Anda di halaman 1dari 10

II.

2 Uraian Tanaman
II.2.1 Sirsak Hutan (Anonna muricata)
a. Klasifikasi (Dasuki, 1991)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Magnoliales
Familia : Annonaceae Anonna muricata
Genus : Anonna
Spesies : Anonna muricata L
b. Nama Lain
Di berbagai daerah Indonesia dikenal sebagai nangka sebrang,
nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak (Sunda), nangka buris,
nangkelan (Madura), srikaya jawa (Bali), boh lona (Aceh), durio
ulondro (Nias), durio betawi (Minangkabau), jambu landa (Lampung),
nangko belando (Palembang) (Sastrawinata, 2010)
c. Morfologi
Tanaman sirsak termasuk dalam tumbuhan menahun (perennial)
berakar tunggang, berkayu keras, dengan pertumbuhan tegak lurus ke
atas (erectus) hingga mencapai ketinggian lebih kurang 15 m. Daun
sirsak berbentuk bulat seperti telur terbalik berukuran (8-16) cm x (3-7)
cm, berwarna hijau muda hingga hijau tua, ujung daunnya meruncing
pendek,panjang tangkai daunnya 3-7 mm, pinggiran rata dan permukaan
daun mengkilap. Bunga tanaman sirsak termasuk jenis bunga tunggal
(flos simplex) artinya dalam satu bunga terdapat banyak putik sehingga
seringkali juga dinamakan bunga berpistil majemuk. Buah tanaman
sirsak termasuk jenis buah sejati berganda, yaitu buah yang berasal dari
satu bunga, dengan banyak bakal buah tetapi membentuk satu buah,
buahnya memiliki duri sisik yang halus. Biji buah sirsak berwarna coklat
kehitaman berujung tumpul, permukaan halus mengkilat, dan keras.
Ukurannya kira-kira 16,8 mm x 9,6 mm, jumlah biji dalam setiap satu
buah 20 sampai 70 butir biji normal, sedangkan biji yang tidak normal
berwarna putih kecoklatan dan tidak berisi (Dasuki 1991 ; Radi 1996)
d. Kandungan Kimia
Daun sirsak merupakan daun yang kaya minyak dan protein serta
toksisitas (tanin, fitat, dan sianida) dan oleh karena itu dapat
dimanfaatkan pada manusia dan hewan. Daun sirsak (Annona muricata
L) adalah tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin,
fitosterol, kalsium oksalat, dan alkaloid. Antioksidan yang terkandung
dalam daun sirsak antara lain adalah vitamin C. (Wulan, 2012)
e. Khasiat dan Kegunaan
Sirsak telah digunakan sebagai obat tradisional seperti obat
kembung, obat darah tinggi, atau hipertensi dan obat sakit perut karena
maag serta penyakit kulit (Dzulkarnain dan Wahjoedi, 1996). Bagian
dari tanaman sirsak yang sering dimanfaatkan untuk pengobatan
tradisional adalah bagian daun. Kandungan bioaktif dalam tanaman
sirsak dapat digunakan sebagai antimalaria, perelaksasi otot halus,
stimulant uterus, anamoeba, antijamur dan insektisida alami (Han, S.T,
1998).
II.2.2 Cengkeh (Syzygium aromaticum L.)
a. Klasifikasi (Hapsoh dan Hasanah 2011) :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales Syzygium aromaticum
Famili : Myrtaceae
Marga : Eugenia
Spesies : Eugenia aromatic ; Syzygium aromaticum L.
b. Nama Lain
Cengkeh (Indonesia, Jawa, Sunda), wunga Lawang (Bali), cangkih
(Lampung), sake (Nias), bengeu lawang (gayo), engke (Bugis)
(Hapsoh, 2011 ; Oktavia, 2010).
c. Morfologi
Tanaman ini berbentuk pohon, tingginya dapat mencapai 20-30 m,
dan hidup tanaman cengkeh dapat berumur lebih dari 100 tahun
(Najiyati, 1991). Daunnya kaku berwarna hijau atau hijau kemerahan,
dan berbentuk elips dengan kedua ujing runcing (Jaelani, 2009). Bunga
dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dan tangkai
pendek serta berdandan. Pada saat masih muda bunga cengkeh
berwarna keungu-unguan, kemudian berubah menjadi kuning kehijau-
hijauan dan berubah lagi menjadi merah muda apabila sudah tua. Bunga
cengkeh kering akan berwarna coklat kehitaman dan berasa pedas sebab
mengandung minyak atsiri. Umumnya cengkeh pertama kali berbuah
pada umur 4-7 tahun (Hapsoh, 2011). Cengkeh memiliki empat jenis
akar, yaitu akar tunggang, akar lateral, akar serabut, dan akar rambut.
(Najiyati, 1991).
d. Kandungan Kimia
Kandungan utama dalam minyak atsiri daun cengkeh adalah
senyawa eugenol, eugenol asetat dan caryophylene. Kadar
eugenoldalam minyak atsiri daun cengkeh umumnya antara 80-88%.
Kandungan minyak atsiri yang terdapat dalam minyak bunga, daun dan
tangkai bunga cengkih masing-masing berkisar antara 15-25%, 1-4%,
dan 5-7%. Rendamen minyaknya berkisar antara 2-12%, tergantung
pada jenis dan keadaan bahan baku, penanganan bahan, serta cara
dankondisi penyulingan (Ruhnayat, 2004). Senyawa-senyawa berikut
ini telah diidentifikasi dalam minyak cengkeh, salah satunya adalah
eugenol. Eugenol merupakan konstituen utama minyak cengkeh,
sebesar 70 persen sampai lebih dari 90 persen dalam bentuk bebas.
Kandungan fenol dari minyak cengkih tergantung pada kondisi cengkih
(utuh atau ditumbuk) dan metode penyulingan. Minyak dengan kadar
fenol tinggi menunjukkan gravitas spesifik yang tinggi (Guenther,
1990).
e. Khasiat dan Kegunaan
Bagian tanaman cengkeh yang paling bannyak dimanfaatkan untuk
berbagai keperluan adalah bunganya (Ruhnayat, 2004). Minyak cengkih
dapat memperkuat saluran pernapasan dan membunuh parasit internal.
Aromanya berkhasiat untuk menyehatkan dan memperkuat ingatan,
membantu mengatasi kegelisahan mental, serta menciptakan perasaan
berani dan perasaan untuk melindungi. Minyak cengkeh telah
digunakan oleh rumah sakit di Eropa untuk mengobati infeksi gigi,
virus hepatitis, bakteri, kolera, amuba disentri, infeksi jerawat, sinusitis,
flu, hipertensi serta gangguan dan tidak berfungsinya kelenjar tiroid.
Dalam ilmu pengobatan Cina disebutkan bahwa cengkih adalah salah
satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai aprodisiak (Agusta, 2000)
II.2.3 Kayu Manis (Cinnamomum burmanni)
a. Klasifikasi (Rismunandar dan Paimin, 2001)
Regnum : Plantae
Divisi : Gymnospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Policarpicae
Famili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum Cinnamomum burmanni
Spesies : Cinnamomum burmanni
b. Nama Lain
Holim, Holim manis (Sumatera), Modang siak-siak (Batak), Huru
mentek (Jawa), Kiamis (Sunda), Kanyengar (Madura), Kesingar
(Nusa Tenggara), Cingar (Bali) (Heyne, 1987)
c. Morfologi
Daun kayu manis duduknya bersilang atau dalam rangkaian
spiral. Panjangnya sekitar 9–12 cm dan lebar 3,4–5,4 cm, tergantung
jenisnya. Warna pucuknya kemerahan, sedangkan daun tuanya hijau
tua. Bunganya berkelamin dua atau bunga sempurna dengan warna
kuning, ukurannya kecil. Buahnya adalah buah buni, berbiji satu dan
berdaging. Bentuknya bulat memanjang, buah muda berwarna hijau
tua dan buah tua berwarna ungu tua (Rismunandar dan Paimin, 2001).
d. Kandungan Kimia
Minyak atsiri yang berasal dari kulit komponen terbesarnya ialah
sinamaldehida 60–70% ditambah dengan eugenol, beberapa jenis
aldehida, benzyl-benzoat, phelandrene dan lain–lainnya. Kadar
eugenol rata–rata 80–90%. Dalam kulit masih banyak komponen–
komponen kimiawi misalnya: damar, pelekat, tanin, zat penyamak,
gula, kalsium, oksalat, dua jenis insektisida cinnzelanin dan
cinnzelanol, cumarin dan sebagainya (Rimunandar dan Paimin, 2001).
Beberapa bahan kimia yang terkandung di dalam kayu manis
diantaranya minyak atsiri eugenol, safrole, sinamaldehide, tannin,
kalsium oksalat, damar dan zat penyamak.
e. Khasiat dan Kegunaan
Pada Kulit Batang kayu manis digunakan sebagai obat
antidiare,kejang perut, dan untuk mengurangi sekresi pada usus
(Syukur dan Hernani, 2001). Efek farmakologis yang dimiliki kayu
manis diantara sebagai peluruh kentut (carminative), peluruh keringat
(diaphoretic), antirematik, penambah nafsu makan (stomachica) dan
penghilang rasa sakit (analgesic) (Hariana, 2007). Untuk mengobati
asma dipakai kayu manis, temulawak, jahe, bidara upas,jintan, dan
kemukus yang semuanya direbus dalam dalam 3 gelas air hingga
airnya tinggal separonya. Setelah dingin disaring lalu diminum dengan
madu 3 kali sehari masing-masing ½ gelas. Efek farmakologi yang
sudah diketahui adalah bermanfaat sebagai analgetikum (mengurangi
rasa sakit), anti radang, dan hipertensi (Gunawan dan Mulyani, 2004).
Minyak atsiri dari kayu manis mempunyai daya bunuh terhadap
mikroorganisme (antiseptis), membangkitkan selera atau menguatkan
lambung (stomakik) juga memiliki efek untuk mengeluarkan angin
(karminatif). Selain itu minyaknya dapat digunakan dalam industri
sebagai obat kumur dan pasta, penyegar bau sabun, deterjen, lotion
parfum dan cream. Dalam pengolahan bahan makanan dan minuman
minyak kayu manis di gunakan sebagai pewangi atau peningkat cita
rasa, diantaranya untuk minuman keras, minuman ringan (softdrink),
agar–agar, kue, kembang gula, bumbu gulai dan sup (Rismunandar
dan Paimin, 2001)
II.2.4 Bunga Tahi Ayam (Lantana camara L.)
a. Klasifikasi (Tim Trubus, 2013)
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Lamiales
Famili : Verbenaceae Lantana camara
Genus : Lantana
Spesies : Lantana camara L
b. Nama Lain
Bunga tahi ayam, kembang telek, tembelekan, embang
satek, saliyara, saliyere, tahi ayam, tahi kotok, cente (Sunda); kembang
telek, obio, puyengan, tembelek, tembelekan, teterapan (Jawa);
Kamanco, mainco, tamanjho (Madura); bunga pagar, kayu singapur, lai
ayam (Sumatera) (Tim Trubus, 2013)
c. Morfologi
Batang persegi, berkayu, bercabang banyak. Ranting persegi,
sedikit berduri, dan berambut. Perdu, tegak hingga setinggi 4 m. Daun
tunggal tersusun saling bertolak belakang. Lembaran daun oval, bulat
telur, permukaan atas kasar, berambut pendek dan banyak sedangkan
permukaan bawahnya berambut jarang. Ujung daun meruncing dengan
pangkap tumpul. Bunga tahi ayam mempunyai warna perpaduan warna
krem, merah muda jingga. Bunga membentuk kumpulan bunga kecil
membulat, perbungaan majemuk.Mahkota bagian dalam berambut.
Buah tahi ayam berbentuk sperikal. Warna buah hijau berubah menjadi
warna hitam ketika masak. Tangkai berambut (Tim Trubus, 2013).
d. Kandungan Kimia
Ekstrak metanol daun Tembelekan menghasilkan euphene
triterpene lakton. Akar mengandung verbascose, ajugose, lantanose, A,
B. Daun yang terdapat di cabang yang lunak mengandung lantadene A,
B, bunga mengandung minyak volatile humule, alpa-terpinene, gama-
Terpinene, alpa- Pinene, beta–Pinene dan P-cymene. Minyaknya
mengandung sesquiterpene curcumene dan safrole. Selain flavon
glikosida, bunganya mengandung digalacturonide flavon, leuteolin 7-0-
beta-galacturonyl-(2-1)-0- beta-galacturonide (Abou El-Kassem et al,
2012). Kandungan utama minyak esensial tembelekan yaitu
Germacrene-D dan E-caryophyllene. Akarnya mengandung oleanolic
acid, beta-sirosterol, glukosida serta pomonic acid beserta triterpenoid
3beta,19alpa dihydroxy ursan-28-oic acid dan 21, 22beta-epoxy-3-beta-
hydroxy olean-12-en-28-oic acid dalam bentuk metil ester (Passos JL et
al, 2012)
e. Khasiat dan Kegunaan
Tumbuhan Lantana camara L digolongkan ke dalam tumbuhan
berkhasiat obat sebab bagian dari tumbuhan ini sering digunakan
sebagai bahan dasar untuk pengobatan tradisional dan diyakini dapat
menyembuhkan beberapa macam penyakit. Bagian kulit digunakan
sebagai obat sakit kulit yaitu cara menempelkan daun segar yang
dilumatkan ke tempat yang sakit atau direbus secukupnya dan
digunakan sebagai pencuci penyakit kulit, bisul menghilangkan rasa
gatal (anti pruritas) dan pembengkakan (anti swelling). Sedangkan
bagian bunga dapat digunakan sebagai obat untuk penyakit TBC
(Kloppenburg dan Verteegh, 1983; Wijayakusuma et al,1995).

II.3 Uraian Bahan


II.3.1 Metanol (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : METIL ALKOHOL
Nama lain : Metanol
Berat molekul : 32,04 g/mol
Rumus molekul : CH3OH
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas


Kelarutan : Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih
tidak berwarna
Penyimpanan : Dalam wadah tertup baik
Khasiat : Sebagai pelarut
II.3.2 N-Heksan (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : HEXAMINUM
Nama Lain : Heksamina
Berat Molekul : 140,19 g/mol
Rumus Molekul : C6H12N4
Rumus Struktur :

Pemerian : Hablur mengkilap tidak berbau, rasa membakar dan


manis kemudian agak pahit
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air, dalam 12,5 ml etanol,
(95%) dan dalam kurang lebih 10 bagian kloroform
Penyimpanan : Dalam wadah terututp baik
Khasiat : Sebagai pelarut
DAFTAR PUSTAKA
Agusta, A. 2000. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung :
Penerbit ITB
Dasuki, U.A. 1991. Sistemik Tumbuhan Tinggi. Institut Teknologi
Bandung : Bandung
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Depkes RI
Dzulkarnain dan Wahjoedi. 1996. Informasi Ilmiah Kegunaan Kosmetika
Tradisional, Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Departemen
Kesehatan RI, Jakarta
Guenther. 1990. Minyak Atsiri Jilid IV B. Jakarta : UI Press

Han, S.T, 1998. Medical Plants in the South Pasific. WHO Regional
Publications western Pasific Series.
Hapsoh dan Hasanah. 2011. Budidaya Tanaman Obat dan Rempah.
Medan : USU Press
Jaelani. 2009. Aroma Terapi. Jakarta : Pustaka Populer Obor
Kloppenburg dan Verteegh, 1983. Petunjuk Lengkap mengenai Tanam-
Tanaman Indonesia dan Khasiatnya sebagai Obat-Obatan
Tradisional. ITB : Program Doktor

Najiyati. 1991. Budidaya dan Penanganan Pasca Panen Cengkeh Cetakan


1. Jakarta : Penebar Swadaya
Oktavia. 2010. Efek Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium Aromaticum
L.) Terhadap Mortalitas Larva. Surakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Passos JL et al, 2012. Chemical Charaterization of Volatile Compounds of
Lantana camara L. and Their Antifungal Activity. Molecules
Radi Juhaeni. 1996. Sirsak : Budidaya dan Pemanfaatannya. Yogyakarta :
Kanisius
Ruhnayat A. 2004. Memproduktifan Cengkeh Edisi 3. Jakarta : Penebar
Swadaya

Sastrawinata, Ucke Sugen. 2010. Traditional Medicine of Anona muricata


L. Bandung : Fakultas Kedokteran
Tim Trubus. 2013. 100 plus Herbal Indonesia Bukti Ilmiah dan Racikan Vol.
11. Penerbit PT Trubus Swadaya : Depok
Wijayakusuma et al,1995. Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Darah
Tinggi. Penebar Swadaya : Jakarta

Wulan, 2012. Dahsyatnya Khasiat Sirsak. Jogjakarta : Andi


Rismunandar dan Paimin. 2001. Kayu Manis Budidaya dan Pengolahan.
Penebar Swadaya : Jakarta
Heyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I dan II. Koperasi
Karyawan Departemen Kehutanan : Jakarta Pusat
Syukur dan Hernani. 2001. Budidaya Tanaman Obat Komersial. Penebar
Swadaya : Jakarta
Hariana. 2007. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Penebar Swadaya : Jakarta
Gunawan dan Mulyani. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Penebar
Swadaya : Jakarta