Anda di halaman 1dari 60

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penyakit keganasan, atau yang lebih banyak dikenal sebagai kanker,
adalah penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan dan penyebaran sel-sel
abnormal dalam tubuh. Jenis penyakit keganasan tergantung jenis sel tubuh
yang berubah menjadi tidak normal. Terdapat dua jenis penyakit keganasan
pada anak, yaitu tumor padat dan keganasan sel darah (leukemia). Jenis yang
paling banyak dijumpai adalah keganasan sel darah. Penyakit keganasan pada
anak dapat dijumpai sejak usia bayi (kurang dari satu tahun) hingga usia
remaja. Penyakit keganasan pada anak, walaupun kejadiannya jarang,
merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada anak di negara maju
setelah kecelakaan.
Penyakit keganasan pada anak seringkali sulit untuk segera dikenali. Hal
ini disebabkan karena gejala awalnya seringkali mirip dengan penyakit lain
yang lebih ringan. (http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-
anak/kenali-tanda-awal-penyakit-keganasan-pada-anak diakses 10-10-2017
pukul 02:30 WIB).
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas
seluler yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara
keseluruhan dimana kebanyakan pasien memerlukan perawatan medis dan
keperawatan canggih selama perjalanan penyakit. (Carolyn, M.H.1996:601
https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-Anak diakses
10-10-2017 pukul 02:30 WIB).
Di Asia Tenggara pada tahun 2002 diperkirakan ada 6,1 juta ODHA. Di
Indonesia sendiri ada 90.000-130.0000 ODHA. Apabila angka kelahiran di
Indonesia adalah 2.5% maka setiap tahun akan ada 2.250-3.250 bayi yang lahir
dari ibu yang HIV positif. Lebih dari 90% penularan HIV dari ibu ke anak
terjadi selama dalam kandungan, persalinan, dan menyusui hanya 10%
ditularkan lewat transfuse darah yang tercemar HIV maupun cairan lainnya
(depskes, 2003 dalam Nursalam, dkk., 2008).

1
Penyakit kronis didefinisikan sebagai kondisi medis atau masalah
kesehatan yang berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yang
membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang. Sebagian dari penatalaksanaan
ini mencakup belajar untk hidup dengan gejala dan kecacatan, sementara juga
menghadapi segala bentuk perubahan identitas yang diakibatkan oleh penyakit.
Sebagian lagi mencakup menjalani gaya hidup dan regimen yang dirancang
untuk tetap menjaga agar tanda dan gejala terkontrol dan untuk mencegah
komplikasi. Meskipun, beberapa individu akan memikirkan tentang apakah
kiranya yang disebut dengan identitas “peran sakit”, kebanyakan orang dengan
penyakit kronis tidak menganggap diri mereka sakit atau berpenyakitan dan
mencoba untuk hidup senormal mungkin (Robinson, dkk., 1993 dalam Brunner
and suddarth., 2001).
Kondisi Terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian
berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik, psikososial dan spiritual
bagi individu. (Carpenito, 1995). Pasien Terminal adalah pasien-pasien yang
dirawat, yang sudah jelas bahwa mereka akan meninggal atau keadaan mereka
makin lama makin memburuk.
(https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan-Terminal-Illnes-Pada-
Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Masalah
Keganasan?
2. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Anak yang Terinfeksi HIV/AIDS?
3. Bagaimana Konsep Kronis Dan Terminal Illness Pada Anak?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan masalah
keganasan.
2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak yang terinfeksi
HIV/AIDS.
3. Untuk mengetahui konsep kronis dan terminal illness pada anak.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Masalah Keganasan Pada Anak


Penyakit keganasan, atau yang lebih banyak dikenal sebagai kanker,
adalah penyakit yang ditandai oleh pertumbuhan dan penyebaran sel-sel
abnormal dalam tubuh. Jenis penyakit keganasan tergantung jenis sel tubuh
yang berubah menjadi tidak normal. Terdapat dua jenis penyakit keganasan
pada anak, yaitu tumor padat dan keganasan sel darah (leukemia). Jenis yang
paling banyak dijumpai adalah keganasan sel darah. Penyakit keganasan pada
anak dapat dijumpai sejak usia bayi (kurang dari satu tahun) hingga usia
remaja. Penyakit keganasan pada anak, walaupun kejadiannya jarang,
merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada anak di negara maju
setelah kecelakaan.
Penyakit keganasan pada anak seringkali sulit untuk segera dikenali. Hal
ini disebabkan karena gejala awalnya seringkali mirip dengan penyakit lain
yang lebih ringan. Apabila terdapat satu atau lebih tanda di atas pada anak,
sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Tanda-tanda di atas
belum tentu disebabkan oleh penyakit keganasan, mungkin dapat disebabkan
oleh infeksi atau cedera. Namun demikian, tidak ada salahnya memeriksakan
agar mendapat pengobatan yang diperlukan. Semakin cepat ditemukan,
semakin cepat pula penanganan yang tepat untuk penyakit keganasan pada
anak dapat dimulai. (Dyna Apriany, 2016)
1. Leukimia
a. Pengertian
Leukemia merupakan produksi sel darah putih yang berlebihan,
jumlah leukosit dalam bentuk akut sering kali rendah (sehingga
dinamakan leukemia). Sel-sel imatur ini tidak dengan sengaja
menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan
vaskuler. Penghancuran sel terjadi melalui infiltrasi dan kompetisi
yang terjadi kemudian pada unsur-unsur metabolik. (Dyna Apriany,
2016).

3
b. Etiologi
Penyebab leukimia pada manusia tetap belum diketahui akan
tetapi beberapa faktor predosposisi atau faktor yang berperan telah
diketahui termasuk faktor lingkungan dan genetik serta keadaan
imuno defisiensi. Virus Epsteinbar dengan limfona Burkitt memberi
kesan bahwa agen infeksius memegang peranan pada leukimia
manusia. Virus linfptropik sel T manusia (HTLV)-1 berhubungan
dengan sel T leukimia dewasa, dan HTLV-II dengan leukimia sel
berambut (hairy cell) manusia. Meskipun telah dilakukan observasi
seperti ini, tidak ada bukti langsung yang menghubungkan segala
virus dengan jenis leukimia yang sering terjadi pada anak.

c. Patofisiologi
Leukemia merupakan poliferasi tanpa batas sel darah putih yang
imatur dalam jaringan tubuh yang membentuk darah. Walaupun
bukan suatu “tumor”, sel-sel leukemia memperlihatkan sifat
neoplastic yang sama seperti sel-sel kanker yang solid. Oleh arena itu,
keadaan patologi dan manifestasi klinisnya disebabkan oleh infiltrasi
dan penggantian setiap jaringan tubuh dengan sel-sel leukemia
nonfungsional. Organ-organ yang terdiri dari banyak pembuluh darah,
seperti limfa dan hati, merupakan organ yang terkena paling berat.
Leukemia merupakan produksi sel darah putih yang berlebihan,
jumlah leukosit dalam bentuk akut sering kali rendah (seringkali
dinamakan leukemia). Sel sel imatur nii tidak sengaja menyerang dan
menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler.
Penghancuran sel terjadi melalui infiltrasi dan kompetisi yang terjadi
kemudian pada unsur-unsur metabolik.
Pada semua tipe leukemia, sel-sel yang berpoliferasi menekan
produksi darah yang terbentuk dalam sumsum tulang melalui
kompetisi dengan sel sel normal dan permpasan hak haknya dalam
mendapatkan unsur gizi yang esensial bagi metabolisme. Tanda dan

4
gejala leukemia yang paling sering ditemukan merupakan akibat dari
infiltrasi dari sumsum tulang. Tiga akibat yang utama adalah:
1) Anemia, akibat penurunan jumlah sel darah merah.
2) Infeksi, akibat neutropenia.
3) Tendensi pendarahan, akibat penurunan produksi trombosit.

Invansi sel sel leukimia ke dalam sumsum tulang secara perlahan


lahan akan melemahkan tulang dan cenderung mengakibatkan fraktur
karena sel leukimia menginvasi periosteum, peningkatan tekanan
menyebabkan rasa nyeri yang hebat.

Limfa hati dan kelenjar limfe memperlihatkan infiltrasi,


pembesaran yang nyata, dan pada akhirnya mengalami fibrosis.
Hepatosplenomegali secara khas lebih sering terjadi pada daripada
limfadenopati. Lokasi invasi yang paling penting berikutnya adalah
sikstem saraf pusat (SSP) yang terjadi sekunder karena infiltrasi
leukimia, yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial.
(Dyna Apriany, 2016)

d. Klasifikasi/ Gambaran Klinis


Dalam istilah yang paling luas leukimia pada anak dapat
diklasifikasikan sebagai akut, kronik atau konginetal. Leukimia akut
menunjukkan poliferasi maligna sel immature (blastik). Jika poliferasi
itu sebagaian melibatkan jenis sel yang lebih matur (berdiferensiasi),
leukimia itu diklasifikasikan sebagai kronik. Tidak seperti leukimia
pada orang dewasa, pada anak biasannya adalah jenis akut dan
limfoblastik. Leukimia linfostik atau limfoblastik akut (ALL) meliputi
kira-kira 80% leukimia akut pada anak dan sisannya sebagian besar
adalah leukimia myeloid akut (AML). Leukimia kongenital atau
neonatal adalah leukimia yang terdiagnosa dalam 4 minggu pertama
kehidupan bayi.

5
1) Akut Limfoblastuik Leukimia (ALL)
Merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak
dibawah umur 15 tahun dengan puncak insidens antara umur 3
dan 4 tahun. Manifestasi berupa poliferasi limfoblas abnormal
dalam sumsum tulang dan tempat-tempat ekstramedular.
Gambaran klinis ALL cukup bervariasi, dan gejalanya dapat
tampak tersembunyi atau akut. Beberapa pasien menderita infeksi
atau perdarahan yang mengancam jiwa saat di diagnosis,
sedangakan lainnya asimtomatis, dengan leukimia yang
terdeteksi selama pemeriksaan fisik rutin. Akan tetapi, sebagian
besar pasien memiliki riwayat penyakit 3 atau 4 minggu sebelum
penyakitnya terdiagnosis yang manifestasi oleh satu atau lebih
tanda dan gejala; pucat, mudah memar, letargi, anoreksia,
malaise, demam intermiten, nyeri tulang, atralgia, nyeri perut dan
perdarahan. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan hal hal
sebagai berikut; pucat, petekie dan ekimosis pada kulit atau
membrane mukosa, perdarahan retina, pembesaran kelenjar getah
bening, hepatosplenomegali, nefromegali, dan nyeri tekan pada
tulang. Anemia leukosit dan hitung diferensial yang abnormal,
serta trombositopenia biasanya diemukan saat diagnosis.

2) Akut Mieloid Leukimia (AML)


Merupakan neoplasma uniklonal yang berasal dari
tranformasi suatu atau beberapa sel hematopoetik. Sifat
sebenarnya dari lesi molekular yang bertanggung awab atas sifat-
sifat meoplasmik dari sel yang berubah bentuknya, tidak jelas,
tapi defek kritis adanaya intrinsik dan dapat diturunkan oleh
keutrunansel etrsebut (Clarkson, 1988). Tanda dan gejala
leukimia akut berkaitan dengan netroprnia dan trombositopenia,
ini adalah infeksi berat yang rekuren disertai dengan timbulnya
tukak pada membrane mukosa, abses perirectal, pneumonia,
septicemia disertai menggil, demam, takikardia, dan takipnea.

6
Leukimia mieloblastik akut merupakan suatu kelompok penyakit
yang heterogen yang memberikan prognosis buruk. Gejala dan
tanda AML yang muncul meliputi pucat, demam nyeri tulang, dan
perdarahan kulit serta mukosa.

3) Chronic Mielogenosa Leukimia (CML)


Chronic myeloid leukimia (CML) adalah penyakit klonal sel
induk pluripotent dan digolongkan sebagai salah satu penyakit
mieloproliferaitf (Hoffbrand et, al., 2005). Sedangkan menurut
Robbins & Cotran (2009), CML merupakan neoplasma pada sel
tunas hematopoetik yang berpotensi menimbulkan poliferasi
progenitor granulositik. CML mengenai orang dewasa antara 25-
60 tahun, merupakan 15-20% dari seluruh kasus leukimia dan
merupakan leukimia kronik yang paling sering dijumpai di
Indonesia, sedangkan di Negara Barat leukimia kronik lebih
banyak di jumpai dalam bentuk CLL (Robbins et.al, 1999 dan
Bakta, 2007). Penyebab leukimia myeloid kronis (CML) adalah
tirosin konstitutif BCR-ABL aktifkinase.

4) Chronic Limfoblastik Leukimia (CLL/LLK)


Pada awal diagnose, kebanyakan pasien LLK tidak menimbulkan
gejala. Pada pasien dengan gejala, paling sering ditemukan
limfadenopati generalista, penurunan berat badan dan kelelahan.
Gejala lain meliputi hilangnya nafsu makan dan penurunan
kemmapuan latihan/olahraga. Demam, keringatan malam dan
infeksi jarang terjadi pada awalnya, tetapi semakin mencolok
sejalan dengan perjalanan penyakitnya.
Akibat penumpukan sel B neoplastic, pasien yang
asimpptomatik pada saat diagnose pada akhirnya akan mengalami
limfadenopati, spenomegali, dan hepatomegaly. Hasil
pemeriksaan fisis 20-30% pasien tidak menunjukan kelainan
fisik. Infiltrasi pada kulit, kelopak mata, jantung, pleura, paru, dan

7
saluran cema umumnya jarang, dan timbul pada akhir perjalanan
penyakit.

5) Leukimia Kongenital
Leukimia kongenital sangat jarang terjadi, terdapat kurang dari
100 kasus yang tercatat dengan baik, dengan sebagian besar
adalah AML. Leukimia ini biasanya ditandai oleh
hiperleukositosis, hepatospenomegali, infiltrate kulit nodular, dan
gawat napas sekunder akibat leukositasis pulmonal. Meskipun
remisi komplit telah dicapai, lamanya remsi biasanya singkat.

e. Penatalaksanaan Keperawatan
Asuhan keperawatan anak yang menderita leukimia secara langsung
terkait dengan regimen terapinya. Peerawat yang bekerja bersama
keluarga anak yang menderita kanker memiliki peranan suportif
yang signifikan dalam membantu mereka memahami berbagai
macam terapi, mencegah atau mengatasi efek samping atau
toksisitas yang telah diperkirakan, mengamati timbulnya efek terapi
dimasa depan dan membantu anak serta keluarga agar dapat hidup
normal dan mampu mengatasi aspek-aspek emosional akibat
penyakit. Penyuluhan merupakan gambaran peran keperawatan
yang konstan, terutama dalam pemerikasaan klinis dan perawatan di
rumah. Diagnosis leukimia cenderung menimbulkan rasa cemas
pada keluarga dan pasien. Perawat merupakan sarana untuk
memberi dukungan dan menentramkan perasaan cemas, selain
memberi penjelasan yang akurat mengenai peemriksaan diagnostik,
prosedur dan rencana terapi.
1) Mempersiapkan anak dan keluargannya dalam menghadapi
prosedur diagnostik dan terapeutik. Sejak sebelum dibuat
diagnosis dibuat hingga saat terapi dihentikan.
Meredakan rasa nyeri, pelaksanaan terapi analgesia yang
efektif merupakan tindakan penting terutama jika proses

8
keganasan tidak terkendali dapat menyebabkan rasa nyeri akut.
Takaran pemberian opoid (narkotik) dapat disesuaikan atau
dititrasi dengan kebutuhan anak dan diberikan selama 24 jam
untuk menghasilkan efek pengendalian nyeri yang optimal.
Mencegah komplikasi mioelosupresi, proses leukimia dan
sebagian besar agens kemotreapi menyebabkan supresi sumsum
tulang.
Infeksi, komplikasi yang sering ditemukan dalam terapi
kanker di masa anak-anak adalah infeksi beraat sebagai akibat
sekunder karena neutropenia. Pertahanan pertama melawan
infeksi adalah pencegahan. Apabila anak di rawat di rumah
sakit, perawat harus menggunakan segala cara untuk
mengendalikan penularan infeksi. Cara ini khas meliputi
pemakian ruang rawat pribadi, membatasi semua pengunjung
dan petugas kesehatan yang sedang menderita infeksi aktif dan
teknik mencuci tangan yang ketat dengan menggunakan larutan
antiseptic.
Pencegahan infeksi tetap menajdi prioritas sesudah anak
pulang dari rumah sakit. Biasanya anak diperbolehkan kembali
kesekolah jika jumlah leukositnya sudah mencapai kadar yang
memuaskan, biasanya dengan angka absolut netrofil yang lebih
dari 500/mm3. Setiap saat anggota keluarga dianjurkan mencuci
tangannya sampai benar-benar bersuh utnuk mencgah
penyebaran kuman pathogen ke dalam rumah. Anak perlu
diisolasi dari kontak di sekolah pada saat wabah menyeraang
anak-anak terutama wabah cacar air.
Gizi merupakan komponen penting laind alam pencegahan
infrksi. Asupan protein kalori yang adekuat akan memberi
hospes pertahanan yang lebih baik terhadap infeksi dan
meningkatkan toleransi terhadpa keoterapi dan iradiasi. Akan
tetapi, penyediaan gizi yang optimal selama periode anoreksi

9
dan muntah-muntah akibat kemoterapi merupakan tantangan
yang luar baisa.

2) Melaksanakan tindakan kewasapadaan dalam memberi dan


menanani agen kemoterapi. Banyak agen kemoterapi besifat
vesikan (menimbulkan sclerosis) yang dapat menimbulkan
kerusakan sel yang berat bahkan jika obat yang masuk ke dalam
jaringan sekitar hanya sedikit. Hanya perawat yang
berpengalaman dalam memberikan agen kemoterapi yang cara
bole menyuntikkan obat-obatan yang bersifat vesikan.
Ada beragam cara intervensi untuk mengatasi ekstravasasi
dengan cara obat-obatan kemoterapi harus diberikan melalui
slang infus yang tidak tersumbat. Pemberian infus harus
dihentikan segera jika terlihat tanda-tanda infiltrasi (nyeri, rasa
tersengat, pembengkakkan atau kemerahan pada tempat
pemasangan kanul infus). Selain ekstravasasi, komplikasi yang
berpotensi fatal lainnya adalah reaksi anafilaksis terutama yang
ditimbulkan oleh L-asparaginase, teniposide. Selain banyaknya
tanggung jawab yang harus dipilkul oleh perawat berkenaan
dengan anak yang menderita leukemia dan keluarganya, mereka
juga harus menggunakan alat pengaman untuk melindungi diri
mereka sendiri. Penanganan agen kemoterapi dapat
menimbulkan resiko bagi yang menangani dan keturunannya
walaupun derajar resiko yang tepat tidak diketahui.
Mengelola permasalahan keracunan obat. Kemoterapi akan
menimbulkan beberapa tantangan dalam pelaksanaan
perawatan. Kompleksitas protocol terapi sering kali
membingungkan keluarga. Selain itu setiap terapi akan disertai
dengan sejumlah efek samping yang dapat diperkirakan.
Perawat harus menyadari edek samping ini dan memilki
kemampuan untuk menunjukkan efek samping dan toksisitas.

10
Mual dan muntah. Mual dan muntah yang terjadi sesaat
setelah pemberian beberapa obat kemoterapi dan yang
disebabkan oleh terapi radiasi cranium atau abdomen dapat
menjadi persoalan yang berat. Agen antagonis reseptor
serotonin merupakan obat yang efektif untuk mengendalikan
mual dan muntah sesudah terapi kemoterapi dan radioterapi
yang bersifat emetogenik. Regimen terapi yang paling
bermanfaat untuk mengontrol antiemetic adalah pemakaian obat
antiemetic sebelum kemoterapi dimulai. Tujuannya adalah
mencegah agar anak tidak mengalami mual dan muntah
sehingga mencegah timbulnya antisipasi mual muntah.
Anoreksia, penurunan selera makan merupakan akibat
langsung yang ditimbulkan oleh kemoterapi atau radiasi.
Keadaan ini menjadi persoalan utama bagi orang tua karena
mereka merasa bahwa selera makan adalah tanggung jawab
mereka, terutama jika begitu banyak aspek perawatan yang
berada diluar kendali mereka.
Ulserasi mukosa, salah satu efek samping yang paling
menimbulkan distress dalam pemberian obat-obatan
kemoterapeutik adalah kerusakan sel mukosa GI, yang dapat
menimbulkan ulkus di mana pun di sepanjang saluran
pencernaan. Ulkus pada mulus (ulkus oral) akan memperbarat
gejala anoreksia karena proses makan menjadi tidak
menyenangkan, beberapa intervensi berikut ini dapat
membantu:
a) Sediakan makanan yang tidak merangsang, lunak dan
berkuah cocok dengan usai dan pilihan anak
b) Gunakan sikat gigi dengan spons yang lembut atau
bersihkan gigi denga nidi kapas
c) Anjurkan untuk sering berkumur dengan larutan salin
normal atau obat kumur mulut natrium bikarbonat

11
d) Gunakan obat anastesi local atau obat yang dapat dibeli
bebas dan tidak mengandung alcohol.

Meskipun obat anastesi local efektif untk mengurangi rasa


nyeri sementara, banyak anak tidak menyukai citarasa obat
tersebut dan gejala kebas yang ditimbulkan.

Stomatitis dapat menyebabkan anak sulit makan sehingga


bisa dirawat untuk menjalani terapi hidrasi, nutrisi perenteral
dan pengendalian nyeri. Hygiene gigi bisa menjadi masalah
yang serius pada anak-anak yang mengenakan perangkat
ortodentik, kadang-kadang kawat gigi yang digunakan harus
dilepas agar kemoterapi bisa dilanjutkan.

Ulkus rectum diatasi denga perawatan kebersihan sesudah


eleminasi yang dilaksanakan secara cermat dan penggunaan
kassa oles atau salep oklusif di daerah luka untuk meningkatkan
epitelisasi. Membiarkan kulit yang terkelupas terpapar udara,
panas atau suplemen oksigen untuk memperlabat pemulihan.
Pemakaian thermometer rectum dan pemberian suposituria
dikontraindikasikan karena tindakan ini dapat menyebabkan
trauma lebih lanjut di daerah tersebut.

Neuropati, vinkristin hingga saraf yang lebih ringan,


viblastin dapat menyebabkan berbagai efek neurotoksik.
Intervensi keperawatan untuk menangani semua efek ini
meliputi:

a) Memberikan pelunak feses atau laksatif untuk mengatasi


konstipasi berat yang ditimbulkan oleh penurunan
inervasi/persarafan usus.
b) Mempertahankan kesejajaran tubuh yang baik dan jika
harus menggunakan tirah baring gunakan papan penyangga
kaki untuk meminimalkan atau mencegah footdrop.

12
c) Melakasanakan upaya pengamanan selama ambulasi
karena terdapat kelemahan dan kebas ektremitas yang
menyulitkan pasien ketika berjalan atau melakukan gerakan
tangan yang halus
d) Memberikan makanan yang lunak atau cair untuk pasien
yang mengalami nyeri rahang yang hebat

Sistis hemoragika, yang sterik yang merupakan efek


samping iritasi kimiawi pada kandung kemih akibat pemakaian
siklofosfamid dapat dikurangi dan seing kali dapat dicegah
dengan:

a) Meningkatkan asupan cairan menurut kehendak pasien


(sedikitnya satu setengah kali dari kebutuhan cairan yang
dianjurkan per hari)
b) Sering berkemih dengan segera setelah pasien merasa ingin
berkemih, sebelum tidur dan sesudah bangun tidur
c) Memberi obat pada dini hari untuk memungkinkan asupan
cairan yang memadai dan memungkinkan berkemih
d) Memberikan mensa sesuai program dokter. Jika dokter
memprogramkan pemberian obat per oral di rumah,
keluarga memberikan petunjuk spesifik mengenai jumlah
cairan yang sebenarnya harus diminum anak. Jika terdapat
tanda-tanda sistitis seperti perasaan tebakar atau panas saat
buang air kecil diperlukan evaluasi medis yang cepat dan
tepat.
Alopesia, kerontokan rambut merupakan efek samping
yang lazim terjadi pada pemberian beberapa jenis obat
kemoterapi dan iradiasi kranial, walaupun tidak semua anak
mengalami kerontokan rambut sewaktu menjalani terapi. Lebih
baik kita mengingatkan orang tua dan anak mengenai efek
samping ini daripada membiarkan mereka berpikir bahwa
tersebu hanya kecil sekali. Topi dan kain katun yang lembut
merupakan tutup kepala yang paling nyaman bagi anak. Topi

13
dari kain polyester akan meningkatkan perspirasi dan rasa gatal.
Pilihan tutup kepala yang lain adalah kerudung, kopiah atau
wig.
Moon face. Terapi steroid jangka pendek tidak akan
menimbulkan toksisitas akut tetapi menghasilkan dua reaksi
yang menguntukan yaitu peningkatan selera makan dan
perasaan lebih sehat. Akan tetapi steroid akan mengakibatkan
perubahan citra tubuh yang walaupun secara klinis tidak
signifikan dapat menimbulkan distress yang bermakna bagi
anak-anak yang lebih besar. Salah satu perubahan citra tubuh
tersebut adalah wajah menjadi lebih bulat dan tembem seperti
bulan.
Perubahan mood, sesaat setelah terapi steroid dimulai anak
akan merasakan sejumlah perubahan mood yang berkisar dari
persaan lebih sehat dan euphoria hingga depresi dan sensitive
(iritabilitas). Jika orang tua tidak menyadari bahwa perubahan
ini ditimbulkan oleh obat, mereka mungkin tidak terlalu
memperhatikannya. Oleh karena itu perawat harus
mengingatkan orang tua mengenai kemungkinan reaksi ini,
mendorong orang tua untuk sama-sama mendiskusikan
perubahan bersama dengan anak mereka.

3) Memberikan perawatan fisik dan dukungan emosional secara


berkesinambungan. Karena harapan hidup anak yang menderita
kanker darah semakin membaik, pemantauan tumbuh kembang
fisik dan intelektual merupakan hal yang esensial. Perawat harus
menekankan pentingnya perawatan lanjutan yang teratur.
Walaupun leukemia tidak lagi dianggap penyakit yang selalu
berakibat fatal, harus diingat bahwa angka statistic yang
menunjukka keberhasilan hidup penderitanya hanya merupakan
angka perkiraan rata-rata dan berlaku pada anak-anak yang
diobati dengan protocol pengobatan mutakhir sejak diagnosis

14
ditegakkan. Diantara anak-anak yang bertahan hidup setelah
terapi dihentikan sebagian akan mengalami relaps. Remisi
walaupun waktunya lebih dari 5 tahun tidak bisa disamakan
dengan kesembuhan, dengan semakin meningkatnya
kekhawatiran terhadap efek lambat dari terapi leukemia, sangat
diperlukan pengawasan kontinu terhadap status kesehatan anak.

2. Limfoma Hodgkin
Penyakit hodgkin timbul dalam suatu kelenjar getah bening tunggal
atau daerah kelenjar getah bening. Penyakit ini merupakan suatu
keganasan limfoid yang pada permulaannya berkembang meluas ke daerah
kelenjar getah bening yang berdekatan. Bila tidak diobati, penyakit ini
dapat menyebar dan mengenai setiap organ dalam tubuh pasien, terutama
limfa, hati, paru, tulang dan sumsum tulang secara khas. Tanda utama
penyakit hodgkin adalah pembesaran kelenjar getah bening yang
progressif dan tidak nyeri. Tanda dan gejala lain bergantung pada lokasi
kelenjar getah bening yang terkena, dan bila membesar dapat menekan
jaringan lokal. Kira-kira sepertiga dari pasien mengalami penurunan berat
badan, keringat malam dan demam. Pasien juga mengalami kecacatan
fungsi imun yang diperantarai oleh sel.
a. Etiologi
Manifestasi klinis tertentu dan abnormalitas laboratorium
penyakit hodgkin memberi kesan suatu proses inflamasi, analisis
kromosom pada kelenjar yang terkena memperlihatkan suatu euploidi,
yang memastikan itu adalah suatu keganasan. Penyakit hodgkin
terjadi dengan frekuensi yang tinggi pada pasien dengan lupus
eritematosus, rematoid atritis, dan sindrom diferensiasi imun yang
didapat (AIDS), dan kadang kadang dihubungkan dengan infeksi
sekarang atau terpencil dengan virus epstein-barr (mononucleus
infeksiosa).

15
b. Klasifikasi
Lokasi nodus primer pada penyakit hodgkin adalah diatas
diafragma pada dua pertiga pasien dan sepertiga pasien adalah
dibawah diafragma. Penyakit di deteksi lebih dini pada daerah
servikal, supraklavikula, aksila dan inguinal. Anak remaja biasanya
menderita penyakit hodgkin jenis sclerosis nodular (85%) dengan
keteribatan servikal, suprakavikula, atau mediastinal.
Ciri-ciri klinis peyakit hodgkin:
1) Adenopati yang pembesarannya lambat, tidak nyeri.
2) Jarang pada anak yang kurang dari 10 tahun.
3) Remaja biasanya mengenai servikal, supraklavikula dan
suklerosis nodular.
4) Hanya sepertiga pasien yang mengalami demam dan penurunan
berat badan.
5) Penentuan stadium penting dalam perencanaan terapi.

c. Penentuan Stadium
Selain penyusunan riwayat penyakit yang rinci dan pemeriksaan
fisik yang menyeluruh harus diakukan pemeriksaan darah lengkap,
laju endap darah, fungsi hati dan ginjal, dan rontgen toraks, CT toraks,
dan pelvis dilakukan. Jika tersedia limfangiografi bipedal
memberikan informasi tambahan mengenai ukuran kelenjar getah
bening dan struktur dibawah hilus ginjal.
Penentuan stadium penyakit hodgkin melalui penentuan
perluasan penyakit secara anatomis, memberikan dasar yang rasional
untuk perencanaan terapi dan penentuan prognosis.

Klasifikasi Stadium klinis untuk penyakit Hodgkin

Stadium Kriteria untuk Perluasan Penyakit

I Mengenai suatu daerah kelenjar limfe (I) atau suatu daerah


ekstralimfatik tunggal (Ie)

16
Mengenai dua atau lebih kelenjar limfe pada sisi yang sama
dari diafragma (II), atau terlokalisasi pada satu organ atau
II
tempat ekstralimfatik dan satu atau lebih daerah kelenjar
limfe pada sisi diafragma yang sama

Mengenai daerah kelenjar limfe pada kedua sisi diafragma


(III), yang juga dapat meliputi keterlibatan ekstralimfatik
III
lokal (IIIe), keterlibatan limfa (IIIa), atau kedua-duanya (IIIb)

Mengenai difus atau merata dari satu atau lebih daerah


ekstralimfatik dengan atau tanpa keterlibatan kelenjar limfe,
IV
termasuk semua pasien dengan keterlibatan hati atau sumsum
tulang

3. Limfoma Non-Hodgkin
Limfoma Non-Hodgkin (NHL) pada anak adalah penyakit klonal
yang muncul secara primer dari prekusor sel-T awal pada se B relatif
matur. NHL anak tidak seperti NHL pada orang dewasa, hampir selalu dari
histopipe tingkat tinggi yang difus, keganasan ini juga kurang lazim pada
anak dan ekstra nodal, berbeda dengan pda orang dewasa yang terutama
menyerang kelenjar getah bening.
a. Etiologi
Terdapat peningkatan insiden NHL pada anak dengan status
imunodefisiensi primer atau sekunder, termasuk ataksia telangiectasia,
sindrom wiscott-aldrich, berbagai penyakit defisiensi imun yang lazim,
sindrom defisiensi imun campuran yang berat (severe combined
immune deficiency syndrome), sindrom limfoproliferasi terkait-X
(XLP), dan resipen transplan.

b. Gambaran Klinis
Gambaran klinis awal pada anak dengan NHL terutama ditentukan
oleh lokasi penyakit dan perluasannya. Tempat yang paling sering
terkena adalah abdomen (31,4%), mediastinum, daerah kepala dan

17
leher, cincin waldeyer dan kelenjar getah bening survikal (29%).
Kelenjar getah bening perifer non-servikal terlibat secara primer hanya
pada 6,5 anak kulit putih, tiroid, rongga epidural, dan tulang
bertanggung jawab untuk 7% pasien.
Limfoma limfoblastik secara khas berada diatas diafragma sebagai
suatu massa mediastinum (timus), sering kali berhubungan dengan
efusi, pleura, dypnea, disfagia, nyeri atau sindrom vena kappa superior.
Limfoma limpoblastik juga dapat dijumpai sebagai suatu massa tidak
lunak yang tidak nyeri pada daerah kepala dan leher, tetapi jarang
ditemukan didaerah abdomen. Sebaliknya limfoma tidak
berdiferensiasi biasanya dimulai dalam abdomen dan dikaitkan dengan
distensi abdomen, nyeri, mual, dan muntah.
Keterlibatan sumsum tulang pada diagnosis dapat dihubungkan
dengan anemia atau trombositopenia. Keterlibatam sistem saraf pusat
yang jelas jarang terjadi, paling sering ditemukan pada penyakit primer
dikepala atau leher.

c. Pemeriksaan Diagnostik
Biospi diagnostik penting pada setiap anak yang dicurigai menderita
NHL. Biospi eksisi atau aspirasi jarum halus cukup untuk mengevaluasi
suatu kelenjar getah bening perifer yang terisolasi. Massa mediastinum
dievaluasi dengan medastinoskopi atau toraktomi kecuali terdapat
cairan pleura. Pada kasus seperti ini dan analisa sitology biasanya dapat
menegakan diagnosis. Stadium penyakit mencerminkan luas dan
volume tumor dan juga penting untuk menentukan strategi pengobatan.

4. Tumor hati
Hepatoma (karsinoma hepatoseluler) adalah kanker yang berasal dari
hepatosit (karsinoma hepatoseluler) atau duktus empedu
(kolangiokarsinoma). (Corwin, 2009 ). Hepatoma adala massa abnormal
pada sel hati, tumor hati dapat berupa benigna atau malinga. Tumor dapat
berupa tumor premier atau tumor metastase dari jaringan lain (Timby,
1999).

18
a. Etiologi
Penyebab pasti hepatoma belum diketahui secara pasti. Studi
epidemiologi mennjukan hepatoma berhubungan dengan sirosis
hepatis, hepatitis kronis, hepatitis B, dan hepatitis C. virus hepatitis B
dapat menyebabkan kanker hati karena adanya ombinasi peradangan
kronis dan integrasi genom virus ke dalam DNA pasien. Resiko
kanker hati seumur hidup dari pasien hepatitis C adalah 5%, dan
terjadi setelah 30 tahun terinfeksi. Bahan-bahan hepatokarsinogenik:
Alfatoksin, karsinogen hati ini adlah hasi dari kontaminasi hati
pada bahan makanan di afrika dan asia tenggara. Hal ini menyebabkan
kerusakan DNA dan mutasi gen p53. Biasanya aflatoksin terdapat
pada kacang-kacanga atau makanan yang disimpan dalam waktu
lama.
Alcohol, risiko kanker hati lebih besar terjadi setelah pasien
berhenti minum alcohol, karena peminum berat tidak bertahan cukup
lama untuk mengembangkan kanker. Pecinta alcohol yang minum
lebih dari 80 g/d atau lebih dari 6-7 gelas / hari, dapat meningkatkan
resiko kanker hati sehingga 5 kali lipat, penggunaan steroid anabolic,
penggunaan androgen yang berlebian, bahan kontrasepsi oral,
penimbunan zat berlebihan dalam hati (hemochromatosis).

b. Patofisiologi
Hepatoma 75% berasal dari sirosis hati yang lama/menahun.
Kususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik. Pedoman
diagnostik yang paling penting adalah kerusakan yang tidak dapat
disebabkan sebabnya. Pada penderita sirosis hati yang disertai
pembesaran hati mendadak.
Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari
tempat lain. Metastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50%
kematian akibat kanker. Hal ini benar, khususnya untuk keganasan
pada saluran pencernaan, tetapi banyak tumor lain juga
memperlihatkan kecenderungan untuk bermetastase kehati, misalnya

19
kanker payudara, paru-paru, uterus, dan pancreas. Diagnose sulit
ditentukan, sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran
tumor yang luas, sehingga tidak dapat dilakukan reaksi local lagi.
Ada 2 type:
1) Type massif : tumor tunggal di lobus kanan
2) Type nodule : tumor multiple kecil-kecil dalam ukuran yang tidak
sama

c. Pemeriksaan diagnostik
Diagnosisnya berdasarkan pada suatu pembesaran di abdomen,
kadang-kadang dengan nyeri, demam, anoreksia, muntah, penurunan
berat badan dan kadang-kadang ikterius. Kebanyakan pasien dengan
hepatoblastoma memiliki peningkatan kadang a-fetoprotein plasma.
Konsentrasi fosfatase alkali, glutaminoksaloasetat transaminase
(GOT), dan glutamik-pivat transaminase (GPT) serum dapat juga
mengikat. Teknik pencitraan diagnostik, meliputi rotgen toraks,
ultrasonografi, CT toracs dan abdomen, serta pencitraan resonansi
manetik, semuanya berguna dalam diagnosis. Angiografi seringkali
member informasi yang sangat berguna, karena dapat membedakan
lesi jinak dan yang ganas dan dapat memperlihatkan suplai darah,
yang penting dalam menentukan operasi serta rencana tindakan bedah.

5. Tumor Otak
Tumor otak adalah neoplasma pada bagian intrakranial SSP. Tumor
otak primer berasal dari otak, sedangkan tumor otak sekunder merupakan
pindahan dari tempat asal lain (tucker, 2007).
Tumor otak merupakan salah satu tumor susunan saraf pusat, baik
ganas maupun tidak. Tumor ganas di susunan saraf pusat adalah semua
proses neoplastik yang terdapat dalam ruang intrakranial atau dalam
kanalis spinalis, yang mempunyai sebagian stau seluruh sifat-sifat proes
ganas spesifik seperti yang berasal dari sel-sel saraf di meningen otak,

20
termasuk juga tumor yang berasal dari sel penunjang (neuroglia), sel epitel
pembuluh darah, dan selaput otak. (Batticaca, Fransisca. B, 2008).
Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena adanya
desakan ruangan jinak maupun ganas yang tumbuh di otak, meningen, dan
tengkorak. (Price, A. Sylvia, 1995: 1030).
Tumor otak adalah salah satu lesi ekspansif yang bersifat jinak
(benigna) atau pun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang
tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla
spinalis). Neoplasma pada jaringan otak dan selaputnya dapat berupa tmor
primer maupun metastase. Apabila sel-sel tumor berasal dari jaringan otak
itu sendiri disebut tumor primer dan apabila berasal dari organ-organ lain
(metastase) seperti kanker paru, payudara, prostat, ginjal, dan lain-lain
disebut tumor otak sekunder (Mayer. SA, 2002)
a. Etiologi
Tumor disebabkan oleh mutasi DNA di dalam sel. Akumlasi dari
mutasi-mutasi tersebut menyebabkan munculnya tumor. Sebenarnya
sel manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA (DNA repair) dan
mekanisme lainnya yang menyebabkan sel merusak dirinya dengan
apoptosis jika kerusakan DNA sudah terlalu berat. Apoptosis adalah
proses aktif kematian sel yang ditandai dengan pembelahan DNA
kromosom, kondensasi kromatin, serta fragmetasi nucleus dan sel itu
sendiri. Mutai yang menekan gen untuk mkanisme tersebut dapat
memicu terjadinya kanker. Adanya faktor-faktor yang perlu ditinjau
yaitu:
1) Herediter
2) Sisa-sisa sel embrional (embryonic cell rest)
3) Radiasi
4) Virus
5) Substansi-substansi karsinogenik

21
b. Patofisiologi
Tumor intrakranial menyebabkan gangguan neuroogis progresif.
Gangguan neurologis pada tumor intrakranial biasanya dianggap
disebabkan karena 2 faktor, yaitu gangguan vocal tumor dan
peningkatan intrakranial.
Gangguan vocal yaitu apabila terdapat penekanan pada jaringan
otak dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan
kerusakan jaringan neuron. Tentu saja dispense yang paling besar
terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat (mis., gliobastoma
multiform). Perubahan suplai darah akibat yang ditimbulkan tumor
yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan
suplai darah arteri pada umunya bermanifestasi sebagai kehilangan
fungsi secara akut dan mngkin dapat dikacaukan dengan gangguan
cerebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron
dihubngkan dengan kompresi, invasi dan perubahan suplai darah ke
jaringan otak. Beberapa tumor juga membentuk kista yang juag
menekan parenkim oatk sekitarnya sehingga memperberat gangguan
neurologis vokal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan
oleh bebeapa faktor:
1) Bertambahnya massa dalam tengkorak
2) Terbentuknya edema sekitar tumor
3) Perubahan sirkulasi cairan serebrospinal

Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan bertambahnya massa


karena tumor akan mengambil tempat dalam tempat yang relative
tepat dan ruangan cranial yang kaku. Tumor ganas menimbulkan
edema dalam jaringan otak disekitarnya. Meknisnya belum
sepenuhnya diipahamii, tetapi diduga diisebabkan oleh selisiih
osmotic yang menyebabkan penyerapan cairan tumor. Beberapa
tumor menyebabkan pendarahan. Obstruksi vena dan edem
disebabkan oleh sawar darah otak, semuanya menebabkan
peningkatan volume intrakranial dan menyebabkan tekanan

22
intrakranial. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel
lateral ke ruangan subarakhonid menimbulkan hidrosefalus.

Peningkatan intrakranial akan membahayakan jiwa bila terjadi


cepat akibat salah satu penyebab yang telah dibicarakan sebelumnya.
Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau
berbulan-bulan untuk menjadi efektif, oleh kaena itu tidak berguna
apabila tekanan intrakranial timbul dengan cepat. Mekanisme
kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah
intrakranial, volume cairan cerebrospinal, kandungan cairan intra sel,
dan mengurangi sel-sell parenkim.

Peningkatan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi


unkus atau cereblum. Herniasi unku timbul apabila girus medialis
lobus temporalis tergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh
masa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesen sefalon,
menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf cranial ketiga.
Pada heniasi cereblum, tonsil cerebrum bergeser ke bawah melalui
foramen magnum oleh suatu masa posterior. Kompresi medulla
oblongata dan henti pernafasan berhenti dengan cepat. Parubahan
fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang
ceppat adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran
tekanan nadi), dan gangguan pernafasan.

c. Gambaran klinis
Bukti-bukti bahwa adanya peninggian tekanan intrakranial meliputi
nyeri kepala, muntah (sering tanpa sarapan pagi), diplopia,
penglihatan kabur, dan pepiledema. Perubahan kepribadian termasuk
iritabilitas, apati, gangguan dalam pola tidur dan makan, seing trjadi.
Pembesaran kepala yang mendadak jika kepala lebih dipetakan, dapat
dideteksi bila sutura masih terbuka atau setelah sutura terbuka.
Perubahan kesadaran dan kekakuan leher dengan herniasi tonsilar
dapat dijumpai.

23
Tumor sebelum dan ventrikel IV > tanda-tanda peninggian
tekanan intrakranial sering dijumpai bersamaan dengan tanda-tanda
serebral, termasuk ataksia, dismetria dan nistagmus. Tekanan pada
struktur di dekatnya dapat menimbulkan peninggian kepala, tanda-
tanda saraf cranial, tanda-tanda traktus piramidalis dan kekakuan
leher.
Tumor supratentorium > tanda-tanda peninggian tekanan
intrakranial biasanya dijumpai, bersamaan dengan serangan kejang,
(umum, psikomotor, lokal) pada sekitar 40% kasus. Sering terjadi
hemiparesis, defek lapang pandang, dan perubahan kepribadian.
Tumor diensefalon (seperti glioma optikum) sering ditandai dengan
kekurusan hebat meskipun asupan oralnya baik (sindrom
diensefalon). Tumor region supraseral seringkali ditandai dengan
kelainan penglihatan, diabetes insipidus dan insufisiensi hipofisis.
Tumor batang otak > kelumpuhan nervus kranialis sangat sering
menyertai tumor ini bersama dengan hemiparesis dan ataksia. Tanda-
tanda peninggian tekanan intrakranial dijumpai.
Gangguan umum yang dijumpai disebabkan karena gangguan
fungsi serebral akibat edema otak dan tekanan intrakranial yang
meningkat. Gejala spesifik terjadi akibat distruksi dan kompersi
jaringan saraf, bisa berupa nyari kepala, muntah, kejang, penurunan
kesadaran, gangguan mental, gangguan visual dan sebaginya. Edema
papil dan deficit neurologis lain biasanya ditemukkan pada stadium
yang lebih lanju. Gejala-gejala tumor otak dapat meliputi antara lain:
1) Nyeri kepala (headache)
2) Muntah
3) Edema papil
4) Kejang

d. Penatalaksanaan Keperawatan
Orang dengan tumor memiliki beberapa pilihan pengobatan.
Tergantung pada jenis dan stadium tumor, pasien dapat diobati dengan

24
operasi pembedahan, radioterapi, atau kemoterapi. Beberapa pasien
meneima kombinasi dari perawatan diatas. Selain itu, pada setiap
tahapan penyakit, pasien mungkin menjalani pengobatan untuk
mengendalikan rasa nyeri dari kanker, untuk meringankan efek
samping dari terapi, dan untuk meringankan masalah emosional, jenis
pengobatan ini disebut paliatif.
1. Pembedahan
Pembedahan adalah pengobatan yang paling umum untuk
tumor otak. Tujuannya adalah untuk mengangkat sebanyak tumor
dan meminimalisir sebisa mungkin kehilangan fungsi otak.
Operasi untuk membuka tulang tengkorak disebut kraniotomi.
Hal ini dilakukan dengan anastesi umum. Sebelum operasi
dimulai, rambut kepala dicukur. Ahli bedah kemudian membuat
sayatan dikulit kepala menggunakan sejenis gergaji khusus untuk
mengangkat sepotong tulang dari tengkorak. Setelah menghapus
sebagian atau seluruh tumor, ahli bedah menutup kembali bukaan
tersebut dengan potongan tulang tadi, sepotong metal atau bahan.
Ahli bedah kemudian menutup sayatan di kulit kepala. Beberapa
ahli bedah dapat menggunakan saluran tang ditempatkan dibwah
kulit kepala selama satu atau dua hari setelah operasi untuk
meminimalkan akumilasi darah atau cairan. Efek samping yang
mungkin timbul pasca operasi pembedahan tumor otak adalah
sakit kepala atau rasa tidak nyaman selama beberapa hari pertama
setelah operasi. Dalam hal ini dapat diberikan obat sakit kepala,.
Masalah lain yang kurang umum yang dapat terjadi adalah
menumpuknya cairan cerebrospinal di otak yang menyebabkan
pembengkakan otak (edema). Biasanya pasien diberikan steroid
yang merimhamkan pembengkakan, ebuah operasi kedua
mungkin diperlukan untuk mengalirkan cairan.
Dokter bedah dapat menemppatkan sebuah tabung, panjang
dan tipis (shunt) dalam ventrikel otak. Tabung ini diletakan
dibawah kulit ke bagian lain dari tubuh, biasanya perut.

25
Kelebihan cairan di otak dialirkan ke perut. Kadang-kadang
cairan dialirkan ke jantung sebagai gantinya. Infeksi adalah
masalah lain yang dapat berkembang setelah operasi (diobati
dengan antibiotik). Operasi otak dapat merusak jaringan normal.
Kerusakan otak bisa menjadi masalah serius. Pasien mungkin
memiliki masalah berfikir, melihat, atau berbicara. Paien juga
mungkin mengalami perubahan kepribadian atau kejang.
Sebagian besar masalah ini berkurang dengan berlalunya waktu.
Tetapi kerusakan otak kadang-kadang bisa permanen. Pasien
mungkin memerlukan terapi fisik, bicara, atau terapi kerja.
2. Radiosurgery Stereotatic
Radiosurgery stereotatic adalah teknik “knifeless” yang
lebih baru untuk menghancurkan tumor tanpa membuka
tengkorak. CT-Scan atau MRI digunakan untuk menentukan
lokasi tumor yang tepat di otak. Enegi radiasi tingkat tinggi
diarahkan ke tumornya dari berbagi sudut untuk menghancurkan
tumornya. Alatnya bervariasi, mulai dari penggunaan pisau
gamma, atau akselerator linier dengan ioton, ataupun sinar
proton. Kelebihan dari prosedur knifeless ini adalah memperkecil
kemungkinan komplikasi pada pasien dan memperpendek waktu
pemulihan. Kekurangannya adalah tidak adanya sempel jaringan
tumor yang dapat diteliti lebih lanjut oleh peneliti ahli patologi.
Serta pembengkakan otak yang dapat terjadi detela radioterapi.
Kadang-kadang operasi tidak dimungkinkan. Jika tumor terkadi
dibatang otak (brainstem) atau daerah-daerah tertentu lainnya,
ahli bedah tidak mungin dapat mengangkat tumor tanpa merusak
jaringan otak normal. Dalam hal ini pasien dapat meneima
radioterapi atau perawatan lainnya.
3. Radioterapi
Radioterapi menggunakan X-Ray untuk membunuh sel-sel
tumor. Sebuah mesin besar diarahan pada tumor dan jaringan
didekatnya. Mungkin kadang radiasi diarahkan ke seluruh otak

26
atau ke syaraf tulang belakang. Raditerapi biasanya dilakukan
sesudah operasi. Radiasi membunuh sel-sel tumor (sisa) yang
mungkin tidak dapat diangkat melalui operasi. Jadwal
pengobatan bergantung pada jenis dan ukuran tumor serta usia
pasien. Setiap sesi radioterapi biasanya hanay berlangsung
beberapa menit.
4. Kemoterapi
Kemoterapi yaitu pengunaan satu atau lebih obat-obatan
untuk membunuh sel-sel kanker. Kemoterapi diberikan secara
oral atau dengan invus intravena ke seluruh tubuh. Obat-obatan
biasanya diberikan pada 2-4 siklus yang meliputi periode
pengobatan dan periode pemulihan. Dua jenis obat kemoterapi
yaitu: temozolomide (temodar) dan bevacizumab (avastin), baru-
baru ini telah mendapat persetujuan untuk pengobatan glioma
ganas. Mereka lebih efektif dan memiliki efek samping lebih
sedikit jika dibandingkan dengan obat-obatan kemo versi lama.
Temozolomide memiliki keunggulan lain, yaitu bisa secar oral.
Untuk beberapa pasien dengan kasus kanker otak kambuhan, ahli
bedah biasanya melakukan operasi pengangkatan tumor dan
kemudian melakukan inflantasi wafer yang mengandung obat
kemoterapi. Selama beberapa minggu wafer larut, melepaskan
obat ke otak. Obat tersebut kemudian membunuh sel kankernya.

Sumber: Asuhan Keperawatan Anak dengan Keganasan. Dyna Apriany, 2016

B. Asuhan Keperawatan Anak dengan Masalah Keganasan


1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data
yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan
pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta
merumuskan diagnose keperawatan. (Budi Anna Keliat, 1994 dalam Dyna
Apriany, 2016). Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik sering kali

27
memberi tanda pertama yang menunjukkan adanya penyakit neplastik.
Keluhan yang samar seperti perasaan letih, nyeri pada ekstremitas,
berkeringat dimalam hari, penurunan selera makan, sakit kepala dan
perasaan tidak enak badan dapat menjadi petunjuk pertama leukemia.
Pengkajian pada leukemia meliputi:
a. Riwayat penyakit
b. Kaji danya tanda-tanda anemia:
1) Pucat
2) Kelemahan
3) Sesak
4) Nafas cepat
c. Kaji adanya tanda-tanda leukopenia
1) Demam
2) Infeksi
d. Kaji adanya tanda-tanda trombo-sitopenia:
1) Ptechiae
2) Purpura
3) Perdarahan membrane mukosa
e. Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulla:
1) Limfadenopati
2) Hepatomegaly
3) Splenomegaly
f. Kaji adanya pembesaran testis
g. Kaji adanya:
1) Hematuria
2) Hipertensi
3) Gagal ginjal
4) Inflamasi disekitar rektal
5) Nyeri

28
2. Diagnosis Keperawatan
a. Risiko cedera b.d proses malignan/keganasan.
b. Risiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh.
c. Risiko cedera (perdarahan, sistitis hemoragik) b.d ganguan proliferasi
sel
d. Risiko defisit volume cairan b.d mual dan muntah.
e. Gangguan citra tubuh b.d kerontokan rambut, moon face, atau
kelemahan.

3. Rencana Kepewatan dan Evaluasi


a. Risiko cedera b.d proses malignan/keganasan.
Tujuan:
1) Pasien mengalami remisi parsial atau total dari penyakit
2) Pasien tidak mengalami komplikasi akibat kemoterapi

Intervensi dan Rasional


a) Berikan agen kemoterapi sesuai dengan program.
b) Bantu pelaksanaan radioterapi sesuai dengan program.
c) Bantu prosedur pemberian agen kemoterapi.
d) Persiapkan anak dan keluarga dalam menghadapi prosedur
pembedahan jika diperlukan.
e) Amati tanda-tanda infiltrasi pada lokasi infus/penyuntikan IV
(rasa nyeri, tersengat, pembengkakkan, kemerahan).
f) Segera hentikan infusan jika terjadi tanda-tanda infiltrasi untuk
mencegah kerusakan jaringan yang berat.
g) Implementasikan kebijakanrumah sakit dalam menangani
infiltrasi.
h) Lakukan anamnesis yang cermat untuk mendeteksi adanya
riwayat reaksi alergi untuk mencegah reaksi anafilaksis (sianosis,
hipotensi, mengi, urtikaria hebat).
i) Hentikan pemberian infus obat dan bilas selang infus dengan
larutan salin normal jika dicurigai adanya reaksi.

29
j) Sediakan peralatan kedaruratan (terutama alat monitor tekanan
darah dan kantong serta masker untuk meresusitasi manual dan
obat-obatan kedaruratan untuk mencegah kelambatan
penanganan.
Hasil yang diharapkan:

1) Anak mencapai remisi parsial atau total dari penyakit.


2) Anak tidak mengalami komplikasi akibat penyakit.
3) Anak mendapat penanganan komplikasi yang cepat dan tepat.

b. Risiko infeksi b.d penurunan daya tahan tubuh.


Tujuan:
1) Pasien mengalami risiko infeksi yang minimal
Intervensi dan Rasional
a) Tempatkan anak dalam ruang perawatan pribadi untuk
mengurangi keterpajanan dengan organisme infektif.
b) Sarankan semua pengunjung dan staf rumah sakit agar
melaksanakan teknik mencuci tangan yang baik untuk
mengurangi keterpajanan terhadap organisme infektif.
c) Gunakan teknik aspetik dengan sangat teliti untuk semua
prosedur/ tindakan yang invasive.
d) Pantau suhu tubuh untuk mendeteksi kemungkinan infeksi.
e) Evaluasi anak untuk menentukan setiap lokasi yang berpotensi
menjadi tempat infeksi (tempat penusukan jarum, ulserasi
mukosa, abrasi ringan dan masalah dental).
f) Berikan diet dengan kandungan nutrisi yang lengkap sesuai
dengan usia pasien untuk mendukung pertahanan alami tubuh.
g) Hindari pemberian vaksin dengan virus hidup yang dilemahkan
pada anak yang sistem imunnya terdepresi karena vaksin tersebut
dapat mengakibatkan infeksi berat.
h) Berikan vaksin virus inaktif sesuai program dan diindikasikan
untuk mencegah infeksi yang spesifik.

30
i) Berikan antibiotic sesuai resep.
j) Berikan granulocyte colony stimulating faktor sesuai resep
Hasil yang diharapkan:
1) Anak tidak berhubungan dengan orang yang terinfeksi atau barang-
barang yang terkontaminasi.
2) Anak mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan usianya.
3) Anak tidak memperlihatkan tanda-tanda infeksi.

c. Gangguan citra tubuh b.d kerontokan rambut, moon face, atau


kelemahan.
Tujuan:
1) Pasien atau keluarga memperlihatkan perilaku koping yang positif.
2) Pasien memperlihatkan penyesuaian terhadap perubahan wajah.
3) Pasien mengungkapkan perasaanya.

Intervensi dan Rasional


a) Perkenalkan ide untuk mengenakan wig sebelum rambut rontok.
b) Dorong anak untuk memilih wig yang sesuai dengan model dan
warna rambutnya sendiri sebelum terjadi kerontokan rambut
untuk memudahkan penyesuaian lebih lanjut terhadap kerontokan
rambut.
c) Berikan penutup kepala yang memadai untuk menghindari
keterpajanan terhadap sinar matahari, angina atau cuaca dingin
karena hilangnya perlindungan alami.
d) Anjurkan pemeliharaan rambut yang tipis tetap bersih, terpangkas
pendek dan lembut untuk menyamarkan kebotakan yang terjadi
secara parsial.
e) Jelaskan bahwa rambut akan kembali tumbuh dalam 3 hingga 6
bulan dan mungkin memilki warna atau tekstur yang sedikit
berbeda dari aslinya untuk mempersiapkan anak dan keluarga
terhadap perubahan tampilan rambut yang baru.

31
f) Jelaskan bahwa alopesia yang terjadi pada pelaksanaan terapi
kedua dengan obat yang sama mungkin tidak terlalu parah.
g) Dorong pelaksanaan hygiene yang baik, perawatan diri dan
penyediaan keperluan yang sesuai dengan jenis kelamin anak
untuk memperbaiki penampilan anak.
h) Dorong reintegrasi yang cepat dengan teman sebaya untuk
mengurangi perbedaan akibat perubhan wajah.
i) Tekankan bahwa reaksi ini hanya bersifat sementara untuk
memberi ketenangan bahwa wajahnya yang semula akan kembali
lagi.
j) Beri kesempatan pada anak untuk membicarakan perasaan dan
kekhawatirannya.
k) Beri saran untuk mengungkapkan ekspresi nonverbal.
Hasil yang diharapkan:

1) Anak mengutarakan kekahwatiran mengenai kerontokan


rambutnya.
2) Anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek
kerontokan rambut dan mengapliaksikan metode ini.
3) Anak tampak bersih, terawat dengan baik dan berpakaian menarik.

Sumber: Asuhan Keperawatan Pediatri. Donna L. Wong, 2003


Asuhan Keperawatan Nanda Nic-Noc. Amin Huda, 2015

C. Asuhan Keperawatan Pada Anak Terinfeksi HIV/AIDS


AIDS adalah sekumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh
menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV. AIDS
merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. (Sudoyo Aru, dkk. 2009 dalam
Amin Huda. 2015)
AIDS (Acquired immunodeficiency syndrome) adalah kumpulan gejala
penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang
disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV). (Mansjoer,

32
2000:162 https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-
Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB).
Jadi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan
sel-sel darah putih Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan
sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi
oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa).
(https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-Anak
diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB).
1. Etiologi
Penyebab kelainan imun pada AIDS adalah suatu agen viral yang
disebut HIV dari kelompok virus yang dikenal retrovirus yang disebut
Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) atau Human T-Cell
Leukimia Virus (HTL-III yang juga disebut Human T-Cell
Lymphotropic Virus [retrovirus]). Retrovirus mengubah asam
rebonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribunokleat (DNA) setelah
masuk ke dalam sel pejamu. Penyakit ini dapat ditularkan melalui
penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah, dan penularan
masa perinatal. (Amin Huda Nurarif, 2015).
a. Faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah:
1) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual.
2) Bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan yang berganti.
3) Bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya merupakan
penyalahguna obat IV.
4) Bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk
darah berulang.
5) Anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual.
6) Anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti
pasangan.
b. Cara Penularan
Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui:
1) Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum)
2) Selama persalinan (intrapartum)

33
3) Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi
4) Bayi tertular melalui pemberian ASI
(https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-
Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB)
2. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari
asimtomatis sampai penyakit berat yang dinamakan AIDS. AIDS pada
anak terutama terjadi pada umur muda karena sebagian besar (>80%)
AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak. Lima puluh
persen kasus AIDS anak berumur < l tahun dan 82% berumur < 3 tahun.
Meskipun demikian ada juga bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal
belum memperlihatkan gejala AIDS pada umur 10 tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh
mikroorganisme yang ada di lingkungan anak. Oleh karena itu,
manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik berupa:
a. Gagal tumbuh
b. Berat badan menurun,
c. Anemia,
d. Panas berulang,
e. Limfadenopati, dan
f. Hepatosplenomegali
Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah
adanya infeksi oportunistik, yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur,
atau protozoa yang lazimnya tidak memberikan penyakit pada anak
normal. Karena adanya penurunan fungsi imun, terutama imunitas
selular, maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme
tersebut, yang biasanya lebih lama, lebih berat serta sering berulang.
Penyakit tersebut antara lain kandidiasis mulut yang dapat menyebar ke
esofagus, radang paru karena Pneumocystis carinii, radang paru karena
mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak. Bila anak
terserang Mycobacterium tuberculosis, penyakitnya akan berjalan berat
dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak sering juga menderita

34
diare berulang. (https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-
Hiv-Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB)
Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah
pneumonia interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin
langsung disebabkan oleh HIV pada jaringan paru. Manifestasi
klinisnya berupa:
a. Hipoksia
b. Sesak napas
c. Limfadenopati
d. Secara radiologis terlihat adanya infiltrast retikulonodular difus
bilateral, terkadang dengan adenopati di hilus dan mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan
ensefalopati kronik yang mengakibatkan hambatan perkembangan atau
kemunduran ketrampilan motorik dan daya intelektual, sehingga terjadi
retardasi mental dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan
manifestasi primer infeksi HIV. Otak menjadi atrofi dengan pelebaran
ventrikel dan kadangkala terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat
ditemukan pada jaringan susunan saraf pusat atau cairan serebrospinal.

Sumber: https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-
Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB

Klasifikasi klinis infeksi HIV menurut WHO


Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas
1. Asimptomatis Asimptomatis,
I 2. Limfadenopati aktivitas normal
generalisata
1. Berat badan menurun Simptomatis, aktivitas
<10% normal
2. Kelainan kulit dan
mukosa yang ringan
seperti dermatitis

35
seboroik, prurigo,
II onikomikosis, ulkus
oral yang rekuren, dan
kheilitis angularis.
3. Herpes zozter dalam 5
tahun terakhir.
4. Infeksi saluran napas
bagian atas seperti,
sinusitis bakterialis.
1. Berat badan menurun Pada umumnya lemah,
>10% aktivitas di tempat
2. Diare kronis yang tidur < 50%
berlangsung > 1 bulan
3. Demam
III berkepanjangan > 1
bulan
4. Kandidiasis
orofaringeal
5. Oral hairy leukoplakia
6. TB paru dalam tahun
terakhir
7. Infeksi bacterial yang
berat seperti
pneumonia, piomisitis
1. HIV wasting Pada umumnya sangat
syndrome seperti lemah, aktivitas di
yang didefinisikan tempat tidur > 50%
IV oleh CDC
2. Pneumonia
pnemocytis carinii
3. Toksoplasmosis otak

36
4. Retinitis virus
sitomegalo
5. Herpes simpleks
mukokutan > 1 bulan
6. Ensefalopati HIV
7. Sarcoma Kaposi
8. Limfoma
9. Tuberkulosis di luar
paru
10. Septisemia
salmonellosis
nontifoid
11. Mikrobakteriosis
atipikal diseminata
12. Kandidiasis di
esophagus, trakea,
bronkus, dan paru
Sumber: Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak hal 183

3. Patofisiologi
Perjalanan HIV / AIDS dibagi dalam dua fase:
a. Fase Infeksi Awal
Pada fase awal proses infeksi (immunokompeten) akan terjadi
respon imun berapa peningkatan aktivitas imun, yaitu pada tingkat
seluler (HLA-DR; sel T; IL-2R); serum atau humoral (beta-2
mikroglobulin, neopterin, CD8, IL-R); dan antibody upregulation
(gp 120, anti p24; IgA) (Kam, 1996 dalam Nursalam, dkk. 2008).
Induksi sel T-helper dan sel-sel lain diperlukan untuk
mempertahankan fungsi sel-sel faktor sistem imun agar tetap
berfungsi dengan baik. infeksi HIV akan menghancurkan sel-sel T,
sehingga T-helper tidak dapat memberikan induksi kepada sel-sel
efektor sistem imun. Dengan tidak adanya T-helper, sel-sel efektor

37
sistem imun seperti T8 sitotoksik, sel NK, monosit dan sel B tidak
dapat berfungsi dengan baik. Daya tahan tubuh menurun sehingga
pasien jatuh ke dalam stadium lebih lanjut.
b. Fase Infeksi Lanjut
Fase ini diseut dengan imunodefesien, karena dalam serum pasien
yang terinfeksi HIV ditemukan adanya faktor supresif berpa
antobodi terhadap poliferasi sel T. Adanya supresif pada poliferasi
pada sel T tersebut dapat menekan sintesis dan sekresi limfokin,
sehingga sel T tidak mampu meberikan respon terhadap mitogen
dan terjadi disfungsi imun yang ditandai dengan penurunan kadar
CD4+, sitokin (IFNc; IL-2; IL-6), antibody down regulation
(gp120; anti p-24), TNF a, dan anti nef. (Kam, 1996 dalam
Nursalam, dkk. 2008).
Pembagian stadium:
a. Stadium I : HIV
Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti dengan
tejadinya perubahan serologis ketika antibody tehadap virus
tersebut berubah dari negative menjadi positif. Rentang waktu
sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibody terhadap
HIV menjadi positif disebut dengan windor period. Lama window
period adalah antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat
berlangsung sampai enam bulan.
b. Stadium II : Asimptomatis (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV,
tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala apa pun. Keadaan ini dapat
berlangsung rata-rata selama 5-10 tahun. Cairan tubuh pasien
HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV
kepada orang lain.
c. Stadium III : Pembesarn kelenjar limfe secara menetap dan merata
(Persistent Generalized Lymphadenopathy).
Hal ini tidak hanya muncul pada satu tempat saja dan berlangsung
lebih satu bulan

38
d. Stadium IV : AIDS
Keadaan ini disertai dengan bermacam-macam penyakit, antara
lain penyakit konstitusional, penyakit saraf, dan penyakit infeksi
sekunder.
Gejala klinis pada stadium AIDS dibagi antara lain:
a. Gejala utama / mayor
1) Demam berkepanjangan > 3 bulan
2) Diare kronis > 1 bulan berulang maupun terus-menerus
3) Penurunan berat badan > 10% dalam tiga bulan
b. Gejala minor
1) Batuk kronis > 1 bulan
2) Infeksi pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh
jamur Candida albicons\pembengkakkan klenjar getah bening
yang menetap diseluruh tubuh
3) Munculnya herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal
diseluruh tubuh (Depkes RI, 1997 dalam Nursalam, dkk. 2008)
Sumber: Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak hal: 183

4. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,
gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV),
leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan,
keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak
putih seperti krim dalam rongga mulut. Jika tidak diobati,
kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus dan lambung.
Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang
sulit dan rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal).

39
b. Neurologik
1) Ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks
dimensia AIDS (ADC; AIDS dementia complex). Manifestasi
dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala, kesulitan
berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik,
apatis dan ataksia. stadium lanjut mencakup gangguan kognitif
global, kelambatan dalam respon verbal, gangguan efektif
seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis
spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan
kematian.
2) Meningitis kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam,
sakit kepala, malaise, kaku kuduk, mual, muntah, perubahan
status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan dengan
analisis cairan serebospinal.

c. Gastrointestinal
1) Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus
yang diperbarui untuk penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya
mencakup penurunan BB > 10% dari BB awal, diare yang
kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis,
dan demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya
penyakit lain yang dapat menjelaskan gejala ini.
2) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora
normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek,
penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan
dehidrasi.
3) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi,
obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri
abdomen, ikterik, demam atritis.
4) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan
inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek
inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal dan diare.

40
d. Respirasi
Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas
(dispnea), batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam
akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti yang disebabkan
oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus
influenza, pneumococcus, dan strongyloides.

e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis
karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan
efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi sekunder dan sepsis. Infeksi
oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas
kulit.
Moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang
ditandai oleh pembentukan plak yang disertai deformitas.
Dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik
dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah.penderita
AIDS juga dapat memperlihatkan folikulitis menyeluruh yang
disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan
dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.

f. Sensorik
1) Pandangan: Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak
mata (retinitis sitomegalovirus berefek kebutaan).
2) Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri yang berhubungan dengan
mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat.
Sumber: https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-
Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB

41
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Mendeteksi antigen virus dengan PCR (Polimerase Chain Reaction)
b. Tes ELSA memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi
c. Hasil positif dikonfirmasi dengan pemeriksaan western blot
d. Serologis: skrining HIV dengn ELSA, tes western blot, limfosit T
e. Pemeriksaan darah rutin
f. Pemeriksaan neurologis
g. Tes fungsi paru, broskoscopi

6. Penatalaksanaan
Menurut Agung Nugroho dalam Amin Huda Nurarif, 2015.
a. Pengobatan suportif
1) Pemberian nutrisi yang baik
2) Emberian multivitamin
b. Pengobatan simptomatik
c. Pencegahan infeksi oportunistik, dapat digunakan antibiotic
kortimoksazol
d. Pemberian ARV (antiretroviral). (Widoyo dalam Amin Huda Nurarif,
dkk. 2015)
ARV dapat diberikan saat pasien sudah siap terhadap kepatuhan berobat
seumur hidup. Indikasi dimulainya pemberian ARV dapat dilihat pada
tabel berikut
WHO 2009 Untuk Negara Amerika Serikat DHHS 2008
Berkembang
Stadium IV AIDS tanpa Riwayat diagnosis AIDS
memandang CD4 HIV-sociated nefropathy /
Stadium III HIVAN
TB paru Asimptomatik, CD4 < 350
Pnemonia berulang Ibu hamil
Stadium I dan II bila CD4 < 350
Pedoman terapi ARV (Gulick RM dalam Amin Huda Nurarif, dkk.
2015)

42
1) Jangan gunakan obat tunggal atau 2 obat
2) Selalu gunakan minimal kombinasi 3 ARV yang disebutkan oleh
HAART (Highly Active Anti Retroviral Therapy)
3) Kombinasi ARV lini pertama pasien naïve (belum pernah pakai
ARV sebelumnya) yang dianjurkan: 2 NRTI (nucleoside atau
nucleotide reverse tranciptase inhibitor) + 1 NNRTI (non-
nucleoside atau nucleotide reverse tranciptase inhibitor)
4) Di Indonesia, regimen pengobatan yang dipakai adalah:
1) Lini pertama: AZT + 3TC + EFV atau NVP
2) Alternative : d4T + 3TC + EFV atau NVP
Sumber: Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Nanda
Nic Noc hal: 10
e. Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui:
1) Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang
bertujuan agar vital load rendah sehingga jumlah virus yang ada di
dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV.
2) Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral (Nevirapine) saat
persalinan dan bayi baru dilahirkan dan persalinan sebaiknya
dilakukan dengan metode sectio caesar karena terbukti mengurangi
resiko penularan sebanyak 80%.
3) Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang resiko dan
manfaat ASI
Sumber: Asuhan Keperawatan Pediatrin. Donna L. Wong, 2003
Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Nursalam, 2008
https://www.scribd.com/document/249766058/Askep-Hiv-Pada-
Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB

7. Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Infeksi HIV / AIDS


a. Pengkajian
1) Data Subjektif, mencakup:
a) Pengetahuan klien tentang AIDS

43
b) Data nutrisi, seperti masalah cara makan, BB turun
c) Dispneu
d) Ketidaknyamanan (lokasi, karakteristik, lamanya)
2) Data Objektif, meliputi:
a) Kulit, lesi, integritas terganggu
b) Bunyi nafas
c) Kondisi mulut dan genetalia
d) BAB (frekuensi dan karakternya)
e) Gejala cemas
3) Pemeriksaan Fisik
a) Pengukuran TTV
b) Pengkajian Kardiovaskuler
c) Suhu tubuh meningkat, nadi cepat, tekanan darah meningkat.
Gagal jantung kongestif sekunder akibat kardiomiopati karena
HIV.
d) Pengkajian Respiratori
e) Batuk lama dengan atau tanpa sputum, sesak napas, takipnea,
hipoksia, nyeri dada, napas pendek waktu istirahat, gagal napas.
f) Pengkajian Neurologik
g) Sakit kepala, somnolen, sukar konsentrasi, perubahan perilaku,
nyeri otot, kejang-kejang, enselofati, gangguan psikomotor,
penurunan kesadaran, delirium, meningitis, keterlambatan
perkembangan.
h) Pengkajian Gastrointestinal
i) Berat badan menurun, anoreksia, nyeri menelan, kesulitan
menelan, bercak putih kekuningan pada mukosa mulut,
faringitis, candidisiasis esophagus, candidisiasis mulut, selaput
lendir kering, pembesaran hati, mual, muntah, colitis akibat
diare kronis, pembesaran limfa.
j) Pengkajain Renal
k) Pengkajaian Muskuloskeletal
l) Nyeri otot, nyeri persendian, letih, gangguan gerak (ataksia)

44
m) Pengkajian Hematologik
n) Pengkajian Endokrin
4) Kaji status nutrisi
a) Kaji adanya infeksi oportunistik
b) Kaji adanya pengetahuan tentang penularan.
Sumber: https://www.scribd.com/doc/112760352/Hiv-Aids-Pada Anak

diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB

b. Diagnosa Keperawatan
1) Risiko tinggi infeksi b.d kerusakan pertahanan tubuh, adanya
organisme infeksius
2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kekambuhan
penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
3) Kerusakan interaksi soasial b.d pembatasan fisik, hospitalisasi,
stigma sosial tehadap HIV
4) Nyri b.d proses penyakit (mis., ensefalopati, pengobatan)

Sumber: Keperawatan Pediatric Donna L. Wong hal: 547

c. Intervensi Keperawatan
Adapun intervensi keperawatan pada anak menurut Donna L. Wong,
2003
1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kekambuhan
penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
Tujuan
a) Pasien mendapatkan nutrisi yang optimal
Intervensi dan Rasional
(1) Beri makanan dan kudapan yang tinggi kalori dan tinggi
protein untuk memenuhi kebutuhan tubuh untuk metabolisme
dan pertumbuhan.

45
(2) Beri makanan yang disukai anak untuk mendorong agar anak
mau makan.
(3) Perkaya makanan dengan suplemen nutrisi mis., susu bubuk
atau suplemen yang dijual bebas untuk memaksimalkan
kualitas asupan makanan.
(4) Berikan makanan ketika anak sedang mau makan dengan baik.
(5) Gunakan kreativitas untuk mendorong anak untuk makan.
(6) Pantau berat badan dan pertumbuhan sehingga intevensi nutrisi
tambahan dapat diimplementasikan bila pertumbuhan mulai
melambat atau berat badan turun.
(7) Berikan obat antijamur sesuai instruksi untuk mengobati
kandidiasis oral.
Hasil yang Diharapkan:
a) Anak mengkonsumsi jumlah nutrient yang cukup

2) Kerusakan interaksi soasial b.d pembatasan fisik, hospitalisasi,


stigma sosial tehadap HIV.
Tujuan
a) Pasien berpartisipasi dalam kelompok sebaya dan aktivitas
keluarga
Intervensi dan Rasional
(1) Bantu anak dalam mengidentifikasi kekuatan pribadi untuk
memfasilitasi koping.
(2) Didik petugas sekolah dan teman sekelas tentang HIV,
sehingga anak tidak perlu diisolasi.
(3) Dorong anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas bersama
anak-anak dan keluarga yang lain.
(4) Dorong anak untuk mepertahankan hubungan via telepon
dengan teman-temannya selama hospitalisasi untuk
mengurangi isolasi.

46
3) Nyri b.d proses penyakit (mis., ensefalopati, pengobatan)
Tujuan
a) Pasien tidak menunjukkan atau tidak ada bukti nyeri atau peka
rangsang
Intervensi dan Rasional
(1) Kaji nyeri
(2) Gunakan strategi nonfarmakologis untuk membantu anak
mengatasi nyeri
(3) Untuk bayi, dapat dicoba tindakan kenyamanan umum
(4) Gunakan strategi farmakologis
(5) Rencanakan jadwal pencegahan bila analgesic efektif dalam
mengurangi nyeri yang terus-menerus.
(6) Anjurkan penggunaan premedikasi untuk prosedur yang
menimbulkan nyeri.
(7) Anak mendapatkan keuntungan dari penggunaan analgesic
tambahan (mis., antidepresan) yang efektif melawan nyeri
neuropatik
(8) Gunakan catatan pengkajian nyeri untuk mengevaluasi
efektifitas intervensi farmakologis dan nonfarmakologis.
Hasil yang Diharapkan:

a) Bukti-bukti nyeri atau peka rangsang yang ditunjukkan anak


minimal atau tidak ada.

Sumber: https://www.scribd.com/doc/112760352/Hiv-Aids-Pada Anak

diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB


Asuhan Keperawatan Pediatrik. Donna L.Wong, 2003

D. Konsep Kronik dan Terminal Illness


1. Penyakit Kronis
Masalah-masalah penyakit kronis mempengarui individu
sepanjang hidupnya. Penyakit kronis dapat terjadi pada semua jenis
kelamin, tingkat sosioekonomi, etnik, budaya, dan kelompok ras.

47
Namun demikian, penyakit kronis umum terjadi pada kelompok tingkat
sosial ekonomi rendah karena kurang akses keperawatan kesehatan,
nutrisi yang buruk, dan sering karena gaya hidup yang tidak sehat.
Penyakit kronis didefinisikan sebagai kondisi medis atau masalah
kesehatan yang berkaitan dengan gejala-gejala atau kecacatan yan
membutuhkan penatalaksanaan jangka panjang. Sebagian dari
penatalaksanaan ini mencakup belajar untk hidup dengan gejala dan
kecacatan, ementara juga menghadapi segala bentuk perubahan
identitas yang diakibatkan oleh penyakit. Sebagian lagi mencakup
menjalani gaya hidup dan regimen yang dirancang untuk tetap menjaga
agar tanda dan gejala terkontrol dan untuk mencegah komplikasi.
Meskipun, beberapa individu akan memikirkan tentang apakah kiranya
yang disebut edngan identitas “peran sakit”, kebanyakan orang dengan
penyakit kronis tidak menganggap diri mereka sakit atau berpenyakitan
dan mencoba untuk hidup senormal mungkin (Robinson, dkk., 1993
dalam Brunner and suddarth., 2001).
Akan tetapi hanya ketika komplikasi atau gejala hebat yang
mengganggu aktivitas kehidupan mereka sehari-hari, banyak individu
sakit kronis berpikir bahwa diri mereka sedang “sakit” (Forsyth,
Delaney, & Gresham., 1984 dalam Brunner and suddarth., 2001).
Penyakit kronik adalah suatu penyakit yang perjalanan penyakit
berlangsung lama sampai bertahun-tahun, bertambah berat, menetap,
dan sering kambuh. (Purwaningsih dan Karbina, 2009
https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan-Terminal-Illnes-
Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB).
Penyakit kronis bisa menyebabkan kematian/ kondisi terminal.
Ketidakmampuan merupakan persepsi individu bahwa segala hal yang
dilakukan tidak akan mendapatkan hasil atau suatu keadaan dimana
individu kurang dapat mengendalikan kondisi tertentu atau kegiatan
yang baru dirasakan. (Purwaningsih dan Karbina, 2009
https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan-Terminal-Illnes-
Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB).

48
Jadi penyakit kronis yaitu penyakit yang terjadi pada seseorang
dalam waktu lama akan membuat orang tersebut menjadi tidak mampu
melakukan sesuatu seperti biasanya.

2. Terminal Illness
Kondisi Terminal adalah: Suatu proses yang progresif menuju
kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik,
psikososial dan spiritual bagi individu. (Carpenito, 1995).
Pasien Terminal adalah: pasien-pasien yang dirawat, yang sudah
jelas bahwa mereka akan meninggal atau keadaan mereka makin lama
makin memburuk. (P.J.M. Stevens, dkk hal: 282, 1999). Bisa dikatakan
Penyakit terminal adalah lanjutan dari penyakit kronik/ penyakit akut
yang sifatnya tidak bisa disembuhkan dan mengarah pada kematian.
Pasien terminal illness adalah pasien yang sedang menderita sakit
dimana tingkat sakitnya telah mencapai stadium lanjut sehingga
pengobatan medis sudah tidak mungkin dapat menyembuhkan lagi.
Oleh karena itu, pasien terminal illnes harus mendapatkan perawatan
paliatif yang bersifat meredakan gejala penyakit, namun tidak lagi
berfungsi untuk menyembuhkan.
Jadi fungsi perawatan paliatif pada pasien terminal illnes adalah
mengendalikan nyeri yang dirasakan serta keluhan-keluhan lainnya dan
meminimalisir masalah emosi, sosial dan spiritual. Penjelasan tersebut
mengindikasi bahwa pasien terminal illness adalah orang-orang sakit
yang diagnosis dengan penyakit berat yang tidak dapat disembuhkan
lagi dimana prognosisnya adalah kematian.

Sumber: https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan

Terminal-Illnes-Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30


WIB

49
3. Jenis-Jenis Penyakit Kronik dan Terminal Pada Anak
a. Infeksi Saluran Nafas Bawah, Pneumonia dan Bronkhitis
b. HIV/AIDS
c. Diabeter Melitus
d. Jantung
e. Bronchitis kronik
f. Hipertensi
g. Infeksi Selaput Otak (Meningitis)
h. Difteri
i. Penyakit Kanker
j. Akibat Kecelakaan Fatal

4. Kriteria Penyakit Kronik dan Terminal


Menurut Wristht Le (1987) mengatakan bahwa penyakit kronik
mempunyai beberapa sifat diantaranya adalah:
a. Progresif
Penyakit kronik yang semakin lama semakin bertambah parah.
Contoh penyakit kanker, jantung.
b. Menetap
Setelah seseorang terserang penyakit, maka penyakit tersebut akan
menetap pada individu. Contoh penyakit diabetes mellitus.
c. Kambuh
Penyakit kronik yang dapat hilang timbul sewaktu-waktu dengan
kondisi yang sama atau berbeda. Contoh penyakit Tuberkolosis.
Sedangkan kriteria penyakit terminal yaitu:
a. Penyakit sudah tidak dapat disembuhkan
b. Mengarah pada kematian
c. Diagnosa medis sudah jelas
d. Tidak ada obat untuk menyembuhkan
e. Prognosis jelek dan bersifat progresif.
Sumber: https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan

Terminal-Illnes Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB

50
5. Tahapan Penerimaan Terhadap Penyakit Kronik dan Terminal
(Kubler- Ross (dalam Taylor, 1999)
https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan-Terminal Illnes-
Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul 02:30 WIB) merumuskan lima
tahap ketika seseorang dihadapkan pada kematian. Kelima tahap
tersebut antara lain:
1) Denial (penyangkalan)
Respon dimana klien tidak percaya atau menolak terhadap apa
yang dihadapi atau yang sedang terjadi. Dan tidak siap terhadap
kondisi yang dihadapi dan dampaknya. Ini memungkinkan bagi
pasien untuk membenahi diri. Dengan berjalannya waktu,
sehingga tidak refensif secara radikal.
Penyangkalan merupakan reaksi pertama ketika seseorang
didiagnosis menderita terminal illness. Sebagian besar orang akan
merasa shock, terkejut dan merasa bahwa ini merupakan
kesalahan. Penyangkalan adalah awal penyesuaian diri terhadap
kehidupan yang diwarnai oleh penyakit dan hal tersebut
merupakan hal yang normal dan berarti.
2) Anger (Marah)
Fase marah terjadi pada saat fase denial tidak lagi bisa
dipertahankan. Rasa kemarahan ini sering sulit dipahami oleh
keluarga atau orang terdekat oleh karena dapat terpicu oleh hal-
hal yang secara normal tidak menimbulkan kemarahan. Rasa
marah ini sering terjadi karena rasa tidak berdaya, bisa terjadi
kapan saja dan kepada siapa saja tetapi umumnya terarah kepada
orang-orang yang secara emosional punya kedekatan hubungan.
Pasien yang menderita terminal illness akan mempertanyakan
keadaan dirinya, mengapa ia yang menderita penyakit dan akan
meninggal.
Pasien yang marah akan melampiaskan kebenciannya pada
orang-orang yang sehat seperti teman, anggota keluarga, maupun
staf rumah sakit. Pasien yang tidak dapat mengekspresikan

51
kemarahannya misalnya melalui teriakan akan menyimpan sakit
hati. Pasien yang sakit hati menunjukkan kebenciannya melalui
candaan tentang kematian, mentertawakan penampilan atau
keadaannya, atau berusaha melakukan hal yang menyenangkan
yang belum sempat dilakukannya sebelum ia meninggal.
Kemarahan merupakan salah satu respon yang paling sulit
dihadapi keluarga dan temannya. Keluarga dapat bekerja sama
dengan terapis untuk mengerti bahwa pasien sebenarnya tidak
marah kepada mereka tapi pada nasibnya.
3) Bargaining (menawar)
Klien mencoba untuk melakukan tawar menawar dengan tuhan
agar terhindar dari kehilangan yang akan terjadi, ini bisa
dilakukan dalam diam atau dinyatakan secara terbuka. Secara
psikologis tawar menawar dilakukan untuk memperbaiki
kesalahan atau dosa masa lalu. Pada tahap ini pasien sudah
meninggalkan kemarahannya dalam berbagai strategi seperti
menerapkan tingkah laku baik demi kesehatan, atau melakukan
amal, atau tingkah laku lain yang tidak biasa dilakukannya
merupakan tanda bahwa pasien sedang melakukan tawar-
menawar terhadap penyakitnya.
4) Depresi
Tahap keempat dalam model Kubler-Ross dilihat sebagai tahap
di mana pasien kehilangan kontrolnya. Pasien akan merasa jenuh,
sesak nafas dan lelah. Mereka akan merasa kesulitan untuk
makan, perhatian, dan sulit untuk menyingkirkan rasa sakit atau
ketidaknyamanan. Rasa kesedihan yang mendalam sebagai akibat
kehilangan (past loss & impending loss), ekspresi kesedihan ini
verbal atau nonverbal merupakan persiapan terhadap kehilangan
atau perpisahan abadi dengan apapun dan siapapun.
Tahap depresi ini dikatakan sebagai masa ‘anticipatory
grief’, di mana pasien akan menangisi kematiannya sendiri.
Proses kesedihan ini terjadi dalam dua tahap, yaitu ketika pasien

52
berada dalam masa kehilangan aktivitas yang dinilainya berharga,
teman dan kemudian mulai mengantisipasi hilangnya aktivitas
dan hubungan di masa depan.
5) Penerimaan (acceptance)
Pada tahap ini pasien sudah terlalu lemah untuk merasa marah
dan memikirkan kematian. Beberapa pasien menggunakan
waktunya untuk membuat perisapan, memutuskan
kepunyaannya, dan mengucapkan selamat tinggal pada teman
lama dan anggota keluarga.
Pada tahap menerima ini, klien memahami dan menerima
keadaannya yang bersangkutan mulai kehilangan interest
dengan lingkungannya, dapat menemukan kedamaian dengan
kondisinya, dan beristirahat untuk menyiapkan dan memulai
perjalanan panjang.
Sumber: https://www.scribd.com/doc/250821528/Kronik-Dan

Terminal-Illnes-Pada-Anak diakses 10-10-2017 pukul


02:30 WIB

6. Asuhan Keperawatan yang Diperlukan Pada Anak yang


Mengalami penyakit Terminal
a. Asuhan Paliatif Anak Menjelang Ajal
Asuhan paliatif yang tepat penting bagi semua anak dengan kondisi
yang mengancam jiwa atau kondisi yang berkembang tidak dapat
disembuhkan. Apakah asuhan paliatif diberikan ditatanan rumah,
rumah sakit, atau hopsis, tujuannya adalah memberikan kualitas
hidup terbaik yang mungkin didapatkan anak di akhir hidup seraya
meringankan penderitaan fisik, psikologis, emosi, dan spiritual.
Last Acts Palliative Care Task Force telah menetapkan prinsip
dasar dalam asuhan paliatif anak. Prinsip tersebut diantara lain:
1) Menghargai tujuan, kesukaan, dan pilihan anak
2) Asuhan komprehensif

53
3) Menggunakan kekuatan sumber interdisiplin
4) Mengetahui dan menekankan masalah pemberi perawatan
5) Membangun sistem & mekanisme dukungan (Associaton of
Pediatric Pncology Nurses [APON], 2003 dalam Kyle, Terri.,
2014).

b. Asuhan Hospis
Hospis memungkinkan asuhan berpusat keluarga di rumah anak
atau fasilitas hospis. Sama dengan asuhan hospis orang dewasa,
kenyamanan seluruh keluarga penting. Tujuan asuhan hospis
pediatric adalah meningkatkan kualitas hidup untuk anak dan
keluarga melalui rencana asuhan individu. Standar yang
direkomendasikan untuk asuhan hospis pediatric tidak
menghalangi keterlibatan terapi yang berkelanjutan (hal ini
berbeda engan hospis orang dewasa), tetapi kriteria yang
memenuhi syarat harus dipenuhi (Children’s Hospice
Internasional, 2011 dalam Kyle, Terri., 2014). Orang tua diberi
pendidikan kesehatan pad acara untuk membuat nyaman dan
berinteraksi dengan anak menjelang ajal, seperti memijat, gerakan,
atau menyanyi. Dukungan spiritual tersedia melalui tokoh agama,
pekerja sosial, atau tokoh agama keluarga. Perawat tidak hanya
memberi pendidikan kesehatan kepada keluarga mengenai prose
menjelang ajal, tetapi membantu mereka dalam memberikan
perawatan dasar dan manajemen nyeri. Keputusan untuk tidak
melakukan nutrisi atau hidrasi mungkin dibuat pada contoh
tertentu. Manajemen nyeri merupakan paling penting untuk anak
dengan penyakit terminal (APON, 2003 dalam Kyle, Terri., 2014).
Asuhan duka cita yang berkelanjutan juga diberikan kepada
keluarga oleh hospis setelah kematian.

54
c. Manajemen Keperawatan Anak Menjelang Ajal
Meskipun asuhan interdisiplin penting untuk asuhan yang
berkualitas pada akhir hidup, tetapi perawat memainkan peran
penting sebagai pendukung anaka / keluarga dan juga orang yang
biasnya selalu ada selama proses menjelang ajal. Manajemen
keperawatan anak menjelang ajal berfokus pada mengelola nyeri
dan ketidaknyamanan, memberikan nutrisi, memberikan dukungan
emosi kepada anak menjelanh ajal dan keluarga, dan membantu
keluarga melalui proses duka cita. Si seluruh proses, penting untuk
fokus pada keluarga sebagai unit asuhan.

d. Mengelola Nyeri dan Ketidaknyamanan


Manajemen nyeri merupakan komponen penting dalam asuhan
untuk anak dengan penyakit terminal. Memberikan kenyamanan
meningkatkan kualitas hidup anak dan meminimalkan penderitaan
anak (Baker et al., 2008 dalam Kyle, Terri., 2014). Kaji nyeri
menggunakan alat yang tepat dan sesuai dengan tingkat
perkembangan. Berikan medikasi nyeri sesuai waktu daripada
“sesuai kebutuhan” untuk mencegah kambuhan atau peningkatan
nyeri. Tentukan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman yang
lebih disukai anak dan gunakan tindakan tersebut untuk memberi
pereda tambahan. Ubah posisi anak dengan sering, tetapi lemah
lembut untuk meminimalkan ketidaknyamanan. Batasi asuhan
keperawatan untuk tindakan kenyamanan yang meningkatkan
ketidaknyamanan anak. Pertahankan lingkungan yang tenang,
minimalkan bising / suara dan cahaya.

e. Memberi Nutrisi
Sejak tubuh secara alami memerlukan lebih sedikit nutrisi karena
anak berada pada kondisi menjelang ajal, jangan membujuk anak
untuk makan dan minum secara berlebihan. Tawarkan makan
sedikit, tetapi sering atau kudapan yang dipilih anak. Sup atau

55
shake memerlukan energy yang lebih sedikit untuk makan
sehingga mungkin diinginkan. Jika anak menginginkan makanan
yang berbeda, sediakan kedua jenis tersebut. Jauhi bau yang
menyengat dari anak untuk menurunkan muntah. Berikan
antiemisis jika diperlukan. Beri perawatan mulut dan jaga bibir
terlubrikasi untuk menjaga mulut terasa bersih dan mencegah
ketidaknyamanan yang berhubunga dengan bibir mereka. Pastikan
lingkungan nyaman untuk makan.

f. Memberi Dukungan Emosi Kepada Anak Menjelang Ajal dan


Keluarga
Sesuaikan dengan kebutuhan dan emosi seluruh keluarga
dalam rangka mempercepat hubungan holistic dengan anak dan
keluarga. Perawat memberi perawatan fisik melalui tugas dan
intervensi spesifik untuk anak menjelang ajal, tetapi mereka juga
perlu ada secara emosi dengan anak dan keluarga. Secara umum,
orang tidak nyaman dengan konsep anak menjelang aja. Perawat
harus bekerja melalui perasaanya sendiri mengenai situasi agar
dapat “ada pada saat itu” dengan anak dan keluarga. Tanya diri
Anda sendiri: Dapatkah saya sepenuhnya ada dengan keluarga ini?
Jika tidak, apa yang harus saya ubah? (Rushton, 2005 dalam Kyle,
Terri., 2014).
Keluarga dan anak menjelang ajal memperoleh manfaat dari
keberadan perawat, bukan hanya intervensi yang ia lakukan.
Keluarga melapor bahwa tindakan sederhana ada/hadir dalam
keluarga saat menyembuhkan (Mellichamp, 2007 dalam Kyle,
Terri., 2014). Dengarkan anak dan keluarga; tetap tenang dan diam
selama beberapa waktu untuk mengerjakan hal ini. Kembangkan
rasa menghargai kepada semua anak dengan ada bersama mereka
sebanyak mungkin.
Hargai orang tua anak menjelang ajal dengan membantu
mereka menghormati komitmen yang telah mereka buat untuk anak

56
mereka. Akui bahwa orang tua memilki kebutuhan yang berbeda
untuk informasi dan partisipasi dalam membuat keputusan. izinkan
dan dukung kebiasaan atau ritual keluarga yang berkaitan dengan
kematian dan menjelang ajal. Keluarga mungkin ingin tokoh
agama hadir ketika kematian anak sebentar lagi. Ritual tertentu
mungkin diharapkan, bergantung pada latar belakang agama atau
spiritual keluarga. Pastikan bahwa kejadian penting ini terjadi dan
mengubah rutinitas asuhan keperawatan sesuai kebutuhan untuk
mengakomodasi mereka. Hormati kebutuhan keluarga untuk
berpartisipasi dalam ritual dan kebiasaan ini (Either, 2010 dalam
Kyle, Terri., 2014).
Bekerja secara kolaboratif dengan keluarga dan tim perawatan
kesehatan untuk menyediakan kebutuhan anak dan keluarga. Make
a Wish Foundation bekerja untuk memberi keinginan anak dengan
penyakit terminal, memberi anak dan keluarga pengalaman
berharap, kekuatan, dan cinta.

g. Menenangkan Ansietas atau Takut


Orang tua mungkin takut anak mereka yang menjelang ajal
sendiri atau tidak tahu apa yang diharapkan dalam proses kematian.
Ketakutan ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan ansietas,
yang dapat dirasakan anak. Anak yang berusia lebih muda dapat
mengalami rasa takut berpisah dari keluarga mereka dan anak yang
berusia lebih tua mungkin tidak ingin meninggal sendiri atau
mengalami nyeri atau ketidaknyamanan yang berhubungan dengan
menjelang ajal. Setiap anak dan keluarga adalah individu;
diskusikan rasa takut dan ansietas khusus dalam rangka
menentukan kebutuhan anak dan keluarga menlalui pendidikan
kesehatan dan dukungan (baker et al., 2008 dalam Kyle, Terri.,
2014).
Libatkan orang tua dan anggota keluarga lain semua fase
asuhan anak. Jelaskan semua aspek asuhan kepada anak untuk

57
meminimalkan ansietas yang berhubungan dengan intervensi
keperawatan. Jawab pertanyaan anak secara jujur. Libatkan anak
dalam pembuatan keputusan jika memungkinkan. Batasi intevensi
yang berkaitan dengan keringanan, daripada terapi, bantu anak
sesuai kebutuhan. Tetap bersama anak ketika orang tua atau
anggota keluarga tidak berada di ruangan sehingga anak tidak akan
takut menjelang ajal sendirian.

h. Memenuhi Kebutuhan Anak Menjelang Ajal Menurut Tahap


Perkembangan
Penting untuk memberi jenis dukungan dan pendidikan
kesehatan yang diperlukan anak menjelang ajal menurut tahap
perkembangannya. Untuk bayi, cinta tanpa syarat dan kepercayaan
merupakan hal yang paing penting. Yakinkan bahwa keluarga bayi
ada untuk anak. Balita, 1 hingga 3 tahun, tumbuh pada keakraban
dan rutinitas. Memaksimalkan waktu batita dengan orang tua,
konsisten, berikan makanan kesukaan, dan pastikan kenyamanan
fisik. Secara spiritual pada tahun prasekolah fokus pada konsep
benar lawan salah. Anak usia 3 hingga 5 tahun dapat melihat
kematian sebagai hukuman atas melakukan kesalaha; perbaiki
kesalahpahaman ini. Gunakan Bahasa yang jujur dan tepat. Bantu
orang tua untuk mengajarkan anak bahwa meskipun keluarga akan
kehilangan anak, keluarga akan tetap berfungsi tanpa adanya
dirinya (Either, 2010 dalam Kyle, Terri., 2014).
Anak usia sekolah memiliki pemahaman yang konkret
mengenai kematian. Anak yang berusia 5 hingga 10 tahun perlu
penjelasan yang spesifik dan jujur (sesuai keinginan). Dukung anak
untuk membantu membuat keputusan, dan bantu anak untuk
menetapkan rasa pengendalian (Either, 2010 dalam Kyle, Terri.,
2014).
Remaja muda (10 hingga 14 tahun) akan memperoleh
manfaat dari penguatan harga diri, menghargai diri sendiri, dan rasa

58
berharga/bernilai. Hormati kebutuhan anak akan kebutuhan dan
privasi dan waktu menyendiri serta waktu yang diminta dengan
teman sebayanya. Dukung kebutuhan atas kemandirian dan
anjurkan anak untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan.
remaja dewasa/tua (14 hingga 18 tahun) memilki pemahaman yang
lebih seperti orang dewasa mengenai kematian dan akan peru
dukungan lebih lanjut melalui penjelasan yang rinci dan jujur serta
akan ingin benar-benar terlibat dan didengarkan (Either,2010
dalam Kyle, Terri., 2014).

i. Membantu Keluarga Melalui Proses Berduka


Keluarga dapat mengalami duka cita yang diantisipasi ketika
diagnosis penyakit terminal dibuat. Keluarga dapat menyangkal
prognosis, menjadi marah pada sistem perawatan kesehatan atau
kekuatan yang lebih tinggi, atau mengalami depresi. Duka cita akut
merupakan proses intens yang terjadi selama kematian nyata.
Anggota keluarga dapat merasa sesak napas atau merasakan
seolah-olah tenggorokan mereka tercekik. Mereka dapat
mengungkapkan bahwa situasi tidak nyata bagi mereka atau
mencari alasan mengapa kematian tidak dicegah. Keluarga juga
menunjukkan permusuhan atau kegelisahan. Setiap individu akan
mengungkapkan cara berduka dengan caranya masing-masing.
Berkabung atas kematian orang yang dicintai memerluan waktu
yang lama, dan keluarga harus didukung menjalani proses ini
(Either, 2010 dalam Kyle, Terri., 2014). Sumber local dan nasional
ada untuk orang tau yang berduka. Rujuk orang tua ke sumber
kehilangan jika diperlukan.

59
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penyakit kronik adalah suatu penyakit yang perjalanan penyakit
berlangsung lama sampai bertahun-tahun, bertambah berat, menetap, dan
sering kambuh, sedangkanpenyakit terminal merupakan penyakit progresif
yaitu penyakit yang menuju ke arah kematian. Contohnya seperti penyakit
jantung,dan kanker atau penyakit terminal ini dapat dikatakan harapan untuk
hidup tipis, tidak ada lagi obat-obatan, tim medis sudah give up (menyerah)
dan seperti yang di katakan di atas tadi penyakit terminal ini mengarah kearah
kematian.
Maka adanya saling keterkaitan antara penyakit kronik dan terminal.
Singkatnya yaitu penyakit terminal adalah lanjutan dari penyakit kronik.
Kita sebagai perawat pediatric harus tahu perbedaan anak dengan kondisi
kronik atau terminal. Penanganan untuk keduanya ada keterkaitan misalnya
untuk asuhan keperawatan anak dengan penyakit kronik dan Terminal yaitu
dengan palliative care dimana perawatan paliatif ini bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup anak dengan kematian minimal mendekati
normal, diupayakan dengan perawatan yang baik hingga pada akhirnya menuju
pada kematian.

B. Saran
1. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan penyakit kronik
dan kondisi terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan
bantuan bagi klien.
2. Ketika merawat klien menjelang ajal atau terminal, tanggung jawab
perawat harus mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial
yang unik.
3. Perawat harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak
dengan klien menjelang ajal, untuk mendengarkan klien mengekspresikan
duka citanya dan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.

60