Allah. Kalau engkau beriman kepada Allah maka aku
akan berdoa kepada-Nya untuk kesembuhanmu.” Maka ia pun beriman kepada Allah
dan Allah pun menyembuhkan penyakitnya. Kemudian datanglah dia menemui sang
raja dan duduk sebagaimana biasanya, sang raja pun heran seraya mengatakan:
“Siapakah yang telah mengembalikan pandanganmu?” maka ia menjawab: “Rabb-
ku.” Sang raja melanjutkan: “Apakah engkau memiliki tuhan selain aku?!!”
Jawabnya, “Ya, Dia adalah Rabb-ku dan Rabb-mu juga.” Maka sang raja pun
menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan kepada anak tersebut.
Didatangkanlah si anak itu, kemudian sang raja berujar: “Wahai anakku, sekarang
engkau telah memiliki kepandaian sihir, sehingga bisa menyembuhkan orang yang
buta dan juga bisa menyembuhkan penyakit kusta dan lain sebagainya.” Sang anak
balik menjawab, “Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan siapapun, dan hanya
Allah-lah yang bisa menyembuhkan.”
Akhirnya sang raja pun menyiksanya dan terus menyiksanya sampai ia menunjukkan
kepada rahib. Maka didatangkanlah si rahib, kemudian dikatakan kepadanya:
“Berhentilah dari agamamu!!” Ia pun enggan. Maka sang raja meminta gergaji
kemudian diletakkan tepat di tengah kepalanya, dan dibelahlah tubuhnya sampai
terbelah menjadi dua bagian. Kemudian didatangkan pula teman duduk sang raja
tersebut, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari agamamu!!” Demikian pula, ia
pun enggan, kemudian ditaruh gergaji itu di atas kepalanya, lantas dibelahlah
tubuhnya hingga terbelah.

Selanjutnya didatangkanlah sang anak, dan dikatakan kepadanya: “Berhentilah dari


agamamu!!” Ia pun menolak. Kemudian ia dilemparkan kepada sekelompok prajurit
raja, dan dikatakan: “Pergilah kalian ke gunung ini dan gunung ini, mendakilah
sampai di puncak gunung, apabila ia mau berhenti dari agamanya selamatkan dia, dan
kalau tidak, maka lemparkan ia ke dasar jurang.”

Maka mereka pun pergi, kemudian naik, dan tatkala berada di atas gunung sang anak
berdoa: “Ya Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Tiba-tiba
bergetarlah gunung tersebut dan semua prajurit raja jatuh berguguran ke bawah
jurang, kemudian kembalilah sang anak menemui sang raja. Ia heran dan mengatakan:
‘Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab: “Sesungguhnya Alalh
telah menjagaku dari makar mereka.” Maka kembali sang raja melemparkannya ke
sekelompok prajuritnya yang lain, kalai ini perintah sang raja: “Pergilah kalian dan
bawalah anak ini ke sebuah perahu, apabila kalain telah ke tengah laut, maka apabila
ia mau berhenti dari agamanya selamatkanlah ia, kalau ia tetap enggan, lemparkanlah
ia ke tengah lautan!”

Maka mereka pun pergi, setelah sampai di tengah laut, sang anak pun berdoa: “Ya
Allah! Jagalah diriku dari tipudaya mereka sekehendak-Mu.” Maka perahu itu pun
terbalik, namun Allah tetap menyelematkannya dan tenggelamlah seluruh prajurit
raja. Kembalilah sang anak datang menemui sang raja, ia pun terkejut seraya
mengatakan: “Apa yang terjadi pada para sahabatmu?” Sang anak menjawab, “Allah
telah menjagaku dari makar mereka.” Kemudian ia berkata kepada sang raja,
“Sesungguhnya engkau tidak akan pernah bisa membunuhku, kecuali bila engkau mau
menuruti permintaanku.” Sang raja menjawab, “Apakah itu? Sang anak melanjutkan,
“Kumpulkanlah seluruh manusia pada satu tempat, kemudian saliblah aku di sebuah
pohon kurma, kemudian ambillah satu anak panah dari tempat anak panahku, letakkan
anak panah itu di busurnya, kemudian katakanlah “Bismilah Rabbil ghulam (dengan
nama Allah Rabb-nya anak ini).’ Kemudian lepaskanlah anak panah tersebut. Dengan
begitu engkau bisa membunuhku.”
Maka sang raja pun mengumpulkan manusia pada suatu padang yang luas. Dia
menyalib anak tersebut pada sebuah batang kurma, kemudian mengambil sebuah anak
panah dari tempat anak panahnya dan diletakkan di sebuah busur, kemudian
mengatakan: “Bismillah Rabbin ghulam (Dengan menyebut nama Allah, Rabb anak
ini).” Kemudian panah itu dilepaskan, maka anak panah itu melesat tepat mengenai
pelipis sang anak, setelah itu Ia meletakkan tangannya di pelipisnya kemudian
meninggal.
Maka manusia seluruhnya mengucapkan, “Aamanna bi Rabbil ghulam (Kami beriman
kepada Allah Rabb-nya anak tersebut).” Maka dikatakan kepada sang raja: “(Wahai
sang raja!) Tahukah engkau, perkara yang selama ini kau khawatirkan telah terjadi.
Sungguh manusia seluruhnya telah beriman.” Maka sang raja memerintahkan untuk
membuat sebuah parit di dekat pintu-pintu jalan dan membuat lubang panjang. Lalu
dinyalakanlah api kemudian ia berorasi: “Barangsiapa yang tidak mau kembali dari
agamanya, maka lemparkanlah ke dalam parit tersebut.” Atau sehingga dikatakan,
“Lemparkanlah!!” maka mereka pun melemparkan seluruhnya. Sampai datang
seorang wanita bersama bayinya, ia seorang wanita bersama bayinya, ia berputus asa,
berdiri lemas tanpa daya menghadap jurang parit yang tengah berkobar api, tiba-tiba
sang bayi berucap, “Wahai ibuku.. bersabarlah, sesungguhnya engkau dalam
kebenaran…!”
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim dalam kitab Az-Zuhd bab “Qishashotu Ash-
habil Ukhdud was Sahir war Rahib wal Ghulam: 3005)
Mutiara faidah dari kisah pemuda dan tukang sihir (Ashhabul Ukhdud)
1. Ahlul fasad (para pengusung kesesatan) selalu berusaha untuk menularkan dan
mewariskan kesesatan mereka, dengan berupaya sekuat tenaga untuk
melanggengkan kesesatannya tersebut.
2. Disenanginya belajar di kala kecil, karena belajar di kala kecil seperti mengukir di
atas batu, dan seorang anak akan mampu menerima didikan dan pengajaran sesuai
dengan yang diharapkan.
3. Hati-hati para hamba adalah berada di Tangan Allah, maka Allah akan memberi
petunjuk atau menyesatkan siapapun yang dikehendaki-Nya. Lihatlah si anak
tersebut, ia mendapatkan petunjuk sekalipun berada dalam didikan tukan sihir dan
dalam asuhan seorang raja sesat.
4. Menetapkan adanya karomah para wali, mereka adalah orang-orang yang
berimand an bertakwa kepada Allah, seperti dalam firman-Nya: “Ingatlah
sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka
selalu bertaqwa.” (QS. Yunus: 62-63)
5. Bolehnya bagi seseorang untuk mengorbankan dirinya apabila di sana ada
kemaslahatan manusia secara umum. Berkata Syaikhul Islam, “Karena hal itu
termasuk jihad di jalan Allah, dengan itu umat akan beriman dan ia pun tidak
akan sia-sia, karena cepat atau lambat ia pun pasti akan meninggal dunia” Adapun
yang dilakukan oleh sebagian manusia dengan praktek bom bunuh diri, yaitu
dengan membawa alat peledak (bom) kemudian meledakkannya di sekelompok
orang-orang kafir, maka ini termasuk kategori membunuh diri sendiri, dan
barangsiapa yang membunuh diri sendiri maka ia kekal di dalam neraka selama-
lamanya. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits: “Barangsiapa membunuh
dirinya dengan sebatang besi, maka besi itu berada di tangannya, lantas ia akan
menusuk perutnya dengannya di neraka jahannam, dia kekal selama-lamanya di
dalamnya.” (HR. Bukhari 5778, Muslim: 109). Karena perilakus emacam itu tidak
membawa maslhat bagi kaum muslimin secara keseluruhan. Dengan itu, ia
mungkin hanya membunuh 10, 100, atau 200 kaum kuffar, yang hal tersebut tidak
membawa manfaat bagi Islam dan tidak pula menjadikan manusia masuk ke
dalam Islam. Berbeda dengan kisah ghulam (anak) tersebut. (Lihat Bahjatun
Nadhirin karya Syaikh Salim bin Id Al-Hilali 1/86-88, Syarh Riyadlush
Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin: 156-166).
Wallahul Muwaffiq.
Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 4 Tahun 6, Dzulqo’dah 1427 H. (Dipublikasikan
ulang oleh Kisah Mulim dengan sedikit perubahan tata bahasa)
Artikel www.KisahMuslim.com
Catatan:
Umat Islam yang mengalami kondisi seperti ashabul ukhdud , dibakar, dibunuh
karena mempertahankan akidah dan iman nya cukup banyak terjadi dewasa ini.
Seperti umat Islam di Afrika tengah, Muslim Rohingya di Myamar, Muslim Uighur di
China. Dimasa lalu dialami juga oleh muslim di Bosnia , semoga mereka gugur
sebagai syuhada di jalan Allah.