Anda di halaman 1dari 7

Petunjuk Sitasi: Nugraha, E. Y., Suletra, I. W., & Liquiddanu, E. (2017).

Penentuan Lokasi Instalasi Pengolahan Air


Limbah (IPAL) Komunal di Sentra Industri Tahu Dusun Purwogondo, Kelurahan Kartasura. Prosiding SNTI dan
SATELIT 2017 (pp. C108-114). Malang: Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya.

Penentuan Lokasi Instalasi Pengolahan Air


Limbah (IPAL) Komunal di Sentra Industri Tahu
Dusun Purwogondo, Kelurahan Kartasura
Eucharistia Yacoba Nugraha(1), I Wayan Suletra(2) , Eko Liquiddanu(3)
(1), (2), (3)
Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami 36A, Jebres, Surakarta, 57126.
(1)
eucharistianugraha@gmail.com, (2)suletra@stafft.uns.ac.id, (3)liquiddanu@gmail.com

ABSTRAK
Dusun Purwogondo merupakan salah satu sentra industri tahu di Kecamatan
Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Industri tahu ini dalam proses produksinya
menghasilkan limbah cair yang selama ini belum diolah terlebih dahulu dan langsung
dibuang ke lingkungan. Hal tersebut membuat tercemarnya lingkungan disekitar industri
tahu. Untuk mengatasi hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab pemerintah maupun
pengusaha untuk mengolah terlebih dahulu limbah yang dihasilkan sehingga pada saat
limbah dibuang ke lingkungan sudah memenuhi baku mutu air limbah. Atas dasar
permasalahan tersebut, maka perlunya dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) komunal. Karena keterbatasan biaya yang ada maka penentuan lokasi
penempatan IPAL komunal sangatlah penting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
menentukan lokasi IPAL komunal terbaik dengan menggunakan metode entropy untuk
menentukan bobot setiap kriteria penentuan lokasi IPAL komunal dan metode VIKOR
untuk menentukan prioritas alternatif terbaik. Penelitian ini diawali dengan studi pustaka
dan studi lapangan untuk menentukan kriteria-kriteria pemilihan IPAL, deep interview
dengan para ahli di bidangnya masing-masing untuk penentuan kriteria-kriteria
pemilihan IPAL komunal, menentukan bobot entropy untuk masing-masing kriteria dan
pemilihaan lokasi terbaik. Hasil penelitian, diperoleh bobot awal kriteria penentuan
lokasi IPAL komunal oleh para ahli yang subjektif diolah dengan metode entropy
sehingga diperoleh bobot entropy yang lebih objektif. Bobot entropy tersebut kemudian
diolah dengan metode VIKOR dan menghasilkan rangking lokasi terbaik.

Kata kunci— Entropy, pemilihan lokasi IPAL, sentra industri tahu, VIKOR.

I. PENDAHULUAN
Dusun Purwogondo merupakan salah satu sentra industri tahu yang ada di Kelurahan
Kartasura, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan kondisi yang ada dilapangan
saat ini industri tahu yang ada tidak mengolah terlebih dahulu limbah cair yang dihasilkan.
Limbah yang dihasilkan langsung dibuang begitu saja ke selokan-selokan dan aliran sungai yang
berada di dekat industri itu didirikan.
Sumber pencemar yang terkandung di dalam limbah tahu berasal dari air bekas pencucian dan
perebusan kedelai. Berdasarkan pengujian air limbah industri tahu yang pernah dilakukan oleh
Myrasandri dan Syafila (2009), karakteristik awal air buangan industri tahu menyatakan bahwa
zat organik yang terdapat pada limbah tahu memiliki kandungan yang melebihi baku mutu dengan
kandungan Biological Oxygen Demand (BOD) sebesar 6586 mg/L dan Chemical Oxygen Demand
(COD) sebesar 8640 mg/L. Menurut Ulum Munawaroh, dkk (2013), dari uji karakteristik awal
limbah tahu diperoleh hasil kandungan BOD sebesar 7800 mg/L, COD sebesar 9256mg/L.
Sedangkan menurut Muljani (2016), dari uji karakteristik awal limbah tahu diperoleh hasil suhu
air limbah tahu berkisar 40-60ºC, kandungan BOD berkisar 6000-8000 mg/L, dan COD sebesar
7500-14000 mg/L. Baku mutu limbah industri tahu dan tempe menurut Peraturan Menteri
Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2014 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau
Kegiatan Pengolahan Kedelai, kadar maksimum yang diperbolehkan untuk BOD sebesar 150
mg/L dan COD sebesar 300 mg/L sehingga hasil pengujian air limbah kedelai yang pernah
dilakukan melebihi ambang batas yang diijinkan. Oleh karena itu, perlunya dilakukan pengolahan

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-108
Penentuan Lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Di Sentra Industri Tahu Dusun Purwogondo,
Kelurahan Kartasura

terlebih dahulu sebelum air limbah industri tahu dibuang ke lingkungan. Karena apabila limbah
tahu secara terus menerus dibuang tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu maka akan
mengganggu lingkungan seperti menimbulkan bau busuk dan kematian terhadap organisme air.
Selain itu dapat dapat merusak kualitas lingkungan terutama perairan yang menjadi salah satu
kebutuhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya, dapat membahayakan bagi kesehatan
manusia.
Menurut Peraturan Pemerintah nomer 82 Tahun 2001 pasal 37 menyatakan setiap
penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang membuang air limbah ke air atau sumber air
wajib mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran air. Berdasarkan peraturan tersebut
sudah menjadi tanggungjawab pengusaha tahu di Dusun Purwogondo untuk mengolah limbah cair
industri tahunya. Pengolahan limbah cair industri tahu dapat diatasi dengan cara membangun
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL merupakan sebuah struktur yang dirancang untuk
membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan menurunkan
kandungan pencemar air limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sampai batas yang
disyaratkan pemerintah. Pembangunan IPAL ini didukung dengan UU No. 20/1990 tentang
Pengendalian Pencemaran Air (Pasal 17) bahwa setiap orang atau badan yang membuang limbah
cair wajib menaati baku mutu limbah cair sebagaimana ditentukan dalam izin pembuangan limbah
cair yang ditetapkan baginya. Selain itu berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo
Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sukoharjo Tahun 2011-
2031 pasal 20 bahwa Pemerintah Kota Sukoharjo merencanakan melakukan pembangunan IPAL
komunal untuk mengatasi pencemaran limbah di beberapa kawasan industri Sukoharjo salah
satunya di Kelurahan Kartasura.
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk membantu pemerintah kota menentukan lokasi IPAL
komunal terbaik di kawasan industri tahu di Dusun Purwogondo, Kelurahan Kartasura,
Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo karena ketiadaan biaya yang dimiliki para pengusaha
tahu sehingga pengusaha tahu tidak mungkin untuk membuat saluran IPAL dengan biaya sendiri
tanpa bantuan dari pemerintah kabupaten Sukoharjo. IPAL yang akan dibangun oleh pemerintah
kabupaten Sukoharjo merupakan IPAL komunal karena adanya keterbatasan biaya yang dimiliki
untuk membuat IPAL dalam jumlah banyak. Sehingga IPAL komunal menjadi alternatif terbaik
yang nantinya dapat digunakan untuk menampung limbah dari beberapa pengusaha tahu
sekaligus.

II. METODE PENELITIAN


Metode penelitian ini disusun menjadi beberapa bagian. Bagian pertama, melakukan
observasi ke lapangan dan melakukan tinjauan pustaka dengan mengkaji beberapa literatur yang
membahas mengenai kriteria-kriteria dalam penentuan lokasi IPAL dan metode yang terkait.
Bagian kedua, menyaring kriteria yang telah dihimpun dari studi literatur dengan melakukan deep
interview dengan beberapa ahli untuk menghimpun kriteria yang sesuai dengan kondisi lapangan
yang ada. Dari hasil deep interview diperoleh kriteria – kriteri
a yang kemudian akan diolah kedalam kuesioner dalam skala likert untuk mengetahui apakah
kriteria tersebut penting untuk menentukan lokasi IPAL komunal di Dukuh Purwogondo. Di
dalam kuesioner tingkat kepentingan ini, kriteria dan subkriteria yang dengan rataan nilai likert>
3,75 dianggap relevan atau terpilih (Kurniawati, 2006). Kuesioner disebarkan kepada ahli dan
hasil dari kuesioner tersebut adalah kriteria-kriteria untuk menentukan lokasi IPAL komunal di
Dukuh Purwogondo. Kemudian kriteria tersebut dikelompokkan menjadi 2 jenis kriteria, yaitu
kriteria benefit dan kriteria cost. Kriteria benefit merupakan nilai kriteria yang memiliki fungsi
maksimum sedangkan kriteria cost merupakan kriteria yang berfungsi minimum. Kriteria tersebut
dapat dilihat pada tabel 1.
Setelah ditentukan kriteria pemilihan lokasi IPAL maka langkah selanjutnya menentukan
bobot masing-masing kriteria menggunakan metode entropy. Metode entropy mengurutkan
kriteria dengan variasi nilai tertinggi akan mendapatkan bobot tertinggi (Triyanti dan Gadis,
2008). Kelebihan metode entropy dibandingkan metode pembobotan lainnya adalah metode ini
menggunakan pendekatan subjektif dan objektif sehingga menghasilkan bobot kriteria

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-109
Nugraha, Suletra, dan Liquiddanu

berdasarkan karakteristik data sekaligus dapat mengakomodasi preferensi subjektif dari


pengambil keputusan.Langkah-langkah metode entropy dapat dilihat pada gambar 1 (a).

Tabel 1 Kriteria Pemilihan Lokasi IPAL komunal


Kriteria Cost Kriteria Benefit
 Jarak lokasi IPAL dari lokasi sumber  Ketinggian (elevasi) lokasi IPAL (K2)
limbah (K1)
 Jarak lokasi IPAL ke pembuangan (K3)  Jumlah industri tahu yang dapat ditampung
(K5)
 Resiko bahaya banjir (K4)  Penerimaan masyarakat (K10)
 Akses jalan (K6)  Komitmen industri tahu berkontribusi dalam
biaya perawatan (K11)
 Kemiringan lahan rata-rata (K7)  Komitmen industri tahu dalam mematuhi
SOP penyaluran limbah (K12)
 Tata guna lahan (K8)  Perizinan Usaha industri tahu (K13)
 Legalitas lahan (K9)  Jumlah industri tahu yang dilayani (K14)

(a) (b)
Gambar 1 (a) Tahapan Perhitungan Metode entropy (b) Tahapan Perhitungan Metode VIKOR
Setelah itu, mengolah data menggunakan metode Vlse Kriterijumska Optimizacija
Kompromisno Resenje (VIKOR) untuk memperoleh urutan rangking alternatif dari yang terbaik
sampai dengan rangking terendah. Menurut Opricovic dan Tzeng (2004), metode VIKOR
merupakan salah satu metode Multi Criteria Decision Making (MCDM) yang memiliki prosedur
perhitungan sederhana dengan pertimbangan kedekatan antar alternatif yang ideal maupun tidak
ideal. Hasil dari metode VIKOR berupa urutan perangkingan alternatif mulai dari rangking
terbaik sampai terendah. Keistimewaan VIKOR adalah dapat digunakan untuk pengambil
keputusan dengan kriteria yang lebih dari satu, khususnya situasi dimana pengambil keputusan
tidak dapat menentukan preferensinya pada saat awal desain sistem. Solusi yang ditawarkan pada
metode VIKOR adalah pertimbangan nilai utilitas maksimum grup (Sj) dan nilai regret minimum

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-110
Penentuan Lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Di Sentra Industri Tahu Dusun Purwogondo,
Kelurahan Kartasura

individu (Rj) yang saling bertentangan (Huang, Tzeng dan Liu dalam Lailiana, 2015). Langkah-
langkah metode VIKOR dapat dilihat pada gambar 1 (b).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Penetapan bobot tiap kriteria menggunakan metode entropy diberikan dengan cara
menggabungkan bobot awal yang diperoleh dari ahli, bobot entropy dan bobot akhir entropy. Dari
hasil perhitungan menunjukkan bobot dari setiap kriteria berbeda antara bobot awal dan bobot
entropy. Misalnya bobot awal yang menjadi kriteria utama adalah kriteria K11 dengan nilai bobot
0.1116, pada hasil bobot entropy yang menjadi kriteria utama K2 dengan nilai bobot 0.9999,
sedangkan pada bobot entropy akhir yang menjadi kriteria utama adalah K3 dengan nilai bobot
0.3547. Perbedaan tersebut dikarenakan pada metode entropy data yang mempunyai range
terbesar akan menjadi kriteria utama dalam pengambilan keputusan. Hasil perbandingan ketiga
bobot dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Perbandingan Hasil Bobot


Kriteria Bobot Awal Bobot entropy Bobot Akhir entropy
K1 0.0694 0.9655 0.0570
K2 0.0763 0.9999 0.0002
K3 0.0721 0.7936 0.3547
K4 0.0822 0.9462 0.1054
K5 0.0653 0.9865 0.0210
K6 0.0694 0.9677 0.0534
K7 0.0437 0.9981 0.0020
K8 0.0763 0.9446 0.1007
K9 0.0763 0.9181 0.1489
K10 0.0941 0.9957 0.0096
K11 0.1116 0.9891 0.0290
K12 0.0437 0.9977 0.0024
K13 0.0694 0.9991 0.0015
K14 0.0500 0.9042 0.1141
Setelah diperoleh bobot tiap kriteria selanjutnya dilakukan proses perangkingan menggunakan
metode VIKOR. Kegunaan perhitungan bobot entropy ini akan mengurangi kesubjektifan ahli
sehingga objektifitas dapat meningkat, sehingga bobot masing-masing kriteria yang akan
digunakan dalam metode VIKOR memiliki tingkat objektifitas yang tinggi.
Pengambilan keputusan metode VIKOR mempertimbangkan kedekatan antar alternatif yang
ideal maupun tidak ideal. Data masukan pada metode VIKOR ini adalah metrik kriteria
ternormalisasi dan bobot akhir entropy yang sudah dihitung pada tahapan perhitungan metode
entropy sebelumnya. Pada penelitian ini terdapat 8 alternatif lokasi yang diusulkan menjadi lokasi
alternatif IPAL komunal. Alternatif lokasi dipilih berdasarkan luas lahan yang ada dan kapasitas
limbah yang akan ditampung. Alternatif lokasi IPAL komunal dan persebaran industri tahu dapat
dilihat pada gambar 2.

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-111
Nugraha, Suletra, dan Liquiddanu

Gambar 2 Lokasi Alternatif IPAL komunal


Pada metode VIKOR terdapat 3 perangkingan, yaitu perangkingan Si berdasarkan pendekatan
dengan titik solusi terjauh dengan solusi ideal, perangkingan R i berdasarkan pendekatan dengan
titik solusi terdekat dengan ideal dan perangkingan Q i merupakan perangkingan dengan
menghitung indeks VIKOR. Nilai S i, Ri, dan Qi yang terkecil dari semua alternatif akan
mendapatkan rangking terbaik dan sebaliknya yang mendapat nilai terbesar akan mendapatkan
rangking terakhir. Perangkingan Si, Ri, dan Qi dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Perangkingan Si, Ri, dan Qi


Alternatif S Alternatif R Alternatif Q
Alternatif 1 0.475625 Alternatif 1 0.085902 Alternatif 1 0
Alternatif 7 0.50515 Alternatif 2 0.091598 Alternatif 7 0.48253
Alternatif 6 0.529968 Alternatif 5 0.108716 Alternatif 2 0.512801
Alternatif 4 0.593608 Alternatif 4 0.171804 Alternatif 6 0.583386
Alternatif 8 0.601173 Alternatif 3 0.171804 Alternatif 4 0.598086
Alternatif 2 0.724315 Alternatif 7 0.171804 Alternatif 8 0.635102
Alternatif 5 0.793922 Alternatif 8 0.218355 Alternatif 5 0.791117
Alternatif 3 0.801478 Alternatif 6 0.218355 Alternatif 3 0.924671

Langkah terakhir menentukan rangking metode VIKOR dari setiap alternatif digunakan solusi
kompromi. Solusi alternatif terbaik merupakan rangking terbaik dari nilai Q j minimum dengan
syarat harus memenuhi 2 kondisi, yaitu keuntungan yang dapat diterima (C1) dan stabilitas
pengambilan keputusan yang dapat diterima (C2). Untuk melihat kondisi tersebut dapat dilakukan
dengan langkah-langkah sesuai pada gambar 1(b) dan hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Kondisi kompromi metode VIKOR


DQ 0.1429
C1 Q(j(2)) - Q(j(1)) ≥ DQ
Kondisi
0.4825 - 0 ≥ 0.1429 Terpenuhi
0.4825 ≥ 0.1429
C2 Q(j(1)) harus menjadi ranking terbaik pada Sj dan Rj Kondisi
Q(j(1)) = 0 Terpenuhi

Pada penelitian ini karena kondisi C1 dan C2 terpenuhi, maka rangking alternatif pemilihan
IPAL komunal yang dihasilkan metode VIKOR dapat dilihat pada tabel 5.

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-112
Penentuan Lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal Di Sentra Industri Tahu Dusun Purwogondo,
Kelurahan Kartasura

Tabel 5 Hasil Perangkingan VIKOR


Alternatif Q Ranking
Alternatif 1 0 1
Alternatif 7 0.48253 2
Alternatif 2 0.512801 3
Alternatif 6 0.583386 4
Alternatif 4 0.598086 5
Alternatif 8 0.635102 6
Alternatif 5 0.791117 7
Alternatif 3 0.924671 8

Untuk mengantisipasi perubahan keputusan yang terjadi akibat perubahan bobot utilitas
maksimum grup (v) maka perlu dilakukan analisis sensitivitas untuk metode VIKOR. Untuk
perangkingan Q i di atas menggunakan nilai v sebesar 0,5 dimana nilai v dapat berkisar 0-1. Untuk
menguji perubahan digunakan nilai v sebesar 0,4 dan 0,6. Rumus yang digunakan sebagai berikut:

Hasil uji analisis sensitivitas dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6 Uji sensitivitas


v=0,4 Rangking v=0,6 Rangking
Alternatif 1 0 1 0 1
Alternatif 2 0.4627215 2 0.56288 5
Alternatif 3 0.90960539 8 0.939737 8
Alternatif 4 0.64528834 4 0.550884 4
Alternatif 5 0.75397737 7 0.828256 7
Alternatif 6 0.66670884 5 0.500063 3
Alternatif 7 0.56091457 3 0.404146 2
Alternatif 8 0.68506461 6 0.58514 6

Dapat dilihat untuk peringkat pertama tidak mengalami perubahan posisi sehingga alternatif 1
adalah pilihan lokasi terbaik untuk pembangunan IPAL komunal.

IV. PENUTUP
Terdapat 14 kriteria yang dipertimbangkan pada pemilihan lokasi IPAL komunal, yaitu jarak
lokasi IPAL dari lokasi sumber limbah, ketinggian (elevasi) lokasi IPAL, jarak lokasi IPAL ke
pembuangan, resiko bahaya banjir, akses jalan, kemiringan lahan rata-rata, tata guna lahan,
legalitas lahan, jumlah industri tahu yang dapat ditampung, penerimaan masyarakat, komitmen
industri tahu berkontribusi dalam biaya perawatan, komitmen industri tahu dalam mematuhi SOP
penyaluran limbah, perizinan Usaha industri tahu, dan jumlah industri tahu yang dilayani.
Hasil yang didapat dari pembobotan setiap kriteria menggunakan metode entropy membuat
bobot entropy lebih objektif dan selanjutnya dapat diolah menggunakan metode VIKOR. Hasil
rangking alternatif menggunakan metode VIKOR adalah alternatif 1 terpilih menjadi alternatif
terbaik.

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-113
Nugraha, Suletra, dan Liquiddanu

DAFTAR PUSTAKA
Kurniawati, R., 2006, Analisis Kinerja Peran Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet) dalam
Pengembangan Wilayah di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat, Thesis, Semarang : Universitas
Diponegoro.
Lailiana, Nur., 2015,Group Decision Support System (GDSS)Penentuan Lokasi Penempatan Anjungan
Tunai Mandiri Menggunakan Metode Entropy,VIKOR dan Borda, Thesis, Jember : Universitas Jember.
Muljani, Tri., 2016, Analisis Pemasaran Tahu Di Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, Thesis,
Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
Munawaroh, U.; Sutisna, M.; dan Pharmawati, K., 2013, “Penyisihan Parameter Pencemaran Lingkungan
pada Limbah Cair Industri Tahu menggunakan Efektif Mikroorganisme 4 (EM4) serta
Pemanfaatannya”, Jurnal Institut Teknologi Nasional, Vol. 1 No. 2, hlm 1-12.
Myrasandri dan Syafila, 2009, Degradasi Senyawa Organik Limbah Cair Tahu dalam Anaerobic Baffled
Reactor, Thesis, Bandung : Institut Teknologi Bandung.
Opricovic,S., dan Tzeng, G.H., 2004, “Compromise solution by MCDM methods: a comparative analysis of
VIKOR and TOPSIS”, European Journal of Operational Research, Vol. 156 No. 2, hlm 445-455.
Triyanti, V., dan Gadis., M.T., 2008, “Pemilihan Supplier Untuk Industri Makanan Menggunakan Metode
Promethee”, Journal of Logistics and Supply Chain Management, Vol. 1 No. 2, hlm 83-92.

SNTI dan SATELIT, 4-6 Oktober 2017, Batu


C-114