Anda di halaman 1dari 63

KEGIATAN FAMILY ORIENTED MEDICAL EDUCATION

PADA PENDERITA TUBERKULOSIS DENGAN PENGETAHUAN


SEDANG TERHADAP PENYAKITNYA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS GEMOLONG KABUPATEN SRAGEN

Kelompok : 551A
Anggota Kelompok :

Ade Cahyana Putra G99162147


Annisa Raudhotul J G99161017
Arum Dessy R G99162150
Nisrina Mutia A G99161067
Ridho Frihadananta G99161082

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT-KEDOKTERAN PENCEGAHAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2018

1
LEMBAR PENGESAHAN
PEMBIMBING PUSKESMAS

KEGIATAN FAMILY ORIENTED MEDICAL EDUCATION


PADA PENDERITA TUBERKULOSIS DENGAN PENGETAHUAN
SEDANG TERHADAP PENYAKITNYA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS GEMOLONG KABUPATEN SRAGEN

DisusunOleh:

Kelompok : 551A

Ade Cahyana Putra G99162147


Annisa Raudhotul J G99161017
Arum Dessy R G99162150
Nisrina Mutia A G99161067
Ridho Frihadananta G99161082

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan pada:


Hari :
Tanggal :

Kepala UPTD Puskesmas Gemolong

Endah Sri Puji Hastuti, dr., M.Kes


NIP 19710219 200312 2 005

2
LEMBAR PENGESAHAN
PEMBIMBING FAKULTAS

KEGIATAN FAMILY ORIENTED MEDICAL EDUCATION


PADA PENDERITA TUBERKULOSIS DENGAN PENGETAHUAN
SEDANG TERHADAP PENYAKITNYA DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS GEMOLONG KABUPATEN SRAGEN

DisusunOleh:

Kelompok : 551A

Ade Cahyana Putra G99162147


Annisa Raudhotul J G99161017
Arum Dessy R G99162150
Nisrina Mutia A G99161067
Ridho Frihadananta G99161082

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan pada:


Hari :
Tanggal :

Pembimbing
Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran UNS

Balgis, dr., M.Sc., CM-FM, AIFM


NIP 19640719 199903 2 003

3
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan
Kegiatan Family Oriented Medical Education (FOME) di Wilayah Kerja
Puskesmas Gemolong Kota Surakarta.
Laporan ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh
kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) / RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada setiap
pihak-pihak yang telah membantu penyusun dalam menyusun laporan kegiatan
ini, baik secara langsung dan tidak langsung.
1. Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Sebelas Maret.
2. Eti Poncorini, dr., M.Pd selalu Kepala Bagian IKM-KP Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret.
3. Balgis, dr., M.Sc., CM-FM, AIFM, selaku pembimbing fakultas yang telah
memberikan bimbingan dan nasihat dalam penyusunan laporan ini.
4. dr. Hargiyanto, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen.
5. dr. Endah Sri Puji Hastuti, M.Kes, selaku Kepala Puskesmas Gemolong
yang telah memberikan bimbingan dan bantuan selama berada di
puskesmas.
6. Seluruh staf Puskesmas Gemolong beserta jajarannya yang telah
memberikan bimbingan dan bantuan
7. Pasien Tn. S dan keluarga yang telah bersedia menjadi responden sehingga
laporan dapat terselesaikan dengan baik.
Akhirnya, penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi ilmu
pengetahuan. Saran dan kritik penyusun harapkan demi perbaikan laporan ini.

Surakarta, Januari 2018

Kelompok 551A IKM/FK UNS

4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………... 2
KATA PENGANTAR ……………………………..……………………. 4
DAFTAR ISI ……………………………………………………..……... 5
DAFTAR TABEL .........................……………………………………. 7
DAFTAR GAMBAR .........................…………………………………. 8
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................... 9
TAHAP I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA ……… 10
A. ANGGOTA KELUARGA ...............................……...... 10
B. DESKRIPSI KELUARGA.............. ………………...... 10
TAHAP II. STATUS PASIEN ……………….……………..…...……... 11
A. IDENTITAS PASIEN ………………………………... 11
B. ANAMNESIS ………………………………………… 11
C. PEMERIKSAAN FISIK ……………………………... 15
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG ...........…………….. 19
E. ASSESMENT....………………………..........……. 19
F. PENATALAKSANAAN......................................... 20
G. RESUME............................................................. 20

TAHAP III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA…… 22


A. FUNGSI HOLISTIK …………………………………. 22
B. FUNGSI FISIOLOGIS ………………………………. 23
C. FUNGSI PATOLOGIS ………………………………. 22
D. GENOGRAM …………………………….................... 27
E. POLA INTERAKSI KELUARGA ………………….. 28
G. SIKLUS KELUARGA ................................................. 28

5
F. FAKTOR PERILAKU YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN ……………………………………….. 31
G. FAKTOR NON PERILAKU YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN ………………… 32
H. IDENTIFIKASI INDOOR DAN OUTDOOR ……….. 33

TAHAP IV. DIAGNOSIS HOLISTIK DAN PEMBAHASAN………... 35


A. DIAGNOSIS HOLISTIK …………………………….. 35
B. PEMBAHASAN ……………………………………... 36

TAHAP V. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF ……………. 51


A. SARAN KOMPREHENSIF …………………………. 51
B. FLOW SHEET ………………………………………. 53

SIMPULAN DAN SARAN ……….…………………………………… 57


A. SIMPULAN ………………………………………….. 57
B. SARAN ………………………………………………. 57

DAFTAR PUSTAKA ……………....……………………………...…. 59


LAMPIRAN …………………………………………...……………….. 60

6
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1. Daftar Anggota Keluarga yang Hidup dalam Satu Rumah ….... 10
Tabel 2.1. Hasil Pemeriksaan BTA (Sputum) tahun 2015 ........................ 19
Tabel. 2.2. Hasil Pemeriksaan BTA (Sputum) tahun 2017 ....................... 19
Tabel 3.1. APGAR Keluarga Tn. S ……….………………………............ 25
Tabel 3.2. SCREEM Keluarga Tn. S ……………….…………………...... 26
Tabel 3.3. Keadaan Tempat Tinggal Tn. S.........…………………………. 33
Tabel 4.1.Interpretasi Pemeriksaan Mikroskopis TB Paru Skala IUALTD…... 44
Tabel 5.1.Catatan Perkembangan Pasien Tn. S ......................................... 53

7
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1.Genogram Keluarga Ny.I .......................…………………… 27


Gambar 3.2. Pola Interaksi Keluarga Tn. S ……………………………..... 28
Gambar 3.3. Denah Kamar Tempat Tinggal Tn. S ……………………….. 33
Gambar 3.4. Denah Lingkungan Outdoor Kediaman Tn. S ……………… 34
Gambar 4.1.Alur Diagnosis TB ………………………………………….. 44

8
DAFTAR LAMPIRAN

Dokumentasi kegiatan FOME ...................................................................


Kuesioner mengenai pengetahuan tentang TB ..........................................

9
TAHAP I
KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

A. Anggota Keluarga
Nama Kepala Keluarga : Tn. S
Alamat : Dusun Sentulan RT15/RW02, Kelurahan
Kaloran, Kecamatan Gemolong, Kabupaten
Sragen
Bentuk Keluarga : Nuclear Family
Struktur Komposisi Keluarga :

Tabel 1.1Daftar Anggota Keluarga yang Hidup dalam Satu Rumah


No. Nama Keduduka L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Ket.
n (th)
1 Tn. S Suami L 45 SD Pengangguran Pasien
2 Ny. S Istri P 42 SD Peternak -
3 Sdri. C Anak P 18 SMA Buruh -

Sumber: Data Primer, Januari 2018

B. Deskripsi Keluarga

Keluarga Tn. S termasuk ke dalam nuclear family yang terdiri atas 3


orang. Keluarga tersebut terdiri dari ayah Tn. S (45 tahun), ibu Ny. S (42
tahun) dan anak Nn. C (18 tahun). Pasien tinggal serumah dengan istri dan
anaknya.

10
TAHAP II
STATUS PASIEN

A. Identitas Penderita
Nama : Tn. S
Umur : 45 tahun
Alamat : Sentulan, Kaloran, Gemolong, Sragen
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Pengangguran
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 4 Januari dan 9 Januari 2018

B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Batuk berdahak disertai darah sejak 2 tahun yang lalu.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan batuk berdahak disertai dengan darah sejak
April 2017. Batuk dirasakan terus menerus, lama kelamaan makin
memberat dan kadang-kadang disertai dengan darah berwarna merah
terang. Batuk tidak dipengaruhi oleh perubahan cuaca, debu maupun
aktivitas. Pasien juga mengeluhkan adanya demam sumer-sumer terutama
ketika malam hari. Keluhan juga disertai dengan penurunan berat badan
dari 48 kg menjadi 44 kg dalam waktu 2 bulan. Pasien menyangkal
berkeringat malam hari. Sesak nafas disangkal. Nyeri telan disangkal.
Keluhan mengi disangkal.
Dari Puskesmas Gemolong, pasien dirujuk ke RS Dr. Moewardi
untuk pemeriksaan Tes Cepat Molekuler Tuberkulosis (TCM) dikarenakan
pada tahun 2015 sudah pernah diobati dengan OAT dan dinyatakan
sembuh. Kemudian hasil TCM dinyatakan positif TB Rifampicin sensitive,

11
dan kemudian dirujuk balik ke Puskesmas Gemolong untuk mendapatkan
pengobatan TB. Pasien mengaku berobat secara rutin selama 6 bulan dan
dikatakan sembuh.
Keluhan BAB cair dan BAB darah disangka, BAK tidak ada
keluhan. Tidak ada keluhan gangguan kulit.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat kontak dengan penderita TB : (+) tetangga pasien
b. Riwayat TB : (+) sejak tahun 2015
Pada tahun 2015 pasien mengalami keluhan yang sama, yaitu batuk
berdahak dan disertai darah selama kurang lebih 3 bulan. Batuk
dirasakan terus menerus dan lama kelamaan makin memberat dan
terkadang disertai dengan darah berwarna merah terang. Batuk tidak
dipengaruhi oleh perubahan cuaca, debu, maupun aktivitas. Keluhan
disertai dengan demam sumer-sumer dan penurunan berat badan dari 50
kg menjadi 40 kg dalam waktu sekitar 2 bulan. Selanjutnya pasien
diperiksa sputum BTA dan foto rontgen dada dan didiagnosis TB Paru
kasus baru. Pasien lalu melakukan pengobatan OAT selama 8 bulan
hingga selesai dan dinyatakan sembuh.
c. Riwayat alergi : disangkal
d. Riwayatasma : disangkal
e. Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
f. Riwayat diabetes melitus : disangkal
g. Riwayat stroke : disangkal
h. Riwayat Sakit jantung : disangkal
4. Riwayat Penyakit pada Anggota Keluarga
a. Riwayat alergi : disangkal
b. Riwayat asma : disangkal
c. Riwayat sakit tuberculosis : disangkal
d. Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
e. Riwayat sakit gula : (+) pada saudara pasien
f. Riwayat sakit jantung : disangkal

12
5. Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki riwayat merokok+ 1 bungkus/hari sejak 20 tahun lalu,
namun sudah berhenti merokok sejak 2 tahun lalu. Pasien pernah
mengkonsumsi alcohol namun saat ini sudah berhenti. Riwayat minum obat
bebas disangkal pasien. Pasien mengaku jarang berolahraga (1 bulan sekali,
jalan-jalan pagi hari @ 45 menit). Pasien mengaku cuci tangan tanpa
menggunakan sabun. Mandi sehari 2 kali. Pasien BAB di lubang
pembuangan tanpa septic tank. Pasien membuang sampah dan dibakar di
samping rumah.
6. Riwayat Sosial dan Ekonomi
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 45 tahun dengan status sudah
menikah. Pasien tinggal sehari-hari di rumah bersama istrinya sejak 20
tahun yang lalu. Pasien merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara.
Sebelumnya, pasien sering bersosialisasi dengan warga sekitar rumah, akan
tetapi setelah pasien mengalami sakit, pasien jarang bersosialisasi dengan
warga sekitar. Pasien mengaku sudah jarang mengikuti kegiatan di daerah
rumahnya, seperti kerja bakti dan kumpul warga.
Semenjak sakit, pasien sudah berhenti bekerja. Pasien sesekali
membantu membersihkan botol-botol bekas yang dikumpulkan oleh
tetangga. Saat ini pencari nafkah di keluarga adalah anak pasien dan istri
pasien. Anak pasien bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik garment di
Kalioso dengan penghasilan sebanyak Rp 1.000.000,00 per bulan.
Sedangkan istri pasien bekerja sebagi petani dengan penghasilan tidak tetap,
kurang lebih Rp 900.000,00 per bulan.
7. Riwayat Gizi
Semenjak pasien menderita Tuberkulosis, nafsu makan pasien
menurun. Pasien hanya makan 1-2 kali sehari dengan nasi, sayur dan lauk
pauk, antara lain tahu, tempe, ikan, telur dan kadang diselingi dengan
daging. Pasien tidak memiliki alergi atau pantangan makanan.Pasien
mengaku memiliki kebiasaan mengonsumsi teh manis 2-3 gelas sehari.

13
8. Anamnesis Sistem
a. Keluhan utama : Batuk terus menerus sejak 2 bulan yang lalu
b. Kulit : gatal (-), kering (-), pecah-pecah (-), bersisik (-)
c. Kepala : nyeri kepala (-), pusing (-), perasaan berputar-putar
(-), rambut mudah rontok (-), luka (-), benjolan (-)
d. Mata : pandangan kabur (-), mata merah (-), cekung (-),
sekret (-), konjungtiva pucat (-)
e. Hidung : tersumbat (-), keluar cairan atau lendir (-), keluar
darah (-), gatal (-), nyeri (-)
f. Telinga :keluar cairan(-), keluar darah (-), telinga berdenging
(-), nyeri (-), pendengaran berkurang (-)
g. Mulut :sariawan (-),mukosa basah (+),papil lidah atrofi(-),
gusi mudah berdarah (-), gigi mudah goyang (-),
sulit berbicara (-)
h. Tenggorokan : Rasa kering dan gatal (-), nyeri untuk menelan (-)
sakit tenggorokan (-), suara serak (-)
i. Sistem respirasi : Sesak nafas (-), batuk (+), darah (-), nyeri dada (-)
j. Sistem kardiovaskuler : Nyeri dada (-), terasa ada yang menekan (-),
sering pingsan (-), berdebar-debar (-),keringat
malam hari (-), ulu hati terasa panas (-), bangun
malam karena sesak nafas (-)
k. Sistem gastrointestinal : Nyeri perut (-), mual (-), muntah (-), nafsu
makan berkurang (+),BAB warna hitam (-), BAB
bercampur darah(-), BAB bercampur lendir (-), diare
(-), sulit BAB (-)
l. Sistem muskuloskeletal : Lemas di seluruh tubuh (-), leher kaku (-),
seluruh badan terasa keju-kemeng (-), kaku sendi (-),
nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri otot (-) di
daerah punggung, kaku otot (-), kejang (-)
m. Sistem genitouterina : Nyeri saat BAK (-), panas saat BAK (-), sering
buang air kecil (-), BAK di malam hari (-), air

14
kencing warna seperti teh (-), BAK darah (-), nanah
(-), BAK kemerahan (-), anyang-anyangan (-), sering
menahan kencing (-), nyeri suprapubik (-), rasa gatal
pada saluran kencing (-), rasa gatal pada alat
kelamin (-).
n. Ekstremitas
Atas: Bengkak (-/-), lemah (-/-), luka (-/-), kesemutan (-
/-), tremor (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-), nyeri
(-/-), lebam-lebam kulit (-/-), tangan pucat (-).
Bawah: Bengkak (-/-),lemah (-/-), luka (+/-), kesemutan (-
/-), tremor (-/-), ujung jari terasa dingin (-/-), nyeri
(+/-), lebam-lebam kulit(-/-), kaki pucat (-).

C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 16 Januari 2018
1. Keadaan umum : Tampak sakit ringan, batuk-batuk, compos mentis,
GCS E4/V5/M6
2. Tanda vital
 Tensi : 130/80 mmHg
 Nadi : 80x/ menit, irama reguler, isi dan
tegangan cukup, equal
 Frekuensi nafas : 20x /menit
 Suhu : 36,70C per aksiler
3. Status gizi
 Berat Badan : 47 kg
 Tinggi Badan : 165 cm
 IMT : 18,35 kg/m2
 Kesan : Underweight (Asian criteria)
4. Kulit : Warna coklat, turgor menurun (-), hiperpigmentasi (-),
kering (-), teleangiektasis (-), petechie (-), ikterik (-),
ekimosis (-), uji torniquet (-), pucat (-).

15
5. Kepala : Bentuk normocephal, rambut mudah rontok (-), luka (-).
6. Mata : Mata cekung (-/-), konjungtiva pucat (-/-),sklera ikterik (-
/-), perdarahan subkonjugtiva (-/-), pupil isokor dengan
diameter (3 mm/3 mm), reflek cahaya (+/+), edema
palpebra (-/-), strabismus (-/-)
7. Telinga : Sekret (-), darah (-), nyeri tekan mastoid (-), nyeri tekan
tragus (-)
8. Hidung : Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-)
9. Mulut : Mukosa (+), sianosis (-), gusi berdarah (-), tiphoid
tounge (-), papil lidah atrofi(-), ulserasi (-), oral thrush(-
), bau nafas aseton (-)
10. Leher : JVP meningkat = R+2 cm, trakea ditengah, simetris,
pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran limfonodi
cervical(-), leher kaku (-)
11. Thorax : Bentuk normochest, simetris, pengembangan dada
kanan=kiri, retraksi intercostal (-), pernafasan
abdominothorakal, pembesaran kelenjar getah bening
aksila (-/-)
12. Jantung
 Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus kordis kuat angkat, teraba di SIC V 2 cm
medial linea medioclavicularis sinistra
 Perkusi :
- Batas jantung kanan atas: SIC II linea sternalis dextra
- Batas jantung kanan bawah: SIC IV linea parasternalis
dekstra
- Batas jantung kiri atas: SIC II linea sternalis sinistra
- Batas jantung kiri bawah: SIC V 2 cm linea
medioklavicularis sinistra
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising
(-), gallop (-)

16
13. Pulmo
a. Depan
 Inspeksi
- Statis : Normochest, simetris
- Dinamis : Pengembangan dada simetris
kanan=kiri, ketertinggalan gerak (-),
retraksi intercostal (-)
 Palpasi
- Statis : Simetris
- Dinamis : Pergerakan kanan=kiri, fremitus raba
kanan=kiri
 Perkusi
- Kanan : Sonor, redup pada batas relatif paru-
hepar pada SIC VI linea
medioclavicularis dextra, pekak pada
batas absolut paru hepar
- Kiri : sonor, sesuai batas paru jantung pada
SIC VI linea medioclavicularis sinistra
 Auskultasi
- Kanan : Suara dasar vesikuler normal, suara
tambahan wheezing (-), ronki (+)
- Kiri : Suara dasar vesikuler normal, suara
tambahan wheezing (-), ronki (+)
b. Belakang
 Inspeksi
- Statis : Normochest, simetris
- Dinamis : Pengembangan dada simetris
kanan=kiri, retraksi intercostal (-)

17
 Palpasi
- Statis : Simetris
- Dinamis : Pergerakan kanan= kiri, fremitus raba
kanan=kiri
 Perkusi
- Kanan : Sonor
- Kiri : Sonor
- Peranjakan diafragma 5 cm
 Auskultasi
- Kanan : Suara dasar vesikuler normal, suara
tambahan wheezing (-), ronki (+)
- Kiri : Suara dasar vesikuler normal, suara
tambahan wheezing (-), ronki (+)
14. Abdomen
 Inspeksi : Dinding perut lebih tinggi dari dinding dada,
ascites (-),scar (-), striae (-)
 Auskultasi : Bising usus (+) normal 16x/menit, bising
epigastrium (-)
 Perkusi : Timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-), undulasi (-)
 Palpasi : Supel, nyeri tekan di suprapubik (-), hepar dan lien
tidak teraba. Nyeri ketok ginjal (-),undulasi

15. Ekstremitas
Akral dingin _ _ Oedem _ _
_ _ _ _

18
D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan BTA Sputum (Januari 2015)
Tabel 2.1.Hasil Pemeriksaan BTA (Sputum) tahun 2015
Jenis
Hasil
Pemeriksaan
BTA Sewaktu I +
BTA Pagi +
BTA Sewaktu II +

2. Pemeriksaan Rontgen Thoraks (Januari 2015)


Kesimpulan : terdapat kavitas di kedua lapang paru, menunjang gambaran
tuberkulosis
3. Pemeriksaan BTA Sputum (Juni 2017)
Tabel 2.2.Hasil Pemeriksaan BTA (Sputum) tahun 2017
Jenis
Hasil
Pemeriksaan
BTA Sewaktu I +
BTA Pagi +
BTA Sewaktu II +

4. Pemeriksaan Gene Expert di RS Moewardi (Juni 2017)


Kesimpulan : MTB ditemukan, Rifampisin sensitif.
Saran : ditemukan Mycobacterium tuberculosis (MTB
detected high, RR not detected). Masuk OAT kategori 2
G. Assesment
Tuberkulosis kasus kambuh dalam pengobatan OAT kategori 2 bulan ke
delapan

19
H. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa:
- Pemberian obat anti tuberkulosis FDC (Fixed Dose Combination)
selama 8 bulan (Diberikan oleh Puskesmas dua minggu sekali untuk 14
hari pengobatan)
a. Tahap intensif :
1. Untuk 56 hari pertama : Rifampisin 150 mg; Isoniazid 75 mg;
Pyrazinamid 400 mg; Etambutol 275 mg; Injeksi Streptomycin
750 mg
2. 28 hari berikutnya: Rifampisin 150 mg; Isoniazid 75 mg;
Pyrazinamid 400 mg; Etambutol 275 mg
b. Tahap lanjutan: Rifampisin 150 mg; Isoniazid 75 mg;
Pyrazinamid 400 mg; Etambutol 275 mg
2. Non Medikamentosa :
a. Petugas puskesmas telah memberikan pemahaman tentang tuberkulosis,
bagaimana risiko yang bisa menimbulkan tuberkulosis dan cara
penularannya, terapi farmakologis (jenis obat dan lama pengobatan)
tuberkulosis dan target pengobatan.
I. Resume
Keluarga Tn. S berbentuk nuclear family terdiri atas suami, istri, dan
seorang anak. Pasien berobat ke Puskesmas Gemolong untuk memeriksakan
penyakit tuberkulosis. Pasien mengeluhkan batuk-batuk disertai darah sejak 1
bulan sebelumnya, pasien mengaku mengalami penurunan berat badan dari 48
kg menjadi 44 kg dalam 2 bulan terakhir. Sebelumnya pasien mengalami
keluhan serupa pada tahun 2015 dan dinyatakan memiliki penyakit
tuberkulosis. Pasien telah menyelesaikan pengobatan OAT untuk penyakit
tuberkulosis awalnya. Pasien juga mengeluhkan demam sumer-sumer,
berkeringat pada malam hari, dan merasa menggigil pada malam hari.
pemeriksaan dahak pasien menunjukkan BTA (+), pemeriksaan Gene Expert di
RSDM pasien didapatkan MTB detected High. Saat ini pasien dalam

20
pengobatan TB fase lanjutan bulan ke delapan. Pasien memulai pengobatan TB
kategori II pada tanggal Juni 2017 dan kontrol rutin di puskesmas Gemolong.

21
TAHAP III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. Fungsi Holistik
1. Fungsi Biologis
Pasien Tn. S berusia 45 tahun dengan diagnosis tuberkulosis kasus
kambuh dalam pengobatan OAT bulan ke delapan. Pasien sehari-hari
tinggal bersama istri pasien, Ny. S (42 tahun) dan satu orang anak
perempuannya, Sdri. C (18 tahun) di sebuah rumah sejak 20 tahun yang lalu.
Pasien memiliki satu anak perempuan yang sudah selesai menjalani Sekolah
Menengah Atas. Anak perempuan pasien sudah bekerja sebagai buruh
pabrik namun belum berkeluarga. Di keluarga pihak pasien ditemukan
penyakit menurun (herediter) yaitu diabetes mellitus.
2. Fungsi Psikologis
Secara fungsi psikologis, pasien awalnya mengalami perasaan jenuh
dalam pengobatan OAT karena memakan waktu yang lama. Akan tetapi,
pasien mendapat dukungan dari istri dan anaknya untuk selalu mengonsumsi
OAT sehingga pasien lebih bersemangat dalam proses penyembuhan
penyakitnya. Pasien mengaku tidak mengalami masalah psikis terkait
kondisi ekonomi keluarganya saat ini.
3. Fungsi Sosial
Pasien mengaku sering bersosialisasi dengan warga di sekitar rumah
pasien walaupun tidak rutin. Menurut pengakuan pasien, semenjak sakit TB
pasien menjadi jarang mengikuti kegiatan kerja bakti warga karena pasien
masih merasa belum kuat untuk mengikuti kegiatan seperti itu. Interaksi
antara pasien dengan tetangga sekitar cukup baik.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Kebutuhan harian Tn. S dicukupi oleh istri pasien (Ny. S) yang
bekerja sebagai petani dan anak pasien (Sdri. C) yang bekerja sebagai buruh
pabrik. Penghasilan anak Tn. S kurang lebih sebesar Rp 1 juta, sedangkan
penghasilan istri Tn. S tidak menentu. Keuangan keluarga Tn. S dirasa

22
pasien cukup untuk biaya kehidupan sehari-hari. Tn. S juga terkadang
bekerja membersihkan botol-botol bekas yang dikumpulkan oleh tetangga
rumahnya. Untuk biaya pengobatan, Tn. S menggunakan BPJS Kesehatan.
5. Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Keputusan-keputusan penting dalam keluarga dipegang oleh pasien
dan istri pasien. Dalam kesehariannya, penderita dan keluarganya tidak ada
masalah dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hubungan antar tetangga
sekitar terjalin dengan baik walaupun sekarang lebih mengurangi karena
kondisi tubuhnya.

B. Fungsi Fisiologis
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota
keluarga yang lain.
1. Adaption
Adaptation menunjukkan kemampuan anggota keluarga tersebut
beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, penerimaan, dukungan, dan saran
dari anggota keluarga yang lain. Adaptation juga menunjukkan bagaimana
keluarga menjadi tempat utama anggota keluarga kembali jika dia menghadapi
masalah. Fungsi ini dalam keluarga Tn. S berjalan baik karena hubungan antar
keluarga masih terjalin dengan baik.
2. Partnership
Partnership menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi
antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut,
bagaimana sebuah keluarga membagi masasalah dan membahasnya bersama-
sama. Tn. S cukup puas dengan bagaimana cara pembagian masalah dan
membahasnya bersama-sama.

23
3. Growth
Growth menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang
dilakukan anggota keluarga tersebut. Tn. S menyatakan bahwa keluarganya
mendukung keputusan dan keinginan untuk melakukan kegiatan baru yang
bermanfaat, begitu juga dalam hal pekerjaan. Mengenai masalah kesehatannya,
keluarga Tn. S sangat mendukung Tn. S untuk datang ke puskesmas setiap dua
minggu sekali untuk kontrol berobat tuberkulosis, Tn. S sering kali diantar
keponakannya untuk control ke puskesmas Gemolong karena kesibukan pekerjaan
istri dan anak Tn. S. Dalam pengonsumsian obat, Tn. S selalu diawasi oleh istri dan
anaknya.
4. Affection
Affection menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar
anggota keluarga, di dalam keluarga terdapat rasa saling menyayangi satu sama
lain dan saling memberidukungan serta mengekspresikan kasih sayangnya.
Menurut pengakuan Tn. S, hubungan keluarga dalam mengekspresikan kasih
sayang serta merespon emosi cukup baik.
5. Resolve
Resolve menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan
dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Dalam keluarga
Tn. S nilai resolve cukup baik. Pasien tampak cukup bahagia dengan kebersamaan
dan waktu yang dihabiskandengan keluarganya.
Adapun sistem skor untuk APGAR ini yaitu :
1. Selalu/sering : 2 poin
2. Kadang-kadang : 1 poin
3. Jarang/tidak pernah : 0 poin
Dan penggolongan nilai total APGAR ini adalah :
1. 8-10 : baik
2. 6-7 : cukup
3. 1-5 : buruk
Penilaian mengenai fungsi fisiologis keluarga Tn. S dapat dilihat pada Tabel 3.1.

24
Tabel 3.1 APGAR Keluarga Tn. S
Kode APGAR keluarga Tn. S Tn. S Ny. S

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke 2 2


keluarga saya bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya 2 2


membahas dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan saya
G untuk melakukan kegiatan baru atau arah 2 2
hidup yang baru

Saya puas dengan cara keluarga saya


A mengekspresikan kasih sayangnya dan 2 2
merespon emosi saya seperti kemarahan,
perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya 2 2


membagi waktu bersama-sama

Total Nilai APGAR 10 10


Sumber : Data primer, September 2017
Fungsi Fisiologis Keluarga = (10+10) : 2 = 10
Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Tn. S tergolong baik. Hal ini terlihat dari
total skor APGAR 10

C. Fungsi Patologis

Fungsi patologis menilai setiap sumber daya yang dapat digunakan oleh
keluarga ketika keluarga Tn. S menghadapi permasalahan. Fungsi patologis
keluarga Tn. S dapat diamati pada Tabel 3.2

25
Tabel 3.2 SCREEM Keluarga Tn. S
Sumber Patologi Ket.
Interaksi sosial antar anggota keluarga pasien baik,
interaksi dengan tetangga sekitar tergolong baik, namun
Social hubungan dengan warga lain mulai berkurang karena +
keadaan tubuhnya yang kurang bugar. Tn. S sehari-hari di
rumah saja.

Tn. S menerapkan adat-istiadat Jawa dalam


Cultural kehidupannya, mereka menjaga nilai-nilai kesopanan -
dalam interaksinya. Bahasa yang digunakan untuk
komunikasi sehari-hari adalah Bahasa Jawa.

Tn. T cukup menerapkan nilai-nilai kerohanian Islam


dalam hidupnya.Dalam praktik ibadah sehari-hari, cara
Religion beribadah pasien sesuai dengan ajaran islam. Istri pasien -
mengaku rutin mengikuti pengajian warga tiap dua
minggu sekali.

Saat ini Tn. S beserta suaminya tinggal di rumah yang


terbut dari kayu dengan pencahayaan yang kurang, dan
terkesan kumuh. Istri pasien merupakan petani dan anak
Economy pasien merupakan pegawai buruh, sedangkan pasien +
tidak bekerja. Penghasilan keluarga berisar 1 juta/bulan
dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan harian
keluarga.

Tingkat pendidikan terakhir Tn. S dan istri keduanya


adalah SD. Namun anak kandung pasien dapat
Education meneruskan pendidikannya hingga jenjang SMA. Pasien +
juga kurang paham mengenai penyakit tuberkulosis dan
pencegahannya

Apabila ada masalah kesehatan, keluarga Tn. S selalu


Medical berobat ke Puskesmas maupun pelayanan kesehatan -
lainnya.
Sumber : Data primer, Januari 2018

Kesimpulan:Fungsi patologis keluarga Tn. S mengalami gangguan pada fungsi


social, economy, dan education.

26
D. Genogram
Tn. W Tn. W
Ny. W Ny. S
51 th 57 th
62 th 65 th

Tn. W Tn. W Tn. S Tn. W Tn. S Tn. S


Ny. T Ny. R Ny. S Ny. M Ny. S Ny. S Ny. S
51 th 44 th 45 th 41 th 50 th 49 th
47 th 47 th 47 th 46 th 43 th 42 th 39 th
27

An. C
18 t

Sumber : Data primer, Januari 2018

Gambar 3.1Genogram Keluarga Tn.S

27
E. Pola Interaksi Keluarga

Tn. S

Ny. S Sdri. C

Gambar 3.2. Pola Interaksi Keluarga Tn. S

Sumber : Data primer, Januari 2018

Keterangan :
: Hubungan harmonis
: Hubungan konfliktual
Tn. S : Penderita/ kepala keluarga
Ny. S : Istri penderita
Sdri. C : Anak penderita

Kesimpulan :
Hubungan antar anggota keluarga harmonis, tidak terdapat hubungan konfliktual.

F. Siklus Keluarga
Dalam siklus kehidupan keluarga terdapat tahapan-tahapan yang dapat
diprediksi seperti tahap pertumbuhan dan perkembangan individu yang berturut-
turut. Keluarga sebagai sebuah unit juga mengalami tahapan perkembangan yang
berturut-turut.

28
Menurut Duvall (1977) terdapat 8 tahapan perkembangan keluarga (Eight
Stage Family Life Cycle):
1. Married couple (without children) atau pasangan menikah dan belum
memiliki anak. Pasien Tn. S menikah dengan istri (Ny. S) 24 tahun yang lalu
(tahun 1997). Pada pernikahannya, pasien tidak mengalami masalah pada fase
ini. Keluarga pasien saat ini tidak berada pada fase ini.
2. Childbearing family (oldest child birth – 30 months), keluarga dengan
seorang anak pertama yang baru lahir. Ny. S melahirkan anak pertamanya
(Sdri. C) 18 tahun yang lalu (tahun 1999), dua tahun setelah pasien menikah.
Ny. S mengaku saat itu melahirkan putrinya di bidan desa dengan kelahiran
normal pervaginam.
3. Families with preschool children(oldest child 2,5 y.o. – 6 y.o.) ,keluarga
dengan anak pertama usia prasekolah 2,5 – 6 tahun. Pada tahun 2002 anak
pertama pasien (Sdri. C) memasuki masa taman kanak-kanak. Pada fase ini
keluarga Tn. S tidak mengalami masalah, justru Tn. S menikmati masa-masa
mengantarkan buah hatinya ke sekolah dan mengasuh anaknya sehari-hari.
4. Families with school children (oldest child 6 – 13 y.o.), keluarga dengan anak
yang telah masuk sekolah dasar. Pada fase ini, Tn. S juga tidak mengalami
masalah yang berarti. Tn. S mengaku menikmati masa-masa mengasuh
anaknya.
5. Family with teenagers (oldest child 13 -20 y.o.), keluarga dengan anak
remaja. Pada fase ini, Tn. S merasakan keluhan batuk-batuk yang disertai
darah dan didiagnosis memiliki penyakit TB Baru. Setelah mengalami sakit,
Tn. S mengurangi aktivitasnya sehari-hari.
6. Families launching youth adult. Pada keluarga pasien, anak pasien belum
memasuki usia dewasa.
7. Midle age parents (empty next to retirement), yaitu keluarga dengan orang tua
usia pertengahan. Keluarga pasien belum memasuki fase ini.
8. Aging family members (keluarga dengan orang tua yang telah lanjut usia).
Keluarga ini belum memasuki fase aging family members.

29
Kesimpulan:
Siklus hidup keluarga Tn. S sekarang berada pada fase family with
teenagers atau keluarga dengan orang tua usia pertengahan. Tn. S saat ini berusia
45 tahun, sedangkan istri pasien (Ny. S) saat ini berusia 42 tahun.

Edukasi yang Dapat Diberikan:


Pada siklus hidup keluarga Tn. S ini dapat diberikan edukasi tentang:
1. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
2. Pentingnya menjaga pola hidup yang sehat, seperti makan makanan yang sehat,
istirahat yang cukup, mengurangi asupan gula, dan memperbanyak sayur-
sayuran dan buah-buahan untuk diet sehari-hari.
3. Pentingnya untuk mengubah perilaku penderita TB dan keluarga mengenai
cara penularan TB dan hygiene individu serta rumah lingkungan sekitar.
4. Pentingnya melakukan olahraga yang teratur seperti berjalan kaki, bersepeda,
renang, dan sebagainya, untuk mencegah penyakit degeneratif.
5. Pentingnya untuk memperbaiki rumah pasien agar pencahayaan dan sirkulasi
udara baik, serta untuk menjaga kebersihan rumah karena rumah dan kambing
pasien menjadi satu tempat.
6. Pentingnya membersihan bekas botol plastik yang tergeletak menumpuk di
halaman rumah pasien karena genangan air dalam botol plastic dapat menjadi
srang nyamuk. Terlebih karena meningkatnya kejadian penyakit demam
berdarah di wilayah kecamatan Gemolong.
7. Skrining atau deteksi dini penyakit-penyakit kronis yang mungkin timbul dan
menurun dalam silsilah keluarga melalui pemeriksaan gula darah dan tekanan
darah di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
8. Pentingnya menjalin hubungan sosial yang baik dengan keluarga, tetangga, dan
masyarakat, disamping juga meningkatkan kualitas ibadah dan religiusitas.

30
G. Faktor-Faktor Perilaku yang Mempengaruhi Kesehatan
1. Pengetahuan
Pendidikan terakhir Tn. S adalah SD. Pasien telah mengetahui bahwa
dirinya menderita penyakit TB. Selain itu, pasien dan keluarga juga
mengetahui bahwa dirinya menderita TB Relaps. Pada keluarga ini, kesadaran
untuk memeriksakan diri mereka ke dokter apabila sakit sudah cukup baik.
Mereka rajin kontrol ke pelayanan kesehatan. Tingkat pendidikan pasien dan
istri rendah yakni hingga SD, namun pasien dan istri dapat menerima
informasi yang diberikan mengenai kesehatan dan penyakit yang diderita
pasien.
2. Sikap
Kesadaran Tn. S terhadap TB cukup baik. Tn. S rutin memeriksakan
kesehatannya ke puskesmas. Pasien dan keluarga menerima bahwa pasien
memiliki TB dan harus mengubah pola hidup.
3. Tindakan
Pasien dna keluarga belum memiliki tindakan yang baik dalam hal
mencegah penularan TB, hal ini ditandai dengan pasien tidak menggunakan
masker saat berkomunikasi dengan keluarga serta kurangnya ventilasi dan
cahaya di rumah pasien. Sehingga perlu diberikan edukasi mengenai
kesadaran pencegahan penularan, komplikasi, dan penatalaksanaan
medikamentosa maupun nonmedikamentosa seperti gaya hidup, dan diet.
Pasien dan keluarga juga belum memiliki tindakan yang baik dalam menjaga
hygiene diri dan lingkungan.

31
H. Faktor-Faktor Non Perilaku yang Mempengaruhi Kesehatan
1. Lingkungan
Berikut ini adalah keadaan rumah pasien:
Tabel 3.3. Keadaan Tempat Tinggal Tn. S
No Lingkungan Tn. S Keterangan
1 Status kepemilikan rumah: pribadi Kesimpulan:
Daerah perumahan: perumahan jarang, terkesan Keadaan
2
kumuh rumah Tn. S
3 Luas tanah: 30 x 50 m , luas bangunan: 15x20 m berupa sebuah
4 Jumlah penghuni dalam satu rumah: 3 orang rumah ukuran
5 Jarak antar rumah: berjarak. 15x20m,
6 Rumah 1 lantai kebersihan dan
7 Lantai rumah: tanah kerapian masih
8 Dinding rumah: kayu, tidak dicat kurang,
9 Jamban keluarga: - pencahayaan
10 Kamar mandi: - kurang, dan
11 Dapur: 1 lembab
12 Kamar tidur : alas kasur dengan dipan
13 Penerangan listrik @5watt x 3 buah lampu= 15 watt
14 Pencahayaan: kurang
15 Ketersediaan air bersih: -
16 Kondisi umum rumah: kurang rapi dan kurang bersih
Tempat pembuangan sampah: di luar kamar rumah
17 Tidak terapat tempat sampah. Samah dikumpukan di
halaman depan rumah kemudian dibakar
Sumber : Data primer, Januari 2018
2. Pelayanan Kesehatan

Tn. S cukup aktif untuk menggunakan pelayanan kesehatan untuk


melakukan kontrol penyakitnya dan memeriksakan diri. Ketersediaan
sarana dan prasarana pelayanan kesehatan sudah cukup baik. Jarak rumah
ke Puskesmas Gemolong sekitar 4 km, pasien biasanya menggunakan
sepeda motor untuk kontrol pengobatan tuberkulosis ke Puskesmas
Gemolong.

32
3. Keturunan
Terdapat penyakit yang diturunkan dalam keluarga yaitu diabetes
melitus

I. Identifikasi Outdoor dan Indoor


1. Lingkungan Indoor

DAPUR

KASUR
KAMAR PENDERITA
TIDUR KANDANG
KAMBING

TV
MEJA
TAMU
KAMAR
TIDUR

Pintu tertutup Pintu tertutup

Gambar 3.3.Denah Kamar Tempat Tinggal Tn. S

Keterangan:
a. Luas kamar 2x2 m, lantai tanah, keadaan kamar kurang rapi,
pencahayaan kurang dan terasa lembab
b. Tidak ada kamar mandi dalam rumah
c. Kasur penderita diletakkan di ruang keluarga
d. Kandang kambing menjadi satu dengan rumah berbataskankan papan
kayu
e. Tidak terdapat jendela di dalam rumah dan dua buah pintu dalam rumah
jarang dibuka sehingga pencahayaan dan ventilasi masih sangat kurang

33
f. Hanya terdapat dua buah genteng kaca dan tidak terdapat ternit atap
rumah

2. Lingkungan Outdoor

WC

RUMAH BAGIAN DALAM

HALAMAN DEPAN

Gambar 3.4.Denah Lingkungan Outdoor Kediaman Tn. S

a. Jamban terletak di luar rumah, bertembokkan seng. Jamban berupa


lubang dalam, tidak ada septic tank. Sedangkan kamar mandi
menggunakan kamar mandi tetangga.
b. Halaman depan rumah digunakan untuk menggembala kambing dan
merupakan tempat tumpukan botol-botol plastik bekas
c. Pengumpulan sampah terletak di halamn depan rumah

34
TAHAP IV.
DIAGNOSIS HOLISTIK DAN PEMBAHASAN

A. Diagnosis Holistik
a. Aspek Personal
Pasien berusia 45 tahun tinggal dalam nuclear family dengan
diagnosa tuberkulosis kasus kambuh. Dilihat dari dampak penyakit
terhadap aktivitas, kondisi klinis pasien tidak menghambat pasien dalam
melakukan aktivitas sehari-hari. Namun pasien tidak merasa agak risih
dan khawatir bilamana orang lain di sekitarnya mengetahui penyakitnya
merupakan penyakit menular. Pasien cenderung merasa jenuh dengan
pengobatan OAT yang lama. Perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan
guna kesembuhan penyakit Tn. S, untuk itu diperlukan kerjasama dan
komunikasi yang baik antar anggota keluarga demi kesembuhan pasien.
b. Aspek Klinis
Tuberkulosis kasus kambuh BTA (+) dalam pengobatan OAT
kategori II bulan ke delapan.
c. Aspek Faktor Internal Individu
Tingkat pendidikan pasien cukup memadai untuk diberikan
pengertian mengenai kondisinya saat ini. Pasien cukup mudah untuk
memahami cara pengobatan, kepatuhan pengobatan, nutrisi untuk pasien,
dan hal-hal yang harus dihindari agar penyakitnya tidak menular pada
orang-orang di sekitarnya. Saat ini, pasien rutin menjalani pengobatan
TB, pasien rutin datang kontrol ke Puskesmas Gemolong dua minggu
sekali untuk mengambil obat TB.
d. Aspek Faktor Eksternal Individu
Pasien masih dapat melaksanakan kehidupannya dengan baik,
pasien sudah nampak bugar dan terbuka terhadap orang baru. Fungsi
sosial pasien cukup baik terlihat dari sehari-hari pasien yang cukup
bersosialisasi dengan tetangga sekitar pasien. Walau begitu, pasien
mengurangi interaksi dengan warga karena kondisi tubuhnya yang mudah

35
lelah. Hubungan yang terjadi dalam keluarga pasien harmonis. Anggota
keluarga yang paling dekat dengan pasien adalah istri pasien (Ny. S) yang
bertindak sebagai pengawas minum obat (PMO). Kebiasaan merokok
pasien dan factor lngkungn yang merupakan daerah endemic TB
merupakan factor risiko penyakkit TB yang diderita pasien.
Keadaan lingkungan indoor maupun outdoor rumah pasien masih
kurang baik. Hal ini ditandai dengan pencahayaan rumah pasien yang
sangat kurang sehingga harus menyalakan lampu pada siang hari, dan
juga masih kurang dalam hal kerapian dan kebersihan ruangan serta
kendang kambing yang masih beratapkan sama dengan rumah. Hal ini
merupakan faktor risiko terjadinya penularan tuberkulosis.
e. Derajat Fungsional
Kategori derajat fungsional :
1 : Sehat tidak butuh bantuan
2 : sakit ringan (aktivitas berat dikurangi)
3 : sakit sedang
4 : sakit berat (aktivitas ringan saja yang bisa)
5 : 100% ADL butuh orang lain
Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan, Tn. S memiliki
derajat fungsional 2. Pasien berhenti bekerja sebagai sopir truk dan kuli
angkut semenjak sakit karena merasa mudah lelah, namun pasien masih
bekerja di rumah dengan membersihkan botol plastic bekas. Dalam
perwatan penyakit, pasien serng diantarkan keponakannya ke puskesmas
Gemolong karena keterbatasan kendaraan.
B. Pembahasan
1. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit kronik menular yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini
berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal dengan Basil
Tahan Asam (BTA) (Suriadi, 2001).Sebagian besar kuman TB sering
menyerang parenkim paru dan menyebabkan TB paru, tetapi juga dapat

36
menyerang organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar
limfe, tulang, dan organ ekstra paru lainnya (Aditama, 2008). Pada tahun
1993 World Health Organization (WHO) menyatakan TB sebagai suatu
problema kesehatan masyarakat yang sangat penting dan serius di seluruh
dunia dan merupakan penyakit yang menyebabkan kedaruratan global
(Global Emergency) karena pada sebagian besar negara di dunia penyakit
TB paru tidak terkendali, ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak
berhasil disembuhkan, serta sebagai penyebab kematian utama yang
diakibatkan oleh penyakit infeksi. (Depkes RI, 2002).
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013
terdapat 9 juta penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB (WHO, 2014).
Pada tahun 2014 terdapat 9,6 juta penduduk dunia terinfeksi kuman TB
(WHO, 2015). Pada tahun 2014, jumlah kasus TB paru terbanyak berada
pada wilayah Afrika (37%), wilayah Asia Tenggara (28%), dan wilayah
Mediterania Timur (17%) (WHO, 2015).
Di Indonesia, prevalensi TB paru dikelompokkan dalam tiga wilayah,
yaitu wilayah Sumatera (33%), wilayah Jawa dan Bali (23%), serta
wilayah Indonesia Bagian Timur (44%) (Depkes, 2008). Penyakit TB paru
merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan
saluran pernafasan pada semua kelompok usia serta nomor satu untuk
golongan penyakit infeksi. Korban meninggal akibat TB paru di Indonesia
diperkirakan sebanyak 61.000 kematian tiap tahunnya (Depkes RI, 2011).
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif pada
waktu batuk atau bersin.Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk droplet (percikan dahak).Droplet yang mengandung kuman dapat
bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam.Orang dapat
terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan.Setelah kuman tuberkulosis masuk ke dalam tubuh manusia
melalui pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran darah, saluran nafas, atau
penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.Daya penularan dari

37
seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya.Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin
menular penderita tersebut.Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak
terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak
menular.Seseorang terinfeksi tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi
droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Amin, 2009).
Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang
di jaringan paru, dimana ia akan membentuk suatu sarang pneumonik,
yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mugkin
timbul di bagian mana saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi.
Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah bening
menuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh
pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitis regional).Afek
primer bersama-sama dengan limfangitis regional dikenal sebagai
kompleks primer. Kompleks primer ini akan mengalami salah satu nasib
sebagai berikut :
1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
3. Menyebar dengan cara :
a. Perkontinuitatum, menyebar kesekitarnya
Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu
kejadian dimana terdapat penekanan bronkus, biasanya bronkus
lobus medius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga
menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan, dengan
akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang
bronkus yang tersumbat ini ke lobus yang atelektasis dan
menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut,
yang dikenal sebagai epituberkulosis.

38
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun
ke paru sebelahnya. Penyebaran ini juga terjadi ke dalam usus
c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Kejadian penyebaran
ini sangat bersangkutan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan
virulensi basil. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara
spontan, akan tetapi bila tidak terdapat imuniti yang adekuat,
penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti
tuberkulosis milier, meningitis tuberkulosa, typhobacillosis
Landouzy. Penyebaran ini juga dapatmenimbulkan tuberkulosis
pada alat tubuh lainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal,
genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkin
berakhir dengan :
4. Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis,
tuberkuloma ).
5. Meninggal.
Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer. Dari
tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian
tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis
post primer mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis
bentuk dewasa, localizedtuberculosis, tuberkulosis menahun, dan
sebagainya. Bentuktuberkulosis inilah yang terutama menjadi problem
kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber penularan.Tuberkulosis
post-primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen
apikal dari lobus superior maupun lobus inferior.Sarang dini ini awalnya
berbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan
mengikuti salah satu jalan sebagai berikut :
a. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan
cacat
b. Sarang tadi mula mula meluas, tapi segera terjadi proses penyembuhan
dengan penyebukan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan membungkus

39
diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam
bentuk perkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi
aktif kembali, membentuk jaringan keju dan menimbulkan kaviti bila
jaringan keju dibatukkan keluar.
c. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan
kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannya jaringan keju
keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan
menjadi tebal (kaviti sklerotik). Nasib kaviti ini :
(1) Mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik
baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti pola perjalanan seperti
yang disebutkan diatas
(2) Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan
disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan
menyembuh, tapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan
menjadi kaviti lagi
(3) Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open
healed cavity, atau kaviti menyembuh dengan membungkus diri,
akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang
terbungkus, dan menciut sehingga kelihatan seperti bintang
(stellate shaped).

Adapun klasifikasi Tb paru yaitu menurut Depkes (2008) yaitu:


1. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh yang terkena:
a. Tuberkulosis paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan
(parenkim) paru.tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar
pada hilus.
b. Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar

40
lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat
kelamin, dan lain-lain.
2. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, yaitu pada
Tb Paru:
a. Tuberkulosis paru BTA positif
1) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.
2) Spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis.
3) 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman Tb
positif.
4) 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif
dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
b. Tuberkulosis paru BTA negatif
1) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif.
2) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberculosis
3) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT.
4) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.
3. Klasifikasi berdasarkan tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat
pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe pasien yaitu:
a. Kasus baru
Pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah
menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu).
b. Kasus kambuh (relaps)
Pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh tetapi kambuh lagi.
c. Kasus setelah putus berobat (default )
Pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.

41
d. Kasus setelah gagal (failure)
Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
e. Kasus lain
Semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, dalam
kelompok ini termasuk kasus kronik, yaitu pasien dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan
(Depkes RI, 2008).
Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan
pemeriksaan penunjang lainnya
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
gejala respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik.
a. Gejala respiratorik, berupa batuk ≥ 3 minggu, batuk darah, sesak napas,
dan nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang
penderita terdiagnosis pada saat medical checkup. Bila bronkus belum
terlibat dalam proses penyakit, makapenderita mungkin tidak ada gejala
batuk. Batuk yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan
selanjutnya batuk diperlukan untuk membuang dahak ke luar.
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang
lambat dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis
tuberkulosa akan terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis
tuberkulosa terdapat gejala sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi
yang rongga pleuranya terdapat cairan.

42
b. Gejala sistemik, bisa berupa demam, dan gejala sistemik lain seperti
malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun (PDPI, 2006)
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai
keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan.Pemeriksaan
dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3
spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang
berurutan sewaktu-pagi-sewaktu (SPS).
 S(sewaktu): Dahak dikumpulkan pada saat suspek tuberkulosis datang
berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah
pot dahak untuk mengumpulkan dahak pada pagi hari kedua
 P (pagi): Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera
setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada
petugas
 S (Sewaktu): Dahak dikumpulkan saat ke puskesmas untuk
menyerahkan pot dahak pagi (Depkes, 2008)
Pemeriksaan mikroskopisnya dapat dibagi menjadi dua yaitu
pemeriksaan mikroskopis biasa di mana pewarnaannya dilakukan dengan
Ziehl Nielsen dan pemeriksaan mikroskopis fluoresens dimana
pewarnaannya dilakukan dengan auramin-rhodamin (khususnya untuk
penapisan). Interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala
IUATLD (International Union Against Tuberculosis and lung
Tuberculosis yang merupakan rekomendasi dari WHO (Kevin, 2010).

43
Tabel 4.1.Interpretasi pemeriksaan mikroskopis TB paru skala IUATLD

Tidak ditemukan BTA dalam 100 Negatif


lapang pandang
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang Ditulis dalam jumlah kuman yang
pandang ditemukan
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 Positif (+1)
lapang pandang
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang ++ (+2)
pandang
Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang +++ (+3)
pandang

Gambar 4.1.Alur Diagnosis TB(PDPI, 2006)

44
Pemeriksaan penunjang lainnya adalah pemeriksaan radiologi.
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral
Pemeriksaan lain atas indikasi : foto apiko-lordotik, oblik, CT-Scan.
Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran
bermacam-macam bentuk (multiform). Gambaran radiologik yang
dicurigai sebagai lesi TB aktif :
a. Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas
paru dan segmen superior lobus bawah
b. Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak
berawan atau nodular
c. Bayangan bercak milier
d. Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
a. Fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas
b. Kalsifikasi atau fibrotic
c. Kompleks ranke
d. Fibrotoraks/Fibrosis parenkim paru dan atau penebalan pleura (PDPI,
2006 )
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3
bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan.Paduan obat yang digunakan terdiri
dari paduan obat utama dan tambahan. Obat yang dipakai:
a. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
1.) Rifampisin
2.) INH
3.) Pirazinamid
4.) Streptomisin
5.) Etambutol
b. Kombinasi dosis tetap (Fixed dose combination) Kombinasi dosis
tetap ini terdiri dari :

45
1.) Empat obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu
rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400 mg
dan etambutol 275 mg dan
2.) Tiga obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu
rifampisin 150 mg, isoniazid 75 mg dan pirazinamid. 400
mg
c. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
1.) Kanamisin
2.) Kuinolon
3.) Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam
klavulanat
4.) Derivat rifampisin dan INH (Depkes, 2014)

2. Pembahasan Tuberkulosis Pada Tn. S


Pasien mengeluhkan batuk berdahak terus menerus sejak 2 bulan
yang lalu. Batuk berdahak berwarna putih kekuningan, dan disertai
darah. Pasien mengakui sering berkeringat dimalam hari serta berat
badan pasien menurun drastis. Pasien mengeluhkan mengalami
penurunan nafsu makan serta penurunan berat badan dari 48 kg
menjadi 44 kg. Badan terasa lemas sejak 1 bulan sebelumnya. Pasien
lalu memeriksakan diri ke Puskesmas Gemolong. Karena pada tahun
2015 pasien pernah mengalami hal serupa, oleh puskesmas Gemolong
pasien dirujuk ke RSDM untuk dilakukan pemeriksaan dak Tes Cepat
Molekular dan hasilnya menunjukkan MTB positive. Pasien lalu
didiagnosa terkena penyakit tuberkulosis kasus kambuh. Saat ini
pasien sudah dalam pengobatan tuberkulosis fase lanjutan bulan ke
delapan.
Pasien tinggal bertiga dengan istri dan anaknya di sebuah rumah
sejak 20 tahun lalu. Pencahayaan dan ventilasi kamar pasien tampak
kurang dan terkesan lembab serta banyak kotoran kambing berserakan
di lantai rumah. Setelah pasien mendapatkan edukasi mengenai

46
pentingnya ventilasi dan pencahayaan hunian yang cukup dari
Puskesma Gemolong, pasien lalu memutuskan untuk membuka tiga
pintu rumahnya yang sebelumnya hanya dibuka satu di siang hari agar
cahaya matahari dapat masuk. Pasien juga membersihkan kotoran-
kotoran kambing yang berserakan di ruang tengah. Selain itu di
halaman depan rumah pasien terdapat tumpukan botol-botol plastic
bekas yang menampung air hujan sehingga meningkatkan risiko
demam berdarah, setelah diberi edukasi pasien merapikan halaman
depan rumah pasien dari botol-botol yang berserakan. Lantai rumah
masih terbuat dari tanah, keadaan tersebut merupakan faktor risiko
terjadinya penyakit tuberkulosis pada pasienserta dapat meningkatkan
risiko terjadinya penularan tuberkulosis pada orang di sekelilingnya.
Faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian penyakit
tuberkulosis adalah faktor host. Manusia merupakan reservoir untuk
penularan kuman seperti Mycobacterium tuberculosis,kuman tersebut
dapat menularkan pada 10-15 orang.Menurut penelitian pusat ekologi
kesehatan (1991), tingkat penularan TB di lingkungan keluarga
penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat
menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya. Di dalam rumah
dengan ventilasi baik, kumanini dapat hilang terbawa angina dan
akan lebih baik jika ventilasi ruangannya menggunakan pembersih
udara yang bisa menangkap kuman. Hal yang perlu diperhatikan
mengenai host atau pejamu meliputi karakteristik: gizi atau daya
tahan tubuh, pertahanan tubuh, higiene pribadi, gejala dan tanda
penyakit dan pengobatan. Berdasarkan studi epidemiologi,
karakteristik host dapat dibedakan antara lain: umur, jenis kelamin,
pekerjaan, keturunan, pekerjaan, ras, pendidikan dan gaya hidup
(Djuanda et al., 2011).
Keluarga Tn. S termasuk ke dalam nuclear family yang terdiri atas
3 orang. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, yaitu Ny. S (42 th), ibu
yaitu Tn S (45 th), dan seorang anak perempuan Sdri. C (18 th). Ana

47
perempuan Tn. S seorag lulusan SMA belum berkeluarga dan bekerja
sebagai buruh pabrik, sedangkan istri Tn. S lulusan SD yang sekarang
bekerja sebagai petani dengan upah yang tidak menentu. Tn. S sendiri
merupakan lulusa SD yang sekarang lebih sering di rumah dan bekerja
serabutan memberihkan botol-botol plastic bekas milik tetangga.
Dalam pemenuhan gizi sehari hari, Tn. S makan 1-2 kali sehari
dengan sayur dan lauk bervariasi, seringkali juga pasien memakan
buah-buahan. Pasien mengaku tidak memiliki alergi terhadap
makanan. Sebelum menderita tuberkulosis, pasien mengonsumsi
rokok.
Pada saat dilakukan kunjungan rumah, tampak higiene pasien
kurang baik. Terdapat berbagai faktor yang dapat memperburuk
keadaan pasien yaitu, hygiene diri yang kurang, kondii rumah yang
kurang baik, kebutuhan gizi yang kurang terpenuhi, dan kondisi
lingkungan sekitar yang kurang bersih.
Faktor terakhir yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian
tuberkulosis adalah faktor lingkungan. Lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada di luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata
atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk akibat interaksi semua
elemen-elemen termasuk host yang lain. Lingkungan terdiri dari
lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan fisik terdiri dari keadaan
geografis (dataran tinggi atau rendah, persawahan, dan lain-lain),
kelembabanudara, suhu, lingkungan tempat tinggal. Adapun
lingkungan non fisik meliputi sosial (pendidikan, pekerjaan), budaya
(adat, kebiasaan turun temurun), ekonomi (kebijakan mikro dan
lokal),dan politik (suksesi kepemimpinan yang mempengaruhi
kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu penyakit).
Dari aspek lingkungan fisik, pasien memiliki masalah karena
tinggal di tempat yang lembab dan kurang bersih. Selain itu
pencahayaan dan ventilasi hunian pasien juga masih kurang memadai.

48
Dalam pendekatan secara holistik pada aspek biologis dan klinis
tidak didapatkan liingkungan keluarga yang memiliki penyakit
tuberculosis, namun dalam keluarga terdapat penyait keturunan aitu
diabetes mellitus, sehingga sangat penting bagi Tn. S untuk menjaga
pola makan dan gaya hidup agar terhindar dari penyakit diabetes
mellitus, serta perlunya pengecekan gula darah secara rutin sebagai
skrinning awal penyakit diabetes mellitus.
Fungsi sosialisasi keluarga Tn. S dinilai baik karena tidak terdapat
hubungan konfliktual sehingga dapat menunjang penyembuhan
penyakit tuberkulosis Tn. S. Interaksi sosial dengan masyarakat
sekitar cukup baik. Tn. S mengurangi mengikuti kegiatan warga
seperti kerja bakti karena fisiknya yang mudah lelah. Namun interkasi
Tn S dengan teangga sekitar masih baik. Istri Tn. S masih sering
mengikuti kegiata-kegiatan warga seperti pengajia dan arisan.
Sehari-hari, Tn. S di rumah mengurus kambingnya dan
membersihkan botol-botol plastic bekas, sedangkan istrinya bekerja di
sawah dan anaknya bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan istri
dan anaknya diakui cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Untuk biaya pengobatan, Tn. S menggunakan BPJS.
Kondisi fisiologis keluarga Tn. S tergolong baik, dapat dilihat dari
skor APGAR 20. Fungsi patologis keluarga Tn. S mengalami
gangguan pada area ekonomi dan social masalah pada area ekonomi
adalah karena penghasila yang tidak menentu, sedangkan
permasalahan social adalah karena berkurangnya interaksi Tn. S
dengan warga sekitar dikarenakan kondisi tubuhnya
Kesadaran memeriksakan diri keluarga Tn. S ke dokter sudah
cukup baik. Hal tersebut terlihat dengan kesadaran keluarga untuk berobat
ke puskesmas mengeluhkan penyakit tertentuPengetahuan pasien akan
pentingnya pengendalian dan komplikasi dari penyakit yang dideritanya
sudah cukup baik.

49
Kekurangan dari tindakan Tn. S yang mempengaruhi
kesehatannya adalah perilaku kebersihanya. Kebersihan pribadi juga
dipengaruhi oleh kebersihan lingkungan. Lingkungan tempat tinggal
pasien masih kurang bersih, begitu juga dengan pencahayaan huniannya.
Ventilasi rumah kurang baik karena tidak terdapat jendela ada rumah Tn.
S dan hanya satu buah pintu yang dibuka di rmah Tn. S.Sehingga aliran
pertukaran udara kurang lancar. Penataan barang di kamar tempat tinggal
pasien juga tampak kurang tertata rapi. Terdapat 2 kamar tidur yang
kurang bersih, selain itu rumah juga masih satu atap dengan kendang
kambing, hanya berbatskankan papan kayu dan kendang kambing
tersambung langsung dengan ruang tengah rumah sehingga mengakbatkan
kotoran-kotoran kambing berserakan di lantai rumah. Sehingga perlu
dibangun kesadaran untuk memperbaiki kebersihan pada lingkungan
pasien serta kesadaran untuk menjaga daya tahan tubuhnya dengan makan
teratur dan bergizi, serta olahraga yang cukup.

50
TAHAP V.
PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF

A. Saran Komprehensif

1. Promotif

a. Puskesmas lebih aktif untuk mempromosikan kepada masyarakat


mengenai penyakit menular khususnya penyakit TB, sehingga
masyarakat paham mengenai tanda dan gejala, komplikasi, pengobatan
dan cara pencegahan.
b. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat baik secara langsung dalam
acara khusus maupun disisipkan dalam acara lain seperti rapat
koordinasi, posyandu, program prolanis, hingga pengajian mengenai
edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat, dan pentingnya mencegah
timbulnya dan mengontrol penyakit menular.
c. Memberikan edukasi kepada anggota keluarga yang tinggal dalam satu
rumah mengenai kondisi Tn. S untuk mencegah penularan kepada
anggota keluarga lain.
d. Keluarga Tn. S harus lebih meningkatkan perilaku hidup sehat, dengan
meningkatkan asupan gizi, sadar akan kebersihan dan karakteristik
lingkungan yang sehat untuk menjaga kesehatan. Disamping juga
melakukan olahraga rutin dan mengontrol diet untuk mencegah
terjadinya diabetes melitus.
e. Memberikan motivasi kepada masyarakat khususnya bagi keluarga Tn. S
mengenai pentingnya memiliki asuransi kesehatan dalam menunjang
pembiayaan kesehatan, sehingga kedepannya beban biaya pengobatan
dapat lebih terjangkau.

51
2. Preventif

a. Menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan rumah dan


sekitarnya untuk mencegah bertambah parahnya penyakit, seperti
membangun jendela kamar di siang hari agar ventilasi rumah memadai
dan membuka pintu-pintu rumah lainnya di siang hari, serta memisahkan
kendang hewan peliharaan dengan rumah tempat tinggal.

b. Membangun jamban yang layak pakai supaya aliran pembuangan kotoran


tidak sembarangan dan tidak menjadi sarang kuman peyakit.
c. Makan teratur dengan makanan bergizi dan menu seimbang dan teratur,
melakukan aktivitas fisik dan gaya hidup sehat.

3. Kuratif

a. Mengkonsumsi obat kombinasi TB secara teratur sesuai dengan dosis


yang telah ditetapkan
b. Segera memeriksakan diri apabila timbul keluhan kembali.

4. Rehabilitatif

a. Kontrol ke puskesmas sesuai jadwal untuk penyakit tuberkulosis dan


segera ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya apabila terdapat
keluhan lain.

52
B. Catatan Perkembangan Pasien

Nama : Tn. S
Diagnosis : Tuberkulosis kasus kambuh BTA (+) dalam pengobatan OAT bulan delapan fase Lanjutan
Tabel 5.1.Catatan Perkembangan Pasien Tn. S
Tanggal
Tatalaksana
dan Jam Tanda Vital Keluhan Pemeriksaan Fisik Assesment Planning dan Target
Komprehensif
Kunjungan
05/01/2018 Tensi: Batuk Regio Thorax Tuberkulosis Medikamentosa: Pasien dan keluarga paham
10:00 130/80mmHg - Inspeksi : pengembangan dada kasus - Pemberian obat anti mengenai pentingnya
Nadi:80x/menit kanan = kiri kambuh tuberkulosis FDC menjaga kebersihan dan
RR: 20 x/menit - Perkusi : fremitus raba kanan = (Fixed Dose pencahayaan yang cukup di
Suhu: 36,7 0C Combination) rumah
kiri
per axiler kategori II selama 8
- Palpasi : Sonor/ Sonor bulan:
- Auskultasi : a. Rifampisin 150 mg
Kanan = Suara dasar vesikuler b. Isoniazid 75 mg
normal, suara tambahan c. Pyrazinamid 400
wheezing (-), ronki (+) mg
Kiri = Suara dasar vesikuler d. Etambutol 275 mg
normal, suara tambahan
wheezing (-), ronki (+) Non
Medikamentosa:
Promotif dan
Preventif :
1. Edukasi pasien

53
agar rajin ke
puskesmas untuk
kontrol rutin
pengobatan Tb dan
cek dahak berkala
2. Edukasi pasien
mengenai
penyakitnya
3. Edukasi keluarga
untuk membuka
pintu terutama
pada pagi hari,
agar sinar matahari
masuk ke dalam
rumah serta
mengajak pasien
untuk jalan-jalan di
sekitar rumah di
pagi hari
4. Edukasi pasien
agar
membersihkan
kotoran kamabing
yang ada di rumah
10/01/2018 Tensi: 120/80 Batuk sudah Regio Thorax Tuberkulosis Medikamentosa: Pasien dan keluarga paham
09:00 mmHg agak - Inspeksi : pengembangan dada kasus - Pemberian obat anti mengenai pentingnya pasien
Nadi:78x/menit berkurang kanan = kiri kambuh tuberkulosis FDC minum OAT secara teratur
RR: 18 x/menit - Perkusi : fremitus raba kanan = (Fixed Dose

54
Suhu: 36,60C kiri Combination)
per axiler - Palpasi : Sonor/ Sonor kategori II selama 8
- Auskultasi : bulan:
a. Rifampisin 150 mg
Kanan = Suara dasar vesikuler
b. Isoniazid 75 mg
normal, suara tambahan
c. Pyrazinamid 400
wheezing (-), ronki (-)
mg
Kiri = Suara dasar vesikuler
d. Etambutol 275 mg
normal, suara tambahan
Non
wheezing (-).
Medikamentosa:
Promotif dan
Preventif :
1. Edukasi pasien
mengenai cara
penularan dan sifat
kuman TB
2. Edukasi pasien
mengenai
pentingnya rutin
minum OAT
3. Edukasi pasien
mengenai
pentingnya
berolahraga
15/01/2018 Tensi: 120/80 Batuk sudah Regio Thorax Tuberkulosis Medikamentosa: Pasien paham mengenai
10:00 mmHg agak - Inspeksi : pengembangan dada kasus - Pemberian obat anti hygiene diri dan

55
Nadi:71x/menit berkurang kanan = kiri kambuh tuberkulosis FDC lingkungan
RR: 16x/menit - Perkusi : fremitus raba kanan = (Fixed Dose
Suhu: 36,10C kiri Combination)
per axiler kategori II selama 8
- Palpasi : Sonor/ Sonor
bulan:
- Auskultasi : e. Rifampisin 150 mg
Kanan = Suara dasar vesikuler f. Isoniazid 75 mg
normal, suara tambahan g. Pyrazinamid 400
wheezing (-), ronki (-) mg
Kiri = Suara dasar vesikuler h. Etambutol 275 mg
normal, suara tambahan Non
wheezing (-). Medikamentosa:
Promotif dan
Preventif :
1. Edukasi pasien
untuk tetap
menjaga hygiene
diri dan
lingkungan agar
tidak terkena TB
lagi
Sumber: Data Primer, Januari 2018

56
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Keluarga Tn. S merupakan nuclear family dengan fungsi biologis faktor
keturunan untuk menderita diabetes melitus tipe 2 dari keluarga Tn. S.
Adapun untuk fungsi fisiologis keluarga baik. Fungsi patologis
mengalami gangguan pada fungsi social dan economy. Genogram baik.
Pola interaksi keluarga cukup baik. Faktor perilaku baik, dan faktor non
perilaku terutama masalah kesehatan lingkungan indoor rumah maupun
outdoor kurangbaik.
2. Penyakit pada pasien Tn. S merupakan penyakit kronis sehingga perlu
dukungan dari keluarga agar proses pengobatannya bisa diawasi dengan
baik sehingga penyakit pasien dapat terkontrol dan komplikasinya dapat
dihindari. Peran istri pasien sebagai pengawas minum obat (PMO) dalam
mendukung kesembuhan pasien cukup baik.
3. Tn. S dan keluarganya membutuhkan pendampingan dan pemantauan
dari petugas Puskesmas Gemolong dalam hal edukasi penyakit, terutama
dalam hal pengawasan keteraturan minum obat serta dosisnya sehingga
dapat sembuh dan mencegah kekambuhan serta komplikasi penyakit.
4. Diragukan keterangan dari pasien dan keluarga mengenai kepatuhan
minum obat anti tuberkulosis

B. Saran
1. Untuk puskesmas:
a. Perlu meningkatkan upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif dengan memaksimalkan kerjasama lintas sektor pada
pasien dengan penyakit kronis, khususnya TB di daerah kerja
puskesmas Gemolong. Tidak hanya bagian P2 yang gencar dalam
hal ini, namun juga memberdayakan bagian Promkes untuk
memberikan pentuluhan kepada masyarakart terutam keluarga
penderita TB.

57
b. Perlu meningkatkan program surveillance terhadap kejadian TB paru
di wilayah kerja puskesmas Gemolong sehingga dapat meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat dengan cara active case finding
tuberkulosis, dengan paradigma pemberdayaan masyarakat dengan
melibatkan kader dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam
penanggulangan TB
c. Karena diragukan keterangan mengenai kepatuhan minum OAT dari
keluarga, dibutuhkan Pengawas Minum Obat dari kader desa. Dapat
diberikan program tiap kader memegang 1-3 orang penderita TB.
Tugas kader TB tidak hanyak mengawasi kepatuhan minum OAT,
tapi juga dalam upaya edukasi keluarga TB agar lebih mencegah
penularan TB dan kekambuhan kembali TB.
d. Melakukan pengecekan BTA pada setiap 2-3 rumah di sekitar
penderitan TB paru temuan baru. Hal ini untuk meningkatkan angka
temuan TB Paru baru / CDR sehingga dapat segera memberikan
pengobatan dan mencegah penularan terhadap anggota keluarga lain.

2. Untuk pasien
a. Melakukan pengobatan teratur dan kontrol rutin dalam rangka
mengembalikan fungsi kesehatan.
b. Hendaknya lebih menjaga kebersihan baik diri sendiri maupun
lingkungan untuk mendukung kesembuhannya dan mencegah
terjadinya kejadian serupa di kemudian hari, terutama ventilasi
ruangan dan pencahayaan matahari yang cukup.

58
DAFTAR PUSTAKA

Aditama, TY. 1994. Tuberkulosis Paru Masalah & Penanggulangannya. Jakarta:


UI Press.
Amin, Zulkifli dan Asril Bahar.2009. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Edisi kelima Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2008.Pedoman Nasional
Penanggulanagan Tuberkulosis Cetakan Ke-2. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2011.Strategi Nasional Pengendalian
TB Di Indonesia Tahun 2010-2014. Jakarta: Depkes RI.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2014.Pedoman Nasional:
Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Depkes RI .
Kemnkes RI. 2015. Konsensus Pengelolaan Tuberkulosis dan Diabetes Melitus
(TB-DM) di Indonesia. Jakarta: Direktorak Jendral Pengendalian Penyakit
dana Penyehatan Lingkungan.
Kevin C, Kimberly D, McCarthy MM, Charles M. 2010. Algorithm for
Tuberculosis Screening and Diagnosis in Peoplewith HIV.N Engl J Med
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.2006. Tuberkulosis. Pedoman,Diagnosis dan
Pedoman Penatalaksanaan di Indonesia.Jakarta : Indah Offset Citra Grafika
Suriadi.2001.TuberkulosisParu. Sagung Seto: Jakarta
World Health Organization. 1999.Guidelines For Prevention Of Tuberculosis In
Health Care Facilities In Resource Limited Settings.Geneva: WHO
Available from: http://whqlibdoc.who.int/hq/1999/WHOTB99.269.pdf
World Health Organization.2015.Global Tuberculosis Report 2014. Geneva:
World Health Organization.

59
LAMPIRAN

Dokumentasi Kegiatan FOME

Keadaan depan rumah

Wawancara dengan Pasien

60
Tempat Memasak dan tempat jamban

Kendang kambing dan tempat tidur

61
Kuesioner mengenai pengetahuan penderita mengenai TB

2. Menurut apak/ibu, bagaimana gejala penyakit tuberkulosis paru?


a. Batuk berdahak dari 3 minggu, bercampur darah, sesak napas, rasa
nyeri dada
b. Badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun
c. Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam lebih dari
sebulan
d. Semua benar
e. Semua salah
3. Menurut bapak/ibu, penyakit tuberkulosis paru dapat menular kepada
anggota keluarga lain karena
a. Terhirup percikan ludah atau dahak penderita tuberkulosis
b. Tidur sekamar dengan penderita TB Paru
c. Bicara berhadap-hadapan dengan penderita TB Paru
d. a dan b benar
e. a dan c benar
4. Menurut Bapk/Ibu, apakah pengertian dari penyakit Tuberkulosis Paru/
a. Penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium
Tuberculosis
b. Penyakit yang disebabkan oleh karena keturunan
c. Penyakit yang disebabkan oleh udara yang kotor
d. Penyakit yang idsbeabkan oleh karena pencahayaan dan ventilasi
rumah yang kurang baik
e. Penyakit menular yang disebabkan oleh karena rokok
5. Menurut Bapak/ibu, apa penyebab TB Paru ?
a. Keturunan
b. Kuman TB Paru
c. Nyamuk
d. Ludah orang sakit TB Paru
e. Virus
6. Menurut Bapak/ibu, pada bagian apa TB paru menyerang?
a. Paru-paru
b. Ginjal
c. Hati
d. Jantung
e. Anggota gerak tubuh
7. Menurut bapak ibu, pengobatan TB paru sebaiknya:
a. Tidak boleh berhenti sebelum pengobatan selesai
b. Tidak boleh berhenti bila obat tidak tersedia lagi
c. Minum obat secara teratur selama 6 bulan atau sesuai anjuran sampai
dinyatakan sembuh
d. a dan b benar
e. a dan c benar

62
8. Menurut Bapak/Ibu, bagaimana kondisi fisik rumah yang baik utnuk
mencegah penularan TB Paru?
a. Kedap air, terbuat dari bahan yang cukuo keras, rata, dan mudah
dibersihkan
b. Luas ventilasi 10% dari luas lantai
c. Dinding 75% tembok atau pasang batu bata
d. a dan b benar
e. a dan c benar

9. Menurut bapak/ibu, berapa lama waktu pengobatan TB Paru?


a. Minimal 6 bulan
b. Sampai sembuh
c. <6 bulan
d. a dan b benar
e. a dan c benar

10. Menurut bapak/ibu, bagaimana jika bapak/ibu merasa sudah sehat dan
tidak batuk lagi, tetapi pengobtaan bapak/ibubelum selesai?
a. Tetap minum obat anti TB
b. Minum obat tapi tidak semuanya
c. Tetap melanjutkan pengobatan sampai selesai atau sembuh
d. a dan b benar
e. a dan c benar
11. Apa yang anda lakukan ketika batuk atau bersin?
a. Membuang dahaknya di kamar mandi
b. Menutup mulut
c. Batuk dan bersin saja
d. Batuk di luar rumah
e. Dahak dibuang ke sembarang tempat

Penilaian dengan skala likert, yakni:


1-3 Rendah
2-6 Sedang
7-10 Tinggi

63