Anda di halaman 1dari 41

Halaman judul

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
TANGERANG SELATAN

TINJAUAN PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI LEASING


PADA PT BFI FINANCE INDONESIA TBK. TAHUN 2016

Disusun oleh :
Kelompok 2
Aji Sasio Pamungkas
Bagus Dwi Priantoro
Fanny Avianuari
Risnanda Bayu Saputra
Satriyo Wibowo

Kelompok 7
M. Adriansyah
M. Andi Faisal
Puad Hasyim
R. Bimo Ario
Tito Cahyo Pambudi

DIPLOMA III AKUNTANSI ALIH PROGRAM


POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

Januari, 2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .................................................................................................................. 2


BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 3
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 3
B. Tujuan Penulisan .................................................................................................... 4
C. Ruang Lingkup Permasalahan ................................................................................ 5
D. Metode Penelitian ................................................................................................... 5
E. Sistematika Pembahasan......................................................................................... 6
BAB II DATA DAN FAKTA ....................................................................................... 7
A. Gambaran Umum Perusahaan ................................................................................ 7
B. Bisnis & FUndamental Perusahaan ...................................................................... 13
C. TInjauan Bisnis Perusahaan .................................................................................. 14
D. Pengelolaan Aset Pembiayaan Piutang ................ Error! Bookmark not defined.
BAB III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN ............................................ 278
A. Landasan Teori.................................................................................................... 288
B. Pembahasan ......................................................................................................... 33
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 40
A. Simpulan ............................................................................................................... 40
B. saran ...................................................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................. 41

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perusahaan berkembang menjadi sebuah bentuk organisasi yang sangat
kompleks pada masa sekarang ini. Tujuan utama pembentukannya secara umum
adalah untuk memperoleh laba semaksimal mungkin dengan pengorbanan
seminimal mungkin. Dalam proses pencapaian tujuan itu, perusahaan
menggunakan sebagian dana yang tersedia dalam perusahaan untuk mengakuisisi
atau memperoleh aktiva tetap yang berwujud. Aktiva jenis ini merupakan salah
satu bagian penting yang digunakan untuk menunjang kegiatan utama
perusahaan. Aktiva tersebut dapat berupa tanah, bangunan, peralatan, dan bentuk-
bentuk aktiva berwujud lainnya. Aktiva-aktiva tersebut dapat diperoleh dengan
cara pembelian baik secara tunai ataupun kredit. Tetapi ada satu cara lagi yang
dapat dilakukan perusahaan dalam memperoleh aktiva tetap yaitu dengan sewa
guna usaha (lease).
Sewa guna usaha adalah sebuah kontrak yang merinci persyaratan-
persyaratan dimana lessor (pemilik aktiva/yang menyewakan) mentransfer hak
penggunaan aktiva kepada lessee (penyewa). Sewa guna usaha terkadang
disamakan dengan pembelian aktiva secara kredit, namun kenyataanya tidak
demikian. Sewa guna usaha berbeda dengan pembelian kredit maupun pembelian
tunai. Hal ini dapat dilihat dari keuntungan-keuntungan yang diperoleh lessee
atas sewa guna usaha dibandingkan pembelian, antara lain:
1. Tanpa uang muka.
Sebagian besar pembelian kredit atas aktiva mensyaratkan sebagian harga
pembelian untuk dibayar dimuka oleh pembeli. Perjanjian sewa guna usaha
sering kali disusun sedemikian rupa hingga 100% nilai aktiva didanai melalui
sewa guna usaha. Aspek sewa guna usaha ini menjadi alternatif yang menarik
bagi perusahaan yang tidak memiliki uang muka yang cukup atau berharap
menggunakan modal yang tersedia untuk tujuan operasi dan investasi lainnya.

3
2. Menghindari risiko kepemilikan.
Terdapat banyak risiko yang terkait dengan kepemilikan aktiva. Termasuk di
antaranya adalah kerugian karena kecelakaan, keusangan, perubahan kondisi
ekonomi, dan kemerosotan fisik. Jika hal-hal tersebut terjadi terhadap aktiva yang
disewagunausahakan, lessee dapat mengakhiri/membatalkan sewa guna usaha,
walaupun biasanya dikenankan denda. Pembatalan sewa guna usaha juga dapat
dilakukan bila nilai pasar aktiva sewa guna usaha turun.

3. Fleksibel.
Kondisi bisnis dapat berubah dari waktu ke waktu. Jika aktiva diperoleh melalui
sewa guna usaha, perusahaan akan mudah mengganti aktiva untuk menyesuaikan
dengan perubahan tersebut. Fleksibilitas ini penting khususnya bagi bisnis yang
melibatkan inovasi dan perubahan teknologi yang mengakibatkan ketidakpastian akan
manfaat dari beberapa peralatan dan fasilitas.
Dilihat dari keuntungun-keuntungan yang diperoleh lessee dari sewa guna usaha
dapat diketahui perbedaan sewa guna usaha dengan pembelian.
Berdasarkan hal diatas kami mencoba untuk meninjau pencatatan sewa guna
usaha pada PT. BFI Finance Indonesia Tbk. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui
apakah pencatatan sewa guna usaha yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan
yang ada.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan penugasan praktik akuntansi keuangan
menengah II ini, yaitu:

1. Memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah LAB Akuntansi Keuangan Menengah
II
2. untuk mengamati praktik akuntansi yang dilakukan perusahaan (entitas bisnis) dan
membandingkan teori yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan dengan
praktik yang sebenarnya di lapangan;
3. untuk melakukan penelitian dan penulisan sebagai persiapan penyusunan Karya

4
Tulis Tugas Akhir (KTTA).
4. melatih komunikasi dan integrasi sosial dengan dunia usaha;
5. mengidentifikasi/memetakan permasalahan yang mungkin timbul dalam praktik
pembukuan dan pelaporan perusahaan; dan mendokumentasikan/menyimpulkan
hasil kegiatan
C. Ruang Lingkup Permasalahan
Dalam laporan kelompok ini, kami akan membahas tentang praktik akuntansi
sewa guna usaha PT BFI Finance Indonesia Tbk sebagai lessor yang meliputi
pencatatan pembayaran sewa, nilai sisa yang dijamin, jangka waktu sewa, beban
bunga yang diakui, dan nilai aktiva.
D. Metode Penelitian
Penulisan penugasan Praktik Akuntansi Keuangan Menengah II ini, yaitu:

1) Metode Studi Kepustakaan


Metode yang digunakan penulis dengan cara mengumpulkan, membaca, dan
mempelajari berbagai bentuk teori mulai dari PSAK, IFRS, Buku, dan bahan
literatur yang dapat mendukung penulisan ini.

2) Metode Wawancara
Dengan metode ini, penulis melakukan konfirmasi kepada karyawan untuk
mengetahui kebenaran informasi mengenai penerapan proses leasing pada PT BFI
Finance Indonesia Tbk.

5
E. Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan gambaran umum tentang penyusunan tugas ini yang
meliputi latar belakang penulisan, ruang lingkup pembahasan, tujuan penyusunan
karya tulis, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II DATA DAN FAKTA


Bab ini menguraikan gambaran umum tentang penerapan riil perusahaan atas
pelaksanaan Financing Lease dari sisi Lessor. Serta fakta dan data atas perolehan atas
investasi pembiayaan, leasing dan besaran aset serta piutang leasing.

BAB III LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN


Pada bab ini penulis terlebih dahulu menguraikan teori-teori yang berkaitan
dengan permasalahan yang dibahas, yang akan diambil dari literatur-literatur dan
bacaan- bacaan yang penulis anggap relevan. Pada bab ini penulis juga akan
mencantumkan gambaran umum mengenai sewa guna usaha.
Pada bab ini akan diuraikan tinjauan atas perlakuan sewa guna usaha pada objek
penelitian mengenai praktik pengakuan sewa guna usaha (lease) pada PT BFI Finance
Indonesia Tbk. Kemudian kami akan membandingkannya dengan standar PSAK
tentang pengakuan sewa guna usaha.

BAB IV PENUTUP
Bab ini merupakan akhir dari penulisan tugas ini. Pada bab ini kami akan
menarik simpulan dari uraian dalam Bab III. Selanjutnya penulis akan mencoba
memberikan saran-saran yang mungkin dapat dijadikan bahan masukan bagi
perusahaan.

6
BAB II
DATA DAN FAKTA

A. Gambaran Umum Perusahaan


1. Sejarah Perusahaan
PT BFI Finance Indonesia Tbk (“BFI” atau disebut dengan “Perusahaan”)
didirikan pada tahun 1982 dengan nama PT Manufacturer Hanover Leasing
Indonesia, yang merupakan bentuk kerja sama antara Manufacturer Hanover
Leasing Indonesia dan partner lokal.
Tahun 1982
 Didirikan sebagai bentuk kerja sama dengan Manfacturer Hanover Leasing
Corporation dari Amerika Serikat.
Tahun 1990
 Diberikan izin sebagai perusahaan pembiayaan dan berubah nama menjadi PT
Bunas Finance Indonesia.
 Di daftarkan pada Bursa Efek Jakarta dan Surabaya (sekarang menjadi Bursa
Efek Indonesia) dengan kode perusahaan BFIN.
Tahun 2001
 Berubah nama menjadi PT BFI Finance Indonesia Tbk
Tahun 2007
 Mendapatkan penghargaan Moody's dengan rating Baa1(id)
Tahun 2011
 Trinugraha Capital Co & SCA mengakuisisi 49,5% saham perusahaan dan
mendapatkan pengharagaan Fitch dengan rating A (id)
Tahun 2012
 Penerbitan Management and Employee Stock Option Plan (MESOP) hingga
5% setara saham baru dari total saham dalam Perseroan
Tahun 2013
 Pembukaan kantor pusat baru BFI yang berlokasi di BSD, Tangerang Selatan
o Kenaikan rating Fitch menjadi A+ (idn)
Tahun 2016

7
 Kenaikan rating Fitch menjadi AA-(idn) dan peringkat nasional jangka pendek
F1+(idn)
2. Visi dan Misi
Visi :
Menjadi mitra solusi keuangan yang terpercaya yang turut berkontribusi terhadap
peningkatan taraf hidup masyarakat
Misi :
 Menyediakan solusi keuangan yang terpercaya dan efektif kepada pelanggan
kami
 Mencapai tingkat pengembalian modal yang superior dan mempertahankan
reputasi kami sebagai perusahaan publik terpercaya
 Menyediakan lingkungan komunitas yang mendidik para pemimpin masa
depan dari organisasi
 Membangun hubungan kerja sama jangka panjang dengan mitra bisnis kami
berdasarkan saling percaya dan menguntungkan
 Memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat

3. Nilai-Nilai Dasar
Perusahaan mempunyai nilai-nilai inti yang harus dipahami dengan baik dan
ditegakkan sebagai budaya perusahaan. Nilai-nilai dasar ini dikenal sebagai
"GREAT", yang merupakan singkatan Giat Memperbaiki Diri Secara
Berkesinambungan , Realisasikan Saling Menghormati dan Peduli , Ekstra
Layanan kepada Pelanggan Internal dan Eksternal, Absolut dan Integritas, dan
Tim Kerja yang Solid dan Saling Percaya. Pemahaman dan kepatuhan akan
budaya perusahaan sangat penting untuk mempertahankan pertumbuhan dan
perkembangan perusahaan.

8
4. Struktur Organisasi

5. Pemegang Saham

Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Kusmayanto Kadiman

9
Komisaris Independen : Johanes Sutrisno
Komisaris Independen : Alfonso Napitupulu
Komisaris Independen : Emmy Yuhassarie
Komisaris : Dominic John Picone
Komisaris : Sunata Tjiterosampurno

Direksi
Presiden Direktur : Francis Lay Sioe Ho
Direktur Keuangan : Sudjono
Direktur Bisnis: Sutadi
Direktur Risiko Perusahaan : Sigit Hendra Gunawan
Direktur Operasional dan SDM : Andrew Adiwijanto

Penghargaan dan Pencapaian


Daftar penghargaan tahun 2016:

 Penghargaan Lifetime Achievement in Multifinance Industry 2015 oleh Asosiasi


Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) untuk Bapak Francis Lay Sioe Ho,
Presiden Direktur BFI, dalam acara “Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI
2015”
 Penghargaan Market Conduct 2015 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai
Pelaku Usaha Jasa Keuangan yang Telah Melaksanakan Prinsip-Prinsip
Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan Berdasarkan Self Assessment
Tahun 2015
 Penghargaan Infobank Digital Brand Awards 2016 oleh majalah Infobank
berdasarkan hasil survei Infobank bersama Isentia Research selama 2015
 Penghargaan Investor Awards 2016 sebagai Emiten Terbaik 2016 untuk Sektor
Multifinance oleh majalah Investor
 Penghargaan Corporate Image Award 2016 dari Frontier Consulting Group
berkolaborasi dengan majalah TEMPO dan MARKETING untuk “The Best in
Building and Managing Corporate Image” kategori Heavy Equipment Leasing

10
(Sewa Pembiayaan Alat Berat) berdasarkan hasil survei Indonesia’s Most Admired
Companies (IMAC) 2016
 Penghargaan Indonesia’s Top 100 Most Valuable Brands 2016 oleh Brand Finance
dan majalah SWA
 Penghargaan Indonesia Human Capital Study (IHCS) 2016 oleh Dunamis Human
Capital dan majalah BusinessNews Indonesia dalam kategori The Best of Human
Capital Initiatives (The Best Recruitment System Initiative)
 Perusahaan Multifinance dengan Kinerja Keuangan Sangat Bagus Tahun 2015 dan
Peringkat Pertama kategori “Perusahaan Pembiayaan Beraset Rp10 triliun ke atas”
oleh majalah Infobank
 Tropi Emas untuk Perusahaan Multifinance dengan Kinerja Keuangan Sangat
Bagus Selama Lima Tahun Berturut-turut (2011-2015) oleh majalah Infobank
 Penghargaan untuk Bapak Francis Lay Sioe Ho, Presiden Direktur dan CEO BFI,
sebagai salah satu Finalis “CNBC 15th Asia Business Leaders Awards (ABLA)
2016” dari CNBC Asia
 Penghargaan “Warta Ekonomi Indonesia Multifinance Consumer Choice Award
2016” sebagai Perusahaan Pembiayaan dengan Kinerja Keuangan Terbaik (Best
Financial Performance) untuk Kategori Aset di atas Rp5 Triliun oleh majalah
Warta Ekonomi
 Penghargaan “Best Employer Award 2016” Kategori Financial Institution
sebagai “The 2nd Best Company of Active Contribution for Telkom University
Graduates Placement” oleh Telkom University Bandung
 Penghargaan sebagai Nominator “Sustainable Finance Award (SFA) 2016”
Kategori Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) – Lembaga Jasa Keuangan Lainnya
oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

6. Produk dan layanan


a) Pembiayaan Kendaraan Bermotor
Pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat baru dan bekas yang
berasal dari dealer/showroom/penjual perorangan, baik untuk keperluan pribadi
maupun penunjang usaha, dengan jangka waktu pembiayaan mulai 1 hingga 4
tahun dan suku bunga tetap.

11
b) Pembiayaan Alat Berat, Truk dan Mesin-Mesin
PT BFI Indonesia Finance menyediakan fasilitas pembiayaan investasi untuk
membiayai semua tipe barang modal baru dan bekas, namun dapat pula berupa
pembiayaan modal kerja dalam mekanisme sale dan leaseback.
c) Pembiayaan Rumah dan Ruko
Pembiayaan dengan jaminan sertifikat rumah dan ruko baru dan bekas siap huni,
baik untuk keperluan modal usaha, dengan jangka waktu pembiayaan hingga 5
tahun.
d) Pembiayaan Pengadaan Barang dan Jasa
Pembiayaan untuk memenuhi berbagai kebutuhan, baik bersifat konsumtif (biaya
pendidikan, kesehatan dan kecantikan, pernikahan, renovasi rumah, wisata, dan
lain-lain) maupun produktif (modal usaha dan investasi) dengan agunan sertifikat
rumah tinggal/ruko, BPKB kendaraan roda dua dan empat alat-alat berat, mesin-
mesin, rumah, ruko yang dimiliki atau agunan lain yang disetujui.

12
B. Bisnis & Fundamental Perusahaan
PT BFI Finance dalam operasionalnya mengalami peningkatan pendapatan
secara konstan sejak 2012, dari angka sebesar 1582 milyar rupiah pada tahun 2012
menjadi 3227 milyar rupiah pada tahun 2016.
Pendapatan perusahaan didapat dari beberapa sektor diantaranya ialah dari
pembiayaan, surplus penjualan aset, investasi, keuntungan trading sekuritas
maupun saham serta hasil penanaman modal (dividen). Diantara aspek pendapatan
diatas, perusahaan paling besar menerima pendapatan dari sektor pendapatan
pembiayaan. Dimana pada tahun 2016, pendapatan pembiayaan menyumbang
sebesar 2401 milyar rupiah dari 3227 milyar rupiah.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa tahun ke tahun PT
BFI Finance selalu mengalami peningkatan dan kemajuan operasional yang
ditunjukan dengan selalu meningkatnya pendapatan perusahaan. Hal ini juga
terlihat dari bagaimana perusahaan melakukan upaya-upaya strategis terkait
pembiayaan dan peningkatan kinerja sistem dengan memperhatikan manajemen
risiko yang tepat. Tidak hanya itu peningkatan pendapatan perusahaan ini juga
menunjukan bahwa perusahaan mampu menanggulangi risiko-risiko kerugian
terkait pembiayaan maupun usaha lainnya.
Berdasarkan data pada laporan keuangan, perusahaan menunjukan adanya
peningkatan progresif pada sisi aset/aktiva terutama investasi pembiayaan dimana
hal ini menunjukan jika penggunaan capital expenditure maupun manajemen aset
atas pendapatan tahun ke tahun dapat diupayakan dengan baik oleh perusahaan.
TIdak hanya itu, dengan melihat bagaimana perusahaan mengoptimalkan
pendapatan, arus kas, mitigasi risiko serta pemberdayaan aset dan sumber daya
seperti SDM, pembiayaan, serta kerjasama antar perusahaan FInance yang baik,
dapat disimpulkan bahwa PT BFI FInance salah satu perusahaan di bidang Leasing
& Financing yang sangat berkembang saat ini.
Berikut tabel yang menunjukan peningkatan investasi pembiayaan :

13
C. Tinjauan Bisnis (Pembiayaan)
Sesuai dengan Peraturan OJK No. 29/POJK.05/2014 tentang
Penyelenggaraan Usaha perusahaan Pembiayaan tertanggal 19 November 2014,
Ruang lingkup Perusahaan meliputi bidang usaha pembiayaan investasi, pembiayaan
modal kerja, pembiayaan multiguna, kegiatan usaha pembiayaan lain berdasarkan
persetujuan Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu, perusahaan dapat melakukan sewa
operasi (operating lease) dan/atau kegiatan berbasis fee sepanjang tidak bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Dan saat ini BFI memfokuskan kegiatan bisnisnya pada pembiayaan mobil
(baru dan bekas) dan sepeda motor (bekas), serta pembiayaan alat berat, mesin dan
peralatan lainnya. Mulai 2015, Perusahaan mulai menjajaki sektor properti, yang
dibukukan sebagai piutang Pembiayaan Konsumen dan Sewa Pembiayaan.

14
Sehubungan dengan teknis pencatatan piutang pembiayaan dimana
berdasarkan POJK No. 29/POJK.05/2014 dapat terjadi suatu jenis pembiayaan
dengan aset yang sama memiliki tujuan pembiayaan yang berbeda, sehingga harus
dibukukan secara terpisah antara lain di Pembiayaan Konsumen maupun Sewa
Pembiayaan, maka dalam pembahasan tinjauan bisnis ini, Perusahaan akan berfokus
pada jenis pembiayaan berdasarkan aset.

15
Pembiayaan baru Perusahaan mencatat total pembiayaan baru sebesar Rp10.743
miliar selama 2016, naik dari Rp10.058 miliar atau setara dengan 6,8%. Peningkatan
yang terbesar terjadi pada Sewa Pembiayaan yaitu naik sebesar Rp1.676 miliar atau
32,6% dibanding tahun sebelumnya, yang didukung oleh peningkatan pada
pembiayaan mobil bekas yang dicatat sebagai Sewa Pembiayaan. Sementara itu,
pembiayaan konsumen mengalami kontraksi sebesar Rp991 miliar atau 20,2%, hal
ini terutama disebabkan oleh penurunan pembiayaan baru atas mobil baru. Dari sisi
jenis aset, peningkatan penyaluran pembiayaan baru didorong oleh peningkatan
14,9% atau Rp1.013 miliar pada pembiayaan mobil bekas hingga Rp7.805 miliar.
Nilai ini dapat menutup dampak penurunan sebesar Rp887 miliar, atau penurunan

16
sebesar 71,2% dari bisnis pembiayaan mobil baru. Penurunan ini sejalan dengan
strategi Perusahaan dalam mengurangi fokus pada pembiayaan mobil baru di masa
mendatang. Semua jenis aset lainnya dalam Pembiayaan Baru menunjukkan
peningkatan yang sehat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan penjualan mobil baru di Indonesia
berjalan stagnan, dari angka tertinggi pada 2013 sebanyak 1.229.901 unit, terus
turun hingga menjadi 1.013.291 unit pada 2015. Pada 2016, terdapat peningkatan
tipis sebesar 4,9% menjadi 1.062.729 unit.
Pada akhir 2014, Perusahaan mencoba mengembangkan pembiayaan di sektor
mobil baru, khususnya untuk segmen komersial di Jawa, dan sejak saat itu,
pembiayaan mobil baru mengalami lonjakan yang cukup besar. Namun demikian,
sejalan dengan berlalunya waktu, Perusahaan mengevaluasi perkembangan yang
terjadi atas piutang pembiayaan di segmen tersebut, dan mendapati bahwa kualitas
piutang yang dibiayai tidak sesuai harapan dan pada akhirnya sejak pertengahan
tahun 2015, Perusahaan memutuskan untuk mengurangi ekspansi di sektor ini.
Sebagai akibatnya, sepanjang 2016, terjadi penurunan yang cukup signifikan atas
pembiayaan baru di sektor mobil baru sebesar Rp887 miliar atau 71,2%
dibandingkan tahun sebelumnya. Pangsa pasar Perusahaan di mobil baru tidak
signifikan, di bawah 1%, dan Perusahaan tidak memiliki rencana untuk fokus di
bidang ini dalam tahun-tahun kedepan. Fokus Perusahaan saat ini ada pada
pembiayaan mobil bekas, yang mencakup 72,7% dari total penyaluran pembiayaan
baru selama 2016. Sepanjang 2016, jumlah pembiayaan tersebut mencatat
pertumbuhan sebesar 14,9% dari tahun sebelumnya atau setara dengan Rp1.013
miliar. Pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari fokus Perusahaan di bidang
pemasaran dan program retensi konsumen yang baik. Jenis kendaraan yang dibiayai
(baru dan bekas) meliputi berbagai tipe, dengan porsi terbesar ada di kendaraan
serba guna (minibus/MPV), yang diikuti oleh kendaraan jeep dan truk.

17
Sementara itu, merek mobil yang dibiayai oleh Perusahaan sebagian besar
(>95%) adalah merek Jepang yang memiliki harga jual kembali yang lebih baik
dibandingkan dengan merek-merek lainnya. Merek Toyota mengkontribusi 35,3%
dari total pembiayaan baru Perusahaan sepanjang 2016. Karena ketiadaan data total
penjualan mobil bekas, pangsa pasar Perusahaan di mobil bekas tidak dapat
dihitung secara akurat.

18
Sebagaimana halnya dengan penjualan mobil baru, penjualan sepeda motor
baru di Indonesia juga mengalami kontraksi dalam beberapa tahun terakhir.
Penjualan tertinggi terjadi pada 2011 dengan penjualan motor lebih dari 8.012.540
unit, dan sejak itu, terjadi fluktuasi penjualan, namun tidak pernah mencapai angka
tertinggi tersebut, bahkan penjualan di 2016 hanya mencapai 5.931.285 unit,
menurun 8,5% dari tahun 2015 sebanyak 6.480.155 unit. Perusahaan tidak
melakukan pembiayaan sepeda motor baru, dan hanya membiayakan sepeda motor
bekas. Strategi ini ditempuh karena pertimbangan bahwa pasar sepeda motor baru
sudah dipenuhi banyak perusahaan pembiayaan lain yang sejak lama fokus di pasar
ini, sementara itu Perusahaan tidak memiliki competitive advantage di bidang ini
dan Perusahaan melihat bahwa prospek pertumbuhan penjualan sepeda motor baru
tidak terlalu menggembirakan, sebagaimana terbukti dari tabel yang di atas.
Pembiayaan sepeda motor bekas yang dilakukan Perusahaan adalah didasarkan
pada pertimbangan bahwa jumlah sepeda motor yang beredar di pasar saat ini
sangat besar dan belum tergarap secara maksimal, sehingga ruang bagi Perusahaan
untuk berperan di segmen ini masih terbuka lebar. Selama 2016, jumlah
pembiayaan sepeda motor bekas mencapai Rp1.204 miliar dan berkontribusi
sebesar 11,2% dari total pembiayaan baru Perusahaan, atau meningkat sebesar
29,7% dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi merek sepeda motor yg dibiayai,
sebagian besar terbagi menjadi dua merek, yaitu Honda dan Yamaha.

19
Sejak awal berdirinya, Perusahaan telah melakukan pembiayaan alat-alat berat
hingga saat ini, yang terdiri dari berbagai tipe, merek dan kegunaan, dengan usaha
konsumen di industri yang beragam, termasuk sektor komoditas. Sejak 2013, industri
komoditas yang menjadi andalan Indonesia menunjukkan tandatanda kontraksi,
sejalan dengan penurunan tingkat permintaan khususnya dari Tiongkok selaku
pembeli terbesar. Guna mengantisipasi kondisi tersebut, sejak 2014 Perusahaan secara
bertahap telah melakukan diversifikasi portofolio ke industri lain termasuk
manufaktur dan infrastruktur. Sebagai hasilnya, selama 2016, Perusahaan mampu
membukukan penyaluran alatalat berat, mesin dan peralatan lainnya sebesar Rp1.186
miliar, meningkat sebesar Rp237 miliar atau 25,0% dibandingkan 2015.

Industri kontruksi saat ini menjadi kontributor utama dari keseluruhan


portofolio BFI, sejalan dengan stabilnya prospek industri konstruksi yang tidak
terdampak sebagaimana sektor komoditas. Selain itu, sejalan dengan reposisi fokus di
luar industri terkait sektor komoditas, alat-alat yang dibiayai juga mengalami
perubahan, dimana sebelumnya sebagian besar pembiayaan adalah untuk alat-alat
berat, saat ini porsi mesin-mesin telah mengalami peningkatan, khususnya mesin-
mesin berskala kecil dan merupakan bagian yang independen dari suatu proses
produksi (bukan integrated machine yang diinstalasi dalam suatu pabrik besar).

20
Sejalan dengan harapan OJK bahwa perusahaan pembiayaan tidak hanya
fokus pada pembiayaan kendaraan bermotor, mulai tahun 2015 Perusahaan mulai
mengembangkan pembiayaan properti. Sebagai tahap awal, pembiayaan properti
difokuskan pada existing customer BFI, dan saat ini sudah mulai dipasarkan ke
konsumen lainnya. Total penyaluran pembiayaan baru untuk properti berjumlah
Rp189 miliar selama 2016, atau meningkat 32,2% dibanding tahun sebelumnya.
Obyek pembiayaan properti berupa rumah maupun ruko.

D. Pengelolaan Aset Pembiayaan dan Piutang


PT BFI FInance mampu mengoptimalkan pembiayaan dan manajemen
keuangannya dengan melihat bagaimana perusahaan meningkatkan aset pokoknya
melalui pengupayaan investasi pembiayaan dan manajemen piutang.

21
Investasi Neto Sewa Pembiayaan tercatat sebesar Rp7.121 miliar,naik 36,7%
atau Rp1.911 miliar dari Rp5.210 miliar pada 2015. Peningkatan ini berasal dari
kenaikan pembiayaan sewa pembiayaan, khususnya pembiayaan atas alat-alat berat,
mesin dan peralatan lainnya serta mobil bekas yang dibukukan sebagai bagian dari
Investasi Neto Sewa Pembiayaan. Sementara itu, terdapat penurunan sebesar
Rp226 miliar pada Piutang Bersih Pembiayaan Konsumen menjadi Rp4.462 miliar,
atau turun 4,8% dari 2015. Penurunan ini terjadi khususnya karena kontraksi pada
penyaluran pembiayaan atas mobil baru.
Dalam pemberian fasilitas pembiayaan khususnya pembiayaan konsumen,
selain menggunakan dana sendiri dan pinjaman dari pihak luar, baik pinjaman bank
maupun yang berasal dari surat berharga yang diterbitkan, Perusahaan juga bekerja
sama dengan beberapa bank untuk melakukan joint financing dengan pengaturan
tanpa tanggung renteng (without recourse). Dengan demikian,hanya porsi piutang
yang dibiayai Perusahaan yang tercatat dilaporan posisi keuangan sebagai piutang
pembiayaan konsumen, sementara sisanya dicatat di buku Bank.

Jumlah piutang - bersih meningkat sebesar Rp1.685 miliar atau 17,0%


dibandingkan 2015, sementara jumlah piutang yang dikelola meningkat sebesar
Rp797 miliar atau 6,5%. Hal ini terjadi akibat penurunan Joint Financing yang
dibukukan di luar neraca sebesar Rp891 miliar. Piutang pembiayaan bersih tersebut
telah dikurangi dengan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sejumlah
Rp183 miliar, meningkat sebesar Rp3 miliar atau 1,7% dari tahun 2015.

22
Pada 2016, Perusahaan membukukan Jumlah Piutang yang Dikelola sebesar
Rp13.026 miliar atau meningkat 6,5%. Jenis aset terbesar adalah pembiayaan
mobil bekas, yang mewakili 68,9% dari Jumlah Piutang yang Dikelola, sementara
piutang berupa Alat-Alat Berat, Mobil Baru, Sepeda Motor Bekas, dan Properti
mencakup 31,1% dari Jumlah Piutang yang Dikelola.

Piutang yang Dikelola - Mobil BFI membiayai mobil, baik baru mau bekas ,
melalui pengaturan Pembiayaan Konsumen dan Sewa Pembiayaan. Pembiayaan
mobil merupakan segmen terbesar di dalam portofolio Perusahaan, memberikan
kontribusi 79,5% terhadap Jumlah Piutang yang Dikelola pada 2016, dan 83,0%
terhadap Jumlah Piutang yang Dikelola di 2015 (Tabel 37 dibawah ini).

23
Jumlah portofolio piutangkendaraan mobil di 2016 meningkat 2,1% ke
angka Rp10.360 miliar dari Rp10.146 miliar di 2015. Pertumbuhan ini disebabkan
oleh pertumbuhan portofolio mobil bekas di angka 14,0% terlepas dari penurunan
pada mobil baru sebesar 39,2%. Penurunan jumlah mobil baru ini sejalan dengan
strategi Perusahaan untuk mengurangi konsentrasi pada sektor ini. Berdasarkan
jenis kendaraan, pembiayaan mobil yang dilakukan oleh BFI terdiversifikasi pada
berbagai jenis mobil, meliputi kendaraan multifungsi (MPV)/minibus, pick-up, truk
dan lainnya, yang digunakan untuk berbagai keperluan, baik untuk penggunaan
pribadi maupun keperluan bisnis. Pembiayaan MPV/minibus tercatat telah
memberikan kontribusi 47,2%, diikuti oleh jenis mobil lainnya, sebagaimana
ditunjukkan dalam Tabel 38 di bawah ini :

BFI melakukan pembiayaan sepeda motor bekas melalui pembiayaan


konsumen. Pembiayaan sepeda motor, kontribusi terhadap total portofolio
Perusahaan sebesar 6,7% dari Jumlah Piutang yang Dikelola pada 2016 dan 5,3%
pada 2015 (Tabel 37). Portofolio pembiayaan sepeda motor BFI meliputi berbagai
merek, seperti tertera pada Tabel 40 di bawah ini :

24
Pembiayaan alat-alat berat, mesin, dan lain-lain mewakili 11,9% dari Jumlah
Piutang yang Dikelola pada 2016 dan 10,5% dari Jumlah Piutang yang Dikelola
pada 2015. Selama 2016, terjadi peningkatan 20,0% atas piutang pembiayaan alat
berat, mesin dan peralatan lainnya, dari sebelumnya Rp1.287 miliar menjadi
Rp1.544 miliar, atau tumbuh sebesar Rp257 miliar selama 2016. Peningkatan ini
sejalan dengan keberhasilan Perusahaan melakukan diversifikasi produk dan
pertumbuhan di sektor industri yang tidak terkena dampak penurunan harga
komoditas. Piutang di sektor pertambangan dapat diturunkan menjadi 15,1% dari
total piutang alat berat, mesin dan peralatan lainnya pada 2016, dari sebelumnya
mencapai 18,0% pada 2015. Sementara itu, industri konstruksi saat ini menjadi
kontributor utama dari keseluruhan portofolio BFI, sejalan dengan stabilnya

25
prospek industri konstruksi yang tidak terdampak sebagaimana sektor komoditas.

Berikut adalah diversifikasi atas jenis jenis alat yang dibiayai untuk
pembiayaan alat-alat berat, mesin, dan lain-lain berdasarkan jenis dan industri:

26
Perusahaan juga bekerja sama dengan beberapa bank untuk melakukan joint
financing. Pada umumnya porsi pembiayaan Perusahaan berkisar antara 5%-10% dari
total nilai pembiayaan, sisanya dibiayai oleh bank. Perusahaan bertugas selaku
servicer, yaitu menerima pembayaran dari konsumen dan meneruskan kembali ke
bank pemberi pinjaman, serta menjadi kustodian atas aset dokumen yang menjadi
collateral. Nilai utstanding pembiayaan yang merupakan porsi bank masing-masing
2015 dan 2016 adalah sebesar Rp2.144 miliar dan Rp1.261 miliar, yang dibukukan
pada bagian Perjanjian enting dan Komitmen di Laporan Keuangan Perusahaan.

27
BAB III
LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. LANDASAN TEORI
1) Gambaran Umum Sewa Guna Usaha (Lease)
a) Pengertian sewa guna usaha.
Sewa guna usaha/SGU ialah setiap kegiatan pembiayaan
perusahaan dalam bentuk penyediaan barang-barang modal untuk
digunakan oleh suatu perusahaan dalam jangka waktu tertentu
berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai
dengan hak pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli
barang-barang odal yang bersangkutan atau memperpanjang jangka
waktu SGU erdasarkan nilai sisa yang telah disepakati bersama.
SGU berbeda dengan pembelian maupun penjualan pada
umumnya. SGU memberikan beberapa keuntungan
dibandingkan dengan pembelian ataupun penjualan bagi
pelakunya. Walaupun setiap situasi berbeda, tetapi ada tiga
keuntungan utama bagi lessee atas SGU dibandingkan
pembelian, yaitu:
1) Tanpa uang muka.
Perjanjian SGU sering kali disusun sedemikian rupa hingga
100% nilai aktiva didanai melalui SGU. Aspek SGU ini menjadi
alternatif yang menarik bagi perusahaan yang tidak
memiliki uang yang cukup untuk membayar uang muka atau
berharap ,menggunakan modal yang tersedia untuk tujuan
operasi dan investasi

2) Menghindari risiko kepemilikan


Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap aktiva yang
diperoleh dari SGU, lessee dapat mengakhiri SGU, walaupun biasanya
dikenakan denda yang cukup besar.

28
3) Fleksibel
Kondisi bisnis dapat berubah dari waktu ke waktu. Jika aktiva
diperoleh dari SGU, perusahaan akan mudah mengganti aktiva
tersebut untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi.

b) Jenis-jenis sewa guna usaha

Pada umumnya SGU dipisahkan menjadi dua bagian, SGU modal


(capital lease) dan SGU operasi (operating lease). SGU modal dicatat
seolah-olah perjanjian SGU mengalihkan kepemilikan aktiva dari
lessor ke lessee. Selama masa SGU, lessee melakukan pembayaran SGU
secara berkala di mana jumlah seluruhnya ditambah dengan pembayaran
nilai sisa (residual value).
SGU operasi dicatat sebagai perjanjian sewa, tanpa transfer kepemilikan
aktiva yang berkaitan dengan SGU tersebut. Dalam SGU ini, lessor
membeli aktiva dan selanjutnya disewagunausahakan kepada lessee.
Berbeda dengan SGU modal, jumlah seluruh pembayaran SGU berkala
dalam SGU operasi tidak mencakup jumlah biaya yang dikeluarkan
untuk memperoleh aktiva tersebut berikut dengan bunganya. Perbedaan ini
disebabkan karena lessor mengharapkan keuntungan justru dari
penjualan aktiva yang disewagunausahakan, atau melalui beberapa
kontrak SGU Iainnya.
SGU sangat beragam dalam hal provisi kontraktualnya. Hal ini
disebabkan karena adanya provisi untuk pembatalan dan denda,
pembaruan kontrak dan opsi pembelian, persyaratan SGU, masa manfaat
aktiva, nilai sisa aktiva, pembayaran minimum SGU, tingkat bunga
implisit dalam perjanjian SGU, dan tingkat risiko yang diasumsikan oleh
lessee, termasuk pembayaran biaya-biaya tertentu seperti pemeliharaan,
asuransi, dan pajak.

Beberapa SGU tidak dapat dibatalkan (noncancelable), artinya


kontrak SGU ini hanya dapat dibatalkan apabila merupakan hasil dari

29
kesepakatan antara lessee dan lessor, dan dendanya sangat mahal,
sehingga kemungkinan besar pembatalan tidak akan terjadi.

SGU sering kali memasukkan provisi yang memberikan lessee hak


untuk membeli aktiva yang disewagunausahakan pada suatu saat di masa
depan. Jika harga opsi pembelian tertentu diperkirakan kurang dari nilai
pasar wajar pada tanggal opsi pembelian digunakan, maka opsi tersebut
disebut dengan opsi pembelian murah (bargain purchase option).
Perjanjian SGU yang memasukkan suatu opsi pembelian umumnya akan
berakhir dengan perpindahan kepemilikan aktiva dari lessor ke lessee.

Variable yang penting dalam perjanjian SGU adalah masa SGU (lease
term), yakni periode waktu dari permulaan sampai akhir SGU. Permulaan
SGU terjadi ketika aktiva yang disewagunausahakan ditransfer kepada
lessee. Akhir masa SGU lebih fleksibel karena banyak SGU memasukkan
provisi yang memperbolehkan lessee memperpanjang periode SGU. Opsi
pembaruan murah (bargain renewal option) merupakan opsi dengan
tingkat SGU yang menarik sehingga diperkirakan SGU akan diperbaharui
melebihi periode SGU yang sudah ditetapkan.

Nilai pasar aktiva yang disewagunausahakan pada akhir masa SGU


disebut dengan nilai sisa atau nilai residu (residual value). Pada beberapa
SGU, masa SGU melampaui umur ekonomis aktiva atau periode
produktivitas aktiva, dan terdapat sedikit-jika masih ada-nilai sisa.
Beberapa kontrak SGU mengharuskan lessee menjamin nilai sisa
minimum. Jika nilai pasar pada akhir masa SGU jatuh di bawah nilai
sisa yang dijamin (guaranteed residual value), lessee harus membayar
selisihnya.
Jika tidak terdapat opsi pembelian murah atau jaminan atas nilai sisa,
lessor kembali memperoleh aktiva pada akhir masa SGU dan mungkin
menawarkan pembaruan SGU, menyewagunausahakan aktiva ke lessee
lain, atau menjualnya. Nilai sisa pada situasi ini disebut sebagai nilai
sisa yang tidak dijamin (unguaranteed residual value).

30
Pembayaran sewa yang diharuskan selama masa SGU ditambah
pembayaran untuk nilai sisa baik berupa suatu opsi pembelian atau
suatu jaminan terhadap nilai sisa disebut dengan pembayaran minimum
SGU (minimum lease payments). Pembayaran SGU kadang kala
memasukkan tagihan untuk beberapa pos seperti asuransi,
pemeliharaan, dan pajak yang terkait dengan aktiva yang
disewagunausahakan. Hal ini dikenal sebagai biaya pelaksanaan atau
biaya eksekusi (executor cost), dan pos-pos tersebut tidak dimasukkan
sebagai bagian pembayaran SGU minimum.
Nilai sekarang dari pembayaran minimum SGU juga merupakan
angka yang penting bagi lessee. Komplikasi timbul jika tingkat bunga
implisit (implicit interest rate) digunakan lessor dalam menghitung
pembayaran SGU bagi lessee.

c) Kriteria-kriteria sewa guna usaha.


Tujuan PSAK mengeluarkan pernyataan No. 30 tentang SGU,
adalah untuk merefleksikan realitas ekonomi SGU dengan mewajibkan
beberapa SGU jangka panjang dicatat sebagai perolehan modal oleh
lessee dan penjualan oleh lessor. Untuk mencapai tujuan ini PSAK
mengidentifikasi kriteria untuk menentukan apakah SGU hanya sekedar
merupakan SGU operasi atau secara subtantif merupakan SGU modal.
Empat kriteria umum yang berlaku terhadap semua SGU baik pada
lessee maupun pada lessor berkaitan dengan transfer kepemilikan, opsi
pembelian, umur ekonomi, dan nilai pasar wajar. Kriteria transfer
kepemilikan terpenuhi jika perjanjian SGU memasukkan sebuah klausal
yang mentransfer penuh kepemilikan aktiva kepada lessee pada akhir
masa SGU. Kriteria umum kedua terpenuhi jika SGU berisikan opsi
pembelian yang menjamin aktiva akan dibeli oleh lessee di masa depan.
Kriteria ini lebih rumit untuk diterapkan daripada kriteria pertama karena
nilai pasar wajar di masa depan atas aktiva yang disewagunausahakan
harus diestimasi pada permulaan SGU. Apabila ternyata nilai pasar wajar
di masa depan lebih rendah dari nilai yang sebenarnya maka

31
kemungkinan ada opsi pembelian murah (Bergain Purchase Option) yang
akan diambil oleh lessee.
Kriteria ketiga berkaitan dengan umur ekonomi aktiva. Kriteria ini
terpenuhi jika masa SGU sama dengan atau lebih dari 75% umur
ekonomi aktiva yang disewagunausahakan. Kriteria umur ekonomi ini
bagaimanapun bersifat subjektif karena ketidakpastian umur ekonomi
aktiva.
Kriteria keempat memfokuskan pada nilai pasar yang wajar atas
aktiva yang berkaitan dengan provisi SGU. Kriteria ini terpenuhi jika
pada permulaan masa SGU, nilai sekarang pembayaran minimum SGU
sama atau lebih dari 90% nilai pasar wajar dari aktiva yang
disewagunausahakan. Variable kunci dalam kriteria ini adalah
pendiskontoan pembayaran minimum SGU. Tingkat bunga yang
digunakan untuk mendiskontokan pembayaran minimum SGU di masa
depan penting untuk menentukan apakah kriteria nilai pasar wajar
terpenuhi. Semakin rendah tingkat diskonto yang digunakan, semakin
tinggi nilai sekarang pembayaran minimum SGU. Tingkat diskonto yang
digunakan dalam perhitungan yang digunakan adalah tingkat bunga
implisit dalam sewa, jika dapat ditentukan secara praktis; jika tidak,
digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental lessee.
Tingkat pinjaman inkremental lessee adalah tingkat bunga yang
harus dibayar lessee sewa serupa atau, jika tingkat bunga tersebut tidak
dapat ditentukan, tingkat bunga yang pada awal sewa yang harus
ditanggung oleh lessee ketika meminjam dana yang diperlukan untuk
membeli aset tersebut yang mana pinjman ini mencakup periode dan
jaminan yang serupa.

d) Akuntansi Sewa Guna Usaha Oleh Lessor

Semua SGU menurut pandangan lessor dapat dibagi ke dalam dua


tipe: SGU operasi dan SGU modal. Jika sebuah sewa guna usaha
memenuhi salah satu dari empat kriteria umum yang dibahas

32
sebelumnya, maka ia diperlakukan sebagai SGU modal. Jika tidak, SGU
dicatat sebagai SGU operasi.

Akuntansi untuk SGU operasi mencakup pengakuan pendapatan


sewa selama masa SGU. Aktiva yang disewagunausahakan tidak
dilaporkan sebagai suatu piutang pada neraca lessor, dan tidak juga
sebagai suatu pendapatan yang diakui untuk menerima pembayaran di
masa depan untuk penyewaan aktiva tersebut. Sedangkan akuntansi
untuk SGU modal intinya mewajibkan lessor untuk melaporkan pada
neracanya, nilai sekarang dari penerimaan pembayaran SGU di masa
depan, sebagai suatu piutang, dan suatu pendapatan. Aktiva tersebut
diamortisasi seolah-olah telah dibeli oleh lessee.

B. PEMBAHASAN
Berdasarkan data pada laporan keuangan PT BFI Finance bahwa salah satu
bagian aset yang terbesar ialah pada bagian investasi sewa pembiayaan dan piutang
pembiayaan. Hal ini menunjukan bahwa operasional terbesar PT BFI Finance
terdapat pada investasi pembiayaan. Besarnya angka investasi pembiayaan yang
sejalan dengan besarnya angka pada pendapatan pembiayaan menunjukan bahwa PT
BFI Finance ini merupakan salah satu perusahaan leasing dan Financing yang sangat
besar. Hal tersebut ditunjukan bahwa pada tahun 2016 saja perusahaan mencatat
investasi pembiayaan sebesar 7,12 triliyun rupiah dan pendapatan dari sewa
pembiayaan sebesar 1.33 trilyun rupiah serta 1,06 trilyun rupiah dari pendapatan
pembiayaan konsumen. Kedua pendapatan tersebut setidaknya menyumbang lebih
dari 65 persen dari total pendapatan perusahaan.

33
Melihat inti bisnis perusahaan, kami meninjau bahwa pada bagian akuntansi
perusahaan telah melakukan upaya mitigasi risiko dengan melakukan pelaporan
pencadangan piutang. DIsini perusahaan juga sudah melakukan pencatatan atas beban
kemungkinan tidak tertagihnya perusahaan. TIdak hanya itu, perusahaan telah
mengambil kebijakan dengan melakukan aging atau pengumuran piutang. Dengan
meninjau PSAK nomor 09 perusahaan telah benar dalam penghitungan pencadangan
piutang, yaitu dengan membagi porsi kemungkinan pelunasan piutang dan besaran
piutang yang masih tertunggak dengan rentang tahunan dan persentase penghitungan
pada tiap klasifikasinya.
Tidak hanya itu perusahaan juga melakukan pencadangan penghitungan
estimasi penurunan nilai investasi berdasarkan penilaian secara individual dan
kolektif. Dari penghitungan tersebutt, perusahaan melakukan pencatatan mutasi nilai
investasi.

34
Perusahaan menggunakan asumsi tingkat diskonto pertahun pada tahun 2016
sebesar 8.7%. Turun dari tahun sebelumnya yang mana perusahaan menggunakan
tingkat diskonto sebesar 9.3%. Hal ini menunjukan bahwa perusahaan berusaha untuk
meningkatkan operasional tanpa harus membebani tingkat sewa. Dan hal ini
ditunjukan positif dengan adanya kenaikan pendapatan sewa pembiayaan.

35
Dalam praktiknya, perusahaan mengupayakan penghitungan periodikal terkait
cadangan kerugian nilai investasi dan piutang. Yang mana penghitungan tersebut juga
akan ditambah dengan pendapatan pembiayaan dari pihak ketiga yang belum diakui
untuk menentukan angka piutang pembiayaan neto. Pendapatan pembiayaan dari
pihak ketiga merupakan angka dimana besaran angka investasi pembiayaan melalui
mediator perusahaan Financing dan perusahaan lain yang telah bekerjasama untuk
membantu melakukan penyaluran pemberian sewa guna namun belum diserahkan
langsung melalui perusahaan yang pengesahannya ditunjukan dengan dokumen sah
/dokumen angsuran yang sudah tervalidasi oleh bagian keuangan perusahaan hingga
akhir periode.

36
Perusahaan juga melakukan pengelompokan /pengklasifikasian angsuran
piutang dalam rentang waktu tahunan untuk melakukan proyeksi besaran
kemungkinan pendapatan sewa pembiayaan. Dan hal tersebut juga dapat menentukan
estimasi besaran angka kemungkinan piutang yang tidak tertagih untuk dicatat pada
periode berikutnya. Berdasarkan pada pencatatan di laporan keuangan, besaran
angsuran piutang yang masih harus dilunasi dalam waktu melebihi dari satu periode
melebihi 50% dari total pendapatan.

37
Dan berdasarkan pada catatan atas laporan keuangan, besaran angka piutang
yang melebihi batas waktu jatuh tempo mencapai hampir 1 trilyun rupiah, angka
tersebut menyumbang hampir 15 % dari total pendapatan dari pembiayaan.

Pada tahun 2016, perusahaan melakukan penghapusan piutang pembiayaan


konsumen yang sudah melebihi batas waktu dan sudah diketahui bahwa piutang
tersebut tidak dapat terlunasi karena satu dua hal seperti bangkrut dan menyerahkan
aset jaminan.

38
Dari penghitungan besaran cadangan piutang dan besaran kemungkinan penurunan
nilai investasi, dapat dilihat bagaimana seberapa besar pengaruhnya terhadap pendapatan
berdasarkan informasi segmen dibawah ini :

39
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan data dan fakta yang diperoleh serta dengan membandingkan
praktik dengan teori terutama terkait pembiayaan sewa (Leasing) dapat
disimpulkan bahwa perusahaan sudah mengimplementasikan praktik FInance
Lease dari sisi lessor sesuai dengan PSAK 30. Dan perusahaan juga telah
melakukan pembebanan riil dan pengakuan piutang secara akrual berdasarkan
klasifikasi waktu. Dimana hal tersebut mencerminkan bahwa perusahaan telah
mengaplikasikan standar akuntansi Indonesia yang merunut ke penggunaan
IFRS sebagai acuan.

B. Saran
Mengacu dengan praktik perusahaan tentang bagaimana perlakuan
pencatatan aset yang disewakan dan bagaimana pengakuan pembiayaan, dapat
dilihat bagaimana rinci dan tepatnya perusahaan dalam melakukan
penghitungan, pencatatan dan pengklasifikasian. Namun dalam praktiknya
terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan perusahan untuk tetap
meningkatkan operasionalnya terutama terkait upaya pembiayaan sewa
(Financial Lease). Adapun hal tersebut ialah :
1. Klasifikasi pencadangan angsuran yang jatuh waktu temponya masih lama
periodenya. Hal ini dapat dilakukan berdasarkan klasifikasi berdasarkan aset
yang disewa biayakan untuk menentukan apakah masih adanya kemungkinan
tidak tertagih.
2. Penggunaan penghitungan jaminan dari konsumen juga dapat mengurangi
besaran angka kemungkinan kerugian atas penurunan piutang. Dimana
perusahaan mempersyaratkan penggunaan jaminan yang melebihi nilai
pembiayaan yang dihitung berdasarkan penghitungan periodisasi waktu masa
kini serta pemberian opsi tambahaan seperti pengenaan tambahan angsuran
atas keterlambatan.

40
DAFTAR PUSTAKA

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt dan Terry D. Warfield . Akuntansi


Intermediate Jilid 2 Edisi 12. Jakarta: Erlangga.

Warren, Carl S. James M. Reeve dan Philip E. Fess 2008 . Accounting Pengantar
Akuntansi Buku 1 Edisi 21. Jakarta: Salemba Empat.

Earl K. Stice. James D. Stice. dan K.Fred Skousen. 2009. Akuntansi Keuangan
Buku 1 Edisi 16 . Jakarta : Salemba Empat.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


(PSAK) No 1: Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: IAI

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI). 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan


(PSAK) No 30: Akuntansi Sewa Guna Usaha. Jakarta: IAI

41